cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2022): December" : 7 Documents clear
Perencanaan Rute dan Desain Lendutan Kabel Listrik untuk Jalur Transmisi dari PLTS Apung Kutai Lama ke Gardu Induk PLN Sambutan Samarinda Dinda Amar Pradana; Bambang Kun Cahyono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.68527

Abstract

Dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung yang direncanakan berada di area galian bekas tambang batubara PT. Alfa Daya Energi di Kutai Lama, diperlukan studi pembangunan berupa Pre-Feasibility Study. Salah satunya yaitu daya dukung pembangunan jaringan transmisi yang menghubungkan PLTS apung ke gardu induk terdekat yaitu GI PLN Sambutan dan desain lendutan kabel sepanjang jalur transmisi dengan menggunakan Metode Desktop Study. Pelaksanaan kegiatan ini meliputi tahapan identifikasi penutup lahan, ekstraksi Digital Terrain Model (DTM) dengan metode filtering, pemilihan rute dengan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP), penempatan titik rencana tower transmisi, dan juga pembuatan desain lendutan. Titik rencana tower transmisi memiliki jarak gawang sebesar 300 meter, dengan memperhatikan ruang bebas dan jarak bebas lendutan kabel terhadap objek di sekitarnya ke arah vertikal dan horizontal (sesuai dengan dokumen SPLN T5.006:2019). Desain lendutan perlu memperhatikan data DTM dan DSM untuk menentukan elevasi tower, dan sudut defleksi dalam penentuan tipe tower. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu 3 alternatif rute transmisi dengan mempertimbangkan panjang rute, jumlah tower pendekatan berdasarkan panjang rute, akses terhadap jaringan jalan utama serta jarak terhadap kawasan permukiman. Berdasarkan pertimbangan tersebut dipilih 1 alternatif rute transmisi yaitu rute kedua yang memiliki panjang 13,5 kilometer dengan jumlah tower transmisi sebanyak 44 buah dengan masing-masing jumlah tower untuk tipe AA sebanyak 33 tower, tipe CC sebanyak 2 tower, tipe DD sebanyak 3 tower, tipe EE sebanyak 4 tower dan tipe DDR sebanyak 2 tower. Untuk desain lendutan, diperoleh nilai rasio sagging berkisar antara 0,62 sampai 1,49 dengan rata-rata rasio sebesar 0,99.
Pendefinisian Jaring Kontrol Sistem Cerdas Candi Borobudur ke dalam Datum SRGI 2013 Nerissa Mutiara Christy; Bilal Ma'ruf; Dedi Atunggal
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.73504

Abstract

Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia dan diakui sebagai salah satu warisan budaya yang dilindungi oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Sebagai salah satu realisasi pemeliharaan Candi Borobudur dilakukan pemantauan stabilitas Candi Borobudur melalui pengukuran yang dilakukan secara periodik setiap tahun sejak 1983. Seiring dengan kemajuan teknologi, pemantauan stabilitias candi dapat dilakukan dengan menggunakan system cerdas. Untuk itu diperkenalkan Sistem Cerdas Candi Borobudur. Sistem Cerdas Candi Borobudur menggunakan Robotic Total Station (RTS) untuk pemantauan deformasi secara real-time. Untuk mendukung pemantauan stabilitas candi menggunakan (RTS) perlu dilakukan pendefinisian jaring kontrol pemantauan sistem cerdas ke dalam datum Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) 2013. Pada penelitian ini dilakukan pendefinisian jaring kontrol pemantauan yang berada di halaman Candi Borobudur ke dalam datum SRGI 2013. Pendefinisian dilakukan dengan pengamatan Global Navigation Satellite System (GNSS) metode statik pada 7 November 2019 date of year (doy) 311 selama ± 6 jam dengan sampling-rate 30 detik dan mask angle 15°. Pengolahan data pengamatan GNSS dilakukan dengan menggunakan software Spectra Precision GeoGenius dan 4 titik Continuously Operating Reference System (CORS) Badan Informasi Geospasial (BIG) CKBM, CMGL, JOGS, dan CSLO sebagai titik ikat. Analisis penentuan kelas dan orde mengacu Standar Nasional Indonesia Jaring Kontrol Horizontal (SNI JKH). Hasil dari penelitian yang telah dilakukan berupa 9 titik jaring kontrol pemantauan sistem cerdas yang telah terdefinisi dengan baik terhadap 4 titik CORS BIG dengan ketelitian berkisar dari 4 mm s.d. 13 mm. Penentuan kelas yang dilakukan menggunakan hasil perataan jaring bebas dengan 1 titik ikat. Orde dari jaring ditentukan dari hasil perataan jaring terikat dengan 4 titik kontrol yang terdistribusi pada 4 kuadran. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa jarring dikualifikasi sebagai kelas 2A dan orde 1. Pemantauan sistem cerdas menggunkan RTS sudah dapat dilakukan dengan mengacu pada koordinat titik-titik jaring pemantauan yang sudah diperoleh.
Perbandingan Ketelitian GNSS dengan Metode NRTK, Real-Time PPP dan Post-Processed PPP Syafril Ramadhon; FX. Yudi Tryono; Ihwan Fauzi; Gian Nugraha Pramudita
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.73558

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ketelitian data koordinat tiga dimensi pengukuran GNSS dengan metode Network Real-Time Kinematik (NRTK), Real-Time Kinematik Precise Point Positioning (RTK-PPP) dan Precise Point Positioning (PPP) secara post-processing. Metode penelitian dilakukan dengan membandingkan data posisi tiga dimensi dari enam titik pengamatan yang masing-masing dwiukur menggunakan setiap metode pengukuran GNSS tersebut. Metode NRTK dilakukan dengan menggunakan stasiun Continuously Operating Reference Station (CORS) milik Badan Informasi Geospasial (BIG), metode RT-PPP dilakukan dengan menggunakan layanan koreksi secara Real-Time dari Trimble Center Point RTX, Adapun metode PPP pengolahan data dilakukan dengan memanfaatkan layanan Trimble CenterPoint RTX Post-Processing. Analisis data dilakukan dengan membandingkan data posisi horizontal serta data tinggi dengan setiap metode pada setiap titik pengamatan. Analisis data juga dilakukan pada waktu pengamatan yang dibutuhkan pada metode NRTK dan RT-PPP untuk mencapai ketelitian tiga dimensi di bawah 5 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pada posisi horizontal untuk setiap metode sebesar 0.224 m di sumbu easting dan 0.096 m di sumbu northing. Adapun untuk data tinggi perbedaan rata-rata terbesar adalah pada metode NRTK yang dibandingkan dengan metode PPP ITRF 2008 dan 2014 yaitu sebesar 0.255 m dan perbedaan rata-rata terkecil adalah pada metode NRTK yang dibandingkan dengan metode RT-PPP yaitu sebesar 0.077 m. Terkait dengan waktu pengamatan, pada metode NRTK, waktu yang diperlukan untuk mencapai ketelitian yang stabil < 5 cm pada lokasi pengamatan yang bebas obstruksi memerlukan waktu kurang dari satu menit, sedangkan pada metode RT-PPP, waktu yang diperlukan memerlukan waktu dengan kisaran antara 11 hingga 20 menit.
Analisis Geospasial Perubahan Ruang Terbuka Hijau Wilayah Kota Purwokerto dari Tahun 2013 sampai 2020 Nindita Shita Devi; Purnama Budi Santosa
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.74620

Abstract

Sebagai ibukota Kabupaten Banyumas, pertumbungan dan perkembangan Kota Purwokerto cukup pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pengalihan fungsi lahan menjadi permukiman dan bangunan untuk fungsi lain menjadi salah satu akibat dari adanya pembangunan di Kota Purwokerto. Pertambahan jumlah penduduk di Kota Purwokerto juga mengakibatkan pengalihan fungsi lahan menjadi permukiman semakin tinggi. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Purwokerto. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk menganalisis ketersediaan dan kecukupan RTH di Kota Purwokerto. Untuk itu, pemetaan dan pengklasifikasian RTH dilakukan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan data citra satelit SPOT 6, metode Object Based Image Analysis (OBIA) serta interpretasi visual. Pengukuran luas RTH dan analisis spasial dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis ketersediaan dan kecukupan RTH terhadap jumlah penduduk dan kebutuhan oksigen mengacu pada UU No. 26 Tahun 2007 dan Permen PU No. 05/PRT/M/08. Analisis ini dilakukan untuk tahun 2013, 2019, dan 2020. Perhitungan kebutuhan oksigen dihitung menggunakan Metode Gerakis. Pemetaan dan perhitungan luas RTH dilakukan dengan perangkat lunak eCognition Developer dan SIG. Perhitungan luas kebutuhan RTH terhadap jumlah penduduk dan kebutuhan oksigen dilakukan dengan perangkat lunak SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas ketersediaan RTH di Kota Purwokerto sudah memenuhi standar luas kebutuhan RTH terhadap jumlah penduduk. Namun, luas ketersediaan RTH tidak memenuhi luas kebutuhan RTH terhadap kebutuhan oksigen. Luas ketersediaan RTH privat sudah memenuhi ketentuan 10% dari luas wilayah Kota Purwokerto berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007. Tetapi, luas ketersediaan RTH publik tidak memenuhi ketentuan 20% dari luas wilayah kota. 
Desain Sistem Kadaster Multiguna (Studi Kasus Kecamatan Serengan, Kota Surakarta) Anugerah Satria Pradana Budiyono; Trias Aditya
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.75657

Abstract

Tanah merupakan sumber daya yang terbatas, kebutuhan akan kepemilikan dan penggunaan tanah semakin meningkat tiap waktu. Sistem administrasi pertanahan hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Layanan administrasi pertanahan yang meliputi pendaftaran, perpajakan, penatagunaan tanah dan pembangunan tanah di Indonesia masih disimpan dan dikelola secara terpisah oleh instansi yang berbeda yang mengakibatkan satu objek bidang tanah yang sama, dapat diartikan berbeda pada setiap instansi. Permasalahan tersebut dapat ditangani dengan sistem administrasi pertanahan di mana satu data objek tanah dapat digunakan untuk berbagai macam layanan. Sistem kadaster multiguna merupakan sistem kadaster yang tidak hanya mencakup layanan kepemilikan tanah, ataupun hanya perpajakan, tetapi layanan yang lebih luas seperti penatagunaan tanah, pembangunan dan lain sebagainya. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan setiap instansi untuk mewujudkan kadaster multiguna dan membuat purwarupa sistem kadaster multiguna yang dapat digunakan untuk instansi pengguna data pertanahan. Pembentukan sistem kadaster multiguna, dibagi menjadi beberapa tahapan. Identifikasi dan pengolahan data, analisis data, pembangunan basis data kadaster multiguna, dan pembuatan sistem kadaster multiguna. Hasil yang diperoleh bahwa diperlukan standar data yang sama agar dapat digunakan untuk setiap instansi. Selain itu, diperlukan pengindeksan data spasial bidang tanah agar sinkron data antar instansi dapat dilakukan dengan baik. Hal ini sangat diperlukan dalam pembentukan basis data sistem kadaster multiguna dapat dijalankan secara optimal. Hasil akhir yang diperoleh adalah web map kadaster multiguna yang memfasilitasi ketersediaan dan akses data spasial terkait pertanahan. Data yang dalam web map terdapat berbagai macam fasilitas yaitu fasilitas tambah data, fasilitas hapus data, fasilitas ubah data, fasilitas ubah bentuk dan fasilitas lihat data. Untuk mendukung fasilitas tersebut, web map kadaster multiguna menggunakan fungsi Create Read Update and Delete (CRUD) ke basis data.
Ekstraksi Deformasi Koseismik 2.5-D Menggunakan Data Multiple SAR Sentinel-1 (Studi Kasus Gempa Bumi Iran 14 November 2021) Gani Mahendra; Hidayat Panuntun
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.78205

Abstract

Teknik Synthetic Aperture Radar (SAR) interferometri merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pengamatan deformasi permukaan. Teknik SAR interferometri memiliki kelebihan yaitu dapat mengukur besarnya deformasi permukaan hingga satuan milimeter. Walaupun teknik SAR Interferometri memiliki kelebihan, teknik SAR interferometri tetap memiliki kekurangan yaitu hanya dapat memberikan informasi deformasi permukaan 1 dimensi (vertikal) saja. Kelemahan tersebut mengakibatkan teknik SAR interferometri sulit digunakan untuk membantu dalam proses interpretasi sumber dan mekanisme deformasi yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk ekstraksi deformasi permukaan 2.5-D (2.5 Dimensi) akibat gempa bumi Iran 14 November 2021. Data yang digunakan untuk uji algoritma 2.5-D adalah citra SAR Sentinel-1 sebanyak 2 pasang citra. Citra tersebut adalah citra yang diakuisisi pada tanggal 13 November 2021 dan 19 November 2021. Citra SAR Sentinel-1A diolah menggunakan perangkat lunak GMTSAR dengan arah orbit ascending dan descending. Citra SAR Sentinel-1A yang sudah diolah menggunakan GMTSAR menghasilkan pergeseran permukaan tanah terhadap arah pandang satelit (Line of Sight). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa komponen horizontal terjadi pergeseran sebesar 200 mm ke arah barat. Pergeseran komponen vertikal mengalami kenaikan permukaan tanah sebesar 541 mm pada area utara dan penurunan permukaan tanah maksimal sebesar 231 mm pada area selatan. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa nilai pergeseran komponen vertikal lebih besar daripada komponen horizontal. Hal tersebut menunjukkan bahwa gempa bumi Iran 14 November 2021 diindikasikan disebabkan oleh aktivitas sesar dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).
Perbandingan Volume Stockpile Batu Bara Hasil UAV Fotogrametri dan UAV Lidar Antonius Raditya Seno Aji; Djurdjani - Djurdjani
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.78295

Abstract

Survei volumetrik merupakan kegiatan rutin yang memiliki fungsi pengawasan dalam area stockpile (tumpukan material) batu bara. Karena itu hasil pengukuran volume yang akurat sangat diperlukan. Akurasi pengukuran volume ditentukan oleh metode dan peralatan yang digunakan. Perangkat survei yang umum digunakan dalam pengukuran volume adalah alat Total Station (TS), GPS/ GNSS, atau Terrestrial Laser Scanner (TLS). Pemanfaatan wahana Unmanned Aerial Vehicle (UAV) metode fotogrametri dan Light Detection and Ranging (Lidar) populer digunakan untuk pengukuran volume stockpile. Karakteristik tekstur dan warna pada stockpile batu bara yang cenderung homogen menjadi tantangan dalam pengambilan data fotogrametri. Penelitian dilakukan dengan membandingkan hasil hitungan volume dari akuisisi data UAV Fotogrametri, UAV Lidar, dan survei GPS yang dilakukan pada periode waktu yang sama. Uji volume dilakukan dengan membandingkan volume keseluruhan (bulk volume) hasil UAV Fotogrametri, UAV Lidar, dan survei GPS merujuk pada ASTM D6172-98. Uji-t juga dilakukan dengan data volume blok uji hasil UAV Fotogrametri dengan UAV Lidar menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji signifikansi antara blok uji UAV Fotogrametri dengan UAV Lidar menunjukan bahwa selisih hitungan volume kedua metode berbeda secara signifikan. Artinya pengukuran volume dengan UAV Lidar tidak bisa disamakan dengan UAV Fotogrametri, dan metode UAV Lidar disarankan untuk pengukuran stockpile batu bara. Tahapan image matching yang tidak maksimal menjadi faktor volume UAV Fotogrametri tidak masuk toleransi, yang disebabkan adanya under-exposure dan over-exposure pada hasil foto udara serta citra stockpile yang umumnya homogen.

Page 1 of 1 | Total Record : 7