cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Hasil Lomba Esai" : 19 Documents clear
PERATURAN MENTERI ENERGI SUMBER DAYA MINERAL NO 17 TAHUN 2012 SEBAGAI KERANGKA REGULASI PERTAMBANGAN BATU GAMPING BERKELANJUTAN SIPA SILPANA PUTRI
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.244

Abstract

Potensi Pertambangan Batu Gamping di IndonesiaIndonesia memiliki kekayaan sumberdaya alam seperti batu gamping. Keberadaan batu gamping di Indonesia tersebar pada berbagai daerah, berikut adalah sebaran batu gamping di Indonesia berdasarkan jenis cadangan: (Augusta. 2021).- Cadangan TerekaSebarang cadangan tereka batu gamping di Indonesia terdapat pada Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Irian Jaya.- Cadangan TerunjukSebaran cadangan tereka batu gamping terdapat di Nusa Tenggara Timur. Batu gamping banyak digunakan sebagai bahan baku semen. Adanya ketersediaan batu gamping di berbagai daerah, akan mempermudah produksi semen.
Pentingnya Teknologi Gasifikasi Dalam Mendukung Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Batubara di Indonesia Muhammad Thariq Azis Faisal
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.239

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Salah satunya adalah sumber daya batubara. Menurut data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sumber daya serta cadangan batubara di Indonesia pada tahun 2020 masing-masing adalah sebesar 143,73 miliar ton dan 38,81 miliar ton. Sumber daya dan cadangan tersebut didominasi oleh batubara berperingkat rendah hingga sedang (Badan Geologi, 2020). Sementara itu, penggunaan batubara dalam lingkup domestik didominasi sebagai batubara termal yang digunakan untuk keperluan bahan bakar di PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Batubara juga digunakan pada bidang industri lain seperti pabrik semen, pabrik tekstil, pabrik baja, maupun smelter yang tentunya dengan jumlah yang lebih sedikit. Namun, penggunaan batubara secara non-konvensional seperti teknologi gasifikasi maupun pencairan dalam skala besar industri masih belum diterapkan. Padahal, penggunaan batubara secara non-konvensional menjadi pilihan yang cukup menarik guna mendukung kebutuhan akan energi nasional. Seperti yang kita ketahui, penggunaan batubara termal secara konvensional juga selalu memperoleh penolakan, terutama dalam hal yang menyangkut isu lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan batubara secara non-konvensional menjadi tantangan dan peluang yang perlu dikembangkan kedepannya (Widayat et al., 2021).
OPTIMALISASI RECOVERY PENAMBANGAN BATUBARA PADA SEAM TIPIS IK Dwika Paramananda
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.234

Abstract

Konservasi batubara merupakan usaha yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan pertambangan batubara untuk memaksimalkan pemanfaatan batubara secara berkelanjutan. Hal tersebut diamanatkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Republik Indonesia No. 1827 K/30/MEM/2018 serta Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 33 ayat 3. Namun, salah satu permasalahan yang timbul dalam konservasi batubara adalah pemanfaatan lapisan batubara (seam) tipis, yang memiliki ketebalan kurang dari 30 cm dan berupa sisipan di antara seam-seam berukuran tebal, sehingga dianggap tidak mampu mencapai nilai keekonomisan karena membutuhkan usaha lebih untuk menjadikannya produk batubara.
Menuju Era Digitalisasi Pertambangan Deo Danava
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.229

Abstract

Indonesia saat ini tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0 (Fourth Industrial Revolution). Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan penggabungan antara teknologi siber dan otomasi, atau yang dikenal sebagai Cyber-Physical System. Teknologi tersebut meliputi, Internet of Thing, Artificial Intelligence, Cloud Computing, Big Data, dan Additive Manufacturing. Untuk merealisasikan Revolusi Industri 4.0, strategi pemerintah Indonesia adalah dengan menyiapkan lima sektor manufaktur unggulan yaitu, industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. Pengembangan kelima sektor industri yang menjadi fokus dalam implementasi Revolusi Industri 4.0 ini tidak terlepas dari dukungan sektor energi sebagai sektor penggerak perekonomian sehingga memicu naiknya permintaan pasokan energi dalam negeri (Fitri Zahar, 2019). Menurut Dewan Energi Nasional Republik Indonesia, saat ini batubara masih menjadi primadona pemenuhan energi nasional dengan target 35,5% pada tahun 2021. Bahkan batubara masih akan mendominasi bauran energi nasional pada tahun 2025 sebanyak 30% dan 25% pada tahun 2050. Untuk mengakomodasi permintaan energi yang tinggi, pemerintah Indonesia telah membuat beberapa kebijakan terkait kecukupan dan ketahanan energi nasional. Kebijakan tersebut antara lain, Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 dan Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2017. Namun, menurut Fitri Zahar (2019) salah satu isu dan permasalahan energi yang menjadi fokus negara Indonesia berdasarkan RUEN adalah terbatasnya penelitian, pengembangan, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
UNDANG-UNDANG MINERAL DAN PERTAMBANGAN DAN OMNIBUS LAW SEBAGAI INSTRUMEN PENDUKUNG HILIRISASI INDUSTRI BATUBARA NASIONAL USWATUN HASANAH
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.245

Abstract

Ekspor Batubara Mentah IndonesiaBatubara merupakan salah satu komoditas tambang yang banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Pemanfaatan batubara domestik banyak digunakan sebagai batubara termal, batubara juga dimanfaatkan di berbagai pabrik seperti pabrik semen, tekstil, baja, smelter, dan sebagainya (Widayat dkk, 2021:58). Pemanfaatan batubara pada berbagai sektor, kemudian mempengaruhi permintaan batubara. Akan tetapi, tidak semua negara dapat memproduksi batubara, hal ini yang kemudian mendorong impor batubara dari negara penghasil batubara seperti Indonesia.
RAJA YANG TAK BERTAHTA Nashya Rizky Azzalia Azzalia
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.240

Abstract

Aku terlahir di Sorowako. Sebuah kota kecil di sekitar Pegunungan Verbeek yang dikenal sebagai Kota Nikel. Pegunungan ini terletak di perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Nikel di Indonesia pertama kali ditemukan di Pegunungan Verbeek oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Albert Christian Krujt pada tahun 1901. Semenjak itu, kegiatan eksplorasi dilanjutkan oleh ahli geologi Belanda, yang kemudian diteruskan oleh pemerintah Indonesia (Arif, 2018).Persebaran nikel di Indonesia sebagian besar ditemukan di Pulau Sulawesi dan Maluku Utara (Anbiyak Cahyaningrum, 2021). Menurut data Badan Geologi yang dikutip oleh Anbiyak Cahyaningrum (2021), sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai 11 milyar ton. Sedangkan jumlah cadangan, sebanyak 4,5 milyar ton (Badan Geologi, 2020). Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.
Arah Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Gumuk di Kabupaten Jember Jawa Timur: Keselarasan Teknologi Eksplorasi, Pengelolaan dan Wawasan Lingkungan Lilik Ismawati
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.235

Abstract

Kabupaten Jember merupakan salah satu dari dua kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki kiri khas kekayaan alam berupa Gumuk bahkan sampai dijuluki kota “1000” Gumuk (bukit kecil), sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 1b. Gumuk merupakan suatu fenomena geologi yang sangat unik dan penting untuk ditelaah lebih lanjut keberadaannya. Gumuk Jember terbentuk dari aliran lava yang kemudian tertutup oleh material vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Raung dan akibat pelapukan/erosi serta kegiatan tektonik dari mammock Raung (Khoiriyah, dkk. 2019). Jenis material penyusun gumuk diantaranya tanah urug, pasir, batu padas, batu pondasi, coral, batu pedang dan batu piring (Aprilian, 2020). Menurut Saisabela (2017) Tercatat jumlah Gumuk pada tahun 2012 di kabupaten jember sebanyak 1.670 buah sudah terinventarisir dan 285 buah belum terinventarisir. Beberapa gumuk diantaranya telah di eksploitasi (ditambang) untuk diambil material penyusunnya atau dibuat lahan pertanian/pemukiman. Hal itu berdampak buruk bagi masyarakat sekitar gumuk seperti cuaca lebih panas, sering terjadi kekeringan, erosi, banjir, angin kencang, perubahan iklim mikro, terjadi penurunan jumlah mata air, penurunan keanekaragaman hayati, hutan kota semakin sedikit, penurunan jumlah populasi hewan penghuni gumuk; burung hantu, capung, musang, dan lain sebagainya
Teknologi Automatic Engine Stopping System (AESS) pada Kondisi Idling Time Alat Berat Guna Efisiensi Pemakaian Bahan Bakar Dimas Chaidir Adinugroho
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.230

Abstract

ermasalahan pemakaian bahan bakar pada alat berat yang terjadi di sebagian besar perusahaan tambang kerap terjadi, seiring waktu berbagai perusahaan tambang mencari ide dan solusi atas permasalahan tersebut. Hal tersebut terjadi karena pemakaian bahan bakar atau fuel alat yang digunakan tidak sesuai dengan rencana awal dan management terhadap fleet yang beroperasi untuk memenuhi target produki perusahaan. Salah satu contoh dari permasalahan tersebut sering sekali terjadi saat unit dalam keadaan idling time atau mengantri pada antrian front loading sehingga sering terjadi juga operator unit tidak mempunyai inisiatif untuk mematikan unit tersebut untuk efisiensi bahan bakarnya. Setiap alat penambangan pada fleet tambang masing-masing memiliki berbagai target pengeluaran yang dikeluarkan seperti pengeluaran bahan bakar liter per jamnya. Permasalahan ini sebaiknya harus cepat diatasi seiring dengan meningkatnya teknologi yang ada mendukung efisiensi pengeluaran perusahaan sebagaimana pengeluaran terhadap bahan bakar alat-alat penambangan. Salah satu sektor ekonomi di Indonesia yang memerlukan investasi dalam jumlah yang cukup besar adalah sektor pertambangan. Pertambangan memerlukan investasi dalam jumlah yang besar untuk keperluan penyelidikan umum, eksplorasi, konstruksi, dan operasi (Fadhila Achmadi et al, 2020). Fuel cost merupakan salah satu penyumbang ongkos atau biaya tambang terbesar pada kegiatan operasi tambang dari awal sampai akhir penambangan, seperti pada gambar di bawah ini.
INOVASI BARU DALAM TEKNOLOGI SERTA UPAYA UNTUK MENGOPTIMALKAN KEBIJAKAN MINERBA Rachel Misael
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.241

Abstract

Kemajuan teknologi dalam sektor pertambangan semakin dilirik di kalangan masyarakat. Salah satu kemajuan dalam sektor pertambangan yang memiliki dampak besar bagi kehidupan manusia adalah kemajuan teknologi digital. Teknologi digital merupakan suatu alat yang tidak menggunakan tenaga manusia secara manual, melainkan menggunakan sistem pengoperasian yang otomatis dengan komputerisasi. Salah satu contohnya adalah PT Petrosea Tbk sebagai perusahaan kontraktor pertambangan yang sukses menerapkan digitalisasi pertambangan. Terbukti pada tahun 2019, PT Petrosea Tbk diseleksi oleh World Economic Forum ke dalam Global Lighthouse Network karena berhasil dalam pengimplementasian teknologi pada Revolusi Industri 4.0. Inovasi-inovasi dalam kemajuan teknologi digital di sektor pertambangan juga dapat meningkatkan produktivitas yang akan berpengaruh terhadap cashflow perusahaan. (Sari, 2020). Contoh lain dari kemajuan teknologi dalam sektor pertambangan adalah penggunaan metode implementasi bottom air deck untuk membuat perangkap energi dan mengurangi energi terbuang secara vertikal. Bottom air deck merupakan salah satu strategi untuk dapat menambah kedalaman lubang drill tanpa menambah penggunaan bahan peledak yang digunakan. (Sadiq, 2021). Melampaui aspek keamanan dan produktivitas, ada harapan bahwa kemajuan teknologi yang terjadi dapat membantu mengatasi permasalahan yang terjadi di sektor pertambangan.

Page 2 of 2 | Total Record : 19