cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 1, Februari 2020" : 22 Documents clear
ANALISIS PENGGUNAAN PREFABRICATED VERTICAL DRAINS (PVD) PADA TANAH LEMPUNG LUNAK YANG TERDAPAT LAPISAN LENSA Andreyan Prasetio; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7047

Abstract

Problem that often occurs in soft cohesive soils is settlement caused by consolidation process. If  construction activities doing when the soils has not been consolidated, settlement can occur. To accelerate  the consolidation process, soil improvement are usually do, one method of soil improvement to accelarate the consolidation process is vertical drain using prefabricated vertical drains (PVD). The soft soil layers in the field are not always continuous, sometimes found soft soil layers that have a lens layer. In this study, will discuss about the settlement and consolidation time of soft  soil layers that have a lens layer which has been improved by PVD with 1 meter distance. Infrastructure that stand on a location that is installed by PVD is taxiway and loading by Airbus A380 aircraft of 18,22ton/m2. Analysis using the 1 dimensional consolidation theory of Terzaghi. For PVD installation to a depth of 50 meters, preloading settlement of 234,80 cm with a consolidation time of  2260 days for the square pattern PVD and 1918 days for triangle pattern PVD. Post loading settlement for PVD installation depth of 50 meters by 2,50 cm. AbstrakMasalah yang sering terjadi pada tanah kohesif dan lunak adalah penurunan yang disebabkan proses konsolidasi. Penurunan dapat menyebabkan keretakan pada struktur konstruksi yang berada di atasnya. Jika suatu kegiatan konstruksi dilakukan saat tanah belum terkonsolidasi, maka konstruksi tersebut dapat mengalami penurunan.. Untuk mempercepat proses konsolidasi biasanya dilakukan perbaikan tanah, salah satu metode perbaikan tanah untuk mempercepat proses konsolidasi yaitu vertical drain dengan menggunakan prefabricated vertical drains (PVD). Lapisan tanah lunak yang terdapat di lapangan tidak selalu kontinu, terkadang ditemukan lapisan tanah lunak yang terdapat lapisan lensa. Pada penelitian ini, penulis akan membahas mengenai waktu konsolidasi yang dibutuhkan oleh lapisan tanah kohesif dan lunak yang terdapat lapisan lensa yang telah diperbaiki dengan menggunakan PVD berjarak 1 meter. Infrastruktur yang berdiri di atas lokasi yang dipasang PVD berupa taxiway dengan beban berupa pesawat Airbus A380 sebesar 18,22 ton/m2. Analisis dilakukan menggunakan teori konsolidasi 1 dimensi Terzaghi. Untuk pemasangan PVD hingga kedalaman 50 meter diperoleh penurunan pra pembebanan sebesar 234,80 cm dengan waktu konsolidasi selama 2260 hari untuk pemasangan PVD pola persegi dan selama 1918 hari untuk pola segitiga . Penurunan pasca pembebanan untuk pemasangan PVD hingga kedalaman 50 meter sebesar 2,5 cm.
FAKTOR DEMOGRAFI DOMINAN YANG MEMPENGARUHI PROYEK KONSTRUKSI JALAN DI PEDESAAN INDONESIA Samuel Semaya; Basuki Anondho
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.6975

Abstract

National development for almost 70 years since independence Indonesia has produced various advances, but it was realized that the development process carried out so far turned out to have caused a residual problem of development inequality, especially in rural areas. the development approach which only emphasizes macroeconomic growth tends to lead to a large development gap between regions. Therefore, this study would like to conduct a study of the dominant demographic characteristic factors affecting construction projects in rural Indonesia. The research was conducted by distributing questionnaires to contractors selected by the Ministry of Village. The source of the questionnaire used is through previously identified journals and books. The method used in analyzing data is factor analysis. Data analysis was carried out starting from the validity test, reliability test, KMO test, MSA test, communality test, and determining the dominant influence factor. Based on the data analysis conducted, it was concluded that the most dominant demographic characteristic factors affecting road construction projects in rural Indonesia were education, gender, age, urbanization, and labor.AbstrakPembangunan nasional selama hampir 70 tahun sejak Indonesia merdeka telah menghasilkan berbagai kemajuan, namun disadari bahwa proses pembangunan yang dilaksanakan selama ini ternyata telah menimbulkan residu masalah kesenjangan pembangunan, khususnya wilayah pedesaan. pendekatan pembangunan yang hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi makro, cenderung menimbulkan terjadinya kesenjangan pembangunan antar wilayah yang cukup besar. Oleh karena itu, studi ini ingin melakukan penelitian tentang faktor demografi dominan yang mempengaruhi proyek konstruksi jalan di pedesaan Indonesia. penelitian dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada kontraktor yang dipilih oleh Kementerian Desa. Sumber kuesioner yang digunakan adalah melalui jurnal dan buku yang telah diidentifikasi lebih dulu. Metode yang dipakai dalam menganalisis data adalah analisis faktor. Analisis data dilakukan mulai dari uji validitas, uji reliabilitas, uji KMO, uji MSA, uji komunalitas, dan menentukan faktor pengaruh dominan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa faktor demografi yang paling dominan yang mempengaruhi terhadap proyek konstruksi jalan di pedesaan Indonesia adalah pendidikan, jenis kelamin, usia, urbanisasi, dan tenaga kerja.
PERBANDINGAN METODE EARNED VALUE, EARNED SCHEDULE, DAN KALMAN FILTER EARNED VALUE UNTUK PREDIKSI DURASI PROYEK Andree Sugiyanto; Onnyxiforus Gondokusumo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7069

Abstract

In the world of construction, control is needed at the implementation stage, which is prediction or forecasting duration project schedule. Estimated project schedule is an important part for project management making decisions that affect the future of the project. Forecasting method commonly used by practitioners in this case the construction project contractor in evaluating prediction of duration is deterministic forecasting method Earned Value Method (EVM), Earned Schedule Method (ESM). Kalman Filter Earned Value Method (KEVM) as probabilistic forecasting method is carried out to produce more accurate predictive value. The purpose of this study to compare the accuracy of three methods. This research was conducted by calculating duration of the project from EVM, ESM, and KEVM on maintenance and reconstruction projects of Jakarta-Cikampek and Jakarta-Tangerang toll roads. The data used from the project control data S-curve. The control data is processed with EVM, ESM, KEVM to determine the comparison between three methods of predicting duration. Prediction results of three methods were tested with Mean Absolute Percentage Error (MAPE). The results of this study indicate that KEVM can reduce errors after Kalman Filter is performed on estimated duration using EVM. ESM duration prediction yields the smallest MAPE value of the three methods. AbstrakDalam dunia pembangunan konstruksi dibutuhkan pengendalian pada tahap pelaksanaan yaitu prediksi atau peramalan durasi jadwal proyek. Perkiraan jadwal proyek adalah bagian penting untuk manajemen proyek membuat keputusan yang mempengaruhi masa depan proyek. Metode peramalan yang umum digunakan para praktisi dalam hal ini kontraktor proyek konstruksi dalam mengevaluasi prediksi durasi adalah metode peramalan deterministik Earned Value Method (EVM), Earned Schedule Method (ESM). Kalman Filter Earned Value Method (KEVM) sebagai metode peramalan probabilistik dilakukan untuk menghasilkan nilai prediksi yang lebih akurat. Tujuan penelitian ini membandingkan akurasi dari ketiga metode. Penelitian ini dilakukan dengan menghitung durasi proyek dari EVM, ESM, dan KEVM pada proyek pemeliharaan dan rekonstruksi jalan tol Jakarta – Cikampek dan Jakarta – Tangerang. Data yang digunakan dari proyek tersebut adalah data-data pengendalian berupa kurva S. Data pengendalian tersebut diolah dengan EVM, ESM, KEVM untuk mengetahui perbandingan antara ketiga metode prediksi durasi tersebut. Hasil prediksi dari ketiga metode diuji dengan Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa KEVM dapat mengurangi kesalahan setelah dilakukan Kalman Filter pada perkiraan durasi menggunakan Earned Value Method. Prediksi durasi ESM menghasilkan nilai MAPE yang paling kecil dari ketiga metode.
PROSES ANALISA DINDING GALIAN BASEMENT 7 LANTAI DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Novia Sabina; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.6980

Abstract

Limited area for construction can be overcome by build a multi-story building with basement. Basement is quite common in Jakarta, the things that attracted is basement with 7 stories. This basement construction use a diaphragm wall with 1 meter thickness for the retaining wall and installation strut every 4 meter. Deformation for diaphragm wall is calculated by finite element method application and mohr-coloumb soil modeling. This calculation based on soil type from each drill point and water table when it high or common. From the calculation, maximum deformation diaphragm wall for BH-5 when water table high is 235,86 mm and when water table at -3 m is 209,6 mm. Maximum deformation diaphragm wall for BH-7 when water table high is213,9 mm and when water table at -3 m is 197,18 mm. There are several things that need to concern when constructed basement and deep excavation, in case to avoid failure.AbstrakKeterbatasan lahan untuk pembangunan dapat diatasi dengan pembangunan gedung bertingkat yang dilengkapi dengan basement. Pembangunan basement cukup umum di Jakarta ini, salah satu hal yang menarik perhatian adalah pembangunan basement sebanyak 7 lantai. Pembangunan basement ini menggunakan dinding penahan tanah berupa dinding diafragma dengan ketebalan 1 meter dan pemasangan strut setiap 4 meter. Perhitungan deformasi pada dinding penahan tanah ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi metode elemen hingga dan permodelan tanah mohr-coloumb Permodelan dilakukan berdasarkan keadaan tanah pada tiap titik bor dan keadaan muka air saat banjir atau kemarau. Dari perhitungan, didapatkan deformasi maksimum dinding diafragma pada titik bor BH-5 pada muka air banjir adalah 235,86 mm dan pada muka air kemarau adalah 209,6 mm. Untuk deformasi maksimum dinding diafragma pada titik bor BH-7 pada muka air banjir adalah 213,9 mm dan pada muka air kemarau adalah 197,18 mm. Pada saat konstruksi basement dan galian dalam, diperlukan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi kegagalan pada saat pembangunan dan penggunaan basement.
ANALISIS PENGARUH PANJANG PROFIL TERHADAP KEKUATAN HEXAGONAL CASTELLATED BEAM DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Patricia Hutami; Leo S Tedianto; Sunarjo Leman
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.6943

Abstract

Castellated beam actually was an original IWF beam which is cut by several pattern and welded properly in different part to provide higher profile. There are several factors that impact the strength of castellated beam such as, opening angle, cutting width, profile length, etc. This analysis aims to determine the relationship between profile lengths of castellated beam with the strength that the profile could bear until it fully failed, also observing buckling and failure behaviour on castellated beam using finite element method. This issue is necessary due to the characteristic of steel which easily get buckled. This analysis will be assisted by modelling the castellated beam profile using finite element based program. The profile size is IWF 200x100x5,5x8 which is formed into castellated beam size 300x100x5,5x8 with various lengths such as 4 m, 6 m, 8 m, 10 m, and 12 m. The load applied was concentrated load in the middle of the span, with fixed support on both edges of the beam. The results show that the shorter beam profile provides higher strength, and an extreme buckling phenomenon occurs to the longer beam profile, also the longer beam profile fails due to pre-yielding condition, therefore the failure is caused by geometric fails. AbstrakCastellated beam merupakan baja IWF biasa yang dipotong sedemikian rupa kemudian disambung kembali di bagian yang berbeda menggunakan las, sehingga dihasilkan tinggi profil lebih tinggi dari IWF orisinilnya tanpa harus menambah material. Terdapat banyak faktor yang memengaruhi kekuatan dari castellated beam, seperti sudut pemotongan, lebar pemotongan, panjang profil, dll. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara panjang profil dengan kekuatan yang dapat diterima profil tersebut hingga runtuh serta melihat pola buckling dan kegagalan yang terjadi dengan metode elemen hingga. Hal ini merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan berkaitan dengan sifat baja yang mudah mengalami tekuk atau buckling. Analisis akan dibantu menggunakan program berbasis elemen hingga. Profil yang digunakan yaitu balok IWF berukuran 200x100x5,5x8 yang dibentuk menjadi castellated beam berukuran 300x100x5,5x8 dengan variasi panjang profil 4 m, 6 m, 8 m, 10 m, dan 12 m. Beban merupakan beban terpusat di tengah bentang dengan perletakan pada kedua ujung batang berupa jepit. Hasil analisis menunjukkan bahwa baja dengan panjang profil lebih pendek menghasilkan kekuatan yang lebih tinggi, baja dengan panjang profil lebih panjang cenderung mengalami tekuk yang ekstrim, dan baja dengan profil lebih panjang gagal dalam kondisi baja belum mengalami kelelehan, sehingga kegagalan diakibatkan oleh kegagalan geometris.
ANALISIS PERBANDINGAN NILAI KOEFISIEN PERMEABILITAS TANAH UJI LAPANGAN DAN UJI LABORATORIUM Philip Chen; Gregorius Sandjadja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7071

Abstract

The coefficient of permeability (k) results of pumping tests are used as initial data to determine the rate of water seepage in the soil, determining the permeability capability of the soil can be done by measurements in the laboratory and in the field. In reality the permeability coefficient value of field test is not the same as the test in the laboratory. This final project will analyze the difference in value (k) obtained from field and laboratory tests in order to enrich the data in determining the value of permeability coefficient (k). The analysis uses Thiem and Theis method in analyzing the results of pumping tests. And using constant head permeameter to determine the value of the coefficient of permeability (k) in laboratory. From the analysis results obtained by the Thiem method, the permeability coefficient (k) obtained is in the range of  6,8x cm/sec - 2,8x cm/sec, and Theis method is obtained in the range of  6,03x cm/sec - 6,03x cm/sec. Meanwhile the results of the coefficient of soil permeability (k) by the laboratory tests using the constant head permeameter is in the range 1,43x  cm/sec - 8,76x cm/sec. And for calculations using the Hazen method the result is in the range 8,71x cm/sec - 4,35x cm/sec.AbstrakNilai koefisien permeabilitas (k) hasil pumping test digunakan sebagai data awal untuk mengetahui kecepatan rembesan air di dalam tanah, penentuan kemampuan permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan pengukuran di laboratorium dan di lapangan. Dalam kenyataannya nilai koefisien permeabilitas uji lapangan biasanya tidak sama dengan uji di laboratorium. Penelitian ini akan menganalisa perbedaan nilai (k) yang didapat dari uji lapangan dan uji laboratorium guna memperkaya data dalam menentukan nikai koefisien permeabilitas (k). Analisa pada penelitian ini menggunakan metode Thiem dan metode Theis dalam menganalisa hasil pumping test pada lapangan. Dan menggunakan constant head permeameter sebagai alat menentukan nilai koefisien permeabilitas (k) pada laboratorium. Serta menggunakan metode rumus empiris Hazen untuk menentukan nilai koefisien permeabilitas (k) berdasarkan ukuran butiran. Dari hasil analisis yang diperoleh dengan metode Thiem nilai koefisien permeabilitas (k) yang didapat berada pada rentang  6,8x m/detik - 2,8x cm/detik, dan dengan metode Theis didapat pada rentang 6,03x cm/detik - 6,03x cm/detik. Sedangkan hasil uji laboratorium menggunakan permeameter constant head mendapatkan hasil nilai koefisien permeabilitas tanah (k) pada rentang 1,43x  cm/detik  -   8,76x cm/detik. Dan didapat hasil 8,71x cm/detik - 4,35x cm/detik untuk perhitungan menggunakan metode Hazen.
PENYEBAB CHANGE ORDER PADA PROYEK PERKERASAN JALAN Philander Edward; Mega Waty
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7012

Abstract

In the implementation of construction projects, there are several important elements that must be done well. so that the essential elements can be carried out well, then agreement regarding certain matters is agreed upon by the parties concerned which is called contract. Almost construction projects in Indonesia have experienced contract changes or can be called Change Order. Change Order is an event due to changes in a job that results in changes in time and cost during implementation. To solve the problem of Change order this contract can be finalized and anticipated by knowing the factors causing it in advance. The causal factors are arranged into a questionnaire to find out the main causes of Change Order. The questionnaire was distributed to contractors on the road project. Validity and reliability testing is done on the data obtained from the results of the questionnaire to obtain the consistency and stability of each question in the questionnaire. Valid and reliable question items are further analyzed using the RII method. To find out the main cause, the data is calculated using the RII. The results of the RII ranking technique show that the order acceleration schedule is the main cause of Change Order. AbstrakDalam pelaksanaan proyek konstruksi, terdapat beberapa unsur penting yang harus dilakukan dengan baik. agar unsur unsur penting dapat terlaksana dengan baik maka dibuatlah perjanjian/ kesepakatan antara dua orang atau lebih mengenai hal tertentu yang disetujui oleh pihak pihak yang bersangkutan yang terikat yang disebut kontrak. Hampir seluruh proyek konstruksi di Indonesia mengalami terjadinya perubahan kontrak atau dapat disebut Change Order. Change Order merupakan suatu kejadian akibat perubahan suatu pekerjaan yang mengakibatkan perubahan waktu dan biaya saat pelaksanaan. Untuk mengatasi masalah Change order/ addendum kontrak ini dapat diminalisir dan diantisipasi dengan mengetahui faktor penyebabnya terlebih dahulu. Faktor-faktor penyebab tersebut disusun menjadi sebuah kuesioner untuk mengetahui penyebab utama dari Change Order. Penyebaran kuesioner tersebut dilakukan terhadap kontraktor pada proyek jalan. Pengujian uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan terhadap data yang diperoleh dari hasil kuesioner untuk memperoleh keakuratan konsistensi dan kestabilan setiap pertanyaan dalam kuesioner. Butir pertanyaan yang valid dan reliabel dianalisis lebih lanjut menggunakan metode RII. Untuk mengetahui penyebab utama, data dihitung menggunakan teknik ranking RII (Relative Importance Index). Hasil dari teknik ranking RII menunjukan bahwa perintah percepatan jadwal merupakan faktor penyebab utama terjadinya Change Order.
STUDI ANALISIS PERSENTASE WASTE BESI BETON DAN FAKTOR PENYEBABNYA PADA BANGUNAN BERTINGKAT RENDAH DI JAKARTA Liem Antonio Geraldi; Hendrik Sulistio
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7070

Abstract

Waste iron material is often found in a construction project. Of course, by knowing what is the cause of waste iron material, the waste of this material can also be controlled and minimized. This research was conducted on a low rise building project in the Jakarta area and its surroundings which aims to find out what percentage volume of waste that occurs, how much loss, and causes the waste steel material. Analysis determine volume of waste and losses to find the number of concrete steel material requirements, the amount of concrete steel material purchase, and unit price of concrete iron material in a project obtained from drawings, weekly / monthly reports, budget plans, and interviews directly to the construction. To find cause of the waste carried out by distributing questionnaires to construction, the variables related to waste concrete iron such as humans, management professionalism, design and documentation, materials, implementation, and external. The results of the questionnaire will processed using the factor analysis with SPSS program in which of the six variables will be grouped based on the value of the relationship and which group of variables will play a major role in the waste of concrete iron material. AbstrakPemborosan material besi beton merupakan suatu hal yang masih sering dijumpai dalam suatu proyek konstruksi. Tentunya dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab dari pemborosan material besi beton, maka pemborosan material ini pun dapat dikontrol dan diminimalisir. Penelitian ini dilakukan pada proyek low rise building di daerah Jakarta dan sekitarnya yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar persentase volume pemborosan yang terjadi, berapa besar kerugian yang diakibatkan, dan apa saja penyebab terjadinya pemborosan dari material besi beton. Analisis yang dilakukan untuk mengetahui besar volume pemborosan dan kerugiannya adalah dengan mencari angka kebutuhan material besi beton, jumlah pembelian material besi beton, dan harga satuan material besi beton dalam suatu proyek yang dapat diperoleh dari gambar kerja, laporan mingguan/bulanan, rencana anggaran biaya, dan wawancara langsung kepada pihak pelaku konstruksi. Untuk mengetahui penyebab pemborosannya akan dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada pelaku konstruksi yang berisikan tentang variabel-variabel yang berhubungan dengan pemborosan material besi beton seperti manusia, profesionalitas menejemen, desain dan dokumentasi, material, pelaksanaan, dan kendala luar. Hasil dari kuesioner akan diolah menggunakan metode analisis faktor dengan bantuan program SPSS dimana dari keenam variabel tersebut akan dikelompokkan berdasarkan nilai keterkaitannya dan akan diperoleh kelompok variabel mana yang berperan besar dalam pemborosan material besi beton tersebut.
ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MICROPILE SEBAGAI ELEMEN PERKUATAN STABILITAS LERENG Farrell Arman; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.6987

Abstract

Landslide is one of the most common problems in the geotechnical field, especially in Indonesia. Landslide can occur due to increased shear stress of a soil mass or decreased shear strength of a soil mass that can happen overtime or in an instant. In other words, the shear strength of a soil mass is not able to withstand the load of the soil mass on top of it because the soil is unstable. To solve the problem of landslides, a proper and effective reinforcement is needed. Micropile is one of the ways that can be used as slope reinforcement, it can retain the soil mass on a higher location so the slope won’t collapse on its own. Micropile can be used as a retaining wall, it is quite easy to be applied on the field, it has a small diameter, and a relatively low cost. The compressive strength of the micropile is used to withstand the soil mass on a higher location. In this analysis, the carrying capacity of the micropile will be analyzed by manual calculation. The carrying capacity of the micropile will then be reanalyzed with the help of the limit equilibrium method software. The result at the end of this process is the safety factor of the simulated slope. This analysis is done twice, one is the simulation of a slope that is reinforced by micropile, and the other is not reinforced with micropile. The final result of both calculations will be compared to one another. This analysis will then result in the effectiveness of micropile as an element to maintain slope stability.AbstrakKelongsoran tanah pada lereng merupakan salah satu permasalahan yang paling sering terjadi di dalam dunia geoteknik, terutama di Indonesia. Kelongsorsan dapat terjadi akibat meningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan geser dari suatu massa tanah tidak mampu memikul beban yang terdapat di atasnya karena kondisi tanah tidak stabil. Untuk mengatasi masalah kelongsoran pada lereng, diperlukan perkuatan yang tepat dan efektif. Micropile merupakan salah satu jenis perkuatan yang dapat membantu menahan massa tanah di lokasi yang lebih tinggi pada suatu lereng, karena micropile dapat dimanfaatkan sebagai dinding penahan tanah, mudah diaplikasikan, memiliki ukuran yang kecil, dan biaya yang relatif murah. Kapasitas micropile yang berguna untuk menahan massa tanah di lokasi yang lebih tinggi adalah kapasitas micropile untuk menahan tekan. Pada analisis ini, perhitungan kapasitas micropile akan dianalisa dengan perhitungan manual. Nilai kapasitas micropile kemudian akan diolah kembali dengan bantuan program metode kesetimbangan batas, sehingga didapatkan nilai faktor keamanan dari lereng yang telah didesain. Hasil pengolahan data dari analisis stabilitas lereng dengan micropile ini nantinya akan dibandingkan dengan hasil pengolahan data dari analisis stabilitas lereng tanpa micropile. Analisis ini akan menghasilkan efektivitas micropile sebagai elemen perkuatan stabilitas lereng.
KEBUTUHAN PENYANDANG DISABILITAS TUNARUNGU DI JABODETABEK TERHADAP LAYANAN SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI KOTA Gandhiko Ariya; Leksmono Suryo Putranto
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.6977

Abstract

Hearing impairments is the most frequent sensory deficit in human population, affecting more than 250 million people in the world. People with hearing impairments will find it difficult to use public transportation. Public transportation facilities and infrastructure should be accessible for everyone including for people with hearing impairments. This research paper will discuss about the level of importance and the level of availability at public transportation facilities and infrastructure for people with hearing impairments in Jabodetabek. This research paper will use Analytical Hierarchy Process (AHP) method in determining the level of importance at public transportation facilities and infrastructure and will use one sample t-test method in determining the level of availability at public transportation facilities and infrastructure in Jabodetabek. Based on the research result, emergency instruction is the most needed facilities for person with hearing impairment when using public transportation. Lighting is the most important facilities at public transportation infrastructure and public access to public transportation infrastructure for person with hearing impairments. Based on the research result, the level of availability for public transportation facilities and infrastructure in Jabodetabek is mostly quite available. AbstrakGangguan pendengaran merupakan gangguan sensorik yang paling banyak dialami oleh manusia. Lebih dari 250 juta orang di dunia  mengalami gangguan pendengaran. Manusia dengan gangguan pendengaran akan merasa kesulitan saat ingin menggunakan transportasi perkotaan. Sarana dan prasarana sudah seharusnya aksesibel untuk semua orang termasuk untuk para penyandang disabilitas tunarungu. Penelitian ini akan membahas tentang tingkat kepentingan serta tingkat ketersediaan sarana dan prasarana transportasi kota di Jabodetabek bagi para penyandang disabilitas tunarungu. Penelitian ini akan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam menentukan tingkat kepentingan sarana dan prasarana transportasi kota bagi para penyandang disabilitas tunarungu dan menggunakan one sample t-test untuk menentukan tingkat ketersediaan sarana dan prasarana transportasi kota di Jabodetabek. Berdasarkan hasil penelitian petunjuk keadaan darurat menjadi hal terpenting pada sarana transportasi kota, lampu penerangan menjadi hal terpenting pada prasarana dan prasarana pejalan kaki pada transportasi kota. Tingkat ketersedian  sarana dan prasarana transportasi kota di Jabodetabek sudah cukup tersedia.

Page 2 of 3 | Total Record : 22