cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : 19073038     EISSN : 25022229     DOI : https://doi.org/10.36869/wjsb
Core Subject : Social,
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. We publish original research papers, review articles and case studies on the latest research and developments in the field of : oral tradition; manuscript; customs; rite; traditional knowledge; traditional technology; art; language; folk games; traditional sports; and history. Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is published twice a year and uses double-blind peer review. All submitted articles should report original, previously unpublished research results, experimental or theoretical that are not published and under consideration for publication elsewhere. The publication of submitted manuscripts is subject to peer review, and both general and technical aspects of the submitted paper are reviewed before publication. Manuscripts should follow the style of the journal and are subject to both review and editing. Submissions should be made online via Pangadereng journal submission site. Accepted papers will be available on line and will not be charged a publication fee. This journal is published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Direktorat jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Pendidikan.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2019)" : 12 Documents clear
PROPAGANDA DAN AKIBATNYA PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG DI ENREKANG (1942-1945) Sahajuddin, Sahajuddin
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.269 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.10

Abstract

Kajian ini mengungkapkan dan menjelaskan tentang Pendudukan Jepang di Enrekang (1942-1945). Kemudian merefleksi dengan adanya perbedaan Pendudukan Jepang di Sulawesi Selatan antara kota praja seperti Makassar dengan daerah Enrekang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendudukan Jepang di Enrekang tidak dapat dipersamakan secara general dengan daerah lain karena adanya perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi. Pendudukan Jepang di Enrekang memiliki keunikan tersendiri, walaupun pada tahun pertama pendudukan memiliki kesamaan di daerah lain dengan gencarnya propaganda. Namun tahun-tahun berikutnya tidak lagi melihat daerah pendudukan secara general tetapi lebih kepada obyek kepentingannya. Misalnya Enrekang lebih ditekankan pada obyek kepentingan sebagai pusat pertahanan, dan pusat komoditi daerah dataran tinggi berupa kapas dan kopi. Jepang semakin beraksi di Enrekang karena banyak membutuhkan tenaga dan komoditi untuk kepentingan perang tetapi di tingkat kota praja semakin melunak. Selain itu, ada tindakan biadab tentara Jepang yang berakibat pada jatuhnya moral dan hilangnya simpati masyarakat Enrekang kepada Pendudukan Jepang.
SIKAP HIDUP WANITA MUSLIM KAUMAN: KAJIAN PERANAN AISYIYAH DALAM KEBANGKITAN WANITA DI YOGYAKARTA TAHUN 1914-1928 Seniwati, Seniwati; Lestari, Tuti Dwi
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.734 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.11

Abstract

Kelahiran Aisyiyah sebagai organisasi wanita muslim merupakan suatu bentuk pembaruan Islam dalam mengubah paradigma wanita yang hanya mengurusi rumah tangga saja. Pandangan Islam berkemajuan yang diperkenalkan oleh para wanita Aisyiyah telah membuat perubahan pandangan tentang wanita. Sejak awal pendiriannya, para wanita telah didorong untuk aktif keluar dan berdakwah sebagaimana laki-laki. Perubahan pandangan itu mulai diamalkan untuk memberikan hak, kewajiban, dan peran yang sama bagi kaum wanita. Adapun penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari fenomena historis pada cakupan waktu dan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aisyiyah telah membuka cakrawala pandangan baru yang lebih luas bagi para wanita untuk dapat berperan di dalam masyarakat dan menyingkirkan sekat-sekat tradisional yang menghambat wanita untuk maju. Selaku organisasi massa, aspek gerak Aisyiyah adalah bidang pendidikan, keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan kewanitaan. Melalui keempat aspek itulah Aisyiyah menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya di dalam masyarakat serta senantiasa tanggap kepada tuntutan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Kiprahnya yang berskala nasional sebagai salah satu pendiri dan peserta Kongres Wanita Indonesia Pertama di Ndalem Jayadipuran pada tanggal 28 Desember 1928 menjadi bukti kepekaannya yang tinggi terhadap besarnya peran wanita di dalam masyarakat.
PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA KOMUNITAS NELAYAN PESISIR: DARI NELAYAN KE PETANI RUMPUT LAUT (Studi Kasus Budi Daya Rumput Laut di Kelurahan Pakbiringa, Kabupaten Jeneponto) Saleh, Nur Alam
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.395 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.17

Abstract

Penelitian ini membahas tentang peningkatan kesejahteraan sosial petani rumput laut di Kelurahan Tonrokassi sehingga melahirkan perubahan pola hidup, perilaku ekonomi, sosial dan budaya, serta adanya kecenderungan pergeseran nilai dan norma dalam tatanan hidup komunitas petani rumput laut terutama dalam nilai ritual, nilai ekonomi, nilai kegotong royongan dan norma yang berlaku di komunitas petani rumput laut. Penelitian ini  dilaksanakan di Kelurahan Pakbiringa Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara, Adapun teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
BERDIRINYA KERAJAAN MAMUJU Kila, Syahrir
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.089 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.16

Abstract

Kajian ini membahas tentang awal terbentuknya Kerajaan Mamuju yang sekarang berada di dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Barat. Dengan demikian, metode yang akan dipakai adalah metode historis yang meliputi empat langkah secara sistematis. Hasil kajian menunjukkan bahwa terbentuknya Kerajaan Mamuju tidak dibentuk oleh Tomanurung, tetapi kerajaan ini dibentuk sebagai hasil penggabungan antara dua kerajaan yaitu Kerajaan Kurri-Kurri dan Kerajaan Langga Monar. Kedua kerajaan ini awalnya berdiri sendiri dan masing-masing berdaulat sendiri. Salah satu dari dua kerajaan yang dimaksud (Langga Monar) didirikan oleh Tarapati To Ma’dualemba, raja Kurri-Kurri yang dimaksudkan nantinya sebagai sorong atau mas kawin ketika beliau menikahi putri bangsawan dari Tokaiyang Padang. Dari hasil perkawinan itu, lahirlah seorang putra yang diberi nama Mattolabali. Beliau inilah yang kelak di kemudian hari yang menyatukan dua kerajaan itu dan merubah namnya menjadi Kerajaan Mamuju. 
SEMANA SANTA, TRADISI PASKAH UMAT KATOLIK DI LARANTUKA, FLORES TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR Mulyati, Mulyati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.461 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.6

Abstract

Semana Santa atau Hari Bae adalah ritual perayaan Pekan Suci Paskah yang dilakukan selama tujuh hari berturut-turut oleh umat Katolik di Larantuka. Artikel ini akan membahas beberapa hal penting terkait dengan Semana Santa, yaitu sejarah perayaan Semana Santa di Larantuka, garis besar pekan Semana Santa dan ritus- ritusnya, serta tempat-tempat kerohanian di Larantuka yang berkaitan dengan Semana Santa, dengan terlebih dahulu menyinggung sedikit tentang Kabupaten Flores Timur. Selanjutnya, artikel ini akan berusaha untuk memberikan penafsiran mengenai proses inkulturasi budaya dalam peristiwa tersebut. Adapun penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari fenomena historis pada cakupan waktu dan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semana Santa merupakan kebanggaan bagi umat Katolik secara keseluruhan di Larantuka. Prosesi Semana Santa di Larantuka telah mengalami inkulturasi antara kepercayaan masyarakat lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa oleh Portugis. Meskipun demikian, perubahan yang muncul tidak dipermasalahkan, tetapi justru dianggap sebagai hal yang memperkaya tradisi Semana Santa itu sendiri.
SISTEM PENGETAHUAN PELAYARAN DAN PENANGKAPAN IKAN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI KELURAHAN RANGAS, KABUPATEN MAJENE Ansaar, Ansaar
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.624 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.2

Abstract

Materi tulisan ini diambil dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan di Kelurahan Rangas, Kabupaten Majene. Tulisan ini selain bertujuan mendeskripsikan secara utuh mengenai sistem pengetahuan pelayaran pada masyarakat nelayan di Kelurahan Rangas, Kabupaten Majene, juga untuk mengetahui bagaimana sistem pengetahuan penangkapan ikan yang selama ini diterapkan oleh masyarakat nelayan di kelurahan tersebut. Penelitian ini bersifat deskriktif kualitatif. Informasi yang tersaji dalam tulisan ini terjaring melalui metode wawancara, pengamatan dan studi pustaka. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa para nelayan setempat dalam menjalankan aktifitas di laut, berpedoman pada sistem pengetahuan pelayaran yang dimilikinya, seperti pengetahuan tentang ombak, pengetahuan tentang keberadaan karang, pengetahuan yang terkait dengan perbintangan, pengetahuan tentang awan, pengetahuan tentang perhitungan bulan dan pengetahuan yang terkait dengan ilmu gaib. Demikian pula dalam hal proses penangkapan ikan, mereka pun memiliki berbagai sistem pengetahuan lokal, seperti pengetahuan  mengemudikan perahu, pengetahuan tentang cara menurunkan alat tangkap dari perahu, pengetahuan tentang arah angin, pengetahuan tentang lokasi banyaknya ikan dan pengetahuan tentang resiko atau hambatan yang kemungkinan bisa dialami selama melaut dan cara menanggulanginya. Pengetahuan-pengetahuan lokal nelayan seperti yang telah diuraikan tersebut, merupakan suatu gambaran adanya kesinambungan di antara anggota masyarakat nelayan yang ada di Kelurahan Rangas.  
PELAYARAN NIAGA MANDAR PADA ABAD XX Amir, Muhammad
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.991 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.1

Abstract

Kajian ini bertujuan mengungkapkan dan menjelaskan berbagai hal menyangkut latar kesejarahan dan dinamika pelayaran niaga Mandar pada paruh pertama abad ke-20. Kajian ini menggunakan metode sejarah, yang menjelaskan suatu persoalan berdasakan perspektif sejarah. Tahapanya terdiri atas heuristik, kritikm sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelayaran dan perdagangan maritim orang Mandar meliputi seluruh wilayah Nusantara dan dikenal sebagai pelaut ulung. Mereka bukan hanya berperan penting dalam membangun jaringan maritim Nusantara, melainkan juga menghidupkan aktivitas pelabuhan dan penduduk yang terkait dengan perdagangan maritim. Juga menjadi penghubung atau mendekatkan pulau-pulau dan masyarakat yang terpisah-pisah di seluruh Nusantara. Oleh karena itu, orang Mandar berkontribusi penting dalam merajut integrasi Indonesia melalui tradisi bahari. Sebab untuk menjadi negara maritim diperlukan budaya bahari, dan para pelaut Mandar telah  memperkuat pondasi dalam membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia.
EKSISTENSI DAN DINAMIKA PERTUNJUKAN MUSIK TRADISIONAL MANDAR DI KABUPATEN POLMAN SULAWESI BARAT Raodah, Raodah
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.64 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.8

Abstract

 Artikel ini mendeskripsikan tentang eksistensi musik tradisional Mandar, yang menguraikan tiga hal yaitu makna musik tradisional pada masa lalu, pertunjukan musik tradisional masa kini dan model pertunjukan musik tradisional Mandar. Penelitian ini menggunakan  metode kualitatif dan dianalisis dengan model interaktif. Teknik penggumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive meliputi: seniman legendaris, seniman muda dan tokoh masyarakat pemerhati musik tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Mandar telah mengenal musik tradisional sejak dahulu, musik tradisional  ada bersamaan dengan lahirnya petani Mandar. Alat musik tradisional Mandar yang masih eksis sampai sekarang dan hadir dalam berbagai pertunjukan di festival musik tradisional, seperti calong, gongga lima, keke, ganrang, dan kecapi Mandar. Model pertunjukan musik tradisional Mandar dilakukan dalam bentuk pertunjukan satu jenis alat musik (ansamble), pertunjukan berkolaborasi dengan alat musik tradisional Mandar atau dengan alat musik modern, dan  model pertunjukan musik tradisional sebagai pengiring tarian (tu’duq). Dalam perkembangannya pertunjukan musik tradisional Mandar mengalami kemajuan, diberbagai ajang festival. Pertunjukan musik tradisional Mandar berhasil meraih juara pada ditingkat lokal, nasional maupun internasional. Saat ini seniman muda Mandar mulai bangkit dengan mengeksplor permainan musik tradisional melalui media sosial dalam bentuk video youtube.
PERAN AG. KH. ABD. LATIF AMIN DALAM MENGEMBANGKAN PONDOK PESANTREN AL-JUNAIDYAH BIRU KABUPATEN BONE (1968-1998) Hafid, Rosdiana
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.861 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.9

Abstract

Penelitian ini menyorot tentang biografi seorang ulama besar di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan yakni AG. KH. Abd. Latif Amin dalam peranannya mengembangkan Pondok Pesantren Al-Junaidyah Biru Kabupaten Bone. Masalah pokok dalam penelitian ini: Bagaimana Peran AG.KH. Abd. Latif Amin dalam mengembangkan Pondok Pesantren Al-Junaidyah Biru Kabupaten Bone, dengan sub masalah: 1). Bagaimana Latar Belakang kehidupan keluarga AG. KH. Abd. Latif Amin, 2). Bagaimana peranannya terhadap perkembangan pondok pesantren Al-Junaidiyah Biru Kab. Bone, 3). Bagaimana pengaruh pondok pesantren Al-Junaidiyah Biru terhadap masyarakat sekitarnya. Di dalam penelitian ini  menggunakan metode sejarah dengan pendekatan analisis kualitatif deskriptif yaitu pendekatan biografi kehidupan berdasarkan hasil wawancara dan observasi. Sedang tehnik penulisan dengan melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan Historiografi. Hasil penelitian diperoleh bahwa AG. KH. Abd. Latif Amin dilahirkan pada tanggal  1 Desember 1929 di Watampone.  Di bawah kepemimpinan beliau, Pondok Pesantren Al-Junaidyah Biru Kabupaten Bone mengalami perkembangan yang cukup pesat, seiring dengan berkembangnya dunia pendidikan. Awalnya bentuk penyelenggaraan pendidikannya hanya pengajian saja, namun setelah beberapa tahun akhirnya pengajaran pengajian tersebut di ubah dalam bentuk konteks sekolah, namun pendidikan yang di bentuk bukanlah pendidikan yang bersifat formal. Namun akhirnya pada 1986 terbentuklah pendidikan formal yang di mulai dengan dibukanya Madrasah Tsanawiyah dan tahun 1987 di buka pula Madrasah Aliyah dan pengajaran Tahfidz Qur’an (penghafal Al-Qur’an), serta membuka pula pembelajaran PDF. Sebagai acuan pendidikan ditetapkan kurikulum  yang didalamnya juga telah memasukkan berbagai bidang study mata pelajaran umum. Sejak saat itu pondok pesantren Al-Junaidiyah Biru Kabupaten Bone, disamping berorientasi pada pengembangan pendidikan ilmu agama juga mengembangkan ilmu-ilmu yang bersifat umum. AG. KH. Abd. Latif Amin semasa memimpin pondok Pesantren Al-Junaidyah Biru adalah seorang pemimpin yang mempunyai kharismatik, beliau adalah seorang yang sangat disegani oleh orang-orang yang ada disekitar pesantren maupun masyarakat Bone pada khususnya.
ASKAR PERANG SABIL DALAM REVOLUSI FISIK DI YOGYAKARTA TAHUN 1945-1949 Aprianto, Iwan Dwi; Yulianto, Andrian Eka
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.716 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i2.5

Abstract

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi di berbagai daerah, termasuk di Yogyakarta. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam turut serta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui perjuangan para ulamanya. Ulama Muhammadiyah membentuk APS (Askar Perang Sabil) dan MUAPS (Markas Ulama Askar Perang Sabil) dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada Agresi Militer I, Muhammadiyah menerjunkan pasukan APS untuk pertama kalinya ke front pertempuran di daerah Mranggen dan Srondol. Pada Agresi Militer II, Muhammadiyah beserta pasukan TNI saling bekerjasama mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta. Adapun penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari fenomena historis pada cakupan waktu dan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak dari keikutsertaan ulama Muhammadiyah dalam Revolusi Fisik adalah ketika membantu TNI pada Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan tugas menghambat pasukan Belanda memasuki kota. Kata kunci: Muhammadiyah, Revolusi Fisik, Yogyakarta.

Page 1 of 2 | Total Record : 12