Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam
This journal accepts scientific articles or research reports in general areas of psychology such as education, clinical, industrial and organizational, and religious social psychology. However, the main focus of this journal is the development of Islamic psychology so that this topic will dominate the articles in Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 1 (2016)"
:
8 Documents
clear
POLA PENGASUHAN YANG BERDASAR BUDAYA, AGAMA DAN NEUROSAINS
Mahastuti, Dewi
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.833
Children is a tremendous boon and a mandate that has been entrusted by God to parents, to be educated and cared for as well as possible so that it becomes an individual with strong character in his religion, ethics, thought patterns and sosioemosionalnya. The childcare is how parents guiding and educating children daily (Hurlock, 1998). Parenting will shape the character of the child. Children is a good observer or observers, so what it does is a representation of the daily parental education. Have we thought that the negative program which (may) we inadvertently instilled into the subconscious mind of our children, will continue to dominate and control her life - making a mess in the future ?. To answer these problems then nurturing it is filled with charges are quite dense, in accordance with the ultimate goal of what you want to achieve a parent for his son's future. Parenting charged local culture and customs ethics eastern instill character values for children who have unggah ungguh, manners and ethics. Parenting can not escape from the influence of local culture, upbringing certainly be colored by the local customs and cultural values. Religion in this case Islam became the basic guidelines for parents to take children into a personal smart grateful and in accordance with the command of Allah. How can parents educate children to enter a value and must be in accordance with the thinking pattern of the child, so the child can receive the information properly. The child can receive and process the brain well, so that what has been learned and understood the child will settle into a foundation in his behavior in the future.
PENCEGAHAN DEKADENSI MORAL: PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL TERHADAP EKS WANITA TUNASUSILA
Hasneli, Hasneli
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.834
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi yang melanda dunia saat ini cukup berpengaruh terhadap tingginya permasalahan sosial. Manusia dalam perkembangannya sering menemui hambatan-hambatan dalam kehidupan, sehingga mereka kecewa dan mencari jalan pintas yang sesungguhnya tidak tepat termasuk melakukan pelacuran. Sejalan dengan hal ini, studi kesehatan mental merekomendasikan bahwa tidak sedikit manusia terjerumus dalam perilaku dekadensi moral . Kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Tulisan ini diarahkan pada masalah yang berhubungan dengan alasan seseorang yang bekerja sebagai wanita tunasusila, bagaimana kondisi psikologis mereka dan bagaimana pembinaan yang diberikan pada mantan wanita tunasusila, agar dapat melepaskan diri dari pekerjaan terlarang tersebut dan dapat meningkatkan taraf kesehatan yang bersangkutan, tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis, sosial dan spiritual (agama).
LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK SEBAGAI MEDIA DALAM PSIKOEDUKASI ANTI KRIMINAL DI SEKOLAH
Istiqamah, Dewi
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.835
Pokok pembahasan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah menjelaskan urgensi layanan bimbingan kelompok sebagai media dalamPsikoedukasi anti criminal di sekolah.Maraknya prilaku criminal yang ditujukkan oleh remaja akhir-akhir ini seperti pencurian, perampokan, penggunaan narkoba, tindakan asusila, sangat menggelisahkan para orang tua dan membuat pemerintah perlu mengkaji ulang program-programnya bagi generasi muda. Sementara itu sekolah/madrasah sebagai lembaga pendidikan formal tidak bisa tinggal diam dalam perannya membina anak bangsa. Maka, bimbingan konseling sebagai salah satu unsur dalam Pendidikan di sekolah/madrasah melalui layanan bimbingan kelompok berupaya memberikan pemahaman kepada peserta didik di sekolah/madrasah, terutama MTsN Parak Lawas tentang masalah kriminalitas di kalangan remaja. Dari tiga kali pelaksanaan layanan bimbingan kelompok yang penulis laksanakan dan hasil penilaian BMB3, terlihat siswa sangat peduli dengan maraknya prilaku kriminal yang sedang berkembang saat ini, terutama dikalangan remaja. Mereka merasa sangat senang karena melalui layanan bimbingan kelompok mereka menjadi paham bentuk-bentuk kriminalitas yang berkembang saat ini, faktor-faktor pemicunya dan upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan, serta berkomitmen untuk menghindarkan diri dari prilaku kriminal.
PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KRIMINALITAS DALAM PSIKOLOGI ISLAM
Arifin, Muhammad Syamsul;
Nashori, Fuad
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.836
Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, akan tetapi ironisnya Indonesia juga merupakan salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya tinggi. Bahkan menurut survei Economist Intellegence Unit, Jakarta sebagai ibukota Indonesia menjadi kota yang paling tidak aman di dunia (cnnindonesia.com, 29/1/15). Para ahli psikologi, hukum, dan sosial telah banyak membahas tentang kriminalitas dan penanganannya, namun pencegahan dan penanganan kriminalitas dalam perspektif psikologi Islam tampaknya belum banyak dikaji. Artikel ini akan memberi gambaran tentang pencegahan kriminalitas sejak dini melalui pendidikan di sekolah dan rumah, serta penanganan kriminalitas yang lebih efektif, khususnya dalam perspektif psikologi Islam berlandaskan al-Qur’an dan Hadis.
APAKAH MAHASISWA PSIKOLOGI ISLAM BAHAGIA? GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DENGAN PENDEKATAN PEMODELAN RASCH
Kurniawan, Rizal
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.839
Psikologi Islam (PI) merupakan salah satu jurusan yang masih baru di indonesia. Banyak tantangan yang dihadapi sejak berdiri. Tantangan tersebut dapat menjadi stressor bagi mahasiswa yang dapat berdampak pada kebahagiaan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana kebahagiaan mahasiswa PI dengan menggunakan pemodelan Rasch. Teori psychological well-being (PWB) dari teori Ryff (1989) yang terdiri dari 6 dimensi digunakan untuk melihat kebahagiaan mahasiswa pada penelitian ini. Dari ke enam dimensi tersebut dirancang kondisi-kondisi tertentu yang harus direspon oleh mahasiswa dari tingkat mudah sampai sulit dengan respon semantic differensial. Sebanyak 193 responden dengan umur 19 tahun dengan range 17 sampai 23 tahun ikut terlibat dalam penelitian ini. Hasilnya estimasi Rasch menunjukkan sebagian besar mahasiswa Psikologi Islam memiliki kebahagiaan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan tingginya nilai logit responden dibandingkan logit aitem untuk semua dimensi PWB. Dimensi PWB yang sulit dihadapi oleh mahasiswa PI adalah penerimaan diri terutama menerima pengalaman buruk dari masa lalu. Dimensi yang paling mudah dihadapi oleh mahasiswa PI adalah relasi yang positif terutama menikmati bercerita dengan teman. Tidak ada perbedaan ke enam dimensi PWB berdasarkan jenis kelamin. Mahasiswa yang ikut organisasi memiliki penerimaan diri, perkembangan pribadi dan tujuan hidup lebih baik dibandingkan mereka yang tidak ikut organisai. Mahasiswa semester 5 memiliki perkembangan pribadi, penguasaan lingkungan dan autonomi yang baik.
SIKAP SISWA REGULER TERHADAP SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN KECENDERUNGAN BULLYING KELAS INKLUSI
Hasanah, Uswatun;
Ni’matuzahroh, Ni’matuzahroh;
Nurhamida, Yuni
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.837
Sikap merupakan kecenderungan untuk bertingkahlaku baik positif maupun negatif terhadap objek yang disikapi. Pada pendidikan inklusi siswa reguler diharapkan menerima perbedaan yang dimiliki siswa berkebutuhan khusus. Siswa reguler dengan sikap negatif terhadap siswa berkebutuhan khusus akan memunculkan perilaku meremehkan dan pengucilan sampai menimbulkan kecenderungan bullying. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara sikap siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan kecenderungan bullying. Desain penelitian adalah kuantitatif korelasional dengan jumlah 200 subjek siswa reguler sekolah inklusi tingkat SMP. Skala yang digunakan adalah skala sikap siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus dan skala kecenderunganbullying. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara sikap siswa siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan kecenderungan bullying yaitu (r= -0.234; p=0.000; p<0.01). Semakin negatif sikap siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus maka semakin tinggi kecenderungan perilaku bullying begitupun sebaliknya.
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KEPERCAYAAN DIR
Purwadi, Purwadi;
Widyantoro, Arief
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.832
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiusitas dengan kepercayaan diri. Mengingat remaja merupakan tahapan perkembangan yang paling unik, termasuk dalam hal membangun kepercayaan diri. Remaja juga mengalami perkembangan yang unik dalam kehidupan keberagamaannya, sehingga diduga memiliki hubungan dengan kepercayaan dirinya.Responden penelitian ini adalah remaja yang menjadi santri di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, yang diambil secara cluster random samping. Data penelitian diambil dengan skala religiusitas dan skala kepercayaan diri, kemudian dianalisis dengan teknik korelasi product moment. Hasil analisis korelasi product moment diperoleh koefisien korelasi (r) = 0,456; danp= ˂ 0,01.Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara religiusitas dengan kepercayaan diri.
STUDI KASUS GAMBARAN KEPRIBADIAN PELAKU SODOMI
Arief, Yanwar
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/alqalb.v7i1.838
Kasus kejahatan seksual di Indonesia terus meningkat termasuk di Provinsi Riau. Data yang didapatkan di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Riau tercatat tahun 2014 sebanyak 33 kasus dan tahun 2015 sebanyak 24 kasus sampai bulan oktober 2015. Untuk kasus sodomi tahun 2014 tercatat 3 kasus dan tahun 2015 tercatat 6 kasus. Pelaku kejahatan seksul lebih banyak adalah orang terdekat. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui gambaran kepribadian pelaku sodomi. Metode penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Subjek penelitian berjumlah satu orang dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Metode pengambilan data menggunakan observasi, wawancara dan tes grafis. Hasil penelitian menunjukan subjek melakukan sodomi kepada salah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun. Terjadinya perbuatan sodomi dapat disimpulkan dari kepribadian subjek sebagai berikut subjek memiliki kepribadian secara kognitif kurang mampu memiliki banyak pertimbangan dalam pengambilan keputusan sehingga cepat dalam mengambil keputusan. Secara emosi subjek kurang matang sehingga mudah terpengaruh oleh keadaan. Dari sisi sosial mampu beradaptasi namun kurang mampu menjalin hubungan intim dengan orang lain. Subjek kurang mampu mengontrol dorongan seksualnya karena tidak memiliki banyak aktivitas sehingga subjek merasa suntuk atau bosan dan yang muncul adalah bayangan seksual. Kebiasaan minum minimal alkohol. Pengetahuan dan pengalaman agama subjek rendah.