cover
Contact Name
Maftuchah, S.Si.T, M.Kes
Contact Email
maftuchah89@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
maftuchah89@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal SMART Kebidanan
ISSN : 23016213     EISSN : 25030388     DOI : -
Core Subject : Health,
The focus of this journal is the dissemination of information related to all midwifery area including maternal and child health, midwifery, ante natal, labor, post-partum, family planning, adolescent health, pre-conception period, pre-menopause, complementary in midwifery.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017" : 10 Documents clear
Perbedaan Lama Pelepasan Tali Pusat Bayi Baru Lahir dengan Benang Tali dan Umbilical Cord Clem Dewi Mayang Sari; Eka Nining Setyawati
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.609 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.133

Abstract

Lamanya pelepasan sisa tali pusat bervariasi, yaitu dalam waktu 3 hari, 5 hari, 7 hari, bahkan ada yang sampai 2 minggu. Semakin lama pelepasan tali pusat menunjukkan lamanya waktu yang digunakan untuk penyembuhan luka akibat pemotongan tali pusat, yang berarti semakin terbukanya menimbulkan infeksi pada bayi. Banyaknya faktor yang mempengaruhi lepasnya sisa tali pusat salah satuny yaitu cara pengikatan tali pusat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan lama pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir dengan menggunakan benang tali dan umbilical cord clem di BPM Mulyani. Penelitian ini merupakan jenis penilitian Pra Experiment dengan rancangan post test only design dengan pendekatan waktu retrospektif. Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengumpulan dari data catatan medis pasien di BPM Mulyani dengan jumlah sampel adalah 30 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemutusan tali pusat dengan umbilical cord clem rata-rata memiliki waktu pengelepasan talipusat 4.20 hari. Pemutusan tali pusat dengan benang tali pusat rata-rata memiliki waktu pengelepasan talipusat 7.27 hari. Terdapat perbedaan lama pelepasan tali pusat umbilical cord clem dengan benang tali pusat di BPM Mulyani dengan nilai p-value 0,000. Kata Kunci: Pengikatan; benang tali ; umbilical cord clem THE DIFFERENCES OF LONG RELEASE NEWBORN UMBILICAL CORD USING YARN AND UMBILICAL CORD CLEM ABSTRACT The duration of the rest of the umbilical cord varies, ie within 3 days, 5 days, 7 days, and some even up to 2 weeks. The longer the release of the umbilical cord indicates the length of time spent on wound healing due to umbilical cord cut, which means that the opening of the infection is more likely to infect the infant. The number of factors that affect the release of the rest of the umbilical cord is a way of binding the umbilical cord. The purpose of this research is to know the difference of old umbilical release on newborn by using string thread and umbilical cord clem at BPM Mulyani. This research is a type of Pre Experiment research with post test only design design with retrospective time approach. Data collection techniques by collecting data from medical records of patients in BPM Mulyani with the number of samples is 30 patients. The results showed that umbilical cord clem rupture had an average of 4.20 days of wheel release time. Halting of the umbilical cord with an average umbilical cord has a 7.27 day thoracic removal time. There is a difference of umbilical cord clem release length with umbilical cord in BPM Mulyani with p-value 0,000 Keywords:  Umbilical cord; yarn; umbilical cord clem
Pengetahuan Ibu tentang Kartu Menuju Sehat (KMS) Mempengaruhi Pertumbuhan Balita Arum Meiranny
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.105 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.98

Abstract

ABSTRAK Ibu yang memiliki Balita kurang memperhatikan KMS untuk memantau pertumbuhan Balita, sehingga pertumbuhan anak kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang KMS dengan pertumbuhan Balita. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah analitis, dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah ibu Balita di Wilayah RW V Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, dengan jumlah sampel 47 orang. Tehnik sampling yang digunakan adalah quota sampling. Uji analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan masih banyak ibu Balita yang kurang mengetahui tentang KMS (63,8 %). Kurangnya pengetahuan tersebut mengakibatkan banyaknya Balita yang tidak mengalami kenaikan berat badan (80,9 %). Analisis Chi Square menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang KMS dengan pertumbuhan Balita (p = 0,007), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang KMS dan pertumbuhan Balita di Wilayah RW V Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. Saran bagi ibu agar lebih memperhatikan kualitas pertumbuhan Balitanya, bagi Posyandu, dapat memaksimalkan pelaksanaan sistem 5 meja, dan bagi petugas kesehatan dapat memberi motivasi bagi kader untuk dapat memberikan informasi tentang KMS dan mengatur jadwal pelaksanaan Posyandu, sehingga memungkinkan para ibu untuk dapat mengantar Balitanya ke Posyandu. Kata Kunci : Pengetahuan; Kartu Menuju Sehat (KMS); Pertumbuhan Balita  MOTHER’S KNOWLEDGE ABOUT ROAD TO HEALTH CHART (RHC) INFLUENCE THE GROWTH OF CHILDREN  UNDER FIVE AGES ABSTRACT Mothers who have child under five ages giving less attention to Road to Health Chart (RHC) as the controlling media of children growth under five. This  research was done with the purpose to know the corelation beetwen mother’s level of knowledge about RHC with the growth of children under five ages. This research was conducted by analythical research with cross sectional approach. Population used mother of children under five ages at administrative unit V of the Kalipancur Village Ngaliyan Subdistrict Semarang City with  47 samples. Sampling technique used by this research was quota sampling. Analysis test using by univariate and bivariate analysis which uses Chi Square. The result of this research indicated that there were still many mother of children under five ages which unknown concerning RHC (63,8 %). The lack knowledge regarding such matter caused many children under five ages shall not having normal with growth (80,9 %). Chi Square analysis shows that there was a corelation between mother’s level of knowledge about RHC with the growth of child under five ages (p = 0,007), so it could be concluded that there was a corelation between mother’s level of knowledge about RHC with the growth of child under five ages. Suggestion particularly to mother of children under five ages was give greater concern to  the growth quality of their under five children, to the integral health post that it could maximized the implementation of five tables system, and for the health service personal to giving a  motivation to the cadres, so that they could shale appropriate information concerning RHC and arrange their schedule for appliying or visiting the integral health post and enable mother to carry their children to that place her self. Keywords: Knowledge, Road To Health Chart (Rhc), The Growth Of Children  Under Five Ages
Terapi Endorphin Massage untuk Menurunkan Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif Persalinan Rr. Catur Leny W; machfudloh machfudloh
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.233 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.117

Abstract

ABSTRAK Nyeri persalinan dapat menimbulkan stres yang menyebabkan pelepasan hormon yang berlebihan seperti katekolamin dan steroid. Endorphin Massage merupakan sebuah terapi sentuhan/pijatan ringan yang cukup penting diberikan pada wanita hamil, di waktu menjelang hingga saatnya melahirkan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh Endorphin Massage terhadap intensitas nyeri kala I fase aktif pada persalinan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif quasi eksperimental design, dengan rancangan yang digunakan adalah posttest only control group design dengan sampel 30 responden diambil dengan menggunakan teknik Acidental sampling di BPM Wilayah Puskesmas Demak. Data yang digunakan data primer dengan instrument berupa lembar checklist. Analisa data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil Penelitian ada pengaruh pemberian Terapi Endorphin Massage terhadap intensitas nyeri kala I fase aktif persalinan yaitu didapatkan hasil p<0,05 yaitu p=0,004. Simpulan intesitas nyeri responden sebelum dilakukan Endorphin Massage sebagian besar responden mengalami nyeri berat dengan skala 8-9, Intesitas nyeri responden setelah dilakukan Endorphin Massage sebagian besar responden mengalami nyeri sedang dengan skala 6-7. Ada pengaruh Endorphin Massage terhadap intensitas nyeri kala I fase aktif pada persalinan. Kata kunci : Endorphin massage; Intensitas nyeri; Persalinan   ENDORPHIN MASSAGE THERAPY TO REDUCE THE INTENSITY OF PAIN DURING THE ACTIVE PHASE OF LABOR  ABSTRACT Birth pain may cause stress that lead tobring out excessive hormones such as catecholamines and steroids. Endorphin massage is a touch therapy orgentlemassage which is important enough for pregnant women before giving birth. The aim of this research is to know the effect of Endorphin Massageonpain intensity during active phase of first stage in labor. This research uses quantitative quasi experimental design, with the design used is posttest for control group design. Independent variable is endorphin massage.Variable dependent is pain intensity of acitivephase of first stage in labor, with 30 respondents of sample wich is taken by using technique of Acidental sampling. This research took a place in BPM area of public health center Demak. The data was gathered through observation using checklist form. The data was analyzed using Spearman Rank test. The result of the research is there is an effect of Endorphin Massage onpain intensity of acitivephase of first stage in labor withp <0,05, p = 0,004. The conclusion is most of respondents had severe pain with scale 8-9before Endorphin Massage, and most of the respondentshad moderate pain with scale 6-7after Endorphin Massage. There is an effect of Endorphin Massage on pain intensity of acitivephase of first stage in labor. Keywords: Endorphin massage; Labor; Pain Intensity 
Peran Ayah dalam Stimulasi Perkembangan Balita Isy Royhanaty; Alida Nihayah; Dewi Mustikasari
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.725 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.120

Abstract

ABSTRAK Kualitas tumbuh kembang yang optimal akan menjadi modal dasar suatu bangsa. Di Desa Purworejo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak masih ditemukan anak dengan keterlambatan pekembangan. Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal perlu keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang salah satunya dengan melakukan stimulasi perkembangan. Tujuan penelitian untuk mengetahui stimulasi perkembangan yang dilakukan ayah pada balita usia 24-36 bulan di Desa Purworejo kecamatan Bonang kabupaten Demak. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif , sampel 36 ayah yang memiliki balita usia 24-36 bulan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan Sebagian besar ayah balita usia 24-36 bulan melakukan stimulasi perkembangan gerak kasar dengan baik (63,9%), melakukan stimulasi perkembangan gerak halus baik (58,3%), melakukan stimulasi perkembangan bicara dan bahasa baik (61,1%), serta melakukan stimulasi perkembangan sosial dan kemandirian baik (55,6%). Stimulasi perkembangan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosial dan kemandirian yang dilakukan ayah pada balita usia 24-36 bulan di Desa Purworejo sebagian besar baik. Ayah balita usia 24-36 bulan sebaiknya dapat lebih meluangkan waktu selain untuk bermain dengan anak tapi juga untuk pergi refresing atau berkunjung ke tempat-tempat edukasi seperti taman bermain dan kebun binatang untuk melatih sosial dan kemandirian anak serta menyeimbangkan peran orang tua, sehingga perkembangan anak menjadi optimal. Kata Kunci : Peran Ayah; Stimulasi Perkembangan Father's  Role In Stimulating Toddler's Development ABSTRACT The optimal quality of growth and development will be the basic capital of a nation. In Purworejo Village, Bonang Sub-district, Demak Regency is still found by children with delayed development growth. To achieve optimal growth and development of the father's involvement in the care of one of them by stimulating the development. The objective of this study was to know the stimulation of development done by the father in children aged 24-36 months in Purworejo village, Bonang district, demak district. This research type was descriptive quantitative. Samples in this study were 36 fathers who had toddlers aged 24-36 months. The sampling technique used is purposive sampling. Instrument of this research was questionnaire. The results are presented in the form of frequency distribution. Most fathers aged 24-36 months of age in Purworejo village performed good coarse motion stimulation (63,9%), stimulated good development of fine motion (58,3%), stimulated speech development and good language ( 61.1%), as well as stimulate sosial development and good independence (55.6%). The stimulation of the development of coarse motion, smooth motion, speech and language, as well as sosial and self-reliance performed by fathers in children aged 24-36 months in Purworejo Village are mostly good. Fathers aged 24-36 years old should be able to take time other than to play with children but also to go refreshing or visiting places such as playgrounds and zoos to train children's sosial and self-reliance and balance the role of parents, so the development of children will be optimal. Keywords:Father's Role; Developmental Stimulation 
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Mahasiswa DIII Kebidanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto Dewi Ambarwati; Wilis Dwi Pangesti
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.411 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.118

Abstract

ABSTRAK Masa  remaja  sering  disebut  dengan  masa  pubertas. Pubertas  adalah  perubahan  cepat  pada  kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan hormonal, terutama terjadi selama masa remaja awal. Masalah  gizi yang biasa dialami  pada fase remaja adalah status gizi dan anemia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian anemia pada remaja pada mahasiswa Prodi Kebidanan DIII FIKES UMP tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian analitik. Pendekatan waktu yang digunakan adalah cross sectional. Analisis data dalam penelitian dengan variabel berskala Nominal dan Nominal adalah statistika non-parametrik. Pengujian hipotesis mengunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara status gizi, uang jajan dan pendapatan orang tua yang signifikan dengan nilai p-Value > 0,05secara berurutan nilai X2 hitung adalah 3,679, 1,75 dan 0,285, dan Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa dan tingkat pendidikan terakhir ibu dari mahasiswa dengan nilai  p valeu < 0,05 secara berurutan nilai X2 hitung 16, 746, dan 8, 014. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi, uang jajan dan pendapatan orang tua terhadap angka kejadian anemia remaja dan Ada hubungan antara tingkat pengetahuan mahasiswa dan tingkat pendidikan terakhir ibu dari mahasiswa dengan kejadian anemia remaja. Kata Kunci : Status Gizi; Uang Jajan; Pendapatan Orang Tua; Pengetahuan; Pendidikan terakhir Ibu; Anemia THE ANALYSIS OF AFFECTING FACTORS OF ANEMIA IN STUDENTS OF DIPLOMA MIDWIFERY PROGRAM OF STUDY AT HEALTH SCIENCE FACULTY UNIVERSITY OF MUHAMMADIYAH PURWOKERTO Abstract Adolescence is often referred to as puberty. Puberty is a rapid change in physical maturity that includes bodily and hormonal changes, the emergence of adolescence. Common nutritional problems in the adolescent phase are nutritional status and anemia. The purpose of this study was to determine the factors that may affect the incidence of anemia in adolescents in the students of Diploma Midwifery Program of Study at Health Science Faculty University of Muhammadiyah Purwokerto in 2017. This research was an analytic research. The time approach used was cross sectional. Data analysis in research with variable of Nominal and Nominal scale is non parametric statistic. Hypothesis testing used Chi Square Test. The results showed no relationship between nutritional status, pocket money and significant parent with p-value> 0,05 in sequence value of X2 count was 3.679, 1.75 and 0.285, and there was a significant relationship between the level of student knowledge and the level the last education of mothers of students with p value <0.05 consecutive values X2 count 16, 746, and 8, 014. This research can be concluded there is no correlation between nutritional status, pocket money and parent income to the incidence of adolescent anemia incidence and There is correlation between student's knowledge level and the last education level of mothers of students with the incidence of adolescent anemia. Keywords: Nutritional Status; Pocket money; Parent Revenue; Knowledge, Mother's last education, Anemia.
Mutu Pelayanan dan Komunikasi Teraupetik yang Baik Meningkatkan Kepuasan Pasien Pengguna BPJS Kesehatan di RSI NU Demak Dyah Ayu Wulandari; Nadhifah Nadhifah
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.912 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.134

Abstract

Berdasarkan data jumlah pasien rawat inap di RS Islam Nahdlatul Ulama Demak yang menggunakan BPJS Pasien kelas 3 pada tahun 2014 sebanyak 1.117 pasien. Pada tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 2.032 pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mutu pelayanan dan komunikasi terapeutik tenaga kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien kelas III rawat inap pengguna BPJS Kesehatan. Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pasien peserta BPJS Kesehatan yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Kelas III estimasi / rata-rata dari bulan Januari sampai dengan Agustus 2016 berjumlah 95 pasien. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 77 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Hasil Penelitian  yaitu ada hubungan mutu pelayanan tenaga kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien kelas III rawat inap pengguna BPJS Kesehatan. Ada hubungan komunikasi terapeutik tenaga kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien kelas III pengguna BPJS Kesehatan. Saran bagi instansi kesehatan agar meningkatkan mutu pelayanan dan komunikasi terapeutik tenaga kesehatan pasien kelas III rawat inap pengguna BPJS kesehatan Di RSI Nahdlatul Ulama Demak dengan memberikan pelatihan / workshop kepada tenaga kesehatan secara menyeluruh sehingga semua tenaga kesehatan menjadi lebih tahu tentang cara meningkatkan mutu pelayanan di RS tersebut.  Kata kunci: Mutu pelayanan; komunikasi terapeutik; tingkat kepuasan pasien  QUALITY OF SERVICE AND GOOD THERAPEUTIC COMMUNICATIONS IMPROVE THE SATISFACTION OF  HEALTH BPJS PATIENTS IN RSI NU DEMAK ABSTRACT Based on the data on the number of inpatients in hospital Nahdlatul Ulama Islam Demak BPJS Patients who use grade 3 in 2014 as many as 1,117 patients. In 2015 increased to 2,032 patients.  To determine the correlation Service Quality and Therapeutic Communication Health Workers With Patient Satisfaction Level Class III Inpatient Users BPJS. Design correlation with research using cross sectional approach. The patient population treated BPJS participants in Inpatient Class III estimated / average from January to August 2016 amounted to 95 patients. The sample in this research is class III inpatients users BPJS total of 77 respondents. The sampling technique uses accidental sampling. There is a correlation between quality of service and patient satisfaction level III class inpatient BPJS users. There is correlation between communication therapeutic and patient satisfaction level grade III users BPJS. Health institutions in order to improve the quality of care and therapeutic communication of health personnel of class III inpatient users health BPJS In RSI Nahdlatul Ulama Demak by providing training / workshop for health workers so completely that all health professionals become more knowledgeable about how to improve the quality of service in the hospital. Keywords: Quality of service; therapeutic communication;  patient satisfaction 
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Minat Ibu dalam Pelaksanaan Program Lima Imunisasi Dasar Lengkap di Wilayah Puskesmas Bangetayu Kota Semarang Endang Susilowati
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.431 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.136

Abstract

AbstrakPemberian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada bayi, merupakan suatu keharusan. Hasil survei Riskesdas tahun 2013 didapatkan data cakupan imunisasi HB-0 (79,1%), BCG (87,6%), DPT-HB-3 (75,6%), Polio-4 (77,0%), dan imunisasi campak (82,1%). Cakupan imunisasi lengkap di Jawa Tengah pada tahun 2013 mengalami penurunan. Jumlah sasaran bayi pada tahun 2013 adalah 575.011 menurun dibanding tahun 2012 sebanyak 592.712. Dampak dari cakupan imunisasi yang rendah yaitu cukup tingginya proporsi kematian bayi yang disebabkan karena tetanus neonatorum (TN) di Indonesia,  meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor  apa yang mempengaruhi minat ibu dalam pelaksanaan program lima imunisasi dasar lengkap di Wilayah Puskesmas Bangetayu Kota Semarang, Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research, adapun pendekatannya menggunakan rancangan cross sectional. Hasil analisis dengan chi square diperoleh hasil signifikansi p value = 0,000 pada karakteristik umur, pendidikan dan pengetahuan, karena p value < 0,05 maka secara statistik ada hubungan yang signifikan antara umur, pendidikan dan pengetahuan  ibu dengan minat ibu dalam pelaksanaan lima imunisasi dasar lengkap.Kata Kunci : Minat ; Lima Imunisasi Dasar Lengkap THE AFFECTING FACTORS OF INTEREST OF MOTHERS TO IMPLEMENT FIVE BASIC IMMUNIZATIONS PROGRAM IN  BANGETAYU PUBLIC HEALTH CENTER,  SEMARANG DISTRICT Abstract In the immunization program, the provision of Complete Basic Immunization in infants is a must. The result of Riskesdas survey in 2013 revealed immunization coverage of HB-0 was 79,1%, BCG was 87,6%, DPT-HB-3 was 75,6%, Polio-4 was 77,0%, and measles immunization was 82.1%. The coverage of complete immunization in Central Java in 2013 has decreased. The number of targeted infants in 2013 was 575,011, decreased from 592,712 in 2012. The impact of low immunization coverage was the high proportion of infant deaths due to Tetanus Neonatorum (TN) in Indonesia, morbidity and mortality rates among infants also increase. The purpose of this research was to know factors that influence interest of mothers to implement five basic immunization program in Bangetayu Public Health Center, Semarang District. The research type is explanatory research with cross sectional design. The result of analysis with chi square showed p value = 0,000 on the characteristics of age, education and knowledge. As p value <0,05, therefore there is a significant correlation between age, education and mother knowledge with interest of mother to implement five complete basic immunization. Keywords: Interest; Five Basic Immunizations Program
Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Susu Formula sebagai Pengganti ASI Eksklusif Maftuchah Maftuchah; Anita Indra Afriani; Agustin Maulida
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.172 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.135

Abstract

Kecenderungan para ibu untuk tidak menyusui bayinya secara eksklusif semakin besar. Hal ini dapat dilihat dengan besarnya jumlah ibu menyusui yang memberikan makanan tambahan atau susu formula lebih awal sebagai pengganti ASI. Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu sehingga dalam pemanfaatan ASI secara eksklusif kepada bayinya rendah, antara lain adalah pengaruh iklan/promosi pengganti ASI, ibu bekerja, lingkungan sosial budaya, pendidikan, pengetahuan yang rendah serta dukungan suami yang kurang. Salah satu puskesmas dengan cakupan ASI Eksklusif terendah tahun 2015 yaitu di Puskesmas Tlogosari Wetan Kota Semarang sebesar 55,30 % . Meskipun mengalami peningkatan di tahun 2016 namun pencapaian ASI Eksklusif di Puskesmas Tlogosari Wetan yaitu 16,4 % belum mencapai target renstra Kota Semarang yaitu 65 % . Tehnik sampling yang digunakan adalah total sampling. Uji analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  ada hubungan pengetahuan dan pekerjaan dengan penggunaan susu formula sebagai pengganti ASI eksklusif (p value 0.031 dan 0,015). Sedangkan pendidikan dan peran petugas kesehatan tidak ada hubungan dengan penggunaan susu formula sebagai pengganti ASI eksklusif di Kelurahan Penggaron Kidul-Semarang (p value 0.303 dan 0.846). Saran bagi masyarakat diharapkan tetap memberikan ASI eksklusif kepada anaknya meskipun ditinggal bekerja. Kata Kunci : Susu Formula; ASI Eksklusif  FACTORS AFFECTING THE USE OF FORMULA MILK AS AN ALTERNATIVE EXCLUSIVE BREASTFEEDING. ABSTRACT The tendency of mothers  who do not breastfeed exclusively the babies are growing. It can be seen by the large number of nursing mothers who provide formula milk as breast milk alternative. The various reasons are put forward by the mothers so that the use of exclusive breast milk is low. These reasons include, the influence of advertisement / breastfeed altenatives, working mother, socio-cultural environment, education, low knowledge, and lack of husband support. One of public health center with the lowest coverage exclusive breastfeeding by 55.30% in 2015 is Tlogosari Wetan Health Center at Semarang City. Although in 2016 it has been incerased by 16,4%, however, that number has not fulfilled the strategic plan target of Semarang City as much as 65%. The sampling technique was used Total Sampling. The analysis test was used univariate analysis and Bivariate analysis using Chi-Square. The result showed that there is a relationship between the knowledge and the occupation with the use of formula milk as an alternative for exclusive breastfeeding (p value 0.031 and 0.015). while education and the role of health practitioner have no relation with the use of formula milk as an alternative for exclusive breastfeeding (p value 0.303 and 0.846). The mothers are expected to continue giving exclusive breastfeeding to the babies even if left to work. Keywords: Formula Milk; Exclusive breastfeeding
Resiko Faktor Genetic terhadap Kejadian Diabetus Melitus di Desa Bae Kabupaten Kudus Shoma Robi&#039; Fauziah; Imas Yuli Yantika Dewi Amalia; Layli Zuariyah; Vina Naila Shofa; Ervina Rahmawati; Rina Novita
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.069 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.119

Abstract

ABSTRAK Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakit yang berhubungan dengan ketidaknormalan metabolisme yang menimbulkan peningkatan kadar glukosa. Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya diabetes mellitus diantaranya yaitu faktor genetik. Penderita diabetes dari mulai tahun 2007 sampai sekarang masih tinggi. Terutama di desa bae sebanyak 23% (89 kasus). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan genetik terhadap kejadian Diabetes Mellitus. Jenis penelitian menggunakan analitik korelasional  dengan desain case control. Pengambilan data menggunakan alat ukur kuesioner dan rekam medik. Teknik analisis data menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara faktor genetik dan Diabetes Mellitus (p= 0,000; x² hitung= 72,054; OR= 386,400; CI 95%= 43,357-3443,605). Seseorang yang memiliki riwayat keluarga diabetes mellitus dapat meningkatkan risiko Diabetes Mellitus sebesar 386 kali lipat dibandingkan orang yang tidak mempunyai riwayat Diabetes Mellitus. Kata kunci: Diabetes Mellitus; Genetik.  GENETIC RISK FACTOR TOWARDS THE OCCURRENCE OF DIABETES MELLITUS IN BAE VILLAGE KUDUS REGENCY ABSTRACT Diabetes Mellitus is one of the diseases associated with metabolic abnormalities that lead to elevated levels of glucose. Risk factors that affect the occurrence of diabetes mellitus include genetic factors. Diabetics from the beginning of 2007 until now still high. Especially in Bae village as much as 23% (89 cases). This research was to analyze relationship between the genetic and Diabetes Mellitus. Type of research used correlational analytics with case control design. Data collection using questionnaires and medical records. Data analysis technique used chi square statistic test. The results showed that there was a significant relationship between genetic factors and Diabetes Mellitus (p = 0,000, x2 count = 72.054; OR = 386,400; 95% CI = 43,357-3443,605).  A person who has a family history of diabetes mellitus may increase the risk of Diabetes Mellitus by 386-fold compared to people who do not have a history of Diabetes Mellitus. Keywords: Diabetes Mellitus; Genetic.
Seks Bebas Menurut Remaja Putri di SMA N 1 Sragi Is Susiloningtyas; Iga Retia Mufti
Jurnal SMART Kebidanan Vol 4, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.11 KB) | DOI: 10.34310/sjkb.v4i2.100

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan generasi penerus pembentuk keluarga. Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Di Indonesia jumlah remaja berumur 10-19 tahun adalah sebesar 22,2% dari total penduduk Indonesia, terdiri 49,1% perempuan dan 51,9% laki-laki. Walaupun remaja telah mencapai kematangan kognitif, namun dalam kenyataannya mereka belum mampu mengolah informasi yang diterima tersebut secara benar. Tingkah laku seksual remaja cenderung meningkat atau progresif. Diawali dengan necking (berciuman sampai ke daerah dada), kemudian di ikuti oleh petting (saling menempelkan alat kelamin). Hubungan intim, atau pada beberapa kasus, seks oral, yang secara besar meningkat pada usia remaja selama beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SMA N 1 Sragi belum mendapatkan pendidikan seks di sekolah dan angka kehamilan tidak diinginkan cukup tinggi yaitu 2 kali dalam satu tahun. Jenis penelitian yaitu deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah siswi kelas X dan kelas XI di SMA N 1 Sragi menggunakan teknik sampling proportionate stratified random sampling yaitu 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan remaja putri tentang seks bebas di SMA N 1 Sragi mayoritas responden berpengetahuan kurang berjumlah 40 orang (40%), pengetahuan baik berjumlah 33 orang (33%) responden, dan yang mempunyai pengetahuan  cukup berjumlah 27 orang (27%) responden. Saran untuk pihak sekolah perlu adanya kurikulum tentang Kesehatan reproduksi di sekolah menengah atas Kata Kunci : Remaja putri; Seks bebas FREE SEX PERCEPTION ACCORDING TO FEMALE STUDENTS IN SMA N 1 SRAGIABSTRACT Teenagers are the next generation of family builders. Demographic data shows that adolescents are a large population of the world's population. One fifth of the world's population is a teenager aged 10-19 years. In Indonesia the number of adolescents aged 10-19 years is 22.2% of the total population of Indonesia, consisting of 49.1% female and 51.9% male. The characteristics of adolescents have reached cognitive maturity. But in this case, they have not been able to process the received information correctly. Teens' sexual behavior is increasing or progressive. Beginning with necking (kissing up to the chest area), then followed by petting (mutual gluing to the genitals). Intimate relationships, or in some cases, oral sex, are greatly increased in adolescence over the past few years. Based on the results of preliminary studies in SMA N 1 Sragi got pregnancy rate and no information about sex education was 2 times higher in a year. The research type was descriptive with cross sectional approach. The sample in this research were students of class X and class XI in SMA N 1 Sragi and used stratified random sampling technique that were 100 respondents. The result of the research shows that the level of knowledge of girls about free sex in SMA N 1 Sragi is less as many as 40 people (40%), good knowledge 33 people (33%), and who are knowledgeable are 27 people (27%). School needs a curriculum on health especially sex educationKeywords: Teenagers; Free sex

Page 1 of 1 | Total Record : 10