cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan is a peer-reviewed and open-access journal published semiannually (June and December) by Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary), Malang City, East Java, Indonesia. The journal specializes in evangelical theology that focuses on the novelty in biblical studies, systematic theology, and practical theology, contributing to theological studies and ecclesial ministry. Manuscripts submitted for publication in this journal include quantitative or qualitative field research findings, conceptual and critical studies, exegesis or exposition material, case studies, and other forms of original thought in the broad scope of theological research, supported with academic references that are adequate, robust, and accurate.
Articles 413 Documents
Mengenal Martin Buber dan Filsafat Dialogisnya Pancha W. Yahya
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 1 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.611 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i1.53

Abstract

Tidak lama setelah kematian Martin Buber pada kolom editorial New York Times terdapat komentar berikut: “Martin Buber was the foremost Jewish religious thinker of our time and one of the world’s most influental philosophers.” Buber, meskipun ia seorang Yahudi yang beragama Yahudi namun memberi banyak pengaruh kepada pemikir-pemikir Kristen, seperti John Baille, Karl Barth, Emil Brunner, Friedrich Gogarten, Reinhold Niebuhr, H. Richard Niebuhr, J. H. Oldham, Paul Tillich, serta para pemikir Kristen lainnya …. Buber tidak hanya memberikan pengaruh di bidang filsafat dan teologi saja, tetapi juga di bidang-bidang lain. Karena besarnya pengaruh Buber, khususnya di bidang filsafat dan teologi, agaknya kita perlu mengenal Buber lebih dekat, serta pemikirannya. Karena tidak mungkin menuangkan seluruh pemikiran Buber dalam artikel yang relatif pendek ini, penulis hanya akan memperkenalkan salah satu pemikiran Buber yang dianggap paling berpengaruh, yaitu filsafat dialogisnya.
Analisa Kritis terhadap Pandangan-Pandangan Unio Mystica ditinjau dari Teologi Perjanjian Baru Hali Daniel Lie
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.29 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.71

Abstract

Unio mystica, dalam bahasa Latin, atau mystical union, dalam bahasa Inggris, lebih baik diterjemahkan sebagai persatuan mistik daripada kesatuan mistik. Karena kesatuan mistik mengandung makna konotatif pasif dan statis. Lain halnya dengan persatuan mistik yang berkonotasi aktif dan dinamis, di mana justru sifat keberagamaan yang aktif dan dinamis inilah yang hendak dikejar melalui persatuan mistik … saya akan membahas lebih jauh pandangan beberapa teolog dan pakar, ajaran tentang persatuan mistik. Selanjutnya saya akan mencoba menggali keluar kebenaran kristiani tentang ajaran persatuan mistik dari sudut pandang teologi biblika, khususnya teologi Perjanjian Baru. Akhirnya, berdasar teologi biblika ini saya akan memberikan analisis kritis terhadap berbagai pandangan tentang persatuan mistik.
Tim Kerja Menunjang Pemenuhan Pelayanan Gerejawi Nathanael Channing
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.641 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.83

Abstract

Ketika kita memasuki sebuah gereja, sadar atau tidak sadar kita melihat bahwa gereja hadir di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat yang kompleks. Gereja sebagai ‘umat Allah,’ kemanusiaan yang baru, mencakup orang Yunani, orang Romawi, hamba dan orang merdeka. Gereja sebagai umat Allah tanpa batas etnis, bahkan tanpa batas nasional, tanpa strata sosial. Gereja sebagai umat Allah bukan produk dari sekelompok orang demi menghormati nama Tuhan. Gereja adalah ciptaan Tuhan sendiri melalui panggilan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Dalam kuasa Roh Kudus itulah tembok-tembok etnis dan tembok-tembok pemisah yang lain dirobohkan. Jika gereja dipahami demikian, maka jelas kehadirannya di tengah situasi dan kondisi yang multikompleks menuntut pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik untuk kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat. Bagaimana gereja bisa berperan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu agar kehadirannya menjadi berkat? Hal ini berkaitan dengan cara kerja kita dalam mengelola gereja. Dengan cara apa kita menggarap pekerjaan yang sangat kompleks itu? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pemimpin gereja. “Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengetahui bahwa tugasnya adalah membangun tim efektif yang akan melestarikan mereka.” Karena itu cara kerja yang individual akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja. Kerja tim jauh lebih efektif ketimbang kerja secara individu.
Kekeliruan Pengartian Konsep Anugerah dalam Teologi dan Pelayanan Praktis Daniel Lucas Lukito
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.869 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.90

Abstract

Berkali-kali dalam perjalanan ke luar kota, ketika menghubungi handphone seseorang atau ketika HP saya berdering, lawan bicara di seberang sering kali bertanya: “Pak Daniel, sekarang ada di mana?” atau “Pak Daniel, sekarang sudah sampai di mana?” Pertanyaan yang bunyinya seperti itu sangat berkesan bagi saya, karena di dalamnya, secara sadar atau tidak, terkandung adanya sebuah indikasi yang tersirat dari kecenderungan zaman modern ini, yaitu manusia dengan mobilitasnya yang tinggi nyaris boleh dikatakan berada di mana-mana. Manusia telah menjadi makhluk yang hampir menuju ke arah lingkup yang omnipresent melalui kemajuan telekomunikasi, revolusi teknologi, dan informasi superhighway yang ajaib. Itu baru satu alat, yaitu handphone. Belum lagi segala kelengkapan modern lainnya seperti komputer, internet, video, teleconference system, teknologi laser, genetika dan lain sebagainya yang disebutkan oleh Jacques Ellul sebagai kecenderungan manusia menjadikan teknologi sebagai sebuah kunci atau “decisive factor.” Dalam situasi kehidupan yang seperti itu saya jadi tergoda untuk berpikir: Apakah manusia atau orang percaya masih membutuhkan yang namanya “anugerah”—atau paling sedikit, apakah dalam kehidupan yang serba modern dan seakan-akan segala sesuatu dapat diraih dalam genggaman tangan, manusia (dan sekali lagi, termasuk orang percaya atau mungkin juga para hamba Tuhan) masih menganggap anugerah sebagaimana arti yang sebenarnya? Jikalau manusia semakin hari menjadi semakin autonomous atau mandiri, apakah ia akan terus dapat menghayati makna dan pengertian yang tepat tentang anugerah seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab? Sebagai orang beriman, apalagi pelayan Tuhan, kita semua menyadari bahwa yang menjadikan kekristenan berbeda dengan agama lain adalah kepercayaan tentang anugerah. Kehidupan Kristen dimulai dan dilanjutkan dalam anugerah. Tanpa anugerah kekristenan menjadi kehilangan makna dan relevansi. Karena itu tidak ada yang lebih berarti dalam iman Kristen yang sehat selain pengertian orang percaya yang benar, tepat dan menyeluruh mengenai konsep anugerah. Namun demikian saya menjadi sedih dan kuatir akhir-akhir ini karena adanya orang Kristen yang bukan hanya salah mengartikan anugerah Allah secara benar dan tepat, tetapi juga boleh dikatakan “menghina Roh kasih karunia” (Ibr. 10:29). Mungkin pertanyaan yang langsung muncul setelah ini adalah: Apa buktinya kalau dikatakan bahwa konsep anugerah telah disalahmengertikan? Apa tandanya bahwa anugerah itu direndahkan? Apa contoh konkret bahwa anugerah Allah telah didevaluasikan oleh orang Kristen sendiri? Baiklah saya akan mulai penulisan artikel ini dengan definisi yang rinci dan kesimpulan mengenai arti yang alkitabiah dari istilah “anugerah.” Setelah itu artikel ini akan membahas beberapa kekeliruan pengartian konsep tersebut dalam berteologi dan kenyataan praktis. Pada bagian akhir saya akan memberikan kesimpulan untuk konteks pelayanan dan bergereja.
Tujuan Pengajaran Gereja dan Implikasinya Sylvia Soeherman
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.625 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.101

Abstract

Penelitian menunjukkan adanya penurunan jumlah kehadiran jemaat dalam kelas-kelas pembinaan seperti Sekolah Minggu. Kurang tertariknya jemaat terhadap kelas-kelas tersebut membawa dampak terhadap kehidupan, pertumbuhan iman dan kesaksian jemaat. Hal yang hampir serupa juga dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia. Paulus Lie, dalam prawacana bukunya, mengatakan banyak guru yang mengeluhkan kurang menariknya acara yang digelar di Sekolah Minggu sehingga minat anak untuk datang ke Sekolah Minggu menurun. Masalah ini coba dijawab oleh banyak gereja dengan menggunakan metode yang kreatif. Oleh karena itu banyak gereja berupaya untuk men-training guru-guru Sekolah Minggu agar dapat mengajar dengan lebih kreatif. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah metode yang kurang kreatif menjadi dasar permasalahannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini mencoba untuk memaparkan apa yang terjadi di dalam kelas, menganalisa apa yang menjadi dasar permasalahannya, serta mengajukan hal-hal yang perlu diperhatikan gereja di dalam mengemban tugas pengajaran.
Antara Terjemahan Formal Dan Dinamis: Eksegese Pengkhotbah 11:1-2  Karman, Yongky
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.93 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v5i2.127

Abstract

Kedua versi terjemahan Indonesia memperlihatkan bahwa sesuatu yang belum begitu jelas dalam TB (apa arti melemparkan roti ke air?) dibuat eksplisit dalam BIS (usaha di luar negeri). Kemudian, memberikan bagian kepada tujuh atau delapan orang (TB) diartikan menanam modal di berbagai niaga (BIS). Versi TB dikenal sebagai terjemahan formal yang mengutamakan terjemahan harafiah dan versi BIS merupakan sebuah terjemahan dinamis yang mengutamakan ketepatan maksud ayat secara keseluruhan. Apakah dengan lebih jelasnya sebuah terjemahan juga berarti lebih baik dan tepat?
Penyembuhan Luka Batin (Inner Healing) : Apakah Merupakan Bagian dari Pengudusan Orang Percaya? Hardjowono, Tikijo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.56 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v6i2.148

Abstract

Luka batin sering kali dituduhkan sebagai penyebab masalah-masalah yang timbul dalam pribadi orang-orang percaya. Jika ada orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tetapi masih mempunyai kebiasaan yang buruk, perilaku yang dianggap ?aneh??khususnya yang tak dapat dikendalikannya, itu adalah karena trauma masa lalunya. Trauma masa lalu itu meninggalkan luka pada batinnya (inner man) baik disadarinya maupun tidak, dan jika tidak disembuhkan, itu akan terus menghalangi dan membelenggunya untuk bisa bertumbuh dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, Tuhan dan sesamanya. Sebaliknya, penyembuhan akan membuat orang itu terlepas dari ikatan trauma masa lalu dan membebaskannya untuk bertumbuh dan melayani Tuhan. Penyembuhan inilah yang sekarang dikenal sebagai inner healing atau penyembuhan luka batin yang sangat banyak dipraktekkan di kalangan gereja-gereja Kharismatik, tetapi masih sangat dicurigai, bahkan ditolak di kalangan gereja-gereja Protestan konservatif. ... Tulisan ini secara terbatas berusaha untuk mengkaji dan menanggapi dengan seimbang ajaran dan praktek inner healing dalam kaitan dengan proses pengudusan orang percaya. Apakah ia termasuk dalam proses pengudusan? Ataukah ia sebenarnya sama sekali bukan, bahkan bertentangan dengan karya pengudusan Roh Kudus. Sebab itu, pertama-tama penulis akan membahas pengudusan (sanctification) orang percaya; apakah maknanya, tujuannya dan bagaimana prosesnya. Berikutnya secara singkat akan ditinjau konsep inner healing dan prakteknya, juga beberapa pandangan yang berkembang tentang penyembuhan luka batin ini. Kemudian penulis akan melakukan analisa dengan memerhatikan ajaran firman Tuhan. Penutup akan merupakan kesimpulan dan pandangan penulis terhadap ajaran dan praktek inner healing dalam kehidupan dan pelayanan gereja Tuhan saat ini.
Pluralitas Agama : Tantangan "Baru" bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia Pramudya, Wahyu
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.177 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v6i2.152

Abstract

Pluralitas agama sebenarnya bukan fenomena baru bagi bangsa Indonesia. Selama masa orde baru saja, secara de jure diakui oleh pemerintah eksistensi lima agama dan puluhan bahkan mungkin ratusan aliran kepercayaan. Setiap penduduk Indonesia menghadapi kenyataan pluralitas agama ini di dalam kehidupan keseharian. Bertetangga, bekerja, dan bersekolah dengan orang yang berlainan agama adalah suatu kenyataan yang dengan mudah ditemui di dalam kehidupan sehari-hari. Pluralitas agama telah menjadi bagian dari apa artinya menjadi penduduk Indonesia. Menyangkal adanya realita ini adalah sebuah kenaifan. Pluralitas agama menyimpan potensi sekaligus bahaya tersendiri. Kemajemukan agama itu bisa menjadi potensi yang kuat, apabila kemajemukan tersebut dihargai dan diterima dengan bijaksana oleh segenap unsur masyarakat yang ada. Apabila hal ini terjadi, maka akan terbentuk sebuah mozaik kehidupan yang indah dan enak untuk dinikmati. Di sisi lain, kemajukan itu sendiri menyimpan potensi untuk menimbulkan masalah yang besar. Perbedaan-perbedaan ajaran agama, apabila tidak ditanggapi dengan bijaksana, maka dapat memicu sebuah pertikaian yang mendalam dan meluas. Tampaknya itu yang sedang terjadi pada saat ini. Tulisan ini akan mencoba menganalisis praktik pendidikan agama saat ini dan mencoba mencari satu bentuk pendidikan agama yang cocok di tengah pluralitas agama yang ada. Ini bukan tantangan baru, tetapi ?baru,? karena toh sebenarnya tantangan ini sudah cukup lama ada, tetapi tampaknya belum ada tanggapan yang cukup memadai. Selain itu tantangan ini disebut ?baru? karena dinamika relasi antar agama yang terus berkembang hingga saat ini.
Fenomena Lawatan Ilahi di Bawah Terang Kriteria Membedakan Roh Lukito, Daniel Lucas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.775 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v8i1.172

Abstract

Suatu kali seorang rekan hamba Tuhan yang sedang bertamu bercerita kepada saya. Ia mengatakan bahwa di sebuah sekolah tinggi teologi yang berlatar belakang ekumenikal (ia menyebutkan nama STT yang dimaksud) beberapa waktu yang lalu tiba-tiba seorang mahasiswa teologi di sana mengalami ?lawatan ilahi? berupa kemampuan berbahasa roh atau glosolalia secara mendadak. Bagi saya, ini adalah fenomena yang tentunya menarik untuk dikaji, sebab hal itu terjadi di kalangan yang lebih sering membicarakan teologi 3B (Bultmann, Barth, Brunner), atau teolog-teolog 3A (Asia, Afrika, Amerika Latin), dan jarang membahas (apalagi mempraktikkan) karunia berbahasa roh. Jikalau tiba-tiba mahasiswa teologi dari STT yang berlatar belakang karismatik ber-glosolalia, itu sih bukan headline news karena hal itu adalah sebuah ?aktivitas? yang umum di kalangan mereka, bahkan mungkin saja sudah menjadi ?makanan? sehari-hari. ... Apakah betul bahwa bila kita menemukan suatu hasil atau result atau akibat yang baik, atau sesuatu yang supranatural, dapat secara langsung kita kaitan bahwa itu adalah lawatan yang ilahi? Apakah jikalau seseorang disembuhkan pasti selalu disembuhkan oleh Allah di dalam Kristus? Apakah kalau seorang Kristen menjadi sukses, kaya, makmur atau sejahtera, itu pasti selalu dapat dikaitkan sebagai pekerjaan Tuhan? Apakah kelancaran, pengalaman selalu terhindar dari bahaya dan mengalami mujizat adalah selalu merupakan tanda seorang yang rohani yang selalu dituntun atau diberkati oleh Tuhan? Apakah kalau ada orang yang memiliki kasih yang luar biasa, seperti misalnya agama Buddha Tzu Chi dari Taiwan (yang juga giat melakukan banyak aktivitas di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan banyak tempat di Indonesia delapan tahun belakangan ini), yang melakukan perbuatan karitatif (membangun sekolah, memberikan pengobatan medis gratis, menolong orang-orang yang cacat atau kanker, memberikan bantuan gratis pada korban bencana, dan menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu di dalam masyarakat) adalah tanda bahwa itu adalah sesuatu yang rohani dan merupakan sesuatu yang berasal dari Tuhan? ... Singkatnya, jikalau hasil atau akibat dari suatu hal itu positif, maka kesimpulannya adalah itu dari Tuhan; jikalau hasil atau akibat yang dialami seseorang adalah negatif, maka itu tanda bahwa orang itu tidak disertai oleh Tuhan. Jalan pemikiran tersebut perlu dikaji ulang, khususnya di dalam artikel ini saya mengajak kita memikirkannya dari sudut atau terang firman Tuhan, khususnya 1 Yohanes 4:1-6, di mana khususnya pada ayat 1 dikatakan demikian: ?Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.? Melalui perikop ini saya mengajak kita melihat beberapa kriteria berdasarkan firman Tuhan tersebut, yaitu kriteria untuk membedakan roh. Kita akan melihat apakah fenomena lawatan ilahi itu selalu bisa kita asosiasikan dengan jalan pemikiran pragmatis seperti di atas tadi.
Mengenal Nyanyian Gereja dan Tempatnya dalam Liturgi Sasongko, Nindyo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 2 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.359 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v8i2.186

Abstract

Konteks bergereja dewasa ini adalah ?perang gaya baru,? yaitu perang ibadah. Gereja-gereja kontemporer tampil dengan wajah segar dalam berbagai bidang pelayanan yang market sensitive?peka pasar, peka dengan keinginan orang-orang di zaman ini?termasuk ibadah yang ditata untuk menarik pengunjung gereja. Dampak yang diakibatkan tak dapat dibilang kecil. Kian meruncing tensi antara gereja-gereja kontemporer dengan gereja-gereja tradisional yang formal-liturgical ataupun hymn-based. Tetapi dari sekian area yang menjadi ?Padang Kurusetra? perang ibadah itu, musik dan nyanyian gereja merupakan area yang penuh ranjau! ... Makalah ini berusaha menolong jemaat untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab dalam memilih nyanyian gereja. Jangkauan tulisan ini yaitu pada teologi nyanyian jemaat, tempat nyanyian jemaat dalam liturgi gereja serta kandungan teologis sebuah himne. Terhadap ?perang ibadah? dan khususnya ?perang musik,? keputusan kita sering dikendalikan oleh dua hal: (1) menurut selera kita; atau (2) menurut kebiasaan yang selama ini berlaku. Cara pertimbangan seperti ini tentu tidak tepat. Sebagai gereja Kristen, kita seharusnya mempertimbangkan tiga hal untuk bersikap: (1) selaras dengan Kitab Suci, (2) dengan mempertimbangkan tradisi gereja, serta (3) konteks budaya di mana gereja berada.