cover
Contact Name
Doni Septian
Contact Email
doni.septian@stainkepri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
doni.septian@stainkepri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu
ISSN : 26567202     EISSN : 26556626     DOI : -
Jurnal Perada fokus pada kajian keislaman di kawasan Melayu. Kajian utama jurnal Perada meliputi: Studi Islam di Melayu: meliputi kajian Alquran dan tafsir, hadis, syariah, tarbiyah, dakwah, sosiologi agama, sejarah serta disiplin ilmu lain yang terkait kajian kawasan Melayu. Pemikiran Islam: meliputi kajian tentang pemikiran tokoh-tokoh Islam di Melayu. Kajian Kemelayuan: meliputi adat istiadat, sejarah, khazanah dan lainnya yang berkembang di Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2021)" : 8 Documents clear
REKONTRUKSI MAKNA JIHAD DAN KONTEKSTUALISASINYA DI ERA MODERN Irhamudin Irhamudin
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.280

Abstract

Merupakan suatu kesalahan fatal ketika Terorisme disamakan dengan ajaran jihad dalam agama Islam. Terorisme yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata alirhâb tidak diajarkan dalam al-qur’an. Meskipun dalam Surat al-Anfal: 60 tertulis kata “turhibûna”, namun ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa terorisme merupakan ajaran Islam. Kata “turhibûna” di sini lebih kepada menakuti musuh di medan perang. Maka, dengan menelaah buku-buku turats dan kontemporer, makalah sederhana ini mencoba untuk menelusuri beberapa kesalahpahaman terhadap jihad. Kesalahan tersebut kemudian dikoreksi dengan merujuk kepada pendapat asli dari para ulama, yang dalam makalah ini mengambil pendapat Ibn Qayyim al-Jauzi. Hasil dari penelusuran menunjukkan bahwa kesalahpahaman terletak pada makna dan konsep jihad. Sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang bahwa jihad adalah perang di jalan Allah (fi sabîlillah) saja. Padahal, ranah jihad sangat luas. Ibn Qayyim menguraikan bahwa jihad terdiri dari 13 tingkatan. Tingkatan ini bisa dipadatkan menjadi empat pembagian yang salah satunya adalah jihad memerangi kaum kafir. Jihad melawan kaum kafir sendiri tidak diawali dengan menggunakan senjata. Ada tahapan yaI ng harus dilalui, sehingga jihad perang baru boleh dilakukan terhadap orang kafir. Dari pembagian ini pula terlihat bahwa jihad perang bukanlah satu-satunya solusi yang digunakan oleh Islam dalam menegakkan kalimatullah. Maka, artikel ini diharapkan mampu menggambarkan jihad dalam Agama Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah SAW. It was a fatal mistake when terrorism equated with the doctrine of jihad in Islam. Terrorism in Arabic word termed as al-Irhab is not taught in the Qur’an. Even in Surah al-Anfal: 60 wrote the word “turhibûna”, but it can’t be used as the argument that terrorism is taught Islam. The word “turhibûna” here is more to frighten the enemy on the battlefield. By studying the turats and contemporary books, this simple paper tries to explore some of the misunderstandings about jihad. Then, those errors will be corrected by refering to the original opinion of the Muslim scholars, which in this paper refered to Ibn Qayyim al-Jawzi’s opinions. The results of the study showed that this misunderstanding lied on the meaning and concept of jihad. As understood by some people that jihad is a war in the path of Allah (fi sabilillah) only. In fact, the realm of jihad is very wide. Ibn Qayyim explained that jihad consists of 13 levels. These levels can be reduced to four parts, which one of them is fighting the infidels. Jihad against the infidels is not using the weapons. There are several steps that must be passed, so that jihad to infidels can be done. Of this division is also seen that the jihad war is not the only solution used by Islam in upholding Allah’s name (kalimatullah). So, this paper is expected to be able to describe the jihad in Islam based on the Qur’an and Prophetic traditions.
PRINSIP ACTUATING ISLAM DAN IMPLEMENTASI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN Imam Subekti
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.283

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengulas tentang konsep actuating dan prinsipnya dalam Islam pada pola menajemen kepemimpinan, khususnya di sekolah. Fokus artikel ini ialah untuk mengurai tentang konsep dan prinsip-prinsip actuating dalam Islam sebagai pedoman manajemen kepemimpinan yang baik. Beberapa kajian serupa actuating dalam khazanah studi Islam antara lain tabsyir, indzar, dakwah, tarbiyah dan irsyad. Istilah tersebut memang tidak semakna namun menjelaskan bahwa actuating juga penting dalam konsep manajemen kepemimpinan. Sedangkan prinsip-prinsipnya meliputi tadriji, uswah, keseimbangan dan kejelasan. Apabila diimplementasikan maka actuating ini dapat berupa memberikan dan menjelaskan perintah, memberikan petunjuk melaksanakan kegiatan, memberikan kesempatan meningkat-kan pengetahuan, keterampilan atau kecakapan dan keahlian agar lebih efektif dalam melaksanakan berbagai kegiatan organisasi, memberikan kesempatan ikut serta menyumbangkan tenaga dan fikiran untuk memajukan organisasi berdasarkan inisiatif dan kreativitas masing- masing dan memberikan koreksi agar setiap personal melakukan tugas-tugasnya secara efisien. Maka penting kiranya prinsip actuating dalam Islam ini diterapkan dalam manajemen kepemimpinan di setiap sekolah untuk mendukung manajemen yang baik. This article aims to review the concept of actuating and its principles in Islam on leadership management patterns, especially in schools. The focus of this article is to describe the concepts and principles of actuating in Islam as guidelines for good leadership management. Several studies similar to actuating in the treasures of Islamic studies include tabsyir, indzar, da'wah, tarbiyah and irsyad. The term is not meaningful but explains that actuating is also important in the concept of leadership management. While the principles include tadriji, uswah, balance and clarity. If implemented, this actuating can be in the form of giving and explaining orders, providing instructions for carrying out activities, providing opportunities to increase knowledge, skills or skills and expertise to be more effective in carrying out various organizational activities, providing opportunities to participate in contributing energy and thoughts to advance the organization based on initiative and creativity of each and provide corrections so that each person performs their duties efficiently. So it is important that the actuating principle in Islam is applied in leadership management in every school to support good management.
TARIQ RAMADAN DAN FAHAM BUDAYA ISLAM YANG TOLERAN DAN INKLUSIF ahmad amir nabil
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.292

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengetengahkan pemikiran Tariq Said Ramadan (lahir 1962), reformis Islam abad ke dua puluh satu, dan menyorot pengaruh intelektual dan idea pembaharuan Islamnya dari sumber-sumber penulisannya yang ekstensif. Kajian membuktikan bahawa Ramadan merupakan antara penganjur Islam moden yang terpenting di abad ke-21. Idealisme pembaharuan ini diketengahkan dalam buku-bukunya seperti What I Believe, Radical Reform, To Be A European Muslim dan Western Muslims and the Future of Islamyang membawa filsafat pemikiran modennya dan tinjauannya tentang Islam dan masyarakat Muslim di Eropah. Pengembangan pengaruh intelektualnya di kalangan Muslim Eropah banyak terkesan oleh karya dan wacana modennya yang berpengaruh tentang semangat inklusivisme dan pluralisme, idea reform, masyarakat sivil, prinsip ijtihad dan pembelaan kaum minoriti. Paul Donnelly dalamThe Washington Post mengungkapkannya sebagai “A Muslim Martin Luther” atau “Martin Luther-nya Islam”. Kaedah penelitian bersifat kualitatif, berasaskan tinjauan kepustakaan dan analisis kandungan terhadap sumber data secara deskriptif dan historis. Hasil kajian menyimpulkan bahawa Ramadan telah menggerakkan reformasi yang signifikan di dunia Islam dalam menghadapi tantangan moden Barat dan memainkan peran yang instrumental dalam upaya kebangkitan dan nahdah yang mengesankan.
KONSEP TENTANG MASYARAKAT MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN AL-KARIM m. kafrawi M.I.S
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.322

Abstract

Manusia adalah makhluk sosial saling ketergantungan antara satu individu dengan individu yang lain atau memerlukan orang lain untuk melengkapi keperluan masing-masing. Oleh sebab itu antara individu haruslah saling ramah, santun, peduli dan sayang menyanyangi, tolong menolong, menghargai hak asasi manusia dan lain sebagainya. Semua nilai-nilai tersebut telah diajarkan oleh agama Islam kepada umatnya, banyaknya dalil al-Qur’an untuk menyuruh manusia supaya berbuat baik kepada sesama manusia yang lain, baik dia seorang muslim maupun bukan muslim. Dengan demikian jika seseorang menjalankan aturan agama yang telah diajarkan al-Qur’an dan Hadis, maka akan terciptalah masyarakat yang tenang, damai, dan aman dalam menjalankan aktifitas duniawi dan ukhrowinya serta tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Setelah itu akan terciptalah masyarakat yang madani beriman, bertaqwa dan taat pada aturan yang ditegakkan oleh Agama. Pada bagian ini, ayat-ayat yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat akan ditelaah dengan mengungkapkan istilah-istilah dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep masyarakat.
PENDAMPING TIGA SULTAN, PERAN DAENG KAMBOJA SEBAGAI YDM JOHOR RIAU LINGGA 1697-1777 Dedi Arman
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.345

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini membahas peran Yang Dipertuan Muda (YDM) Daeng Kamboja dalam Kerajaan Johor Riau Lingga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dan pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Daeng Kamboja selama 29 tahun memainkan peran penting dalam Kerajaan Johor Riau Lingga yang mendampingi tiga sultan. Sosoknya yang menentukan pengangkatan (penabalan) Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi Sultan Johor Riau Lingga dalam usia masih belia. Kepiawaian Daeng Kamboja dalam bidang pemerintahan, politik dan perdagangan menjadikannya sebagai YDM Kerajaan Johor Riau Lingga yang pertama diakui Belanda. Anak bangsawan Bugis ini dikenal sosok pemberani dan pernah terlibat perang dengan Belanda. Keturunan Daeng Kamboja nantinya banyak berkuasa dalam Kerajaan Johor Riau Lingga, salahsatu putranya bernama Raja Ali nantinya ditunjuk sebagai YDM Kerajaan Johor Riau Lingga V. Kata Kunci: Peran, Daeng Kamboja, Kerajaan Johor Riau Lingga. ABSTRACT This article discusses about the role of Yang Dipertuan Muda (YDM) Daeng Kamboja at Johor Riau Lingga Kingdom. This research used Historical method and library research approach as data collection method. During 29 years, Daeng Kamboja played an important role in accompanying three sultans at Johor Riau Lingga Kingdom. He determined the coronation of Sultan Mahmud Riayat Syah as Sultan in Johor Riau Lingg. At that time, Sultan Mahmud was still young. Daeng Kamboja who had good competencies in government, politic and trading issues made him as the first Yang Dipertuan Muda Riau which acknowledged by the Netherlends. Coming from Bugisnesse family, Daeng Kamboja was known as a brave and involved in the war with Netherlands. His later descendents have a lot of power in Johor Riau Lingga kingdom. One of them is Raja Ali, which had become as the fifth YDM Johor Riau Lingga. Keywords: Role; Daeng Kamboja; Johor Riau Lingga Kingdom.
GAYA HIDUP MODERN PEREMPUAN MINANGKABAU AWAL ABAD KE-20 Febri Angraini
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.386

Abstract

This paper contains a general description of modernity in the lives of Minangkabau women in the early 20th century. The years 1900 to 1942 were a general description of modernity in the life of the intended woman. The Dutch East Indies government has brought the Western style of thinking through education. Ethical Politics facilitates the way of modernization to open up and change the lifestyle of Minangkabau women. The process of criticism as an effort to leave the conventional lifestyle was brought by Minangkabau women who contributed in the world of education. They seek changes in conventional custom systems. Modern lifestyle behavior then occurs in the daily life of Minangkabau women. Modernity in Minangkabau is a combination of traditional, Islamic, and western values affecting various aspects in Minangkabau society. The impact on modernity in Minangkabau, from a positive aspect, is to bring a breakthrough in education for women, while the negative impact is the dispute of the elderly and young people and the emergence of habits following the trends.
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP MAHAR 10 TAIL AMAS UTANG DI KECAMATAN TELUK BINTAN KABUPATEN BINTAN Indriani Agustina indriani
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.387

Abstract

Artikel hendak pelaksanaan Mahar 10 Tail Amas Utang yang telah menjadi tradisi masyarakat di Kecamatan Teluk Bintan. Penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan pendekatan antropologi. Dalam penelitian ini ditemukan praktik Mahar 10 Tail Amas Utang ini merupakan mahar adat melayu Bintan yang telah dilakukan secara turun menurun dan berlaku untuk orang-orang yang masih memiliki keturunan dengan raja. Mahar 10 tail amas utang adalah sebuah keihklasan dengan arti tail (timbangan orang zaman dulu dan biasa disebut kati), sedangkan amas memiliki arti (suka sama suka, ikhlas sama ikhlas). Dan mahar ini diaplikasikan dimasyarakat dengan keadaan yang tidak memiliki bentuk sebab telah diikhlaskan. Masyarakat di sana menganggap jika maharnya berbentuk uang, emas, seperangkat alat sholat atau Al-Qur’an maka semua itu tidak masuk akal, sebab beranggapan murah sekali harga perempuan bisa dibayar dengan sebuah benda, masyarakat di sana tidak mau menjualbelikan anak. Berdasarkan analisa menggunakan teori urf, diketahui bahwa praktik mahar 10 tail amas utang yang ada di Kecamatan Teluk Bintan tidak sah menurut ‘urf dan juga persyaratan mahar sebagaimana dalam fikih munakahat. Dalam praktiknya, diketahui bahwa pihak Kantor Urusan Agama (KUA) kemudian mengambil solusi dengan mengganti Mahar 10 Tail Amas Utang dengan sebentuk cincin emas atau yang lainnya atau yang sering disebut juga mahal mitsil.
Sejarah Pewahyuan Al-Qur’an: Kajian atas Pendekatan Historis-Fenomenologis William Montgomery Watt erika123 aulia kamdani
PERADA Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v4i1.418

Abstract

Kajian studi Islam yang dilakukan orientalis bukanlah sebagai momok bagi umat Islam. Pandangan orientalis tentang Islam tidak selalu negatif karena hanya didasarkan penelitian historis semata. William Montgomery Watt mengenalkan pendekatan ganda dalam memahami studi Islam, agar mendapatkan hasil yang utuh. Artikel ini memaparkan pandangan W. Montgomery Watt dalam studi Al-Qur’an yang dikhususkan pada konsep pewahyuan. Penulisan artikel ini menggunakan metode deskriptif. Kesimpulannya Watt dalam mengkaji Islam dengan menggabungkan dua pendekatan. Watt mengakui al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah melalui Muhammad. Proses pewahyuan al-Qur’an menurut Montgomery Watt terbagi dalam dua rumusan, yaitu: wahyu itu perintah untuk bicara dan proses bicara yang dilakukan Muhammad itu mengandung isyarat (bayang-bayang).

Page 1 of 1 | Total Record : 8