Articles
132 Documents
Hubungan Kehamilan Remaja dengan Lama Kala II Persalinan Wilayah Kerja Puskesmas Wringin
Khoirul Anam
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 2 No 2 (2019): NOVEMBER
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v2i2.509
Kehamilan remaja adalah proses fertilisasi yang terjadi secara alami dengan usia kurang dari 20 tahun, hal itu menjadikan penyebab utama kematian ibu pada saat melahirkan adalah usia ibu yang masih terlalu muda. Di Puskesmas Wringin Bondowoso, masih banyak ditemukan ibu hamil dengan usia dibawah 20 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi remaja yang hamil di antara usia 13-19 tahun, yaitu hubungan kehamilan remaja dengan lamanya kala II persalinan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis korelasi, dengan populasi seluruh remaja yang hamil dan melahirkan di wilayah Puskesmas Wringin Bondowoso. Besar sampel yaitu sejumlah 21 remaja diambil sebagai sampel, variabel pengukurang menggunakan lembar observasi dan lembar partograf. Nilai masing-masing subjek dipelajari dan didata dalam bentuk angka dan persentase. Berdasarkan hasil dari Spearman’s Correlation Test didapatkan bahwa ada hubungan antara kehamilan remaja dan kala II memanjang saat melahirkan. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa kehamilan remaja dapat terjadi karena kurang pengetahuan akan resiko tinggi kehamilan remaja.Kata kunci: kehamilan rmaja, kala II memanjang
Pengaruh Kontrasepsi Suntik 3 Bulan dengan Kejadian Hipertensi di Puskesmas Pembantu Blindungan Kab. Bondowoso
Dewi Rakhmawati
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.644
Kontrasepsi suntik adalah salah metode untuk pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan caramenyuntikkan obat tersebut secara intramuscular. Efek samping dari kontrasepsi suntik berupa gangguan haid(spotting, amenorhoe, menstruasi tidak teratur), depresi, rambut rontok, jerawat, perubahan libido, keputihan,mual muntah, pusing, perubahan berat badan serta dapat meningkatkan kejadian hipertensi dikarenakan hormonprogesteron memiliki kemampuan untuk mempermudah retensi air akibat kenaikan aktifitas renin plasma danpembentukan angiotensin yang menyertainya. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh kontrasepsisuntik 3 bulan dengan kejadian hipertensi di Puskesmas pembantu Blindungan Kabupaten Bondowoso. Jenis penelitian menggunakan survei analisa kolerasi dengan rancangan retrospektif. Populasi pada penelitian inisebanyak 102 responden dan besar sampel 81 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simplerandom sampling dan analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan 56 respondenyang frekuensi suntiknya > 4 kali dan 25 responden yang frekuensi suntiknya ? 4 kali. 8 responden yangmengalami hipertensi dan 73 responden yang tidak mengalami hipertensi. Hasil uji statistik menunjukkan arahkorelasi positif mempunyai hubungan rendah atau lemah tapi pasti dengan signifikansi (?<0,05). Dapatdisimpulkan bahwa ada pengaruh kontrasepsi suntik 3 bulan dengan kejadian hipertensi di puskesmas pembantuBlindungan Kabupaten Bondowoso Key words: Kontrasespsi Suntik 3 bulan; Hipertensi
Pengaruh Kontrasepsi Suntik 3 Bulan dengan Kejadian Hipertensi di Puskesmas Pembantu Blindungan Kab. Bondowoso
Rakhmawati, Dewi
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.644
Kontrasepsi suntik adalah salah metode untuk pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan caramenyuntikkan obat tersebut secara intramuscular. Efek samping dari kontrasepsi suntik berupa gangguan haid(spotting, amenorhoe, menstruasi tidak teratur), depresi, rambut rontok, jerawat, perubahan libido, keputihan,mual muntah, pusing, perubahan berat badan serta dapat meningkatkan kejadian hipertensi dikarenakan hormonprogesteron memiliki kemampuan untuk mempermudah retensi air akibat kenaikan aktifitas renin plasma danpembentukan angiotensin yang menyertainya. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh kontrasepsisuntik 3 bulan dengan kejadian hipertensi di Puskesmas pembantu Blindungan Kabupaten Bondowoso. Jenis penelitian menggunakan survei analisa kolerasi dengan rancangan retrospektif. Populasi pada penelitian inisebanyak 102 responden dan besar sampel 81 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simplerandom sampling dan analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan 56 respondenyang frekuensi suntiknya > 4 kali dan 25 responden yang frekuensi suntiknya ? 4 kali. 8 responden yangmengalami hipertensi dan 73 responden yang tidak mengalami hipertensi. Hasil uji statistik menunjukkan arahkorelasi positif mempunyai hubungan rendah atau lemah tapi pasti dengan signifikansi (?<0,05). Dapatdisimpulkan bahwa ada pengaruh kontrasepsi suntik 3 bulan dengan kejadian hipertensi di puskesmas pembantuBlindungan Kabupaten Bondowoso Key words: Kontrasespsi Suntik 3 bulan; Hipertensi
Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Observasi Ekstrak Biji Pinang Muda (Areca cathecu ) dalam Bentuk Spray sebagai Bioinsektisida Nyamuk Aedes Aegypti
Khoirul Anam
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.645
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit tropic inseksi yang selalu mengancam penduduk Indonesiasetiap tahun dan menjadi KLB dibeberapa kabupaten / kota di Indonesia setaip pergantian musim. Usahpengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti sudah dilakukan baik secara fisik dengan program PSN atau seckimia dengan menggunakan insektisida sintetik yang dapat ditujukan terhadap nyamuk dewasa maupun larEkstrak biji pinang muda berdasarkan penelitian sebelumnya banyak mengandung senyawa tannin yang mammenghambat enzim ?-amylase yang penting dalam metabolisme karbohidrat. Tujuan penelitian ini adalamenganalisis pengaruh konsentrasi dan waktu observasi ekstrak biji pinang muda (Areca cathecu) dalam benspray sebagai bioinsektisida alami untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini termakedalam rancangan penelitian murni (true experiment ) dengan rancangan faktorial. Unit penelitian ini adunit ditambah 1 unit sebagai kontrol dengan menggunakan 25 ekor nyamuk untuk setiap unit penelitianAnalisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik Repeated Measure GLM dan analisis Probit. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kjonsentrasi dan waktu observasi ekstrak biji pinang muda memiliki hasil 0.0001 < 0.005. Kesimpulan penelitian didapatkan pengaruh konsentrasi dan waktu observasi ekstrak biji pinamuda terhadap kematian nyamuk Aedes aegypti. Hasil analisis Probit didapatkan bahwa nilai LT50 sebesa56.967 menit setelah intervensi dan LC50 adalah sebesar 7,602 ppm. Key words: Ekstrak biji pinang muda; Spray; Aedes aegypti
Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Observasi Ekstrak Biji Pinang Muda (Areca cathecu ) dalam Bentuk Spray sebagai Bioinsektisida Nyamuk Aedes Aegypti
Anam, Khoirul
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.645
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit tropic inseksi yang selalu mengancam penduduk Indonesiasetiap tahun dan menjadi KLB dibeberapa kabupaten / kota di Indonesia setaip pergantian musim. Usahpengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti sudah dilakukan baik secara fisik dengan program PSN atau seckimia dengan menggunakan insektisida sintetik yang dapat ditujukan terhadap nyamuk dewasa maupun larEkstrak biji pinang muda berdasarkan penelitian sebelumnya banyak mengandung senyawa tannin yang mammenghambat enzim ?-amylase yang penting dalam metabolisme karbohidrat. Tujuan penelitian ini adalamenganalisis pengaruh konsentrasi dan waktu observasi ekstrak biji pinang muda (Areca cathecu) dalam benspray sebagai bioinsektisida alami untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini termakedalam rancangan penelitian murni (true experiment ) dengan rancangan faktorial. Unit penelitian ini adunit ditambah 1 unit sebagai kontrol dengan menggunakan 25 ekor nyamuk untuk setiap unit penelitianAnalisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik Repeated Measure GLM dan analisis Probit. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kjonsentrasi dan waktu observasi ekstrak biji pinang muda memiliki hasil 0.0001 < 0.005. Kesimpulan penelitian didapatkan pengaruh konsentrasi dan waktu observasi ekstrak biji pinamuda terhadap kematian nyamuk Aedes aegypti. Hasil analisis Probit didapatkan bahwa nilai LT50 sebesa56.967 menit setelah intervensi dan LC50 adalah sebesar 7,602 ppm. Key words: Ekstrak biji pinang muda; Spray; Aedes aegypti
Resiko Kejadian Asfiksia Neonatorum pada Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Kalisat Jember
Jenie Palupi;
Syiska Atik Maryanti
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.638
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban dari jalan lahir sebelum ada tanda-tanda persalinan.Ketuban pecah dini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya asfiksia neonatorum karena akibat dariadanya penekanan pada tali pusat di dalam kandungan sehingga bayi mengalami gangguan pertukaran O2 danberlanjut menjadi asfiksia. Tujuan penelitian mengetahui ada resiko kejadian asfiksia neonatorum pada ketubanpecah dini di Rumah Sakit Kalisat Jember. Desain penelitian analisis korelasi dengan pendekatan case control,jumlah sampel 69 responden menggunakan data sekunder rekam medik RS Kalisat Jember bulan Oktober -Desember 2017 dan dianalisa dengan uji chi square, Koefisien Kontingensi dan odd ratio. Hasil penelitianterdapat 42,02% ketuban pecah dini dan bayi yang mengalami asfiksia sebesar 31,88%. Analisa menggunakanchi square didapatkan X2 hitung sebesar 20,987 > X2 tabel sebesar 3,841 dan Koefisien Kontingensi 0,483artinya ada hubungan yang cukup kuat. Analisa menggunakan odd ratio didapatkan nilai 14,727 artinya adaresiko (efek negatif). Kesimpulan ada hubungan antara ketuban pecah dini dengan asfiksia neonatorum dan adaresiko kejadian asfiksia neonatorum pada ketuban pecah dini Sebaiknya bagi tenaga kesehatan di rumah sakituntuk melakukan pelayanan dan perawatan yang konservatif pada ibu bersalin yang mengalami ketuban pecahdini sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir. Key words: Resiko Kejadian Asfiksia, Ketuban Pecah Dini
Resiko Kejadian Asfiksia Neonatorum pada Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Kalisat Jember
Maryanti, Syiska Atik;
Palupi, Jenie
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.638
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban dari jalan lahir sebelum ada tanda-tanda persalinan.Ketuban pecah dini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya asfiksia neonatorum karena akibat dariadanya penekanan pada tali pusat di dalam kandungan sehingga bayi mengalami gangguan pertukaran O2 danberlanjut menjadi asfiksia. Tujuan penelitian mengetahui ada resiko kejadian asfiksia neonatorum pada ketubanpecah dini di Rumah Sakit Kalisat Jember. Desain penelitian analisis korelasi dengan pendekatan case control,jumlah sampel 69 responden menggunakan data sekunder rekam medik RS Kalisat Jember bulan Oktober -Desember 2017 dan dianalisa dengan uji chi square, Koefisien Kontingensi dan odd ratio. Hasil penelitianterdapat 42,02% ketuban pecah dini dan bayi yang mengalami asfiksia sebesar 31,88%. Analisa menggunakanchi square didapatkan X2 hitung sebesar 20,987 > X2 tabel sebesar 3,841 dan Koefisien Kontingensi 0,483artinya ada hubungan yang cukup kuat. Analisa menggunakan odd ratio didapatkan nilai 14,727 artinya adaresiko (efek negatif). Kesimpulan ada hubungan antara ketuban pecah dini dengan asfiksia neonatorum dan adaresiko kejadian asfiksia neonatorum pada ketuban pecah dini Sebaiknya bagi tenaga kesehatan di rumah sakituntuk melakukan pelayanan dan perawatan yang konservatif pada ibu bersalin yang mengalami ketuban pecahdini sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir. Key words: Resiko Kejadian Asfiksia, Ketuban Pecah Dini
Tingkat Pengetahuan Ibu Bekerja dalam Pemberian ASI berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Bayi Usia 1 Tahun di Desa Bedewang Kecamatan Songgon Banyuwangi Tahun 2017
Ayuk Naimah
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 2 No 2 (2019): NOVEMBER
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v2i2.646
Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan ISPA adalah menyelimuti berlebihan, pemberian makanan tambahan terlalu dini, kurangnya pemberian ASI, imunisasi, polusi udara, tempat tinggal yang padat, kurangnya ventilasi dan sosial ekonomi. Desain penelitian ini adalah analitik survey sampai peneliti memenuhi target yang diinginkan dalam waktu satu bulan secara bertahap dengan menyebarkan kuesioner pada 35 responden. Subyek yang diteliti ditarik dari populasi dengan cara Teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan total sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2017 yang ditabulasi silang diperoleh hasil hampir seluruhnya responden tingkat pengetahuan kurang sejumlah 32 responden (91.4%) terjadi ISPA, dan sebagian kecil responden tingkat pengetahuan cukup sejumlah 3 responden (8.6%) tidak terjadi ISPA. Analisis data dengan menggunakan uji Krusskal Wallis didapatkan interprestasi hasil Pearson's R = 1.000, sehingga dibanding dengan Krusskal-Wallis Correlation = 1.000. Dari hasil data tersebut dikatakan ada hubungan jika Pearson's R = Kruskal-Wallis Correlation maka H1 diterima. Setelah dilakukan perhitungan menggunakan SPSS maka didapatkan hubungan koefisien korelasi 0,80 – 1,000 korelasi sangat kuat. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tingkat pengetahuan ibu bekerja dalam pemberian ASI dengan kejadian ISPA pada bayi usia ? 1 tahun berhubung sangat kuat. Pada ibu bekerja tingkat pengetahuan dalam pemberian ASI kurang maka akan terjadi ISPA. Dalam pemberian ASI pada waktu ibu bekerja tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memberikan ASI pada bayinya, banyak upaya yang dapat dilakukan oleh ibu dan yang terpenting adalah perubahan pikiran serta komitmen sebagai orang tua untuk mengutamakan kesehatan dan tumbuh kembang pada bayinya.Kata Kunci : Kejadian ISPA, Pengetahuan Ibu Bekerja, Pemberian ASI
Tingkat Pengetahuan Ibu Bekerja dalam Pemberian ASI berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Bayi Usia 1 Tahun di Desa Bedewang Kecamatan Songgon Banyuwangi Tahun 2017
Naimah, Ayuk
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 2 No 2 (2019): NOVEMBER
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v2i2.646
Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan ISPA adalah menyelimuti berlebihan, pemberian makanan tambahan terlalu dini, kurangnya pemberian ASI, imunisasi, polusi udara, tempat tinggal yang padat, kurangnya ventilasi dan sosial ekonomi. Desain penelitian ini adalah analitik survey sampai peneliti memenuhi target yang diinginkan dalam waktu satu bulan secara bertahap dengan menyebarkan kuesioner pada 35 responden. Subyek yang diteliti ditarik dari populasi dengan cara Teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan total sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2017 yang ditabulasi silang diperoleh hasil hampir seluruhnya responden tingkat pengetahuan kurang sejumlah 32 responden (91.4%) terjadi ISPA, dan sebagian kecil responden tingkat pengetahuan cukup sejumlah 3 responden (8.6%) tidak terjadi ISPA. Analisis data dengan menggunakan uji Krusskal Wallis didapatkan interprestasi hasil Pearson's R = 1.000, sehingga dibanding dengan Krusskal-Wallis Correlation = 1.000. Dari hasil data tersebut dikatakan ada hubungan jika Pearson's R = Kruskal-Wallis Correlation maka H1 diterima. Setelah dilakukan perhitungan menggunakan SPSS maka didapatkan hubungan koefisien korelasi 0,80 – 1,000 korelasi sangat kuat. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tingkat pengetahuan ibu bekerja dalam pemberian ASI dengan kejadian ISPA pada bayi usia ? 1 tahun berhubung sangat kuat. Pada ibu bekerja tingkat pengetahuan dalam pemberian ASI kurang maka akan terjadi ISPA. Dalam pemberian ASI pada waktu ibu bekerja tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memberikan ASI pada bayinya, banyak upaya yang dapat dilakukan oleh ibu dan yang terpenting adalah perubahan pikiran serta komitmen sebagai orang tua untuk mengutamakan kesehatan dan tumbuh kembang pada bayinya.Kata Kunci : Kejadian ISPA, Pengetahuan Ibu Bekerja, Pemberian ASI
Hubungan Paritas dengan Kejadian BBLR di RSUD Cilacap Tahun 2014
Dhiah Dwi Kusumawati;
Rochany Septiyaningsih
Jurnal MID-Z (MIDWIFERI ZIGOT) Vol 3 No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Islam Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/jurnalmidz.v3i1.641
BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Adapun faktoyang menyebabkan terjadinya kejadian BBLR adalah sebagai berikut : Faktor Ibu (usia, paritas dan riwayapenyakit). Penyebab kejadian BBLR yang termasuk dalam karakteristik ibu adalah usia, paritas, dan riwayatpenyakit. Angka kejadian BBLR pada bayi di RSUD Cilacap pada tahun 2014 terdapat 360 bayi dengan BBLRdan terjadi kenaikan dari tahun 2013 yang hanya terdapat 360 bayi Tujuan dari penelitian ini untuk melihathubungan antara paritas dengan kejadian BBLR. Penelitian ini menggunakan desain penelitian case control dRSUD Cilacap dengan sampel 45 kasus dan 45 kontrol. Sampel diambil dengan menggunakan purposivsampling. Data yang digunakan data sekunder dengan melihat catatan rekam medik. Hasil penelitiamenunjukkan ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian BBLR di RSUD Cilacap Tahun2014 ( p = 0,002 = 0,05; OR = 4,182; CI 95%= 1,641-10,657).Key words: Paritas; BBLR ; Prematuritas