cover
Contact Name
Surya Farid Sathotho
Contact Email
suryafarid@isi.ac.id
Phone
+62818462800
Journal Mail Official
tonil@isi.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema
ISSN : 14116464     EISSN : 26858274     DOI : DOI: https://doi.org/10.24821/tnl.v19i2
Core Subject : Humanities, Art,
Tonil: Journal of Literature, Theatre, and Cinema Studies, issn: 1411-6464 (print) and issn: 2685-8274 (online), is a scientific journal in the fields of Theatre/Arts creations & studies under the publication banner of Theatre Department, Faculty of Performing Arts in Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta). TONIL publication emphasizes its role as a medium for communication, discussion, advocation and literary refinement. TONIL serves as a vessel to accommodate the ideas and criticism from the artists, scientists, practitioners, and also all positions involved in the field of Theatre and Performing Arts
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 1: Maret 2024" : 6 Documents clear
ANALISIS NARATIF DALAM FILM SINGSOT Thaheer, Nazhif Dzaky; Adiprabowo, Vani Dias
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.11588

Abstract

Abstrak: Film Singsot memiliki latar budaya Jawa, yang mana masyarakat Jawa memiliki kepercayaan dilarang bersiul pada malam hari karena diyakini dapat mendatangkan musibah. Melalui narasi penyampaian pesan kepada penonton dapat digunakan dalam film. Hal ini dikarenakan narasi memiliki kaitan dengan cara bercerita yang disajikan kepada penonton melalui film. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui larangan yang diyakini oleh masyarakat Jawa dalam narasi cerita Film Singsot. Penelitian ini menggunakan analisis narasi Tzvetan Todorov yang mengatakan bahwa narasi memiliki 3 struktur bagian yaitu bagian awal, tengah, dan akhir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa narasi dalam film Singsot digambarkan sesuai dengan narasi dari Todorov yang kemudian dimodifikasi oleh Nick Lacey dan Gillespie. Selain itu, unsur mise en scene juga turut menambah suasana dalam film. Mitos dalam film ini memiliki simbol yaitu film ini dapat dikatakan film yang berisi pesan moral tentang norma, etika, dan acuan moral dalam kehidupan. Larangan tentang bersiul dapat dimaksudkan agar tidak mengganggu orang yang sedang beristirahat di malam hari.Kata kunci: Mitos, Naratif, Film Singsot Abstract: Film Singsot has a Javanese cultural background, where Javanese people believe that it is forbidden to whistle at night because it is believed to bring disaster. Through narration, conveying messages to the audience can be used in films. This is because narrative is related to the way stories are presented to the audience through films. This research aims to find out the prohibitions believed by the Javanese people in the narrative of the film Singsot. This research uses Tzvetan Todorov's narrative analysis, which says that narratives have 3 part structures, namely the beginning, middle and end. The results of this research show that the narrative in the film Singsot is depicted in accordance with Todorov's narrative which was then modified by Nick Lacey and Gillespie. Apart from that, the mise en scene element also adds to the atmosphere of the film. The myth in this film has a symbol, namely this film can be said to be a film that contains a moral message about norms, ethics and moral references in life. The prohibition on whistling may be intended to not disturb people who are resting at night.Keyword: Myth, Narrative, Film Singsot
PEMERTAHANAN TRAVESTY PADA KELOMPOK LUDRUK KARYA BUDAYA DI DESA CANGGU, KECAMATAN JETIS, KABUPATEN MOJOKERTO Firmansyah, Andrian Fistyohana; Hidajad, Arif -
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.12477

Abstract

Ludruk Karya Budaya merupakan kelompok kesenian tradisional yang lahir di Kabupaten Mojokerto desa Canggu Kecamatan Jetis Jawa Timur. Salah satu dari beberapa kelompok Ludruk yang sampai saat ini masih mempertahankan tradisi lama yakni dengan adanya tokoh pemain Travesty dalam sajianya. Kelompok ini tidak ada pemain perempuan, seluruh tokoh Perempuan dimainkan oleh laki – laki atau yang lebih dikenal dengan Travesty. Pada kelompok lain sudah jarang menggunakan Travesty. Kelompok Ludruk Karya Budaya masih mempertahankan Travesty dalam setiap sajianya, sebagai Upaya mempertahankan karakteristik kesenian tradisional ludruk, bahwa Travesty masih dipertahankan hingga zaman modern sekarang ini, sehingga menjadi kajian yang menarik. Tujuan penelitian ini diantaranya: 1) Untuk mendeskripsikan pemertahanan Travesty di kelompok Ludruk Karya Budaya. 2) Untuk mendeskripsikan fungsi Travesty di kelompok Ludruk Karya Budaya.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, pengambilan kesimpulan. Untuk mengecek  validasi data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Travesty dianggap sebagai elemen penting yang menarik bagi penonton, sehingga dapat meningkatkan permintaan pertunjukan Ludruk Karya Budaya, dan mendorong pemeran untuk melestarikan kesenian tradisional ludruk yang dimiliki Jawa Timur. Ini mencerminkan kelompok tersebut dalam mempertahankan kesenian tradisional dengan cara regenerasi, pemertahanan identitas dan pemilihan lakon, berbeda dengan kelompok ludruk lain yang lebih terbuka terhadap perkembangan zaman. Kata kunci: Pemertahanan, Travesty, Ludruk Karya Budaya
PROSES PENYUTRADARAAN PETANG DI TAMAN KARYA IWAN SIMATUPANG Asyari, Luqman Hakim; Arisona, Nanang; Nurcahyono, Wahid
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.12424

Abstract

Petang di Taman menceritakan tentang keterasingan dan kehampaan manusia dalam menghadapi realitas kehidupannya, dibawakan oleh empat orang tokoh yang bertemu secara tidak sengaja di sebuah taman di waktu petang. Naskah Petang di taman dipilih sutradara sebab mengandung tema besar yang ingin diangkat sutradara yakni kesenjangan generasi yang diakibatkan dari problem eksistensialis dari masing-masing tokoh yang mewakili setiap generasi. Tujuan dari penulisan ini adalah menemukan metode penyutradaraan naskah Petang di taman karya Iwan Simatupang. Metode penyutradaraan yang digunakan oleh sutradara adalah metode penyutradaraan yang dikemukakan oleh Lloyd Anton Frerer yang terbagi menjadi 5 tahapan yakni : script analysis, auditions and casting, rehearsals, performances dan evaluation. Gaya pertunjukan realis dengan pendekatan representasi dipilih sebagai cara ungkap pertunjukan. Sutradara berhasil menemukan metode penyutradaraan dan mementaskan pertunjukan Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Kata kunci: Metode Petang di Taman, Iwan Simatupang, kesenjangan generasi, eksistensialis, Lloyd Anton Frerer
AN ANALYSIS OF STELLA'S AND WILL'S LOVE LANGUAGE AND FREUDIAN TRIPARTITE IN in “FIVE FEET APART” FILM Mulyadi, Mulyadi
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.11683

Abstract

The phenomenon that leads to the creation of this research is the implementation of love language in the “Five Feet Apart” film, and the inner workings of the three Freudian elements of the mind through the implementation of love language. This research has the objective toanalyzethe Freudian Tripartite using the framework of love languages, aiming to comprehend the personalities of characters in the film "Five Feet Apart" and unveil the relationship between the Freudian Tripartite and love languages through an analysis of their dialogues and behavior's. This research employs qualitative method with a descriptive framework, in which the object of study is the film itself. The observational and non-participatory technique isutilized tocollect the data, with the researcher acting as the instrument of the research. Qualitative data analysis employs the identity referential technique, focusing on utterances spoken by characters, namely Stella and Will. The analysis of findings reveals a substantial correlation between the three components of the Freudian Tripartite and the five love languages. This research unveils the interconnection between the expression and reception of love with psychological elements, emphasizing the influence of the mind on the behaviorsdemonstrated by characters such as Stella and Will in their expressions of love. Consequently, this study contributes to a novel comprehension of how psychological factors affect the act of expressing love within human relationships. By interpreting the correlation between Freudian Tripartite components and the five love languages, the research sheds light on the connection of psychological dimensions in the view of affectionate behaviors. 
DRMATURGI MEDIA BARU PADA PERTUNJUKAN WAKTU BATU. RUMAH YANG TERBAKAROELH TEATER GARASI/GARASI PERFORMANCE INSTITUTE DI YOGYAKARTA Al-Hamdany, Ahmadul Musthofa; Sathotho, Surya Farid; Kuardhani, Hirwan
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.12283

Abstract

Pertunjukan Waktu Batu. Rumah yang Terbakar merupakan versi terbaru dari proyek Waktu Batu yang sudah dikerjakan oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute sejak tahun 2000. Pada versi terbaru ini, Teater Garasi/Garasi Performance Institute bereksperimen dengan menghadirkan teknologi digital sebagai elemen penting dalam pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dramaturgi yang diaplikasikan pada pertunjukan Waktu Batu. Rumah yang Terbakar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah dramaturgi media baru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus. Berdasarkan analisis yang dilakukan penilitian ini menghasilkan temuan bahwa: dramaturgi yang diaplikasikan pada pertunjukan Waktu Batu. Rumah yang Terbakar merupakan dramaturgi media baru. Hal ini di dasarkan pada penggunaan media digital dalam pertunjukan meliputi proyeksi digital, teknologi atmosfer, soundscape, dan video langsung (live video).
MITOS KECANTIKAN DALAM FILM BACKSTAGE Widiani, Ninda; Adiprabowo, Vani Dias
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.11589

Abstract

Mitos kecantikan melahirkan alat yamg memfeminisasikan perempuan sehingga menyebabkan merasa tertekan dan terjebak karena kondisi fisiknya. Wanita cantik selalu memiliki tempat istimewa di kehidupan masyarakat. Dengan film Backstage ini mendeskripsikan standar kecantikan perempuan yang dipengaruhi oleh mitos kecantikan. Tulisan ini juga berusaha untuk meilhat mitos standar kecantikan yang dialami perempuan untuk memahami makna denotasi dan konotasi dalam film. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan teori semiotika Roland Barthes. Temuan ini menunjukkan bahwa mitos kecantikan diciptakan oleh patriarki untuk memiliki kendali atas tubuh perempuan. Mitos kecantikan berhasil menguat, tetapi juga bisa mengakar di masyarakat karena selalu disosialisasikan terus-menerus. Makna indah tubuh wanita yang terlihat dalam film Backstage menciptakan sebuah realitas bahwa standar kecantikan menjadi penyebab body shaming yang disebabkan oleh norma kecantikan sosial. Penelitian ini, menunjukkan bahwa adanya persepsi yang tidak stabil tentang masyarakat patriarkis terhadap idealisasi perempuan dan tubuhnya. Kecantikan fisik dengan tubuh langsing yang disosialisasikan sebagai sesuatu cita-cita tidak boleh membuat perempuan terikat dan menyudutkan

Page 1 of 1 | Total Record : 6