cover
Contact Name
Farikha Maharani
Contact Email
farikhamaharani@unwahas.ac.id
Phone
+6281325449347
Journal Mail Official
inovasitekim@unwahas.ac.id
Editorial Address
JL. Menoreh Tengah X / 22, Sampangan, Gajahmungkur, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50232
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Inovasi Teknik Kimia
ISSN : 2527614X     EISSN : 25415891     DOI : http://dx.doi.org/10.31942/inteka
Core Subject : Engineering,
The Inovasi Teknik Kimia (INTEKA) journal focuses upon aspects of chemical engineering: chemical reaction engineering, environmental chemical engineering, material and food engineering . The INTEKA is an research journal and invites contributions of original and novel fundamental research. The journal aims to provide a forum for the presentation of original fundamental research, interpretative reviews and discussion of new developments in chemical engineering. Papers which describe novel theory and its application to practice are welcome, as are those which illustrate the transfer of techniques from other disciplines. Reports of carefully executed experimental work, which is soundly interpreted are also welcome. The overall focus is on original and rigorous research results which have generic significance.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2024)" : 9 Documents clear
OPTIMASI EKSTRAKSI MINYAK BIJI KELOR MENGGUNAKAN TANGKI BERPENGADUK Ajiguna Wijaya; Nabilla Balini Putri; Lucky Indrati Utami; Dwi Hery Astuti
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9062

Abstract

Kelor (Moringa oleifera L.) merupakan tanaman yang dibudidayakan sebagai salah satu sumber minyak nabati, yang dikenal sebagai minyak kelor dan diperoleh dari ekstrak bijinya. Biji kelor memiliki kandungan minyak hingga 40% yang tersusun atas beberapa senyawa asam lemak. Penelitian ini dilakukan untuk mencari kadar tertinggi minyak biji kelor dan mencari optimasi pada proses ekstraksi dalam tangki berpengaduk dengan menggunakan bilangan CAMP. Pelarut yang digunakan adalah n-heksana 98%. 50 gr biji kelor yang sudah di screening 60 mesh diekstraksi dengan pelarut n-heksana dan suhu ekstraksi 55-60 oC. Variabel yang dijalankan berupa kecepatan pengadukan (rpm) sebesar 300, 350, 400, 450, dan 500. Dan waktu pengadukan (menit) sebesar 50, 70, 90, 110, dan 130. Filtrat minyak biji kelor yang sudah di ekstraksi kemudian di distilasi dengan suhu 69 oC untuk memisahkan pelarut dengan minyak kelor murni yang kemudian dapat dihitung perolehan yield nya dan optimasi bilangan CAMP. Terdapat pengaruh dalam penelitian ini yang saling berhubungan yaitu kecepatan pengadukan dan waktu ekstraksi yang dapat diaplikasikan dalam bilangan CAMP sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal. Bilangan CAMP optimum yang didapatkan berkisar antara 14,61 x 106 hingga 15,75 x 106 dengan perolehan yield tertinggi 36,92%
PEMBUATAN PLASTIK BIODEGRADABLE BERBAHAN PATI DARI LIMBAH KULIT PISANG RAJA DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN PLASTICIZER SORBITOL Kevin Christian Yustisi; Kezia Wulandari; Isni Utami
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.8806

Abstract

Alternatif dari penggunaan plastik konvensional yaitu menggunakan plastik Biodegradable. Plastik biodegradable terbuat dari bahan polimer alami seperti pati, selulosa, dan lemak. Dalam pembuatannya diperlukan penambahan bahan lain yaitu kitosan sebagai perekat dan plasticizer sebagai pemlastis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi optimum material bioplastik sehingga memiliki sifat mekanik, sifat fisik dan biodegradabilitas yang sesuai standar bioplastik yang berlaku. Penelitian ini menggunakan pati yang diekstraksi dari kulit pisang raja dengan memvariasikan penambahan kitosan (2,3,4,5,6 gram) serta variasi penambahan sorbitol sebagai plasticizer (2,3,4,5,6 ml). Pembuatan plastic biodegradable dilakukan dengan melakukan pencampuran setiap bahan dan dilakukan pemanasan pada temperatur 60oC selama 1 jam dan dilakukan pencetakan pada plat kaca untuk dioven selama 5-6 jam. Hasil yang diperoleh akan diuji nilai kuat tarik, elongasi dengan menggunakan standar ASTM D638 sebagai acuan, serta menguji kemampuan terdegradasi. Diperoleh plastik biodegradable terbaik pada komposisi 4 gram pati dengan penambahan  5 gram kitosan dan 6 ml sorbitol dimana nilai kuat tarik sebesar 49.9380 Mpa dan nilai elongasi 68.28 % serta kemampuan terdegradasi hingga 100 % pada minggu ketiga setelah dilakukan penimbunan dalam tanah.
UJI DAYA ADSORPSI ADSORBEN ARANG BIJI SALAK UNTUK MENJERAP METHYLEN BLUE Retno Ambarwati Sigit Lestari; Rudi Firyanto; Hotmaria Sitompul
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.10174

Abstract

Zat warna yang sering digunakan pada industri tekstil ialah methylene blue yang merupakan senyawa aromatik heterosiklik kationik. Konsentrasi methylene blue untuk nilai ambang batas yang diperbolehkan dalam perairan sekitar (5 – 10) mg/L. Bila tidak ada proses pengolahan limbah terlebih dahulu, zat warna ini dapat menjadi salah satu zat pencemar berbahaya. Limbah cair tersebut mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun yang keberadaannya dalam perairan dapat menghalangi sinar matahari menembus lingkungan akuatik, sehingga mengganggu proses-proses biologis yang terjadi di dalamnya serta dampak buruk lainnya. Salah satu cara untuk menurunkan konsentrasi pencemar pada air limbah dapat dilakukan dengan cara adsorpsi menggunakan adsorben. Adsorben dapat dibuat dari biomassa yang ada di lingkungan kita. Biji salak merupakan salah satu bahan yang digunakan sebagai adsorben untuk menyerap methylen blue pada limbah industri garmen. Sebelum digunakan sebagai adsorben, biji salak dipirolisis menjadi arang pada suhu 3000 C. Arang biji salak selanjutnya diaktifkan secara fisika maupun kimia. Aktivasi secara fisika dilakukan dengan pemanasan suhu 3000 C, sedangkan aktivasi secara kimia dilakukan dengan perendaman arang biji salak dalam larutan KOH. Dari penelitian didapat hasil konsentrasi KOH optimum 5 M dan waktu aktivasi optimum 24 jam dengan kapasitas adsorpsi adsorben terhadap methylene blue sebesar 95,0616%..
SINTESIS BIODIESEL MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH DENGAN MENGKUDU (Morinda citrifolia) SEBAGAI ADSORBEN SERTA VARIASI KATALIS NaOH DAN WAKTU TRANSESTERIFIKASI Ikke Febri Yenika; Aan Sefentry; Muhrinsyah Fatimura
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9047

Abstract

Peningkatan  konsumsi  energi  dan  tumpukan  limbah  merupakan   permasalahan  besar yang muncul seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Limbah yang berupa  minyak jelantah terus  meningkat  jumlahnya dapat menimbulkan  masalah bagi  lingkungan karena bersifat karsinogenik. Proses pengolahan pembuatan biodiesel dalam penelitian ini dilakukan pretreatment minyak jelantah terlebih dahulu dengan menggunakan mengkudu sebagai adsorben agar didapat asam lemak bebas yang rendah kemudian dilanjutkan dengan proses transesterifikasi langsung dengan menggunakan katalis basa NaOH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pretreatment minyak jelantah menggunakan variasi adsorben mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai bahan baku pembuatan biodiesel serta mengetahui variasi antara konsentrasi katalis NaOH dan waktu transesterifikasi yang menghasilkan biodiesel optimum. Penelitian ini menggunakan proses tranesterifikasi dengan variasi waktu 60 menit dan 90 menit serta penggunaan variasi katalis NaOH 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% pada temperatur 60oC. Dari hasil analisa dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan adsorben mengkudu 250 gram menghasilkan asam lemak bebas sebesar 1,2788% dan kondisi optimum pada saat proses tranesterifikasi dengan katalis 1,5% dengan waktu tranesterifikasi 90 menit. Pada kondisi tersebut biodiesel memenuhi standar  (kadar air 0,05831%, berat jenis 0,8680 g/ml, viskositas 3,6978 cSt, bilangan asam 0,3767 mg KOH/gr sampel dan rendemen sebesar 80%) Kata kunci: Minyak Jelantah, Mengkudu, Adsorbsi, Asam Lemak Bebas dan Transesterifikasi
KINETIC ANALYSIS OF PHOSPHATE ADSORPTION ON ZEOLITE AND ACTIVATED CARBON IN GREYWATER Devy Cendekia; Dian Ayu Afifah; Yeni Variyana; Evita Karlina
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.8896

Abstract

Phosphate is one of the pollutants that exist in greywater. Phosphate pollutant comes from surfactants used in detergent products which are commonly used in household activities. Water phosphate will increase when detergent waste is not managed properly. The presence of phosphate in waters can result in eutrophication which disrupts aquatic life. Some natural adsorbents such as zeolite and activated carbon can adsorb phosphate in greywater. The effectiveness of an adsorbent in removing phosphate in greywater can be analyzed based on the adsorption capacity and adsorption rate. In this research, it is known that zeolite is more effective as an adsorbent in removing phosphate content in greywater. Zeolite and activated carbon follow the Freundilch adsorption mechanism in the adsorption of phosphate in water. Zeolite can adsorb 41.154% with a contact time of 40 minutes, with a Freundilch constant (Kf ) = 8.10 L g-1 and an adsorption rate of K = 0.0038 m-1. For activated carbon it can adsorb 23.330 % with a contact time of 40 minutes, with a Freundilch constant (Kf ) = 1.99 L g-1 and an adsorption rate of K = 0.0013 m-1. Based on these data, activated carbon has a faster phosphate adsorption rate than zeolite, but has a smaller adsorption capacity value than zeolite. So that the zeolite can absorb more phosphate in greywater, with an adsorption rate of 0.0038 per minute.
OPTIMASI EKSTRAKSI MINYAK BIJI WIJEN DENGAN PELARUT N-HEKSANA DALAM TANGKI BERPENGADUK Farhan Azka Nashuha; Reza Salsabilla Kafy; Ketut Sumada
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9045

Abstract

Wijen merupakan yang dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati. Berdasarkan penelitian terdahulu perlu dilakukan metode lain selain menggunakan metode cold press untuk menigkatkan minyak yang didapat dengan menggunakan tangki berpengaduk. Sehingga diharapkan perolehan rendemen yang didapat lebih banyak dibanding menggunakan metode cold press. Oleh karena itu peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul “Optimasi Ekstraksi Minyak Biji Wijen Dengan Pelarut N-Heksana Dalam Tangki Berpengaduk”. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan optimasi proses ekstraksi dalam tangki berpengaduk dengan menggunakan bilangan CAMP. Metode yang digunakan adalah ekstraksi menggunakan alat tangki berpengaduk. Perbandingan jumlah biji wijen dan pelarut Nheksana pada tiap sampelnya sebanyak 1:5. jumlah biji wijen sebanyak 80 gram dan pelarut N-heksana sebanyak 400 ml. untuk variabel yang dijalankan berupa kecepatan pengadukan (rpm) sebesar 100, 200, 300, 400, 500. Dan waktu pengadukan (menit) sebesar 20, 40, 60, 80, 100. Hasil ekstraksi kemudian difiltrasi untuk memisahkan ampas biji wijen dengan filtratnya. Kemudian filtrat tersebut dilakukan proses distilasi untuk pemisahan pelarut dengan minyak wijen murni untuk dihitung perolehan yield nya dan menghitung optimasi bilangan CAMP. Kemudian menganalisa minyak wijen murni dari perolehan optimasi bilangan CAMP. Bilangan CAMP optimum berkisar antara 10,06 x  hingga 11,67 x  dengan perolehan yield sebesar 49,5%  Kata kunci: Biji Wijen, Bilangan Camp, Ekstraksi
ISOLASI CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) DENGAN MEMANFAATAN LIMBAH TONGKOS SAWIT SEBAGAI PENGGANTIN CMC KOMERSIL Iqbal Kamar; Dewi Yuniharni; Ramadhani Emilia
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9640

Abstract

Produk limbah padat industri dari produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) dikenal sebagai tandan buah kelapa sawit kosong (tongkos). Saat ini banyaknya tongkos kelapa sawit yang berlimpah tanpa pengelolaan dan pengolahan yang baik, sehingga perlu difikirkan pemanfaatannya yang lebih berguna yang tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Adapun tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses sintesis dan karateristik carboxymethyl cellulose (CMC) hasil sintesis dari TKKS. Tahapan proses sintesis CMC dari TKKS yaitu melalui proses isolasi α-selulosa (delignifikasi, swelling, bleaching, dan hidrolisis) alkalisasi dan karboksimetilasi.  Analisis CMC dari TKKS ditinjau dengan beberapa parameter uji seperti parameter uji organoleptik, pH, viskositas, derajat subsitusi, kemurnian dan analisa FTIR. Hasil penelitian diperoleh CMC dari limbah TKKS menunjukan hasil yang baik berdasarkan hasil uji telah memenuhi standar SNI 06-3726-1995. Hasil uji organoleptic CMC dari limbah TKKS berbentuk serbuk hablur, berwarna krim (putih kekuningan), dan tidak berbau. Serta CMC limbah TKKS ini pH 7,3 dengan viskositas 8,96 cP serta nilai derajat subsitusi 0,8 dan kemurnian 99,41%. CMC dari TKKS yang dihasilkan menunjukkan gugus fungsi O-H, C-H, dan C-O yang memiliki difraksi sinar-X dan spektra FTIR yang setara dengan CMC komersial
The Utilization of Green Mussel Shell Waste for The Production of Hydroxyapatite Using Sol-Gel Method Aninda Ikaputri; Moh Nur Fuadzi; Luluk Edahwati; Sutiyono Sutiyono
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9116

Abstract

Hydroxyapatite is a type of ceramic biomaterial made up of calcium and phosphate, with a chemical formula of Ca10(PO4)6(OH)2. The Calcium used in this research was obtained from Green Mussel Shell Waste Precipitated Calcium Carbonate. The research was conducted using the sol-gel method to determine the optimal conditions for hydroxyapatite synthesis with the variable of H3PO4 solution at 0.1 M, 0.5 M, and 1 M. The result at the concentration of H3PO4 on 1 M turns out the optimal condition. The hydroxyapatite synthesis using the sol-gel method with a concentration of 1 M pH 12 phosphoric acid was successfully conducted and known as the optimal condition in this research. From the synthesis results, the characterization of hydroxyapatite synthesis shows there was a P-O bond at 995.27 cm-1 and an OH- bond at 3068.75 cm-1. The ratio of Ca/P calculated is 1.68 which is close to the standard ratio Ca/P of hydroxyapatite.
KARAKTERISTIK MODIFIKASI PATI KULIT SINGKONG (Manihot Esculenta) DENGAN PROSES ASETILASI Rudi Firyanto; Priyono Kusumo; Febrina Putri Romadhoni
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9987

Abstract

Kulit singkong merupakan limbah argoindustri pengolahan ketela pohon seperti industri tepung tapioka, industri farmasi dan industri pokok makanan. kulit singkong dapat menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi, antara lain diolah menjadi tepung mocaf, pati dan bahan pangan yang lainnya. Metode asetilasi adalah salah satu metode yang dapat dilakukan dalam proses modifikasi pati kulit singkong. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu pemanasan dan pH larutan awal terhadap swelling power, solubility dan kadar gugus karboksil pada starch acetate yang dihasilkan. Variabel suhu pada penelitian ini yaitu (350C, 450C, 550C, dan 650C) dan variabel pH (6, 7, 8, dan 9). Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai swelling power dan solubility semakin meningkat dengan bertambahnya suhu pemanasan karena meningkatnya kecepatan reaksi asetilasi. Hasil optimum swelling power diperoleh pada perlakuan pH 8 dan suhu pemanasan 65oC sebesar 29,3 g/g. Hasil optimum % solubility pada perlakuan suhu pemanasan 65oC dengan pH 9 sebesar 26,4%. Kenaikan % gugus karboksil cenderung konstan setiap penambahan suhu pemanasan. Hasil optimum % gugus karboksil pada perlakuan pH 8 dengan suhu pemanasan 650C sebesar 0,075%. % gugus karboksil sesuai dengan syarat pati termodifikasi dengan mempergunakan bahan kimia untuk produk pangan (JECFA) bahwa kadar gugus karboksil maksimal yang diperoleh dari proses asetilasi tidak lebih dari 1,1 %.

Page 1 of 1 | Total Record : 9