cover
Contact Name
Terttiaavini
Contact Email
avini.saputra@uigm.ac.id
Phone
+6285377238800
Journal Mail Official
lppm@uigm.ac.id
Editorial Address
Jl. Jend Sudirman No 629 KM 4 Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya
ISSN : 25028626     EISSN : 25494074     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Besaung is a scientific journal Visual Communication Design Study Program, Faculty of Government and Culture of the University of Indo Global Mandiri which includes the results of research, meetings, community service, conceptual coordination (thinking), and analytical studies in the fields of art, design and culture. Besaung is expected to be a medium for writers to publish their works, so publishing this journal can help in advancing science in the fields of art, design and culture. This journal is published twice in one year in March and September.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3" : 6 Documents clear
Instrumentasi dan Aspek Teknis Permainan Talempong Pacik Masyarakat Minangkabau Auzy Madona Adoma
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 3, No 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.242 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v3i3.494

Abstract

AbstractMinangkabau society have several  types of talempong music ensembles, such as ‘TalempongPacik, Talempong Unggan, Talempong Batu, Talempong Jao, Talempong Batuang, Talempong Sambilu, and Talempong Kayu, and other talempong types. Among the talempong traditional music types which is very popular in the society of Minangkabau is 'Talempong Pacik' because its type of music ensemble evenly grows and develops in every nagari at all Minangkabausociety, so thattalempong art has become a musical identity of Minangkabau ethnic arts themselves . The main technique ofTempempongPacikis in the talempong music instrument which is played with interlocking technic by 3 musicians who eachmusicians will hold 2 talempong pieces to composeda short motifs repeatedly.Keyword : Talempong Pacik, interlocking technic, instrumentation. Abstrak Masyarakat Minang kabau memiliki beberapa jenis ensambel musik talempong, seperti ‘Talempong Pacik, Talempong Unggan, Talempong Batu, Talempong Jao, Talempong Batuang, Talempong Sambilu, dan Talempong Kayu, serta jenis talempong lainnya.  Di antara jenis musik tradisional talempong yang sangat merakyat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau adalah ‘Talempong Pacik’ karena jenis ensambel musik ini secara merata tumbuh dan berkembang pada setiap nagari di seluruh pelosok Minangkabau, sehingga kesenian talempong telah menjadi identitas musik aldari seni-budaya etnik Minangkabau itu sendiri. Teknik permainan utama Talempong Pacik terletak pada alat musik talempong yang dimainkan dengan teknik imbal (interlocking technic) oleh 3 orang musisi yang masing-masing memegang 2 buah talempong untuk melahirkan motif-motif pendek secara berulang-ulang. Kata kunci : TalempongPacik, interlocking technic, instrumentasi.
Pemahaman Metrik dalam Membaca Notasi Balok Silo Siswanto; Feri Firmansyah
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 3, No 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.758 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v3i3.495

Abstract

Abstract The ability to read beam notation at every level of education experiences constraints in terms of the accuracy measure of reading notation values, although in the subject matter the rhythm has been explained regarding the shape and value of notation. Therefore this study will provide metric formulations in the form of reading-symbols in measuring the short length value of sound in music notation, where the symbol is a solution in solving the intended problem. The formulation of this research problem, 1) How is the understanding of metrics which include rhythm, knock, and tempo in reading beam notation, 2) Why is the understanding of metrics important in reading beam notation, and 3) how is the formulation of metric formulas in the form of symbols in reading beam notation. While the specific objectives of this research are 1) Creating a formula about understanding metrics in reading beam notation. 2) Explain the importance of understanding metrics in reading beam notation. 3) Making symbols in reading beam notation. The method used in this study includes literature research and data collection is done through literature study and documentation related to western music theory. Furthermore, the analysis of data relating to western music theory is processed and formulated through musicology.Keywords: Matrix, Symbol How to Read, Beam Notation AbstrakKemampuan membaca notasi balok pada setiap tingkat pendidikan mengalami kendala dalam hal ukuran akurasi nilai notasi pembacaan, meskipun dalam materi pelajaran irama telah dijelaskan mengenai bentuk dan nilai notasi. Oleh karena itu penelitian ini akan memberikan formulasi metrik dalam bentuk membaca-simbol dalam mengukur nilai panjang pendek suara dalam notasi musik, dimana simbol merupakan solusi dalam menyelesaikan masalah yang dituju. Rumusan masalah penelitian ini, 1) Bagaimana pemahaman metrik yang meliputi ritme, ketukan, dan tempo dalam membaca notasi balok, 2) Mengapa pemahaman metrik penting dalam membaca notasi balok, dan 3) bagaimana formulasi rumus metrik dalam bentuk simbol dalam membaca notasi balok. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah 1) Membuat rumusan tentang memahami metrik dalam membaca notasi balok. 2) Jelaskan pentingnya memahami metrik dalam membaca notasi balok. 3) Membuat simbol dalam membaca notasi balok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan dan pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan dokumentasi yang berkaitan dengan teori musik barat. Selanjutnya, analisis data yang berkaitan dengan teori musik barat diproses dan dirumuskan melalui musikologi.Kata kunci: Matriks, Simbol Cara Membaca, Notasi Balok
Limpapeh Pada Baju Kuruang Basiba Rahmawati Rahmawati; Ahmad Akmal; Awerman Awerman
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 3, No 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.134 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v3i3.491

Abstract

AbstractLimpapeh or Attacus atlas is a large butterfly with a wingspan wide, which has a reddish brown color and decorated with a bit of white color. Limpapeh usialy found in houses, buildings, on trees, leaves and flowers that blooming. For the people of Minangkabau, limpapeh is the designation for Minangkabau women who have grown up and will be the responsible for maintaining the lineage of the future, based on the maternal lineage will become residents in the house. The form of limpapeh in the creation of this Artwork is such a motif that is found on kuruang basiba clothes, kuruang bsiba clothes is basically a women Minangkabau clothes, that has a characteristic on the side of the shirt called siba and kikik. The presence of limpapeh wings shape on the chest, arms and subordinate makes the clothes more interesting.Keywords : Limpapeh, Clothes Kuruang Basiba Abstrak Limpapeh atau attacus atlas merupakan kupu-kupu besar dengan  bentangan sayap yang luas, yang memiliki warna coklat kemerahan dan dihiasi sedikit warna putih. Kebiasaan limpapeh hinggap pada rumah, bangunan, pepohonan, dedaunan dan bunga yang sedang bermekaran. Bagi masyarakat minangkabau limpapeh adalah sebutan untuk  perempuan Minangkabau yang sudah beranjak dewasa yang bertanggung jawab menjaga garis keturunan berikutnya, berdasarkan garis keturunan ibu yang akan menjadi penghuni dalam rumah gadang.  Bentuk limpapeh dalam penciptaan karya ini adalah sebagai motif dari baju kuruang basiba, baju kuruang basiba merupakan pakaian perempuan Minangkabau yang mempunyai ciri khas yaitu pada bagian samping baju  terdapatnyasiba dan kikik. Bentuk sayap limpapeh yang terdapat pada bagian dada, lengan dan bawahan baju serta bentuk limpapeh yang berbentuk utuh yang berterbangan sehingga membuat baju kuruang basiba, ini lebih menarikKata kunci : Limpapeh, Baju Kuruang Basiba
Keris dalam Budaya Minangkabau : “Visualisasi Nilai Kepemimpinan Pangulu” Muhsin Ilhaq
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 3, No 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.143 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v3i3.496

Abstract

AbstractKris is one of the noble cultural art works of past cultural heritage that has high value, its usefulness always develops from time to time according to the age context. Initially the kris developed in Java as a traditional weapons system, then spread to various regions of the archipelago including the Minangkabau. Almost the entire archipelago has a kris culture, although there are differences in names, forms and functions in each region. These differences encourage the desire to understand the meaning and value of the kris in accordance with the context of Minangkabau culture. Overall, the kris is a form of physical culture that reflects the values of goodness, especially related to Pangulu's leadership in Minangkabau.Keywords : Kris, Minangkabau Cultur, Leadership Value Abstrak Keris merupakan salah satu karya seni budaya adiluhung peninggalan budaya masa lalu yang bernilai tinggi, kegunaannya selalu berkembang dari masa ke masa sesuai konteks zaman. Awalnya keris  berkembang di Jawa sebagai sistem senjata tradisional, kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara termasuk ke Minangkabau. Hampir seluruh wilayah nusantara memiliki budaya keris, meskipun terdapat perbedaan nama, bentuk maupun fungsinya di tiap wilayah.Perbedaan tersebut mendorong keinginan untuk memahami makna dan nilai keris sesuai dengan konteks budaya Minangkabau.Secara keseluruhan, keris merupakan wujud budaya fisik yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan, terutama terkait dengan kepemimpinan Pangulu di Minangkabau.Kata kunci : Keris, Budaya Minangkabau, Kepemimpinan      
Pengaplikasian Golden Ratio Pada Perancangan Logo Dalam Perspektif Desain Komunikasi Visual Yosef Yulius
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 3, No 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.587 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v3i3.492

Abstract

AbstractIn the scientific field of visual communication design, the logo is one of the most frequently made designs and has a good market share. Along with the times, designing a logo work has undergone various forms and forms of transitions. The design process has also undergone innovation from various aspects ranging from concepts to the final results. The amount of market demand for a good logo makes the logo designers try to maximize the logo making process to match the expected results. One form of the logo-making process is by applying the golden ratio as a benchmark in determining the proportion and order of a harmonious and regular form to produce an aesthetic visual form. Understanding of the golden ratio is needed as a guide for graphic designers to be able to create a design work that has a basis for structured patterns and arrangements.Keywords : Logo, Graphic Design, Visual Communication Design, Golden Ratio, DKV AbstrakDalam bidang  desain komunikasi visual, logo merupakan salah satu karya desain yang paling sering dibuat dan memiliki pangsa pasar yang baik. Seiring dengan perkembangan jaman, perancangan sebuah karya logo telah mengalami berbagai macam transisi bentuk dan rupa. Proses perancangannya pun telah mengalami inovasi dari berbagai aspek mulai dari konsep hingga hasil akhirnya. Banyaknya permintaan pasar akan logo yang baik membuat para perancang logo berusaha memaksimalkan proses pembuatan logo agar sesuai dengan hasil yang diharapkan. Salah satu bentuk proses pembuatan logo adalah dengan cara mengaplikasikan golden ratio sebagai patokan dalam menentukan proporsi dan tatanan bentuk yang harmonis dan teratur untuk menghasilkan bentuk visual yang estetis. Pemahaman akan golden ratio dibutuhkan sebagai panduan para desainer grafis untuk dapat menciptakan suatu karya desain yang memiliki landasan akan pola dan tatanan yang terstruktur.Kata Kunci : Logo, Desain Grafis, Desain Komunikasi Visual, Golden Ratio, DKV
Peran dan Pengaruh Tampilan Desain pada Periklanan Heri Iswandi
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 3, No 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.251 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v3i3.493

Abstract

AbstractCommunication has an aesthetic value that is applied in communication practices such as news writing, romance, novels, radio broadcasting, television, graphic arts, rhetoric, acting, screenplay writing, book writing and so on. Thus, it is clear that there is a common thread that links communication with graphic design practice. Graphic design is used as a communication tool as applied to static media, such as books, magazines, and brochures, catalog flyers, newspaper pamphlets, and so forth. In addition, in line with the times, graphic design is also applied in electronic media, often referred to as interactive design or multimedia design. Palembang Pos Daily newspaper is a newspaper that appears in the middle of the competition of information media business, on the one hand benefiting consumers, because they can get many sources of information. But when viewed from the other side is also very threatening media industries that have already appeared. This problem requires the managers of the media industry, innovate, modify its products by designing an attractive design to be able to make consumers interested. It can be concluded that, how the design elements are very instrumental in advertising media.Keywords :  Communication, Design, Graphics, Roles, Advertising. AbstrakKomunikasi memiliki nilai estetika yang diterapkan dalam praktik-praktik komunikasi seperti penulisan berita, roman, novel, penyiaran untuk radio, televisi, seni grafika, retorika, akting, penulisan skenario, penulisan buku dan sebagainya. Maka, jelaslah terdapat benang merah yang menghubungkan komunikasi dengan praktik desain grafis. Desain grafis digunakan sebagai alat komunikasi seperti diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur, catalog flyer, pamplet Koran, dan lain sebagainya. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik, yang sering kali disebut sebagai desain interaktif atau desain multimedia. Harian Umum Palembang Pos merupakan surat kabar yang muncul di tengah persaingan bisnis media informasi, di satu sisi menguntungkan konsumen, karena mereka bisa mendapatkan banyak sumber informasi. Namun apabila dilihat dari sisi lain juga Sangat mengancam industri-industri media yang sudah lebih dulu muncul. Permasalahan ini mengharuskan para pengelola industri media, berinovasi, memodifikasi produknya dengan cara merancang desain yang menarik untuk bisa membuat konsumen tertarik. Hal ini bisa disimpulkan bahwa, bagaimana unsur desain sangat berperan sekali pada media periklanan.Kata kunci : Komunikasi, Desain, Grafis, peran, Iklan

Page 1 of 1 | Total Record : 6