cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 529 Documents
Full Text Volume 5 Nomor 2 November 2018 admin medica
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6280.88 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.538

Abstract

Full Text Volume 5 Nomor 2 November 2018
Full Text Volume 6 Nomor 1 Mei 2019 admin medica
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5123.565 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.539

Abstract

Full Text Volume 6 Nomor 1 Mei 2019
Full Text Volume 6 Nomor 2 November 2019 admin medica
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 2 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5845.605 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i2.540

Abstract

Full Text Volume 6 Nomor 2 November 2019
Full Text Volume 7 Nomor 1 Mei 2020 admin medica
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 7 No. 1 (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8341.324 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1.541

Abstract

Full Text Volume 7 Nomor 1 Mei 2020
Full Text Volume 7 Nomor 1A Agustus 2020, Edisi Khusus Covid-19 admin medica
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 7 No. 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12747.482 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.542

Abstract

Full Text Volume 7 Nomor 1A Agustus 2020, Edisi Khusus Covid-19
Perbedaan Efektivitas Chair-Based Exercise dan Senam Lansia dalam Meningkatkan Fleksibilitas Lumbal Lanjut Usia Rini, Maya Puspa; Handoyo, Rudy; Suhartono, Suhartono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.486 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.552

Abstract

Latar belakang: Fleksibilitas adalah kemampuan sendi bergerak melalui lingkup gerak tanpa nyeri. Senam Lansia (SL) merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan fleksibilitas lumbal lanjut usia, yang dilakukan dalam posisi berdiri dan memberikan hasil yang baik terhadap fleksibilitas. Beberapa masalah terjadi pada lanjut usia seperti arthritis (khususnya pada sendi lutut) dan penurunan kekuatan otot yang menyebabkan mereka kesulitan untuk beraktivitas dalam posisi berdiri. Chair-Based Exercise (CBE) yang dilakukan dalam posisi duduk, merupakan alternatif latihan yang dapat digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas lumbal lanjut usia. Tujuan: Membuktikan tidak ada perbedaan efektivitas CBE dan SL dalam meningkatkan fleksibilitas lumbal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Quasi experimental design. Dua puluh dua lansia dari 3 panti werdha yang berusia 60-74 tahun dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok CBE (n=12) mendapatkan Chair-Based Exercise dan kelompok SL (n=10) mendapatkan senam lansia. CBE merupakan latihan aerobik yang dilakukan dalam posisi duduk, terdiri dari 3 tahapan: pemanasan, inti dan pendinginan. Sedangkan Senam lansia adalah latihan aerobik yang dilakukan dalam posisi berdiri, terdiri dari 3 tahapan: pemanasan, inti, pendinginan. Kedua latihan berdurasi 30 menit untuk 1 sesi latihan, dilakukan sebanyak 5 kali seminggu selama 6 minggu. Fleksibilitas lumbal dinilai sebelum dan setelah perlakuan dengan menggunakan Modified Back Saver Sit and Reach Test (MBSSRT). Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna delta nilai MBSSRT tungkai kanan dan kiri antara kelompok CBE dan SL setelah diberikan latihan. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan antara CBE dan SL dalam meningkatkan fleksibilitas lumbal lanjut usia. Kata kunci: Chair-Based Exercise, Senam Lansia, fleksibilitas lumbal, lanjut usia.
Effect Of Topical DLBS 1425 On Tissue Plasminogen Activator (tPA) Expression In Trabecular Meshwork Of Wistar Rats Widijanto, Utami; Nugroho, Trilaksana; Cahyono, Maharani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.767 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.553

Abstract

Introduction: Tissue plasminogen activator (tPA) in the trabecular meshwork (TM) is a serine protease that important to maintain the aquos outflow resistance by activating the matrix metalloproteinase (MMP). It can cause a degradation of the extracellular matrix, which can maintain the normal flow of aquos humor. However, the use of anti-inflammatory drugs has been shown to reduce the expression of tPA, leading to an increase in the outflow resistance. Therefore, we propose the use of DLBS 1425, an extract of Phaleria macrocarpa which has been proven to have anti-inflammatory effects. Aim : This study aims to determine the expression of tPA in Wistar rats’ TM. Methods : An experimental laboratory study with post-test only randomized controlled group design was performed. Twenty-two Wistar rats were divided into two groups, the control and the experimental. The experimental group was given topical DLBS 1425 at a dose of 6 times / day, for 4 weeks. The control group was given drops of Hyalub Minidose® 6 times / day, for 4 weeks. tPA expression on TM was examined by immunohistochemical staining. Data were collected and processed using the SPSS 15.0 for Windows. Results : The mean tPA expression in TM with Allred scores in the experimental group (0.18 ± 0.60) was significantly lower (p <0.001) than the control group (6.27 ± 0.91). Conclusion : Topical DLBS 1425 suppresses the expression of tPA on the trabecular meshwork of Wistar rats. Key words: tissue plasminogen activator, trabecular meshwork, DLBS 1425, Phaleria macrocarpa.
Penatalaksanaan Wanita Dengan Rinore Lcs Dan Meningoensefalokel Akibat Patensi Sternberg’s Canal Iriani, Desy; Dewi, Anna Mailasari Kusuma; Priambada, Dody
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.649 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.574

Abstract

Latar belakang : Rinore liquor cerebro spinal (LCS) adalah kebocoran LCS yang terjadi karena adanya defek pada basis kranii sehingga terdapat hubungan antara intrakranial dengan cavum nasal. Sternberg’s canal merupakan defek kongenital di dinding lateral sphenoid. Kasus ini menjelaskan etiologi serta penatalaksanaan pasien rinore LCS dan meningoensefalokel. Laporan kasus : Dilaporkan wanita usia 32 tahun dengan keluhan keluar cairan hidung kiri terkadang mengalir deras, hilang timbul selama 1 tahun disertai pusing. Pemeriksaan CT scan menunjukkan defek tulang di lateral sfenoid kiri disertai lesi isodens di sinus sfenoid, hal ini diperjelas dengan hasil MRI yang menggambarkan meningoensefalokel. Pasien dilakukan operasi sfenoidektomi dengan endoskopi kerjasama dokter THT dan Bedah Saraf, dilakukan pemasangan lumbar drain, identifikasi lokasi kebocoran LCS dan pemasangan graft lemak. Evaluasi 6 minggu pasca operasi, keluhan keluar cairan hidung dan pusing sudah tidak ada. Pasien mengalami perbaikan dan peningkatan kualitas hidup. Pembahasan : Kasus rinore LCS mempunyai beberapa etiologi, setelah melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, didapatkan etiologi pada kasus ini yaitu akibat patensi Sternberg’s canal. Pada kasus ini dilakukan penanganan operatif karena keluhan sudah lama dan etiologi sudah jelas. Kerjasama multidisiplin diperlukan, untuk pemasangan lumbar drain dan pemasangan graft lemak dengan kerjasama yang baik. Kesimpulan : Penatalaksanaan rinore LCS dibagi menjadi konservatif dan operatif. Keberhasilan penanganan rinore LCS bergantung pada tajamnya penilaian dokter dalam memutuskan tatalaksana yang tepat agar pasien dapat tertangani dengan cepat sebelum terjadi komplikasi.
Gangguan Neuropsikiatri Paska Kemoterapi Ifosfamid Septiantoro, Bayu Prio; Perwitasari, Dyah Aryani; Farida, Imaniar Noor
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.903 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.575

Abstract

Latar belakang: Reaksi obat yang merugikan (adverse drug reaction) sering muncul salah satunya pada obat-obat sitostatika. Ifosfamid adalah obat sitostatika golongan pengalkil yang ketika dimetabolisme akan membentuk senyawa aktif nitrogen mustard sitotoksik. Selain itu ia juga membentuk senyawa lain yaitu akrolein dan kloroasetaldehid. Akrolein yang bersifat urotoksik ini dengan mudah akan diikat oleh mesna, sedangkan kloroasetaldehid bersifat neurotoksik yang hingga sampai saat ini masih menjadi masalah karena keterbatasan panduan untuk anti dotumnya. Kasus: Kami mendeskripsikan 3 pasien dengan diagnosis berbeda yang mengalami gangguan neuropsikiatri paska kemoterapi ifosfamid yaitu kanker saluran empedu dengan mengantuk berat, kanker ovarium residif dengan halusinasi, dan tumor ganas pelvis dengan penurunan kesadaran disertai kejang. Pembahasan: Gangguan neuropsikiatri dapat disebabkan oleh neurotoksisitas dari hasil metabolisme dari ifosfamid yaitu kloroasetaldehid yang secara langsung maupun tidak langsung merusak neuron (neurotoksik). Manifestasi klinisnya dapat bertingkat mulai dari kebingungan dan mengantuk hingga kejang, koma dan kematian. Onset munculnya gejala terutama hitungan jam hingga 2 hari setelah kemoterapi selesai. Terdapat faktor resiko munculnya neurotoksisitas yang teridentifikasi pada laporan kasus ini yaitu gangguan fungsi ginjal dan hipoalbumin. Beberapa penelitian mengatakan bahwa toksistas ini berifat reversible, demikian juga dengan pasien kasus pertama yang membaik setelah 24 jam, dan kasus kedua yang membaik setelah 5 hari, namun pemberian terapi spesifik tetap direkomendasikan pada NCI stadium III atau IV. Kesimpulan: Gangguan neuropsikiatri paska kemoterapi ifosfamid dapat disebabkan oleh neurotoksisitas pada SSP akibat kloroasetaldehid dengan faktor resiko yaitu gangguan fungsi ginjal dan hipoalbumin. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa gejala neuropsikiatri yang muncul adalah murni karena ifosfamid, misalnya dengan melakukan pengukuran kadar obat di dalam darah.
A Malignant Melanoma of the Penile : A Very Rare Case Report and Literature Review Wijaya, Yanuar Hendra; Daniswara, Nanda; Santosa, Ardy; Soedarso, Mohamad Adi; Nugroho, Eriawan Agung; Addin, Sofyan Rais
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.521 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.576

Abstract

Background: Malignant melanoma of the penis is very rare, accounting for approximately 1.4% of all primary penile carcinomas. With a small prevalence of penile melanoma, there is lack of data about quality of the therapy. The primary treatment of melanoma of the penile is surgical, although there is a lack of consensus regarding the extent of treatment that is indicated. Case Report: A 60-year-old Caucasian man came to Division of Urology, Department of Surgery, Dr. Kariadi General Hospital Semarang with chief complaint painless and fast growing lesions on his penile. His general condition was fine, and has a normal vital signs. On the physical examination of penile region, there were found lesions on the ventral of the glans and penile foreskin and covered with blood and pus, with bilateral inguinal lymph nodes and lung metastasis from Multi Slice Computed Tomography. We already performed partial penectomy and bilateral inguinal lymph nodes dissection with histopathological results a malignant melanoma Clark IV. The final stage of penile melanoma was pT2N1M1. We follow-up the patient until 1 year after procedure, and there wasn’t any recurrence. Conclusion: Malignant melanoma of the penis is rare. Penile melanoma is highly treatable with surgical excision in its early stages because of resistant to both chemotherapy and radiotherapy. Delay in diagnosed and surgical treatment can lead to an adverse prognosis. The anamnesis, physical examination, and imaging studies must be done appropriately to improve the survival.