cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi" : 33 Documents clear
Studi Komunikasi Nonverbal dan Makna Stiker pada Aplikasi Whatsapp bagi Generasi Z: Rahmawati, Dea Indi; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21286

Abstract

Sticker is a symbol that becomes a sign of expression feelings in messages sent via messaging apps. This study aims to explain and describe the function stickers in nonverbal communication and the meaning of stickers in applications Whatsapp among generation Z. The theory underlying the analysis in this study is the theory of interactionism symbolic. The type of research used is descriptive qualitative method phenomenology among generation Z users of the Whatsapp application sticker feature. The results of this study explain the use of stickers as symbols in nonverbal communication to convey the meaning and function of the message the use of stickers in indirect communication. Conclusion in this study, namely the use of the sticker feature on the Whatsapp application is important because it can emphasize the meaning of the verbal message and facilitate the sender or the recipient of the message expresses the message nonverbally without communication direct. Stiker adalah suatu simbol yang menjadi tanda dalam mengekspresikan sebuah perasaan pada suatu pesan yang dikirimkan melalui aplikasi perpesanan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan fungsi dari stiker dalam komunikasi nonverbal dan makna dari stiker pada aplikasi WhatsApp di kalangan Generasi Z. Teori yang melandasi analisis pada penelitian ini yaitu teori interaksionisme simbolik. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi pada kalangan generasi Z pengguna fitur stiker aplikasi WhatsApp. Hasil penelitian ini menjelaskan mengenai penggunaan stiker sebagai simbol dalam komunikasi nonverbal untuk menyampaikan makna pesan dan fungsi penggunaan stiker dalam melakukan komunikasi tidak langsung. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu penggunaan fitur stiker dalam aplikasi WhatsApp adalah penting karena dapat menekankan makna pesan verbal dan memudahkan pengirim atau penerima pesan mengekspresikan pesan nonverbal dalam komunikasi tidak langsung.
Implementasi Pola Komunikasi dalam Membentuk Kohesivitas di Organisasi Kemahasiswaan Pradipta, William; Setyanto, Yugih
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21350

Abstract

This study examines the patterns of communication that occur in an organization in order to build solidarity. Researchers took a study at the Student Executive Board of the Faculty of Communication Sciences, Padjadjaran University. The methodology used is a qualitative methodology with data collection techniques through interviews, observation, and documentation collected by researchers. The theories used are organizational communication theory, leadership communication, communication patterns, and solidarity. After conducting the research, the researcher concluded that the communication process at BEM Fikom Unpad took place in three stages, namely primary, which means directly face-to-face. Then secondarily, through media or digital platforms, and lastly, circularly characterized by feedback. the communication model runs in a participatory manner with openness to opinions, criticism, and suggestions and the involvement of every individual in the organization. A star-shaped or overall communication pattern that allows each individual to be a continuous communicator and communicate. The process of good communication, openness, and empathy creates the same emotional experience and close trust in one another and has an impact on building a sense of belonging and high solidarity within the organization. Penelitian ini mengupas pola komunikasi yang terjadi pada suatu organisasi dalam rangka membangun kohesivitas. Peneliti meneliti Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi organisasi, komunikasi kepemimpinan, pola komunikasi, dan kohesivitas. Peneliti menemukan bahwa proses komunikasi pada BEM Fikom Unpad berlangsung dalam tiga tahap, yaitu secara primer, artinya secara langsung; secara sekunder, melalui media atau platform digital; dan yang terakhir, secara sirkular ditandai dengan adanya timbal balik. Model komunikasi berjalan secara partisipatif dengan adanya keterbukaan pendapat, kritik, dan saran serta keterlibatan individu dalam organisasi. Pola komunikasi berbentuk bintang atau menyeluruh yang memungkinkan setiap individu komunikator dan komunikan. Proses komunikasi yang baik, keterbukaan, dan empati menimbulkan pengalaman emosional yang sama dan kepercayaan satu sama lain yang erat dan berimbas terbangunnya rasa memiliki dan kohesivitas organisasi yang tinggi.
Komunikasi Interpersonal dan Kepercayaan Diri Pengguna Dating Apps Hasna, Afifah Haura; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21351

Abstract

Some people have difficulties communicating when they are with other people. Difficulties in communicating can be caused by anxiety and fear of receiving responses from communicants or people who receive messages. A medium that can be used in exchanging messages and information is the online dating app Bumble. The Bumble app specializes in women opening the chat first. This research aims to find out and describe the use of interpersonal communication by female users of the Bumble application to increase self-confidence. Interpersonal communication is communication between two or more people that allows participants to capture other people's reactions directly, both verbally and non-verbally. The author uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was obtained through observation, documentation, and in-depth interviews with five informants and expert sources. The results showed that Bumble app users feel confident when communicating if they have something in common. Self-confidence also arises if Bumble app users are used to doing interpersonal communication with a positive self-concept. Beberapa orang kesulitan berkomunikasi saat sedang bersama dengan orang lain. Kesulitan dalam berkomunikasi dapat disebabkan rasa cemas dan takut dalam menerima tanggapan dari komunikan atau orang yang menerima pesan. Media yang dapat digunakan dalam bertukar pesan dan informasi adalah aplikasi kencan online Bumble. Aplikasi Bumble mengkhususkan perempuan untuk membuka obrolan terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pemanfaatan komunikasi interpersonal oleh perempuan pengguna aplikasi Bumble dalam meningkatkan kepercayaan diri. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antar dua orang atau lebih yang memungkinkan pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non-verbal. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, wawancara mendalam dengan lima informan dan narasumber ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna aplikasi Bumble merasa percaya diri saat berkomunikasi jika memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Kepercayaan diri juga muncul, jika pengguna aplikasi Bumble sudah terbiasa melakukan komunikasi interpersonal dengan konsep diri yang positif.
Pembentukan Personal Branding Content Creator Melalui Media Sosial Sinurat, Theresia Geraldin; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21361

Abstract

TikTok is one of the social media platforms preferred by the public. Social media has given rise to a new profession called content creator. They can unintentionally or intentionally form personal branding and create public perceptions. Researchers chose one of TikTok's content creators, Junita Eka Pertiwi, with the account name @jntexs. In her content, Junita discusses horror films, cases, tips and tricks about everyday life. Researchers analysed the personal branding carried out by Junita on social media platforms. he results showed that content creators have applied eleven personal branding criteria based on Hubert K. Rampersad's concept, namely authenticity, integrity, consistency, specialisation, authority, privilege, relevance, visibility, persistence, good deeds, and performance. Junita also brings out her character through a slogan. Media sosial TikTok merupakan salah satu platform media sosial yang disukai oleh masyarakat. Media sosial telah memunculkan adanya profesi baru yang disebut content creator atau pembuat konten. Mereka dapat secara tidak sengaja maupun sengaja membentuk personal branding dan menimbulkan persepsi masyarakat. Peneliti memilih salah satu content creator TikTok, Junita Eka Pertiwi dengan nama akun @jntexs. Dalam kontennya, Junita membahas tentang film horor, kasus, tips dan trik seputar kehidupan sehari-hari. Peneliti menganalisa personal branding yang dilakukan oleh Junita dalam platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa content creator telah menerapkan sebelas kriteria personal branding berdasarkan konsep Hubert K. Rampersad yaitu keotentikan, integritas, konsistensi, spesialisasi, otoritas, keistimewaan, relevan, visibilitas, kegigihan, perbuatan baik, dan kinerja. Junita juga memunculkan karakter melalui slogan.
Interaksi Simbolik Kegiatan Reses di Wilayah Dapil 1 Tangerang Kota Martin, Helice; Pribadi, Muhammad Adi
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21367

Abstract

Recess activities are two-way verbal communication between legislators and citizens to absorb the aspirations of the community directly to council members without intermediaries. Researchers examined symbolic interaction in recess activities held by the regional people's representative council (DPRD) members and attended by community members. This theory discusses how individuals think in an interaction in a social environment. There are mind, self, and society in symbolic interaction that plays an important role in ongoing social interaction. The methodology used in this research is qualitative with a phenomenological strategy. Data were collected through in-depth interviews with members of the DPRD in Tangerang City and the people of Tangerang City Electoral District I (Dapil I). The research shows that symbolic interaction occurs when giving directions and explanations related to recess activities to residents so that the community can understand the meaning of recess activities and can follow the directions given by the representative of residents and members of the council. In the end, symbolic interaction plays an important role in establishing a good relationship between Tangerang City DPRD members and their constituents. Kegiatan reses merupakan komunikasi verbal secara dua arah antara anggota legislatif dengan warga untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung kepada anggota dewan tanpa perantara. Peneliti mengkaji interaksi simbolik dalam kegiatan reses yang diadakan oleh Anggota DPRD dan dihadiri oleh warga masyarakat. Teori ini membahas bagaimana pemikiran individu dalam suatu interaksi di lingkungan sosial. Terdapat mind, self, dan society dalam interaksi simbolik yang berperan penting dalam berlangsungnya interaksi sosial. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan strategi fenomenologi. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan anggota DPRD Kota Tangerang dan masyarakat Dapil I Tangerang Kota. Penelitian menunjukkan interaksi simbolik terjadi saat pemberian arahan dan penjelasan terkait kegiatan Reses kepada warga sehingga masyarakat dapat memahami arti dari kegiatan Reses dan dapat mengikuti arahan yang diberikan oleh pihak warga dan anggota dewan. Pada akhirnya, interaksi simbolik berperan penting dalam menjalin hubungan yang baik antara Anggota DPRD Kota Tangerang dengan konstituennya.
Representasi Karakter Autism Spectrum Disorder dalam Drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’ Wijaya, Sherlina; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21371

Abstract

The existence of public stigma against people with disabilities encourages writers to show disability issues in a literary work, namely drama. The Korean drama 'Extraordinary Attorney Woo' is one of the South Korean dramas that raises the issue of people with disabilities, autism spectrum disorder, through drama. By using Roland Barthes' semiotic analysis, researchers want to know and describe how the representation of autism spectrum disorder characters is displayed in the Korean drama 'Extraordinary Attorney Woo'. The theoretical foundations in this research are mass communication, drama, representation, autism spectrum disorder characters, and semiotics. This research is descriptive with a qualitative research approach. The results showed that the Korean drama 'Extraordinary Attorney Woo' is a form of mass communication that provides information by representing the life of a person with an autism spectrum disorder in South Korea. This is shown by the common stereotypes imposed on people with autism spectrum disorder and the lack of tolerance of society. In addition, there are difficulties in communicating, adapting, and interacting with people with autism spectrum disorder. The drama also shows the stigma and discrimination experienced by people with autism spectrum disorder in South Korea. Adanya stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas mendorong sastrawan untuk memperlihatkan isu disabilitas ke dalam sebuah karya sastra yaitu drama. Drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’ merupakan salah satu drama Korea Selatan yang mengangkat isu penyandang  disabilitas, autism spectrum disorder, melalui drama. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, peneliti ingin mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana representasi karakter autism spectrum disorder yang ditampilkan di dalam drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’. Landasan teoritis dalam penelitian ini merupakan komunikasi massa, drama, representasi, karakter autism spectrum disorder, dan semiotika. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, drama Korea ‘Extraordinary Attorney Woo’ merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang memberikan informasi dengan merepresentasikan kehidupan seorang penyandang autism spectrum disorder di Korea Selatan. Hal ini ditunjukkan dengan stereotip umum yang dikenakan pada penyandang dan kurangnya toleransi masyarakat. Selain itu, terdapat kesulitan berkomunikasi, beradaptasi, dan berinteraksi penyandang autism spectrum disorder. Drama juga menunjukkan stigma buruk hingga diskriminasi yang dialami oleh penyandang autism spectrum disorder di Korea Selatan.
Gambaran Gaya Hidup Remaja Laki-Laki yang Terpapar Beauty Trend Korea Selatan di Media Sosial Saputra, Zulian Melentino; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21375

Abstract

Adolescence is the transition period from childhood and adulthood, beginning at ages 12 and 13 and ending in the teens or early 20s. Today's teenagers have entered a period of having distinctive and modern opinions, preferences, attitudes and behaviors. Recently, teenagers, especially Generation Z, who actively access social media, have been shocked by the popular phenomenon from South Korea or the Korean wave. The researcher aims to know and describe the lifestyle of Generation Z teenagers who are exposed to South Korean beauty trends on social networks. One of the impacts of South Korean beauty trends is the attitude of imitation of everything that is displayed on social media. With this, researchers use modeling theory in accordance with the attitudes of teenagers who are exposed to the impact of this beauty trend. The research approach used by researchers uses a qualitative approach with phenomenological research methods. The result is that all male informants, generation Z, in this study are interested in Korean beauty trends. After being exposed to information on beauty trends by idols on social media, the informants' lifestyles changed drastically from not caring about appearance to caring about beauty. Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak dan masa dewasa, dimulai pada usia 12 dan 13 tahun dan berakhir pada remaja atau awal 20-an. Remaja saat ini sudah memasuki masa mempunyai pendapat, preferensi, sikap, dan perilaku yang khas dan modern. Akhir-akhir ini para remaja, khususnya Generasi Z, yang aktif mengakses media sosial, digemparkan dengan fenomena populer dari Negara Korea Selatan atau Korean wave. Peneliti bertujuan mengetahui dan mendeskripsikan gambaran gaya hidup remaja Generasi Z yang terpapar tren kecantikan Korea Selatan di jejaring sosial. Salah satu dampak dari tren kecantikan Korea Selatan adalah sikap peniruan terhadap segala sesuatu yang ditampilkan di media sosial. Dengan ini peneliti memakai teori modeling sesuai dengan sikap para remaja yang terpapar dampak dari tren kecantikan ini. Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode penelitian fenomenologi. Hasilnya seluruh informan laki-laki, generasi Z, dalam penelitian ini tertarik dengan tren kecantikan Korea. Setelah terpapar informasi tren kecantikan oleh idola di media sosial, gambaran gaya hidup informan berubah drastis dari yang awalnya tidak peduli dengan penampilan menjadi peduli dengan kecantikan.
Analisis Semiotika Makna Optimisme pada Lirik Lagu K-Pop NCT Dream “Hello Future” Farahdila, Zahwa; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21379

Abstract

Communication is the most important activity for us in life. This is because we as social beings need interaction to convey the contents of our thoughts with others. The process of delivering messages with communication can be done with certain media. One of the media that is often used to convey messages is music. Based on this, a concept called musical communication emerged. Today the world of music is growing all over the world, including K-Pop. One of the music groups currently popular with young Indonesians is NCT Dream. Several NCT Dream songs contain lots of uplifting messages that are channeled to listeners and fans. NCT Dream is a group of singers from South Korea that are currently popular with young people. NCT Dream also delivers encouraging messages through their songs. This study aims to find out the meaning of optimism in the lyrics of the NCT Dream song "Hello Future" and examine its markers and signs. This study uses the theory of optimism. The method used in this study is semiotic analysis from Saussure with a qualitative approach. The results of this study found that the lyrics of the song "Hello Future" have the meaning of optimism about the future, achieving dreams, and worrying about difficult times. Komunikasi merupakan kegiatan terpenting bagi kita dalam berkehidupan. Hal ini karena kita sebagai makhluk sosial perlu adanya interaksi untuk menyampaikan isi pikiran dengan orang lain. Proses penyampaian pesan dengan komunikasi dapat dilakukan dengan media tertentu. Salah satu media yang sering dilakukan untuk menyampaikan pesan adalah dengan musik. Berdasarkan hal ini, muncullah suatu konsep yang disebut dengan komunikasi musik. Dewasa ini dunia musik sangat berkembang di seluruh dunia, termasuk K-Pop. Salah satu grup musik yang saat ini ramai digemari oleh anak-anak muda Indonesia adalah NCT Dream. Beberapa lagu NCT Dream banyak mengandung pesan-pesan semangat yang disalurkan untuk para pendengar maupun penggemarnya NCT Dream merupakan sekelompok penyanyi asal Korea Selatan yang saat ini banyak digemari oleh anak muda. NCT Dream juga memberikan pesan-pesan semangat melalui lagu-lagu mereka. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna optimism yang ada di dalam lirik lagu NCT Dream “Hello Future” dan mengkaji penanda juga petandanya. Penelitian ini menggunakan teori optimisme. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis semiotika dari Saussure dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan bahwa lirik lagu “Hello Future” memiliki makna optimisme terhadap masa depan, dalam meraih mimpi, serta terhadap kekhawatiran pada masa-masa sulit.
Analisis #DanceChallenge terhadap Popularitas Grup K-Pop Stray Kids pada Kalangan Generasi Z di Jakarta Nadine, Gabriela; Junaidi, Ahmad
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21381

Abstract

Social media has become one of the most widely used platforms for doing business. Many businesses promote their goods/services through content strategy marketing through social media. One of the most widely used social media is TikTok, with the most users being young people, generation Z. The purpose of this study is to find out the benefits of content marketing in increasing popularity and how content marketing can increase popularity. The purpose of this study is to determine the benefits of content marketing in increasing popularity and how the influence of TikTok dance challenge content in increasing the popularity of K-Pop group Stray Kids among Generation Z in Jakarta. The theories used are marketing communication theory, digital marketing (content marketing), new media theory (social media), and popularity. The approach used in this research is a combination method that combines a quantitative approach with a qualitative approach with the aim of measuring and describing the benefits of content marketing in influencing popularity. This study found the influence of the TikTok Dance Challenge Content variable on the Stray Kids Popularity variable on Generation Z subjects in Jakarta, as well as the importance of content in marketing activities. Media sosial telah menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan untuk berbisnis. Banyak pebisnis mempromosikan barang/jasa mereka melalui pemasaran strategi konten (content strategy marketing) melalui media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan adalah TikTok dengan pengguna terbanyak adalah kalangan anak muda, generasi Z. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat content marketing dalam meningkatkan popularitas dan bagaimana pengaruh konten dance challenge TikTok dalam meningkatkan popularitas grup K-Pop Stray Kids pada Kalangan Generasi Z di Jakarta. Teori yang dipakai adalah teori komunikasi pemasaran, digital marketing (content marketing), teori new media (media sosial) dan popularitas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk mengukur dan mendeskripsikan manfaat content marketing dalam mempengaruhi popularitas. Penelitian ini menemukan adanya pengaruh dari variabel Konten Dance Challenge TikTok terhadap variabel Popularitas Stray Kids pada subjek Generasi Z di Jakarta, serta pentingnya konten dalam kegiatan pemasaran.
Representasi Stigmatisasi Korea Utara oleh Masyarakat Korea Selatan Melalui Drama Seri Extraordinary Attorney Woo Femisyah, Jazzy Tiara; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21383

Abstract

The prolonged war between South Korea and North Korea has stigmatised the North Korean community or defectors. It is not uncommon for North Korean defectors who are in South Korea to receive different treatment from local residents. This is also depicted in several Korean drama series, one of which is the sixth episode of Extraordinary Attorney Woo. This research examines the signs contained in several scenes that represent the stigmatisation of North Korean society. This research uses a qualitative approach with discourse analysis as the data collection method. The subject of this research is the sixth episode of Extraordinary Attorney Woo. The representation of stigmatisation of South Korean society towards North Korea as the object is studied with Charles Sander Pierce's semiotics. The results show that the drama series Extraordinary Attorney Woo has signs that can be interpreted into a message associated with mass communication theory with the function of entertainment and cultural transformation. The interpretant in this drama is the stigmatisation of North Korean defectors depicted in several scenes. In addition to interpreting stigmatisation, there is also a deconstruction of meaning illustrated by the defence given by the main character. Perang berkepanjangan yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara menimbulkan stigma terhadap masyarakat atau pembelot Korea Utara. Tidak jarang pula pembelot Korea Utara yang berada di Korea Selatan mendapat perlakuan berbeda dari warga setempat. Hal ini juga digambarkan dalam beberapa drama seri Korea, salah satunya drama seri Extraordinary Attorney Woo episode keenam. Penelitian ini mengkaji tanda-tanda yang terdapat dalam beberapa adegan yang merepresentasikan stigmatisasi terhadap masyarakat Korea Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana sebagai metode pengumpulan data. Subjek dari penelitian ini adalah drama Extraordinary Attorney Woo episode keenam. Representasi stigmatisasi masyarakat Korea Selatan terhadap Korea Utara sebagai objeknya dikaji dengan semiotika Charles Sander Pierce. Hasil menunjukkan bahwa drama seri Extraordinary Attorney Woo memiliki tanda-tanda yang dapat diinterpretasikan menjadi sebuah pesan yang dikaitkan dengan teori komunikasi massa dengan fungsi hiburan dan transformasi budaya. Interpretant dalam drama ini adalah adanya stigmatisasi terhadap pembelot Korea Utara yang digambarkan dalam beberapa adegan. Selain menginterpretasikan stigmatisasi, juga terdapat dekonstruksi makna yang digambarkan dengan pembelaan yang diberikan pemeran utama.

Page 1 of 4 | Total Record : 33