cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 230 Documents
SERAT DONGA KHASAH DALAM KAJIAN FILOLOGIS Shofiana, Ana
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29051

Abstract

Donga Khasah (DK) tersimpan di Perpustakaan Museum Sonobudaya Yogyakarta. DK adalah naskah Jawa berhuruf Arab-Pegon memuat ajaran Islam tentang doa yang bermanfaat bagi umat. Melalui kajian secara filologis, naskah ini diteliti agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern sekarang ini. Permasalahan penelitian ini adalah belum adanya kajian secara filologis terhadap naskah DK. Untuk itu, dilakukan penelitian teks DK. Sumber data penelitian ini adalah naskah DK nomor 147 16. Naskah ini merupakan satu-satunya data, karena tidak ditemukan data lain dalam proses inventarisasi naskah yang sudah dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode edisi naskah tunggal. Adapun penerjemahan teks DK menggunakan metode terjemahan bebas. Hasil penelitian ini adalah suntingan teks DK yang sesuai cara kerja filologi, dilengkapi dengan aparat kritik, dan terjemahan teks dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan Bahasa Jawa. Teks DK merupakan satu doa yang memiliki delapan belas manfaat. Hasil dari penelitian ini dapat ditindak lanjuti dengan penelitian di bidang linguistik dan budaya Jawa. Donga Khasah (DK) is stored in the Yogyakarta Sonobudaya Museum Library. DK is an Arabic-Pegon Javanese script containing Islamic teachings about prayer that is beneficial to the Ummah. Through a philological study, this text is examined so that it can be applied in today's modern life. The problem of this research is that there is no philological study of DK texts. For this reason, DK text research is conducted. The data source of this research is DK text number 147 16. This text is the only data, because no other data was found in the manuscript inventory process that has been carried out. The research method used is a single manuscript edition method. The translation of the DK text uses the free translation method. The results of this study are edits of DK texts that are in accordance with the workings of philology, equipped with criticism apparatus, and translations of texts in Indonesian according to the rules of the Enhanced Spelling of Javanese Language. The DK text is one prayer that has eighteen benefits. The results of this study can be followed up with research in the field of linguistics and Javanese culture.
MAKNA NAMA-NAMA KERIS DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA Septiana, Arum
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29054

Abstract

Keraton Kasunanan Surakarta sangat kaya dengan simbol-simbol kebudayaan, salah satunya adalah keris. Keindahan keris akan semakin terlihat pada seni kehidupan dan filosofinya. Keris mempunyai rahasia yang terdapat didalamnya, yaitu rahasia yang berupa falsafah kehidupan. Penamaan-penamaan keris di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dilihat dari wujud ornamen atau ricikannya. Ricikan keris dibuat berdasarkan pada paugeraning urip yaitu pusaka, wisma, kukila, turangga, dan garwa. Tidak semua masyarakat luas mengetahui makna nama-nama keris tersebut. Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) apakah nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta?, (2) makna apa yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna apa saja yang terdapat dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semantik. Pendekatan semantik digunakan untuk mengetahui makna yang terdapat pada nama-nama keris di Keraton Kasunan Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data dari penelitian ini diperoleh dari nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan dan sumber data tertulis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik observasi, teknik dokumen, dan teknik dokumentasi. Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta meliputi tiga makna yaitu, (1) makna leksikal, (2) makna kultural, (3) makna filosofi. Berdasar temuan tersebut, saran yang diharapkan dari hasil penelitian ini, sebagai salah satu wacana yang berkaitan untuk pengenalan nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Selain itu, nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta memiliki makna filosofi yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada penelitian makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan penelitian awal, sehingga ada peluang untuk melakukan penelitian dengan kajian yang berbeda The Surakarta Kasunanan Palace is very rich in cultural symbols, one of which is a kris. The beauty of the kris will increasingly be seen in the art of life and its philosophy. Kris has a secret contained in it, namely a secret in the form of a philosophy of life. The names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace can be seen from the form of ornament or ricikannya. Kris Ricikan is made based on urip paugeraning, namely heirloom, homestead, cucila, turangga, and garwa. Not all the public knows the meaning of the names of the kris. The formulation of the problems examined in this study are (1) what are the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace ?, (2) what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace? This study aims to determine what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. The approach used in this study is a semantic approach. The semantic approach is used to find out the meaning contained in the names of the kris in the Kasunan Palace Surakarta. The method used in this research is descriptive method. Data from this study were obtained from the names of kris in the Surakarta Kasunanan Palace, while the data sources in this study were sources of oral data and written data sources. Data collection techniques in this research are observation techniques, document techniques, and documentation techniques. The findings of the research show that the meanings of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace include three meanings namely, (1) lexical meaning, (2) cultural meaning, (3) philosophical meaning. Based on these findings, the expected suggestions from the results of this study, as one of the discourses relating to the introduction of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. In addition, the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace have philosophical meanings contained in the names of the kris at the Surakarta Kasunanan Palace. In the study of the meaning of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace this was an initial study, so there was an opportunity to conduct research with dif
BENTUK DAN NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI COWONGAN DI KABUPATEN BANYUMAS: KAJIAN BUDAYA Kamal, Syafril Faizal
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29062

Abstract

Kebudayaan seni tradisional Banyumasan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan wilayah lain di Jawa Tengah, salah satunya adalah tradisi cowongan. Tradisi cowongan adalah upacara minta hujan dengan menggunakan sarana peralatan berupa siwur (gayung) atau irus (entong sayur) dengan tembang-tembang tertentu yang mengandung doa permohonan kepada Sang Pencipta. Permasalahan yang dapat diungkap dalam penelitian ini, yaitu (1) bagaimana bentuk tradisi cowongan di Kabupaten Banyumas?, (2) bagaimana nilai yang terkandung dalam tradisi cowongan di Kabupaten Banyumas?. Hasil penelitian ini adalah (1) Bentuk tradisi cowongan di Kabupaten Banyumas yaitu berupa pelaku tradisi cowongan, perlengkapan sesaji dalam pelaksanaan tradisi cowongan, dan syair-syair tradisi cowongan berupa tembang-tembang doa. Selain itu, terdapat tahap-tahap penyelenggaraan tradisi cowongan yang dibagi menjadi tiga yaitu tahap persiapan tradisi cowongan, tahap pelaksanaan tradisi cowongan, dan tahap akhir pelaksanaan tradisi cowongan. (2) Nilai yang terdapat dalam perilaku dalam tradisi cowongan adalah nilai sosial sebagai unsur pembangun kehidupan sosial untuk saling bergotong royong, saling membantu, dan saling berdampingan. Nilai yang terdapat dalam simbol benda dalam tradisi cowongan adalah nilai estetis yang menyangkut keindahan seni, kreasi, dan hiburan rakyat. Nilai yang terdapat dalam pelaku tradisi cowongan adalah nilai sosial sebagaiunsur pembangun kehidupan sosial untuk saling bergotong royong, saling membantu, dan saling berdampingan agar menciptakan kehidupan yang lebih baik dan nilai religius berkaitan dengan nilai-nilai ritual keagamaan yaitu syair-syair tembang doa terhadap Tuhan. Abstraks Banyumasan traditional art culture has its own characteristics that are different from other regions in Central Java, one of which is the cowongan tradition. Cowongan tradition is a ceremony of asking for rain by using equipment such as siwur (dipper) or irus (vegetable entong) with certain songs containing prayer requests to the Creator. The problems that can be revealed in this study, namely (1) what is the form of the cowongan tradition in Banyumas Regency ?, (2) what is the value contained in the cowongan tradition in Banyumas Regency ?. The results of this study are (1) Forms of the cowongan tradition in Banyumas Regency, namely in the form of cowongan tradition actors, offerings in the implementation of cowongan traditions, and verses of the cowongan tradition in the form of prayer songs. In addition, there are stages of organizing the cowongan tradition which is divided into three, namely the preparation stage of the cowongan tradition, the implementation stage of the cowongan tradition, and the final stage of implementing the cowongan tradition. (2) The values ​​contained in behavior in the cowongan tradition are social values ​​as building blocks of social life to mutually work together, help each other and coexist with each other. The value contained in the symbol of objects in the cowongan tradition is an aesthetic value that concerns the beauty of art, creation, and folk entertainment. The values ​​contained in the cowongan tradition are social values ​​as building blocks of social life to work together, help each other, and coexist with each other in order to create a better life and religious values ​​related to religious ritual values ​​namely prayer song poems to God.
SERAT NITIK BAYUNAN DALAM KAJIAN FILOLOGIS Ilafi, Afiliasi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29063

Abstract

Tujuan dari penelitian ini menyajikan teks Serat Nitik Bayunan mulai dari kodikologi, transliterasi, suntingan teks dan terjemahan. Data yang diteliti adalah teks Serat Nitik Bayunan. Sumber data untuk penelitian ini merupakan naskah Serat Nitik Bayunan. Naskah ini merupakan naskah tunggal yang diperoleh di Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta dengan kode naskah SMP-RP 58 dan tebal 20 halaman. Metode yang digunakan adalah metode naskah tunggal edisi standar sedangkan terjemahan menggunakan terjemahan bebas. Penelitian ini menghasilkan edisi teks yang sahih menurut kajian filologis. Adapun di dalam penyajiannya menyertakan komentar, aparat kritik dan terjemahan dalam bentuk bahasa Indonesia. Teks Serat Nitik Bayunan menceritakan silsilah dari Gusti Kanjeng Ratu Pambayun yang merupakan putri dari Paku Buwana VII yang mempunyai nama kecil Gusti Sekar Kedhaton. Selain menceritakan silsilah keluarga inti (silsilah asal usul ayah dan ibunya) juga menceritakan tentang pantangan sang Adipati Warga Utama dari Banyumas yang melarang anak dan keturunannya untuk tidak melakukan empat hal, yakni tidak diperbolehkan memakan pindang banyak, tidak dibolehkan memakai bebed rejeng, tidak diperbolehkan duduk di sisi dipan dan tidak diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan ataupun berpergian di hari Sabtu Pahing. Pada saat naskah Serat Nitik Bayunan dibuat, Gusti Kanjeng Ratu Pambayun berusia 89 tahun lebih 6 bulan 13 hari. The purpose of this research is to present the text of the Nitik Bayunan Fiber from codicology, transliteration, text editing and translation. The data studied is the text of Bayunan Nitik Fiber. The data source for this research is the Nitik Bayunan Fiber text. This text is a single text obtained at the Radya Library of Surakarta Library with SMP-RP 58 script code and 20 pages thick. The method used is a standard edition single script method while the translation uses free translation. This study produced a valid edition of the text according to philological studies. The presentation includes comments, criticisms and translations in the form of Indonesian. Bayitik Nitik Fiber Text tells the story of Gusti Kanjeng Ratu Pambayun who is the daughter of Paku Buwana VII who has the first name Gusti Sekar Kedhaton. In addition to telling the genealogy of the nuclear family (genealogy of the father and mother) also tells about the taboos of the Duke of the Main Citizens from Banyumas which forbids children and their offspring from doing four things, namely not allowed to eat lots of rice, not allowed to use bebed rejeng, not allowed to sit on the side of the divan and not allowed to do work or travel on Saturdays Pahing. At the time the text of the Bayunan Nitik Fiber was made, Gusti Kanjeng Ratu Pambayun was 89 years old over 6 months 13 days.
KEBERADAAN AJARAN BATHARA KATONG DI KALIWUNGU KENDAL Nur Uyun, Fella Sufa Nimasnuning
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29064

Abstract

Bathara Katong merupakan salah satu leluhur yang menyiarkan agama Islam di Kaliwungu. Penghargaan Kaliwungu sebagai kota santri tidak terlepas dari peran penting Bathara Katong, warna masyarakat Kaliwungu yang religius hingga saat ini merupakan salah satu pengaruh ajaran Bathara Katong. Data penelitian ini berupa ajaran Bathara Katong yaitu tradisi lisan dan tradisi bukan lisan. Sumber data penelitian ini adalah data dari informan yaitu juru kunci makam Sunan Katong di Kaliwungu, juru kunci tempat sembahyang Sunan Ampel (nama lain Sunan Katong) di Kendal kota, tokoh masyarakat Kaliwungu, tokoh masyarakat Kendal, dan masyarakat umum Kaliwungu. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu ajaran Bathara Katong di Kaliwungu ada yang masih rutin dijalankan, dan ada yang sudah jarang dilaksanakan, namun sebagian besar masyarakat Kaliwungu tidak mengetahui bahwa ajaran tersebut merupakan ajaran Bathara Katong. Ajaran Bathara Katong di Kaliwungu penting untuk dilestarikan tidak hanya oleh masyarakat Kaliwungu namun juga oleh tokoh masyarakat, masyarakat Kaliwungu harus berani mengakui bahwa warna masyarakat Kaliwungu hingga saat ini merupakan hasil perjuangan leluhur seperti Bathara Katong. Abstraks Bathara Katong is one of the ancestors who broadcast Islam in Kaliwungu. The Kaliwungu award as a city of santri is inseparable from the important role of Bathara Katong, the color of the religious Kaliwungu community to date is one of the influences of the teachings of Bathara Katong. This research data is in the form of Bathara Katong teachings namely oral traditions and traditions rather than oral. The data sources of this research are data from informants namely the caretaker of the tomb of Sunan Katong in Kaliwungu, the caretaker of the prayer place of Sunan Ampel (another name is Sunan Katong) in Kendal city, Kaliwungu community leaders, Kendal community leaders, and the Kaliwungu general public. The data collection of this study uses observation, interview, and documentation techniques. Then the data obtained were analyzed using qualitative descriptive analysis method. The results of this study are the teachings of Bathara Katong in Kaliwungu which are still routinely carried out, and some are rarely implemented, but most of the Kaliwungu people do not know that the teachings are the teachings of Bathara Katong. The Bathara Katong teaching in Kaliwungu is important to be preserved not only by the Kaliwungu community but also by community leaders, the Kaliwungu community must dare to admit that the colors of the Kaliwungu community up to now are the result of ancestral struggles such as Bathara Katong.
CERITA RAKYAT DI KABUPATEN BANJARNEGARA Nursa’ah, Khotami
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29066

Abstract

Cerita rakyat merupakan kekayaan budaya dan sejarah Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat berisi kisah tentang kejadian atau asal muasal suatu tempat. Cerita rakyat merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Di setiap daerah pasti terdapat cerita rakyat yang harus dijaga dan dilestarikan, namun saat ini banyak generasi muda yang tidak mengetahui cerita rakyat dari daerahnya. Seperti di Banjarnegara, banyak cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut yang belum diketahui oleh masyarakat khususnya generasi muda, maka perlu dilakukan inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara untuk didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana langkah-langkah inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara, (2) Bagaimana hasil inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah dan hasil inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori folklor Danandjaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif inventarisasi. Penelitian ini menghasilkan simpulan, (1) langkah-langkah inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dilakukan melalui jalur formal dan nonformal. Jalur formal ditempuh dengan survei di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, sedangkan jalur nonformal ditempuh dengan observasi di Kecamatan Banjarmangu, Kecamatan Batur, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Purwareja Klampok dan Kecamatan Sigaluh, dimana terdapat cerita rakyat Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Dumadine Desa Banjarmangu, Mulabukane Batur, Raden Sam Hoong, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, dan Dumadine Desa Sigaluh. Data cerita rakyat yang telah didapatkan kemudian ditranskripkan dalam bentuk tulisan; (2) hasil inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara berupa transkrip wacana cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dalam bentuk tulisan berbahasa Jawa ragam Banyumas yang mencakup cerita Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Raden Sam Hoong, Dumadine Desa Sigaluh, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, Mulabukane Batur, dan Dumadine Desa Banjarmangu. Berdasarkan hasil penelitian, perlu adanya studi lanjut dan penyusunan cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dalam bentuk buku cerita berbahasa Jawa. Folklore is one of Indonesian cultural heritage and history. It usually tells about a phenomena or the origin of a place. Folklore is a verbal story which has been lived for a longtime in a society’s tradition. There will be folklore to be conserved in most of area, nevertheless so many young generations who don’t know their own folklore. For example in Banjarnegara, so many folklores develop and grow unnoticed by the people especially the youth, so it is important to do such folklore inventory at Banjarnegara to be documented in form of written folklore. The problem in this research were: (1) how were the steps in folklore inventory process at Banjarnegara?, (2) how is the result of the folklores inventory at Banjarnegara? The aim of this research was to describe the steps and result of folklore inventory at Banjarnegara. The theory used in this research war folklore theory from Danandjaja. This research used objective approach. Descriptive inventory was applied as the research method. From this research, it could be concluded that (1) the step in folklore inventory was done using formal and informal ways. Survey at Tourism and Culture Department of Banjarnegara was employed in the formal way, while informal way was done by work on some observation at Banjarmangu, Batur, Punggelan, Purwareja Klampok, and Sigaluh, where there were so many folklores such as Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Dumadine Desa Banjarmangu, Mulabukane Batur, Raden Sam Hoong, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, and Dumadine Desa Sigaluh. The gained folklore data then being transcribed.; (2) the folklore inventory result at Banjarnegara was in form of transcribed Banjarnegara-styled Javanese folklore which included the story of Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Raden Sam Hoong, Dumadine Desa Sigaluh, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, Mulabukane Batur, dan Dumadine Desa Banjarmangu. From the research result, there should be an advanced research and folklore composition in a form of Javanese story book at Banjarnegara.
Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Tegal dalam Kumpulan Cerkak Tegalan Warung Poci Karya Dr. Maufur Ningtyas, Siska Aditya; Astuti, Eka Yuli; M.Pd., Widodo
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 2 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i2.29085

Abstract

This study aims to describe the forms of retention of the Javanese language in the Tegal dialect in the cerkak of Tegalan Warung Poci by Dr. Maufur. This research produces forms of retention of Javanese Tegal dialect, namely forms of active language retention and forms of passive language retention by recording it on a data card. Forms of active language retention in the form of the use of words with Tegal dialect that are rarely used in daily life include: basic word forms, forms of affixed words, forms of reduplication, forms of reduplication with implications, and forms of clay saroja. The passive language retention form shows the use of foreign language elements in fragments of Tegal dialect which includes the use of basic words, affixed words, phrases, reduplication, affixed reduplication, and translation of foreign language words (Indonesian and English) into the Tegal dialect that refers to language error or interference. The translation shows that the Tegal dialect is dynamic because it raises elements of the foreign language in the sentence fragment with the aim of creating communicative sentences and giving a different color to the use of the Tegal dialect.Keyword: language maintenance; Tegal dialect; Warung Poci
Penamaan Motif Tenun Troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara (Kajian Etnolinguistik) ., Zuliati; Kurnia, Ermi Dyah
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 2 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i2.29086

Abstract

Troso Weaving is a wealth of ancestral heritage that must always be preserved so as to strengthen the nation's identity. In addition, Troso weaving can be a container for various activities that have a positive impact on society. Troso Weaving is not just an aesthetic handicraft product, but also has a function contained in the names of Troso woven motifs. This research aims to: 1) The description of the shape of the lingual unit in Troso woven motifs in Troso Village, Pecangaan District, Jepara Regency. 2) Description of the lexical and cultural significance of Troso woven motifs in Troso Village, Pecangaan District, Jepara Regency. 3) Description of the language function of the cultivation of Troso woven motifs in Troso Village, Pecangaan District, Jepara Regency. It can be concluded that 1) Based on the shape, the names of Troso woven motifs are in the form of words and phrases. 2) Based on the meaning, the names of Troso woven motifs have a lexical meaning and a cultural meaning. 3) Based on the language function, the names of Troso weaving motifs are as a form of respecting the names of characters, as a form of identity, describing flora, depicting fauna, as a form of religious symbolization, as a symbol of calculation, describing the attitude of mutual cooperation, showing social status, showing technology, describe traditional arts, describe ecologically, and as a source of inspiration.Keywords: form, lexical meaning, cultural meaning, language function, names of woven motifs
WANDANING RINGGIT WACUCAL DALAM KAJIAN FILOLOGIS Dewi, Candi Asri
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29092

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah sajian berupa deskripsi naskah Wandaning Ringgit Wacucal, transliterasi dan suntingan naskah Wandaning Ringgit Wacucal, serta terjemahan teks Wandaning Ringgit Wacucal. Data dan sumber data penelitian ini adalah naskah Wandaning Ringgit Wacucal yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta. Metode yang digunakan adalah metode naskah tunggal. Terjemahan naskah Wandaning Ringgit Wacucal menggunakan terjemahan bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah Wandaning Ringgit Wacucal merupakan naskah tunggal. Sebelumnya telah dijelaskan naskah Wandaning Ringgit Wacucal merupakan naskah kedua, disebutkan naskah pertama pada katalog Nancy K Florida tersimnpan di Keraton Surakarta. Setelah dilakukan penelusuran naskah yang dimaksudkan tidak ditemukan. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3B Universitas Indonesia juga menyebutkan terdapat naskah dengan keterangan salinan dari dua naskah yang terdapat di Surakarta dengan judul Pratelanipun Wandaning Ringgit Wacucal. Setelah dilakukan penulusuran data dari segi usia yang lebih muda dan kelengkapan yang kurang naskah tersebut tidak digunakan dan tetap menggunakan naskah Wandaning Ringgit Wacucal. Naskah tersebut hanya terdapat di Museum Radya Pustaka Surakarta dengan kode penyimpanan SMP-RP 244, tebal 28 halaman, dituliskan dengan aksara Jawa, menggunakan bahasa Jawa dan ditulis dalam bentuk prosa. Naskah Wandaning Ringgit Wacucal berisi tentang deskripsi bagian-bagian tubuh wayang, mulai dari bentuk wajah, bentuk tubuh, hingga bentuk gelungan. Penelitian ini menghasilkan edisi teks yang sahih menurut kajian filologis. Aparat kritik disertakan dan teks ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Peneliti menemukan kendala dalam menyajikan naskah Wandaning Ringgit Wacucal di antaranya adalah terdapatnya kata-kata dalam bahasa pewayangan yang sukar untuk diartikan ke bentuk bahasa Indonesia. The purpose of this study was a presentation in the form of a description of the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript, transliteration and edits of the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript, as well as the translation of the Wandaning Ringgit Wacucal text. Data and data sources of this study are Wandaning Ringgit Wacucal manuscripts which are stored in the Radya Library of Surakarta Museum. The method used is a single script method. Translation of the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript uses free translation. The results showed that the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript was a single text. Previously explained the Wandaning Ringgit Wacucal text was the second manuscript, mentioned the first manuscript in the Nancy K Florida catalog hidden in the Surakarta Palace. After searching the manuscript intended is not found. The Master Catalog of Archipelago Manuscripts Volume 3B Universitas Indonesia also mentions that there is a text with a description of copies of two manuscripts in Surakarta with the title Pratelanipun Wandaning Wacucal Ringgit. After searching the data in terms of younger age and lack of completeness, the manuscript was not used and continued to use the Wandaning Ringgit Wacucal text. The manuscript is only available at the Radya Museum Surakarta Library with a SMP-RP 244 storage code, 28 pages thick, written in Javanese script, using Javanese and written in prose. The Wacucal Ringgit Manuscript contains a description of the body parts of the puppet, starting from the face shape, body shape, to the shape of the coil. This study produced a valid edition of the text according to philological studies. Critical apparatus is included and this text is translated in Indonesian. The researcher found an obstacle in presenting the Wandanucan Ringgit manuscript, including the presence of words in puppet language which are difficult to interpret into Indonesian.
Citra Perempuan dan Bias Gender dalam Novel Juminem Dodolan Tempe Karya Tulus Setiyadi Aisyah, Siti Nur; Widodo, Widodo
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.31478

Abstract

Novel Juminem Dodolan Tempe karya Tulus Setiyadi memiliki keunikan tentang perempuan berperan ganda yang menyeimbangkan peran domestik dan publik serta bagaimana ia menghadapi bias gender. Hal ini nampak pada perjuangan Juminem dalam menyeimbangkan peran domestik publik dan sikapnya menghadapi bias gender. Tujuan penelitian ialah menemukan, menganalisis, dan mendeskripsikan citra perempuan idaman dan sikapnya dalam menghadapi persoalan dalam kontruksi sosial bias gender. Penelitian menggunakan pendekatan objektif dengan teori citra perempuan dan bias gender. Data penelitian ini adalah bagian novel yang mengandung citra dan bias gender, sedangkan sumber data penelitian adalah novel Juminem Dodolan Tempe. Pengumpulan data dilakukan secara pembacaan semiotik, heuristik. Analisis data dilakukan secara pembacaan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat citra fisik, citra psikis, dan citra sosial terhadap tokoh perempuan; 2) sikap tokoh menghadapi bias gender dalam novel yang meliputi marginalisasi, stereotip, subordinasi, kekerasan, dan beban kerja. Beberapa citra Juminem ialah cantik, ulet, sabar, tegas, dan ngemong. Beberapa citra Mbok Joyo Pangat ialah perempuan yang mengunggulkan materi, sombong, dan kerja keras. Beberapa citra Minah ialah modern dan suka bepergian. Juminem mampu membela diri ketika ia dituduh jualan “tempe” oleh suaminya sendiri. Minah mampu mematahkan stereotip bahwa perempuan yang suka bepergian adalah perempuan buruk. Mbok Joyo Pangat memiliki kemampuan seimbang antara bekerja dan merawat anaknya meskipun ia janda.