Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam
Manarul Quran adalah terbitan berkala ilmiah dengan nomor ISSN 1412-7075 (print), 2615-4811 (online) yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo, jurnal ini terbit sejak tahun 2001. Manarul Quran merupakan wahana desiminasi hasil riset dan kajian studi islam dengan fokus pada kajian dan hasil riset tentang Islamic Culture, Islamic Studies, Gender Studies. Al-Quran Studies, Islam and Science Integration, dan Al-Quran and Science Integration.
Articles
129 Documents
MOTIVASI BELAJAR DALAM PERSPEKTIF AS-SUNNAH
Fatkhurrohman Fatkhurrohman
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 2 (2019): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v19i2.1608
Dalam Islam, niat dan motivasi memiliki peran penting untuk menilai kualitas sebuah amal. Bahkan diterima atau ditolaknya amal kebajikan seseorang di sisi Allah Swt sangat ditentukan oleh niat dan motivasinya. Kegiatan belajar (at-ta'allum) merupakan bagian dari amal kebajikan yang wajib bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu (al-'ilm) dan pengetahuan (al-ma'rifah). Oleh karena begitu pentingnya aktifitas belajar, maka niat dan motivasi seseorang dalam belajar dan mencari ilmu mendapatkan perhatian khusus dalam Islam, khususnya yang disampaikan melalui hadits-hadits Rasulullah Saw. Tulisan ini bermaksud mendiskripsikan konsep motivasi belajar menurut hadits-hadits Nabi Saw dan menganalisisnya dengan teori para ahli tentang motivasi belajar, di samping juga mengkaji dan menganalisis sanad hadits-hadits tersebut untuk menentukan kualitas/derajatnya. Hadits-hadits tentang motivasi belajar dan mencari ilmu diriwayatkan oleh banyak perawi dengan beberapa perbedaan baik dalam redaksi matan, cakupan isi kandungan, ataupun sub pokok bahasannya. Perbedaan-perbedaan tersebut bersifat komplementer yang menjadikan konsep motivasi belajar semakin komprehensif. Di sini diketengahkan dua buah hadits tentang motivasi belajar yang bersifat kontradiktif, yakni riwayat At-Tirmidzi dan riwayat Abu Dawud. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan disimpulkan bahwa kedua hadits tersebut memiliki status hadits shahih li ghairi atau hasan-shahih, sehingga keduanya dapat dijadikan dasar kajian tentang motivasi belajar dalam perspektif As-Sunnah. Motivasi belajar menurut hadits-hadits itu dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: motivasi ukhrawi dan motivasi duniawi. Kedua jenis motivasi ini bisa berdiri sendiri-sendiri atau saling berlawanan dan bisa pula berkorelasi positif atau menyatu menjadi motivasi duniawi-ukhrawi.
SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI TOKOH INTELEKTUAL PESANTREN
Samsul Munir Amin
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 19 No 2 (2019): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v19i2.1609
Dalam tradisi pesantren, kajian tentang menuntut ilmu (thalabul ilmi) telah menjadi tradisi yang mengakar sejak lama. Tradisi intelektual di kalangan pesantren benar-benar telah mengakar, terbukti dengan beberapa karya intelektual yang dihasilkan oleh para ulama di kalangan pesantren. Para ulama tersebut antara lain Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Mahfudz At-Tirmasi, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syaikh Mhammad Arsyad Al-Banjari, Syaikh Yusuf Al-Makasari, Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani dan lainlain. Salah satu ulama intelektual dalam tradisi pesantren yang namanya sangat prestisius adalah Syaikh Nawawi Al-Bantani yang berasal dari Tanara Banten. Syaikh Nawawi bahkan menjadi symbol tradisi intelektual di kalangan pesantren. Makalah ini membahas bagaimana biografi Syaikh Nawawi Al-Bantani, karya-karya intelektualnya, kiprahnya dalam bidang pengembangan agama Islam baik di Tanah Arab, maupun di Indonesia, dan seberapa besar pengaruhnya di lingkungan pesantren.
AGAMA DALAM MASYARAKAT MODERN: PANDANGAN JÜRGEN HABERMAS
Mahfudz Junaedi
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 1 (2020): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i1.1610
Agama dalam ruang publik dan Agama dalam masyarakat modern dalam pemikiran Jürgen Habermas merupakan dua sisi yang berbeda, tetapi memiliki substansi yang sama, di mana agama ditempatkan pada ruang publik bukan pada ruang privat. Masyarakat modern yang selalu ditandai dengan demokrasi, sekularisasi, dan pluralisme menempatkan agama pada posisi untuk dilakukan pembacaan lain dan pendekatan pada interpretasi yang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban modern. Diferensiasi fungsional yang mendorong ke arah individualisasi agama tidak secara niscaya mengimplikasikan hilangnya pengaruh dan relevansi agama, baik dalam arena politik, budaya masyarakat, maupun tingkah laku sehari-hari.
ISLAM AND SCIENCE: ITS CONCEPTION AND INSTITUTIONAL MOVEMENT IN INDONESIA
Sri Guno Najib Chaqoqo
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 1 (2020): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i1.1611
Islam interacts and intersects with its culture either from Arab or outside of Arab. Islam revealed in Arab, in Shahrur view, as a liberation religion which is Arab didn’t introduced as a part of any dominant imperial. It is considered as the strategic role which Islam didn’t abounded which any imperial rule. Islam as a norm and values function considered to be able to interact with any culture and civilization around Arab, even in the world. Most Muslim beliefs that they able to alive in anyways they stay with difference culture. It can be seen in spread up of Muslim outside Arab moreover when they intersect with Persian and Byzantine which both of them more civilized in all of aspects. Islam as a religious value, then, intersect with science in the new culture. Thus how Islam interact with science? This paper tries to elaborate about early intersection of Islam and Hellenism till nowadays era.
PENILAIAN INSTRUMEN KEUANGAN SYARIAH: ANTESEDEN PERATINGAN SUKUK
Nurfa’izah Nurfa’izah;
M. Elfan Kaukab;
Bahtiar Efendi
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 1 (2020): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i1.1612
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh profitabillitas, leverage, secure, dan ukuran perusahaan terhadap rating sukuk. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 36 laporan keuangan dan 36 data rating outlook perusahaan penerbit sukuk tahun 2015 sampai 2017 dan diperoleh melalui teknik pengambilan sampel purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa model penelitian layak digunakan karena telah memenuhi asumsi klasik. Berdasarkan uji koefisien determinasi, bahwa besarnya kemampuan prediksi dari keempat variabel independen terhadap peringkat sukuk sebesar 39,2%. Berdasarkan uji F menunjukan bahwa model layak digunakan karena memiliki nilai signifikan yang kurang dari taraf nyata 5%. Hipotesis dalam penelitian ini semuanya ditolak. Keterbatasan penelitian ini data terbatas pada rating sukuk perusahaan penerbit sukuk pada kurun waktu tiga tahun saja, dan hanya meneliti rating sukuk pada perusahaan penerbit sukuk yang terdaftar hanya pada PT PEFINDO. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperpanjang periode penelitian dan memperluas populasi penelitian, serta menambah variabel penelitian yang mempengaruhi rating sukuk perusahaan.
TETAP BAHAGIA DALAM PANDEMI CORONA (COVID-19): MAKNA HIDUP DALAM OTORITAS AGAMA
Robingun Suyud El-Syam
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 1 (2020): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i1.1613
Virus corona bukan hanya merenggut ribuan nyawa tetapi juga mengubah tata cara kehidupan manusia di seluruh dunia mulai dari interaksi sesama maupun proses berhubungan dengan Tuhan. Beberapa orang mengurung diri di rumah, menghindari tempat keramaian, dan menunda perjalanan ke tempat lain. Sebagian lainnya mengubah tata cara bersalaman dari berjabat tangan dan berpelukan menjadi salam menggunakan siku dan kaki. Wabah virus corona juga berdampak dalam kehidupan keagamaan umat manusia. Sejumlah masjid mengubah tata cara ibadah demi menahan penyebaran penyakit Covid-19. Virus mengingatkan kita ˗ bahwa nasib kita saling terkait. Virus mengingatkan kita – bahwa kebebasan ada di tangan kita sendiri. Akan tetap bahagia atau merasah resah – adalah pilihan, dan ketika bahagia menjadi pilihan, maka iman mesti dikedepankan dimana diri sana akan menemukan makna hidup. Hakikat iman adalah saat orang lain merasa aman dan nyaman atas kehadiran kita.
PEMBAHARUAN RESTITUSI KEPADA KORBAN TINDAK PIDANA DALAM UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN BERDASARKAN NILAI-NILAI HUKUM ISLAM
Herman Sujarwo
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 1 (2020): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i1.1614
Perhatian negara dan masyarakat kepada korban tindak pidana dapat dilaksanakan dengan maksimal. Dalam sistem peradilan pidana yang berlaku di Indonesia, perhatian negara lebih banyak tertuju kepada pelaku tindak pidana sedangkan korban menjadi kurang diperhatikan. Dengan adanya adanya Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban serta peraturan pelaksanannya, memunculkan harapan akan perlindungan kepada korban tindak pidana, apalagi dalam Undang-Undang tersebut memuat ketentuan tentang Restitusi yang menjadi hak korban yang diberikan oleh pelaku. Akan tetapi ada beberapa kekurangan yang terdapat dalam undang-undang tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pembaharuan untuk menyempurnakan Undang-Undang tersebut. Pembaharuan tersebut seyogianya mengacu pada nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Dalam tatanan hukum yang berlaku di Indonesia yang terdiri dari hukum barat, hukum adat dan hukum Islam, serta dengan melihat jumlah penduduk Indonesia yang sebagaian besar beragama Islam, maka sangatlah pantas apabila nilai-nilai ajaran hukum Islam bisa dijadikan bahan dalam pembaharuan hukum Indonesia sekarang ini.
ISLAMIC THOUGHTS ON INTERFAITH MARRIAGE IN LOCAL AND GLOBAL CONTEXT
Lutfan Muntaqo
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 1 (2020): Juni
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i1.1615
This paper discusses the ulama thoughts regarding interfaith marriages, especially between Muslims and non-Muslims. Interfaith marriage is a phenomenon that has occurred since the early days of Islam. Prophet Muhammad and some of his companions are including those who practiced it. In the early development of Islam, this issue was an important theme for discussion. Verses and hadiths related to inter-religious marriages come to the fore. Talking about inter-religious marriage is closely linked to the issue of ahl al-kitab/The People of the Book. The interpretation of this terms, ahl al-kitab, becomes a key to determine the law of interfaith marriages. This paper will discuss the various views of scholars related to the interpretation of the term ahl al-kitab and their views on inter-religious marriages in the local context (Indonesia) and globally.
TRADISI HAUL MEMPERINGATI KEMATIAN DI KALANGAN MASYARAKAT JAWA (KAJAN ANTROPOLOGI)
Samsul Munir Amin
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 2 (2020): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i2.1708
Dalam tradisi Jawa, terdapat peringatan ulang tahun kematian yang biasa disebut dengan haul. Haul adalah peringatan hari meninggalnya seorang kiai atau ulama yang diadakan oleh ahli warisnya. Haul merupakan suatu bentuk tradisi yang dilakukan khususnya oleh masyarakat Jawa sebagai manifestasi dari mengingat kematian sekaligus juga penghormatan terhadap seseorang yang telah meninggal dunia. Untuk memperingati kematian orang besar, haul biasanya dilakukan setahun sekali pada hari ulang tahun kematian orang tersebut. Upacara haul dalam masyarakat Jawa memiliki nilai budaya sekaligus nilai religiusitas. Karena didalamnya terdapat perpaduan unsur-unsur budaya lokal dan unsur-unsur agama. Bagaimana tradisi haul pada masyarakat khususnya Jawa, apa relevansi upacara haul tersebut, dalam makalah ini akan dibahas tradisi haul dari kajian Antropologi.
KONTRIBUSI RAGAM QIRAAT TAFSIRIYAH DALAM PENAFSIRAN AYAT BERNUANSA GENDER; TELAAH QS. AN-NISA AYAT 24
Hilmy Pratomo
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 20 No 2 (2020): Desember
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32699/mq.v20i2.1709
Sentralitas Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk tercermin dari dua gerak sekaligus, yaitu gerak sentrifugal dan gerak sentripetal. Dalam gerak sentrifugal Al-Qur’an mendorong kepada umat Islam untuk melakukan usaha interpretasi atas ayat-ayatnya. Sebaliknya dalam gerak sentripetal umat Islam terdorong untuk mengembalikan berbagai problematikanya kepada Al-Qur’an. Sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an memiliki kekhasan yaitu bisa dibaca dengan berbagai variasi pembacaan (qira'at). Dengan demikian menjadikan Al-Qur'an sebagai kitab suci yang multiple meaning atau mengandung banyak kemungkinan makna. Artikel ini mengkaji tentang ragam pendapat terkait relasi antara Al-Qur'an dan qira'at, keabsahan penafsiran dengan pendekatan ragam qira'at dan implikasinya terhadap penafsiran ayat bernuansa gender (QS. An-Nisa: 24). Dengan menggunakan pendekatan ragam qira'at dan sejarah perkembangan qira'at disimpulkan bahwa praktek nikah mut'ah memang pernah dilegalkan pada masa itu. Hal ini berdasarkan petunjuk dari qira'at tafsiriyyah yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah Ibn Mas'ud.