cover
Contact Name
Saskiyanto Manggabarani
Contact Email
lppm@helvetia.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
duniafarmasi@helvetia.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Dunia Farmasi
ISSN : -     EISSN : 25483560     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Dunia Farmasi secara resmi yang dikelola oleh Program Studi S1 Farmasi Institut Kesehatan Helvetia (IKH) yang artikelnya dapat diakses dan unduh secara online oleh publik. Jurnal ini adalah jurnal review nasional, yang terbit 3 (tiga) kali dalam setahun pada bulan Desember, April dan Agustus dengan topik-topik keunggulan hasil penelitian di bidang pelayanan dan praktek kefarmasian, pengobatan masyarakat, teknologi kefarmasian serta disiplin ilmu kesehatan yang terkait erat. Jurnal ini memfokuskan pada tema meliputi Farmasi Klinis, Farmasi Komunitas, Farmasetika, Kimia Farmasi, Farmakognosi, Fitokimia.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Formulasi Masker Krim Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn.) Azwariah Azwariah; Adek Chan
Jurnal Dunia Farmasi Vol 2, No 1 (2017): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v2i1.4394

Abstract

Pendahuluan: Salah satu masalah kulit yang biasa dijumpai adalah jerawat. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi jerawat yaitu daun jambu biji. Tujuan: Untuk mengetahui konsentrasi ekstrak yang tepat dalam pembuatan masker yang baik digunakan.  Metode: Sediaaan masker krim dibuaat dengan berbagai variasi konsentrasi yaitu konsentasi 3%, 5%, dan 10%. Daun jambu biji terlebih  dahulu diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%, dengan metode maserasi selama 5x24 jam. Sediaan krim dibuat sebanyak 50 g tiap konsentrasi dan dilakukan pengujian terhadap sediaan  yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji himogenitas dan uji iritasi. Hasil: Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa esktrak daun jambu dapat dibuat sebagai sediaan masker krim dan memenuhi evaluasi fisik sediaan. Hasil uji organoleptis menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat cukup stabil, homogen, pH berkisar antara 6-7 dan sediaan tidak menimbulkan iritasi. Formulasi sediaan masker krim ekstrak daun jambu biji (psidium guajava L.) memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan meliputi uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas dan uji iritasi.  Kesimpulan: Berdasrakan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa daun jambu biji dapat diformulasikan kedalam bentuk sediaan krim tipe M/A dan sediaan yang baik adalah sediaan dengan konsentarsi 10%.
Evaluasi Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas Kabupaten Serdang Bedagai Rodiahti Pulungan; Adek Chan; Ella Fransiska
Jurnal Dunia Farmasi Vol 3, No 3 (2019): Edisi Agustus
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v3i3.4484

Abstract

Pendahuluan;Penggunaanobattidakrasionalmerupakanmasalahglobalyangsangatekstrim.World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 50% obatseluruhduniadiresepkan,diracikataudijualdengantidaktepat,dansekitartidak digunakan secara tepat oleh pasien. Tujuan;Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia  Tahun 2015 – 2019  Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan  dalam Sasaran Peningkatan Pelayanan Kefarmasian, persentase penggunaan obat rasional di Puskesmas sebesar 60%.Metode;Penelitian ini adalah jenispenelitiananalisis survey Analitikyangmenggunakandesain penelitianretrospektif yangdilakukandiseluruhpuskesmas Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utaraberjumlah 20 puskesmas yang bertujuan untuk mengetahui jumlah Puskesmas yang melakukan penggunaan obat rasional.Hasil;Penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa persentase penggunaan obat rasional dimulai dari tertinggi sampai terendah secara berurutan adalah puskesmas  Pegajahan (97,40%); Pantai Cermin (91,70%); Melati (83,30%); Tanjung Beringin (69,50%); Sialang Buah (67,10%); Bintang Bayu (66,50%); Perbaungan (62,30%); Kuala Bali (61,60%); Sei Rampah (54,20%); Sipispis (52,70%); Bandar Khalifah ( 51,70%); Silinda (50,80%); Pangkalan Budiman (49,00%); Desa Pon (48,15%); Paya Lombang (46,30%); Tebing Syahbandar (43,50%); Dolok Merawan (43,10%); Dolok Masihul (42,90%); Kotarih (41,20%); Naga Kesiangan (37,30%); Rata-rata persentase penggunaan obat rasional kabupaten Serdang Bedagai sebesar 59,10%.Kesimpulan;Puskesmas yang telah melakukan penggunaan obat rasional berjumlah 8  Puskesmas (40%) dari 20 puskesmas di Kabupaten Serdang Bedagai.
Rasionalitas Penggunaan dan Kelengkapan Resep Non Steroid Anti Inflamasi Drugs (NSAID) Pada Tiga Puskesmas di Kabupaten Gayo Lues Hetty Wahyuni; Vivi Eulis Diana; Suprianto Suprianto
Jurnal Dunia Farmasi Vol 3, No 2 (2019): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v3i2.4471

Abstract

Pendahuluan; Nyeri sendi sering menjadi penyebab gangguan aktivitas sehari-hari penderita. Hal ini mengundang penderita untuk segera mengatasinya apakah dengan upaya farmakoterapi, fisioterapi dan atau pembedahan, penggunaan antiinflamasi dengan indikasi yang tidak jelas, dosis atau lama pemakaianyang tidak sesuai  Tujuan; Penelitian untuk mengetahui tepat indikasi kerasionalitasan penggunaan dan kelengkapan resep Non Steroid Anti Inflamasi Drugs (NSAID) pada tiga Puskesmas di kabupaten Gayo Lues. Metode; Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dimana terdapat dua aspek yang dilakukan yang pertama terkait pola peresepan obat dan kedua kerasionalan terhadap harga obat, oleh karena itu dilakukan beberapa tahap dalam pelaksanaan penelitian yaitu meliputi tahap pengumpulan data, tahap identifikasi, pelaksanaan penelitian, tahap analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil; Penggunaan Non-Steroid Anti Inflamasi Drugs (NSAID) di puskesmas kota Blangkejeren, Aceh belum sepenuhnya tepat, puskesmas A ketepatan indikasi resep terhadap penyakit inflamasi non-steroid sebesar 80% sedangkan ketepatan indikasi pada puskesmas B dan C mencapai 100%, penggunaan Non Steroid Anti Inflamasi Drugs (NSAID) yang rasional di puskesmas kota Blangkejeren, Aceh, belum memenuhi persentase 100%, pada puskesmas A dan B memiliki ketidak tepatan obat pada resep yang diambil, pada puskesmas A memiliki ketepatan penggunaan obat sebesar 94,29% dan ketidak tepatan obat 5,71%. Kesimpulan; Rasionalitas penggunaan dan kelengkapan resep non steroid anti inflamasi (nsaid) pada tiga puskesmas di kabupaten gayo lues. Pada Puskesmas A: 80% belum dikatankan rasional, hanya mencapai 80%, sedangkan puskesmas B, dan C: 100% rasional dan pengguna NSAID belum rasional.
Evaluasi Cara Pemakaian Insulin Pen pada Pasien Diabetes Melitus di Rsud Tanjung Pura Sofiana Sofiana; Adek Chan
Jurnal Dunia Farmasi Vol 2, No 3 (2018): Edisi Agustus
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v2i3.4410

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah (hyperglikemia) sebagai akibat dari kekurangan sekresi insulin, gangguan aktivitas insulin atau keduanya ( American Diabetes Association (ADA), 2004 dalam Smeltzer, et al. 2008). Diabetes melitus merupakan penyakit kronis dimana pengobatannya bisa dengan obat hipoglikemik oral dan bila tidak tercapai target terapinya harus ditambah injeksi insulin. Insulin dapat digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan obat hipoglikemik oral.  Tujuan: untuk mengevaluasi cara pemakaian insulin pen pada penderita diabetes melitus. Responden yang dipilih adalah pasien yang menderita diabetes melitus di poli rawat jalan RSUD Tanjung Pura. Metode: Sampel yang diambil dari rekam medik di RSUD Tanjung Pura dengan metode pendekatan cross sectional. Analisis data dijelaskan dengan statistik deskriptif . Hasil: penelitian menunjukan bahwa penderita diabetes melitus berdasarkan tempat tinggal diluar tanjung pura memiliki persentase lebih tinggi 40 pasien (72,7%), berdasarkan jenis kelamin yang berjenis kelamin wanita memilik persentase lebih tinggi 37 pasien (67,3%), berdasarkan umur pasien yang menderita diabetes melitus antara umur 45-54 sebanyak 20 pasien (36,4%), berdasarkan pendidikan yang menderita diabetes melitus dengan tingkat pindidikan SD sebanyak 17 pasien (30,4%) dan berdasarkan pekerjaan pasien yang menderita diabetes melitus adalah ibu rumah tangga sebanyak 32 pasien (56,2%). Kesimpulan: Fasilitas yang terdapat di RSUD Tanjung Pura masih sangat kurang, karena tidak adanya tempat untuk melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan, sehingga pengetahuan pasien tentang diabetes melitus juga sangat sediki.
Studi Formulasi dan Efektivitas Gel Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Penyembuhan Luka Bakar pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) Rinaldi Rinaldi; Fauziah Fauziah; Yuni Musfira
Jurnal Dunia Farmasi Vol 4, No 1 (2019): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v4i1.4564

Abstract

Pendahuluan: Sirih (Piper betle L.) merupakan salah satu tanaman berkhasiat obat mengandung saponin, tanin, flavonoid dan minyak atsiri dapat membantu penyembuhan luka bakar. Formulasi sediaan gel diketahui paling efektif dan efisien obat untuk luka bakar. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik dan efektivitas penyembuhan luka bakar sediaaan gel ekstrak etanol daun sirih (Piper betle L.). Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan memformulasikan sediaan gel ekstrak etanol daun sirih pada konsentrasi 10% (F1), 20% (F2) dan kontrol negative (F0). Evaluasi sediaan gel dan efektivitas luka bakar yang dilakukan meliputi organoleptis, homogenitas dan pH serta penyembuhan  luka bakar selama 14 hari pengamatan. Hasil: Karakteristik sediaan F1 dan F2 memiliki bau khas ekstrak etanol daun sirih, warna hitam dan massa yang kental; pada F0 berbau khas basis gel, warna cokelat dan berbentuk massa kental. Efektivitas penyembuhan luka bakar oleh gel ekstrak daun sirih hingga hari ke-14 adalah F1 (52,33%), F2 (60,83%) dan F0 (40,0%). Kesimpulan: Gel ekstrak daun sirih (Piper betle L.) memenuhi persyaratan sediaan gel sementara efektifitas penyembuhan luka bakar sediaan gel ekstrak daun sirih pada formula F1 dan F2 terdapat perbedaan signifikan terhadap kontrol negatif (F0) dengan nilai P0,05
Formulasi Hand Body Lotion Ekstrak Etanol Kulit Buah Semangka (Citrillus vulgaris) untuk Pelembab Kulit Amelia Rosenta Sumbayak; Vivi Eulis Diana
Jurnal Dunia Farmasi Vol 2, No 2 (2018): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v2i2.4398

Abstract

Pendahuluan: Lotion sebagai pelembab sangat dibutuhkan untuk perawatan kulit. Saat ini dipasaran banyak beredar lotion pelembab kulit yang terbuat dari bahan kimiasintesis. Namun, sering terdapat masalah kesehatan bagi pemakai. Maka perlu dicari bahan alam untuk pelembab kulit yang terbuat dari bahan alam yang kemungkinan efek samping yang  . Salah satu   yang berpotensi untuk itu adalah putih kulit semangka karena mengandung vitamin A, B2, B6, E, C, dan putih kulit semangka juga mempunyai kadar anti oksidan yang tinggi. Tujuan: untuk membuktikan kulit putih semangka dapat diformulasikan dalam sediaan lotion. Metode: yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan membuat ekstrak dari kulit putih buah semangka sebagai sediaan lotion dengan kombinasi konsentrasi 3%, 5% dan 7%. Pengujian yang dilakukan terhadap sediaan adalah pemeriksaan mutu fisik yang meliputi uji homogenitas, uji organoleptis, uji pH dan uji ititasi terhadap sukarelawan. Hasil: pengujian menunjukkan bahwa ekstrak kulit putih semangka dapat di formulasikan menjadi sediaan lotion. Sediaan lotion yang dihasilkan semuanya homogen, dengan warna cream dan coklat muda, pH sediaan pada konsentrasi 3% memiliki pH 5,9, pada konsentrasi 5% memiliki pH 5,8 dan pada konsentrasi 7% memiliki pH 5,7 dan uji iritasi menunjukkan tidak adanya tanda-tanda iritasi pada kulit. Kesimpulan: dari penelitian ini ekstrak kulit putih semangka dapat di formulasikan dalam bentuk sediaan lotion dengan variasi konsentrasi 3%, 5% dan 7%. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan uji antibakteri pada sediaan lotion ekstrak kulit putih semangka dan memformulasikannya dalam sediaan lain dengan konsentrasi yang berbeda menggunakan tumbuhan yang sama.
Evaluasi Pemakaian Antibiotik yang Rasional pada ISPA Non Pneumonia di Puskesmas Induk Kota Binjai Anita Anita; Darwin Syamsul; Suprianto Suprianto
Jurnal Dunia Farmasi Vol 3, No 3 (2019): Edisi Agustus
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v3i3.4481

Abstract

Pendahuluan; Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satubagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung hingga kantong paru seperti sinus/rongga di sekitar hidung, rongga telinga tengah dan pleura. Tujuan; Penelitian ini untuk mendapatkan kerasionalan antibiotik pada ISPAnonpneumonia di Puskesmas Induk Kota Binjai yang mengacu pada kesesuaian mengikuti bukti pedoman dan indikator kinerja penggunaan antibiotik rasional dengan pendekatan diagnosis penyakit terhadap ketepatan indikasi.Metode; Penelitian ini secara deskriptif dengan pengambilan data retrospektif untuk memperleh gambaran penggunaan antibiotik. Data yang diperoleh dianalisis dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang penggunaan antibiotik yang rasional.Hasil; Penelitian Jumlah kasus dari keenam puskesmas sebanyak 113 resep pada pasien anak dan 509 resep pada pasien dewasa, dari data hasil persentase yang menggunakan antibiotik pada anak 15,111% dan pada dewasa 63,826%, jumlah dari keseluruhan yang menggunakan antibiotik pada ISPAnonpneumonia sebanyak 78,939%. Penelitian dapat disimpulkan untuk kerasionalan antibiotik pada penyakit ISPAnonpneumoniabatas maksimum yang ditetapkan oleh departemen kesehatan, yaitu 20%.Kesimpulan;Penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik yang rasional pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) nonpneumoniadiPuskesmas Induk yang berada di Kota Binjai, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang antibiotika merupakan faktor risiko meningkatnya tingkat resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien ISPAnonpneumonia dan disarankan bagi tenaga kesehatan yang terkait lebih sering memonitoring ke masing-masing puskesmas.
Formulasi Sediaan Krim Anti Jerawat Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) Noni Alvianti; Khairani Fitri
Jurnal Dunia Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Edisi Desember
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v3i1.4418

Abstract

Pendahuluan: Daun Kersen memiliki senyawa tanin, saponin dan flavonoid, Flavonoid merupakan senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi. Dengan demikian dilakukan penelitian formulasi krim ekstrak etanol  daun kersen (Muntingia calabura L.) .Tujuan: untuk memformulasikan sediaan krim yang mengandung ekstrak etanol daun kersen sebagai antijerawat. Metode: penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian eksperimental. Penelitian menggunakan 3 formula ekstrak etanol daun kersen yaitu dengan konsentrasi 1%, 3% dan 5%. Ekstrak daun kersen diperoleh dengan cara maserasi dan dikentalkan diatas penangas air. Komposisi krim ialah asam stearat, trietanolamin, adeps lanae, paraffin liquid, metil paraben (nipagin), propil paraben (nipasol), parfum, dan aquadest. Uji krim meliputi uji homogenitas, uji organoleptis, uji pH dan uji iritasi. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa tiap formula stabil selama penyimpanan pada suhu kamar. pH tiap formula berada pada rentang 5,9-6,7. Kesimpulan: ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L.) dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan krim dan bentuk relatif baik.
Formulasi Sediaan Lotion dari Ekstrak Etanol Biji Buah Salak (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss.) Jacub Tarigan; Lewinda Panggabean
Jurnal Dunia Farmasi Vol 4, No 2 (2020): Edisi April
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v4i2.4425

Abstract

Pendahuluan; Biji salak diketahui mengandung flavonoida dan tanin yang dapat melindungi kulit dari efek radikal bebas. Oleh karena itu perlu dilakukan formulasi menjadi bentuk sediaan losion yang dapat memberikan perlindungan terhadap kulit. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi dan mengevaluasi sediaan losion dari ekstrak etanol biji salak. Metode; Ekstrak biji salak diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian di formulasi menjadi sediaan losion dengan variasi konsentrasi F1 (blanko), F2 (1%, F3 (3%) dan F4(5%). Evaluasi meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, aritasi dan uji kesukaan. Hasil; Diperoleh sediaan losion berbentuk semi padat, berwarna coklat, homogenitas baik, pH 6.1-6.6, daya sebar merata, tidak mengiritasi kulit, dan sediaan F2 paling disukai oleh panelis. Kesimpulan; Ekstrak etanol biji salak (Salacca zalacca (Gaertn.) Voss.) dapat diformulasikan menjadi sediaan losion dan telah memenuhi syarat evaluasi sediaan
Analisis Cost-Effectivenees penggunaan Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan Peserta Bpjs di Rsu Haji Medan Maya Annisa Lubis; Suprianto Suprianto
Jurnal Dunia Farmasi Vol 2, No 3 (2018): Edisi Agustus
Publisher : Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Kesehatan, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdf.v2i3.4406

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus adalah penyakit kronis dan kompleks yang membutuhkan perawatan medis terus-menerus dan berkesinambungan sehingga membutuhkan biaya yang besar. Tujuan: dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi penggunaan Antidiabetik oral yang mempunyai cost-effective pada pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan peserta BPJS di RSU Haji Medan. Metode: penelitian ini adalah penelitian analitik dengan data retrospektif yang diambil dari resep pasien yang menggunakan terapi antidiabetik oral  di Rumah Sakit Umum Haji Medan tahun 2016. Hasil: penelitian menunjukkan terdapat pasien yang menggunakan terapi antidiabetik oral kombinasi tanpa komplikasi sebanyak 6 pasien dan yang menggunakan terapi antidiabetik oral kombinasi dengan komplikasi sebanyak 42 pasien. Terapi antiadiabetik kombinasi tanpa komplikasi yang memiliki efektivitas tertinggi adalah kombinasi dengan sulfonilurea dan tiazolidon. Sedangkan terapi antidiabetik oral kombinasi yang disertai komplikasi yang memiliki efektivitas tertinggi adalah golongan binguaid. Kesimpulan: Penggunaan antidiabetik oral kombinasi tanpa komplikasi yang mempunyai cost-effektive adalah kombinasi golongan sulfonilurea dan binguaid dengan nilai effektivitas 16,66 % dan biaya paling murah yaitu  sebesar Rp. 83.568.Antidiabetik oral kombinasi yang disertai komplikasi yang memiliki cost-effective adalah dari golongan binguaid karena memberika nilai ACER terkecil yakni sebesar Rp. Rp. 1.056,72 dan nilai  ICER negatif terhadap 9 pola terapi lainnya.

Page 3 of 15 | Total Record : 150