cover
Contact Name
Sri Haryanto
Contact Email
manarulquran@unsiq.ac.id
Phone
+62286-321873
Journal Mail Official
manarulquran@unsiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalibeber Km. 03 Mojotengah, Wonosobo, Jawa Tengah
Location
Kab. wonosobo,
Jawa tengah
INDONESIA
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam
ISSN : 14127075     EISSN : 26154811     DOI : https://doi.org/10.32699/mq
Core Subject : Religion,
Manarul Quran adalah terbitan berkala ilmiah dengan nomor ISSN 1412-7075 (print), 2615-4811 (online) yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo, jurnal ini terbit sejak tahun 2001. Manarul Quran merupakan wahana desiminasi hasil riset dan kajian studi islam dengan fokus pada kajian dan hasil riset tentang Islamic Culture, Islamic Studies, Gender Studies. Al-Quran Studies, Islam and Science Integration, dan Al-Quran and Science Integration.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 124 Documents
FILSAFAT AL-FARABI DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN ISLAM Abdul Majid
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1597

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengupas tentang filsafat al-Farabi dalam praktek pendidikan Islam. Dimana al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Dalam hal ini Al-Farabi dapat juga disebut sebagai penerus tradisi intelektual al-Kindi, tapi dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi lagi. Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti kata yang sebenarnya, Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida studi falsafah dalam Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Ia terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannya Aristoteles. Ia termasyhur karena telah memperkenalkan dokrin “Harmonisasi pendapat Plato dan Aristoteles”. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yang memadai. Di kalangan pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atau Abu naser. Filsafat al-Farabi yang demikian merekonstruksi praktek pendidikan Islam untuk mengembangkan adanya integralitas antara pemikiran naturalisme dan nativisme dengan empirisme. Perpaduan antara keyakinan akan pentingnya pembawaan, namun tetap memperhatikan adanya pengaruh pengalaman empirik seorang warga belajar. Dalam konteks pembelajaran, seorang guru bisa memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang dapat mengembangkan potensi-potensi, bakat, minat peserta didik untuk menemukan jati dirinya sendiri pada eranya.
EKONOMI ISLAM DAN PERSAINGAN GLOBAL ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN Z. Sukawi
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1598

Abstract

Tulisan tentang pengembangan ekonomi Islam dalam persaingan global antara tantangan dan harapan ini dimaksudkan untuk meningkatkan eksistensi syariat Islam di tengah-tengah derasnya kompetisi global dan implementasi misi Islam yang rahmatan li al alamin. Hal ini dilakukan sebagai langkah pendasaran, pengawala dan mengarahkan orientasi dalam berbagai dimensi kehidupan terutama dibidang ekonomi Islam atau ekonomi syari’ah sekaligus sebagai antisipasi pemberlakuan MEA, GATT, dan pasar bebas secara global. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah simultan, integratif interkonektif dan menjauhkan pendekatan yang terpisah, individual dan terkotak-kotak. Dengan pendekatan tersebut diharapkan akan saling memberi masukan, mengontrol dan menyempurnakan. Kajian ekonomi Islam sesungguhnya tidak terlepas dari persoalan ekonomi sebagai aktifitas umat manusia dalam mencapai keinginan dan memenuhi kebutuhannya secara praktis-operasional sekaligus sebagai Ilmu pengetahuan (Ilmu ekonomi Islam) yang memberikan dasar dan orientasi secara teoritik-konseptual. Sebagaimana diketahui bahwa ekonomi Islam muncul di saat perekonomian modern lambat dalam menghadirkan solusi atas problematika ekonomi kontemporer, yang telah gagal menyelesaikan persoalan kemanusiaan, sosial ekonomi suatu Negara. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya reaktualisasi dan revitalisasi ekonomi Islam yang pernah Berjaya dimasa lampau dan mencarikan solusi terhadap problem dan krisis ekonomi global yang banyak menyesatkan (memadu tradisi dan mengembangkan modernitas). Konsep ekonomi Islam yang khas, unik dan distingtif sangat berbeda dengan ekonomi kapitalisme atau sosialis. Sebagaimana dikatakan Abdul Gafur bahwa dalam dalam perkembangan kontemporer ekonomi Islam merupakan buah pikiran dari para ekonom Muslim pada abad ke-20 Masehi. Jika dalam pemikiran ekonomi Islam klasik dibagi menjadi tiga fase, maka pemikiran ekonomi Islam kontemporer ini dibagi menjadi tiga aliran, yaitu aliran iqtishādunā, aliran mainstream, dan aliran alternatif. Masing-masing dari ketiga aliran ini memiliki corak pemikiran yang berbeda-beda.
EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM KONTEMPORER Mahfudz Junaedi
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1599

Abstract

Epistemologi atau teori pengetahuan adalah membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha manusia memperoleh pengetahun. Ilmu-ilmu keIslaman sejak awal penyebaran agama ini mengalami dinamika yang progresif. Diantara indikator dinamika ilmu-ilmu Islam dalam konteks kekinian adalah berkembangnya berbagai disiplin keilmuan Islam termasuk didalamnya ilmu fikih atau hokum Islam. Bahkan secara inklusif ilmu-ilmu keislaman tidak hanya terbatas pada satu rumpun ilmu saja, tetapi semua ilmu yang berkembang dewasa ini. Tulisan ini bermaksud membahas terhadap salah satu ilmu Keislaman, yakni ilmu fikih dari sudut epistemologinya. Yakni tentang struktur dan cara kerja dari ilmu ini. Epistemologi menurut Koento Wibisono Siswomiharjo, merupakan salah satu penyangga eksistensi ilmu. Disamping ontologi dan aksiologi. Dikemukakannya tulisan ini untuk menunjukkan bahwa ilmu fikih sebagai ilmu yang mempunyai dua sisi pendekatan yakni normativitas dan historisitas, merupakan disiplin ilmu yang tidak ahistoris. Maksudnya terlepas dari logika-logika yang layaknya terpakai dalam sebuah science. Disamping itu fikih juga dinamis, inklusif, dan terbuka dalam memberikan jawaban-jawaban tentang persoalan-persoalan keumatan. Sebagaimana diketahui bahwa epistemologi berasal dari bahasa Yunani, Episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori. Epistemologi sering diartikan teori pengetahuan atau filsafat ilmu. Ada beberapa isu utama dalam bidang epistemologi ini, yaitu pertama, apa yang maksud dengan pengetahuan (Ilmu) Fiqih?, kedua, apa sumber pengetahuan itu?, ketiga, dari mana asal usul pengetahuan itu dan bagaimana kita mengetahuinya?, keempat, apakah pengetahuan yang diperoleh benar ?. Tulisan ini bermaksud menjawab beberapa pertanyaan di atas, berkaitan dengan epistemology hukum Islam, yakni dibatasi pada masalah struktur pengetahuan hukum Islam dan cara kerjanya, dan bagaimana penerapan hukum Islam dalam konteks Fikih Indonesia
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN (Kajian Surah An-Naml, 23-26) Mutho’am Mutho’am
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1600

Abstract

Fenomena penting yang mewarnai era transformasi masyarakat global saat ini adalah menguaknya wacana tentang kepemimpinan perempuan. Baik dikaji dari segi ranah politik, ekonomi, sosial dan agama kepemimpinan Perempuan telah menjadi discursus yang menuntut untuk segera dibumikan, tidak hanya menjadi wacana yang melangit saja. Dalam Islam setidaknya ada dua landasan yang bisa dijadikan referensi yaitu Pertama, Hadist Bukhori dan shokhih periwayatanya, menyatakan bahwa tidak akan berhasil suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada perempuan. Kedua, ada informasi dari Al-Qur’an pada surah An-Naml tentang seorang perempuan yang sukses memimpin negaranya
RESENSI KITAB TA’LIMUL MUTA’ALIM Mukromin Mukromin
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1601

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang keutaman-keutamaan ilmu, bagian-bagiannya dan cara yang seharusnya untuk menghasilkan ilmu itu. Karena mencari ilmu itu ibadah maka, niat tholabul ‘ilmi yang faridhotun itu tidak boleh ditinggalkan. Tentu saja yang dilakukan pencari ilmu (tholib) agar mendapatkan pahala disamping dimaksudkan pula untuk memicu dan memacu semangat pencarian, menangkal pembiasaan malas tidak semangat, menjaga konsistensi, mendorong dan menuntun keberhasilan dan serta tujuan ritualistik yang lain. Dari sinilah seharusnya kandungan kitab Ta’lim al-Muta’alim didekati sehingga tuduhan kurang menyenangkan atas kitab tersebut bisa dihindari. Secara umum kitab ini berisikan tiga belas pasal yang singkat-singkat.Dari ke tiga belas fasal atau bab pembahasan di atas, dapat kita lihat bahwa dari segi metode belajar yang dimuat Zarnuji dalam kitabnya itu meliputi dua kategori. Pertama, metode bersifat etik. Kedua, metode yang bersifat strategi. Metode yang bersifat etik antara lain mencakup niat dalam belajar, sedangkan metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar. Apabila dianalisa maka akan kelihatan dengan jelas Az-Zarnuji mengutamakan metode yang bersifat etik, karena dalam pembahasannya beliau cenderung mengutamakan masalah-masalah yang bernuansa pesan moral
STUDI ANALISIS TERHADAP SEBAB-SEBAB KEKELIRUAN DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN M.A. Mustofa Kamal
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 1 (2019): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i1.1602

Abstract

Penulis melalui artikel ini mencoba untuk menguji dan mengeksplorasi produk-produk penafsiran Al-Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya serta bentuk-bentuk penafsiran yang memiliki karakteristik yang berbeda. Ketika seorang mufassir melakukan kerja penafsiran, faktor situasi politik, latar belakang 'madzhab' yang melingkupi sosok seorang mufassir, sangat terlihat mewarnai produk tafsirnya, sehingga di antara mereka melahirkan produk-produk penafsiran yang cukup beragam. Namun, tidak sedikit para penafsir yang menghasilkan kesalahan dalam penafsirannya karena adanya kesalahpahaman dalam memahami ayat-ayat. Oleh karena itu, dibutuhkan akurasi dan kehati-hatian dari seorang mufassir dalam memahami Al-Qur'an sehingga menghasilkan penafsiran yang benar. Thahir Mahmud Muhammad Ya'qub memberikan alasan untuk berbagai kesalahan yang biasanya dilakukan oleh mufassir ketika menafsirkan ayat-ayat. Melalui tawaran analisisnya, setidaknya bisa menjadi kerangka acuan bagi mufassir untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam melakukan pekerjaan penafsiran al-Qur'an.
Al-QUR’AN SEBAGAI SUMBER PEMBAHARUAN PERADABAN MANUSIA Robingun Suyud El-Syam
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 2 (2019): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i2.1604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa al-Qur’an merupakan sumber pembaharuan peradaban umat manusia. Dimana dalam sejarahnya masyarakat Arab pada masa sebelum Islam lebih banyak dalam proses mata pencahariannya dari kehidupan alam maupun melalui perdagangan. Perjalanan mereka untuk memperjualkan dagangan niaga ke beberapa kota termasuk barang-barang patung atau kerajinan lainnya. Sumber ekonomi itulah yang menghidupi keluarga mereka. Lebih lanjut syariat Islam yang tersurat dan tersirat dalam al-Qur’an serta tergambar dalam haditṡ mencapai puncak kesempurnaanya pada masa kerasulan Muhammad Saw, Islam memiliki syariat yang sempurna, sehingga selalu sesuai dengan keadaan masyarakat manapun dan zaman apapun, mungkin bisa dikatakan penyebab utama krisis multidimensi di dunia Islam adalah ketidakmampuan dunia pendidikan melahirkan orang-orang yang baik dan benar. Nah berkaitan dengan hal tersebut al-Qur’an adalah kitab yang diwahyukan, dan dimanifestasikan, disingkapkan atau diumumkan. Ia adalah suatu pencerahan, suatu bukti atas realitas dan penegasan akan kebenaran. Bagi al-Qur’an kelahiran manusia, masyarakat, budaya, peradaban, bahasa, ras, suku dan marga serta jatuh bangunannya bangsa-bangsa merupakan tanda yang harus direnungkan dan diambil hikmahnya oleh manusia, sehingga al-Qur’an bisa menjadi jawaban bagi semua persoalan yang ada.
PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM ISLAM Noor Aziz
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 2 (2019): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i2.1605

Abstract

Paper ini membahas tentang gagasan yang Rahman dilatarbelakangi oleh pengamatannya terhadap perkembangan pendidikan Islam di era modern di beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Turki, Indonesia, Mesir dan Pakistan. Menurut Rahman Pendidikan Islam di negara-negara tersebut masih dihadapkan kepada beberapa problem pendidikan yang antara lain berkaitan dengan; 1) Tujuan Pendidikan tidak diarahkan kepada tujuan yang positif, 2) Dikotomi sistem pendidika, 3) Rendahnya kualitas anak didik, munculnya pribadi-pribadi yang pecah dan tidak lahirnya anak didik yang memiliki komitmen spiritual dan intelektual yang mendalam terhadap Islam, 4) Sulitnya menemukan pendidik yang berkualitas dan profesional serta memiliki pikiran yang kreatif dan terpadu, dan 5) Minimnya buku-buku yang tersedia di perpustakaan. Pemikiran Fazlurrahman yang dibahas dalam kajian ini meliputi; a) Karakteristik pengetahuan, b). Tujuan pendidikan, c). Sistem pendidikan, d). Anak didik, dan e). Pendidik. Semua pengetahuan dalam Islam, pertama; diperoleh melalui observasi dan eksperimen. Kedua, selalu berkembang dan dinamis. Pengetahuan manusia dibagi tiga jenis, yaitu pengetahuan tentang alam, sejarah, dan manusia. Dan semua pengetahuan didasarkan pada tiga sumber yaitu; alam (physical universe), manusia (constitution of the human mind) dan sejarah (the historical study of socieites). Tujuan pendidikan Islam yang bersifat defensif dan cenderung berorientasi hanya kepada kehidupan akhirat tersebut harus segera diubah. Tujuan pendidikan Islam harus berorientasi kepada kehidupan dunia dan akhirat sekaligus serta bersumber pada al-Qur’an. Untuk menghilangkan dikotomi sistem pendidikan Islam adalah dengan cara mengintegrasikan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum secara organis dan menyeluruh. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan itu terintegrasi dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Anak didik harus diberikan pelajaran al-Qur’an melalui metode-metode yang memungkinkan kitab suci bukan hanya dijadikan sebagai sumber inspirasi moral tapi juga dapat dijadikan sebagai rujukan tertinggi untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari yang semakin kompleks dan menantang. Dalam mengatasi kelangkaan tenaga pendidik yang profesional ditawarkan solusi: Pertama, merekrut dan mempersiapkan anak didik yang memiliki bakat-bakat terbaik dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap Islam. Kedua, mengangkat lulusan madrasah yang relatif cerdas atau menunjuk sarjana-sarjana modern yang telah memperoleh gelar doktor di universitas-universitas Barat dan telah berada di lembaga-lembaga keilmuan tinggi sebagai guru besar-guru besar bidang studi bahasa Arab, bahasa Persi, dan sejarah Islam. Ketiga, para pendidik harus dilatih di pusat-pusat studi keislaman di luar negeri khususnya ke Barat. Keempat, mengangkat beberapa lulusan madrasah yang memiliki pengetahuan bahasa Inggris dan mencoba melatih mereka dalam teknik riset modern dan sebaliknya menarik para lulusan universitas bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial dan memberi meeka pelajaran bahasa Arab dan disiplin-disiplin Islam klasik seperti Hadis, dan yurisprudensi Islam. Kelima, menggiatkan para pendidik untuk melahirkan karya-karya keislaman secara kreatif dan memiliki tujuan.
POLA PENGEMBANGAN WAWASAN MULTIKULTURAL DI MA’HAD DARUL ARQAM MUHAMMADIYAH KAB. GARUT Maryono Maryono
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 2 (2019): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i2.1606

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengethaui pola pengemabnagan wawasan multikultural , untuk mengtahui proses pengemabangan wawasan multikulktural serta untuk mengethaui faktor pendukung dan penghambat pengembnagan wawasan multikultural di Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah Kabupaten Garut Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subyek penelitian meliputi pimpinan pesantren, ustadz, santri dan stakeholder pesantren. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, interview dan telaah dokumen. Adapun uji kebsahan data menggunakan triangulasi data sedangkan teknik analisis datanya memakai analsiis interaktif miles dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data dan verifikasi data atau kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola pengembangan wawasan multikultural menggunakan pendekatan reward dan punishment. Sedangkan proses pengemabnagan wawasan multikultural memakai tahapan formal dan informal, adpun faktor pendukung dan penghambat pengemabnagn wawasan di Ma’had darul Arqam meliputi spirit kebinekaan merupakan hal yang mendasar, hidup bersama para santri di asrama cukup kondusif untuk mengaplikasikan multikultural, adanya keseimbangan antara teori dan praktek dan sudah terintegrasi dalam mata pelajaran. Adapun faktor pengambatnya antara lain tidak semua guru memahami konsep multikulural dengan baik dan belum terbentuknya pola pikir terbuka dikalangan pesantren.
KONSEP PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM (Studi Kitab Ihya’ Ulumuddin) Nasokah Nasokah
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 2 (2019): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v19i2.1607

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana pendidikan anak dalam Islam menurut konsep yang dicetuskan oleh al-Ghozali, dimana al-Ghozali memahami bahwa pendidikan merupakan satu-satunya jalan untuk menyebar luaskan keutamaan, mengangkat harkat dan martabat manusia, ditanamkan nilai kemanusiaan. Sehingga dapat dikatakan kemakmuran dan kejayaan suatu masyarakat atau bangsa sangat tergantung pada sejauh mana keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Al-Ghazali adalah termasuk diantara salah satu orang yang alim dan sumbangannya kepada pemikiran muslim terletak pada kemauannya mengenai batas-batas yang terdapat didalam akal pikiran seseorang sebagai alat pengetahuannya dan pusat yang terpenting dari hati sebagai tempat berpijak dari seluruh pengetahuan dan pengalamannya. Pemikiran al-Ghazali ditinjau dari cara pengelompokannya, tampak seperti pemikiran yang terpisah satu dengan yang lainnya, akan tetapi secara organik merupakan subyek-subyek yang saling berhubungan. Dalam hal ini kita lihat bahwa disana, menyangkut suatu sistem epistimologi, terutama dikalangan para intelektual modern pada saat ini. Al-Ghazali mengistilahkan Psikologi Pendidikan anak, dengan konsep metode pendidikan antara lain: Pendidikan keteladanan, pendidikan pembiasaan, pendidikan nasihat, pendidikan ganjaran dan hukuman. Konsep pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan anak yang dikaji terutama dalam karyanya yang terkenal yakni; “Ihya’ Ulum al-Dhin” belum dibahas secara sistematis, rinci dan panjang lebar, akan tetapi masih berupa konsep yang bersifat global yang dinuqil dari al-Qur’an maupun al-Hadits. Oleh Karena itu masih perlu dikembangkan dan dikaji secara tersendiri, sehingga menjadi karya ilmiah yang spesialis dalam kajian pendidikan anak.

Page 6 of 13 | Total Record : 124