cover
Contact Name
Surya Farid Sathotho
Contact Email
suryafarid@isi.ac.id
Phone
+62818462800
Journal Mail Official
tonil@isi.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema
ISSN : 14116464     EISSN : 26858274     DOI : DOI: https://doi.org/10.24821/tnl.v19i2
Core Subject : Humanities, Art,
Tonil: Journal of Literature, Theatre, and Cinema Studies, issn: 1411-6464 (print) and issn: 2685-8274 (online), is a scientific journal in the fields of Theatre/Arts creations & studies under the publication banner of Theatre Department, Faculty of Performing Arts in Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta). TONIL publication emphasizes its role as a medium for communication, discussion, advocation and literary refinement. TONIL serves as a vessel to accommodate the ideas and criticism from the artists, scientists, practitioners, and also all positions involved in the field of Theatre and Performing Arts
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 1: March 2026" : 6 Documents clear
Pessimism in Charles Simic’s Selected Poems Raihan Naufal Fauzy Medy
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.16284

Abstract

Pessimism is an attitude of hopelessness toward existential meaning where it is having the tendency to see the bad side of things.  This study explores how pessimism is presented in Charles Simic’s Selected Poems and what is the significance of pessimism is in the selected poems. This study applies qualitative research using Michael Riffaterre’s semiotic of poetry to analyze pessimism in three of Charles Simic’s selected poems, “The Grass”, “The Prompter”, and “Evening Walk.” Through heuristic and hermeneutic readings, the research identifies ungrammaticalities and reconstructs hypograms to uncover deeper layers of meaning. The findings reveal that Simic’s poetry emphasizes pessimism by writing it using metaphor and simile in free verse.These semiotic structures articulate a worldview where beauty and despair coexist, and where human efforts to find meaning are often met with silence or futility. His minimalist style amplifies this pessimism, rendering it both intimate and universal. Keyword: Pessimism, Charles Simic, Poems, semiotic of poetry
Simbolisme Kematian Dan Kesunyian Dalam Naskah Senja Dengan Dua Kelelawar Karya Kirdjo Muljo Edi Sutardi; Budi Dharma; Arif Hidajad
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.17802

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji simbolisme kematian dan kesunyian dalam naskah Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjo Muljo dengan menggunakan pendekatan semiotika dan hermeneutika eksistensial. Naskah ini menampilkan konflik batin tokoh-tokohnya; Ismiyati, Suwarto, dan Marsudi yang terjebak dalam ambiguitas moral dan psikologis di ruang senja, yakni batas antara kehidupan dan kematian. Simbol-simbol seperti senja, dua kelelawar, rel kereta api, dan kesunyian diinterpretasikan sebagai representasi kesadaran manusia terhadap kefanaan, rasa bersalah, dan keterasingan eksistensial. Analisis dilakukan melalui pembacaan secara intensif terhadap struktur dramatik, dialog, serta tanda-tanda visual dan atmosferik dalam teks, yang menunjukkan bahwa kematian dalam naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai akhir biologis, tetapi juga sebagai metafora kematian spiritual dan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan. Kesunyian yang melingkupi naskah berperan sebagai medium refleksi diri yang menyingkap kegelisahan dan absurditas hidup manusia modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kirdjo Muljo menghadirkan teater sebagai ruang kontemplatif untuk menafsir ulang makna hidup, cinta, dan penderitaan dalam horizon kesadaran eksistensial.Kata kunci: simbolisme, kematian, kesunyian, eksistensialisme, Kirdjo Muljo
Makna dalam Pertunjukan "1200°" karya Papermoon Puppet Theatre: Kajian Semiotika Roland Barthes Rara Respatiana; Akhyar Makaf; Wahyu Novianto
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.19405

Abstract

Abstrak: Pertunjukan 1200° (twelve Hundred Degrees) merupakan pertunjukan teater boneka dengan menggunakan keramik sebagai medium utama karya Papermoon Puppet Theatre (PPT) yang disutradarai oleh Maria Tri Sulistyani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna yang hadir dalam pertunjukan 1200° sebagai media penyampaian isu sosial pencarian identitas diri dalam perspektif semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan analisis isi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertunjukan ini bercerita tentang cara tubuh itu dimaknai dan dikontruksi dalam masyarakat. Kesimpulannya, pertunjukan 1200° merupakan teater boneka sebagai medium penyampaian isu sosial identitas yang digunakan untuk memunculkan kesadaran bersama, menciptakan ruang dialog, dan mendengarkan suara-suara terpinggirkan dari kaum marginal.  Kata kunci: Kualitatif deskriptif, identitas diri, Papermoon Puppet Theatre, 1200° (Twelve Hundred Degrees), teori semiotika Roland Barthes.
Analisis Masalah Sosial Dalam Novel Viral Karya Laili Muttamimah: Pendekatan Sosiologi Sastra Rohmah Laelasari; Khairani Refitasari; Septiani Shobihah; Seli Mauludani
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.17475

Abstract

Karya sastra, khususnya novel, memiliki kemampuan merepresentasikan realitas sosial melalui penyampaian isu, seperti masalah sosial atau berbagai bentuk perilaku menyimpang. Penelitian ini mengkaji novel Viral karya Laili Muttamimah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan masalah sosial yang muncul dalam novel tersebut. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra berdasarkan teori Wellek dan Warren dengan fokus pada aspek sosiologi karya sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan data primer berupa novel Viral karya Laili Muttamimah dan data sekunder berupa literatur yang relevan dengan teori sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan katat, sedangkan analisis data melalui tahapan Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat masalah sosial utama dalam novel, yaitu konflik anak dengan orang tua, Kecanduan media sosial, perundungan ( bullying ), dan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Dengan demikian, novel ini membuktikan bahwa sastra bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana refleksi sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sosiologi sastra serta menjadi referensi dalam meningkatkan literasi sosial melalui pembacaan karya sastra kontemporer.
Arja Siki Sebuah Monolog Gaya Bali: Tinjauan Etno-Dramaturgi Victor Turner Arinta Agustina Hamid; Renata Kalyana Duhita
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.19467

Abstract

Abstrak: Arja Siki merupakan pertunjukan monolog hasil hibridasi antara dramatari Arja Bali dengan dramaturgi dari Barat, yang digagas oleh Cokorda Sawitri. Berbeda dengan dramatari Arja yang menjadi hipogramnya, Arja Siki gaya Cok Sawitri ini memiliki kecenderungan lebih fleksibel dan leluasa dalam mengeksplorasi pertunjukannya. Dengan menggunakan metode kualitatif, melalui observasi langsung, kajian pustaka, wawancara mendalam, dokumentasi video dan foto, kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep dan konvensi dramaturgi dari pertunjukan Arja Siki ini. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan etno-dramaturgi dari Victor Turner di mana praktik pertunjukan Arja Siki dilihat sebagai bentuk “drama sosial”. Selain itu mengkaji unsur-unsur eksternal yang berkaitan dengan konsep artistik dalam pertunjukan, pola produksi yang khas, dan mempertimbangkan respon dari penonton. Dapat disimpulkan bahwa seni pertunjukan Arja Siki adalah sebuah pertunjukan monolog gaya Bali. Adapun hasil kajian ini memberikan kontribusi bagi keilmuan seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan kontemporer.Kata kunci: Etno-Dramaturgi, Arja Siki, Monolog Bali, Seni Pertunjukan Kontemporer
Artistic Research Karakter Hana Dan Representasi NPD Pada Film “Star Fallin In Me” Khayra Amalia Putri; Dedi Warsana; Erik Pauhrizi
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 1: March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i1.17519

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis representasi Narcissistic Personality Disorder (NPD) pada karakter Hana dalam film Star Fallin In Me dengan menggunakan pendekatan semiotika visual. Topik ini dipilih karena fenomena narsistik pada remaja, khususnya di dunia musik, menjadi isu yang relevan dengan budaya populer serta konstruksi identitas. Fokus penelitian terletak pada bagaimana tanda-tanda visual berupa ruang, warna, wardrobe, dan properti merefleksikan gejala narsistik yang dialami Hana. Metode penelitian yang digunakan adalah artistic research dengan kerangka semiotika Roland Barthes yang membagi tanda ke dalam tiga lapisan makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain produksi berfungsi sebagai medium ekspresi psikologis karakter. Sweater biru berlogo bintang merepresentasikan ambisi narsistik Hana, sedangkan sweater biru polos menggambarkan runtuhnya ego dan hilangnya rasa percaya diri. Pergeseran palet warna dari warm tone pada babak awal menuju cool tone pada babak akhir menandai transisi emosi dari optimisme menjadi kehampaan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa desain produksi tidak hanya berperan dalam mendukung aspek estetika film, tetapi juga memperkuat representasi psikologis karakter melalui tanda-tanda visual. Kata kunci : Desain Produksi, Film Fiksi, NPD, Semiotika Barthes, Visual. Kata kunci: Desain Produksi, Film Fiksi, NPD, Semiotika Barthes, Visual. ABSTRACT This research aims to analyze the representation of Narcissistic Personality Disorder (NPD) in the character Hana from the film Star Fallin In Me using a visual semiotic approach. This topic was chosen because the phenomenon of narcissism among teenagers, especially in the music world, has become a relevant issue in relation to popular culture and identity construction. The focus of the study lies in how visual signs such as space, color, wardrobe, and props reflect Hana’s narcissistic symptoms. The research method applied is artistic research framed by Roland Barthes’ semiotics, which categorizes signs into three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The analysis shows that production design functions as a medium for expressing the character’s psychology. The blue sweater with a star emblem represents Hana’s narcissistic ambition, while the plain blue sweater reflects the collapse of her ego and the loss of self-confidence. The shift in color palette from warm tones in the early act to cool tones in the final act marks an emotional transition from optimism to emptiness. Thus, this study affirms that production design not only supports the aesthetic aspects of film, but also strengthens the psychological representation of the character through visual signs.Keywords: Production Design, Fiction Film, NPD, Barthes’ Semiotics, Visual.

Page 1 of 1 | Total Record : 6