cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2023)" : 8 Documents clear
Perempuan dalam Gerakan Lintas Iman : Agen Perdamaian di Kota Manado Nelwan, Gerry
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3045

Abstract

Today, various inter-faith communities have been born with massive efforts to build peace and harmony, starting at the national and regional levels under government and independent institutions. However, there is something important to note again: not many communities across Indonesia pay attention to the involvement of women as the main actors in the peace-building process. This study aims to analyse the involvement of women in interfaith communities as part of gender justice, especially in the city of Manado. The research process was carried out using descriptive and qualitative methods through library research. Data were obtained through various scientific literature, journals, and books, as well as supporting documents, to write information related to the research. From this research, it was found that there are still a few interfaith communities that accommodate women, but for the context of Manado City itself, this community has not yet been found. The availability of spaces such as interfaith communities for women is an effort to encourage women's active involvement in building peace based on their strategies and approaches. [Dewasa ini lahir berbagai komunitas lintas iman dengan upaya membangun perdamaian dan kerukunan sangat masif dilakukan mulai dari taraf nasional dan daerah, di bawah lembaga pemerintah maupun yang bersifat independen. Namun ada yang penting untuk diperhatikan kembali, bahwa tidak banyak dari komunitas lintas di Indonesia yang memberi perhatian pada keterlibatan perempuan sebagai aktor utama dalam proses pembangunan perdamaian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterlibatan perempuan dalam komunitas lintas iman sebagai bagian dari keadilan gender, khususnya yang ada di Kota Manado. Proses penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan. Data yang didapat melalui berbagai literatur ilmiah, jurnal, buku dan juga dokumen pendukung hingga informasi tertulis yang memiliki keterkaitan dengan penelitian tersebut. Dari penelitian ini ditemukan bahwa masih sedikit komunitas lintas iman yang mengakomodir perempuan, untuk konteks Kota Manado sendiri belum ditemukan komunitas tersebut. Ketersediaan ruang seperti komunitas lintas iman bagi perempuan menjadi satu upaya dalam mendorong keterlibatan aktif perempuan untuk membangun perdamaian berdasarkan strategi dan pendekatan nya sendiri.]
The Pattern of New Spiritual Movement in Indonesia Mujahidah, Affaf; Jamaluddin, Jamaluddin
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3094

Abstract

Indonesia legitimates six religions (Islam, Protestant, Catholic, Buddhism, Hinduism, and Confucianism) as official religions. Beside those official religions, Indonesia also overcrowded by other religions, which can be divided as indigenous and new movement of religious and spiritual. Both those branches face difficulties regarding the consideration as heretical movement. However, new spiritual movements in Indonesia still flourishing, Susila Budhi Darma (SUBUD), Anand Ashram, and Salamullah are some of examples. Even though spiritual movements in Indonesia are vary in their teaching, but certain patterns can be drawn. Spiritual movements usually combine others religion ethics as their teaching. Some of them are lead by leader claims themselves as savior (possesses messiah complex symptom). This article try to portray those patterns found in Susila Budhi Darma (SUBUD), Anand Ashram, and Salamullah by Lia Aminuddin. Grounding questions for this article are from which religions they extract their teaching? Do their leader posses messianic complex? Chapters will be divided into fours, first until third chapter will discuss each movement from their history and teaching, later continued by analysis of pattern of teaching and leader in last chapter. [Negara Indonesia melegalkan enam agama sebagai agama resmi yang dianut oleh warga negaranya yakni Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Meski demikian, berbagai keyakinan atau aliran di luar keenam agama resmi tersebut berkembang dengan pesat. Keyakinan atau aliran tersebut secara sederhana dapat dikategorikan sebagai kepercayaan (agama) leluhur dan gerakan keagamaan baru. Kedua kategori tersebut seringkali menghadapi problematika karena dianggap sebagai gerakan heretik. Namun, anggapaan tersebut tidak menyurutkan berbagai aliran di luar agama resmi untuk terus berkembang, tiga diantaranya adalah Susila Budi Dharma (SUBUD), Anand Ashram, dan Salamullah. Meski ajaran-ajaran aliran-aliran sangat berbeda, namun secara gerakan dapat digambarkan pola tertentu. Kebanyakan, keyakinan atau aliran tersebut mengkombinasikan berbagai ajaran agama sebagai ajaran utama mereka. Selain itu, pemimpin keyakinan atau aliran tersebut mengklaim bahwa dirinya sebagai juru selamat. Artikel ini mencoba untuk menguraikan pola tiga aliran yaitu Susila Budi Dharma (SUBUD), Anand Ashram, dan Salamullah. Rumusan masalah yang ingin ditemukan jawabannya adalah ajaran dari agama atau keyakinan apa yang memiliki pengaruh besar terhadap ketiganya, dan bagaimana para pemimpin gerakan ini memposisikan dirinya. Pembahasan dalam artikel ini dibagi menjadi empat sub bab yang terdiri dari pembahasan masing-masing keyakinan atau aliran pada sub bab satu hingga sub bab tiga, serta penjelasan tentang pola gerakan pada sub bab empat.]
Creating Religious Relationality in Digital Media Platform Dewantri, Puja
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3135

Abstract

Today's digital era has manifested a massive movement of people from an old society to a new society. This digital world has also changed the way people see and practise religion. Here, at least two questions are asked. First, consider how the use and accessibility of digital media affect religious knowledge and practise in order to raise religious awareness. The second question is how religion can be both a social practise and a discourse so that more people can participate in the discussion. This research aims to answer these two questions by adopting the indigenous religion paradigm which based on relationality. Indirectly, the main objective of this research is to figure out the interactions related to religious content in digital media as an up-to-date portrait of how religiosity is understood using the alternative of the religious paradigm as the embodiment of new topics in religious studies and the digital world: religious relationality paradigm. Through the three principles of the paradigm—responsibility, ethics, and reciprocity—digital media has helped to create distinctive religious awareness. [Era digital saat ini telah mewujudkan perpindahan masyarakat secara masif dari masyarakat lama ke masyarakat baru. Dunia digital ini juga telah mengubah perspektif dan praktik seseorang dalam kehidupan beragama. Karenannya, dalam artikel ini, setidaknya terdapat dua pertanyaan yang diajukan. Pertama, bagaimana penggunaan dan aksesibilitas media digital memengaruhi pengetahuan dan praktik keagamaan untuk meningkatkan kesadaran beragama. Pertanyaan kedua adalah bagaimana agama dapat menjadi praktik sosial sekaligus wacana sehingga lebih banyak orang dapat berpartisipasi dalam diskusi keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan mengadopsi paradigma agama lokal yang berbasis relasionalitas. Secara tidak langsung tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi terkait konten keagamaan dalam media digital sebagai potret terkini bagaimana religiusitas dipahami dengan menggunakan alternatif paradigma keagamaan sebagai pengejawantahan topik baru dalam kajian agama dan dunia digital: paradigma relasionalitas agama. Melalui tiga prinsip paradigma—tanggung jawab, etika, dan timbal balik—media digital telah membantu menciptakan kesadaran beragama yang khas.]
Transformasi Spiritual Masyarakat Jawa Kontemprer: Eksistensi dan Makna Ritual di Parangkusumo Yuwono, Dandung Budi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3142

Abstract

The life of the Javanese people is full and attached to the mystical world. They are associated with supernatural things, and always do the 'other way'. How to understanding life they perform various rituals, one of which is the ritual on Selasa (Tuesday) Kliwon and Jumat (Friday) Kliwon nights in Parangkusumo. The ritual is an attempt to seek clarity and guidance from the ancestors, namely Panembahan Senopati as the first Islamic Mataram King and Kanjeng Ratu Kidul. This ritual is the embodiment of an 'ingrained' myth about the existence of Kanjeng Ratu Kidul, a spirited creature with powerful powers, the ruler of the southern seas who has enormous supernatural powers, who are believed to be able to give peace to the Javanese people. As a traditional cultural phenomenon, the rituals of the Selasa (Tuesday) Kliwon and Jumat (Friday) Kliwon nights in Parangkusumo are difficult to separate from the daily life of the Javanese. How the ritual process takes place, what is the meaning of the ritual, and is it true that religious identity struggles continue among the Javanese, are the questions that will be answered through this research. This research is a qualitative research using a phenomenological. Data collection techniques were carried out by means of participatory observation and in-depth interviews. The data analysis was done interpretively. Another thing, this research will try to see the common thread between the concept of Islam and the Javanese religion which is considered to have a lot to influence the behavior of the Javanese people. [Kehidupan masyarakat Jawa, penuh dan lekat dengan dunia mistis. Mereka berhubungan dengan hal-hal gaib, dan senantiasa melakukan ‘jalan lain’. Dalam memahami kehidupan mereka melakukan berbagai ritual, salah satunya ritual malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon di Parangkusumo. Ritual tersebut merupakan upaya mencari kejernihan dan petunjuk dari leluhur, yakni Panembahan Senopati sebagai Raja Mataram Islam pertama dan Kanjeng Ratu Kidul. Ritual tersebut merupakan perwujudan mitos yang ‘mendarah daging’ tentang keberadaan Kanjeng Ratu Kidul, sosok makhluk halus berkekuatan sakti, penguasa laut selatan yang memiliki kekuatan gaib maha besar, yang diyakini dapat memberi ketentraman bagi masyarakat Jawa. Sebagai fenomena kebudayaan tradisional, ritual malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon di Parangkusumo sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari orang Jawa. Bagaimana proses ritual itu berlangsung, apa makna ritual, dan benarkah terus terjadi pergulatan identitas religius pada orang Jawa, adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan perspektif fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Adapun analisis data dilakukan secara interpretif. Hal lain, penelitian ini akan coba melihat benang merah antara konsep Islam dengan Agama Jawa yang dianggap banyak mempengaruhi perilaku kehidupan masyarakat Jawa.]
Fajar Pers Muslim Bumi Putra di Masa Hindia Belanda: Wacana Anti Kapitalisme dalam Majalah Medan Moeslimin (1915-1926) Triyanta, Agus
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3156

Abstract

This study examines the Islamic Communist discourse in the Medan Moeslimin magazine in Surakarta in 1915-1926. This newspaper had created by Haji Misbah, an activist in Surakarta. This newspaper reviews many ideas such as Islamic discourse, movements and resistance that had initiated by Haji Misbach. In additionally, the idea of women's discourse had included in this newspaper. This newspaper often called out against the Dutch colonial government because it had felt to be oppressing the people. To facing toward the Dutch colonial government, Haji Misbach combined two different ideologies into one, namely the Islamic ideology and the Communist ideology. This had used to fight because these two ideologies were able to fight against the Dutch colonial government. This research is a literature review (Library Research) and this had used historical analysis methods including topic selection, heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The primary sources is Medan Moeslimin newspaper and contemporary newspapers such as Islam Bergerak newspaper found in the Jakarta National Library. To support the data for research, the secondary books had used such as the Gerakan Komunis Islam in Surakarta in 1916-1942 and other books. This research had found the results: 1. The Medan Moeslimin newspaper was the media used by Haji Misbach to spread ideas against the Dutch colonial government; 2. This newspapers as media for Islamic da'wah in order to educate the people of Surakarta who still common in learning of Islam. [Penelitian ini mengulas wacana komunis Islam dalam majalah Medan Moeslimin di Surakarta tahun 1915-1926. Surat kabar ini didirikan oleh Haji Misbach seorang tokoh pergerakan di Surakarta. Surat kabar ini banyak mengulas berbagai gagasan seperti wacana keislaman, pergerakan dan perlawanan yang diserukan Haji Misbach. Surat kabar ini sering kali menyerukan penentangan terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang menindas rakyat. Untuk menentang pemerintahan kolonial Belanda, Haji Misbach memadukan dua ideologi berbeda yaitu, Ideologi Islam dan Ideologi Komunis. Hal ini digunakan karena dua ideologi tersebut mampu melawan pemerintah kolonial Belanda. Ideologi Komunisme mengajarakan masyarakat tanpa kelas dan kesetaraan  sedangkan Ideologi Islam mengajarakan persatuan Islam persaudaran antar umat Islam maka dari itu Haji Misbah mengabung dua ideologi tersebut untuk melawan pemerinatah kolonial Belanda.  Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (Library Research) dan menggunakan metode analisi historis meliputi pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpertasi dan historiografi. Sumber primer yang digunakan berupa surat kabar Medan Moeslimin dan surat kabar sejaman seperti surat kabar Islam Bergerak   Untuk menunjang data penelitian penulis menggunakan buku-buku sekunder seperti Gerakan Komunis Islam di Surakarta tahun 1916-1942 dan buku lainnya. Penelitian ini  media yang digunakan Haji Misbach untuk menyebarkan gagasan menentang pemerintah kolonial Belanda, surat kabar Medan Moeslimin juga berperan sebagai media dakwah Islam di  Surakarta yang masih sangat awam dengan ajaran agama Islam.]
Meninjau Gerakan Moderasi Beragama pada Organisasi Sipil: Strategi Organisasi Kemahasiswaan di Kota Semarang Andhika Putri Maulani; Khasiatun Amaliyah; Ismi Zakiyah; Nailatus Zahro
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3128

Abstract

One of the strategic agents of religious moderation is university student organisations. This research discusses student organisations interfaith in Semarang City. The approach used here is the functional structural theory by Talcott Parson regarding civil organisations as a social system in society. Through this approach, researchers aim to examine the role of student organisations in Semarang in implementing the values of religious moderation. This research shows that student organisations in Semarang reflect a diverse vision of religious moderation. From the study of six organisations including PMII, HMI, KAMMI, GMNI, IMM, and PMKRI, researchers formulate models of religious moderation movement in these student organisations, namely, (1) Through the student interfaith discussion forum which emphasises the provision of facilities and forums given to students in implementing the values of religious moderation; (2) Through the public interfaith forum reaches out the general public through various activities that integrated the value of religious moderation and social movements; (3) Through the Orientation of Organisational Movement, the role and function of the organisation, both through works program, vision and mission with concerns towards implementing and practising religious moderation. This research is qualitative and uses the descriptive-analytical method. The data of the research are presented in descriptive form. [Salah satu agen strategis moderasi beragama adalah organisasi kemahasiswan. Penelitian ini membahas organisasi kemahasiswaan lintas agama di Kota Semarang. Pendekatan yang digunakan adalah teori struktural fungsional yang dikembangkan oleh Talcott Parson tentang organisasi masyarakat sebagai suatu sistem sosial dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, peneliti hendak menelaah peran organisasi kemahasiswaan di Semarang dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama. Penelitian ini menunjukkan bahwa organisasi-organisasi kemahasiswaan di Kota Semarang memiliki visi yang beragam tentang moderasi beragama. Dari telaah pada 6 organisasi yang meliputi PMII, HMI, KAMMI, GMNI, IMM, dan PMKRI, penulis merumuskan model-model gerakan moderasi beragama pada organisasi kemahasiswaan tersebut, di antaranya, (1) Melalui forum diskusi lintas agama (Linag) Mahasiswa yang menekankan pada penyediaan sarana maupun forum yang diberikan kepada mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama; (2) Melalui forum kegiatan lintas agama (Linag) Umum yang menjangkau masyarakat umum lewat berbagai kegiatan yang mengintegrasikan nilai moderasi beragama dan gerakan sosial; (3) Melalui Arah Gerak Organisasi, yakni melalui peran serta fungsi organisasi, baik melalui program-program kerja, visi dan misi dengan konsen yang beorientasi pada mengimplementasikan maupun pengamalan moderasi beragama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif-analitis. Data-data penelitian yang diperoleh disajikan dalam bentuk deskriptif.]
Gerakan Baru Kemanusiaan: Filantropi Islam di Yayasan Al-Hidayah, Kampar, Riau Pramana, M. Agung; Ariadi, Pitra
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3159

Abstract

This article discusses the new Islamic philanthropic movement at Tahfidz Al-Hidayah Foundation, Kampar, Riau. However, the Islamic philanthropy initiated by this foundation is different from Islamic philanthropic activities in general. The administrators sacrifice effort in educating and nurturing their students. The concern shown by the administrators included in Islamic philanthropic activities because of persistence on the basis of humanity is the foundation of the Islamic philanthropic reform movement. This article will answer the main question, what is the context of Islamic philanthropic activities at Tahfidz Al-Hidayah foundation? Meanwhile, the following questions that researcher will explore such as how Islamic philanthropic activities have been from the New Order era to the present? To answer these questions, researcher use ethnographic methods sourced from field research at the Tahfidz Al-Hidayah Foundation. Then, researcher analyzes it with relevant previous literature, as well as additional data, researcher use the netnographic method through the Instagram account @yysn_al_hidayah_kampar. The results of the study show that the Tahfidz Al-Hidayah foundation is an Islamic philanthropic renewal movement that aims to increase piety and pious in concern of humanity. Islamic philanthropy are not only in the form of materials such as Zakat, Infaq, Alms, and Endowments (ZISWAF) which seeks to minimize poverty. However, Islamic philanthropic activities can improve the quality of life. As shown by the Tahfidz Al-Hidayah foundation as a movement based on humanity. [Tulisan ini membahas gerakan baru filantropi Islam di Yayasan Tahfidz Al-Hidayah Kampar, Riau. Filantropi Islam yang digagas oleh yayasan ini berbeda dari kegiatan-kegiatan filantropi Islam pada umumnya. Pengurus mengorbankan usaha dalam mendidik dan membina muridnya. Kepedulian yang diperlihatkan oleh pengurus juga termasuk dalam kegiatan filantropi Islam karena kegigihan atas dasar kemanusiaan menjadi landasan dari gerakan pembaruan filantropi Islam. Artikel ini akan menjawab pertanyaan utama yaitu bagaimana konteks kegiatan filantropi Islam yang ada di Yayasan Tahfidz Al-Hidayah ini? Sedangkan pertanyaan lanjutan yang akan peneliti eksplorasi seperti bagaimana kegiatan filantropi Islam dari era Orde Baru hingga saat ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan metode etnografi bersumber dari penelitian lapangan (field research) di Yayasan Tahfidz Al-Hidayah. Kemudian penulis menganalisisnya dengan literatur-literatur sebelumnya yang relevan, sebagai data tambahan, peneliti menggunakan metode netnografi melalui akun instagram @yysn_al_hidayah_kampar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Tahfidz Al-Hidayah sebagai gerakan pembaruan filantropi Islam yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan kesalehan dalam bentuk kepedulian atas dasar kemanusiaan. Filantropi Islam juga tidak hanya berbentuk materi seperti Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) yang berupaya meminimalisir kemiskinan. Namun, kegiatan filantropi Islam itu juga bisa dalam bentuk jasa untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Seperti yang diperlihatkan oleh Yayasan Tahfidz Al-Hidayah sebagai gerakan atas dasar kemanusiaan.]
Melampaui Ritual: Tribuana Manggala Bhakti sebagai Ruang Perjumpaan Lintas Agama di Kulon Progo M Naufal Firosa Ahda; Amalia Hamida, Nur
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3427

Abstract

Interreligious dialogue is still often characterised as a form of dialogue that is ideally organised formally and represented by religious leaders, elites, and government officials. Dialogue, which tends to be rigid and limit access to most of the community, is a challenge in the context of interreligious dialogue in presenting a more inclusive space that allows for broader community involvement. This research aims to explore interreligious relations through the Tribuana Manggala Bhakti tradition in the Jatimulyo Village community, Kulon Progo, Yogyakarta Special Region. A qualitative research method with a case study approach was used as a tool for obtaining data in the field. The subjects in this study amounted to four people who came from among residents, interfaith youth, religious leaders, and community leaders. The results of the study show that the Tribuana Manggala Bhakti tradition has transformed its meaning from a symbol of Buddhist tradition to a social symbol of society in general, so that it goes beyond its functions as a ritual. The shift in meaning in the tradition is due to several factors, namely: the support of the village government, having local wisdom values that are relevant to community life, and the emergence of enthusiasm and community participation in the success of the event. The challenges currently faced are related to the participation of the village youth, who are gradually decreasing in their participation to maintain and be involved, so that in the future, the tradition requires the role of youth on an ongoing basis in an effort to maintain that the space for interfaith encounters still exists in Jatimulyo Village. [Dialog lintas agama masih sering dipahami sebagai suatu cara yang idealnya dilakukan secara formal dan diwakili oleh para pemuka agama dan pejabat pemerintah. Dialog yang cenderung kaku dan membatasi akses sebagian besar masyarakat, menjadi tantangan tersendiri pada konteks dialog lintas agama dalam menghadirkan ruang yang lebih inklusif serta memungkinkan keterlibatan masyarakat secara luas. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tradisi Tribuana Manggala Bhakti muncul dan bertransformasi menjadi kegiatan serta ruang perjumpaan lintas agama masyasrakat Desa Jatimulyo. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan sebagai alat dalam mendapatkan data di lapangan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang berasal dari kalangan warga, pemuda lintas agama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hasil studi menunjukkan bahwa tradisi Tribuana Manggala Bhakti mengalami pergeseran makna, dari simbol tradisi warga agama Buddha ke simbol sosial masyarakat secara umum. Bergesernya makna dalam tradisi tersebut dikarenakan beberapa faktor yakni: adanya dukungan dari kalangan pemerintah desa, memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat, dan munculnya antusias serta keikutsertaan masyarakat dalam menyukseskan acara tersebut. Adapun tantangan yang saat ini dihadapi terkait denganadalah soal keikutsertaan para pemuda desa yang lambat laun mengalami penurunan dalam partisipasinya untuk merawat dan terlibat, sehingga kedepannya tradisi tersebut memerlukan peran pemuda secara berkelanjutan dalam upaya menjaga agar ruang perjumpaan lintas agama masih tetap ada di Desa Jatimulyo]

Page 1 of 1 | Total Record : 8