Jurnal SMART Kebidanan
The focus of this journal is the dissemination of information related to all midwifery area including maternal and child health, midwifery, ante natal, labor, post-partum, family planning, adolescent health, pre-conception period, pre-menopause, complementary in midwifery.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017"
:
9 Documents
clear
Hubungan Peran Keluarga dan Religiusitas dengan Perilaku Seks Pra Nikah pada Remaja
dyah ayu wulandari;
welia rahmawati
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (74.174 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.16
Latar Belakang : Hasil survei dari Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam Dakosta dkk (2014) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 menunjukkan, 97% dari responden pernah menonton film porno, 93,7% pernah ciuman, petting, dan oral seks, serta 62,7% remaja yang duduk di bangku SMP pernah berhubungan intim, dan 21,2% siswi pernah menggugurkan kandungan. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan peran keluarga dan religiusitas dengan perilaku seks pranikah pada remaja. Metode Penelitian : Jenis penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian menggunakan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi SMA Muhammadiyah Kudus Kelas XI Tahun Ajaran 2016 / 2017 sebanyak 104 siswa. Besar sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 83 siswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Proportionet Stratified Random Sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil Penelitian : Peran keluarga sebagian besar adalah baik sebanyak 55 responden (66,3%). Religiusitas sebagian besar adalah baik sebanyak 65 responden (78,3%). Perilaku seks pranikah sebagian besar adalah ringan sebanyak 80 responden (96,4%). Ada hubungan peran keluarga dengan perilaku seks pranikah pada remaja. Ada hubungan religiusitas dengan perilaku seks pranikah pada remaja. Saran : Pihak sekolah dapat bekerjasama dengan instasi kesehatan untuk memberikan penyuluhan mengenai informasi atau bahaya perilaku seks pranikah pada remaja dengan tujuan pembentukan konsep diri remaja yang baik dalam menanggapi fenomena-fenomena negatif keremajaan, seperti pendalaman pengetahuan tentang bahaya seks bebas, pendidikan tentang bagaimana mengambil keputusan yang baik dalam menghadapi berbagai macam masalah keremajaan.
Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Infeksi Cacing Oxyuris Vermicularis pada Siswa Kelas 1 SDN Kemijen 02 Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang
dewi mayang sari
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (42.945 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.71
Latar Belakang : Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama dan menyebabkan kurang gizi dan gangguan kognitif, dengan anak-anak sekolah biasanya mengalami beban penyakit terberat. Infeksi cacing Oxyuris Vermicularis juga dapat menyebabkan vulvitis akibat reaksi terhadap telur-telur cacing yang diletakkan di tempat ini. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian infeksi cacing oxyuris vermicularispada siswa kelas 1 SDN Kemijen 02 Kelurahan Kemijen Kota Semarang. Metode Penelitian: Desain penelitian yang digunakan survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Responden yang menjadi subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas 1 SDN Kemijen 02 Kelurahan Kemijen Kota Semarang. Pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling dengan jumlah 40 responden. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40 responden sebagian besar terinfeksi cacing Oxyuris Vermicularis yaitu 22 (55%) anak dan sebagian besar mempunyai perilaku kebiasaan personal hygiene kurang baik yaitu 20 (87,0%) anak. Dari hasil uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara personal hygiene dengan kejadian infeksi cacing Oxyuris Vermicularis (ρ value = 0.000). Untuk pihak sekolah dam masyarakat diharapkan dapat menerapkan kebiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Serta untuk puskesmas dapat melakukan deteksi dini untuk infeksi cacing dengan melakukan pemeriksaan cacing secara teratur. Personal Hygiene; infeksi cacing Oxyuris Vermicularis AbstractWorm infection is a major public health problem and cause malnutrition and cognitive impairment, with school children usually experience the heaviest burden of disease. Oxyuris vermicularis worm infections can also cause vulvitis due to a reaction to the worm eggs are laid in this place. This research will aims to determine the correlation of personal hygiene with the prevalence of worm infections oxyuris vermicularis pada first grade students of SDN 02 Kemijen Village Kemijen Eastern District of Semarang. Research design that used analytic survey with cross sectional approach. Respondents who is the subject of this study were all students in grade 1 SDN Kemijen 02 Sub Kemijen Eastern District of Semarang Semarang. Sampling using total sampling technique with a number of 40 respondents. Research result shows that of the 40 respondents largely Oxyuris vermicularis worm infected at 22 (55%) of children and most have personal hygiene habits of behavior is not good that 20 (87.0%) children. Of Chi-Square test results showed no significant relationship between personal hygiene with a prevalence of worm infections Oxyuris vermicularis (ρ value = 0.000). The school community is expected to implement the dam habit Clean and Healthy Lifestyle (PHBS). As well as to public health center can do for the early detection of worm infection by examining worms regularly. Key word : Personal Hygiene; worm infections Oxyuris Vermicularis
Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Perilaku Remaja tentang Sadari di SMP Negri 29 Semarang
Anita Indra Afriani
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (46.784 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.69
Latar Belakang : Sadari (Periksa Payudara Sendiri) merupakan usaha untuk mendapatkan kanker payudara pada stadium yang lebih dini. Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan Dari studi pendahualuan di SMP Negri 29 Semarang dari 6 siswi 2 diantaranya melakukan sadari. Tujuan : Mengetahui apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perilaku remaja tentang sadari di smp negri 29 semarang. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dengan pendekatan Quasi Eksperimen (Two group pre-test and post-test). Populasi penelitian ini adalah 137 siswi SMP kelas IX dan sampel penelitian sebanyak 102 siswi dengan teknik stratified random sampling. Data yang di peroleh di olah menggunakan wilcoxon dan mann withney. Hasil Penelitian : Hasil penelitian yang telah di lakukan di SMP Negri 29 Semarang di peroleh hasil ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perilaku remaja tentang sadari di SMP Negri 29 Semarang dengan p value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perilaku remaja tentang sadari di SMP Negri 29 Semarang dengan p value 0,000 (p<0,05). Kata kunci : Metode Demonstrasi; Remaja; Sadar; Pendidikan kesehatan; Perilaku.Pustaka : 20 (2007-2015) THE EFFECTIVENESS OF HEALTH EDUCATION ON ADOLESCENT BEHAVIOR OF BSE IN JUNIOR HIGH SCHOOL STATE OF 29 SEMARANG ABSTRACTBackground Of The Research : BSE (breast self examination) is an attempt to get breast cancer at earlier stages of disease. Health education is an effort or activity to create a community behavior conducive to health. From preliminary studies At junior high school state of 29 semarang of 6 girls 2 of them has done a breast self-examination (BSE). Objectives Of The Research : To find out the effectiveness of health education on adolescent behavior of bse in smp negri 29 semarang. Method Of The Research : This research used a quantitative research, with quasy experimental design (Two group pre-test ang post-test). The population of thie research is one hundred and trirty seven students grad IX of smp negri 29 semarang. While, the research used stratified random sampling technic to take the one hundred and two population as sample. The researcher used wilcoxon and mann wihtney assessment to analise the data. Result Of The Research : After had done a research in junior high school state of 29 semarang, the research got the result there is effectiveness of health education on adolescent behavior of BSE in junior high school state of 29 semarang with p value 0,000 (p<0,05). Conclusion : Hopefully, the school can work together with agencies such as health centers to hold additional knowledge of knowing by providing extension by resource related. Keywords : Adolescent; Behavior; BSE; Health Education; Methods Lecture.
Hubungan Pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan Perilaku Pencegahan Keputihan pada Remaja Putri di SMAN 15 Semarang
Nurhudariani, Rose
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.73
Latar Belakang: Kebersihan perseorangan atau Personal Hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara kebersihan seseorang untuk menjaga kesejahteraan fisik dan psikis. Salah satu dampak dari kurangnya menjaga Personal Hygiene adalah terjadinya keputihan. Sebanyak 75% wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45% diantaranya mengalami keputihan sebanyak dua kali atau lebih. Di mana ditunjukkan jumlah yang dilayani dalam program kesehatan reproduksi terdapat 29,8% mengalami kejadian keputihan pada remaja putri. Tujuan: Mengetahui Hubungan Pengetahuan Tentang Personal Hygiene Dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja Putri Di SMAN 15 Semarang. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Popalasi dalam penelitian ini adalah remaja putri sebanyak 180 orang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 124 orang, dengan tehnik pengambilan sampel yanng digunakan adalah metode proportionate random sampling. Hasil: Remaja putri di SMAN 15 Semarang sebagian besar memiliki pengetahuan kurang sebanyak 100 responsen (80,6%) dan pengetahuan cukup sebanyak 24 responden (19,4%). Sementara perilaku remaja putri sebagian besar memiliki perilaku kurang baik sebanyak 97 responden (72,8%) dan perilaku baik sebanyak 27 responden (21,8%). Sehingga ada hubungan antara pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan perilaku pencegahan keputihan. Saran: Pihak sekolah hendaknya memasukkan personal hygiene yang tepat ke dalam kurikulum pelajaran muatan lokal pendidikan kesehatan reproduksi atau sebagai materi pelajaran ekstra sehingga semua siswi mendapatkan pengetahuan yang sama sehingga diharapkan dapat menurunkan angka resiko terjadinya masalah kesehatan bagi remaja putri / para siswi. Kata Kunci : Pengetahuan Personal Hygiene; Perilaku Pencegahan; KeputihanDaftar Pustaka : 7 (2009-2014) RELATIONS WITH THE KNOWLEDGE OF PERSONAL HYGIENE BEHAVIOR PREVENTION WHITISH SMAN 15 SEMARANG Abstract Background: Individual or Personal Hygiene Cleanliness is an act to maintain the cleanliness of a person to maintain physical and psychological wellbeing. One of the effects of lack of guard Personal Hygiene is the discharge. As many as 75% of women in Indonesia have experienced vaginal discharge at least once in their lives and 45% of them experienced vaginal discharge two times or more. Where indicated amount served in reproductive health programs are 29.8% experienced vaginal discharge events in adolescent girls. Objective: To identify Relations Knowledge About Personal Hygiene With Discharge Prevention Behavior In Young Women In SMAN 15 Semarang. Metode Research: This type of research is quantitative with cross sectional design. Populasi in this study were young women of 180 people. The sample in this study as many as 124 people, with sampling technique used is proportionate random method sampling. Research Results: Results: Girls at SMAN 15 Semarang most have less knowledge as much as 100 responsen (80.6%) and insufficient knowledge as much as 24 respondents (19.4%). While the behavior of young women mostly had less good behavior as much as 97 respondents (72.8%) and good behavior as much as 27 respondents (21.8%). So that there is a relationship between knowledge about prevention behaviors Personal Hygiene with whitish. Suggestion: The school should include proper personal hygiene into the curriculum of local content or reproductive health education as an extra subject matter so that all students get the same knowledge which is expected to decrease the risk of health problems for girls / the girls. Keywords : Knowledge Personal Hygiene, Preventive Behavior WhitishBibliography : 7 (2009-2014)
Persepsi Ibu Tentang Toilet Training pada Anak Usia Toddler di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang
dita wasthu prasida;
Maftuchah Maftuchah;
nirawati nirawati
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (59.754 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.32
Latar Belakang: Jumlah balita yang masih susah mengontrol BAB dan BAK di usia sampai pra sekolah menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga diperkirakan mencapai 75 juta anak, kasus mengompol pada anak usia enam tahun di Indonesia tercatat sekitar 12%. Hasil studi pendahuluan di puskesmas kedungmundu, dari lima ibu yang memiliki anak usia toddler, tiga ibu mengatakan anaknya masih sering mengompol dan belum pernah melatih anak dalam buang air, sedangkan dua diantaranya sudah mulai melatih.Tujuan Penelitian: Penelitian ini untuk mengeksplorasi persepsi ibu tentang toilet training pada anak usia toddler.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Jumlah partisipan 4 orang, triangulasi yaitu suami partisipan.Hasil: Wawancara mendalam pada partisipan didapatkan informasi tentang cara ibu dalam membiasakan anak untuk buang air, usia yang tepat untuk melatih anak, dampak dari toilet training, upaya orang tua serta hambatan-hambatan dalam toilet training.Ibu balita agar melatih anak untuk toilet training mulai usia satu sampai tiga tahun, Petugas kesehatan agar lebih meningkatkan penyuluhan secara menyeluruh terkait toilet training pada anak usia toddler. Kata kunci : Persepsi;toilet training;usia toddler.
Hubungan Pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan Perilaku Pencegahan Keputihan pada Remaja Putri di SMAN 15 Semarang
Rose Nurhudariani
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (49.087 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.72
Latar Belakang: Kebersihan perseorangan atau Personal Hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara kebersihan seseorang untuk menjaga kesejahteraan fisik dan psikis. Salah satu dampak dari kurangnya menjaga Personal Hygiene adalah terjadinya keputihan. Sebanyak 75% wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45% diantaranya mengalami keputihan sebanyak dua kali atau lebih. Di mana ditunjukkan jumlah yang dilayani dalam program kesehatan reproduksi terdapat 29,8% mengalami kejadian keputihan pada remaja putri. Tujuan: Mengetahui Hubungan Pengetahuan Tentang Personal Hygiene Dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Remaja Putri Di SMAN 15 Semarang. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Popalasi dalam penelitian ini adalah remaja putri sebanyak 180 orang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 124 orang, dengan tehnik pengambilan sampel yanng digunakan adalah metode proportionate random sampling. Hasil: Remaja putri di SMAN 15 Semarang sebagian besar memiliki pengetahuan kurang sebanyak 100 responsen (80,6%) dan pengetahuan cukup sebanyak 24 responden (19,4%). Sementara perilaku remaja putri sebagian besar memiliki perilaku kurang baik sebanyak 97 responden (72,8%) dan perilaku baik sebanyak 27 responden (21,8%). Sehingga ada hubungan antara pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan perilaku pencegahan keputihan. Saran: Pihak sekolah hendaknya memasukkan personal hygiene yang tepat ke dalam kurikulum pelajaran muatan lokal pendidikan kesehatan reproduksi atau sebagai materi pelajaran ekstra sehingga semua siswi mendapatkan pengetahuan yang sama sehingga diharapkan dapat menurunkan angka resiko terjadinya masalah kesehatan bagi remaja putri / para siswi. Kata Kunci : Pengetahuan Personal Hygiene; Perilaku Pencegahan; KeputihanDaftar Pustaka : 7 (2009-2014) RELATIONS WITH THE KNOWLEDGE OF PERSONAL HYGIENE BEHAVIOR PREVENTION WHITISH SMAN 15 SEMARANG Abstract Background: Individual or Personal Hygiene Cleanliness is an act to maintain the cleanliness of a person to maintain physical and psychological wellbeing. One of the effects of lack of guard Personal Hygiene is the discharge. As many as 75% of women in Indonesia have experienced vaginal discharge at least once in their lives and 45% of them experienced vaginal discharge two times or more. Where indicated amount served in reproductive health programs are 29.8% experienced vaginal discharge events in adolescent girls. Objective: To identify Relations Knowledge About Personal Hygiene With Discharge Prevention Behavior In Young Women In SMAN 15 Semarang. Metode Research: This type of research is quantitative with cross sectional design. Populasi in this study were young women of 180 people. The sample in this study as many as 124 people, with sampling technique used is proportionate random method sampling. Research Results: Results: Girls at SMAN 15 Semarang most have less knowledge as much as 100 responsen (80.6%) and insufficient knowledge as much as 24 respondents (19.4%). While the behavior of young women mostly had less good behavior as much as 97 respondents (72.8%) and good behavior as much as 27 respondents (21.8%). So that there is a relationship between knowledge about prevention behaviors Personal Hygiene with whitish. Suggestion: The school should include proper personal hygiene into the curriculum of local content or reproductive health education as an extra subject matter so that all students get the same knowledge which is expected to decrease the risk of health problems for girls / the girls. Keywords : Knowledge Personal Hygiene, Preventive Behavior WhitishBibliography : 7 (2009-2014)
Perilaku Ibu Hamil Yang Mengalami Resiko Tinggi Di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang
Lestari Puji Astutti
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (55.457 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.70
Latar Belakang: Angka kematian ibu yang mengalami resiko tinggi di Puskesmas Kedungmundu Semarang tahun 2016 bulan januari sampai juli sebanyak 3 orang dari jumlah 259 ibu hamil resiko tinggi. Faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan resiko tinggi adalah sikap dan perilaku ibu sendiri selama hamil didukung oleh pengetahuan. Dengan adanya pengetahuan yang lebih tentang kehamilan resiko tinggi maka ibu akan menentukan sikap dan perilaku untuk mencegah dan mengatasi resiko kehamilan tinggi. Tujuan: Untuk mengetahui perilaku ibu hamil yang mengalami resiko tinggi. Metode : Kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, data diambil dari 3 partisipan dan saturasi data dengan triangulasi sumber. Hasil : Hasil wawancara mendalam pada partisipan didapatkan informasi tentang perilaku respondent respon yaitu adanya respon yang relatif tetap karena mengikuti anjuran dari bidan. perilaku operant respon yaitu adanya rangsangan dari luar yang membantu ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan serta menjaga kesehatan ibu dan janin. perilaku tertutup ibu yaitu ibu mengatakan resiko tinggi adalah ibu yang memiliki tekanan darah tinggi, terdapat bengkak pada wajah, tangan dan kaki, serta hamil di bawah usia 18 tahun dan usia di atas 35 tahun dan perilaku untuk mengatasi resiko tinggi dengan rajin memeriksakan kehamilan. perilaku terbuka ibu yaitu memeriksakan kehamilan sesuai jadwal serta memeriksakan diri ketenaga kesehatan, minum obat sesuai anjuran bidan saat sakit. Kesimpulan : Bagi ibu hamil resiko tinggi untuk selalu menjaga perilaku sehari-hari sehingga tidak berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan janin. Kata Kunci: Perilaku ibu hamil; resiko tinggi kehamilanDaftar Pustaka : 6 (2003 – 2016) The Behavior Of Wowan Who Are Pregnant With High Of Risk In Public Health Center Of Kedungmundu Semarang City ABSTRACT Background: The number of woman past away who experinced of the high risk in Public Health Center of Kedungmundu Semarang in 2016 between January and July are 3 people from total 259 woman who have a high risk of pregnant. The factor which influences the high risk of pregnancy are the attitude and mother’s behavior between pregnant which is supported by knowledge. With more knowledge about the high risk of pregnancy, so that the mother will determine the attitude and behavior to prevent and eceed the high risk of pregnancy. Purpose : knowing the behavior of the pregnant woman who have a high risk. Method: the Qualitative research with phenomenological approach, the data have taken from 3 participants and the data saturation with triangulation source. Result: The result of deep interview from participant is taken the information about the behavior of respondent there is respon which relatives constant because the respondent follow the suggestion from midwife. The behavior of operant respon there is stimulation from outside which helps the mother doing check up the pregnancy and taking care of the mother’s health and fetus. The close mother’s behavior are the mother said the high risk is the mother who has a high blood pressure, there are swollen in face, arms and legs, and pregnant under age of 18 and over age 35 and the behavior to overcome the high of risk with to be continuous check up the pregnancy. The open behavior of mother are to check up the pregnancy compatible with the schedule and to check up her selves in paramedic, consumption the medicine correct to the suggestion of midwefery when they are sick. Suggestion: For the pregnant woman who have a high risk is always protecting the daily behavior, thus, it is not has a negative impact for mother”s health and fetus. Key Words : The behavior of pregnant woman; the high risk of pragnancyLiterature : 6 (2003-2006)
Persepsi Ibu yang Bekerja terhadap Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Wilayah Sambiroto Semarang
dewi mayang sari, alida nihaya
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (39.395 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.74
Latar Belakang: Berdasarka hasil survey pada bulan Agustus 2016 di Sambiroto didapat jumlah 132 bayi,55% tidak diberikan ASI eksklusif,hal tersebut dikarenakan sebagian besar ibu bekerja. Tinjaun Teori: Persepsi merupakan kemampuan berfikir individu terhadap sesuatu yang dipersepsikan. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja dari 0-6 bulan tanpa diberikan makanan atau minuman apapun. Hambatan ketika menyusui dibedakan menjadi dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Tujuan Penelitian: Mengeksplorasi persepsi ibu yang bekerja terhadap kegagalan pemberian ASI eksklusif pada bayi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Jumlah partisipan 3 orang ibu yang bekerja, memiliki bayi dan dadal dalam pemberian ASI eksklusif di Sambiroto Semarang.Hasil: Wawancara mendalam pada partisipan didapatkan informasi tentang kegagalan pemberian ASI eksklusif dikarenakan adanya hambatan yang dialami ibu yakni berupa keterbatasan waktu dengan anak dan produksi ASI yang sedikit serta tidak didukungnya fasilitas berupa Ruang Laktasi untuk memerah di saat ibu bekerja. Rendahnya kesadaran ibu dalam pemberian ASI semakin membuat terjadinya kegagalan ASI eksklusif, meskipun pihak keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan telah memeberikan dukungan penuh.Saran: Ibu bekerja hendaknya memberikan ASI secara ekslusif, meskipun kondisi ibu yang bekerja. Perusahaan hendaknya memberikan ruang laktasi yang memadai. Kata Kunci : Persepsi;Ibu Bekerja;Kegagalan ASI Eksklusif PERCEIVED FAILURE TO WOMEN WHO WORK IN EXCLUSIVE BREASTFEEDING BABY IN THE SAMBIROTO SEMARANG 2017 Abstract Background : Based upon the results of its survey in August 2016 in Sambiroto be tallied 132 infants, 55% were not given exclusive breast feeding, it is because the majority of working mothers. Overview Theory: Perception is the ability of an individual to think of something perceived. Exclusive breastfeeding is breastfeeding course of 0-6 months without given any food or drinks. Barriers when breastfeeding is divided into two factors, namely internal and external factors Research objective : To explore the perception of mother who work against the failure of exclusive breast feeding in infants. Method : This study used qualitative methods with the approach of phenomenology. Data collection techniques with in-depth interviews. The number of participants three working mothers, babies or toddlers and failed in exclusive breast feeding in Sambiroto Semarang. Result : In-depth interviews in participants obtained information about the failure of exclusive breast feeding because of the constraints experienced by the mother in the form of limited time with the child and a little milk production and not supported facilities such as lactation room for milking when the mother works. Low awareness in breast feeding mothers are increasingly making a failure of exclusive breast feeding, although the family, the environment, health workers have given full support. Suggestion : Mother should be able to provide breast milk exclusively thought the condition of mothers are working. Companis should provide adequate lactation room. Keywords : Perception; Working Mother; The failure of exclusive breast feeding.
Persepsi Orang Tua Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Karanganyar RT 03/RW 01 Kelurahan Banyumanik Kota Semarang
Siti Nur Umariyah Febriyanti
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (53.509 KB)
|
DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.67
Latar belakang: Kekerasan seksual merupakan hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan orang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing, saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan sebagai objek pemuas kebutuhan seksual pelaku. Kota Semarang menduduki peringkat ketiga dengan 42 kasus kekerasan seksual pada anak dari 35 kabupaten di Jateng. Studi pendahuluan yang didapatkan dari Bapermas sub bidang PPA Kecamatan Banyumanik Kota Semarang di Karanganyar Rt 03/Rw 01 Kelurahan Banyumanik terdapat 1 kasus kejadian kekerasan seksual pada anak di tahun 2015 anak tersebut masih berumur 14 tahun. Tujuan penelitian: mengeksplorasi persepsi orang tua tentang kekerasan seksual pada anak di Karanganyar Rt 03/Rw 01 Kelurahan Banyumanik Kota Semarang. Metode penelitian: Desain penelitian yang digunakan penelitian Kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 9-12 tahun. Dalam penelitian ini menentukan jumlah populasi dengan saturasi data.Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Hasil penelitian: Dari 6 tujuan khusus yang telah ditetapkan, telah terjadi kesaturasian data pada setiap tujuan khusus. Kesimpulan: Orang tua memiliki pemahaman yang baik tentang kejahatan seksual pada anak. Saran: Untuk itu, disarankan kepada orang tua agar memberikan pendidikan seks dini kepada anak sejak umur 5 tahun di mana pendidikan seks dini meliputi memberitahu anatomi organ genital dan siapa saja yang boleh menyentuh tubuh anak tersebut. Kata kunci : persepsi orang tua; kekerasan seksual pada anak Perceptions of Parents about Sexual Abuse on Children in Karanganyar RT 03 / RW 01 Banyumanik Subdistrict, Semarang City. Abstract Background: Sexual abuse is a relationship or interaction between a child and an older person or adult like a stranger, sibling or parent where the child is used as an object of satisfying the needs of sexual perpetrators. Semarang city occupies third position with 42 cases of sexual abuse on children of 35 districts in Central Java. Preliminary studies were obtained from Bapermas sub-sector of PPA Banyumanik District of Semarang in Karanganyar RT 03 / RW 01. Banyumanik Subdistrict there is one case of child sexual abuse incident in 2015, the child was 14 years old. The aim of study: was to explore the perception of parents about the sexual abuse of children in Karanganyar RT 03 / RW 01 Banyumanik Subdistrict, Semarang City. Methods: The study design used qualitative research with phenomenological approach. Participants in this study are the parents who have children aged 9-12 years old. In this study determines the amount of population with saturation of data. Instrument in this study is the researchers themselves. Results: From the sixth purposes that has been agreed, it has been data compatible in each specific purpose. Conclusion: The parents have a good understanding about sex abuse of children. Suggestion: There for, it is suggested to parents to provide early sex education to children from the age of 5 years in which early sex education includes telling anatomical genital organ and anyone is allowed to touch the body of the child. Key words : the perception of parents; sexual abuse on children