cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp" : 12 Documents clear
Tromboemboli Vena pada Kanker Suharti C
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.96 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.62

Abstract

Trombosis merupakan komplikasi yang sering terjadi padapenderita kanker , angka kejadiannya makin meningkat, dan merupakan penyebab kematian kedua pada penderita dengan kanker . Trombosis pada kanker mempunyai angka kekambuhan dan risiko perdarahan yang tinggi, dan memerlukan pengobatan dengan antikoagulan jangka panjang.Patogenesi s trombosi s pada kanker mel i put i beberapa mekanisme yang saling berhubungan termasuk antara lain faktor jaringan yang berasal dari tumor dan peranan trombosit. Faktor jaringan diekspresikan oleh sel tumor yang diinduksi oleh pengaktifan onkogen, inaktivasi gen yang menekan tumor , serta berbagai mediator termasukantara lain tumor necrosis factor interleukin -1, liganC , trombin and vascular endothelial growth factor. Selain itu juga prokoagulan kanker , yakni suatu proteasesistein yang hanya didapatkan pada sel kanker dan jaringan amnion. Faktor ekstrinsik seperti pemberian kemoterapi, agen terapi target seperti bevacizumab, thalidomide, lenalidomide, sunitinib dan sorafenib, juga sering menimbulkan kejadian trombosis. Pencegahan dan terapi yang efektif untuk tromboemboli vena dapat menurunkan angka morbiditas dan memperpanjang usia. Heparin berat molekul rendah merupakan pilihan yang efektif dan aman untuk pencegahan maupun terapi tromboemboli vena, dibanding unfractionated heparin and antagonis vitamin K. Saat ini telah terdapat panduan baru untuk pencegahan maupun terapi, yang direkomendasikan bagi penderita kanker yang dirawat dirumah sakit maupun penderita kanker yang akan menjalani tindakan bedah mayor
Aspek Biomolekuler Apoptosis, Caspase-3 & RAK pada Pemberian Morinda Citrifolia L (Mengkudu) Tikus Sprague Dawley Diabetes Nefropati yang Diinduksi Streptocotocin (STZ) Indranila KS
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.479 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.63

Abstract

Latar belakang : Nefropati diabetes (ND) adalah salah satu bentuk komplikasi mikrovaskuler yang sering dijumpai pada penderita diabetes mellitus (DM). Morinda citrifolia L (Mengkudu) memiliki komponen zat bioaktif bersifat imunomodulator, imunosupresif, anti inflamasi dan antiapoptosis, diharapkan dapat memperbaiki fungsi ginjal dengan pengukuran biomarker RAK, indeks apoptosis, dan caspase-3. Tujuan penelitian : Membuktikan peran Morinda citrifolia L(MC) dalam memperbaiki fungsi ginjal ND pada tikus SD yang diinduksi STZ. Metode penelitian :The post test only control group desain. Tiga puluh enam ekor tikus Sprague Dawley dibagi menjadi 6 kelompok : 2 kelompok kontrol, dan 4 kelompok perlakuan. Tikus diinduksi STZ dosisi 40 mg/kgBB selama 8 minggu, kemudian di beri MC dosis 10,20,40,80mg/dL selama 2 minggu. Pada akhir penelitian tikus diperiksa RAK, indeks apoptosis, caspase-3. Data dianalisis menggunakan Mann Whitney dan regresi linier berganda. dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil dan pembahasan :Pada penelitian ini digunakan 36 ekor tikus SD yang dikelompokkan menjadi 6 kelompok yaitu kelompok 1 mendapat kelompok STZ + MC 10 mg, 1 kelompok mendapat kelompok STZ + MC 20 mg,1 kelompok STZ + MC 40 mg, 1kelompok STZ + MC 80 mg,1 kelompok STZ / kontrol (+ ) dan 1 kelompok kelompok kontrol (-). Hasil uji statistik menunjukkan RAK urin kelompok MC 20 mg adalah lebih rendah secara bermakna dibanding kelompok kontrol (+) dengan nilai p=0,04. Indeks apoptosis kelompok MC 20 mg adalah lebih rendah secara bermakna dibanding kontrol (+) dengan p=0,002. Ekspresi caspase-3 jaringan glomerulus yang tertinggi adalah pada kelompok yang mendapat STZ dan MC yang paling rendah adalah pada kelompok yang mendapat MC 20 mg. Korelasi antara ekspresi caspase-3 dengan indeks apoptosis pada jaringan glomerulus dan tubulus ginjal menunjukkan adanya korelasi positip kuat (p<0,001) Hal ini secara tidak langsung dapat menjelaskan apotosis yang terjadi pada jaringan nefron ginjal adalah melalui jalur caspase. Simpulan dan saran : Pemberian Morinda citrifolia L dosis 10,20,40,80mg/dL dapat menurunkan status albuminuri berdasarkan pengukuran RAK, indeks apoptosis glomerulus, ekspresi caspase-3. Pemberian ekstrak Morinda citrifolia L dapat memperbaiki fungsi ginjal paling bermakna pada konsentrasi 20 mg/dL,dan berpengaruh paling kuat untuk perbaikan ND melalui apoptosis glomerulus terhadap penurunan status albuminuria (RAK).Perlu dilakukan penelitian lanjutan pada manusia, dengan dosis 100mg/kgBB, yang merupakan hasil konversi dosis 20mg/dL pada tikus. Kata kunci : nefropati diabetes, morinda citrifolia L, tikus SD, STZ, apoptosis, caspase-3, RAK
Pengaruh Pemberian Tambahan Putih Telur pada Diet Tinggi Kalori dan Protein terhadap Kadar Albumin Darah Penderita Keganasan Kepala Leher dengan Hipoalbuminemia Dian Ruspita; Suprihati -; Amriyatun -; Niken Puruhita
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.926 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.64

Abstract

Latar belakang : Penderita keganasan kepala leher sering mengalami hipoalbuminemia karena asupan makanan yang menurun akibat terjadi gangguan saluran cerna, nyeri, depresi, konstipasi, malabsorbsi, efek samping pengobatan. Salah satu syarat kemoterapi adalah kadar albumin yang cukup. Putih telur adalah salah satu sumber asam amino yang dapat membentuk albumin bila dikonsumsi secara proporsional. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pemberian tambahan putih telur pada diet tinggi kalori dan protein dapat meningkatkan kadar albumin d a r a h p e n d e r i t a ke g a n a s a n ke p a l a l e h e r d e n g a n hipoalbuminemia. Metode : Penelitian intervensi dengan control trial pretest–post test design di bangsal RSUP Dr Kariadi Semarang, sejak Desember 2010 – Mei 2011. Sampel adalah pasien keganasan kepala leher yang dirawat untuk mendapatkan kemoterapi yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah sampel minimal yang dibutuhkan adalah 11 subyek untuk tiap kelompok. Kelompok penelitian adalah kelompok A yaitu kelompok diet putih telur, B yaitu kelompok diet tanpa telur dan C yaitu kelompok diet tambahan putih telur. Setelah pemberian diet putih telur ayam 5 hari kemudian dianalisis selisih kadar albumin pada hari ke–21 dan sebelum perlakuan. Analisis data menggunakan SPSS for Windows 17.0. Hasil : Empat puluh lima kasus hipoalbuminemia memenuhi kriteria inklusi dan 40 subyek yang dapat dianalisis. Selisih albumin kelompok A (0,18±0,51), B (0,02±0,61), C (0,02±0,41). Tidak didapatkan perbedaan bermakna selisih kadar albumin setelah dan sebelum perlakuan berdasarkan hasil uji one way anova (p=0,656). Simpulan : Tambahan putih telur pada diet tinggi kalori dan protein dapat meningkatkan kadar albumin darah penderita keganasan kepala leher dengan hipoalbuminemia pada hari ke-21 namun secara statistik tidak bermakna. Kata kunci: putih telur, keganasan kepala leher, hipoalbuminemia, kadar albumin.
Karakteristik Pasien HIV/AIDS dengan Kandidiasis Orofaringeal di RSUP Dr . Kariadi Semarang Muchlis Sofro; Innes Angita; Bambang Isbandrio
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.625 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.65

Abstract

Latar belakang : Epidemi HIV/AIDS di Indonesia merupakan salah satu yang paling cepat di Asia. Penelitian di RSUP Dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa infeksi oportunistik yang tersering pada pasien HIV/AIDS adalah kandidiasis orofaringeal sebesar 79%. Kandidiasis orofaringeal merupakan infeksi oportunistik mukosa yang banyak disebabkan oleh jamur Candida albicans, tetapi dapat disebabkan oleh spesies lain seperti Candida glabrata, Candida tropicalis dan Candida krusei. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik dan jenis kandida pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaringeal di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode : Penelitian deskriptif observasional pada pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaringeal yang dirawat di Bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang pada Desember 2010–Mei 2011. Kriteria diagnosis melalui identifikasi mikrobiologi (pengecatan gram, kultur, germ tube dan fermentasi) Hasil : Total 42 Pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaringeal terdapat 29 laki-laki (69%), rentang usia terbanyak 30–39 tahun, pekerjaan buruh dan pegawai swasta (21,43%), pasien sudah menikah (88,09%), underweight (52,38%), berasal dari Semarang (33,33%), CD4 <50 sel/µl (78,57%). Hasil kultur mikrobiologi 40 sampel tumbuh koloni kandida, 75% tumbuh >300 koloni kandida, jenis spesies kandida 55% non C. albicans yang terdiri dari C. stellatoidea 15%, C. tropicalis 15%, C. parapsilosis 12,5%, C. krusei 7,5%, C. glabrata 2,5%, C. guilliermondia 2,5%. Simpulan : Pasien HIV/AIDS yang menderita kandidiasis orofaringeal sebagian besar mempunyai CD4 <50 sel/µl, didapatkan koloni kandida pada kultur mikrobiologi dengan 55% diantaranya jenis non C. albicans. Kata kunci : Kandidiasis orofaringeal, HIV/AIDS
Asosiasi Genotip Apolipoprotein E dengan Keluaran Pasien Pasca Stroke Iskemik Everhardus Sebastian; Endang Kustiowati; Noorwijayahadi -
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.171 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.66

Abstract

Latar belakang : Gen Apolipoprotein E (ApoE) diduga mempunyai peranan dalam kepekaan kejadian dan keluaran stroke. ApoE berperan dalam plastisitas susunan saraf pusat dengan melindungi dan memperbaiki neuron secara langsung maupun melalui protein yang dibentuknya. Alel ApoE ?4 memiliki kadar kolesterol plasma yang lebih tinggi serta kurang efektif dalam memproteksi neuron dari proses inflamasi dibandingkan alel ApoE ?2 dan ?3. Hubungan antara genotip ApoE dan keluaran fungsional pada pasien stroke iskemik masih kontroversi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya asosiasi antara alel genotip ApoE dan faktor risiko stroke dengan keluaran pada pasien pasca stroke iskemik. Metode : penelitian belah lintang dari bulan April – Juni 2012 dengan pengambilan sampel secara konsekutif sebanyak 34 pasien pasca stroke iskemik di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan status neurologis dengan NIHSS, pemeriksaan laboratorium darah serta pemeriksaan genotip ApoE dengan metode PCR-RFLP. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan pengolah data statistik. Hasil : Tidak didapatkan asosiasi antara genotip ApoE dengan skor NIHSS. Terdapat asosiasi antara umur, kadar kolesterol total dengan skor NIHSS (p<0,05) Simpulan : Tidak didapatkan asosiasi antara genotip ApoE dengan keluaran pasien pasca stroke iskemik. Kata kunci : Genotip ApoE, Skor NIHSS, Stroke Iskemik
Pengaruh Pemberian Monosodium Glutamat peroral terhadap Degenerasi Neuron Piramidal CA1 Hipokampus pada Tikus Wistar Halomoan Simon; Hexanto Muhartomo; Dwi Pudjonarko
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1426.781 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.67

Abstract

Latar belakang : Monosodium glutamat (MSG) adalah garam sodium dari asam amino asam glutamat digunakan luas di masyarakat sebagai penyedap rasa. Pemakaian MSG dalam dosis tepat relatif aman. Penggunaan MSG dalam dosis tinggi dan berlangsung lama menyebabkan gangguan neuroendokrin dan degenerasi neuron, sehingga muncul pertanyaan seberapa jauh MSG peroral berpengaruh terhadap degenerasi neuron piramidal di regio CA1 hipokampus. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh pemberian MSG peroral terhadap degenerasi neuron piramidal di regio CA1 hipokampus pada tikus Wistar. Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan 30 tikus Wistar jantan usia 8 minggu, berat 200 gram dibagi menjadi 5 kelompok (1 kelompok kontrol, 4 kelompok perlakuan) diberikan MSG secara oral dosis 5 mg/grBB/hr dan 10 mg/grBB/hr selama 4 minggu. Setelah 2 minggu dan 4 minggu perlakuan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi di jaringan hipokampus dan rerata jumlah sel piramidal yang berdegenerasi pada CA1 hipokampus dianalisa dengan Uji ANOVA dilanjutkan Post Hoc, Kruskal Wallis Test dilanjutkan Mann-Whitney Test, uji Paired T-Test dan Wilcoxon Signed Ranks Test. Analisa data menggunakan program SPSS versi 17.0. Hasil: Ada perbedaan bermakna pada rerata jumlah neuron piramidal yang berdegenerasi di regio CA1 hipokampus antara kelompok penelitian setelah 2 minggu dan 4 minggu perlakuan (p=0,0001). Simpulan: Pemberian MSG per oral dosis 5 mg/grBB/hr dan 10 mg/grBB/hr selama 2 minggu dan 4 minggu terbukti berpengaruh terhadap rerata jumlah neuron piramidal yang berdegenerasi di region CA1 hipokampus tikus Wistar. Kata kunci: Monosodium glutamat, degenerasi neuron piramidal CA1 hipokampus.
Hubungan Gambaran Foto Toraks Posisi Supine dengan Volume Efusi Pleura Berdasarkan Pemeriksaan Ultrasonografi Komang Wulandari; Bambang Satoto; Agus Suryanto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.153 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.68

Abstract

Latar belakang : Foto toraks dan ultrasonografi merupakan sarana pemeriksaan radiologi yang sederhana dan praktis untuk memperlihatkan efusi pleura. Manifestasi gambaran radiologi pada foto toraks supine dapat bervariasi tergantung dari jumlah volume efusi pleura yang dapat diperkirakan dengan pemeriksaan ultrasonografi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan gambaran foto toraks posisi supine dengan volume efusi pleura berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancangan belah lintang dan subyek penelitian adalah pasien dengan efusi pleura yang telah mendapatkan pemeriksaan ultrasonografi dan pemeriksaan foto toraks supine di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari–April 2011. Hasil : Terdapat 53 paru yang diperiksa dari 35 subyek penelitian yang terdiri dari 16 laki-laki (45,7%) dan 19 perempuan (54,3%). Gambaran peningkatan densitas homogen hemitoraks dan kesuraman sinus kostofrenikus lateralis keduanya terjadi pada semua paru yang diteliti. Sedangkan hilangnya silhouette hemidiafragma terjadi pada 41 paru (77,4%) dan apical capping terdapat pada 18 paru (35,8%). Sebagian besar paru yang diteliti 24 (45,3%) berada pada kelompok volume efusi pleura 600–1000 ml (efusi pleura moderate). Peningkatan densitas homogen hemitoraks dan kesuraman sinus kostofrenikus lateralis dijumpai pada semua tingkat volume efusi pleura tetapi tidak berhubungan dengan tingkat volume efusi pleura (p=0,180) sedangkan variabel hilangnya silhouette hemidiafragma dan apical capping masing-masing mempunyai hubungan yang bermakna dengan tingkat volume efusi pleura (p=0,0001). Secara statistik dengan uji Kappa menunjukkan adanya kesesuaian hasil pembacaan oleh kedua dokter spesialis radiologi (p=0,889). Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara gambaran foto toraks posisi supine (AP) dengan volume efusi pleura yang diukur dengan USG. Gambaran radiologis yang bermakna pada foto toraks posisi supine yaitu hilangnya sillhouette hemidiafragma dan apical capping yang akan ditemukan pada volume efusi pleura ? 600 ml. Kata kunci : Efusi pleura, volume efusi pleura, apical capping, hilangnya silhouette hemidiafragma.
Pelaksanaan Terapi Bermain oleh Mahasiswa Profesi Ners di Bangsal Perawatan Anak RSUP Dr . Kariadi Semarang Endang Fatmawati; Amin Samiasih; Pawestri -
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.41 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.71

Abstract

Latar belakang : Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkesinambungan dari janin sampai dewasa dan proses itu membutuhkan stimulasi agar tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Salah satu stimulasi yang dapat diberikan adalah bermain. Kegiatan bermain seharusnya di berikan pada setiap anak, baik sehat maupun yang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ketika anak di rawat di rumah sakit, perawat maupun mahasiswa keperawatan sangat berperan dalam memberikan asuhan keperawatan tanpa mengabaikan kebutuhan anak untuk bermain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pelaksanaan terapi bermain oleh mahasiswa profesi Ners di ruang C1L2 RSUP Dr Kariadi Semarang. Metode : Jenis penelitian diskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan pengamatan, kuesioner, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah. Subyek adalah mahasiswa profesi Ners yang belajar di ruang C1L2 RSUP Dr. Kariadi, yang diambil dengan teknik purposive sample. Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa profesi Ners kurang menguasai materi, tetapi terampil dalam melaksanakan terapi bermain sesuai satuan angka pembelajaran (SAP) dan standar prosedur operasional (SPO). Kegiatan terapi bermain yang kurang dipersiapkan dengan baik akan menghambat dalam pelaksanaan terapi bermain, untuk itu diperlukan supervisi oleh pembimbing akademik dan pembimbing klinis. Diperlukan rekomendasi untuk yang dapat dipakai sebagai acuan dan pengembangan pelaksanaan terapi bermain. Simpulan : Mahasiswa profesi Ners kurang menguasai materi terapi bermain, walaupun trampil dalam melaksanakannya. Kata kunci : Terapi Bermain, mahasiswa Profesi Ners, Bangsal Perawatan Anak
Tindakan Keperawatan yang Diterima Pasien Preoperatif di Bangsal Bedah RSUP Dr . Kariadi Semarang Nanang Qosim
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.695 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.73

Abstract

Latar belakang : Persiapan preoperasi sangat diperlukan karena kesuksesan suatu tindakan pembedahan berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan selama tahap persiapan. Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat berdampak pada tahap-tahap selanjutnya. Metode : Desain yang digunakan diskriptif dengan pendekatan survey, besar sampel 60 orang. Penelitian dilakukan bulan Maret–April 2011. Kriteria inklusi adalah responden kondisi sadar dan sehat jiwa. Alat yang digunakan berupa kuesioner (angket) yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas. Hasil baik apabila kuantitas 76% atau >25% tindakan keperawatan/4 aspek. Hasil cukup apabila kuantitas 60–75% atau 20–25% tindakan keperawatan/3–4 aspek. Hasil kurang apabila kuantitas <60% atau<20% tindakan keperawatan/<3 aspek. Analisis data secaraunivariat Hasil : Aspek informed consent, persiapan penunjang, persiapan anestesi, dan premedikasi dilakukan dengan baik dengan prosentase lebih dari 76%. Aspek psikis dan aspek fisik khususnya pada sub aspek latihan praoperasi yang diterima responden adalah kurang <60 %. Sub aspek personal hygiene tindakan yang diterima responden adalah cukup (71%). Simpulan : Tindakan keperawatan pada aspek informed consent, persiapan penunjang, persiapan anestesi dan premedikasi adalah baik. Tindakan keperawatan pada sub aspek personal hygiene adalah cukup. Pada sub aspek latihan praoperasi dan persiapan psikis adalah kurang. Kata kunci : Tindakan keperawatan, preoperatif
Management of Obstructive Sleep Apnea Syndrome in Obese Children Vina Rosalina; Maria Mexitalia; Dwi Wastoro
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 1 No. 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.826 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.74

Abstract

Background : Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) is strongly associated with obesity. The common presenting complaints are excessive daytime sleepiness and loud snoring which potential for significant comorbidity of metabolic syndrome and decreasing in quality of life. Case : An 11-year-old obese boy was refereed to Dr. Kariadi Hospital with complaints of fatique and frontal headache. His mother reported the loud snoring, apneic events during the night, excessive daytime sleepiness, increased irritability, and difficulty of school learning. Imaging studies showed cardiomegaly, adenoidal/nasopharyngeal ratio 0.714; opaque mass on cervical and airway space narrowing. Tympanometric audiogram showed mild right conductive hearing loss. The patient was diagnosed with OSAS, chronic and hypertrophic adenotonsillitis, severe hypertension, dilated right ventricle, right conductive hearing loss, obesity. The boy was undergone adenotonsillectomy and management of weight lossed. Antihipertensive and other supportive medication were given and good results. Discussion : The recommended initial treatment, even in obese children, consists of surgical removal of the adenoids and tonsils.5,6 Several studies have shown that adenotonsillectomy reverses the symptoms and confirm the beneficial effects for OSAS on children's growth, school performance, improvements in PSG, behavior, QoL and cardiac function. The success rate for adenotonsillectomy in the context of OSA was approximately 85%. Conclusion : Adenotonsillectomy and weight reduction is considered to be the primary intervention for OSAS children. Because the case had also severe hypertension, antihypertensive and other supportive medicine were give and had a good result. Keywords : OSAS, obesity, children, adenotonsillectomy

Page 1 of 2 | Total Record : 12