Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2 No 1 (2018)"
:
8 Documents
clear
PERBEDAAN RERATA PENGETAHUAN TENTANG TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA PADA WANITA MENIKAH USIA DINI DENGAN MENIKAH USIA MATANG DI KECAMATAN BANJARMASIN BARAT
Syahrida Agustina;
Ruslinawati Ruslinawati;
Darmayanti Wulandatika
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (661.371 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.324
Remaja yang melakukan pernikahan dini secara perkembangan reproduksi dan psikologis belum matang karena masih mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi pubertas. pernikahan dini dalam perspektif kesehatan reproduksi menemukan bahwa perempuan memiliki pengetahuan yang minim dan pemahaman yang kurang tentang dampak keputusan yang diambil untuk melakukan pernikahan dini. Semakin muda usia pernikahan maka akan semakin rendah pula jenjang pendidikan yang didapat, sehingga pengetahuan yang diperoleh juga akan semakin sedikit. Kecamatan Banjarmasin Barat mempunyai angka pernikahan dini tertinggi dari 5 Kecamatan yang ada di Kota Banjarmasin pada tahun 2017. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan rerata pengetahuan tentang tugas perkembangan remaja pada wanita menikah usia dini dengan menikah usia matang di Banjarmasin Barat. Metode penelitian komparatif dengan pendekatan Cross Sectional menggunakan kuesioner dan uji statistik Independent t-test. Populasi berjumlah 172 wanita dengan sampel 63 responden terdiri dari 31 wanita menikah usia dini dan 32 wanita menikah usia matang yang menggunakan Cluster Random Sampling. Pada wanita menikah usia dini umur 15-20 tahun rerata pengetahuan didapatkan skor 52,58 sedangkan wanita menikah usia matang umur 21-25 tahun dapat rerata skor 69,31. Terdapat perbedaan rerata pengetahuan tentang tugas perkembangan remaja 16,73 (ρ = 0,000 < α = 0,05)
FAKTOR RISIKO KELELAHAN KERJA PETUGAS INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM PAMBALAH BATUNG AMUNTAI
Eka Handayani;
Meilya Farika Indah;
Muhammad Ferdi Fahdila
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (150.478 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.317
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI didapat 30-40% masyarakat pemberi jasa layanan kesehatan yang bersifat teknis dan beroperasi selama 8-24 jam sehari mengalami kelelahan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada Mei sampai Juli 2018 di Instalasi Farmasi RSUD Pambalah Batung Amuntai dengan jumlah populasi sebanyak 34 responden dan sampel diambil dari seluruh populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur (0,013), shift kerja (0,026) dan waktu kerja (0,026) dengan kelelahan kerja dengan nilai p <0,05 dan tidak ada hubungan antara status gizi (0, 634) dan masa kerja (0,079) petugas dengan kelelahan kerja petugas di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pambalah Batung Amuntai dengan nilai p >0,05. Disarankan untuk memberikan edukasi kepada petugas farmasi mengenai kelelahan kerja dan melakukan jadwal ulang shift kerja petugas agar memiliki waktu istirahat yang memadai.
PENGARUH PENERAPAN KANGAROO MOTHER CARE TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD ULIN BANJARMASIN
Siti Fatimah
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.322 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.318
Latar Belakang: World Health Organization menyatakan bahwa penyebab kematian pada neonatal pada usia 0-27 hari adalah prematuritas dan BBLR sebanyak 16%. BBLR yang menjalani metode Kangaroo Mother Care (KMC) akan mempunyai pengalaman psikologis dan emosional lebih baik karena dengan metode KMC selain memperoleh kehangatan bayi akan lebih dekat kepada ibu sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup bayi. Metode KMC merupakan bagian dari prosedur perawatan bayi berat lahir rendah di RSUD Ulin Banjarmasin Tujuan: Menganalisis Pengaruh Penerapan KMC terhadap Peningkatan Berat Badan pada Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Ulin Banjarmasin Metode: penelitian kuantitatif menggunakan model Pre-eksperimental dan rancangan One Group Pretest Posttest. Teknik pengambilan sample adalah Purposive Sampling. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dan data primer, menggunakan analisis uji wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Ada Pengaruh Penerapan KMC terhadap Peningkatan Berat Badan pada Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Ulin Banjarmasin Simpulan: terdapat pengaruh yang signifikan antara berat badan sebelum dan sesudah mendapatkan KMC
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TERHADAP PENGGUNAANKB METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PARAMASAN KABUPATEN BANJAR, MARTAPURA
Ari Widyarni;
Siska Dhewi
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (200.519 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.322
Long-term contraception method (MKJP) is a type of contraception that is very effective for avoiding births, regulating birth intervals and not affecting sexual relations that can last for 3 years to a lifetime such as IUD, Implants, MOW and MOP. Long-term contraceptive methods (MKJP) have proven to be the most effective way to reduce pregnancy rates, but until now MKJP has not yet become the choice of the majority of couples of reproductive age in Indonesia. Kabupaten Banjar, Martapura are still included in the regions where the coverage of MKJP KB is low, it can be seen in the achievement figures which show a significant decrease in 2015 reached 6.6%, in year 2016 reached 7.0% and in year 2017, only 2.3%. This research is a quantitative study with a cross sectional approach. The population and sample are mothers with criteria for women of childbearing age (WUS) as family planning acceptors who visit and seek treatment at Puskesmas Paramasan Kabupaten Banjar. A large sample of 60respondents. Data was collected by interview using a structured questionnaire, the results of data collection were analyzed using univariate and bivariate statistics with a chi square test using a computer program with a significance value (α)≤0.05. The results of the univariate analysis showed that the majority of respondents did not use MKJP KB, most of the respondents had sufficient knowledge and most respondents' attitudes were sufficient. Bivariate analysis showed that there was a correlation between knowledge of the use of MKJP KB (p-value =0.001) and there was a relationship between attitudes towards the use of MKJP KB (p-value =0.000).It is recommended for agencies to be concerned about the need for cross-sector cooperation in an effort to increase respondents' knowledge and attitudes about the advantages and disadvantages of using MKJP KB.It is expected that with the increased knowledge held by respondents about MKJP KB, then the attitude of respondents in contraceptive use for KB MKJP is expected to be better.And will affect the increase in the number of MKJP KB use.
ANALISIS DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI OLEH AKSEPTOR KB DI PMB TUTI GAMBUT KABUPATEN BANJARKALIMANTAN SELATAN
Mirawati Mirawati;
Rr. Sri Nuriaty Masdi Putri;
Darmayanti Wulandatika
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (145.756 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.321
Jumlah akseptor kontrasepsi MKJP lebih rendah dibandingkan non MKJP. Rendahnya angka pengguna MKJP ini dinilai menimbulkan beberapa permasalahan seperti tingginya angka kegagalan penundaan atau penjarangan memiliki anak.Pemilihan metode kontrasepsi ini tentunya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.Tujuan penelitian ini adalah menentukan determinan yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi pada akseptor KB di PMB Tuti Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan desain penelitian analitik.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB di PMB Tuti Gambut. Penelitian ini menggunakan tehnik simple random sampling dan didapatkan sampel yang diambil adalah sejumlah 75 orang.Tehnik pengambilan data menggunakan data sekunder, analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square.Hasil penelitian ini yaitu dari segi usia akseptor KB yang ada di PMB Tuti terbanyak adalah pada usia tidak berisiko (usia reproduktif) yaitu usia 20 sampai 35 tahun. Akseptor dengan paritas yang tidak berisiko lebih banyak dari pada akseptor yang memiliki paritas yang berisiko (paritas lebih dari 3), sedangkan akseptor yang berpendidikan tinggi lebih sedikit dari pada akseptor yang memiliki pendidikan rendah.Akseptor yang menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang lebih sedikit dibandingkan dengan akseptor yang menggunakan kontrasepsi non MKJP. Faktor determinan yang berhubungan dalam pemilihan kontrasepsi MKJP adalah usia, sedangkan faktor paritas dan pendidikan tidak berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi MKJP.
DETERMINAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DI RSUD M. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Darmayanti Wulandatika;
Bening Prawitasari;
Pratiwi Puji Lestari
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.507 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.319
Latar Belakang: Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2014 beberapa negara memiliki AKI cukup tinggi seperti Afrika Sub-Saharan 179.000 jiwa, Asia Selatan 69.000 jiwa, dan Asia Tenggara 16.000 jiwa (WHO, 2015). Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu, terlebih lagi mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas. AKI di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup meningkat dibandingkan hasil SDKI tahun 2007 yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2015). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional . Baik variabel bebas maupun variabel terikat diukur menurut keadaan atau statusnya pada waktu diobservasi. Penelitian cross-sectional ini merupakan salah satu studi observasional, dimana peneliti mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan melakukan pengukuran sesaat. Hasil: Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD M. Ansari Saleh terbanyak adalah kejadian ketuban pecah dini pada usia kehamilan aterm. Dan kejadiannya mayoritas terjadi pada ibu hamil aterm dengan penyulit lain. Faktor kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD M. Ansari Saleh yang paling tinggi kekuatan hubungannya adalah komplikasi KPD dengan penyulit lain. Kesimpulan: Pelayanan kesehatan dapat mengupayakan upaya preventif kejadian KPD dengan deteksi dini komplikasi kehamilan di pelayanan primer. Bagi penanggung jawab RSUD M. Ansari Saleh diharapkan dapat meningkatkan upaya penanganan komplikasi khususnya KPD. Bagi institusi pendidikan di harapkan terus melakukan penelitian terkait untuk pengembangan upaya pencegahan komplikasi maternal. Kata kunci : Ketuban, Pecah, Dini
POLA ASUH DEMOKRATIF MEMBANTU KEMAMPUAN PERKEMBANGAN PADA ANAK GEMUK USIA 2-5 TAHUN
Wulandari Wulandari;
Mei Neni Sitaresmi;
Sulistyaningsih Sulistyaningsih
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (352.108 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.323
Latar belakang: Pola asuh demokratis yang dilakukan orang tua dapat membantu anak melakukan tugas perkembangan sesuai usianya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis pola asuh yang dilakukan ibu serta perkembangan pada anak gemuk usia 2-5 tahun. Metode: Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian seluruh anak gemuk usia 2-5 tahun di wialayah kerja Puskesmas Kalasan (n=160). Hasil: Pola asuh demokratif memiliki nilai OR (2.37 [0.69-8.15]). Nilai R2 sebesar 0.147. Kesimpulan: Pola asuh demokratif menurunkan risiko terjadinya suspek perkembangan sebesar 2 kali. Stimulasi, pola asuh, umur dan pendidikan ibu memiliki peluang terhadap terjadinya suspek perkembangan anak gemuk usia 2-5 tahun sebesar 14.7%.
HUBUNGAN ANTARA USIA IBU NIFAS DENGAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES
Domas Nurchandra Pramudianti
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (251.536 KB)
|
DOI: 10.35747/jmr.v2i1.320
Latar Belakang: Postpartum blues adalah nama yang diberikan untuk perubahan perasaan/mood sacara cepat yang terjadi sekitar 50-70 % dari semua ibu selama seminggu atau segera setelah melahirkan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, jumlah persalinan normal di Puskesmas Kalikotes adalah 574 orang (95,64 %), jumlah kasus postpartum blues/ depresi postpartum adalah 12 orang dan 55% diderita oleh ibu yang berusia kurang dari 20 tahun (Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, 2017). Menurut data dari Badan Pusat Statistik pernikahan usia muda di Kabupaten Klaten adalah sebanyak 20.000 orang dan di Kecamatan Kalikotes pernikahan usia muda sebanyak 2500 orang/ 12,5% . Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia ibu nifas dengan kejadian postpartum blues di wilayah kerja Puskesmas Kalikotes. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian studi survey analitik dan rancangan penelitian adalah korelasional. Metode pendekatan dengan menggunakan cross-sectional yang dilakukan pada 48 ibu nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Kalikotes, Klaten. Analisis data menggunakan chi square untuk menguji hubungan antara usia ibu nifas dengan kejadian postpartum blues di wilayah kerja Puskesmas Kalikotes. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji chi square membuktikan adanya hubungan antara usia ibu nifas dengan kejadian postpartum blues di wilayah kerja Puskesmas Kalikotes dengan ρ value = 0,001. Dari hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara antara usia ibu nifas dengan kejadian postpartum blues di wilayah kerja Puskesmas Kalikotes.