cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2018)" : 21 Documents clear
PERBEDAAN TOTAL FLAVONOID ANTARA METODE PENGERINGAN ALAMI DAN PENGERINGAN BUATAN PADA EKSTRAK DAUN RAMANIA (Boueamacrophylla Griffith) Rezky Muliyawan; Irham Taufiqurrahman; Edyson Edyson
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Wound healing process can be accelerated by use of drugs. Use of herbal medicinal plants considered to be more effective and have minimal side effects compared with modern drugs. Ramania have secondary metabolites such as flavonoids. Pharmacological research on flavonoids showed that flavonoid compounds show activity as antiradical, antioxidant, antibacterial, antiviral and anti-inflammatory. The drying process is one of the factors that affect the content of total flavonoid compounds in a crude drug that may affect its antioxidant activity. Purpose: To analyze differences in the content of total flavonoid ramania leaves extract against drying method is used as a preliminary study of the process of preparation of a wound healing drug. Methods: Type of research conducted a pure experimental study (true experimental) with only post-test design with control group design, manufacture simplisia performed with dry the leaves in the 3 treatment groups, that is natural drying, artificial drying and without drying as a negative control. The simplicia then extracted by maceration method for 3 days to obtain a thick extract. Then conducted to determine the maximum wavelength and manufacture standard curve with a quercetin solution, after the results obtained, the calculation of flavonoid ramania leaf extract can be performed using Spectrophotometry UV-Vis.  Results: The results of the determination of total flavonoids in this study overall showed significantly different results, the highest total flavonoid on group oven drying is 167.13 µg/mg, drying room is 103.48 µg/mg and the lowest group without drying is 30.47 µg/mg. Conclusion: This proves that the drying oven is more effective binding flavonoid ramania leaf extract compared to the method of drying room and the group without drying. ABSTRAK Latar belakang: Proses penyembuhan luka dapat dipercepat dengan penggunaan obat obatan. Penggunaan tanaman obat dianggap lebih efektif dan memiliki efek samping yang minimal dibandingkan dengan obat modern. Ramania mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid. Penelitian farmakologi terhadap senyawa flavonoid menunjukkan bahwa senyawa flavonoid memperlihatkan aktivitas seperti antiradikal, antioksidan, antibakteri, antiinflamasi dan antivirus. Proses pengeringan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kandungan total flavonoid dalam suatu simplisia sehingga mempengaruhi aktivitas antioksidannya. Tujuan: Menganalisis perbedaan kandungan total flavonoid ekstrak daun ramania terhadap metode pengeringan yang digunakan sebagai studi pendahuluan terhadap proses pembuatan sediaan obat penyembuhan luka. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan post-test only with control group design, pembuatan simplisia dilakukan dengan mengeringkan daun pada 3 kelompok perlakuan, yaitu pengeringan alami, pengeringan buatan dan tanpa pengeringan sebagai kontrol.  Simplisia tersebut kemudian diekstraksi metode maserasi selama 3 hari sampai diperoleh ekstrak kental. Kemudian dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum dan pembuatan kurva baku dengan larutan kuersetin, setelah didapatkan hasil panjang gelombang maksimum dan kurva baku, maka perhitungan ekstrak flavonoid daun ramania dapat dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil: Penentuan total flavonoid pada penelitian ini keseluruhan menunjukkan hasil yang berbeda bermakna, total flavonoid tertinggi pada kelompok pengeringan oven yaitu 167,13 µg/mg, pengeringan ruangan yaitu 103,48 µg/mg dan yang terendah kelompok tanpa pengeringan yaitu 30,47 µg/mg. Kesimpulan: Hal ini membuktikan bahwa pengeringan oven lebih efektif mengikat flavonoid ekstrak daun ramania dibandingkan metode pengeringan ruangan dan kelompok tanpa pengeringan
PERBANDINGAN JARAK PENYINARAN DAN KETEBALAN BAHAN TERHADAP KUAT TARIK DIAMETRAL RESIN KOMPOSIT TIPE BULK FILL Astuti Noviyani; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Dewi Puspitasari
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Bulk-fill composite resin is a composite resin that can be applied at once into tooth cavity approximately 4 mm. The process of polymerization on resin composite resin is a vital part which requires special attention during filling. Factors that affect the polymerization of composite resin is irradiation distance and material thickness. This is due to the incomplete polymerization, which affect the diametral tensile strength of bulk-fill composite resin. This research with observe the difference of material thickness and irradiation distance of bulk-fill composite resin to know the effect on diametral tensile strength. Purpose: The aim of this research is to compare the diametric tensile strength of bulk-fill composite resin with different material thickness (2.4 and 6 mm) and irradiation distance (0.2 and 5 mm). Methods: The method of this research is true experimental with post-test only with control group design. Sampling technique used was simple random sampling with 45 samples divided into 9 groups with different thickness and irradiation distance. Results: Analysis of data using parametric test One Way Anova with significant value 0.000 (p<0.05) and LSD Post Hoc test showed there are significant differences between the thickness group of 6 mm with irradiation distance 0.2 and 5 mm  with a value of p = 0,000 (p<0,05). Conclusion: Based on this research, there is difference of thickness material and irradiation distance on diametral tensile strength of bulk-fill composite resin. ABSTRAKLatar Belakang: Resin komposit tipe bulk fill merupakan resin komposit yang dapat diaplikasikan secara sekaligus ke dalam kavitas gigi kurang lebih 4 mm. Proses polimerisasi pada resin komposit merupakan hal yang penting pada proses penumpatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi polimerisasi resin komposit adalah jarak penyinaran dan ketebalan bahan. Hal ini dikarenakan proses polimerisasi yang tidak sempurna dapat mempengaruhi kuat tarik diametral resin komposit tipe bulk fill. Penelitian ini dilakukan dengan melihat perbedaan ketebalan bahan dan jarak penyinaran pada resin komposit tipe bulk fill untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kuat tarik diametral. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk membandingkan nilai kuat tarik diametral resin komposit tipe bulk fill dengan ketebalan (2, 4 dan 6 mm) dan jarak penyinaran (0, 2 dan 5 mm) yang berbeda. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni dengan post-test only with control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 45 yang dibagi menjadi 9 kelompok dengan ketebalan dan jarak penyinaran yang berbeda-beda. Hasil: Analisis data menggunakan uji parametrik One Way Anova dengan nilai signifikansi 0.000 (p<0.05) dan uji post hoc LSD didapatkan hasil perbedaan bermakna pada kelompok ketebalan 6 mm dengan jarak penyinaran 0, 2 dan 5 mm dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini terdapat perbandingan ketebalan bahan dan jarak penyinaran terhadap kuat tarik diametral resin komposit tipe bulk fill.
EFEK EKSTRAK JAHE PUTIH KECIL 70% TERHADAP NILAI KEKERASAN BASIS RESIN AKRILIK Aserina Julianti Dwimartha; Debby Saputera; Titis Fitri Wijayanti
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT      Background : The hardness of denture base can be affected by the way a patient cleans the denture, one of them is the selection of denture cleansers. The alternative using natural ingredients currently developed in order to minimize side effects arising from synthetic materials. Small ginger is one of the medicinal plants also known have antifungal activity that can be used as denture cleanser. Purpose: The research purpose is to know the change of hardness acrylic resin after being immersed in 70% small ginger for 1 day 21 hours and 40 minutes. Method: This research is pure experimental research by pre-test and post-test with control group design using 21 specimens cylindrical heat cured acrylic resin with 30 mm diameters and 5 mm thickness which divided into three groups: 70% small ginger extract (experimental), alkaline peroxide (positive control) and akuades (negative control). Result: The hardness was measured before and after immersion using Vicker Hardness Tester. The average value of heat cured acrylic hardness change after immersion in the small ginger extract 70%, alkaline peroxide and aquades were (0,24), (0,24) and (0,15), respectively. Data were statistically analyzed by parametric test One Way ANOVA and Pos HOC LSD Test. Conclusion: There was no difference of hardness change between small ginger extract 70% with alkaline peroxide solution as denture cleanser, but there was difference of hardness change between small ginger extract 70% with aquades for 1 day 21 hours 40 minutes. ABSTRAK      Latar Belakang: Kekerasan basis gigi tiruan dapat dipengaruhi cara pasien membersihkan gigi tiruan salah satunya pemilihan pembersih gigi tiruan. Alternatif saat ini dikembangkan bahan alami untuk meminimalisir efek samping yang ditimbulkan dari bahan sintetik. Jahe putih kecil adalah tanaman obat yang memiliki aktivitas antifungal yang dapat digunakan sebagai pembersih gigi tiruan. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan kekerasan resin akrilik setelah direndam dalam jahe putih kecil 70% selama 1 hari 21 jam 40 menit. Metode dan bahan: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan pretest and posttest with control group design, menggunakan 21 spesimen resin akrilik heat cured  berbentuk silinder diameter 30 mm dan tebal 5 mm yang dibagi ke dalam 3 kelompok: ekstrak jahe putih kecil 70% (perlakuan), alkaline peroxide (kontrol positif) dan akuades (kontrol negatif). Hasil penelitian: Uji kekerasan dilakukan menggunakan Vicker Hardness Tester. Rerata nilai perubahan kekerasan resin akrilik tipe heat cured setelah direndam dalam kelompok ekstrak jahe putih kecil 70%, alkaline peroxide dan akuades berturut-turut sebesar (0,24) (0,24) dan (0,15). Data dianalisis secara statistik menggunakan uji parametrik One Way ANOVA dan uji Post Hoc LSD. Kesimpulan: Hasil penelitian tidak terdapat perbedaan kekerasan antara ekstrak jahe putih kecil 70% dengan larutan alkaline peroxide sebagai denture cleanser setelah dilakukan perendaman selama 1 hari 21 jam 40 menit.
EFEKTIVITAS SENYAWA FENOL EKSTRAK UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) TERHADAP BAKTERI MIX SALURAN AKAR Luthfie Haq; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Isyana Erlita
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Root canal treatment is a treatment to maintain the health of dental pulp which has been infected in order to avoid from being re-contaminated by the bacteria. Mix bacteria can be found in the root canal, and it consists of gram-positive and gram-negative bacteria. Dayak onion bulb has antibacterial nature because of its phenol content. Phenol compound has been proven to inhibit the growth of gram-positive and gram-negative bacteria. Purpose: This study aims to find out the effectivity of phenol compounds from Dayak onion extract (Eleuthherine palmifolia (L) Merr) to the growth of root canal mix bacteria. Method:  This study used a pure experimental study with the design of posy-test only with control design. The number of samples used was 25, consisting of 5 groups. Result: The inhibit zone produced by phenol compounds of Dayak onion extract with concentrations of 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, 90 mg/ml and 5.25% NaOCl to the root canal mix bacteria in sequence had the average of 13,32 mm, 16,55 mm, 21,31 mm, 27,08 mm, 24,55 mm. One Way Anova test result and Post Hoc LSD test obtained the value p=0,000 (p<0,05). It proves that there are differences of antibacterial activity of each phenol compound extract of Dayak onion 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, 90 mg/ml and NaOCl 5.25% against mix bacteria on the root canal. Conclusion: Phenol compounds on the Dayak onion extract has been proven able to inhibit the growth of root canal mix bacteria.ABSTRAKLatar Belakang: Perawatan saluran akar merupakan perawatan untuk mempertahankan kesehatan pulpa gigi yang telah terinfeksi agar tidak terkontaminasi ulang oleh bakteri. Pada saluran akar dapat ditemukan bakteri mix yang terdiri dari bakteri gram positif dan gram negatif. Umbi bawang dayak memiliki sifat antibakteri karena kandungan fenol yang dimilikinya. Fenol telah terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif maupun gram negatif. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas senyawa fenol ekstrak umbi bawang dayak (Eleuthherine palmifolia (L) Merr) terhadap pertumbuhan bakteri mix saluran akar. Metode: Penelitian eksperimental murni  dengan rancangan post-test only with control design. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 25 buah, yang terdiri dari 5 kelompok. Hasil penelitian: Zona hambat yang dihasilkan oleh senyawa fenol ekstrak umbi bawang dayak dengan konsentrasi 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, 90 mg/ml dan NaOCl 5,25% terhadap bakteri mix saluran akar secara berurutan memiliki rerata sebesar 13,32 mm, 16,55 mm, 21,31 mm, 27,08 mm, 24,55 mm. Hasil uji One Way Anova dan uji Post Hoc LSD  didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05). Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan aktivitas antibakteri setiap perlakuan senyawa fenol ekstrak umbi bawang dayak 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, 90 mg/ml dan NaOCl 5,25% terhadap bakteri mix saluran akar. Kesimpulan: Senyawa fenol ekstrak umbi bawang dayak terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri mix saluran akar.
EFEK PERENDAMAN MINUMAN PROBIOTIK TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTIK LEPASAN STAINLESS STEEL Peniasi Peniasi; Diana Wibowo; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Background: Stainless steel orthodontic wire is widely used because have a relatively high durability and ease of use. Resilience is the ability of a wire to move in the direction specified after activation. Factors that can affect the resilience of orthodontic wire in the oral cavity is acid content from probiotic drinks. Probiotic drinks are beverages containing lactic acid bacteria (C3H6O3) that can live in stomach acid. Consuming probiotic drinks can cause the release of nickel ions (Ni) and chromium (Cr) on the wire. Purpose: This study aims to determine changes in resistance of orthodontic stainless steel orthodontic resilience to immersion in probiotic drinks for 13 hours at 37 ° C. Method: The research type was the correct experimental study with pre and post test with control group design consisting of 2 groups, that group of probiotic drinking treatment and saline solution control group. The sample in this study 20 samples divided into 2 groups, and the measurement of resilience using gauge force meter. Result: Research data then analyzed by Independent parametric test (t-test) and Independent test (t-tes) result obtained showed value (p> 0,05). Conclusions: there is no alteration of resilience on stainless steel removable orthodontic wire soaked in probiotic drink after immersion for 13 hours with temperature 37˚C.ABSTRAKLatar belakang: Kawat ortodontik stainless steel merupakan kawat yang banyak digunakan karena memiliki daya lenting relatif tinggi serta pemakaian yang  nyaman. Daya lenting merupakan kemampuan suatu kawat untuk bergerak kearah yang ditentukan setelah dilakukannya aktivasi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi daya lenting kawat ortodontik dalam rongga mulut yaitu kandungan asam dalam minuman probiotik. Minuman probiotik merupakan minuman yang mengandung bakteri asam laktat (C3H6O3) yang mampu hidup dalam asam lambung. Banyaknya mengkonsumsi minuman probiotik dapat menyebabkan pelepasan ion nikel (Ni) dan kromiun (Cr) pada kawat. Tujuan penelitian: Mengetahui adanya perubahan daya lenting pada kawat ortodontik lepasan stainless steel terhadap perendaman dalam minuman probiotik selama 13 jam dengan suhu 37˚C. Metode dan Bahan: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian true eksperimental dengan rancangan pre and post test with control group design yang terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan minuman probiotik dan kelompok kontrol larutan salin. Jumlah sampel dalam penelitian ini 20 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok, dan pengukuran daya lenting menggunakan alat gauge force meter. Hasil penelitian: Data penelitian kemudian dianalisis dengan uji parametrik Dependent (t-tes) dan uji Independent (t-tes) hasil yang didapatkan menunjukan nilai (p>0,05 ). Kesimpulan: Tidak terdapat perubahan daya lenting pada kawat ortodontik lepasan stainless steel yang direndam dalam minuman probiotik  setelah dilakukan perendaman selama 13 jam dengan suhu 37º C.
AKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH DENGAN KLORHEKSIDIN TERHADAP Candida albicans PADA PLAT AKRILIK Hafiz Rakhmatullah; Debby Saputera; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT            Background: Denture stomatitis is inflammation disease the denture wearer characterized by erythema and edema under the denture. Buildup of food residue on denture acrylic-based resins are not cleaned can cause halitosis, bad for health of oral tissues and can increase number of microorganisms in oral cavity such as the fungus Candida albicans and can be treated with the use of mouthwash chlorhexidine gluconate 0.2%. Leaves starfruit (Avverhoa blimbi L.) has tannin, flavonoids and saponins which have antifungal effect against Candida albicans. Purpose: To determine the inhibitory activity of the methanol extract of leaves of starfruit with chlorhexidine against Candida albicans in heat cure acrylic plate. Methods: This experimental research using post test only control group design with 6 treatment groups, namely methanol extract of leaves of starfruit 20%, 40%, 60%, 80%, 100% and 0.2% chlorhexidine gluconate and carried out 5 times repetition. Testing antifungal effect diffusion method. Data analysis using Kruskal-Wallis and Mann Whitney test at 95% confidence level. Results: In this study showed that methanol extract of leaves starfruit 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, and 0.2% chlorhexidine gluconate has an average of radical zone sequentially by 10.48 mm, 13 31 mm, 15.27 mm, 17.29 mm, 20.26 mm, 22.22 mm. Conclusion:Based on the results of this study concluded that the methanol extract of leaves of starfruit concentration of 100% have a zone of inhibition greater than the concentration underneath but did not exceed the effects of chlorhexidine against Candida albicans in heat cure acrylic plateABSTRAK            Latar Belakang: Denture stomatitis adalah keradangan yang terjadi pada pemakai gigi tiruan ditandai dengan adanya eritema dan edema di bawah gigi tiruan. Penumpukan sisa makanan pada gigi tiruan berbasis resin akrilik yang tidak dibersihkan dapat menyebabkan halitosis, berdampak buruk bagi kesehatan jaringan rongga mulut dan dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme dalam rongga mulut seperti jamur Candida albicans dapat diobati dengan penggunaan obat kumur chlorhexidine gluconate 0,2%. Daun belimbing wuluh (Avverhoa blimbi L.) memiliki senyawa tanin, flavonoid, dan saponin yang memiliki efek antijamur terhadap Candida albicans. Tujuan: Untuk mengetahui aktivitas daya hambat ekstrak metanol  daun belimbing wuluh dengan chlorhexidine terhadap Candida albicans pada plat akrilik heat cure. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post test only with control group design dengan 6 kelompok perlakuan, yaitu ekstrak metanol daun belimbing wuluh 20%, 40%, 60%, 80%, 100% dan chlorhexidine gluconate 0,2% dan dilakukan 5 kali pengulangan. Pengujian efek antijamur menggunakan metode difusi. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun belimbing wuluh 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, dan chlorhexidine gluconate 0,2%  memiliki rata-rata zona radikal secara berurutan sebesar 10,48 mm, 13,31 mm, 15,27 mm, 17,29 mm, 20,26 mm, 22,22 mm. Kesimpulan: Bahwa ekstrak metanol daun belimbing wuluh konsentrasi 100% memiliki zona hambat yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi di bawahnya, tetapi tidak melebihi efek dari chlorhexidine terhadap Candida albicans pada plat akrilik heat cure
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT PEROKOK (Tinjauan pada Siswa SMA/Sederajat di Kota Banjarbaru) Jeanyvia Anggreyni Sodri; Rosihan Adhani; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Smoking habits were known to have adverse health effects, but prevalence has continue to increase each year. Nationally, the average age  to start smoking was 17.6 years by education status including at high school level. The content of the cigarette can interfere with the function of saliva as self cleansing so it will affect health status and oral hygiene. Smokers behaviors in maintaining oral health tend to be bad. Purpose: Analyze the relationship between knowledge, attitude and action of dental and oral health with oral hygiene status in smokers. Method: Observational analytic study with cross sectional approach. Sampling using cluster sampling, with the number of respondents as many as 120 smokers. Results:Most smokers had moderate oral hygiene status of 71 persons (59.2%), 51 persons had moderate knowledge, 57 persons (47.5%) had an attitude with good category, and as many as 59 persons (49,2%) had medium and oral hygiene measures. Spearman Rho test results showed a significant relationship between knowledge, attitude and action of dental and oral health with oral hygiene status of smokers.Conclusion: There is a significant relationship between knowledge, attitude and action of dental and mouth health with hygiene status of oral cavity of smoker. ABSTRAKLatar belakang: Kebiasaan merokok diketahui berdampak buruk pada kesehatan, akan tetapi prevalensi terus meningkat tiap tahunnya. Secara nasional, rata-rata umur mulai merokok adalah 17,6 tahun menurut status pendidikan termasuk pada tingkat SMA. Kandungan yang ada pada rokok dapat mengganggu fungsi saliva sebagai self cleansing sehingga akan berpengaruh terhadap status kesehatan dan kebersihan rongga mulut. Perilaku merokok serta perilaku kesehatan gigi dan mulut perokok yang cenderung buruk dapat mempengaruhi status kebersihan rongga mulut. Tujuan: Menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut pada perokok Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan cluster sampling, dengan jumlah responden sebanyak 120 orang perokok.Hasil penelitian: Jumlah tertinggi adalah perokok yang memiliki status kebersihan rongga mulut dengan kategori sedang sebanyak 71 orang (59,2%), sebanyak 51 orang memiliki pengetahuan dengan kategori sedang, sebanyak 57 orang (47,5%) memiliki sikap dengan kategori baik, dan sebanyak 59 orang (49,2%) memiliki tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori sedang. Hasil uji Spearman Rho menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut perokok. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut perokok.
PERBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI SUBGINGIVA BERDASARKAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA (Tinjauan Mahasiswi FKG ULM Angkatan 2014) Sari Rahmita; Widodo Widodo; Rosihan Adhani
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Menstruasi merupakan suatu siklus reproduksi yang normal terjadi pada wanita yang mengakibatkan perubahan hormonal. Selama menstruasi terdapat hormon seks yang berpengaruh yaitu estrogen dan progesteron. Perubahan hormon estrogen dan progesteron dapat terjadi peradangan gingiva dan menjadi lingkungan yang baik bagi mikroorganisme dan diidentifikasi sebagai pemicu terjadinya penyakit periodontal. Tujuan: Menganalisis perbedaan jumlah koloni bakteri subgingiva berdasarkan siklus menstruasi pada wanita. Metode dan Bahan: penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 30 orang sampel dengan menstruasi yang normal. Sampel plak subgingiva diambil dengan 3 kali pengambilan yaitu pada pra menstruasi, menstruasi, post menstruasi. Hasil penelitian: Hasil penelitian didapatkan jumlah koloni bakteri plak subgingiva yang tertinggi pada menstruasi yaitu 60,23 cfu, pra menstruasi 56,23 cfu dan pada post menstruasi 34,77 cfu. Hasil penelitian dari struktur dan morfologi bakteri plak subgingiva pada siklus menstruasi adalah coccus (+), diikuti basil (-). Hasil analisis data pada  pra menstruasi dengan menstruasi tidak memiliki perbedaan yang signifikan karena didapat nilai sig. yang dihasilkan, yaitu 0,420 (p>0,05). Sedangkan antara pra menstruasi dengan post menstruasi dan antara menstruasi dengan post menstruasi didapat nilai 0.000 (p<0,005) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan. Kesimpulan: Terdapat perbedaan jumlah koloni bakteri subgingiva berdasarkan siklus menstruasi pada wanita.  Kata-kata kunci:Jumlah koloni bakteri subgingiva, menstruasi, post menstruasi, pra menstruasi  ABSTRACTBackground: Menstruation is a normal reproductive cycle that occurs in women that cause hormonal changes. During menstruation there are sex hormones that influence estrogen and progesterone. Changes in the hormones estrogen and progesterone can occur gingival trade and become a good environment for microorganisms and identified as triggers of periodontal disease. Purpose: Compare the amount of subgingival bacterial colonies based on the menstrual cycle in women. Material and methods: This study was an observational analytic cross-sectional approach conducted on 30 samples with normal menstruation. Subgingival plaque was performed with 3 times of menstruation, menstruation, post menstruation. Research result: The results showed that the highest subgingival plaque colonies in menstruation were 60.23 cfu, pre menstruation 56.23 cfu and 34.77 cfu menstrual post. The results of the structure and morphology of subgingival plaque on the menstrual cycle were coccus (+), followed by bacillus (-). While between menstrual period with menstrual post and between menstruation with post menstruasi get value 0.000 (p <0,005) which mean there is significant difference. Conclusion: There is a difference in the number of subgingival bacterial colonies based on the menstrual cycle in women.Keywords: Amount of subgingival bacterial colonies, menstruation, post menstruation, pra menstruation
HUBUNGAN ANTARA ORAL HYGIENE PADA WANITA PASKAMENOPAUSE DENGAN SKOR GINGIVAL INDEKS DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI SEJAHTERA BANJARBARU Dayanne Sembiring; Rosihan Adhani; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Menopause adalah bagian dari kehidupan seorang wanita yang ditandai dengan berakhirnya menstruasi sebagai salah satu tanda penuaan. Pada wanita paska menopause terjadi penurunan hormon estrogen. Penurunan hormon estrogen berpengaruh pada memburuknya kondisi oral hygiene yang dapat menyebabkan atau memperparah penyakit gingivitis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara oral hygiene pada wanita paskamenopause dengan skor gingival indeks di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada 46 wanita paska menopause di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru pada bulan Desember 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan indeks OHI-S dan Gingival Indeks, dilanjutkan analisa data dengan Shapiro-Wilk. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar wanita paskamenopause di Panti Sosial Tresna Werdha memiliki oral hygiene dalam kategori sedang sebanyak 28 orang (60,5%) dan sebanyak 22 orang (47,8%) mengalami gingivitis ringan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara oral hygiene pada wanita paskamenopause dengan skor gingival indeks di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. ABSTRACTBackground: Menopause is part of a woman's life marked by the end of menstruation as one sign of aging. In postmenopausal women there is a decrease in estrogen hormone. Decreased estrogen hormone affects the deterioration of oral hygiene conditions that can cause or aggravate gingivitis. Purpose: This study aims to determine the relationship between oral hygiene in postmenopausal women with a score of gingival index in Social Institution Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Method: This was an observational analytic study with cross sectional approach, using simple random sampling. The study was conducted on 46 postmenopausal women at Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Social Institution in December 2017. Data collection was done by examining OHI-S index and Gingival Index, followed by data analysis with Shapiro-Wilk. Results: The results showed that most postmenopausal women in the Tresna Werdha Social Institution had oral hygiene in the moderate category of 28 people (60.5%) and 22 (47.8%) had mild gingivitis. Conclusion: There is a relationship between oral hygiene in postmenopausal women with a gingival index score in social home Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru.
EFEKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN DIBANDINGKAN KLORHEKSIDIN GLUKONAT 0,2% TERHADAP Staphylococcus aureus (Penelitian In Vitro pada Plat Resin Akrilik Tipe Heat Cured) Moehammad Rezaldi Panesa; Debby Saputera; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK                Bakcground: Cherry leaf (Muntingia calabura linn) has an active substance that can inhibit Staphylococcus aureus growth and can use alternative to denture cleanser on a plate heat cured type of acrylic resine. 0,2%  chlorhexidine gluconate is often used for denture cleanser but causes tooth discolorition. Purpose: This  research is to analyze inhibition effectivity of cherry leaf extract with concentration 5%, 7,5% and  0,2% chlorhexidine gluconate to Staphylococcus aureus growth on acrylic resine plate type of  heat cured. Methods: Experimental research use post-test only with control group design. 27 acrylic resine plate type of heat cured samples were divided into 3 groups (cherry leaf extract 5%, 7,5% and 0,2% chlorhexidine gluconate). Data analyse use One Way ANOVA test and continued with Post Hoc Benferroni test in confidence level of 95% (P<0,05).  Result: This result showed inhibition zone of cherry leaf extract 5%, 7,5% and 0,2% chlorhexidine gluconate are 13,34 mm, 16,35 mm and 27,32 mm. One Way ANOVA test showed that there are significant differences between the effectivity of the inhibition zona of cherry leaf extract with concentration 5%, 7,5% and 0,2% chlorhexidine gluconate. Conclusion: There are differences in the effectivity of cherry leaf compared with 0,2% chlorhexidine gluconate to Staphylococcus aureus on resine acrylic type of heat cured. Inhibition effectivity of cherry leaf extract with concentration  7,5% greater than 5%, but ts still smaller than 0,2% chlorhexidine gluconate. ABSTRACK                        Latar Belakang: Daun kersen (Muntingia Calabura linn) memiliki zat aktif yang mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan dapat digunakan sebagai alternatif pembersih gigi tiruan. Klorheksidin glukonat 0,2% sering digunakan untuk pembersihan gigi tiruan dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi asli maupun buatan. Tujuan: penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas daya hambat ekstrak daun kersen konsentrasi 5%, 7,5%, dengan klorheksidin glukonat 0,2% terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dalam perendaman plat resin akrilik tipe heat cured. Metode: Penelitian eksperimental menggunakan rancangan post-test only with control group design. Sampel berjumlah 27 plat akrilik heat cured dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan (ekstrak daun kersen 5%, ekstrak daun kersen 7,5%, dan klorheksidin glukonat 0,2%). Analisis data menggunakan uji One Way ANOVA dan dilanjutkan uji Post Hoc Benferroni dengan tingkat kepercayaan 95% (P<0,05). Hasil: perlakuan ekstrak daun kersen konsentrasi 5% dan 7,5% ini menunjukkan zona hambat secara berurutan 13,34mm dan 16,35mm dan zona hambat klorheksidin glukonat 0,2% sebesar 27,32mm. Uji One Way ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara efektivitas daya hambat ekstrak daun kersen konsentrasi 5%, 7,5%, dan klorheksidin glukonat 0,2%. Kesimpulan: terdapat perbedaan efektivitas daun kersen dibandingkan klorheksidin glukonat 0,2% terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dalam perendaman plat resin akrilik tipe heat cured. Efektivitas daya hambat ekstrak daun kersen 7,5% lebih besar dibandingkan 5% tetapi masih lebih kecil dibandingkan klorheksidin glukonat 0,2%.

Page 1 of 3 | Total Record : 21