cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jitkwh@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan
ISSN : 20868510     EISSN : 26555875     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (JITK) merupakan wadah atau sarana yang menerbitkan tulisan ilmiah hasil-hasil penenlitian maupun non hasil penelitian dibidang ilmu dan teknologi yang belum pernah diterbitkan atau sedang dalam proses penerbitan di jurnal-jurnal ilmiah lain. Redaksi berhak merubah tulisan tanpa mengubah maksud atau subtansi dari naskah yang dikirimkan. Naskah yang belum layak diterbitkan dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, tidak dikembalikan kepada pengirimnya, kecuali atas permintaan penulis yang bersangkutan.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2018)" : 7 Documents clear
Perbandingan Terapi Musik Dan Teknik Back Exercise Terhadap Intensitas Nyeri Haid Di Sekolah Tinggi Kesehatan Widya Husada Semarang Jamil, M.; Sari, C. K.; Siwi, R. T.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.704 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.62

Abstract

Masa remaja ditandai dengan munculnya karakteristik seks primer dan karakteristik seks sekunder. Hal ini sangat dipengaruhi oleh mulai bekerjanya kelenjar reproduksi. Yang mana ciri-ciri dari seks primer yaitu menstruasi, merasa khawatir, gelisah dan cepat marah, sedangkan seks sekunder cirri-cirinya pinggul bertambah lebar dan bulat, payudara membesar, kulit menjadi lebih halus. Nyeri haid muncul akibat kontraksi distritmik miometrium yang menampilkan satu gejala atau lebih, mulai dari nyeri yang ringan sampai berat di perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik di sisi medial paha. Ada beberapa cara non farmakologi untuk meredakan dismenorea, yaitu kompres hangat atau mandi air hangat, masase, distraksi/relaksasi, latihan fisik/exercise, tidur cukup, diet rendah garam dan peningkatan penggunaan diuretik alami seperti daun seledri. Teknik relaksasi memberikan individu control diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy eksperimen dengan rancangan ?One Group Pretest Posttest? yaitu rancangan yang digunakan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melakukan uji skala nyeri dengan durasi tidur sebelum dan sesudah dilakukan intervensi.Hasil analisis Pengaruh Teknik Back exercise dan terapi musik Terhadap Penurunan Nyeri Haid (Disminore) pada mahasiswi tingkat 1 dan 2 di STIKES Widya Husada Semarang pada tabel 4.3 menunjukkan hasil uji Wilcoxon dengan nilai p value <0,000 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima bahwa ada pengaruh teknik Back exercise dan terapi musik penurunan nyeri haid(disminore) pada mahasiswi tingkat 1 dan 2 di STIKES Widya Husada Semarang.Kata Kunci : Back exercise, Terapi Musik dan Penurunan Nyeri Haid (Disminore)Adolescence is characterized by the emergence of primary sex characteristics and secondary sex characteristics. This is greatly influenced by the onset of the working of the reproductive gland. The features of primary sex are menstruation, worry, anxiety and irritability, while secondary sex of the cirri-hip tend to grow wide and round, breasts grow, the skin becomes smoother. Menstrual pain results from a myometrial dysplastic contraction featuring one or more symptoms, ranging from mild to severe pain in the lower abdomen, buttocks, and spasmodic pain on the medial side of the thigh. There are several non-pharmacological ways to relieve dysmenorrhoea, such as warm compress or warm bath, massage, distraction / relaxation, physical exercise / exercise, adequate sleep, low salt diet and increased use of natural diuretics such as celery leaves. Relaxation techniques give the individual self-control when there is discomfort or pain.The method used in this research is quasy experiments with the design of "One Group Pretest Posttest" is a design that is used to reveal causal relationships by way of testing the scale of pain with sleep duration before and after intervention.The result of the analysis of Back Exercise Technique and Music Therapy on the Reduction of Menstrual Pain (Disminore) on the 1st and 2nd degree students in STIKES Widya Husada Semarang in table 4.3 shows Wilcoxon test result with p value <0,000 which means Ho is rejected and Ha accepted that there is influence Back exercise techniques and music therapy decrease menstrual pain (disminore) in female students level 1 and 2 in STIKES Widya Husada Semarang.Keywords: Back Exercise, Music Therapy and Decreased Menstrual Pain (Disminore)
HUBUNGAN SLEEP HYGIENE DENGAN KUALITAS TIDUR PADA LANJUT USIA Rahmah, Ifana Z.; Retnaningsih, D.; Apriana, Rista
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.235 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.58

Abstract

XVI + 86 halaman + 7 tabel + 2 Gambar + 12 LampiranLatar Belakang: Kualitas tidur adalah kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan tidur REM dan NREM yang pas. Perubahan tidur akibat proses penuaan pada lansia dapat mempengaruhi kualitas tidur. Sehingga lanjut usia perlu mendapatkan praktik sleep hygiene yang baik dan tepat agar dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Tujuan: Mengetahui hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur pada lansia di Panti Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang. Metode??????????? : Metode penelitian menggunakan metode deskriptif korelatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 35 lansia.Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji rank spearman dengan nilai signifikasi 5%. Hasil : Hasil uji rank spearman di dapatkan bahwa ada hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur pada lansia di Panti Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang dengan nilai p value = 0,000 yang berarti ?0,05 (5%), maka H0ditolak dan Ha diterima. Kesimpulan : Ada hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur pada lansia di Panti Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang dengan arah korelasi positif dan tingkat keeratan tinggi. Saran : Untuk pelayanan keperawatan dapat menerapkan praktik sleep hygiene yang dapat di jadikan intervensi mandiri perawat dalam upaya meningkatkan kualitas tidur lansia.Kata Kunci?????????? : Sleep hygiene, kualitas tidur, lansia.Daftar Pustaka?? : 37 (2006-2017)?Xvi + 87 pages + 7 Tables + 2 Pictures + 12 EnclosuresBackground?????? :? Sleep quality is the ability of the individual to stay asleep and get a proper REM and NREM sleep. Sleep changes due to the aging process in the elderly can affect sleep quality. So that the elderly need to get a good sleep hygiene practices and appropriate in order to improve the quality of sleep of elderly. Method : Research method using correlative descriptive method with cross sectional studied design. The samples were 35 elderly persons. Simple random sampling used as total sampling. This study employed the questionnaires as data collecting methods. The spearman rank test used as statistical data analysis with significant value 5% . Result : The result of spearman rank statistic test show that there is relation between sleep hygiene and sleep quality at the elderly with p value = 0,000 which mean ? 0,05 (5%) then H0 is rejected and Ha is received. Conclusion: There is a relationship between sleep hygiene and sleep quality at the elderly in the nursing home Harapan Ibu Ngaliyan Semarang with the direction of positive and level of high closeness. Advice??????????????? : For nursing service can apply the the practice of sleep hygiene that can be made in the independent intervention of nurses in an effort to improve the quality of elderly sleep.Keywords??????????? : Sleep hygiene, sleep quality, elderly.References???????? : 36 (2006-2017)
PEMASANGAN DAN PERAWATAN LENSA KONTAK LUNAK TORIK PADA PENDERITA ASTIGMATISMUS Wahyudi, Didik
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.717 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.63

Abstract

Kelainan refraksi telah banyak terjadi di dunia termasuk di indonesia, dengan jenis kelainan yang berbeda salah satunya adalah kelainan refraksi astigmatisma. Astigmatisma dapat dikoreksi dengan kacamata maupun lensa kontak. Namun para penderita astigmatisma pada umumnya hanya menggunakan lensa kontak spheris dan jarang menggunakan lensa kontak torik yang telah didesain khusus untuk menanggulangi astigmat.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan prosedur pemasangan dan perawatan lensa kontak lunak torik pada penderita astigmatismus di Optik Metro Semarang.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskripstif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi pustaka.Hasil penelitianberdasarkan jumlah penderita dan distribusi kelainan refraksi di Optik Metro sejak tanggal 13 ? 20 Agustus 2016, menunjukan bahwa jumlah penderita astigmatisma yang datang sebanyak 13,0% dengan jenis penanggulangan menggunakan lensa kontak lunak torik sebanyak 2,2%. Hasil anamnesa menunjukan bahwa pasien mempunyai motivasi tinggi untuk menggunakan lensa kontak serta menunjukan hasil inspeksi observasi yang baik terhadap mata pasien. Prosedur pemasangan lensa kontak dilakukan secara urut dengan menggunakan trial lensa kontak lunak torik berdasarkan pemilihan base curve, diameter dan power. Penilaian lensa kontak lunak torik secara khusus memperhaikan rotasi lensa kontak yang ditandai dengan pergeseran tanda referensi. Dalam penelitian ini ditemui pada mata kiri tanda referensi bergeser 50 berlawanan arah jarum jam, dan pada mata kanan bergeser 100 searah jarum jam. Sistem perawatan lensa kontak lunak torik dilakukan dengan cara memberikan edukasi pada pengguna tentang perawatan yang baik dan benar dalam penggunaan lensa kontak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prosedur pemasangan lensa kontak lunak torik telah dilakukan dengan cara yang benar? dengan memperhatikan penilaian fitting yang baik. Sistem perawatan lensa kontak lunak torik pada penderita lensa kontak lunak torik pun dilakukan dengan baik menggunakan berbagai macam sistem perawatan.Kata Kunci : astigmatisma dan lensa kontak lunak tori?THE CONSTRUCTION AND CARING OF TORIK CONTACT LENS FOR ASTIGMATISMThe disorder of refraction has been happened in the world, include Indonesia, the disorder of astigmatism disorder is the one of difference disorder. The astigmatism can be defined by glasses or soft lens. However, the people who get astigmatism wear spheris soft lens in general and they often wear torik soft lens with special design to prevent astigmatism. The research objective is to know the relation between the procedure of the construction and caring of soft lens of torik for astigmatism in Optik Metro Semarang. This research uses the descriptive method with qualitative approach by using observation, interview, and the literature study as the data collection. The result? of this research based on the total of disorder and the distribution of refraction in Optik Metro since 13-20 August 2016, showed that the total astigmatism are 13,0 % and the type of repairing using contact lens are 2,2%. The result stated the patient have the high motivation to use the contact lens and give the better impact for the patient. The procedure of contact lens construction will be done orderly using trial torik contact lens based on the curve based choosing, diameter and power. The assessing of torilk contact lens are attending the rotation of contact lens those are signed by displacement of reference. In this research the left eye with reference eye is shifting 5? opposite directions the clock, and the right eye is shifting 10? in a clockwise direction. The system of contact lens caring will be accomplished by educated the user about the how to care the contact lens wisely. The research conclude that the construction and the caring are running well based on the procedure.Key Words : Astigmatism, torik contact lens.
HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF PUZZLE DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 54-72 BULAN DI TK SUDIRMAN 01 KOTA PEKALONGAN Puspaningtyas, Millatin; Setyowati, Ana; Saadah, Ummi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.524 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.59

Abstract

Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar. Dalam dunia anak-anak terdapat berbagai jenis permainan, salah satu jenis permainan yang bermanfaat dan bersifat edukatif adalah puzzle. Media puzzle merupakan media untuk pengembangan kognitif anak karena di dalamnya terdapat angka-angka ataupun gambar dan anak harus mampu menyusun gambar dengan baik. Perkembangan kognitif anak menjadi salah satu penentu dalam pengembangan kecakapan hidupnya di masa yang akan datang. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan penggunaan alat permainan edukatif puzzle dengan perkembangan anak usia 54-72 bulan di TK Sudirman Kota Pekalongan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode survey analitik. Populasi penelitian adalah seluruh anak usia 54-72 bulan yang berjumlah 36 responden. Besar sampel dihitung menggunakan total populasi, yaitu sebanyak 36 responden. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner dan lembar KPSP yang diisi langsung oleh peneliti. Analisis data terdiri dari analisa univariat yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dan analisa bivariat menggunakan uji statistik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden dapat menggunakan alat permainan edukatif puzzle dengan baik yaitu 35 anak (97,2%) dan sebagian besar pula perkembangan anak usia 54 - 72 bulan dikategorikan normal yaitu 33 anak (91,7%). Berdasarkan uji stastistik Rank Spearman menunjukkan bahwa pvalue : 0,048 yang artinya adanya hubungan antara penggunaan alat permainan edukatif puzzle dengan perkembangan anak usia 54 ? 72 bulan di TK Sudirman 01 Kota Pekalongan. Disarankan hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi tambahan dan masukan tentang perkembangan anak secara seimbang melalui pemilihan alat permainan edukatif yang sesuai dengan usia anak.Kata Kunci?????????? : Alat Permainan Edukatif, Puzzel, Perkembangan AnakTHE RELATIONSHIP OF THE USE OF EDUCATIONAL GAMES PUZZLE TOOLS WITH THE DEVELOPMENT OF CHILDREN AGED 54-72 MONTH IN KINDERGARTEN SUDIRMAN 01 PEKALONGANThe world of children is a world of play and learning. In the world of children there are various types of games, one type of game that is useful and educative is a puzzle. Puzzle is a medium for cognitive development of children because in it there are numbers or pictures and children must be able to arrange images well. The development of cognitive child becomes one of the determinants in the development of life skills in the future. The purpose of this research is to know the relation between the use of educational puzzle game tools with the development of children aged 54-72 months in Kindergarten Sudirman 01 Pekalongan City. This research is a kind of quantitative research with analytic survey method. The study population was all children aged 54-72 months, amounting to 36 respondents. The sample size is calculated using total population, that is 36 respondents. Data collection was obtained through questionnaires and KPSP sheets filled directly by the researchers. The data analysis consisted of univariate analysis which presented in the form of frequency distribution table from each variable and bivariate analysis using Rank Spearman statistical test. The result of the research shows that most of the respondents can use puzzle game with 35 children (97,2%) and most of the development of children aged 54 - 72 months are categorized as normal (33,7%). Based on Spearman Rank test, it shows that pvalue: 0,048 which means there is a relationship between the use of puzzle game educational tools with the development of children aged 54 - 72 months in Kindergarten Sudirman 01 Pekalongan City. Suggested results of this study can be used as additional information and input on the development of children in a balanced manner through the selection of educational games appropriate to the age of the child.Keywords??????????? : educational game tool, Puzzel, Child development
PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP PENURUNAN KECEMASAN PADA SISWA DALAM MENGHADAPI PENGUMUMAN HASIL UJIAN AKHIR NASIONAL DI SMA KARTIKA III BANYUBIRU KAB. SEMARANG Mustain, Mukhamad; Sari, Wulan; Ismiriyam, Fiktina Fivri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.584 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.210

Abstract

Kecemasan merupakan masalah yang umum dan sering dihadapi oleh individu terutama oleh remaja. Reaksi ini sering dialami oleh remaja khususnya siswa kelas XII ketika menghadapi pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional. Kurangnya pengetahuan dan sedikitnya cara yang diketahui oleh siswa untuk mengatasi masalah kecemasan dapat menimbulkan dampak negative seperti kepanikan, tidur tidak nyenyak, marah dan menurunnya konsentrasi belajar. Salah satu cara mengatasi kecemasan adalah dengan melakukan senam otak. Senam otak berisi gerakan tangan dan kaki yang sangat dinamis ditambah dengan pengaturan pernafasan. Gerakan senam otak akan merangsang neurocortex dan saraf parasimpatik sehingga memacu pengeluaran hormone adrenalin sehingga membantu neurunkan kecamasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi senam otak terhadap kecemasan pada siswa dalam menghadapi pengumuman ujian akhir nasional dari kecemasan ringan hingga sedang. Penelitian menggunakan metode quasieksperimental dimana peneliti memberikan perlakukan pada kelompok intervensi dan terdapat kelompok pembanding. Desain penelitian dengan mengujicobakan senam otak pada kelompok intervensi dan nafas dalam pada kelompok control. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII dengan jumlah sampel sebanyak 114 yang terbagi dalam 2 kelompok. Pengumpulan data dilakukan? dengan pengukuran nilai TMAS.? Analisa data menggunakan Wilcoxon dan didapatkan nilai signifikansi (0.000) dimana lebih kecil dari nilai ? (0.05).Kesimpulan terdapat pengaruh senam otak terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa kelas XII menghadapi pengumuman hasil ujian akhir sekolah di SMA Kartika, Banyubiru.Kata Kunci: senam otak, kecemasan, pengumuman hasil ujian akhir sekolahAnxiety is a common problem and is often faced by individuals, especially by teenagers. This reaction is often experienced by adolescents, especially students of class XII when facing the announcement of the results of the National Final Examination. Lack of knowledge and at least the ways that students know to deal with anxiety problems can have negative effects such as panic, insomnia, anger and decreased concentration of learning. One way to overcome anxiety is to do brain exercises. Brain gymnastics contain very dynamic hand and foot movements coupled with breathing arrangements. Brain movement will stimulate the neurocortex and parasympathetic nerves so that it stimulates the release of adrenal hormones so that it helps reduce anxiety. This study aims to determine the effect of brain exercise therapy on anxiety in students in the face of announcements of national final exams from mild to moderate anxiety. The study used a quasiexperimental method in which the researchers treated the intervention group and there was a comparison group. Research design by testing brain exercise in the intervention group and deep breathing in the control group. The population in this study were class XII students with a total sample of 114 divided into 2 groups. Data collection is done by measuring TMAS values. Data analysis using Wilcoxon and obtained a significance value (0,000) which is smaller than the value of ? (0.05).Conclusion there is the influence of brain gymnastics on the decrease in anxiety level of class XII students when facing the announcement of the final school examination results at SMA Kartika, Banyubiru.Keywords: brain exercise, anxiety, announcement of final school exam results
PENYULUHAN TENTANG DIABETES MILITUS DAN SENAM DIABETES MILITUS DI RW IV KELURAHAN WONOPLUMBON, KECAMATAN MIJEN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MIJEN SEMARANG astuti, Windy; Kustriyani, Menik
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.953 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.60

Abstract

Masyarakat banyak yang tidak paham tentang tanda dan gejala Diabetes Militus, menganggap? penyakit orang tua, sebagian besar menderita Diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Terdapat 40% penderita Diabetes Militus yang menyadari sepenuhnya tentang pentingnya olahraga dan melakukan aktifitas senam dengan teratur. Senam ?diabetes yang efektif dapat menurunkan kadar gula darah dan memperlancar peredaran darah perifer. Senam direkomendasikan dilakukan dengan intensitas sedang, durasi 30 menit dengan frekuensi 3-5 kali per-minggu dan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut tidak melakukan senam. Senam diabetes militus yaitu gerakan menyenangkan dan tidak membosankan serta dapat diikuti oleh semua umur. Kebanyakan penderita tidak pernah melakukan senam diabetes ataupun kegiatan fisik lain. Mereka lebih berfokus pada penggunaan obat oral dan insulin, sedangkan diit dan latihan jasmani mereka lakukan jika kondisi gula darah mereka meningkat dan setelah keluar dari rumah sakit karena anjuran dokter untuk mengatur diit dan latihan jasmani, jika mereka merasa sudah membaik, maka diit dan jasmani tidak dilakukan lagi.Kata kunci : penyuluhan, diabetes militus, senam.?Many people do not understand clearly about the sign and the symptom of Diabetes Militus, they consider it as a disease of only elderly people. Most of them suffer from Diabetes Militus type 2 which is caused by heritage factor. There are 40 percents of them who understand clearly about the importance of doing sport and gymnastics regularly. The effective Diabetes gymnastics can decrease the level of blood sugar and smoothen the perifer blood circulation. This gymnastics is recommended to do with a medium intensity, 30 minutes per session with the frequency of 3-5 times per week and not more than 2 days serially without doing it. This Diabetes Militus gymnastics is a fun movement and will not make people feel bored. Besides, people of all ages can do it easily. Most people who suffer from Diabetes Militus never do this gymnastics or other physical activities. They focus more on the use of medicine and insulin. Meanwhile, they just arrange their dietary program and do exercise when the level of blood sugar has already increased. They do it merely just because it is the doctor?s advice right after they leave the hospital. When they are getting better, they will not arrange their dietary program nor do exercise anymore.Keywords : Counseling, Diabetes Militus, Gymanstic
PERBEDAAN TINGKAT KEMANDIRIAN PADA ANAK PRASEKOLAH (3-5 TAHUN) YANG MENGIKUTI PAUD dan TIDAK MENGIKUTI PAUD KOTA PEKALONGAN Ulya, Ni?matul; Meikawati, Pedvin Ratna; Andanawarih, Putri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : STIKES Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.715 KB) | DOI: 10.33666/jitk.v9i1.61

Abstract

Salah satu prinsip dasar PAUD memberikan rangsangan pendidikan mencakup semua aspek perkembangan anak termasuk perkembangan kemandirian anak.Salah satu hal penting dalam perkembangan anak umur 3-5 tahun adalah perkembangan sikap sosialnya.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan tingkat sosialisasi anak prasekolah (3-5 tahun) yang mengikuti PAUD dan tidak mengikuti PAUD.Penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif komparatif dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah 164 anak usia prasekolah (3-5 tahun) di Kelurahan Medono Kota Pekalongan. Teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling untuk 40 anak prasekolah yang mengikuti PAUD dan quota sampling untuk 40 anak prasekolah yang tidak mengikuti PAUD. Analisis univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi dari setiap variabel, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji statistik kruskal wallis untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independen.Hasil penelitian tingkat kemandirian anak yang mengikuti PAUD sebagian besar dalam kategori sedang (62,5 %) dan tidak mengikuti PAUD sebagian besar dalam kategori sedang (82,5 %) dan kurang (10 %). Melalui uji independent kruskal wallis didapatkan p value = 0,000 < ? (0,05), sehingga disimpulkan ada perbedaan yang signifikan tingkat sosialisasi anak prasekolah yang mengikuti PAUD dan tidak mengikuti PAUD.Kata Kunci : Kemandirian, Anak Prasekolah, PAUDOne of the basic principles of early childhood education provides educational stimulation covering all aspects of child development including the development of child self-reliance. One important thing in the development of children aged 3-5 years is the development of social attitudes. The purpose of this study to determine the difference in the level of socialization of preschoolers (3-5 years ) who follow PAUD and do not follow PAUD.The research used descriptive comparative research design with cross sectional approach. The population is 164 preschoolers (3-5 years old) in Medono Urban Pekalongan City. Sampling technique with simple random sampling for 40 preschool children who follow PAUD and quota sampling for 40 preschool children who do not follow PAUD. The univariate analysis used the frequency distribution table of each variable, while the bivariate analysis used a crucial wallist statistic test to test the comparative hypothesis of two independent samples.The results of the research on the independence level of children following the early childhood education were mostly in the medium category (62.5%) and did not follow the PAUD mostly in the medium category (82.5%) and less (10%). Through independent test kruskal wallis obtained p value = 0,000 <? (0,05), so it is concluded there is significant difference of level of socialization of preschool children who follow early childhood and not follow PAUD.Keywords: Independence, preschool children, PAUD

Page 1 of 1 | Total Record : 7