cover
Contact Name
Ahmad Taufiq
Contact Email
jurnalpusair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpusair@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL SUMBER DAYA AIR
ISSN : 19070276     EISSN : 2548494X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Sumber Daya Air (JSDA) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Water, and Water resources as well as related topics. All papers are peer-reviewed by at least two referees. JSDA is managed to be issued twice in every volume. The Scope of JSDA is: the fields of irrigation, environmental quality and water, swamp, beach, water building, water supply, hydrology and geotechnical fields, hydrology and water management, water environment, coastal fields, fields of cultivation and sabo fields.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2013)" : 8 Documents clear
Penilaian Indeks Risiko Metode Modifikasi Andersen Dan Modifikasi Icold Untuk 12 Bendungan Di Pulau Jawa Dery Indrawan
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1439.919 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.150

Abstract

Penilaian risiko untuk 12 bendungan di Pulau Jawa dengan metode modifikasi Andersen dan modifikasi ICOLD telah dilakukan, dan merupakan bagian dari kegiatan Dam Operation Improvement Safety Project (DOISP) di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum. Pada bendungan yang dievaluasi dilakukan analisis risiko terhadap defisiensi struktur akibat beban kondisi operasi normal, banjir, dan gempa. Makalah ini merangkum proses penilaian risiko dari ke dua metode indeks risiko tersebut, hasil penilaian, temuan dan rekomendasi, serta memberikan evaluasi dari proses penilaian risiko dan rekomendasi dalam penentuan kebijakan dalam operasi dan pemeliharaan bendungan. Diketahui bahwa rangking risiko antara ke dua metode memberikan urutan berbeda, hal ini disebabkan perbedaan pendekatan penilaian risiko dari ke dua metode tersebut. Modifikasi Andersen terfokus terhadap defisiensi struktur terutama yang tampak secara visual, dan modifikasi ICOLD terfokus dengan kelemahan dalam desain dan risiko di hilir. Meskipun kedua metode tersebut memiliki pendekatan yang berbeda, ke dua metode tersebut dapat digunakan dalam analisis risiko bendungan dengan disesuaikan maksud dari penilaian Indeks risiko.
COVER JSDA Nov 13 COVER JSDA Nov 13
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1064.288 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.406

Abstract

-
Pengukuran Kinerja Organisasi Pengelola Wilayah Sungai Dengan Menggunakan Balanced Scorecard Isnugroho Isnugroho
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1266.193 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.155

Abstract

Menurut UU No. 7 tahun 2004, Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan pada Wilayah Sungai, oleh karena itu dibentuklah Organisasi Pengelola Wilayah Sungai. Paradigma pengeloaan sungai tidak lagi melakukan pekerjaan pembangunan pada sungai, melainkan suatu Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (Integrated Water Resources ManagementIWRM). Keterpaduan yang dimaksud adalah usaha mengakomodasikan semua yang berkepentingan terhadap Sumber Daya Air di Wilayah Sungai tersebut dengan mengeleminasi konflik kepentingan yang kemungkinan akan terjadi. Kinerja Organisasi Pengelola Sungai dicerminkan dengan keberhasilannya dalam menciptakan keterpaduan tersebut. Mengingat sedemikian beragamnya masalah yang ada dalam pengelolaan itu, maka pengukuran kinerja Organisasi Pengelola Wilayah Sungai dicoba dilakukan dengan menggunakan sistem Balance Scorecard. Sistem ini dapat digunakan oleh manajemen untuk menuju keseimbangan dalam: pelayanan pelanggan, pengaturan keuangan, proses bisnis internal dan pembelajaran pertumbuhan. Sistem balanced scored yang diterapkan berdasarkan 14 indikator yang ditetapkan oleh Network of Asia for River Basin Organization (NARBO), suatu jejaring diantara organisasi pengelola Wilayah Sungai di Asia.
Trend Hujan Di Musim Kemarau Yang Berkurang Belum Tentu Menimbulkan Intensitas Kekeringan Yang Bertambah Parah Wanny K. Adidarma
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1150.726 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.151

Abstract

Perubahan karakteristik hujan bulanan diperiksa melalui uji keberadaan trend dan uji perubahan distribusi dikaitkan dengan perubahan kondisi kekeringan menggunakan Indeks Kekeringan dari Standardized Precipitation Index (SPI) dalam bentuk durasi dan intensitas kekeringan. Perubahan trend hujan di beberapa wilayah sangat signifikan yaitu jumlah curah hujan tahunan dan musim kemarau yang berkurang di sebagian besar wilayah Cirebon dan hujan tahunan dan musim hujan bertambah di sebagian wilayah Pekalongan dan hujan tahunan dan musim kemarau berkurang di sebagian kecil wilayah Kedu. Begitu pula halnya di wilayah Kedu dan Cirebon mengalami perubahan distribusi hujan sebelum tahun 1945 dibandingkan dengan hujan periode setelah tahun 1970 terutama untuk musim kemarau Maret-Agustus. Lain halnya dengan wilayah Pekalongan perubahan distribusi hujan terjadi pada musim basah September-Februari. Di sisi lain, intensitas kekeringan maksimum per dasawarsa menunjukkan adanya kecenderungan bertambah besar untuk wilayah Kedu dan Pekalongan dan frekuensi terjadinya kekeringan ekstrim menjadi lebih sering di akhir dasawarsa terutama di wilayah Pekalongan meskipun jumlah pos hujan yang mengalami pengurangan hujan hanya sedikit. Bahkan, wilayah Cirebon dengan jumlah pos hujan yang mengandung trend penurunan cukup banyak tetapi frekuensi kejadian intensitas kekeringan maksimum di dasawarsa terakhir tidak terlalu meningkat dibandingkan dua wilayah yang lain.
Dampak Perubahan Tutupan Lahan Dan Iklim Terhadap Fungsi Hidrologi Daerah Aliran Sungai Konaweha Hulu Lisa Tanika
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1808.845 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.156

Abstract

Model hidrologi dapat digunakan untuk menguraikan akibat yang saling berkaitan antara perubahan iklim dan tutupan lahan terhadap proses hidrologi. Model Generic River Flow (GenRiver) dan HBV diaplikasikan untuk mensimulasikan dampak dari perubahan yang penting pada tutupan hutan dan perubahan iklim sederhana di daerah hulu DAS Konaweha (2,856 km2) yang terletak di Kabupaten Konawe dan Kolaka, Sulawesi Tenggara. Setelah proses kalibrasi dan verifikasi model berhasil dilakukan, simulasi dijalankan untuk menilai kondisi tutupan lahan 1990-2010. Skenario untuk 21 tahun mendatang (2010-2030), menggunakan 8 kombinasi faktorial dari: (1) Bussiness as usual (BAU) (ekstrapolasi perubahan tutupan lahan yang terjadi 21 tahun terakhir (1990-2010)) dibandingkan dengan tidak adanya perubahan tutupan lahan sejak kondisi tahun 2010; (2) skenario iklim global A1F1 dan B1 yang diubah ke dalam skala lokal (skenario IPCC) ; dan (3) intensitas curah hujan tinggi dan rendah. Berdasarkan model, perubahan potensial pada intensitas curah hujan, tanpa mengubah curah hujan harian akan berdampak pada aliran permukaan dan pola debit musiman. Sedangkan perubahan tutupan lahan mempunyai dampak yang lebih sederhana dan perubahan iklim berdasarkan skenario IPCC tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap neraca air di daerah hulu DAS Konaweha.
Potensi Air Limbah Untuk Didaur Ulang Sebagai Air Baku Pertanian (Studi Kasus Beberapa Industri Dan Domestik) Syamsul Bahri
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.197 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.152

Abstract

Krisis air baku yang diakibatkan kekeringan dan pencemaran telah mengakibatkan berkurangnya pasokan air pertanian sehingga dapat mengancam ketahanan pangan. Konsep 3R (reduce, recycle, reuse) melalui daur ulang air limbah untuk sumber air baku pertanian merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi kekurangan pasokan air baku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi awal tentang potensi beberapa jenis air limbah dari efluen instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik dan beberapa industri untuk didaur ulang sebagi air baku pertanian dalam upaya pendayagunaan sumber air. Penelitian potensi air limbah sebagai air baku pertanian dilakukan secara deskriptif menggunakan metode survei. Parameter kualitas air limbah yang diuji seperti yang tercantum dalam persyaratan air irigasi menurut Food and Agriculture Organization. Berdasarkan hasil penelitian tentang kecukupan kuantitas air limbah dan kelayakan kualitasnya sebagai air irigasi, dari sembilan jenis air limbah yang diteliti, empat diantaranya berpotensi sebagai sumber air baku pertanian. Jenis air limbah tersebut adalah air limbah domestik, industri makanan (biskuit), industri pengolahan susu produk susu cair, industri kertas dan industri gula tebu.
Pengendalian Pencemaran Sungai Ciujung Berdasarkan Analisis Daya Tampung Beban Pencemaran Heny Hindriani
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1632.719 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.157

Abstract

Permasalahan krusial di bagian hilir Sungai Ciujung yang berada di Wilayah Kabupaten Serang adalah bertambahnya beban pencemaran air. BOD (Biochemical Oxygen Demand) merupakan salah satu indikator pencemaran air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tampung beban pencemaran (DTBP) sebagai dasar dalam penetapan strategi pengendalian pencemaran sungai. Daya tampung beban pencemaran BOD ditetapkan dengan pemodelan kualitas air menggunakan WASP (water quality analysis simulation program) dan hasilnya dibandingkan dengan kriteria mutu air sungai sesuai PP 82/2001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat debit rencana lingkungan menggunakan debit minimum 3 m3/s, kualitas air Sungai Ciujung yang memenuhi kriteria mutu air kelas IV adalah sepanjang 13,75 km dengan DTBP 2.119,6 kg BOD/hari dan bagian hilir sepanjang 18 km tidak memenuhi. Alternatif strategi pengendalian pencemaran air Sungai Ciujung yang dapat dilakukan berdasarkan hasil simulasi adalah dengan meningkatkan debit untuk aliran pemeliharaan ekologi pada probabilitas 95% sebesar 9,12 m3/s dan reduksi beban pencemaran dari sumber pencemaran terpusat dan tersebar masing masing sebesar 80%.
Emisi Gas Metana Dari Waduk Saguling, Cirata Dan Jatiluhur Yayu Sofia
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.486 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.154

Abstract

Pemanasan Global merupakan salah satu masalah lingkungan yang menarik perhatian baik nasional maupun internasional. Pemanasan global yang terjadi pada planet bumi ini terutama disebabkan karena bertambahnya kadar gas rumah kaca, antara lain gas metana. Sumber gas metana yang berasal dari waduk-waduk di Indonesia belum banyak diketahui. Mengingat hal tersebut, maka pada tahun 2012 telah dilakukan penelitian emisi gas metana dari Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Metode penelitian dilakukan dengan cara pengukuran langsung di lapangan menggunakan sungkup terapung yang dihubungkan dengan alat pengukur infrared spektrometer. Pengukuran dilaksanakan dua kali, masing masing pada bulan Maret dan April yang dilakukan di 12-19 lokasi di setiap waduk (inlet, tengah, outlet waduk, serta di sumber pencemar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata emisi gas metana di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur masing-masing sebesar 1,183 g/m2/hari; 0,620 g/m2/hari dan 0,410 g/m2/hari. Nilai ini ternyata lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata di waduk-waduk di daerah tropis (Panama, Brasil, dan Guyana) yang rata-ratanya sebesar 0,300 g/m2/hari. Meskipun demikian, karena luas permukaan waduk di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan luas rawa dan persawahan maka dapat diperkirakan bahwa total emisi gas metana dari waduk lebih kecil dibanding total emisi dari rawa dan persawahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8