cover
Contact Name
Taufik Hidayat
Contact Email
besthd22@gmail.com
Phone
+6285891495357
Journal Mail Official
jipt@untirta.ac.id
Editorial Address
Prodi Ilmu Pertanian Pascasarjana UNTIRTA Alamat Kontak : Jl.Raya Jakarta Km.4 Kota Serang Banten 42124
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa
ISSN : -     EISSN : 27153657     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa merupakan publikasi ilmiah berkala yang diterbitkan Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Artikel yang dimuat merupakan hasil penelitian terhadap teori dan praktek penerapan ilmu pertanian dalam arti luas, meliputi Ilmu Tanaman, Agronomi, Agro-teknologi, AgroEkosistem dan Lingkungan, Ilmu Pangan, Teknologi Pangan, Agribisnis, Sosial-Ekonomi Pertanian, dan Informasi Pertanian.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2024)" : 5 Documents clear
Analisis Pemetaan Pemasaran Alpukat (Persea americana Mill.) Di Kecamatan Beji Kota Depok Fajriyanti, Putri Nur; Gunawan, Gugun; Bukhari, Ahmad
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jipt.v6i2.30163

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan di Kecamatan Beji, Kota Depok yang bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran alpukat dan pemetaan pemasaran alpukat (pemetaan kuantitatif, pemetaan harga, pemetaan wilayah pasar, dan pemetaan lalu lintas). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode sensus untuk pengambilan sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pemetaan kuantitatif alpukat di Kecamatan Beji menghasilkan 95.680 Kg/tahun. Wilayah yang paling banyak menghasilkan alpukat adalah Kelurahan Kukusan dengan 55.130 Kg dan wilayah yang menghasilkan paling sedikit adalah Kelurahan Tanah Baru dengan 2.700 Kg. 2) Harga alpukat di Kecamatan Beji di tingkat petani langsung ke konsumen sebesar Rp 35.000/Kg, harga jual ke tengkulak sebesar Rp 30.000/Kg, dan harga jual ke pedagang pengecer sebesar Rp 35.000 - Rp 40.000/Kg. 3) Pemetaan wilayah pemasaran alpukat di Kecamatan Beji mencakup Pasar Induk Depok, Pasar Baru Depok Jaya, Pasar Kemiri Muka, Happyfresh Depok, Happyfresh Jakarta Selatan, Pasar Induk Cikema Bogor, dan Pulau Sumatera. 4) Pemetaan lalu lintas menunjukkan distribusi alpukat di Kecamatan Beji dilakukan dengan menggunakan sepeda motor, mobil, pick-up, dan kargo.Kata kunci: alpukat, beji depok, pemetaan pemasaran, saluran pemasaran.AbstractThis study was conducted in Beji Subdistrict, Depok City, aiming to understand the marketing channels and mapping of avocado marketing (quantitative mapping, price mapping, market area mapping, and traffic mapping). The research method used was descriptive qualitative, using a census method for sampling. Data collection was conducted through observation, interviews, and questionnaires. The results showed that: 1) Quantitative mapping of avocados in Beji Subdistrict produced 95,680 Kg/year. The area with the highest avocado production was Kukusan Village with 55,130 Kg, and the area with the lowest production was Tanah Baru Village with 2,700 Kg. 2) The price of avocados in Beji Subdistrict at the farmer level directly to consumers was Rp 35,000/Kg, the selling price to middlemen was Rp 30,000/Kg, and the selling price to retailers was Rp 35,000 - Rp 40,000/Kg. 3) Mapping of avocado marketing areas in Beji Subdistrict covered Depok Central Market, Depok Jaya New Market, Kemiri Muka Market, Happyfresh Depok, Happyfresh South Jakarta, Cikema Bogor Central Market, and Sumatra Island. 4) Traffic mapping showed that the distribution of avocados in Beji Subdistrict was carried out using motorcycles, cars, pick-ups, and cargo.Key words: avocado, beji depok, marketing channel, marketing mapping
RESPONS PERTUMBUHAN PHILODENDRON VAR. GREEN MOSS DAN PINK PRINCESS TERHADAP ZAT PENGATUR TUMBUH BENZYLAMINOPURINE SECARA IN VITRO Isminingsih, Sulastri; Bayhaqi, Ivan; Hilal, Samsu; Yenny, Ratna Fitry; Lizansari, Kirana Nugrahayu
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jipt.v6i2.30219

Abstract

AbstrakPhilodendron sp merupakan tanaman hias yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis. Nilainya semakin meningkat karena keindahan bentuk daunnya beraneka ragam dan warnanya yang khas. Lambatnya pertumbuhan dan perkembangan Philodendron sp. yang diperbanyak secara generatif maupun vegetatif menjadi penyebab kelangkaannya. Budidaya kultur jaringan sebagai salah satu teknologi produksi bibit Philodendron sp. pada lingkungan yang terjaga sterilisasi, pencahayaan dan suhu. Zat pengatur tumbuh (ZPT) diperlukan dalam kultur jaringan tanaman untuk mengendalikan pertumbuhan eksplan. 6-Benzylaminopurine (BAP), suatu ZPT dalam kelompok sitokinin sintetik, adalah salah satu jenis zat pengatur tumbuh yang mendorong perluasan tunas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah Philodendron (P) yang terdiri dari dua level yaitu green moss (p1) dan pink princess (p2). Faktor kedua adalah kadar konsentrasi BAP (6-Benzylaminopurine) (B) yang terdiri dari tiga taraf yaitu: 0,25 ppm BAP (b1), 0,5 ppm BAP (b2), dan 1 ppm BAP (b3). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang nyata pada parameter pertambahan jumlah tunas pada 8 MST dan pada parameter pertambahan jumlah daun pada 12 MST dengan perlakuan terbaik pada 1 ppm BAP .Kata Kunci: Benzylaminopurine, Green Moss, In Vitro, Philodendron, Pink PrincessAbstractThe Philodendron sp is an ornamental plant that grows in tropical and subtropical climates. Its value is increased by the beauty of its leaves, which come in a variety of distinctive shapes and colors. The slow growth and development of Philodendron sp. plants whether propagated generatively or vegetatively using traditional methods is the reason for their scarcity. Tissue culture cultivation as one of the technologies for the production of Phylodendron sp. seedlings with an environment that maintains sterilization, lighting, and temperature. Plant growth regulators (PGR) are necessary for plant tissue culture in order to control explant growth. 6-Benzylaminopurine (BAP), a PGR in the synthetic cytokinin group, is one kind of plant growth regulator that promotes bud expansion. This research uses a factorial randomized complete block design (RCBD) consisting of two factors. The first factor is Philodendron (P), which consists of two levels, namely green moss (p1) and pink princess (p2). The second factor is the concentration level of BAP (6-Benzylaminopurine) (B), which consists of three levels, namely 0.25 ppm BAP (b1), 0.5 ppm BAP (b2), and 1 ppm BAP (b3). The research results show that there is a significant effect on the parameter of increased number of shoots at 8 MST and the parameter of increased number of leaves at 12 MST with the best treatment at 1 ppm BAP.Keywords: Benzylaminopurine, green moss, In Vitro, Philodendron, pink princess
PENGARUH DOSIS Trichoderma harzianum DAN VARIETAS BAWANG MERAH UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT MOLER (Fusarium oxysporum) DAN PRODUKSI TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Muliana, Muliana -; Iswahyudi, Iswahyudi; Juanda, Boy Riza
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jipt.v6i2.28831

Abstract

AbstrakBawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak dapat dihindari oleh konsumen rumah tangga sebagai pelengkap bumbu masakan sehari-hari. Pesatnya pertumbuhan industri pengolahan makanan beberapa tahun terakhir juga cenderung meningkatkan kebutuhan bawang merah di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis Trichoderma harzianum dan pengaruh varietas bawang merah untuk mengendalikan penyakit moler terhadap produksi tanaman bawang merah serta interaksi kedua perlakuan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Samudra selama 3 bulan yang dimulai dari bulan Februari sampai dengan bulan April tahun 2024. Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor dosis Trichoderma harzianum (D) yang terdiri dari 5 taraf yaitu: D1= 0, D2= 300 Kg/Ha, D3= 350 Kg/Ha, D4= 400 Kg/Ha, D5= 450 Kg/Ha serta faktor varietas bawang merah yang terdiri dari 2 taraf, yaitu: V1= Bima Brebes, V2= Tajuk. Hasil penelitian ini Dosis Trichoderma harzianum berpengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman umur 15 HST, namun berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 30 dan 45 HST. Varietas bawang merah berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah umbi per tanaman sampel, kejadian penyakit pada umur 30 dan 45 HST, dan keparahan penyakit pada umur 45 HST. Namun berpengaruh tidak nyata pada parameter lainnya.Kata Kunci: bawang merah, moler, trichoderma, varietas AbstractShallots (Allium ascalonicum L.) are one of the basic needs that cannot be avoided by household consumers as a complement to daily cooking spices. The rapid growth of the food processing industry in recent years has also tended to increase the need for shallots in the country. This study aims to determine the effect of Trichoderma harzianum doses and the effect of shallot varieties to control moler disease on shallot plant production and the interaction of the two treatments. This study was conducted at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Samudra University for 3 months starting from February to April 2024. Factorial Randomized Block Design (RAK), consisting of 2 factors, namely the Trichoderma harzianum dose factor (D) consisting of 5 levels, namely: D1 = 0, D2 = 300 Kg / Ha, D3 = 350 Kg / Ha, D4 = 400 Kg / Ha, D5 = 450 Kg / Ha and the shallot variety factor consisting of 2 levels, namely: V1 = Bima Brebes, V2 = Tajuk. The results of this study Trichoderma harzianum dosage significantly affected the parameters of plant height at 15 HST, but did not significantly affect the parameters of plant height at 30 and 45 HST. shallot varieties significantly affected the parameters of the number of bulbs per sample plant, the incidence of disease at 30 and 45 HST, and the severity of the disease at 45 HST. However, it did not significantly affect other parameters.Keywords: shallots, moler, trichoderma, varieties
Analisis Efisiensi Penggunaan Input Produksi Usahatani Padi Sawah (Oryza sativa L.) Di Desa Sukajaya Kecamatan Pontang Kabupaten Serang Arfiansyah, Dicky Nur; Anggraeni, Dian; Saleh, Khaerul
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jipt.v6i2.26808

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh penurunan jumlah produksi padi yang berfluktuasi pada periode 2018-2022 sehingga menyebabkan rendahnya pendapatan petani di Desa Sukajaya, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang. Penurunan produksi disebabkan oleh ketidakmampuan petani untuk mengalokasikan penggunaan faktor produksi secara optimal sehingga pendapatan yang diterima petani menjadi rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya pengaruh penggunaan input produksi, baik dengan menggunakan uji F (simultan) maupun uji t (parsial) terhadap produksi padi serta mengetahui tingkat efisiensi alokatif penggunaan input produksi pada usahatani padi sawah di Desa Sukajaya, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 83 petani. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis fungsi produksi Cobb-Douglas dan analisis efisiensi alokatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan secara simultan (uji F), penggunaan luas lahan, benih, tenaga kerja, pupuk urea dan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap produksi padi. Sedangkan secara parsial (uj t) penggunaan input luas lahan, benih dan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah dan sisa input tenaga kerja serta pupuk urea tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi. Tingkat efisiensi usahatani padi sawah menunjukkan hasil penggunaan input luas lahan mempunyai nilai efisiensi sebesar 2,096 (belum efisien), benih sebesar 13,326 (belum efisien), tenaga kerja sebesar -0,868 (tidak efisien), pupuk urea sebesar 1,102 (belum efisien) dan pupuk NPK sebesar 8,317 (belum efisien).Kata Kunci: input, produksi, Cobb-Douglas, efisiensi alokatifAbstractThis research is based on fluctuating decrease in the amount of rice production in the period from 2018-2022, causing low farmer incomes in Sukajaya Village, Pontang District, Serang Regency. The decrease in production was caused by farmers' inability to allocate optimal use of production factors so that the income received by farmers was low. The aim of this research is to analyze the magnitude of the influence of the use of production inputs, using both the F test (simultaneous) and the t test (partial) on rice production and determine the level of allocative efficiency of the use of production inputs in lowland rice farming in Sukajaya Village, Pontang District, Regency. Attack. This research uses quantitative descriptive methods. Data collection was carried out using questionnaires and interviews. The sampling technique in this research used a simple random sampling technique with a sample size of 83 farmers. The data processing methods used are Cobb- Douglas production function analysis and allocative efficiency analysis. Based on research results which show simultaneously (F test), the use of land area, seeds, labor, urea fertilizer and NPK fertilizer has a significant effect on rice production. Meanwhile, partially (uj t) the use of land area input, seeds and NPK fertilizer has a significant effect on lowland rice production and the remaining labor input and urea fertilizer have no significant effect on rice production. The level of efficiency of lowland rice farming shows that the results of using land area inputs have an efficiency value of 2.096 (not yet efficient), seeds of 13.326 (not yet efficient), labor of -0.868 (not efficient), urea fertilizer of 1.102 (not yet efficient) and NPK fertilizer. amounting to 8,317 (not yet efficient).Keywords: input, production, Cobb-Douglas, allocative efficiency
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI DAN STATUS KESEHATAN BALITA TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI BANTEN Budiawati, Yeni
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jipt.v6i2.30149

Abstract

Tanpa kemisikinan dan tanpa kelaparan merupakan salah satu dari 17 tujuan dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang telah dicangangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2015 untuk dicapai pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan merupakan pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan. Ketahanan pangan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial-ekonomi. Telah banyak penelitian yang menganalisis hubungan antara berbagai karakteristik sosial ekonomi penduduk terhadap ketahanan pangan, akan tetapi yang membandingkan dengan data status kesehatan balita berupa stunting dan underweight masih terbatas. Penelitian ini bertujuan melihat dan mengetahui sejauh mana hubungan antara karakteristik sosial ekonomi, dan status kesehatan balita (stunting dan underweight) terhadap ketahanan pangan. Metode yang digunakan adalah analisis korelasi Pearson dengan data sekunder dari Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat dan positif antara ketahanan pangan dengan rata-rata lama sekolah penduduk, sangat kuat dan negatif antara persentase stunting dan underweight terhadap ketahanan pangan. Variabel  rata-rata pengeluaran makanan per kapita sebulan memiliki korelasi yang kuat dan positif terhadap ketahanan, korelasi kuat dan negatif antara ketahanan pangan dan jumlah penduduk miskin. Korelasi sedang dan positif ditunjukkan antara variabel produksi padi terhadp ketahanan pangan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5