cover
Contact Name
Lutfiah Ayundasari
Contact Email
lutfiah.ayundasari.fis@um.ac.id
Phone
+6285646664559
Journal Mail Official
jpsi.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145, East Java
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26221837     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia (JPSI) publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of history learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2019)" : 8 Documents clear
Kampung Batik Manding Siberkreasi sebagai Model Pelestarian Pendidikan Karakter Azi Wansaka; Hernia Nur Hidayah; Hizma Arum Bakhittah
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p122-140

Abstract

Abstract. Batik is a series of mbat and tik. Mbat in Javanese is interpreted as ngembat or throw many times, whereas tik comes from the word titik. So, batik throwing dots repeatedly on the fabric. The points in batik are formed being a certain image will symbolize the character of the batik motif produced by every production house. This diverse batik motif is an illustration of how values are contained in the batik process. Perseverance, politeness, tenacity, and piety be the values contained in the batik process. However, nowadays it goes hand in hand over time the values contained in this batik process begin forgotten. This happens because of a lack of public understanding of the process batik. Kampung Batik Manding Siberkreasi is one form of preservation from community in Manding hamlet, Wonosari Gunung Kidul. Batik preservation this Wonosari community did this by establishing a Kampung Batik. In preservation is also taught in relation to the values contained within batik process, starting from the process of making motifs to coloring. These values are contained in this batik which can be a reference for characterDOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p122
Strategi Pembelajaran Kontekstual dengan Memanfaatkan Media Pembelajaran Majalah dan Kahoot dalam Kegiatan Pembelajran Sejarah di SMAN 1 Panggul Kelas XI IPS 1 Gita Lorensia Dannari; Uskuri Lailal Munna
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p153-163

Abstract

Abstrak: permasalahan yang dihadapi Guru Sejarah dari dulu hingga sekarang masih cenderung sama dimana siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar belajar dan cenderung  merasa bosan, hal ini juga terjadi di SMAN 1 panggul. Guru telah menerapkan beberapa metode pembelajaran namun para peserta didik masih bersifat pasif dan selalu mengatuk dikelas.Tim peneliti berusaha memberikan solusi berupa pemanfaatan media majalah dan kahoot  dalam  proses belajar mengajar. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai peran media pembelajaran dalam  proses belajar mengajar, permasalahan pembelajaran sejarah di SMAN 1 Panggul beserta Solusinya.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p153
Implementasi Nilai Local Wisdom Pela Gandong dalam Pendidikan Pasca Rekonsiliasi Konflik Ambon Anju Nofarof Hasudungan; Sariyatun Sariyatun; Sutiyah Sutiyah
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p179-190

Abstract

Abstrak: Collective memory masyarakat Ambon Maluku terhadap konflik yang terjadi tahun 1999-2003 telah menyadarkan bahwa nilai local wisdom Pela Gandong yang dimiliki ratusan tahun lamanya sangat penting dipertahankan. Bahkan, mengoptimalkan fungsinya guna mempertahankan rekonsiliasi konflik Ambon Maluku yang telah tercapai. Masyarakat Ambon Maluku mendefinisikan Pela Gandong sebagai model persahabatan, sistem persaudaraan, atau sistem persekutuan yang di kembangkan antar seluruh penduduk asli dari dua negeri atau lebih bahkan sebelum kedatangan kolonial. Saat konflik Ambon terjadi Pela Gandong menjadi bagian dari resolusi konflik. Dewasa ini, masyarakat Ambon Maluku telah memperluas fungsi Pela Gandong diberbagai bidang termasuk pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana implementasi nilai local wisdom Pela Gandong dalam pendidikan. Penelitian dilakukan pada Januari 2018 di SMPN 9 Ambon dengan 98 % siswanya beragama Kristen/Katolik dan SMPN 4 Salahutu Liang beragama 100 % Islam. Guna mendapatkan jawaban peneliti, dipergunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data melalui metode studi kepustakaan, wawancara, dan observasi-partisipatoris. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa implementasi nilai-nilai multikultural Pela Gandong dapat terlaksana dengan baik dalam institusi pendidikan formal.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p179
Pembelajaran Sejarah Indonesia di SMAN 1 Malang dalam Mengembangkan Kemampuan Berpikir Historis Siti Faizatun Nisa'; Joko Sayono; Indah Wahyu Puji Utami
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p202-211

Abstract

Indonesian history learning curriculum hopes student historical thinking ability can be developed after the learning occured. Discussion focus of this article is history learning process in SMA N 1 Malang and student historical thinking ability. This research uses qualitative descriptive method. Research process is done by looking for data about research focus. The gotten data then explained and analyzed to explain research focus. Conclusion in this research is history learning in SMA N 1 Malang is in accordance with the valid curriculum. History learning that occures also able to develop student historical thinking ability. Through research instrument that is modified from Seixas’s six hisrorical thinking component, it is known that student able to think historically. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p202
Kearifan Lokal Masyarakat Malang dalam Pendidikan Penguatan Karakter di SMAN 1 Sumberpucung Melaningrum Andarwati
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p141-152

Abstract

AbstrakMemudarnya nilai-nilai kearifan lokal, lunturnya rasa kesetiakawanan dapat. mengancam konsep persatuan yang mengancam perpecahan. Hal ini terbukti dengan  maraknya demo tanpa arah merusak vasilitas umum, tidak lagi menghormati hak orang lain untuk nyaman, menganggu ketertiban umum, merasa diri paling benar, tidak mau mendengar , tidak mau menghormati orang hal ini akan mengancam jiwa bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika dan akan melahirkan bangsa yang sombong. Eksplorasi terhadap kekayaan luhur budaya bangsa, sangat perlu dilakukan, untuk mengkritisi eksistensi terkait adanya perubahan budaya dengan mengoptimalkan aplikasi pendidikan karakter dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran disekolah.  SMA Negeri 1 Sumberpucung  terletak di kabupaten Malang, mengaplikasikan kearifan lokal masyarakat Malang dalam pendidikan  karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakulikuler. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Malang yang digali  adalah  nilai kejujuran (sportifitas), kemandirian, keteguhan hati, kebersamaan, toleransi, kepekaan sosial, karakter Lugas, Jujur, semangat kesetaraan, kesederhanaan,  perdamaian, progresif dan menghargai pluralis kebudayaan. Siswa diajarkan memiliki jiwa kearifan lokal Malang melalui kreativitas seni, kegiatanan sosial,  dan   adat istiadat  yang dapat dinikmati oleh Masyarakat setempat. Dengan mengaplikasikan secara optimal pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Malang. Sebagian besar siswa SMAN 1 Sumberpucung memiliki kemandirian berwirausaha, dengan menjual kuliner khas Malang, dan menjadi siswa mandiri dan  bermanfaat bagi masyarakat dilingkungannya.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p141
Analisis Nilai-nilai Multikultural Masyarakat Desa Patoman, Blimbingsari, Banyuwangi Demas Brian Wicaksono; I Kadek Yudiana; Andika Wahyudiono
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p164-178

Abstract

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang Multikultur/Majemuk. Masyarakat majemuk tersusun oleh keragaman kelompok etnik atau suku bangsa beserta tradisi dan budayanya, tidak hanya berpeluang menjadikan bangsa Indonesia menjadi negara yang kuat di masa mendatang, tetapi juga berpotensi mendorong timbulnya konflik sosial yang dapat mengancam integrasi negara-bangsa. Maka perlu dicari solusi yang tepat untuk mengelola kemultikulturan bangsa Indonesia. Dalam mengelola kemultikulturan cara pandang kita harus dirubah yaitu menjaga kemultikulturan tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah pusat tetapi tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia termasuk masyarakat pedesaan. Desa merupakan representasi dari kemultikulturan Indonesia. Misalnya kemultikulturan yang ada di Desa Patoman.  Desa Patoman merupakan desa dengan tingkat kemultikulturan yang tinggi. Mulai dari agama Islam dengan jumlah 82.3%, Hindu mencapai 17.3%, Kristen sebanyak 8 jiwa, Buddha 7 Jiwa dan kepercayaan khususnya kejawen. Dilihat dari etnik seperti Madura, Jawa, Bali, dan Osing. Dalam artikel ini mencoba untuk menganalisis nilai-nilai kemultikultural yang ada di desa Patoman dan bagaimana mengelola kemultikulturan tersebut sehingga menghasilkan keharmonisan baik antar maupun inter agama, suku, etnik, dan budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Deskriftif Kualitatif dengan langkah-langkahnya yaitu: 1) Penentuan lokasi penelitian; 2) Waktu Penelitian; 3) bentuk dan strategi yang digunakan Analitik Deskriptif kualitatif; 4) Teknik pengambilan data berupa wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumen; 5) Validasi data dengan menggunakan triannggulasi data, peneliti, teori, dan metodelogis; 6) Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kemultikulturan masyarakat Desa Patoman meliputi: Nilai Social, Simpati, Toleransi dan Empati, Religious, Nasionalisme, Gotong Royong, Demokrasi, Bersahabat/komunikatif, kecintaan terhadap lingkungan, cinta damai, dan peduli sosial. Dalam mengelola kemultikulturan yang ada di Desa Patoman dilakukan melalui beberapa cara, yaitu Dialog dan Kerjasama antarumat Beragama, Meyakini Agama Sendiri dan Menghargai Agama Orang Lain, Doa Bersama, Komunikasi Lintas Budaya, Toleransi, Simpati, dan Empati, Desa Kebangsaan, Forum Pembauran Kebangsaan, dan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p164 
Penerapan Metode Teamsgame Tournament dalam Pembelajaran Sejarah Kelas X SMAN 1 Purwosari Shela Dwi Utari; Tridea Rahmawati
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v2i2p191-201

Abstract

Indonesia adalah negara yang sedang berkembang dalam dunia pendidikan, pendidikan merupakan aspek penting dalam pembangunan sumber daya untuk mengikuti setiap tantangan yang berbeda di tiap-tiap zaman. Pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan dari masa ke masa menjadi suatu tatanan yang semakin mompleks seusia dengan kebutuhan masyarakat. Perubahan yang terkait dengan pendidikan adalah adanya kurikulum baru seperti kurikulum 2013 revisi 2017. Pada kurikulum ini membawa suatu perubahan pada sistem pembelajaran di sekolah. Hal ini terwujud dengan berubahnya model pembelajaran, dimana pada sebelum diterapkannya kurikulum ini berbasis pada teacher center kemudian setelah diterapkan menjadi student center. Perubahan ini menimbulkan suatu metode-metode baru dalam terselenggaranya pendidikan di kelas. Pada artikel ini kami melakukan suatu penelitian terhadap siswa SMA kelas X di SMAN 1 Purwosari pada matapelajaran sejarah utamanya materi kerajaan hindu-buddha. Berdasarkan permasalahan tersebut kami mendapatkan permasalahan yang salah satunya adalah guru masih belum melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Kemudian dalam artikel ini kami akan memerikan suatu solusi dimana permasalahan tersebut dapat diatasi dengan metode teams game tournament dengan menggunakan permainan scavenger hunt. Metode penelitian yang kami lakukan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara kepada salah satu guru sejarah  di SMAN 1 Purwosari. Kemudian kami juga melakukan studi kepustakaan untuk melengkapi kekurangan sumber. Berdasarkan penelitian kami dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dialami oleh guru sejarah SMAN 1 Purwosari yaitu: kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran, metode pembelajaran yang digunakan belum mencerminkan student center, guru belum melakukan pembelajaran sesuai dengan sifat khas yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Berdasarkan permasalahan tersebut kami memberikan suatu solusi dimana diterapkannya metode teams game tournament disertai permainan scavenger hunt. Hal ini dapat menimbulkan tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, serta tujuan dari pembelajaran akan lebih mudah terlaksana. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p191
Menanamkan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Sejarah SMA Pi'i Pi'i
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan pembelajaran sejarah pada saat ini sangat beragam antara lain kurangnya keterampilan dalam menanamkan nilai-nilai dalam pembalajaran sejarah. Hal ini sebagai akibat dari pembelajaran sejarah masih dilaksanakan secara konvensional, ekspository (bercerita) sehingga pembelajaran tidak menarik, kering, jauh dari berfikir kritis dan kreatif, membosankan, tidak konstektual, dan kurang memperhatikan aspek sikap (nilai). Untuk memecahkan permasalahan pembelajaran tersebut, dengan menanamkan  kearifan lokal dalam pembelajaran sejarah, dengan menerapkan model pembelajaran yang mencerminkan pendekatan saintifik seperti inquiry learning. Penerapan model pembelajaran yang efektif, pembelajaran menjadi konstektual, dan mendorong peserta didik berfikir logis, kritis, kreatif, terampil, dan mampu menangkap makna atau nilai-nilai lokal yang terkandung dalam meteri pembelajaran. Penanaman kearifan lokal berjalan efektif jika didukung keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah yang sarat makna (nilai).DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um033v2i22019p109

Page 1 of 1 | Total Record : 8