cover
Contact Name
Moh Cholisatur Rizaq
Contact Email
deskovi@umaha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
deskovi@umaha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
DESKOVI : Art and Design Journal
ISSN : 26545381     EISSN : 2655464X     DOI : -
Core Subject : Art,
DESKOVI : Art and Design Journal is a journal published officially by Universitas Maarif Hasyim Latif. The topics in DESKOVI cover the results of study and creation that can broaden knowledge in the field of art and design in general with a focus on the topic of design processes, design methodology, design development, design history, design discourse, art criticism, art anthropology, art sociology, creative industry and conceptual culture, education and research in the fields of art, performance, product design, interior design and visual communication design.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
GERAK DAN RASA DALAM TARI MERAK JAWA BARAT Venny Agustin Hidayat
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.804

Abstract

Gerak merupakan unsur utama dari tari. Gerak di dalam tari bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dan estetis. Gerak tari selalu melibatkan unsur anggota badan manusia dan berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan maksud dari pembentukan gerak. Jenis gerak tari yang digunakan, yaitu gerak maknawi, gerak murni, dan gesture. Selain gerak tari, terdapat elemen-elemen ruang, waktu, dan tenaga dalam menari.Metode penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kualitatif. Tujuannya agar penelitian dapat ditemukan, dikembangkan, dibuktikan, dan dapat digambarkan secara sistematis tentang gerak pada tari Merak, sehingga menimbulkan rasa untuk melakukannya. Subjek penelitiannya adalah para anggota yang berada di sanggar tari, terdiri dari para penari merak, pelopor, dan pengola sanggar Pusbitari Bandung. Suatu tarian apabila disajikan sebagai objek seni menjadi sebuah pengalaman bagi para pengamat untuk di hayati dan dimengerti, melalui struktur sensasi, persepsi, dan perasaan dalam menggerakkannya. Sering kali dikatakan bahwa murid-murid pemula tidak siap untuk mencipta dan mendapatkan ketubuhan baru. Melalui kesempatan yang diulang-ulang bagi aktivitas kreatif yang diarahkan sendiri, seorang penari dapat mengembangkan potensi kreatifnya. Pengalaman kreatif yang pertama dalam tari, dialami dengan beberapa tingkat kecemasan. Tingkat kecemasan ini dapat kita pahami dan pengalaman seperti itu sebaiknya diarahkan agar para murid-murid dapat mengatasi rasa takutnya.Motion is the main element of dance. Motion in dance is not a realistic movement, but a movement that has been given an expressive and aesthetic form. Dance moves always involve elements of the human body and function as a medium to communicate the purpose of motion formation. Types of dance movements used, namely meaningful motion, pure motion, and gesture. In addition to dance moves, there are elements of space, time, and energy in dancing. The research method used is a qualitative approach. The goal is that research can be found, developed, proven, and can be described systematically about the movements of the Peacock dance, giving rise to a sense of doing so. The subjects of the research were the members who were in the dance studio, consisting of peacock dancers, pioneers, and processors at the Bandung Pusbitari Studio. A dance when presented as an object of art becomes an experience for observers to be lived and understood, through the structure of sensation, perception, and feeling in moving it. It is often said that novice students are not ready to create and obtain new bodies. Through repeated opportunities for self-directed creative activities, a dancer can develop their creative potential. The first creative experience in dance, experienced with some level of anxiety. This level of anxiety can be understood by us and such experiences should be directed so that students can overcome their fears.
NILAI ADAT ISTIADAT DALAM RITUAL SEBUKU PADA PROSESI PERKAWINAN MASYARAKAT SUKU GAYO DI KABUPATEN ACEH TENGAH Tria Ocktarizka
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 4, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i1.965

Abstract

Sebuku merupakan interaksi antara calon pengantin dan orangtuanya yang berisi nasihat-nasihat dengan gaya menangisi sambil berdendang. Sebuku menjadi langkah awal yang harus dilewati oleh calon mempelai agar nanti orangtua kedua mempelai menjadi tenang karena telah memberikan petuah bagi anak-anaknya. Dengan melakukan sebuku, masyarakat juga turut andil dalam mempertahankan nilai-nilai adat yang menjadi aturan bermasyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai adat masyarakat suku gayo yang tersirat dalam ritual sebuku. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan tersebut bertujuan untuk mengetahui dan menjabarkan hal yang ditemukan di lapangan. Proses penelitian ini dilakukan dengan adanya studi kepustakaan, guna mengumpulkan dan menganalisis referensi-referensi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebuku secara keseluruhan merupakan representasi kesantunan seseorang yang masih memegang ketentuan adat agar terhindar dari sumang. Sumang adalah istilah yang berasal dari masyarakat suku gayo yang berarti hal tabu atau pantangan yang harus dihindari oleh setiap individu masyarakat. Orang yang melakukan sumang, dinilai tidak sopan, buruk, dan salah. Bahkan jika kita melakukan tindakan sumang maka perbuatan tersebut sangat memalukan bagi dirinya.
QILIN: TOLERANSI KEBERAGAMAN SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA KERAMIK SENI Abibawa Wicaksana
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.809

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk yang memiliki berbagai ras, agama, suku, kebudayaan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, hingga hari ini kabar mengenai perilaku intoleran masih sering ditemui. Kejadian-kejadian intoleran tersebut pada umumnya dialami oleh mereka yang memiliki ras, suku, keyakinan, kebudayaan, pola berpikir, pilihan politik, ataupun kondisi fisik yang berbeda. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, muncul keinginan untuk menciptakan karya yang berkaitan dengan Bapak Pluralisme Indonesia atau Gus Dur. Dikarenakan salah satu hasil perjuangannya melawan intoleransi adalah pengembalian hak etnis Tionghoa, maka karya yang kemudian tercipta adalah karya-karya dengan objek yang berasal dari kebudayaan Tionghoa. Sebagai hasil, tercipta dua karya keramik terakota dengan qilin sebagai objeknya. Pemilihan qilin tersebut tidak hanya dikarenakan ia merupakan makhluk mitologi dari kebudayaan Tionghoa, tetapi juga dikarenakan kaitannya dengan kisah kelahiran Konfusius, nabi agama Konghucu. Supaya konsep toleransi dengan mengangkat penghapusan intoleransi yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia tidak hilang, qilin pada karya ini juga dibuat dalam kondisi tidur. Kondisi tersebut dibuat sebagai tanda bahwa si hewan mitologi ini sedang tenang, terbebas dari ancaman larangan yang pernah dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia dari tahun 1967 hingga tahun 2000.Indonesia is a country that has a large variety of races, religions, ethnicities, cultures, etc., within its people. Even though it is a pluralistic country, having something like a different race, ethnicity, belief, culture, mindset, political choice, or even physical conditions can still be an issue. As a response to this problem, I then created two artworks as a reminder about the legacy of Indonesia’s third president who is known for his fight against discrimination, Abdurrahman Wahid. Since one of his most known legacies is the removal of the Chinese ban in Indonesia at year 2000, the model used in the creation of the artworks is from a myth in Chinese traditions. As a result, two qilin terracotta ceramic artworks were created. The qilin was used not only because it’s a Chinese mythological creature, but also because of its relation to the legend of the birth of the Chinese philosopher who’s also known as the prophet of the Confucianism, Confucius. To express the freedom due to the ban removal, the qilins in these artworks were then made sleeping. This position was used to make these mythological creatures look relaxed, or in other words, look like it’s free from the predator that preys on it from year 1967 to year 2000.
ANALISIS DESAIN ILUSTRASI KEMASAN BERAS ECOKO GREEN PROJECT MELALUI KAJIAN SEMIOTIKA I Putu Adi Natha
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.720

Abstract

Tulisan ini dibuat guna memahami tanda makna komunikasi visual yang terdapat pada ilustrasi kemasanberas dari Ecoko Green Project,serta pesan komunikasi visual yang terkandung pada ilustrasi pada kemasan beras tersebut.Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi dengan datang ke studio Oka Astawa dan mendapatkan foto-foto mengenai kemasan beras yang berisi karya dari Oka Astawa. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dari teori semiotika Charles Sanders Pierce ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 1.) Ikon pada ilustrasi kemasan beras Ecoko Green Projectadalah penggambaran petani itu sendiri karena memiliki kemiripan dengan bentuk aslinya yaitu penggambaran seorang petani. 2.) Indeks pada ilustrasi kemasan beras tersebut adalah penggambaran gedung dan jalan pada tubuh petani pertama, serta dolar dan padi yang tidak seimbang pada ilustrasi kedua merupakan penggambaran sebab akibat. 3.) Simbol pada ilustrasi kemasan beras tersebut adalah caping(topi petani) serta padi pada ilustrasi kemasan beras yang pertama dan kedua merupakan simbol dari pertanian itu sendiri, dan pada ilustrasi kemasan kedua ada dua simbol tambahan yaitu dolar dan dasi berbentuk ular, dimana kedua simbol tersebut menggabarkan petani ditindas oleh uang dan penguasa.This paper is made to learn the meaning sign of the visual communication that contained in the illustration of rice packaging from the Ecoko Green Project, as well as the visual communication message in that illustration on the rice packaging. The collected data in this study was carried out with observation by coming to the Oka Astawa studio and getting photos of rice packaging containing the works of Oka Astawa. The collected data is then analyzed using qualitative analysis and Charles Sanders Pierce's semiotic theory of icons, indexes, and symbols. The results of these studies indicate that 1.) The icon in the Ecoko Green Project rice packaging illustration is a description of the farmer itself because it has a similarity to the original form, which is the description of a farmer. 2.) The index in the illustration of rice packaging is the depiction of buildings and roads in the body of the first farmer, then the dollar and rice that is not balanced in the second illustration are depictions of cause and effect. 3.) The symbol in the illustration of the rice packaging is the caping (farmers' hat) and the rice in the first and second illustration of the rice packaging is a symbol of the agriculture itself, and in the second packaging illustration there are two additional symbols, the dollar and a snake-shaped tie, where both of the symbols described that the farmers being oppressed by money and the authority.
Back Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 4 No 1 Juni 2021) Editor Deskovi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 4, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i1.971

Abstract

PERANCANGAN APLIKASI WEB “INPUT DATA UKURAN” PADA PERUSAHAAN EXPRESS TAILOR Hafiizh Ash Shiddiqi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 4, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i1.962

Abstract

Proses perancangan web aplikasi Express Tailor hadir sebagai upaya mengatasi permasalahan jarak dan waktu dalam mengirimkan data ukuran konsumen kepada penyedia jasa, namun dalam proses pembuatanya pihak perusahaan tidak memiliki pendanaan untuk melakukan riset tampilan antarmuka. Hal ini melatarbelakangi untuk mencoba mengadaptasi tampilan aplikasi yang digunakan banyak orang seperti Google Drive, Google Mail, dan Yahoo Mail. Bentuk tampilan ini dipilih karena tampilan ini sudah digunakan lebih dari 15 tahun dan bentuk tampilan antarmuka ini tidak pernah dirubah serta masih digunakan hingga sekarang. Tujuan dari percobaan ini hadir adalah untuk membuktikan dugaan, bahwa dengan mengadaptasi tata letak tampilan antarmuka bertahun-tahun digunakan serta banyak pengguna yang familiar dalam bentuk tata letak tampilan antarmuka tersebut, membuat pengguna aplikasi dapat dengan mudah beradaptasi pada bentuk tampilan yang sama meskipun diimplementasikan pada aplikasi baru. Dengan mengetahui desain tampilan antarmuka tersebut mudah di adaptasi oleh pengguna, hal ini bisa digunakan untuk perusahaan lain yang ingin membuat aplikasi namun tidak memiliki banyak dana pengembangan dalam riset tampilan antar muka. Hasil dari pengujian tahap awal yang dilakukan pada perncangan ini adalah dengan mengadaptasi tampilan antarmuka yang sudah digunakan bertahun-tahun dapat membantu mempercepat pengguna dalam beradaptasi menggunakan aplikasi yang baru.
DAKWAH MELALUI FILM ANALISIS SEMIOTIKA PESAN DAKWAH DALAM FILM "SANG KIAI" KARYA RAKO PRIJANTO Haris Supiandi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.805

Abstract

Tujuan dari penelitian ini secara umum untuk mengetahui bagaimana dakwah melalui film di dalam film “Sang Kiai” karya Rako Prijanto melalui semiotika Roland Barthes. Berdasarkan pada analisis yang dilakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa film ini syarat dengan pesan dakwahnya, di mana proses dakwah yang terjadi di dalam film ini ialah tentang suri teladan seorang kiai Hasyim Asyari yang begitu dikagumi oleh para santri pondok pesantren Tebu Ireng, sahabat dan keluarganya.; (1) terdapat tiga pesan dakwah dalam film “Sang Kiai” karya Rako Prijanto yakni; pesan akidah, pesan akhlak dan pesan syariat. (2) dakwah dalam film “Sang Kiai” dikemas dengan menampilkan karakter-karakter dialog yang sangat menggugah dan penuh pesan bermakna hubungan antar sesama manusia  dan hubungan kepada Allah SWT, dan tidak terlepas dari nilai-nilai nasionalisme. (3) simbol-simbol yang mengandung kaidah-kaidah yang Islami baik itu dari cara berpakaian, tutur kata, sikap yang sopan santun, hormat kepada orang tua dan guru, menjaga ibadah serta berjihad di jalan Allah SWT.The purpose of this research in general is to study how da'wah through the film in the film "The Kiai" by Rako Prijanto through the semiotics of Roland Barthes. Based on the analysis conducted, the researcher concludes that this film has the message of da'wah, where the da'wah process that occurs in this film is about the example of a Kiai Hasyim Asyari who is highly admired by Tebu Ireng boarding school students, friends, and his family. ; (1) There are three da'wah messages in the film "Sang Kiai" by Rako Prijanto, namely : a) aqeedah message, the moral messages, & sharia messages. (2) Da'wah in the film "The Kiai" is packaged by displaying characters of dialogue that are very evocative and full of meaningful messages of relationships between human beings and relationships to Allah SWT, and are inseparable from the values of nationalism. (3) Symbols that display Islamic rules both from the way of dress, speech, polite attitude, respect to parents and teachers, maintain worship, and strive in the way of Allah SWT.
MAKNA SIMBOLIS MOTIF BATIK PRODUK RUMAH BATIK MINANG DI NAGARI PANYAKALAN KABUPATEN SOLOK SUMATERA BARAT Putri Dahlia; Fauziana Izzati Izzati
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 4, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i1.966

Abstract

Batik produksi Rumah Batik Minang di Nagari Panyakalan Sumatera Barat termasuk batik yang tidak menganut pakem seperti motif batik Keraton. Selain membuat motif tradisional Minangkabau, perajin bebas mengkreasikan berbagai bentuk motif, seperti motif markisa dan motif batang padi yang terinspirasi oleh kekayaan alam daerah Kabupaten Solok yang terkenal dengan bareh Solok dan merupakan daerah penghasil buah markisa terbesar di Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk motif dan makna simbolis motif batik produk Rumah Batik Minang. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif yang bersifat kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini mendeskripsikan makna simbolis yang disisipkan dalam setiap motif batik produk Rumah Batik Minang. Berdasarkan hasil penelitian ini, simbol yang terdapat pada motif batik produk Rumah Batik Minang dapat dipahami sebagai pesan yang ingin disampaikan oleh perajin yang menggambarkan kondisi sosial-budaya, ekonomi, dan identitas daerah Kabupaten Solok.
Front Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3 No 2 Desember 2020) Editor Deskovi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI WANITA SEBELUM DAN SESUDAH GERAKAN FEMVERTISING DALAM IKLAN PERAWATAN TUBUH Lisa Odillia
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.801

Abstract

Representasi gender dalam iklan adalah bentuk manifestasi budaya dari siklus ideologi dalam masyarakat. Sejauh ini, keberadaan iklan telah terbukti menjadi media yang berpengaruh terhadap penggunaan bahasa, gambar dan kontruksi representasi untuk meyakinkan audiens dengan membentuk realitas dalam mempengaruhi keputusan pembelian. Beberapa tahun terakhir, istilah femvertising muncul sebagai upaya periklanan untuk menarik konsumen wanita. Secara visual maupun retoris, pesan-pesan iklan yang dibingkai dalam femvertising mempromosikan kesetaraan gender dan hak-hak wanita. Gerakan Feminisme gelombang ketiga yang berkembang saat ini, menciptakan perspektif baru milenial feminis dengan menganggap bahwa feminisme adalah bentuk kebebasan memilih dalam semua aspek kehidupan, baik kesehatan, karier, pernikahan hingga selera pribadi dalam penampilan. Membandingkan iklan dari tahun 1980-an dan 1990-an dengan iklan yang diterbitkan 5 tahun terakhir ini, akan menyajikan konteks tentang bagaimana pergeseran sosial mempengaruhi kontruksi iklan dan persepsi konsumen terhadap merek. Melalui analisis visual kualitatif, studi ini akan mengindentifikasi bagaimana kampanye iklan dikontruksi sebelum dan sesudah gerakan femvertising melalui pesan feminisme demi membangun ketertartarikan audiens perempuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklan-iklan perawatan tubuh sering menampilkan isu yang serupa, yaitu tentang nilai-nilai kepribadian dan kecantikan. Pergeseran nilai kecantikan dan kepribadian dalam domain yang lebih luas telah menyokong perubahan perspektif sosial terhadap perempuan menuju kesadaran feminisme.Gender representation in advertising is a form of cultural manifestation of an ideological cycle in society. So far, the existence of advertisements has proved to be a media that affects the use of language, images and representation in order to convince the audience by shaping reality in influencing purchasing decisions. In recent years, the term femvertising emerged as an advertising effort to attract female consumers. Visually or rhetorically, the ad messages framed in a femvertising promote gender equality and women's rights. The third Wave feminism movement that develops today, creates a new perspective of feminist millennials by assuming that feminism is a form of freedom of choosing in all aspects of life, whether health, career, marriage to personal tastes in appearance. Comparing ads from the 1980's and 1990's with ads published in the last 5 years, will present a context on how social shifts affect ad construction and consumer perception of the brand. Through qualitative visual analysis, this study will identify how the advertising campaign was constructed before and after the femvertising movement through feminism messages in order to build a female audience's alignment. The results of this study show that the advertising of body care often displays similar issues, namely about the values of personality and beauty. The shifting value of beauty and personality in the wider domain has supported the change of social perspective on women toward the consciousness of feminism.

Page 6 of 27 | Total Record : 263