Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengaruh Terapi Murrotal Al-Qur’an terhadap Kualitas Tidur Bayi Usia 3-6 Bulan Amalu, Citra; Maftuchah; Ulya, Fitria Hikmatul
Window of Midwifery Journal Vol. 1 No. 1 (Juni 2020)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.185 KB) | DOI: 10.33096/wom.vi.12

Abstract

Kebutuhan tidur tidak hanya dapat dilihat dari aspek kuantitas tidur tapi dapat juga dilihat dari kualitas tidur bayi. Jika kualitas tidur bayi baik, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dapat dicapai secara optimal, salah satu cara untuk memperbaiki kualitas tidur bayi yaitu dengan cara terapi murrotal Al-Qur’an. Dari wawancara 12 orang tua, didapatkan 8 bayi yang memiliki gangguan tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh terapi murrotal Al-Qur’an terhadap kualitas tidur bayi usia 3-6 bulan. Jenis penelitian ini adalah quasi experimen dengan rancangan one group pretest-posttest design. Populasi penelitian ini adalah bayi yang berusia 3-6 bulan dengan gangguan tidur. Penelitian ini dilakukan sehari 2 kali dan diberikan setiap menjelang tidur. Sampel penelitian 16 bayi yang berusia 3-6 bulan, secara purpossive sampling. Variable independent terapi murrotal Al-Qur’an dan variable dependent kualitas tidur bayi usia 3-6 bulan. Instrument penelitian menggunakan kuesioner. Pengolahan data uji statistic Wilcoxon. Asym. Sig (p-value 0.000) (< 0,05), Ha diterima dan Ho ditolak atau ada pengaruh sebelum diberikan terapi murrotal Al-Qur’an dan sesudah diberikan terapi murrotal Al-Qur’an terhadap peningkatan kualitas tidur pada bayi usia 3-6 bulan. Kesimpulan penelitian dari penelitian ini ada Pengaruh Terapi Murrotal Al-Qur’an Terhadap Kualitas Tidur Bayi Usia 3-6 Bulan Di Kelurahan Meteseh Kota Semarang. Sleep needs can not only be seen from the aspect of the quantity of sleep but can also be seen from the quality of baby's sleep. If the sleep quality of the baby is good, then the growth and development of the baby can be achieved optimally, one way to improve the quality of baby's sleep is by means of the Murrotal Al-Qur'an therapy. From interviews of 12 parents, found 8 babies who have sleep disorders. This study aims to describe the influence of Al-Qur'an mass therapy on sleep quality of infants aged 3-6 months. This type of research is a quasi experiment with one group pretest-posttest design. The study population was infants aged 3-6 months with sleep disorders. This research was conducted twice a day and given every time before bedtime. Study sample 16 infants aged 3-6 months, using purposive sampling. The independent variable is Murrotal Al-Qur'an and the dependent variable is sleep quality of infants aged 3-6 months. The research instrument used a questionnaire. Processing of Wilcoxon statistical test data. Asym. Sig (p-value 0.000) (<0.05), Ha is accepted and Ho is rejected or there is an influence before being given the Murrotal Al-Qur'an therapy and after being given the Murrotal Al-Qur'an therapy on improving sleep quality in infants aged 3- 6 months. The conclusion of this research is the Effect of Al-Qur'an Murrotal Therapy on Sleep Quality of Infants Age 3-6 Months in Meteseh Village, Semarang City.
Upaya Mempercepat Penyembuhan Diare pada Balita dengan Pemberian Makanan Tambahan Puding Madu Maftuchah Maftuchah; Eni Kusyati; Tri Wibawanti Nur Laksana
Jurnal SMART Kebidanan Vol 8, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/sjkb.v8i2.506

Abstract

ABSTRAKDiare adalah salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang. Penyakit diare sebagai penyebab kedua angka kesakitan dan angka kematian pada balita di Indonesia. Sebagian orang menganggap diare sering terjadi karena keracunan makanan. Status nutrisi bisa menjadi faktor perancu karena status nutrisi mempengaruhi durasi diare dan juga efektifitas prebiotik dalam meningkatkan respon imunitas. Studi pendahulan yang dilakukan di BPM Rusmiati Wilayah Puskesmas Winong terdapat data balita Pada bulan Maret-Mei 2020 yang mengalami diare  pada usia 3-5 tahun sebanyak 57 balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh Pemberian Makanan Tambahan  puding madu terhadap lama penyembuhan diare pada Balita Usia 3-5 . Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Quasi Eksperiment  dan purposive sampling didapatkan 20 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan analisis yang digunakan adalah mann whitney. Hasil penelitian menujukkan lama penyembuhan diare pada balita usia 3-5 tahun yang diberikan puding madu dan zinc didapatkan nilai median sebesar 4 hari sedangkan responden yang diberikan zinc dan oralit  dengan nilai median adalah 5 hari. Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian makanan tambahan puding madu terhadap lama penyembuhan balita diare pada balita usia 3-5 tahun di PMB  RusmiyatiKata kunci : balita; diare; puding madu; pemberian makanan tambahanABSTRACT  Diarrhea is a disease that is still a public health problem in developing countries. Diarrhea is the second cause of mortality in under-five children in Indonesia. some people think diarrhea is often caused by food poisoning. Nutritional status can be a confounding faktor because nutritional status affects the duration and also the effectiveness of prebiotics in enhancing the immune response. The preliminary study conducted at Rusmiati Private Maternal Clinic in the Winong Health Center area contained data on toddlers In March-May 2020 who experienced diarrhea at the age of 3-5 years as many as 57 toddlers. The purpose of this study was to analyze the effect of honey puding supplementary food on Diarrhea Recovery Time in Toddlers Aged 3-5. The type of research used was a quantitative study with a Quasi Experimental design with purposive sampling obtained 20 respondents. The research instrument was a questionnaire. The analysis was Mann Whitney. The results showed that the duration of diarrhea healing for toddlers aged 3-5 years who was given honey puding obtained a median value of 4 days while respondents who were given zinc and ORS alone with a median value of healing duration of diarrhea was 5 days. The conclusion of this study is that there is an effect of giving supplementary feeding honey puding on the duration of healing for toddlers with diarrhea in toddlers aged 3-5 years at Rusmiati Private Maternal Clinic Keywords : diarrhea;  honey puding; toddler; supplementary food
Cara Alamiah Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Nifas Menggunakan Madu Maftuchah Maftuchah; Siti Nur Umariyah Febriyanti; Fransisca Rosi Novita Rahardian
Jurnal SMART Kebidanan Vol 5, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.015 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v5i1.154

Abstract

Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012 jumlah ibu yang menyusui baru mencapai 42%. Data dari UNICEF  pada tahun 2015 didapati bayi yang mendapatkan ASI ekslusif sebanyak 32%.Produksi ASI yang berkurang menjadi masalah terutama pada ibu nifas. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi produksi ASI tersebut. Hal yang dilakukan untuk menolong ibu yang memiliki produksi ASI kurang adalah mencoba menemukan faktor yang mempengaruhi seperti faktor obat-obatan atau minuman yang aman untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui salah satunya adalah madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan one group pretest and posttest. Populasi adalah seluruh ibu nifas yang bersalin pada bulan Oktober -November 2017 hari ke-10 yang berjumlah 25 orang dengan Teknik sampling accidental sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah gelas ukur dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Produksi ASI pada Ibu Nifas sebelum pemberian madu rata-rata adalah 799,20 ml per hari dan Produksi ASI pada Ibu Nifas sesudah pemberian madu rata-rata adalah 914 ml perhari. Ada pengaruh pemberian madu terhadap peningkatan produksi ASI pada Ibu Nifas (P-value = 0,000). Diharapkan ibu nifas untuk selalu menyusui bayinya dan mengonsumsi madu masing 2 sendok makan setiap pagi, siang dan malam agar dapat membantu ibu dalam peningkatan produksi ASI. Kata kunci : Madu; Nifas; Air Susu Ibu 
Persepsi Ibu Tentang Toilet Training pada Anak Usia Toddler di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang dita wasthu prasida; Maftuchah Maftuchah; nirawati nirawati
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.754 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i1.32

Abstract

Latar Belakang: Jumlah balita yang masih susah mengontrol BAB dan BAK di usia sampai pra sekolah menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga diperkirakan mencapai 75 juta anak, kasus mengompol pada anak usia enam tahun di Indonesia tercatat sekitar 12%. Hasil studi pendahuluan di puskesmas kedungmundu, dari lima ibu yang memiliki anak usia toddler, tiga ibu mengatakan anaknya masih sering mengompol dan belum pernah melatih anak dalam buang air, sedangkan dua diantaranya sudah mulai melatih.Tujuan Penelitian: Penelitian ini untuk mengeksplorasi persepsi ibu tentang toilet training pada anak usia toddler.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Jumlah partisipan 4 orang, triangulasi yaitu suami partisipan.Hasil:  Wawancara mendalam pada partisipan didapatkan informasi tentang cara ibu dalam membiasakan anak untuk buang air, usia yang tepat untuk melatih anak, dampak dari toilet training, upaya orang tua serta hambatan-hambatan dalam toilet training.Ibu balita agar melatih anak untuk toilet training mulai usia satu sampai tiga tahun, Petugas kesehatan agar lebih meningkatkan penyuluhan secara menyeluruh terkait toilet training pada anak usia toddler. Kata kunci : Persepsi;toilet training;usia toddler.
Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Susu Formula sebagai Pengganti ASI Eksklusif Maftuchah Maftuchah; Anita Indra Afriani; Agustin Maulida
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.172 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.135

Abstract

Kecenderungan para ibu untuk tidak menyusui bayinya secara eksklusif semakin besar. Hal ini dapat dilihat dengan besarnya jumlah ibu menyusui yang memberikan makanan tambahan atau susu formula lebih awal sebagai pengganti ASI. Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu sehingga dalam pemanfaatan ASI secara eksklusif kepada bayinya rendah, antara lain adalah pengaruh iklan/promosi pengganti ASI, ibu bekerja, lingkungan sosial budaya, pendidikan, pengetahuan yang rendah serta dukungan suami yang kurang. Salah satu puskesmas dengan cakupan ASI Eksklusif terendah tahun 2015 yaitu di Puskesmas Tlogosari Wetan Kota Semarang sebesar 55,30 % . Meskipun mengalami peningkatan di tahun 2016 namun pencapaian ASI Eksklusif di Puskesmas Tlogosari Wetan yaitu 16,4 % belum mencapai target renstra Kota Semarang yaitu 65 % . Tehnik sampling yang digunakan adalah total sampling. Uji analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  ada hubungan pengetahuan dan pekerjaan dengan penggunaan susu formula sebagai pengganti ASI eksklusif (p value 0.031 dan 0,015). Sedangkan pendidikan dan peran petugas kesehatan tidak ada hubungan dengan penggunaan susu formula sebagai pengganti ASI eksklusif di Kelurahan Penggaron Kidul-Semarang (p value 0.303 dan 0.846). Saran bagi masyarakat diharapkan tetap memberikan ASI eksklusif kepada anaknya meskipun ditinggal bekerja. Kata Kunci : Susu Formula; ASI Eksklusif  FACTORS AFFECTING THE USE OF FORMULA MILK AS AN ALTERNATIVE EXCLUSIVE BREASTFEEDING. ABSTRACT The tendency of mothers  who do not breastfeed exclusively the babies are growing. It can be seen by the large number of nursing mothers who provide formula milk as breast milk alternative. The various reasons are put forward by the mothers so that the use of exclusive breast milk is low. These reasons include, the influence of advertisement / breastfeed altenatives, working mother, socio-cultural environment, education, low knowledge, and lack of husband support. One of public health center with the lowest coverage exclusive breastfeeding by 55.30% in 2015 is Tlogosari Wetan Health Center at Semarang City. Although in 2016 it has been incerased by 16,4%, however, that number has not fulfilled the strategic plan target of Semarang City as much as 65%. The sampling technique was used Total Sampling. The analysis test was used univariate analysis and Bivariate analysis using Chi-Square. The result showed that there is a relationship between the knowledge and the occupation with the use of formula milk as an alternative for exclusive breastfeeding (p value 0.031 and 0.015). while education and the role of health practitioner have no relation with the use of formula milk as an alternative for exclusive breastfeeding (p value 0.303 and 0.846). The mothers are expected to continue giving exclusive breastfeeding to the babies even if left to work. Keywords: Formula Milk; Exclusive breastfeeding
Hubungan Pendidikan dan Paritas dengan Kejadian Kehamilan Tidak Diinginkan pada Akseptor KB di PKBI As Sakinah Kabupaten Pemalang Kiki Ayu Apriliana; maftuchah maftuchah; Rose Nurhudhariani
Jurnal SMART Kebidanan Vol 3, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.873 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v3i2.61

Abstract

Latar belakang : Tingginya angka aborsi akibat kehamilan tidak diinginkan adalah sebuah fakta yang tidak dapat dilihat hanya dari salah satu faktor saja. Kadang seseorang merasa jumlah anak yang dimiliki sudah cukup, tetapi ternyata hamil lagi. Dengan kata lain kehamilan itu tidak dikehendaki. Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh berbagai penyebab yang kompleks yaitu sosial, budaya, ekonomi, paritas, tingkat pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan gender. Pasien yang datang ke klinik dengan akseptor KB pada tahun 2014 karena kehamilan yang tidak diinginkan yaitu sebanyak 108 pasien dari jumlah total 136 pasien yaitu sebanyak 38 pasien dengan tindakan Aspirasi Vakum Manual (AVM) dan sisanya melanjutkan kehamilannya yaitu 70 pasien. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan pendidikan dan paritas dengan kejadian kehamilan tidak diinginkan pada akseptor KB di klinik As Sakinah Pemalang. Metode Penelitian : survei analitik dengan pendekatan retrospektif, menggunakan instrument rekam medik yang ada di klinik PKBI As Sakinah Pemalang Tahun 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil dengan riwayat KB yang datang ke klinik PKBI As Sakinah Pemalang pada tahun 2014 sebanyak 108 orang. Hasil Penelitian : Ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian kehamilan tidak diinginkan pada akseptor keluarga berencana di klinik PKBI As Sakinah Pemalang (p value 0,008 < 0,05). Ada hubungan antar paritas dengan kejadian kehamilan tidak diinginkan pada akseptor keluarga berencana di klinik PKBI As Sakinah Pemalang (p value 0,009 < 0,05). Saran : Memberikan informasi yang berguna untuk peningkatan pelayanan kesehatan yang bermutu dalam rangka mensukseskan gerakan keluarga berencana. Kata kunci : Pendidikan, Paritas; Kehamilan Tidak Diinginkan  THE CORRELATION BETWEEN EDUCATION AND PARITY WITH THE UNWANTED PREGNANCY AT KB ACCEPTOR IN CLINIC PKBI AS SAKINAH PEMALANG DISTRICT 2014 YEAR Abstract Background : The height of number abortion of effect pregnancy not wanted was a fact which cannot be seen only from one of just just factor. Sometime somebody felt the child amount owned have enough, but pregnant in the reality again. Equally that pregnancy was not desired. This mother Mortality height because of various complex cause that were social, cultural, economic, parity, mount the education, facility of health service, and gender. Incoming patient to clinic with the acceptor KB in the year 2014 because undesirable pregnancy that were 108 patient from full scale 136 patient that were 38 patient with the Vacuum Aspiration Manual action ( AVM) And the rest continue its pregnancy that were 70 patient. Objective : To identify the correlation between education and parity with the unwanted pregnancy at KB acceptor in clinic PKBI As Sakinah Pemalang. Methods : In this research the writer used the analytic desain survey research with the approach of retrospectiv study. Research instrument used the note record of exist in clinic of PKBI As Sakinah Pemalang Year 2014, secunder date. Population in this research were all pregnant mothers with the incoming history KB to clinic of PKBI As Sakinah Pemalang in the year 2014 they were 108 people. Results : There was a significant correlation between the education with unwanted pregnancy at KB acceptor in clinic of PKBI As Sakinah Pemalang. Chi Square value of 11,792 and with a p value of 0,008 < 0,05 so Ho refused. There was a significant correlation between the parity with unwanted pregnancy at KB acceptor in clinic of PKBI As Sakinah Pemalang. Chi Square value of 9,439 and with a p value of 0,009 < 0,05 so Ho refused. Suggestion : Giving information which was good for make-up of certifiable health service in order to success of family planning (KB) movement. Keywords : Education; Parity; Unwanted Pregnancy
Hubungan Stres dengan Siklus Menstruasi pada Mahasiswa Prodi DIII Kebidanan STIKes Karya Husada Semarang Maftuchah Maftuchah; Aprilia Ainul Fitri; Dita Wasthu Prasida
Jurnal SMART Kebidanan Vol 3, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.83 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v3i1.49

Abstract

Latar Belakang: Sebagian besar perempuan di Indonesia pada tahun 2010 yang berusia 10-59 tahun melaporkan 68% mengalami haid teratur dan 13,7% mengalami masalah siklus haid yang tidak teratur dalam 1 tahun terakhir. Sedangkan di Jawa Tengah tahun 2010 diketahui perempuan yang berumur 10-59 tahun dengan siklus haid teratur sebanyak 70,4%, tidak teratur 13,1%, belum haid  6,8% dan tidak menjawab 9,7%. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan stress dengan siklus menstruasi pada mahasiswa prodi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Semarang. Metode Penelitian: Jenis penelitian correlation dengan desain cross sectional. Populasi yaitu mahasiswa DIII kebidanan STIKES Karya Husada Semarang semester V tahun 2015 sejumlah 69 mahasiswa dengan sampel 59 mahasiswa dengan teknik simple random sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil Penelitian: Stres yang dialami oleh mahasiswa prodi DIII Kebidanan sebagian besar adalah stess ringan sebanyak 40 responden (67,8%). Siklus menstruasi mahasiswa prodi DIII Kebidanan sebagian besar adalah normal sebanyak 46 responden (78,0%). Kesimpulan : Ada hubungan antara stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa prodi DIII Kebidanan (Pvalue = 0,000). Kata kunci: Stress; siklus menstruasi THE CORRELATION BETWEEN STRESS AND MENSTRUAL CYCLE TO THE DIPLOMA III OF MIDWIFERY STUDENTS’ KARYA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE SEMARANG Abstrack Background: Most women in Indonesia in 2010 were aged 10-59 years reported a 68% had regular menstruation and 13.7% experienced problems irregular menstrual cycles in the past 1 year. Whereas in Central Java in 2010 known women aged 10-59 years with regular menstrual cycles as much as 70.4%, 13.1% irregular, yet menstruation 6.8% and 9.7% did not answer. Objective: To determine the correlations between stress and menstrual cycle to the diploma iii of midwifery students’ Karya Husada Health Science College Semarang. Method: This research was a correlation design with cross-sectional. The population was all students of DIII midwifery STIKES Karya Husada Semarang fifth semester of 2015,  they were 69 students. The sample was 59 female students with sampling techniques using simple random sampling. The Date were analyzed using univariate and bivariate analyzes. Results: The stress experienced by the students of DIII of midwifery mostly mild stres they were 40 respondents (67.8%). The menstrual cycle of students DIII of Midwifery are mostly normal they were 46 respondents (78.0%). There was an association between stress and the menstrual cycle to the students of DIII the Midwifery (Pvalue = 0.000). Keywords: Stress;  menstrual cycle 
PENGARUH PENYULUHAN TENTANG KPSP TERHADAP PENGETAHUAN GURU DI PAUD TAMAN BELIA SEMARANG Dita Wasthu Prasida; Maftuchah -; Dewi Mayangsari
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.317 KB)

Abstract

The quality of a children's development should be increased since the children are in their Toddlers time for their developments determine the further developments, so the slightest deviation must be detected and handled properly as not to reduce the quality of human resources in the future later. One instrument of stimulation, detection and early intervention of growth and development for children at age of 3 to 72 months drawn up by the health Office in coordination with Indonesian Pediatric Association (IDAI) is a Pre-screening questionnaire development (). The purpose of this study was to analyze the effect of counseling on KPSP toward the knowledge of teachers at PAUD (early childhood education) Taman Belia Candi Semarang. The design of this study is quantitative comparative using a quasi-experimental methods (quasi experi-mental) with pre-post test, a sample of 22 early childhood teachers using total sampling. Bivariate analysis was done by using paired t-test after completing the data normality test using Shapiro-Wilk. The Average knowledge before the extension was 9.77 and deviation standard 1998. While the average knowledge after counseling was 16 with 2,045 SD, visible differences between the mean value of measurements before and after counseling. Results of statistical test t-paired with p value 0.000 <0.05, then there was a significant difference in knowledge between before and after counseling about KPSP. The conclusion is KPSP counseling was capable of improving knowledge effectively. And for Candilama Public Health Center and the ECD are expected to improve cooperation in efforts to monitor the children’s development.Keywords: Development, Pre-Screening Questionnaire Development (KPSP)
The Effectiveness of Tea Tree Oil and Eucalyptus Oil Aromaterapy for Toddlers with Common Cold Maftuchah Maftuchah; Priskila Iris Christine; M Jamaluddin
JURNAL KEBIDANAN Vol 10, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkb.v10i2.6360

Abstract

Common cold is a mild viral infection of the upper respiratory tract, nose, and throat. Common cold suffered by each toddler in Indonesia is predicted to occur three to six times a year, which means that a toddler may experience three to six times of coughs and colds every year. Common cold is also a symptom of Covid-19 whose early treatments used symptomatic and non-pharmacological therapy including tea tree oil and eucalyptus oil aromatherapy. Related to this, this paper reveals the effectiveness of tea tree oil and eucalyptus oil aromatherapy for the healing period of 1 to 2-year-old toddlers in T W Independent Midwifery Practice (IMP). This paper employs quasy experiment design with non-equivalent control group model. Sample includes 14 toddlers with the age of 1 to 2-year-old. Seven of them were given tea tree oil, while the rest were given eucalyptus oil aromatherapy with accidental sampling technique. Aromatherapy was given once a day for seven days. Findings showed that the healing period of the control and intervention group was four to five days and according to the Mann Whitney trial, p-value of 0,530 (0,05) was obtained. In conclusion, there is no difference between the healing period of common cold using tea tree oil and eucalyptus oil aromatherapy for 1 to 2-year-old toddlers in T W Independent Midwifery Practice (IMP). Tea tree oil and eucalyptus oil aromatherapy can be used to accelerate the healing period of common cold suffered by toddlers.
Sanggar Pijat Bayi Sehat Sebagai Program Tambahan Posyandu Untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak Isy Royhanaty; Maftuchah Maftuchah
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2018): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v9i1.1739

Abstract

Posyandu (pos pelayanan terpadu) merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kemandirian melaksanakan kegiatan dalam bidang kesehatan yang salah satunya kegiatannya mencakup pemantauan pertumbuhan dan perkembangan Balita. Masih adanya 4 Posyandu yang berstrata madya dan 1 Posyandu Pratama merupakan tantangan yang besar baik bagi Kelompok Kerja IV PKK Kelurahan Sambiroto maupun Puskesmas Kedungmundu untuk meningkatkan strata menjadi purnama bahkan mandiri. Salah satu syarat peningkatan strata Posyandu yaitu adanya program tambahan dan dana sehat. Salah satu cara menjawab tantangan tersebut adalah dengan membentuk program tambahan yang sekaligus bisa digunakan sebagai sumber dana sehat mandiri bagi kegiatan Posyandu. Sudah terdapat program tambahan di beberapa Posyandu di Sambiroto yang berjalan dengan baik, seperti Posyandu Lansia dan PAUD, namun belum pernah ada program yang ditujukan untuk optimalisasi tumbuh kembang bayi. Permasalahan yang muncul dikegiatan Posyandu, perlu dicarikan solusi sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan oleh semua masyarakat terutama bayi yang akan menjadi generasi penerus bangsa.  Pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan kepada kader Posyandu dengan mengadakan pelatihan pijat bayi dan mendirikan sanggar pijat bayi sehat. Luaran yang akan dihasilkan berupa pelatihan terstruktur dan Sanggar Pijat Bayi Sehat.