JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
Jurnal Penelitian Sejarah dan budaya memfokuskan pada isu sentral memuat hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kesejarahan dan nilai budaya yang dilakukan oleh peneliti, penulis lepas, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Terbit 2 kali setahun (Mei dan Nopember) oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 2 (2022)"
:
9 Documents
clear
STIKER WHATSAPP GAYA MINANGKABAU: ANALISIS SEMIOTIKA
Mardiana Willis;
Abdullah Khusairi;
Sheiful Yazan
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.328
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna visual dan verbal yang terdapat pada stiker WhatsApp gaya Minangkabau. Metode penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data ialah observasi dan dokumentasi, teknik analisis data menggunakan analisis semiotika menggunakan teori Ferdinand de Saussure. Hasil dari penelitian ini makna visual, dari ilustrasi yang digambarkan mampu mencerminkan sebuah ekspresi, gestur dan emosi dalam stiker serta mampu membawa citra kebudayaan Minangkabau yang begitu melekat pada karakter stiker. Dari warna yang digunakan dominan warna merah, kuning, hitam dan putih yang dalam setiap warna memiliki falsafah mengenai bagaimana orang Minangkabau berprilaku. Dari tipografi yang digunakan Sans-Serif jenis font Arial dan Blogger sans ini mencerminkan kesederhanaan dalam teks yang disampaikan dan memberi kesan kedekatan dan bersahabat. Makna verbal dalam stiker WhatsApp gaya Minangkabau. Dilihat dari kurenah bakato dalam budaya Minangkabau, yakni cimeeh, kucindan dan garah, dapat dilihat bahwa orang Minangkabau sangat kritis dalam berkomunikasi dan dibutuhkan kreatifitas yang tinggi dalam pemilihan diksi saat menyampaikan sebuah pesan yang agaknya akan menimbulkan pergesekan. Sikap ramah tamah dan humoris menjadi sebuah daya tarik dari masyrakat Minangkabau sendiri.
NILAI SEJARAH KEMARITIMAN KEDATUAN SRIWIJAYA BAGI INDONESIA
Kabib Sholeh;
Sukardi Sukardi;
Aan Suriadi;
Liza Nadiya
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.323
Indonesia sudah seharusnya tidak hanya berjaya di darat tetapi juga berjaya dan berdaulat di laut dan di darat dapat terlaksana dengan baik. Menarik lagi bagi pemerintah terkait nilai-nilai sejarah kemaritiman Sriwijaya untuk dimaknai bukan hanya sebagai bacaan sejarah saja tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum dipahami dengan mendalam, padahal membawa dampak positif bagi pembangunan dunia maritim di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis nilai-nilai sejarah kemaritiman Sriwijaya bagi Indonesia. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode sejarah dengan langkah-langkahnya adalah, heuristik (pengumpulan data), verifikasi data (kritik sumber), interpretasi sejarah (penafsiran sejarah) dan historiografi (penulisan sejarah). Kesimpulan penelitian ini adalah sejarah kemaritiman Sriwijaya memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang luar biasah yaitu nilai politik maritim, ekonomi maritim, sosial-budaya maritim sehingga dari nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai bentuk dasar nilai yang pernah hidup dan pernah ada di Indonesia dalam ikut serta membangun kemajuan maritim di Indonesia.
KONSEPSI GUANXI PADA ETNIS TIONGHOA DI PADANG, STUDI KASUS : HIMPUNAN TJINTA TEMAN (HTT) PADANG
Mardoni Mardoni;
Nursyirwan Effendi;
Zainal Arifin
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.361
Tulisan ini menbahas praktik nilai-nilai guanxi oleh etnis Tionghoa dalam menjaga eksistensi kebudayaannya di Kota Padang. Eksistensi etnis Tionghoa di Kota Padang ditunjukkan identitas Kampung Pondok sebagai ruang publik dan ruang religi, tradisi hari raya imlek, dan usaha perdagangan. Asumsi dasarnya adalah bahwa sebagai etnis yang minoritas di Kota Padang memiliki kemanpuan untuk menjaga eksistensi budayanya ditengah kepungan budaya dominan (Minangkabau). Penulisan artikel ini mengunakan pendekatan antroplogi dengan metode kualitatif dalam corak studi kasus pada Himpunan Tjinta Teman (HTT) sebagai organisasi sosial budaya etnis Tionghoa. Lokasi penelitian di lakukan di Kelurahan Kampung Pondok Kecamatan Padang Barat Kota Padang. Hasil analisis penelitian menemukan bahwa etnis Tiongho sebagai masyarakat yang bermigrasi di Kota Padang manpu menjaga eksistensi kebudayaannya melalui praktik nilai-nilai guanxi. Nilai-nilai guanxi merupakan seperangkat nilai-nilai yang dikembangkan atas dasar persamaan marga, kerabat, profesi dan teman sepermainnan. Nilai guanxi berperan sebagai modal sosial dalam menjaga keberlansungan praktik-praktik kebudayaan etnis Tionghoa di Padang. Praktik nilai guanxi ada secara implisit ada dalam berbagai kegaiatan-kegiatan sosial budaya etnis Tionghoa pada pranata sosialnya. Pranta sosial yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial budaya ini salah satunya adalah Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang. Organisasi Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang sangat berperan dalam menjaga nilai-nilai guanxi dalam setiap kegiatannya sebagai modal sosial untuk menjaga eksistensi budaya Tionghoa di Padang.
SAFARI “S.S. HOPE”: MISI KEMANUSIAAN AMERIKA SERIKAT DI INDONESIA (1960-1961)
Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.316
Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet membuat dunia terpolarisasi. Untuk mempertahankan eksistensinya, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet saling berebut pengaruh. Berbagai cara dilakukan oleh keduanya termasuk diantaranya adalah melalui misi-misi kemanusiaan. Amerika Serikat misalnya terbukti pernah mengirimkan misi kemanusiaan dengan media Kapal S.S. Hope yang tujuan utamanya adalah memberikan bantuan medis di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kajian ini membahas bagaimana safari Kapal S.S. Hope sebagai sebuah misi kemanusiaan dilakukan di Indonesia. Kajian ini dimulai dengan terlebih dahulu melihat historis interkoneksi Indonesia dengan Amerika Serikat. Kajian ini disusun menggunakan metode sejarah dengan majalah dan surat kabar sebagai sumber primernya. Hasil dari kajian ini adalah bahwa selama berlayar di perairan Indonesia, Kapal S.S. Hope singgah di beberapa titik dan memberikan bantuan medis. Misi yang awalnya ditujukan sebagai misi kemanusiaan ini juga mendapatkan dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat, yang bahkan dalam beberapa hal dimanfaatkan untuk menarik dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia dalam kontestasi Perang Dingin. Meskipun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa misi kemanusiaan ini memberikan dampak yang cukup signifikan khususnya dalam bidang kemanusiaan dan kesehatan di Indonesia.
UPAYA PELESTARIAN RUMAH SEJARAH DALEM NOTONEGORO SEBAGAI CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG
Afiliasi Ilafi;
Dhiana Putri Larasaty
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.332
Dalem Notonegoro merupakan bekas Rumah Bupati Notonegoro salah satu Bupati Pemalang yang saat ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan dibuktikan adanya SK penetapan Cagar Budaya nomor 432/1493/Tahun 2018 oleh Bupati Pemalang. Rumah Bupati Notonegoro atau dikenal dengan sebutan Dalem Kenaren diperkirakan dibangun pada tahun 1825 beralamat di Jalan Kyai Makmur, perkiraan tahun tersebut dibuktikan adanya inskripsi yang tertulis pada kayu di bagian molo (struktur bagian atap bangunan). Sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya, pemerintah Kabupaten Pemalang berupaya untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 dengan melakukan serangkaian kegiatan konservasi bangunan cagar budaya dengan merevitalisasi bangunan tersebut. Sebagai bangunan cagar budaya yang sudah berusia lebih 50 tahun, maka pelestarian rumah sejarah Dalem Notonegoro perlu dilakukan sesuai dengan undang-undang cagar budaya. Pada penulisan ini hendak mendeskripsikan bagaimana peranan Pemerintah Daerah Kabuten Pemalang dalam upaya pelestarian cagar budaya, selain itu sejarah keberadaan Rumah Bupati Notonegoro atau Dalem Kenaren akan dideskripsikan pada penulisan ini. Penulisan ini berupa penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik studi kepustakaan, dokumentasi dan wawancara. Adapun data yang digunakan berasal dari data primer dan data sekunder, sedangkan sumber data berasal dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Adapun Hasil dan analisis meliputi deskripsi terkait asal usul Rumah Sejarah Dalem Notonegoro yang semula merupakan kediaman Bupati Pemalang yang bernama R.A.A Notonegoro yang tidak lain adalah Bupati Pemalang kemudian sepeninggalnya, Dalem Kenaren ditempati oleh anak kedua Bupati Notonegoro yang Bernama Raden Ayu Dipokusumo. Selanjutnya, Dalem Kenaren diwariskan kepada anak bungsunya Bupati Notonegoro yang Bernama Raden Ngabehi Surjowinoto. Hingga ditahun 2000-an, Dalem Kenaren ditempati oleh Eyang Titi yang merupakan ahli waris Dalem Kenaren pada waktu itu sebelum dibeli oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang. Dalam pelestarian Dalem Notonegoro atau Dalem Kenaren yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang berupa pembelian rumah Bupati Notonegoro kepada ahli waris pada waktu itu yakni Eyang Titi selanjutnya dilakukan konservasi Rumah Bupati Notonegoro atau Dalem Kenaren yang mencakup dari tahun 2018 hingga tahun 2021 berupa memperbaiki bangunan agar seperti sediakala. Kegiatan konservasi tersebut dilakukan secara LPSE dengan menjaring pihak kontraktor yang memiliki kredibelitas dalam ranah cagar budaya. Dengan adanya penelitian terhadap salah satu Bangunan Cagar Budaya yang ada di Kabupaten Pemalang dapat menjadi referensi masyarakat dalam penelitian sejenis.
MULO KOETARADJA DAN KONSTRIBUSINYA BAGI PERGERAKAN NASIONAL DI ACEH ABAD XX
Sudirman Sudirman
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.330
Pemerintah Hindia Belanda mengalami kewalahan dalam menguasai Aceh dengan cara kekerasan. Oleh karena itu, mereka mengubah strategi dalam menguasai Aceh, di antaranya melalui sistem pendidikan. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan berbagai lembaga pendidikan di Aceh, salah satunya adalah MULO Koetaradja dengan harapan dapat melemahkan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menjelaskan sistem pendidikan MULO Koetaradja (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) dan konstribusinya bagi pergerakan nasional di Aceh. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah kritis supaya mendapatkan data yang akurat dan pemahaman yang menyeluruh tentang MULO Koetaradja dan konstribusinya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca sejumlah arsip dan buku di perpustakaan, kemudian mencatat bagian-bagian yang sesuai dengan pokok bahasan. Selanjutnya, melakukan verifikasi dan interpretasi terhadap data serta menyimpulkannya. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pendidikan MULO Koetaradja dimaksudkan untuk mendidik orang-orang yang dapat bekerja menjadi pegawai pada administrasi Pemerintah Hindia Belanda. MULO Koetaradja menerapkan sistem diskriminasi pendidikan berdasarkan status sosial. Kurikulum yang diterapkan lebih banyak mata pelajaran bahasa Belanda dan tenaga pengajarnya berasal dari orang Belanda. Orang Aceh lulusan sekolah tersebut menjadi pelopor munculnya tatanan baru mengenai sistem pendidikan, tradisi yang tidak sesuai, serta keinginan membangun organisasi sosial-politik guna melakukan berbagai perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Berdasar pada apa yang mereka lihat dan rasakan selama menempuh pendidikan, muncul kesadaran untuk berjuang secara diplomasi melalui organisasi pergerakan.
NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM TRADISI ANTAR AJONG DI DESA TANAH HITAM KABUPATEN SAMBAS
Hadri Hadri
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.335
Antar Ajong merupakan salah satu tradisi masyarakat pesisir Melayu Sambas yang masih eksis hingga sekarang di Kabupaten Sambas, tepatnya di Desa Tanah Hitam, Kecamatan Paloh. Antar Ajong merupakan serangkaian ritual upacara tradisional berupa pelepasan perahu kecil yang berisi berbagai sesajian yang dihanyutkan ke laut dan waktu pelaksanaannya pada saat musim tanam tiba, khususnya dalam menanam padi. Artikel ini mengkaji tentang nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam tradisi Antar Ajongdan bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai dalam kehidupan apa saja yang terdapat dalam tradisi Antar Ajong. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik dan alat pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai dalam aspek kehidupan dalam tradisi Antar Ajong yaitu nilai religius, keindahan, gotong royong, solidaritas, toleransi dan kemasyarakatan.
KONSEP FILOSOFIS BUDAYA PELER MANGGARAI DALAM TERANG FILSAFAT DIALOGIS MARTIN BUBER
Mathias Jebaru Adon;
Agustinus Asman
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.329
Penelitian ini berfokus pada penggalian nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam budaya pele rsuku Kasong Manggarai-Flores-Nusa Tenggara Timur. Budaya peler adalah ritus yang berisi penghormatan dan rekonsiliasi terhadap alam ciptaan. Karena itu, menggali kekayaan filosofis yang terkandung dalam budaya peler merupakan bentuk penghormatan terhadap kekayaan kearifan lokal. Kearifan lokal ialah filsafat yang hidup di dalam hati masyarakat berupa kebijaksanaan hidup yang melukiskan kedalaman batin manusia dan keluasan relasionalitas manusia dengan sesama, serta menegaskan keluhuran rasionalitas hidupnya. Maka menggali kekayaan filosofis budaya peler merupakan bentuk penghargaan terhadap kebijaksanaan hidup masyarakat Manggarai. Filsafat relasional Martin Buber menjadi kerangka filosofis untuk menggali dan memahami kekayaan filosofis yang terkandung dalam budaya peler. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi kepustakaan. Studi ini menemukan bahwa budaya peler suku Kasong Manggarai merupakan sebuah model relasi I and Thou dalam terang pemikiran Martin Buber. Peler sebagai sebuah model relasi I and Thou mengandung didalamnya penghormatan dan penghargaan terhadap alam. Nilai-nilai yang mengalir dari budaya ini ialah keharmonisan, tanggung jawab dan penghargaan terhadap alam semesta. Sumbangan penelitian ini terletak pada penggalian butir-butir kebijaksanaan orang Manggarai dalam merawat dan melestarikan alam.
RITUS LERO BATSIR SEBAGAI KEARIFAN BUDAYA MASYARAKAT WERMATANG DI KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR
Olivir Srue
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.363
Ritus Lero Batsir dilakukan oleh masyarakat Desa Wermatang dengan tujuan untuk memintah turunnya hujan bagi mereka disaat musim kemarau tiba. Ritus Lero Batsir dikenal secara nasional seperti pawang hujan yang mampu untuk menurunkan bahkan dapat menyetop turunnnya hujan. Hal tersebut dapat dilakukan di Desa Wermatang karena pada dasarnya pola kehidupan masyarakat desa masih berlandaskan pada adat istiadat yang masih kental, sehingga ritus lero batsir bagi mereka ialah sebuah tindakan yang akan mengghidupkan mereka pada saat musim kemarau. Kegiatan ini yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wermatang terus menerus dan jarang ditemukan diseluruh desa yang berada di Kabupaten Kepulauan Tanimbar melainkan hanya dilakukan oleh masyarakat Wermatang, karena mereka menganggap bahwa lero batsir memiliki kekuatan untuk mendatangkan hujan. Tujuan dari penelitian ini yaitu bagaimana proses ritus lero batsir itu dilakukan sehingga disebut sebagai kearifan budaya bagi masyarakat Wermatang. Metode penelitian yaitu deskriptif kualitatif yaitu untuk menggambarkan secara lengkap dan mendeskripsikan setiap proses ritus lero batsir. Warisan budaya dari para leluhur yang telah meninggal sejak dulu yang masih terus dipelihara dan dilestarikan. Terdapat nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat yang mesti diketahui dan dilestarikan serta dilaksanakan yaitu nilai penghormatan kepada leluhur, nilai rasa syukur, nilai penyembahan, nilai ketaatan dan kesetiaan, nilai kebersamaan dan persekutuan, nilai saling menghormati antar warga, nilai penyucian diri dan nilai kasih.