cover
Contact Name
Studi Budaya Nusantara
Contact Email
jsbn@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsbn@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Studi Budaya Nusantara
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26211068     DOI : -
Jurnal Studi Budaya Nusantara (SBN) adalah media komunikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya Malang. Jurnal ini dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang seni dan budaya Nusantara sebagai bentuk sumbangan masyarakat ilmiah bagi pengembangan wawasan seni dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Terbit 2 kali setahun (Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021)" : 6 Documents clear
Perilaku Sunda Sebagai Entitas Karakter Kebangsaan yang Terancam Hilang Muhamad Parhan
Studi Budaya Nusantara Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of ethical and moral degradation has become a discussion and complaint of every society. The values of politeness which are the core of a human being who are marginalized by the hegemony of science and technology development. There is nothing wrong with the development of science and technology, but society seems not yet ready to accept the onslaught of the new and talkative cultures that adopt them. This study wanted to determine the level of application of Sundanese values in everyday community interactions. In addition, it measures people's concern in transferring Sundanese values to the younger generation. The research method used is descriptive qualitative. The data were obtained using a google form filled out by 117 respondents. The data were filled in by respondents aged 19-21 years, the rest were respondents aged 25-50 years. The data shows that respondents who strongly apply Sundanese values in their daily life and do not feel proud. The data also shows that of the people who take part in transferring these local wisdom values, the minimum is the value of technical courtesy that is carried out in the need of interaction. For example, in speaking kind words to older people, getting in love, and saying excuse me when in society. This is if teachers and familiarize themselves at every level of society, it will form a harmonious national character. National character is the main asset and value if it is owned by individuals. Having this will attract him to other people and become a unique identity. There are still people who care about the preservation of local wisdom values, only transferred in different ways. This is because the character of society has also shifted due to various times of development. 
PERAN GELAR ADAT SAI BATIN DALAM STRUKTUR SOSIAL DAN PELAKSANAAN UPACARA ADAT PADA MASYARAKAT DESA WAY EMPULAU ULU rolim wijaya
Studi Budaya Nusantara Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKdi dalam masyarakat desa dengan cara empulau ulu panggilan panggilan setatus dan peran masing-masing induvidu yang diberikan di dalam masyarakat yang disebut dengan gelar adat sai batin. Gelar adat sai batin memegang peran sentral dalam struktur sosial dan pelaksanaan upacara adat di desa cara empulau ulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualintatif deskriftif. Teknik data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Penelitian dilakukan di desa Way Empulau Ulu, Kec Balik Bukit, Kab Lampung Barat Provinsi Lampung studi kepada kepaksian sekala berak paksi buay bejalan di way dan nyerupa. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) peran gelar adat sai batin dalam struktur sosial adalah untuk membina proses berintraksi dan bersosialisasi dalam masyarakat serta mangatur masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai antar satu dengan yang lainnya. (2) dalam pelaksanaan upacara adat gelar sai batin berfumgsi untuk pembantuan, mencontrol dan perencana berbagai pelaksanaan upacara yang akan dilaksanakan. (3) induvidu yang telah mendapatkan gelar adok harus memahami fungsi dan tugasnya dalam kebot dan masyarakat agar tidak menciptakan problematika baru di dalam kebot dan masyarakat. mencontrol dan perencana berbagai pelaksanaan upacara yang akan dilaksanakan. (3) induvidu yang telah mendapatkan gelar adok harus memahami fungsi dan tugasnya dalam kebot dan masyarakat agar tidak menciptakan problematika baru di dalam kebot dan masyarakat. mencontrol dan perencana berbagai pelaksanaan upacara yang akan dilaksanakan. (3) induvidu yang telah mendapatkan gelar adok harus memahami fungsi dan tugasnya dalam kebot dan masyarakat agar tidak menciptakan problematika baru di dalam kebot dan masyarakat.
KOMODIFIKASI SENI RUPA DALAM BRANDING PARIWISATA BALI DI MASA KOLONIAL Ida Bagus Komang Sindu Putra
Studi Budaya Nusantara Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali island is very thick with arts and tourism. Balinese Fine Arts has gone through a long historical journey from the prehistoric era to the present. Many observers say that the art that has developed on the island of Bali has its own characteristics. Balinese Fine Arts as part of Balinese culture has its own complex development. When compared to the fine arts that have developed in other areas such as Yogyakarta, Bandung and Jakarta, Balinese art has a different ecosystem. In Balinese fine arts, the religious aspect is still very influential, in line with the flow of modernism brought by the entry of tourism that has occurred since the colonial period. Today, in Bali, art, which became present as an offering and is communal in a contextual context, continues and has become part of the traditions of the Balinese Hindu community in the midst of the development of modern / contemporary art which is personal and profane. In the context of artistry, Balinese fine arts to this day develop very dynamically where traditional art, as well as modern / academic art, develop and have their respective actors, enlivening the Balinese art ecosystem. The position of the Balinese art ecosystem that intersects with the development of the world of tourism is actually a potential that can be mobilized as Bali tourism branding. The purpose of this research is that the two of them can collaborate for mutually reinforcing developments. This research will be conducted using the literature method from existing data.
REPRESENTASI AKTIVITAS PEREMPUAN "MANUMBUAK PADI" DALAM KARYA LUKIS EVELYNA DIANITA Nani Dian Sari; Asril Asril; Yuniarti Munaf
Studi Budaya Nusantara Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAKTulisan ini membahas tentang Representasi Aktvitas Perempuan Minangkabau “Manumbuak Padi” dalam Karya lukis Evelyna Dianita. Evelyna merupakan pelukis perempuan yang menghadirkan tema-tema aktivitas dan peranan perempuan Minangkabau seperti dalam aktivitas keseharian, perempuan dalam ritual, perempuan dalam pasar, perempuan dalam pedesaan serta perempuan dalam kaba/cerita. Hal tersebut menjadi identitas karyanya sebagai pelukis perempuan yang lahir dan tumbuh besar di Minangkabau. Artikel ini bertujuan untuk membahas karya Evelyna yang berjudul “Manumbuak Padi”  dari sudut pandang semiotik. Manumbuak padi merupakan bentuk kegiatan kerjasama yang dilakukan oleh perempuan Minangkabau masa lampau di halaman rumah gadang, kegiatan menumbuk padi ini dilakukan masyarakat Minangkabau merupakan kegiatan gotong royong  memisahkan padi dari kulitnya. Studi ini menggunakan metode kualitatatif yang diperoleh melalui observasi, pengamatan, wawancara, dokumentasi serta analisis data. Berdasarkan hasil analisis bahwa terlihat kegelisahan Evelyna terhadap kebiasaan aktivitas menumbuk padi dengan cara tradisional di masyarakat Minangkabau sudah mulai memudar karena digantikan oleh teknologi canggih seperti heler. Perasaan tersebut terlihat pada pemaknaan simbol warna langit yang dihadirkan Evelyna dalam karyanya. Kerjasama dalam aktivitas sehari-hari yang dilakukan perempuan Minangkabau mulai terkikis dengan hadirnya teknologi. Tulisan mengenai lukisan Evelyna Dianita ini diharapkan dapat menjadi acuan, sehingga terbuka peluang bagi peneliti lain untuk meneliti dari sudut pandang serta keilmuan yang berbeda. Aktivitas Perempuan, Representasi, Karya Lukis dan Evelyna DianitaABSTRACTThis paper discusses the Representation of the Minangkabau Women's Activity " Manumbuak Padi" in Evelyna Dianita's painting. Evelyna is a female painter who presents the themes of activities and roles of Minangkabau women such as women's daily activities, women in rituals, women in markets, women in the rural realm and women in kaba / stories. This became the identity of his work as a female painter who was born and grew up in Minangkabau. This article aims to discuss Evelyna's work entitled manumbuak padi  from a semiotic perspective.Manumbuak Padi is a form of collaborative activities carried out by Minangakabau women in the gadang home yard, this traditional activity for the Minangkabau community aims to separate rice from its skin. This study uses a qualitative method that passes observations, interviews, documentation and data analysis. Based on the results of the analysis that Evelyna's anxiety about the habit of pounding rice in the traditional way in the Minangkabau community had begun to fade, which was replaced by advanced technology such as helers. This feeling can be seen in the meaning of the sky color symbol that is presented by Evelyna in her work. The writing about Evelyna Dianita's paintings is expected to be a reference, so that there are opportunities for other researchers to examine from different perspectives and sciences.  
IDENTIFIKASI PEPALIHAN BEBADUNGAN PADA GEDONG RATU DALEM DI PURA DALEM TOH JAYA I Putu Udiyana Wasista
Studi Budaya Nusantara Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelestarian langgam bebadungan penting dilaksanakan mengingat adanya renovasi besar-besaran tanpa memperhatikan warisan pengetahuan bagi generasi penerus tentang arsitektur tradisional Bali. Selain itu, tulisan yang memuat tentang arsitektur langgam bebadungan, khususnya yang spesifik membahas ragam jenis pepalihan bebadungan belum ditemukan. Tulisan ini berisi identifikasi tentang ragam jenis pepalihan bebadungan yang digunakan pada Gedong Ratu Dalem di Pura Dalem Toh Jaya, Banjar Lemintang, Desa Dauh Puri Kaja, Kodya Denpasar. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan penyajian deskriptif. Tulisan ini bertujuan mendokumentasikan dan memberikan sumbangan literasi yang berperan dalam preservasi budaya di Kodya Denpasar. Hasilnya adalah terdapat 10 ragam jenis pepalihan yang digunakan, termasuk ciri spesifik pepalihan langgam bebadungan berupa palih dandan dan palih cakep gula. Seluruhnya divisualkan dalam permainan garis linear, dengan variasi pemasangan bata maju mundur untuk menciptakan kedalaman.
PENGELOLAAN KETAKUTAN MELALUI NILAI TRADISI DI TENGAH PANDEMI COVID-19: KAJIAN MULTISPESIES ANTROPOLOGI Agung Sandi Perdani
Studi Budaya Nusantara Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTulisan ini berargumen bahwa virus Covid-19 perlu dilihat dalam satu kesatuan fenomena budaya sehingga batasan culture dan nature dapat dihilangkan dan menghasilkan etnografi yang holistik dan valid. Pendekatan psikologis dan kesehatan cenderung menempatkan virus Covid-19 di luar kebudayaan. Pengelolaan ketakutan di tengah pandemi di masyarakat dilihat tidak kontekstual dan mengabaikan nilai-nilai kebudayaan lokal. Covid-19 perlu ditempatkan sebagai companion species yang setara dengan manusia dalam suatu kebudayaan. Penelitian ini mempelajari masyarakat Desa Kukusan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo. Data dikumpulkan melalui fieldwork, menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi literatur. Temunan penelitian ini menunjukkan bahwa Desa Kukusan yang agamis dengan masyarakat yang kuat dalam kekerabatannya hidup berdampingan dengan Covid-19 yang dilandasi oleh pengelolaan ketakutan dan rasa malu di tengah pandemi. Pengelolaan ketakutan dan rasa malu pada saat mengalami berbagai kondisi seperti terpapar Covid-19, kematian, dan sakit di tengah pandemi memunculkan anti-fear bagi masyarakat desa Kukusan. Perspektif antropologi medis dan kesehatan yang cenderung antroposentris dan melihat suatu penyakit atau virus terpisah dari manusia membuat seolah-olah Covid-19 hanya sebagai fenomena kesehatan saja. Antropologi dengan pandangan multispesies dalam melihat isu kesehatan mencoba untuk melihat virus Covid-19 sebagai satu kesatuan utuh dalam masyarakat dan menjadi subjek aktif dalam fenomena kesehatan dan budaya. Keywords: multispecies, Covid-19, ketakutan, malu, manajemen ketakutan. AbstractThis paper argues that the Covid-19 virus needs to be seen in a unity of cultural phenomenon so that cultural and nature boundaries can be eliminated and produce holistic and valid ethnography. Psychological and health approaches tend to put the Covid-19 virus outside of culture. The management of fear in the midst of a pandemic in the community is seen as not contextual and ignores local wisdom. Covid-19 virus needs to be placed as a companion species equivalent to humans in a culture. This research studies the community of Kukusan Village, Kendit District, Situbondo Regency. The data is collected through fieldwork, using the methods of in-depth interview, participant observations and literature studies. This research shows that Kukusan Village which is religious with a strong kinship coexists with Covid-19 based on the management of fear and shame in the midst of the pandemic. Managing fear and shame when experiencing various conditions such as exposure to Covid-19 virus, death, and illness in the midst of the pandemic raises anti-fear for the people of Kukusan village. Medical anthropological perspectives that tend to be anthropocentric and see a disease or virus separate from humans make it seem as if Covid-19 is just a health phenomenon. Anthropologists with multispecies perspective in looking at health issues try to see the Covid-19 virus as a whole unity in society and become an active subject in health and cultural phenomena. Keywords: multispecies, Covid-19, fear, shame, management of fear.

Page 1 of 1 | Total Record : 6