cover
Contact Name
imroatun
Contact Email
imroatun@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
imroatun@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
as-sibyan : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
ISSN : 25415549     EISSN : -     DOI : -
a?-?iby?n: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, ISSN 2541-5549, diterbitkan enam bulan sekali oleh Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten berdasarkan Surat Keputusan Rektor IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten No. In.10/F.I/HK.00.5/1201/2016, tanggal 04 April 2016.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016" : 10 Documents clear
METAKOGNISI DALAM PEMBELAJARAN RA Fu`ad Arif Noor
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan penelitian, anak 3 tahun memiliki kemampuan untuk mengatur pikirannya. Kemampuan inilah yang disebut metakognitif, yaitu suatu kesadaran tentang kognitif itu sendiri, bagaimana kognitif bekerja serta bagaimana mengaturnya.Metakognisi berhubungan dengan bagaimana seseorang menggunakan pikirannya dan merupakan proses kognitif yang paling tinggi dan canggih. Pernyataan“mengetahui apa yang kamu ketahui dan apa yang tidak kamu ketahui” merupakan salah satu contohpernyataan yang menerangkan proses meta kognisi dalam regulasi pembelajaran. Metakognisi mempunyai dua komponen yaitu: 1) Pengetahuan,yang merupakanproses belajar dapat benar atau salah, sedangkan pengetahuan diri seseorang cukup lama bertahan untuk berubah. Misalnya, siswa dapat membuat kekeliruan dalam proses berpikirnya, karena ia merasa meluangkan cukup waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan. 2) Ketrampilan, yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengendalikan keterampilan kognitifnya sendiri, sebagai aktivitas metakognisi dalam memecahkan masalah yang merupakan aktivitas merencanakan, memantau, dan merefleksi, termasuk dalam aktivitas meta kognisi oleh siswa dan guru.Aktivitas metakognisi dalam pembelajarannya oleh siswa dan guru terdiri dari: 1) Proses merencanakan, diperlukan siswa untuk meramal apakah yang akan dipelajari, bagaimana masalah itu dikuasai dan kesan daripada masalah yang dipelajari, dan merencanakan cara tepat untuk memecahkan suatu masalah. 2) Proses memantau, siswa perlu mengajukan pertanyaan pada diri sendiri seperti “apa yang saya lakukan?, apa makna dari soal ini?, bagaimana saya harus memecahkannya?, dan mengapa saya tidak memahami soal ini?” 3) Proses menilai/evaluasi, siswa membuat refleksi untuk mengetahui bagaimana suatukemahiran, nilai dan suatu pengetahuan yang dikuasai oleh siswa tersebut. Mengapa siswa tersebut mudah/sulit untuk menguasainya, dan apa tindakan/perbaikan yang harus dilakukan.
PENDIDIKAN PRA SEKOLAH (PENDIDIKAN ANAK USIA DINI) DALAM ISLAM Nur Rohmah Hayati
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia.proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki yang dimiliki setiap tahap perkembangan anak. Pendidikan anak menurut ajaran Islam itu dapat dibagi dua yaitu pertama, masa persiapan mendidik yang di mulai sejak pemilihan jodoh. Kedua, masa aktif mendidik yaitu dimulai sejak lahir dan terus menerus berlangsung sepanjang hidupnya (sampai mati). Selain itu Pendidikan PAUD dibutuhkan karena banyak factor diantaranya yaitu pertama, fakta tentang otak anak yang 90% tumbuh di usia dini. Kedua, antisipsi dini anak putus sekolah. Ketiga, Pendidikan investasi peeradaban. Keempat, tuntutan masyarakat.
MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PAUD Hasbullah Hasbullah
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan pada anak anak usia dini, yang dilaksanakan melalui pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Model pemebalajaran di PAUD bersifat tematis yang dilakukan secara integratif, maka pemebalajaran di PAUD tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal. Muatan kurikulum PAUD dapat dikelompokan dalam lima cakupan program pembelajaran yaitu pembelajaran agama dan akhlak mulia, pembelajaran social dan kepribadian, pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, pembelajaran estetika, pembelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan.
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI MELALUI PENDIDIKAN DALAM KELUARGA Sumiyati Sumiyati
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan seorang anak tidak hanya terletak pada seberapa bagus nilai matematikanya di sekolah. Keberhasilan seorang anak juga tidak terletak pada seberapa mahal harga sepatu yang dipakainya. Keberhasilan anak tidak hanya diukur pada kemampuan intelektualnya semata. Anak yang pintar secara intelektual belum tentu sukses dalam kehidupan masa depannya. Salah satu penentu faktor keberhasilan seorang anak adalah bagaimana kemampuan sosial emosional anak dapat terasah dengan baik. Keluarga memegang peranan yang penting dalam mengembangkan kemampuan sosial emosional anak. Karena keluarga merupakan sekolah pertama anak, di dalam lingkungan keluarga anak akan mengenal dan mempelajari bermacam-macam emosi, baik positif maupun negatif. Kemampuan sosial emosional seseorang sudah dimiliki semenjak lahir. Pada masa bayi anak-anak lebih senang disapa dan melihat orang tersenyum atau tertawa. Kemampuan ini akan terus berkembang sesuai dengan bertambahnya usia dan stimulasi yang didapat anak terutama pengalamanpengalamanyang berasal dari keluarga. Komunikasi yang terjalin diantara anggota keluarga dapat menunjukkan seberapa dekat keluarga tersebut saling berinteraksi. Orangtua yang sering mengabaikan anaknya dengan berbagai alasan seperti bekerja, atau sibuk dengan smartphonenya tentu saja akan menghambat perkembangan sosial emosional anak. Hal ini terjadi karena anak merasa terabaikan. Dengan kondisi seperti ini, anak akan lebih mudah terjerumus kepada perbuatan yang tidak baik, misal bergaul dengan teman-teman di luar rumah dan enggan pulang ke rumah. Sedangkan untuk anak-anak usia pra sekolah, anak akan mudah frustasi karena merasa tidak diterima dan kurang mendapat perhatian. Dengan demikian keluarga yang harmonis perlu diwujudkan untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional anak dengan optimal. Pendidikan keluarga merupakan strategi untuk membangun rasa percaya diri anak, mengasah pribadi yang baik dengan mampu berempati dan memahami orang lain.
PROGRAM PARENTING UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK USIA DINI DI LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Heru Kurniawan; Risdianto Hermawan
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya pendidikan karakter pada anak di lembaga PAUD dapat diwujudkan dalam bentuk program parenting. Parenting merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan antara orang tua dan pihak sekolah dalam membahas proses tumbuh kembang anak dan berbagi permasalahannya agar terjadi kesinambungan dalam pendidikan yang diterima baik di sekolah maupun di rumah. Parenting club juga sebagai upaya penanaman karakter pada anak usia dini yang lebih maksimal, efektif, dan efisien. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam program ini antara lain: Pertama, Parents Gathering; Kedua, Belajar Bareng; Ketiga, One day with Parent; Keempat, Home Activities, dan bisa kegiatan lainnya yang termasuk dalam pelatihan serta pemberian pengetahuan dalam mendidik dan mengasuh anak yang baik. Selain itu, dalam program Parenting dapat membantu pendidik dan orang tua agar aktif dalam kelancaran pendidikan karakter.
MENANAMKAN MORAL DAN NILAI-NILAI AGAMA PADA ANAK USIA DINI MELALUI CERITA Umayah Umayah
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Allah. kepada ummatnya. Salah satu yang perlu dikembangkan oleh orang tua dalam menstimulasi anak adalah penanaman nilai dan moral. Pengembangan nilai moral adalah pembentukan perilaku anak melalui pembiasaan yang terwujud dalam perilaku sehari-hari, hal tersebut untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi moral pancasila. Salah satu metode yang tepat untuk mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini, yaitu melalui metode bercerita, dianggap akan efektif bila diterapkan secara tepat. Dalam menggunakan metode bercerita untuk menanamkan nilai moral pada anak uasia dini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah: cerita yang disampaikan kepada anak harus memuat peasn moral, dalam memilih tema cerita disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak adan tidak monoton.
BERMAIN SEBAGAI METODE PEMBELAJARAN UTAMA ANAK RAUDHATUL ATHFAL Imroatun Imroatun
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak-anak yang memasuki pendidikan Raudlatul Athfal (RA) adalah anak-anak di usia prasekolah yaitu antara usia empat sampai tujuh tahun. Di lingkungan yang baru dan berbeda dengan lingkungan keluarga, anak mulai merasakan situasi lingkungan yang lebih formal dimana anak memperoleh pendidikan yang bertujuan untuk pengembangan dan kematangan potensi-potensi dasar yang telah anak miliki. Bermain merupakan salah satu pendekatan dan metode pembelajaran di RA untuk mengembangkan potensi dan aspek yang ada pada diri anak. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Menggunakan strategi, metode, materi/ bahan, media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak-anak. Melalui bermain, anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak. Sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
PEMBELAJARAN SAINS PADA ANAK RAUDHATUL ATHFAL Juhji Juhji
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran sains pada anak raudhatul atfhal mulai dengan mengenalkan hakikat sains, pengenalan sains pada anak, peran otak anak, tujuan pembelajaran sains, pendekatan pembelajaran sains, dan materi-materi sains bagi anak raudhatul athfal. Pengenalan sains pada anak TK/RA lebih menekankan pada proses melalui metode ilmiah yang meliputi observasi, problem solving, melakukan percobaan, analisa data, serta mengambil kesimpulan. Sains juga mengembangkan kemampuan spiritual, observasi, klasifikasi, pengukuran, menggunakan bilangan, rasa empati, dan intrapersonal anak. Tujuan pembelajaran sains pada anak raudhatul athfal mengembangkan asepk kognitif, afektif, dan psikomotor anak secara utuh. Pendekatan pembelajaran sains yang dapat dijadikan pedoman dalam mengembangkan pembelajaran sains pada anak meliputi: pendekatan situasional, pendekatan terpisah, dan pendekatan terpadu. Beberapa materi yang dapat memberikan pengalaman tangan pertama (first-hand experience) antara lain: mengenal gerak, mengenal benda cair, mengenal timbangan (neraca), bermain gelembung sabun, mengenal benda-benda lenting, dan mengenal binatang.
MEMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI DONGENG Di’amah Fitriyyah
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi sosial, kultural masyarakat Indonesia akhir-akhir ini memang semakin mengkhawatirkan. Krisis moral melanda negeri ini, kasus kekerasan hampir terjadi di semua kalangan, baik dewasa, remaja, maupun anak-anak. Dalam liputan 6.com tanggal 3 Maret 2012, diberitakan kasus pembunuhan yang dilakukan anak SD di Depok Jawa Barat. Tanggal 4 April 2016, 14 remaja di Bengkulu dilaporkan menjadi tersangka pemeekosaan terhadap anak perempuan. Berbagai kasus kriminal lain sering dimuat di surat kabar. Fenomena tersebut memperlihatkan kemorosotan moral. Pendidikan karakter hadir untuk menjawab dan memperbaiki krisis moral yang terjadi di Indonesia. Pendidikan karakter lebih baik disampaikan pada saat usia dini, pendidikan usia dini di Indonesia dimulai dari TK. Oleh karena itu, metode yang dianggap baik untuk menyampaikan nilai-nilai karakter yaitu metode dongeng. Melalui dongeng anak akan belajar nilai-nilai karakter dari tokoh-tokohnya, alur cerita, dan dari pesan yang yang dimuat dalam dongeng.
HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Muhiyatul Huliyah
As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang Pendidikan Anak usia Dini, landasan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dan jalur-jalur pendidikan anak usia dini formal, non formal dan informal. Developmentally Approprite Practices (DAP) menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Dalam pandangan DAP anak yang berada pada fase ini memiliki perkembangan fisik dan mental yang sangat pesat. Pendidikan anak usia dini merupakan sarana untuk menggali dan mengembangkan berbagai potensi anak agar dapat berkembang secara optimal. Berdasarkan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini terbagi tiga tahapan yaitu: (a) masa bayi lahir sampai 12 bulan, (b) masa toddler usia 1-3 tahun, (c) masa prasekolah usia 3-6 tahun, dan (d) masa kelas awal SD 6-8 tahun. Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan Anak Usia Dini dapat diselenggarakan melaui jalur formal, non-formal, dan/atau informal. Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan non-formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10