cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2020)" : 12 Documents clear
MAJELIS TARJIH DAN AGENDA PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM KONTEKS PERUBAHAN MASYARAKAT DI YOGYAKARTA Iwan Dwi Aprianto
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.150

Abstract

Muhammadiyah’s thought struggle that was oriented to reform an purification of religion was realized through its efforts to institutionalize the study of Islamic thought by established Majelis Tarjih. This study aims to find out the process of the early development of the Majelis Tarjih which was formed by Muhammadiyah until the main points of though that are generated in the context of change in society. The method used in this study is a critical historical method which consists of four stages, namely heuristics, source criticism (verification), interpretation, and historiography. Based on study, Majelis Tarjih played a role in developing the mission of the Muhammadiyah organization in purification efforts by returning all religious issues to the main sources namely the Quran and hadith. In its development, Majelis Tarjih produced various religious decisions in response to various problems faced by muslim. Such contribution demonstrate the ability of the Majelis Tarjih to answer contemporary problems, even methodologically leads to changes adapted to the development of science and technology.Pergumulan pemikiran Muhammadiyah yang berorientasi kepada reformasi serta pemurnian agama diwujudkan melalui usahanya melembagakan kajian pemikiran Islam dengan membentuk Majelis   Tarjih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perkembangan awal Majelis Tarjih yang dibentuk oleh Muhammadiyah hingga pokok-pokok pikiran yang dihasilkannya dalam konteks perubahan di dalam masyarakat. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah kritis yang terdiri atas empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber (verifikasi), interprestasi, dan historiografi. Berdasarkan kajian yang dilakukan, Majelis Tarjih berperan mengembangkan misi organisasi Muhammadiyah dalam usaha pemurnian dengan cara mengembalikan segala persoalan keagamaan ke sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan hadis. Dalam perkembangannya, Majelis Tarjih menghasilkan berbagai keputusan keagamaan sebagai respon terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Kontribusi demikian menunjukkan kemampuan Majelis Tarjih untuk menjawab masalah-masalah kontemporer, bahkan secara metodologis mengarah kepada perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013; MUTU PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI KOTA KENDARI (2013-2019) Bahtiar Bahtiar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan sistem pembelajaran di Kota Kendari dengan menggunakan Kurikulum 2013 (K13). Dalam kajian ini menggunakan metode sejarah dengan beberapa tahap, yaitu heuristik, kritik, penafsiran, penulisan. Hasil penelitian menujukkan bahwa sistem pembelajaran K13 di Kota Kendari sudah mulai dijalankan pada tahun itu juga. K13 ini merupakan kelanjutan dari KTSP dan dari beberapa kurikulum sebelumnya meskipun ada tambahan. Pendidikan di Kota Kendari menempati urutan ke 32  dari 34 Provinsi di Indonesia dalam hal mutu pendidikan atau peringkat ketiga terbawah, namun pendidikan di Kendari masih terus berbenah diri mengejar ketinggalannya. Dalam kajian ini sebagai percontohan sekolah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah SMPN 1 dan SMPN 2 Kendari terhadap sistem pembelajaran K13, karena kedua SMPN tersebut adalah pilot projek. Pada K13 pembelajaran adalah usaha dasar guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar. Perubahan itu didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan karena adanya usaha. Dengan demikian kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan beberapa komponen: pemerintah, satuan pendidikan, dan masyarakat. Untuk mencapai perubahan dari ketertinggalan mutu pendidikan di Kota Kendari perlu pembenahan, agar sistem pendidikan di Kota Kendari lebih baik dan berkembang.  
DINAMIKA YAYASAN SOSIAL KRISTEN SALIB PUTIH (YSKSP) DI KELURAHAN KUMPULREJO, KECAMATAN ARGOMULYO, KOTA SALATIGA Mulyati Mulyati
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.151

Abstract

One of the social inheritance of the Dutch colonial government in the City of Salatiga was carried out by an evangelical couple of different nationalities from the Leger des Heils (Salvation Army), namely Adolph Theodoor Jocobus van Emmerick (Netherlands) and Alice Cornelia Cleverly (England). Their role began when Mount Kelud erupted in 1901. The social made by Adolph and his wife became the forerunner of the founding of the Yayasan Sosial Kristen Salib Putih (YSKSP). This research is located in Kumpulrejo Sub-District of Argomulyo District, Salatiga. The method used in this study is a critical historical method which consists of four stages, namely heuristics, source criticism (verification), interpretation, and historiography. Based on study, the presence of churches, nursing homes, orphanage, and plantations in the White Cross area cannot be separated from the role of Adolph and Alice. The foundation that he developed initially only focused on social services for the welfare of the people.Salah satu warisan sosial pemerintah kolonial Belanda di Kota Salatiga dilakukan oleh pasangan suami-istri penginjil berbeda kebangsaan dari Leger des Heils (Bala Keselamatan), yaitu Adolph Theodoor Jocobus van Emmerick (Belanda) dan Alice Cornelia Cleverly (Inggris). Peran mereka diawali ketika Gunung Kelud meletus tahun 1901. Pengabdian sosial yang dilakukan Adolph dan istrinya inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Yayasan Sosial Kristen Salib Putih (YSKSP). Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah kritis yang terdiri atas empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber (verifikasi), interprestasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan gereja, panti wreda, panti asuhan, dan perkebunan di kawasan Salib Putih tidak dapat dilepaskan dari peran Adolph dan Alice. Yayasan yang dikembangkannya ini awalnya hanya fokus kepada pelayanan sosial untuk kesejahteraan umat.
JEJAK KESENIAN SRANDUL DI DUSUN DUKUHAN, DESA SUMBER, KECAMATAN DUKUN, KABUPATEN MAGELANG Fandy Aprianto Rohman
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.130

Abstract

Indonesia has a variety of different arts in each region, ranging from traditional dance, traditional music, and traditional drama. One of the various arts is Srandul. Srandul is an art that arises from the people and involves music, dance and drama. The show can be classified into the form of folk theater because there are stories or plays played by players by dialogue. This research is located in Dukuhan Hamlet, Sumber Village, Dukun District, Magelang Regency. The method used in this study is a phenomenological research method that relies on events that existed in the past. The results of this study indicate that Srandul art in Dukuhan Hamlet began to emerge around 1982. The performance was often done based on requests from the community to fill a celebration (circumcision or marriage).Indonesia memiliki beragam kesenian yang berbeda-beda di tiap daerah, mulai dari tari tradisional, musik tradisional, dan seni drama tradisional. Salah satu dari kesenian yang beraneka ragam tersebut adalah Srandul. Srandul merupakan kesenian yang muncul dari rakyat dan di dalamnya melibatkan unsur musik, tari, serta drama. Pertunjukan tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk teater rakyat karena terdapat cerita atau lakon yang dimainkan oleh pemain dengan berdialog. Penelitian ini dilakukan di Dusun Dukuhan, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian fenomenologi yang bertumpu pada kejadian yang ada pada masa lampau. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesenian Srandul di Dusun Dukuhan mulai muncul sekitar tahun 1982. Pementasannya sering dilakukan berdasarkan permintaan dari masyarakat untuk mengisi acara hajat (khitan atau nikah).
IDENTITAS NELAYAN MIGRAN INDRAMAYU DI MUARA ANGKE Risa Nopianti; Ria Andayani Somantri
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.155

Abstract

Masyarakat migran Muara Angke, termasuk halnya masyarakat nelayan yang dari Indramayu, selain bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan hidup utama mereka melalui ekonomi dan pendidikan, juga membawa seperangkat pengetahuan lokal dan nilai budaya yang dipraktikan di daerah tujuannya. Pengetahuan lokal seperti teknik dan jenis alat tangkap yang digunakan untuk melaut, ritual dan tradisi nadran laut, serta organisasi sosial yang dibentuk, menjadi modal budaya sekaligus juga bentuk identitas Orang Indramayu yang dikenal oleh masyarakat lainnya di Muara Angke. Metode etnografi dengan teknik wawancara, observasi lapangan dan audio visual, serta penggalian data sekunder diaplikasikan pada penelitian ini untuk menggambarkan budaya dari sudut pandang masyarakat. Heterogenitas komposisi etnis, profesi, situasi politik dan kondisi sosial yang ada di Muara Angke, menjadi sebuah faktor pendorong bagi nelayan Indramayu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perangkat identitas mereka supaya dapat diterima dengan baik oleh seluruh anggota masyarakat yang ada. Dengan demikian penyesuaian identitas merupakan sebuah konsekuensi yang harus dihadapi oleh Orang Indramayu yang bermigrasi ke Muara Angke dalam rangka pencapai tujuan-tujuannya.  
NILAI-NILAI GOTONG ROYONG DALAM TRADISI SIHALI AEK PADA MASYARAKAT TOBA DI HUMBANG HASUNDUTAN harvina vina lubis
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.147

Abstract

ABSTRACTSihali Aek is a tradition of cleaning water ropes as part of the management of water sources to be used as well as possible for the lives of the community in irrigating rice fields. This research aims to examine the values of mutual cooperation in the Sihali Aek tradition. To explain the values of mutual cooperation in the Sihali Aek tradition, a qualitative method is used with data collection techniques through observation, interviews, and literature study. The Sihali Aek tradition is an annual tradition that is carried out in October each year. October is considered the right time to welcome the entry of the rainy season and the preparation of the planting season for paddy fields. Before the rice planting season, first ensure that water is available properly, because rice needs water for its growing period. Therefore, Sihali Aek is a very important activity for the people who are mostly farmers. Sihali Aek tradition contains wisdom in a variety of wisdom in the form of mutual cooperation values.
APA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN (Memori dalam Tradisi Lisan Massomba Tedong) Susia Imanuella
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.129

Abstract

ABSTRACTAs one manifestation of intangible cultural heritage, the oral tradition that preserves various kind of human experiences does not only exist as narratives of events in the past, but in the form of traditional ceremonies, oral traditions become a representation of the past which cannot be separated from the situation and conditions today, when this tradition is spoken. The oral tradition of massomba tedong, which became a part of Tongkonan consecration ceremonies in Toraja has a crucial meaning for the Torajans' life. Not only to recall the memory regarding their origin and identity as a group of indigenous peoples, but the tradition of massomba tedong is also presented to strengthen the "role" of certain groups in the traditional order through various elements which are shown in the narrative. Through the ethnographic methods, the oral tradition of massomba tedong is recognized not only as a part that fulfills the consecration ceremony of the Tongkonan, more than that this tradition becomes the living space of the Toraja indigenous people to recall memories about their cultural identity as heirs of the great tradition.Keywords: Oral tradition, oral narrative, Massomba tedong, Cultural memory, The Torajans
MAKNA SIMBOLIK PAKAIAN ADAT TRADISIONAL SUKU BUTON DI KOTA BAUBAU Abdul Asis; Herianah Herianah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.139

Abstract

Pakaian adat tradisional suku Buton merupakan karya seni budaya yang mengandung makna-makna dan nilai estetika terhadap pemakainya. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna simbolik, bentuk dan warna  pada pakaian adat suku Buton di Kota Baubau. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data pengamatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pakaian adat tradisional Buton terdapat dua warna yang dijadikan sebagai warna dasar yakni hitam dan warna putih, walaupun warna-warna lainnya seperti warna merah, kuning, biru, hijau dan ungu tetap digunakan. Umumnya baju dan celana pakaian adat tradisional Buton terdiri atas warna dan motif yang sama. Warna-warna tersebut mengandung beberapa arti bagi masyarakat Buton antara lain yang berhubungan proses kejadian alam dan manusia, serta arti yang menunjukkan sikap masyarakat Buton itu sendiri serta menyatakan bahwa di Buton terdapat penggolongan masyarakat.  bahwa pakaian adat tradisional masyarakat suku Buton memiliki makna-makna secara khusus. Dalam arti bahwa masyarakat yang menggunakan pakaian adat tradisional tersebut memiliki ciri-ciri atau spesifikasi tertentu. Bagi masyarakat yang memiliki status sosial lebih tinggi dalam kehidupan masyarakat Buton memiliki ciri khas dari segi warna, bentuk, perhiasan dan jumlah aksesoris yang digunakan serta perlengkapan lainnya
INTERAKSI ETNIS TIONGHOA MUSLIM DAN NON MUSLIM DI KOTA PADANG PROPINSI SUMATERA BARAT Hanura Rusli; Rois Leonard Arios
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.157

Abstract

Ethnic Chinese as one of the ethnic minorities in Padang City is divided into two major groups, namely Muslim Chinese and non-Muslim. This grouping occurred because Muslim Chinese were considered unable to follow Chinese culture. This grouping often becomes an obstacle in the interactions between them. Research is based on the assumption that differences in religious background are a factor that influences individual interactions with other individuals or groups. However, in its development, religious differences are no longer a barrier to interaction between fellow ethnic Chinese. The purpose of this study was to answer the research question, namely how the forms of interaction and the basis of the interactions carried out by Muslim and non-Muslim Chinese ethnicities. To analyze the problem using the perspective of action theory by Parson. The research was conducted using a qualitative method by collecting data through interviews, literature study, and observations of involvement in social and cultural activities of the Chinese ethnic group. Data were analyzed by ethnographic method. The results showed that the interaction of Chinese Muslims and non-Muslims was associative in the form of cooperation and involvement in various social activities. This interaction is a form of openness of each group to change and awareness of the need to interact with each other because of the feeling of a cultural background. This is also supported by the existence of the HBT, HTT, and PITI organizations in Padang City.
STRATEGI USAHA PERIKANAN NELAYAN ENGBATU-BATU KABUPATEN TAKALAR Tasrifin Tahara; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.169

Abstract

Dalam menjalankan usaha perikanan laut yang diversitas dan variatif, nelayan Engbatu-Batu seperti nelayan lain di Sulawesi Selatan menerapkan organisasi kelembagaan ponggawa-sawi. Beberapa masalah yang dihadapai nelayan dalam usahanya, antara lain: kesulitan dalam perolehan modal dan pengembangan usaha, kondisi sumber daya perikanan yang tidak menentu, praktik pemanfaatan sumber daya perikanan laut secara bebas/terbuka (open/free use), dan ketidakmampuan nelayan mengotrol situasi dan kondisi pemasaran hasil tangkapan. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, nelayan melakukan berbagai strategi seperti: strategi menjalin hubungan dengan pihak-pihak lain, terutama pengusaha dan pedagang besar, untuk perolehan modal, pengembangan modal dengan menambah jumlah unit atau volume dari suatu bentuk usaha; pengelolaan anak buah dengan memantapkan pola-pola hubungan patron-client; pengelolaan informasi berkaitan sistem-sistem produksi (di laut), situasi permintaan dan harga, dan jaringan pemasaran; dan penolakan dan perlawanan nelayan terhadap beroperasinya nelayan cantram/parere dari desa-desa lain.

Page 1 of 2 | Total Record : 12