cover
Contact Name
Fatmala Sari Okaviani
Contact Email
fatmala.oktaviani@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gentabahterakepri@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Genta Bahtera : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan
ISSN : 25032135     EISSN : 26561085     DOI : -
Core Subject : Education,
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan is a journal of language studies published by Language Agency of Kepulauan Riau (Kantor Bahasa Kepulauan Riau). It is a research journal which publishes various research reports, literature studies, and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics, and other scientific fields related to language studies.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2017): Juni" : 10 Documents clear
ANALISIS NILAI MORAL DALAM CERITA BERSAMBUNG “MBURU PUSAKA” KARYA AL ARIS PURNOMO Herlina Setyowati; Eko Santosa
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3594.105 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.2

Abstract

Karya sastra sebagai salah satu hasil kebudayaan manusia tentunya sangat menarik untuk dikaji kandungan pesan moralnya. Nilai-nilai pesan moral yang terdapat dalam cerita bersambung tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Dalam penelitian ini, cerita bersambung yang diteliti berjudul “Mburu Pusaka” karya Al Aris Purnomo yang dimuat di Majalah Jaya Baya. Cerita bersambung “Mburu Pusaka” ini dimuat bagian demi bagian dari episode 1 sampai 23, yaitu sejak edisi nomor 06  Bulan Oktober 2014 sampai dengan edisi nomor 27 Bulan Maret 2015. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan kandungan nilai moral di dalam cerita bersambung “Mburu Pusaka” karya Al Aris Purnomo. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pustaka dan teknik catat. Dalam teknik analisis data, peneliti menggunakan metode content analysis (analisis isi). Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa cerbung “Mburu Pusaka” karya Al Aris Purnomo mengandung nilai moral baik meliputi sopan, ramah, percaya adanya Tuhan, menghormati perbedaan pendapat, peduli, rendah hati, akrab antara atasan dan bawahan, menghormati orang lain, mempunyai prinsip hidup, mengutamakan orang lain, bijaksana, jujur, dan cerdik; sedangkan nilai moral buruk meliputi mudah percaya pada orang lain, sakit hati pada orang lain, menukar barang milik orang lain, dan licik. Kata kunci: nilai moral, cerita bersambung Literary work is one people cultures which is very interesting to be analyzed in terms of its moral values. Moral values found inside this serial story can become life guidance and it can be applied in daily life. In this research, the serial story which is going to be analysed entitles Mburu Pusaka (hunting for heritage) written by al Aris Purnomo contained in Jaya Baya magazine. This story is contained part by part from episode 1 until episode23, since edition number 06 month of October 2014 until edition number 27 month of March 2015. The aim of this research is to describe the moral values found in serial story of Mburu Pusaka written by Al Aris Purnomo. Data collecting tecniques used are literary and documentary note-taking analysis. Data analysis technique used is content analysis method. Based on reserach result, it is found out that the Mburu Pusaka story contains good moral values such as polite, friendly, respecting different opinions, care, humble, being chummy between boss and staff, respecting others, accentuating others, wise, honest, and smart while bad moral values such as easily believing in others, resentful to othres, exchange other’s goods, and sly.
PEMBERDAYAAN BAHASA INDONESIA DALAM USAHA PENGURANGAN BENTUK CAMPUR KODE BAHASA JEPANG KE DALAM BAHASA INDONESIA Mhd. Pujiono
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.916 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.7

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas tentang campur kode yang terjadi dalam masyarakat bilingual seperti di kalangan warga keturunan Jepang Indonesia di kota Medan. Campur kode bahasa Jepang di dalam bahasa Indonesia tersebut sangat sulit dihilangkan. Hal ini disebabkan karena warga keturunan memiliki dua bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualiatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik angket dan catat. Untuk mengetahui seberapa besar campur kode yang terjadi di kalangan warga keturunan Indonesia-Jepang, diperlukan sebanyak 20 orang sebagai informan warga keturunan Indonesia-Jepang. Hasil yang diperoleh dari angket yang dibagikan, campur kode bentuk leksikal sebanyak 75%, campur kode bentuk frasa sebanyak 8,3% dan campur kode bentuk klausa sebanyak 16,7%. Untuk mengurangi terjadinya campur kode di kalangan warga keturunan Indonesia-Jepang tersebut, diperlukan suatu pemberdayaan bahasa Indonesia. Salah satu bentuk pemberdayaan tersebut adalah menanamkan rasa prestise (bangga) dan loyalitas terhadap penggunaan bahasa Indonesia di kalangan warga keturunan Jepang Indonesia. Dengan loyalitas itu, bahasa Indonesia akan diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di lingkungan warga keturunan Indonesia-Jepang dan juga dalam upacara-upacara yang berhubungan dengan budaya. Kata kunci : campur kode, warga keturunan, pemberdayaan  AbstractThis research elaborates the code mixing occurs in bilingual society of Japanese Indonesian descendents in Medan city. Japanese code mixing in bahasa Indonesia is difficult to avoid. This is due to the situation where the Japanese Indonesian descendants have two mother tongues: Indonesian and Japanese. The method used in this research was descriptive qualitative. The technique of collecting data used was questionnaire and note taking. In order to reveal the sheer of code mixing occurs amongst Indonesian Japanese descendants, 20 informants were required. The result obtained from the distributed questionnaires reveals that lexical code mixing is 75%, phrase code mixing is 8, 3% and clause code mixing is 16, 7%. In order to reduce the code mixing amongst the Indonesian-Japanese descendants, the empowerment of bahasa Indonesia is urgently required. One of the empowerments is by instilling the prestige and allegiance toward the use of bahasa Indonesia amongst Indonesian Japanese descendants. With the allegiance, bahasa Indonesia will eventually bestowed upon generation to generation. Besides that, utilizing bahasa Indonesia to become the medium of instruction within the environment of Indonesian Japanese descendants and in cultural ceremonies will also assist to empower bahasa Indonesia within the Indonesian Japanese descendants society in Medan.  Key words: code mixing, Japanese descendants, empowerment
DIKSI DALAM MANTRA BAHASA BANJAR Hestiyana Hestiyana
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2448.094 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.3

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan diksi dalam mantra bahasa Banjar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan (1) metode simak, baik simak libat cakap atau simak bebas libat cakapdan(2) teknik catat. Teknik wawancara juga digunakan dalam mengumpulan data.Analisis data dilakukan dengan pengkajian setiap teks naskah mantra untuk melihat keseluruhan gejala kelainan bahasa. Setelah dilakukan penelitian secara mendalam mengenai diksi dalam mantra bahasa Banjar dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini masyarakat Banjar masih ada yang mempercayai mantra. Mantra ini menjadi alternatif pilihan pengobatan penyakit yang sering dialami sehari-hari. Dari hasil penelitian jugaditemukan adanya penggunaan pilihan kata atau diksi. Pilihan kata atau diksi mencakup diksi dengan makna denotatif, diksi dengan makna konotatif, diksi dengan makna sinonim, diksi dengan makna antonim, diksi dengan makna homonim, diksi dengan simbol-simbol agama, dan diksi yang berhubungan dengan budaya. Kata kunci: diksi, mantra,bahasa Banjar  AbstractThis study aims to describe diction in spell in Banjar language. This research uses descriptive method with qualitative approach to analyze the data. Data is collected using (1) listening methods, either conversation engage listening or conversation engage free listening and (2) log writing technique. Interview technique is also used in gathering data. Data analysis is performed by studying each manuscripts of spells to find out the overall symptoms of language disorders. After in-depth research on diction in spellin Banjar languageit can be concluded that up to now there are people in Banjar community who believe inspell. Spell has become an alternative treatment that is often used for commondisease. The research finds out that there isapplicationof word choice or diction. Diction includes diction with denotative meaning, connotative meaning, synonym meaning, antonym meaning, homonym meaning, religious symbolic meaning, and cultural meaning. Key words: diction, spell, Banjar language
STUDI KOMPARASI EMIK DAN ETIK MASYARAKAT TERHADAP MENJAMURNYA TAYANGAN DRAMA ASING DI INDONESIA: KAJIAN ANTROPOLOGI KONTEMPORER Siti Maryam
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2668.022 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.8

Abstract

AbstrakBahasa merupakan suatu hal yang telah membuat manusia menjadi makhluk istimewa. Sejak lahir, setiap manusia telah dibekali dengan alat akuisisi bahasa yang sering diistilahkan dengan Language Acquisition Device (LAD). Seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi yang semakin maju, semakin berkembang pula dunia perfilman di setiap negara, terutama negara India, Korea, Amerika Latin, Filipina, dan Turki. Seperti yang kita lihat, belakangan ini sekitar tahun 2014 sampai sekarang, drama-drama India, Korea, Amerika Latin, Filipina, dan Turki yang sedang marak di layar kaca Indonesia. Dalam hal ini, karena semakin maraknya drama-drama luar, maka banyak sekali pengaruh yang ditimbulkan drama-drama tersebut kepada masyarakat Indonesia terutama para remaja, misalnya karena sering menonton drama Korea mereka jadi mengikuti gaya bicara, berpakaian, dan bahasanya seperti, Annyeong Haseyo (Hallo), Gamsamhamnida (Terima Kasih), Mianhae (Maaf), dan masih banyak lagi. Hal serupa juga sama dilakukan bagi masyarakat yang menyukai drama India, Amerika Latin, Filipina, dan Turki. Tidak disangka dari drama tersebutlah budaya dari negara-negara tersebut jadi semakin dikenal oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dianggap penting untuk melakukan kajian tentang persepsi masyarakat terkait menjamurnya drama asing di Indonesia sebagai bahan informasi untuk menambah wawasan masyarakat. Adapun drama yang dimaksud terwujud dalam bentuk film, sebab antara film dengan drama memiliki persamaan terutama dalam ihwal bentuk tayangan dan konten yang disajikan. Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya berbagai persepsi di tengah masyarakat yang menikmatinya. Kata kunci: komparasi, emik dan etik, drama asing, antropologi kontemporer  AbstractLanguage is something that has made human a special being. Since birth, every human has been equipped with language acquisition tools that are often called the Language Acquisition Device (LAD). Along with the development of the era and the progress of technology, the more developed the world of cinema in every country, especially India, Korea, Latin America, Philippines, and Turkey. As we see, lately around 2014 until now, the dramas of India, Korea, Latin America, Philippines, and Turkey are often broadcasted on the Indonesian television. In this case, since the increase of the widespread of foreign dramas, many influences caused by those dramas to Indonesian, especially the teenagers. For instance because of watching Korean dramas, the youth follow the style of speech, dressing, and language like, Annyeong Haseyo (Hallo), Gamsamhamnida (Thank You), Mianhae (Sorry), and so on. The same is also true for people who love India, Latin America, Philippines, and Turkey dramas. Unexpectedly, based on those dramas, the culture of those countries become increasingly recognized by Indonesian people. Therefore, it is considered important to conduct a study on public perceptions related to the proliferation of foreign dramas in Indonesia as an information material to increase community insight. About dramas is being in the film, causes between film and dramas having the same is the structure of showing and content. That’s same be the caused of perception variated in the people community.  Key words: comparation, emik and ethics, foreign drama, contemporary anthropology
MORFOLOGI CERITA RAKYAT MAK YONG DAERAH KAMPUNG MATANG ARANG, KECAMATAN BINTAN TIMUR, KEPULAUAN RIAU Riau Wati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2228.297 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.4

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengambil karya sastra seni peran Mak Yong sebagai objek penelitian dan pokok masalah yang menjadi penelitian berkaitan dengan penyebaran fungsi tokoh cerita rakyat Mak Yong, berdasarkan teori strukturalisme Vlademir Propp, karena pembahasan terhadap karya sastra lama tersebut masih tergolong sedikit dan teori Vladimir Propp belum pernah diuji dalam cerita rakyat Mak Yong oleh peneliti sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode pustaka, metode deskripsi dan metode struktural, karena berdasarkan metode tersebut dapat segera dikemukakan hasil penelitian, disertai pertanggungjawaban mengenai alasan pemilihan metode tersebut. Berdasarkan hasil penelitian (1) fungsi pelaku menjadi unsur yang stabil dan tetap di dalam sebuah cerita tanpa memandang bagaimana dan siapa yang melakukannya, (2) fungsi pelaku yang diketahui jumlahnya terbatas, (3) urutan fungsi pelaku di dalam cerita rakyat selalu sama dan (4) sebuah cerita rakyat memiliki kesamaan jika dipandang dari struktural. Kesimpulannya, hasil penelitian yang ditemui dalam cerita rakyat Mak Yong tidak ada perbedaan antara hasil penelitian fungsi pelaku menurut Vladimir Propp. Kata kunci: morfologi, foklor, Mak Yong  AbstractThis research took the literary work of art of the role of Mak Yong as the research object and the subject matter of the research related to the deployment of the function figure folklore Mak Yong, based on the theory of structuralism Vlademir Propp, for a discussion of the work of old literature is still quite a bit and the theory of Vladimir Propp has not been tested in folklore Mak Yong by previous researchers. This study uses literature, method descriptions and structural methods, as based on the method can be immediately presented results of the study, along with the accountability of the reasons for the selection of the method. Based on the results of the study (1) the function of the perpetrator becomes an element that is stable and remains in a story regardless of how and who did it, (2) the function of the perpetrators are known to a limited number, (3) the order of the functions actors in folklore is always the same and ( 4) a folklore have in common when viewed from the structural. In conclusion, the results encountered in folklore Mak Yong is no difference between the results of research actors function according to Vladimir Propp.  Key words: morphology, folklore, and Mak Yong
VARIASI DAN REKONSTRUKSI FONOLOGIS ISOLEK KERINCI: STUDI DIALEKTOLOGI DIAKRONIS DI KECAMATAN BUKIT KERMAN Rengki Afria
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3831.707 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.9

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis perbedaan-perbedaan kecil dalam sebuah dialek/ bahasa dengan teori dialektologi. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan variasi-variasi fonologis, merekonstruksi fonologis, menjelaskan inovasi dan retensi yang terdapat pada isolek Pulaupandan, Pengasi dan Muak. Penelitian deskriptif ini bersifat sinkronis dan diakronis dengan pendekatan secara kualitatif-kuantitatif.  Metode Pengumpulan data menggunakan metode cakap dan metode simak. Analisis data menggunakan metode padan fonetis artikulatoris dengan teknik pilah sebagai teknik dasar serta teknik hubung banding sebagai teknik   lanjutan,    sedangkan    untuk   menentukan    status   kebahasaan   dan   persentase kekerabatan  digunakan  metode  dialektometri.  Penyajian  hasil  analisis  data  digunakan metode formal dan metode informal. Berdasarkan hasil analisis sinkronis ditemukan variasi- variasi bunyi, yakni [a], [aɁ], [i], [u], [e], [ә], [o], [oɁ], [aw], [ew], [iy], [p], [b], [t], [k], [g], [m], [n], [ŋ], [ɲ], [s], [d], [h], [Ɂ], dan [l] dalam beberapa posisi. Berdasarkan hasil analisis diakronis ditemukan  fonem  PIBK  dari  hasil  proses  rekonstruksi  protobahasa  pada  posisi  tertentu. Fonem tersebut berupa enam fonem vokal dua gugus bunyi, yaitu vokal */i/, */u/, */e/,*/ә/, */o/ dengan luncuran gugus bunyi /oɁ/, dan */a/ dengan meluncurkan gugus bunyi/aɁ/ ; tujuh diftong */aw/, */ow/, */ew/, */iw/, */uw/ dan */iy/, */әy/ dan sembilan belasfonem konsonan */p/, */b/,*/t/, */k/, */g/, */m/, */n/, */ŋ/, */ɲ/, */s/, */d/, */h/, */Ɂ/,*/l/, */r/, */j/, */c/, */w/, dan */y/. Inovasi fonologis yang ditemukan berdasarkan kaidah perubahan bunyi, seperti: 1) metatesis; 2) afaresis; 3) pemecahan vokal; 4) apokop; dan 5) sinkop. Berdasarkan bukti-bukti sinkronis dan diakronis dengan menggunakan metode dialektometri serta hasil analisis data yang didapatkan di lapangan, IPp dinyatakan sebagai titik pengamatan yang masih mempertahankan isoleknya (konservatif). Kata Kunci: variasi, rekonstrusi, fonologi, dialektologi  Abstract This research analyzed the small differences on dialect/language based on dialectology. The aims of this research are to explain the phonological variation, to reconstruct the phonological, and explain the phonological inovations and retentions found in Pulaupandan, Pengasi and Muak isolect. This descriptive study belongs to synchronic and diachronic with qualitative-quantitative approaches. The collecting of data used conversational  method and participant observational method. Data analysis used phonetic articulatory method with sorting techniques as basic technique and comparating- connecting techniques  as advanced techniques, while to determine the status of language and kinship percentage used dialectometry method. Presenting of data analysis results used formal and informal methods. Based on of the results analysis found variations synchronyc sounds, are, [a], [aɁ], [i], [u], [e], [ә], [o], [oɁ], [aw], [ew] , [iy], [p], [b], [t], [k], [g], [m], [n], [ŋ], [ɲ], [s], [d], [h], [Ɂ], and [l] in some positions.  Based  on  the  results  of  analysis  diachronic  found  PIBK  protolanguage  phoneme  from reconstruction process results in a certain position. That Phonemes form six vowels and two cluster sounds, they are; */i/, */u/, */e/, */ә/, */o/ with a glide group sound /oɁ/, and */a/ with launched cluster sound /aɁ/; seven diphthong */aw/, */ow/, */ew/, */iw/, */uw/ and */iy/, */әy/ and nineteen consonant phonemes */p/, */b/, */t/, */k/, */g/, */m/, */n/, */ŋ/, */ɲ/, */s/, */d/, */h/, */Ɂ/, */l/, */r/, */j/, */c/, */w/, and*/y/. Phonological inovations were found based on the rules of sound changes, such as: 1) metathesis;2) aphaeresis; 3) vowels breaking; 4) apocope; and 5) of syncope. Based on the evidences of synchronicand diachronic with used dialectometry method and the results of the analysis of  data obtained in thefield, IPp expressed as an observation point which still retain its isolect (conservative). Keywords: variation, recontruction, phonology, dialectology
PENAMAAN PULAU-PULAU DI KABUPATEN LINGGA BERDASARKAN KAJIAN TOPONIMI DAN STUDI ETNOLINGUISTIK Rahmat Muhidin; Lia Aprilina
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2170.175 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.5

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas nama-nama pulau di Kabupaten Lingga yang berhubungan dengan sejarah penamaan pulau oleh warga sekitar pulau di Kabupaten Lingga. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan nama-nama pulau di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kajian toponimi dan etnolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi literatur, data sekunder, data survei toponimi pulau, dan pengolahan data sebagai ancangan penelitian penamaan pulau-pulau di Kabupaten Lingga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan pulau di Kabupaten Lingga mengacu pada beberapa indikator: (1) karakter dan potensi pulau; (2) dimensi pulau, bentuk pulau, dan posisi realif pulau; (3) jabatan dan nama orang yang bermukim di pulau tersebut; (4) legenda atas pulau yang bersangkutan; (5) penamaan pulau yang mempunyai maksud untuk memperingatkan, kehati-hatian terhadap sesuatu; (6) pulau pucong; (7) penamaan kumpulan atau jajaran pulau dalam satu nama atau pulau bersangkutan; dan (8) pulau serak artinya tersebar. Kata kunci: penamaan, pulau, toponimi  AbstractThe research discusses names of islands in Lingga District relates to the history naming the island by people around the Lingga District. This research aims to describe names of the islands in Lingga District, Riau Island Province based on toponimy and ethnolinguistics study. The method used in this research was descriptive method and literature study. The data in this research was data secundery, islands toponimy survey data, and data processing as the research design. The result shows that the naming of islands at Lingga District refers to some indicators: (1) character and potention of the island, (2) dimension of the island, (3) title and name of people stay in the island, (4) legend of the island (5) naming of the island aims aim warning, awarness of something, (6) pucong island, (7) naming collection form of the islands into one name, and (8) serak islands or spread islands.  Key words: naming, island, toponimy
REFLEKSI SEJARAH DAN SOSIAL POLITIK DALAM NOVEL PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM Agus Yulianto
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2373.637 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.10

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan unsur-unsur kesejarahan dan realitas sosial politik yang terdapat dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah seperti apakah unsur-unsur sejarah dan realitas sosial politik yang terdapat dalam novel Para Priyayi yang dijadikan sebagai objek kajian. Metode yang digunakan dalam menganalisis novel adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa novel Para Priyayi banyak sekali merefleksikan unsur-unsur kesejarahan baik di zaman Belanda, Jepang, Indonesia merdeka, zaman revolusi sampai pada pemberontakan G-30-S PKI. Demikian juga realitas sosial politik yang terdapat dalam novel merupakan sebuah refleksi yang pernah terjadi Indonesia. Kata kunci: sejarah, novel, sosial politik  AbstractThe purpose of this study is to find out the elements of historical and social-political reality in the novel Para Priyayi by Umar Kayam. The problem of this research is how the elements of history and social-political reality found in the novel Para Priyayi look like which serve as the object of this study. The methodology used in analyzing the novel is descriptive qualitative method by using sociology of literature approach. Based on the analysis from The Priyayi Novel, there are a lot of historical elements in Netherland periode, Jepang, Indonesian freedom, revolution periode, until rebellion of G-30-S PKI. Alsososial politics reality that appear in the novel is a reflection tht exist in Indonesia country.  Key words: History, novel, social politics 
PENENTANGAN LAKI-LAKI MINANGKABAU TERHADAP BUDAYA MINANGKABAU DALAM NOVEL HAMKA Jasril Jasril
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2200.416 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.1

Abstract

Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrialineal yang menempatkan laki-laki pada posisi unik, yaitu tidak memiliki hak warisan atas pusaka turunan dan tidak mewariskan suku kepada anaknya. Dampak perlakuan adat tersebut tidak terlihat secara kasat mata, namun bila dicermati, ditemukan penentangan yang dilakukan oleh laki-laki Minangkabau melalui sastra tradisi seperti pantun, kaba, dan nyanyian. Penelitian ini mencoba melihat sejauh mana novel karya Hamka merefleksikan penentangan laki-laki Minangkabau terhadap budayanya. Pandangan ini berangkat dari asumsi bahwa karya sastra modern (novel) merupakan kelanjutan dari sastra tradisi. Teori yang mendasari kajian ini adalah teori sosiologi sastra dengan menggunakan pendekatan mimesis. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskripstif. Pengumpulan dan penganalisisan data dilakukan secara bersamaan dengan teknik baca-catat-analisis, menggunakan metode content analysis dan metode pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa novel karya Hamka sarat dengan pencerminan sosial budaya Minangkabau. Laki-laki dalam budaya Minangkabau berada pada posisi yang tidak menguntungkan, memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi tidak memiliki hak atas harta pusaka. Oleh sebab itu, laki-laki melakukan penentangan dalam bentuk menolak pulang ke Minangkabau dan meninggalkan Minangkabau. Penentangan yang dilakukan berdasarkan motif agama Islam yang tidak membedakan laki-laki dengan perempuan baik dalam pembagian warisan maupun dalam pernikahan. Kata Kunci: penentangan, laki-laki Minangkabau, budaya Minangkabau, novel Hamka
INTERAKSI SOSIAL PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DALAM CERPEN PARA PEDANSA KARYA M. SHOIM ANWAR: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Ni Nyoman Tanjung Turaeni
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1942.695 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.6

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan relasi sosial antartokoh yang menjadi ciri khusus dalam cerpen Para Pedansa. Dengan melihat unsur instrinsik untuk mengungkap hubungan antartokoh perempuan dan laki-laki dan pandangan laki-laki dan perempuan terhadap kaumnya. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra dan metode deskriptif analisis yaitu memaparkan hubungan interaksi antartokoh laki-laki dan perempuan yang tercermin dalam cerpen tersebut. Hasil analisis dapat diketahui bahwa laki-laki cenderung memiliki kekuasaan atau kekuatan yang lebih dibandingkan perempuan, baik secara fisik, finansial. Hal itu terjadi akibat dari fakta sosial, sikap sosial dari kelompok sosial tertentu, serta kondisi masyarakat modern yang diwarnai proses sosial melalui kelas sosial yang terjadi akibat pengaruh globalisasi. Kata kunci: hubungan antartokoh, cerpen, dan sosiologi sastra  AbstractThis paper aims to reveal the social relation between the characters that characterize Para Pedansa short story. By looking at the intrinsic elements to reveal the interrelation of the characters between women and men and the views of men and women against them. The approach used is the sociology of literature and descriptive analysis method that describes the interaction relations between men and women are reflected in the short story. From the results of the analysis it can be seen that men tend to have more power or strength than women, both physically and financially. It occurs as a result of social facts, social attitudes of certain social groups, and the conditions of modern society characterized by social processes through social classes that occur due to the influence of globalization. Key words: character interrelations, short story, sociologu of leterature

Page 1 of 1 | Total Record : 10