cover
Contact Name
Indra Fibiona
Contact Email
indra.fibiona@kemdikbud.go.id
Phone
+6285647507523
Journal Mail Official
jantra@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Jl. Brigjen Katamso No. 139, Yogyakarta, 55152
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jantra
ISSN : 19079605     EISSN : 27150771     DOI : -
Sejarah: Meliputi kajian sejarah yang bertema nasionalisme dan pengembangan karakter bangsa melalui bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dengan ruang lingkup utama wilayah Indonesia, dan wilayah lain apabila ada keterkaitan dengan Indonesia, yang bisa dijadikan media diseminasi dalam menanamkan sikap kebangsaan. Budaya: Meliputi pokok kajian dalam bidang antropologi, geografi, naskah kuna, yang membahas tentang perubahan budaya, kearifan lokal, tradisi lisan, simbol, sistem pengetahuan, kerajinan, religi, keragaman budaya
Articles 79 Documents
KETELADANAN ABDUL MULKU ZAHARI Rahmawati Rahmawati
Jantra. Vol 12 No 2 (2017): Peran Tokoh Masyarakat dalam Pembangunan Karakter
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6771.192 KB)

Abstract

Abdul Mulku Zahari dikenal sebagai dokumentator manuskrip Buton. Sejumlah manuskrip Buton yang dikoleksi keluarga Mulku Zahari menjadi sumber belajar dan sumber penelitian oleh berbagai kalangan. Tulisan ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan peran Abdul Mulku Zahari dalam melestarikan manuskrip Buton. (2) mendeskripsikan karakter Abdul Mulku Zahari sebagai bagian dalam pembentukan karakter (3) mendeskripsikan keteladanan sosok Abdul Mulku Zahari. Data penelitian berupa informasi mengenai sepak terjang Abdul Mulku Zahari menjaga dan mengoleksi manuskrip Buton diperoleh melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosok Abdul Mulku Zahari merupakan sosok yang sangat berjasa dalam menghimpun manuskrip Buton sehingga manuskrip tersebut tetap terjaga. Sepak terjangnya dalam menyelamatkan manuskrip Buton patutditeladani. Tanggungjawab, keikhlasan, mencintai dan menghargai budaya daerah merupakan bagian dari karakter Abdul Mulku Zahari yang patut diteladani. Secara tidak langsung pula, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam manuskrip Buton yang dihimpun, diterjemahkan, dan dialih aksarakan oleh Mulku Zahari dapat dimanfaatkan untuk pembentukan karakter bangsa.
K. H. IMAM ZARKASYI Saifuddin Alif Nurdianto
Jantra. Vol 12 No 2 (2017): Peran Tokoh Masyarakat dalam Pembangunan Karakter
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6521.747 KB)

Abstract

K. H. Imam Zarkasyi adalah salah seorang pelopor modernisasi pendidikan pesantren di Indonesia. K.H. Imam Zarkasyi mengenalkan sistem Kulliyyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) yang merupakan adopsi dari pemikiran-pemikiran tokoh Islam semisal Mahmud Yunus dan K. H. Ahmad Dahlan, dan integrasi sistem-sistem pendidikan yang dilaksanakan di berbagai macam perguruan tinggi tingkat aunia seperti Al-Azhar, Syanggit, Aligarh, dan Santiniketan. Modernisasi pesantren ala K.H. Imam Zarkasyi ini merupakan bantahan dari persepsi masyarakat bahwa pesantren identik dengan tempat yang kumuh dan kolot, sekaligus upaya untuk mendidik karakter masyarakat agar berpikir jauh ke depan. Penelitian historis dengan pendekatan psikologi agama dan hermeneutik digunakan untuk mengkaji modernisasi pesantren yang dilakukan K.H. Imam Zarkasyi di Pondok Modern Darussalam Gontor, di tengah kondisi pesantren yang dipandang terbelakang pada masa tersebut.
RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA Titi Mumfangati
Jantra. Vol 12 No 2 (2017): Peran Tokoh Masyarakat dalam Pembangunan Karakter
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6840.847 KB)

Abstract

Raden Ngabehi Ranggawarsita adalah seorang pujangga besar pada masanya. Karya-karyanya sangat terkenal dan sampai sekarang masih dibicarakan oleh masyarakat. Tulisan ini akan mengupas apa sumbangsihnya terhadap pembangunan karakter bangsa. Dalam menyusun tulisan ini menggunakan metode kepustakaan, yaitu melalui pembacaan karya-karya dan tulisan-tulisan yang terkait dengan hasil karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Hasil dari pembahasan adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita sebagai pujangga yang sangat produktif dan berpengetahuan luas. Beliau pantas menjadi tokoh teladan dalam hal pembentukan karakter masyarakat. Karya-karya sastranya memberikan kupasan tentang nilai-nilai budi pekerti yang pantas untuk dijadikan pedoman dalam kehidupansehari-hari
Ki HADISUKATNO Yustina Hastrini Nurwanti
Jantra. Vol 12 No 2 (2017): Peran Tokoh Masyarakat dalam Pembangunan Karakter
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7608.858 KB)

Abstract

Ki Hadisukatno adalah salah satu tokoh yang menggunakan kesenian sebagai alat pendidikan karakter. Hal ini sejalan dengan konsep Taman Siswa yaitu pendidikan berbasis budaya. Pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini (anak-anak). Permasalahan yang dibahas dalam artikel ini adalah peran dan ketokohan Ki Hadisukatno dalam ikut mengembahgkan karakter generasi muda, khususnya anak-anak melalui budaya Jawa. Artikel ini merupakan hasu kajian pustaka dari beberapa sumber tulisan dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Ki Hadisukatno berperan sebagai guru sekaligus pamong dalam mendidik siswa melalui tembang dolanan anak dan langen carita.
PONOROGO Saifuddin Alif Nurdianto
Jantra. Vol 13 No 1 (2018): Menggali Identitas Daerah Melalui Asal Usul Nama Tempat
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.327 KB)

Abstract

Ponorogo yang saat ini menjadi salah satu ikon budaya Indonesia dengan kesenian Reyog, dan terkenal sebagai kota santri ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Pada masa lalu Ponorogo memiliki sebutan Wengker yang dikenal sebagai daerah yang penuh dengan stigma negatif. Nama Ponorogo sendiri baru muncul pada tahun 1496 yang dikenalkan oleh Bathara Katong, sebagai manifestasi dari dakwah yang telah dilakukan dan simbol dari berakhirnya tatanan lama yang penuh stigma negatif, menjadi tatanan baru yang lebih baik. Penelitian kualitatif dengan pendekatan filosofis dan etnosemantik digunakan untuk mengkaji perubahan nama dari Wengker menjadi Ponorogo yang dilakukan oleh Bathara Katong pada tahun 1496, yang memiliki makna filosofis berupa ikhtiar untuk menjadikan masyarakat Ponorogo sebagai masyarakat yang madani, yaitu masyarakat yang dinamis, penuh kreativitas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban.
IDENTIFIKASI TOPONIMI DESA DI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS DALAM PERSPEKTIF KERUANGAN Tommy Langgeng Abimanyu
Jantra. Vol 13 No 1 (2018): Menggali Identitas Daerah Melalui Asal Usul Nama Tempat
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.926 KB)

Abstract

The location of Cilongok subdistrict, which is under Banyumas Regency, is quite far from the area of the spread of Sunda ethnic group. However, in Cilongok subdistrict there are names of villages that originated fromSundanese name, such as Cikidang, Cilongok, and Cipete. “Ci”, which means water or river, is a Sundanese generic name that becomes the characteristic of toponym. In addition, there are facts that indicate there were ethnic migrations. In a number of areasin West Java there are places that have the same names with that of in Banten. The purpose of this research is to describe characteristics of village toponyms in Sub Cilongok and to find out the factors that influence the characteristics. Using spatial approach, this qualitative research studied 20 villages located in Cilongok sub-district. The data were collected from library research, observations, interviews, and related documents.The data were examined using spatial pattern analysis. The results of this study indicate that the village toponyms in Cilongok sub-district were influenced by physico-natural, physico-artificial, and non physico-artificial phenomena. The village toponyms in Cilongok sub-district is the result of assimilation of Sundanese and Javanese cultures.
NAMA DIRI PENDALUNGAN JEMBER DALAM KEBERMAKNAAN SOSIAL Aryni Ayu Widyawati
Jantra. Vol 13 No 1 (2018): Menggali Identitas Daerah Melalui Asal Usul Nama Tempat
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.924 KB)

Abstract

This study looks at the toponym of Jember in relation to its history and the Pendalungan sub-culture–a mixture between Javanese and Madurese culture.This sub-culture is found in the Horseshoe area of East Java.The data were drawn from library research, observation, and interviews with various people, such as the local authorities, academicians, historians, andexperts in culture. The result of this study indicates that the Jemberese can have cross-cultural competence that has a bargaining position if they could “engineer” their cultural diversity both historically and aesthetically. Being the characteristics of people living the Horse shoe area, Pendalunganis an interesting research object which is still an open discourse. The role of the public, historians, and the government is needed to preserve the Pendalungan in Jember without changing the steady cultural order.
TOPONIMI SAMBAS Bambang Hendarta Suta Purwana
Jantra. Vol 13 No 1 (2018): Menggali Identitas Daerah Melalui Asal Usul Nama Tempat
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.813 KB)

Abstract

Using the data from library research, this descriptive qualitative research aims to answer the following questions: (1) What are the historical aspects underlying the establishment of the social structure of Sambas people in the past in relation to the existence of the Dayak and the Malay Sambas communities? (2) How is the social relation between the Dayak and the Malay Sambas communities in the Sambas regency? (3) What is the significance of the toponymy of Sambas for the social life in Sambas regency nowadays.The oath taken by the Dayak and the Malay Sambas is not a fictional story but is a sociological reality that indicates the strength of brotherhood in their daily life. The brotherhood narration of the two ethnic goups in Sambas is always important to discuss in order to keep the collective memory of Sambas society.
ASAL-USUL NAMA KAMPUNG BATTANGAN SUMENEP MADURA DALAM TINJAUAN STRUKTURALISME LEVISTRAUSS Unggul Sudrajat; Khairul Umam
Jantra. Vol 13 No 1 (2018): Menggali Identitas Daerah Melalui Asal Usul Nama Tempat
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.654 KB)

Abstract

This descriptive-qualitative research looked at the toponym of Battangan village which is located under Sumenep Regency, Madura. The data were drawn from library research and interviews. The data were analysed using hermeneutic approach. The research result shows that the story about the origin of Batangan village reveals three identities of the local society which cannot be separated from the Madurese culture. The three identities are Islamic spirit, moral, and the characteristics of the local society.
PENGARUH MAKASSAR PADA PENAMAAN KAMPUNG DAENGAN DAN BUGISAN DI KERATON YOGYAKARTA Yustina Hastrini Nurwanti
Jantra. Vol 13 No 1 (2018): Menggali Identitas Daerah Melalui Asal Usul Nama Tempat
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.714 KB)

Abstract

The toponym of the kampongs Daengan and Bugisan is closely related to the history and the role of Daeng and Bugis troops in the Keraton Yogyakarta. In Javanese language, adding the ending /-an/ can follow a noun. Daengan comes the noun “Daeng” followed by/-an/.The same is true with Bugisan which comes from the noun “Bugis” followed by /-an/.This paper discusses the history of the kampongs Daengan and Bugisan. It is expected that this paper may become a historical reference for the younger generation and the society in general.