cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 230 Documents
Fakta dan Fungsi Sosial Novel Trah Karya atas S Danusubroto Abani, Marientha Hera
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.32779

Abstract

Novel Trah karya Atas S. Danusubroto menceritakan kehidupan pelacur. Kebiasaan Danusubroto menceritakan kondisi di lingkungan sekitarnya. novel ini mengangkat permasalahan yang cukup detail. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fungsi Danusubroto menulis novel Trah ditinjau dari konteks sosial pengarang dan fakta sosial. Penelitian menggunakan pendekatan sosiologi sastra, dan metode dialektik. Data yang digunakan berupa kata atau frasa yang mengandung fakta dan fungsi sosial, biografi pengarang, dan fakta sosial di luar teks yang berkaitan dengan latar penulisan novel Trah. Metode pengumpulan data menggunakan teknik baca, catat, dan studi pustaka, sedangkan metode analasis data menggunakan metode deskriptif analitik. Hasil penelitian novel Trah ditulis sebagai bentuk kritik penulis terhadap pemerintah sebagai imbas dari krisis ekonomi tahun 2008. Novel Trah berisi kritik terhadap pola pikir masyarakat yang cenderung mengandalkan harta warisan orang tuanya. Kritik-kritik tersebut disampaikan dalam bentuk dialog antar tokoh, dan didasarkan dari konteks sosial pengarang serta fakta sosial. Fakta-fakta sosial yang terdapat dalam novel Trah adalah masalah kemiskinan, pengangguran, pelacuran, dan harta warisan.
Nilai Moral dalam Serat Panitibaya Wijayanti, Anis; N., Yusro Edy; ., Hardyanto
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 8 No 1 (2020): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v8i1.33138

Abstract

ABSTRACT Panitibaya fiber is one of the piwulang Javanese texts that needs to be preserved because the teachings contained in it are still very beneficial for the community. For that Panitibaya Fiber will be examined on (1) how the sound layer in Panitibaya Fiber, (2) how the meaning layer in Panitibaya Fiber, (3) how the object layer in Panitbaya Fiber, (4) Moral Value in Panitibaya Fiber. This study uses a literary sociology approach according to Ian Watt. The research method used is descriptive qualitative. The data used in this study is the text of the Fiber Panitibaya written by Bathara Katong. Data collection techniques in this study were heuristic and hermeneutic reading methods. The analysis technique uses an analysis of the building blocks of poetry Roman Ingarden which includes sound layers, meaning layers, object layers. From the data, it was analyzed using Ian Watt's sociology theory of literature to find out the teachings contained in Panitibaya Fiber. The results of this study indicate that the existence of sound layers, layers of meaning and layers of objects, as well as moral values ​​contained in the Panitibaya Fiber for pursuing are summarized as eleven teachings as follows, (1) obligations to the Creator, (2) disgraceful qualities that must be shunned, (3) commendable traits, (4) actions that are not justified for men, (5) attitudes that must be considered in speech, (6) ancestral messages, (7) people who are not approachable, (8) actions related to children, (9) actions related to firearms, (10) there are visits and neighbors, and (11) attitude in handling a job. The teachings of the Panitibaya Fiber need to be disseminated in the Javanese community, either through print media or online media. Keywords: Panitibaya Fiber, Prohibition of pursuing life, Sociology of literature.
Legenda Asal Usul Nama-nama Desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga Noviyanti, Dwi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.33139

Abstract

Legenda terjadinya desa-desa di Purbalingga tidak lepas dari berbagai cerita dan mitos yang dipercaya masyarakat pendukungnya. Cerita tersebut hidup dan menjadi salah satu pelengkap akan rasa kepemilikan desa oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan cerita legenda asal-usul nama desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga, dan (2) mendeskripsikan faktor yang melahirkan asal-usul nama desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kualitatif dengan melalui pendekatan folklore, data diperoleh dari sumber data lisan hasil observasi, wawancara mendalam, perekaman dan pendokumentasian yang disajikan dalam bentuk deskripsi. Teknik pemaparan hasil data dilakukan dengan teknik informal. Hasil dari penelitian ini dapat ditemukan (1) deskripsi cerita legenda asal-usul nama desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. (2) faktor yang mempengaruhi legenda asal-usul penamaan desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Faktor-faktor tersebut adalah (a) orang pertama sebagai pelopor, hadirnya seseorang yang datang ke suatu wilayah yang kemudian nama orang tersebut dijadikan sebagai nama desa di wilayah itu; (b) adanya perbedaan cerita, setiap desa memiliki cerita yang berbeda-beda antara desa satu dengan desa yang satunya walaupun dalam satu kecamatan; (c) adanya perlawanan, di Desa Panican ada 3 orang yang melawan harimau saat akan membuka permukiman baru yang kemudian peristiwa tersebut dijadikan nama desa panican (wani karo macan); dan (d) adanya peninggalan, peninggalan yang berada di Desa Kedungbenda yang berupa emas, dari banyaknya harta benda yang berada disana sehingga dijadikan nama desa.
Mitos Cerita Sendhang Jetakwanger di Desa Jetakwanger Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora Suryani, Endang
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.33383

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna cerita mitos Sendhang Jetakwanger, jenis dan fungsi mitos cerita Sendhang Jetakwanger bagi masyarakat pendukungnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif didukung dengan teori folklor dan mitos. Data penelitian yang digunakan berupa mitos cerita Sendhang Jetakwanger berupa data lisan dan tulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis mitos Sendhang Jetakwanger, yaitu 1) mitos ruang dan waktu kosmos, 2) mitos asal-usul penciptaan, 3) mitos lingkungan. Fungsi mitos cerita Sendhang Jetakwanger, adalah 1) fungsi religius, 2) fungsi sosial budaya, 3) fungsi pendidikan, 4) fungsi ekonomi, fungsi pengembangan wisata daerah.
Aspek Sosial dalam Naskah Drama Lelakon Karya Adny Sri Wahyudi Widowati, Kasih
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.33447

Abstract

Penelitian ini mengenai aspek sosial serta kehidupan masyarakat yang tercermin dalam naskah drama Lelakon karya Andy Sri Wahyudi. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan sosiologi sastra, dengan prespektif teks sastra. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode strukturalisme-semoitik dengan teknik hermeneutik. Data penelitian berupa unsur-unsur yang terdapat dalam naskah drama Lelakon karya Andy Sri Wahyudi. Hasil dari penelitian ini meliputi: 1) struktur pembangun yang terdiri dari penokohan, latar, alur dan dialog. 2) aspek sosial yang berupa aspek ekonomi dan aspek moral. 3) kehidupan maskyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan pelecehan tercermin dalam naskah drama Lelakon karya Andy Sri Wahyudi. Naskah drama Lelakon menjadi cerminan refleksi bagi kehidupan masyarakat pada jaman sekarang. Dalam menjalani hidup usaha dan optimisme harus dilakukan. Usaha apapun dilakukan agar tercapai kebutuhan hidup seperti yang tercermin dalam naskah drama Lelakon karya Andy Sri Wahyudi
Sensualitas dalam Lirik Dangdut Berbahasa Jawa Izzah, Ziyana Olga Niswatul
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.33449

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembaca dalam menginterpretasikan lirik lagu dangdut Jawa yang mengandung sensualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian pragmatis yang memberi perhatian utama pada peran pembaca. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Arti dari lirik lagu ini menggunakan teori analisis sastra penerimaan Jauss yang mencakup horizon penerimaan dan horizon ekspektasi juga berfokus pada respons, penerimaan lirik dangdut dengan sensualitas. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis reseptif sinkronis yang melibatkan pembaca kontemporer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuh dari dua belas responden setuju bahwa lirik lagu dangdut dan sensualitas terkait erat. Baik dari judul, tema, lirik, gaya bernyanyi hingga aksi panggung yang mengiringinya, musik dangdut dapat mengundang sensualitas. Bahasa yang digunakan dalam lirik lagu keduanya secara eksplisit menunjukkan pergeseran nilai kesopanan bahasa. Sedangkan lima responden lainnya menyatakan bahwa lirik lagu tersebut hanyalah hiburan untuk memuaskan komunitas pendengar.
Serat Petung dalam Kajian Filologis Aji, Dicky Qulyubi; N., Yusro Edy; ., Widodo
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 8 No 1 (2020): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v8i1.33967

Abstract

Naskah Serat Petung merupakan salah satu naskah Jawa yang unik. Pada bagian awal dan akhir teks berisi tembang, serta bagian tengah teks berisi prosa. Naskah ini termasuk dalam jenis naskah nujum. Naskah Serat Petung merupakan kompilasi dari tiga teks, yaitu Serat Suluk Pei, Serat Petung dan Serat Candraning Wanita. Tujuan penelitian adalah menyajikan teks Serat Petung menggunakan kajian filologis. Data dalam penelitian ini adalah naskah Serat Petung dengan nomor 1466. Metode yang digunakan adalah metode edisi naskah tunggal. Terjemahan teks dalam naskah Serat Petung menggunakan teknik terjemahan bebas. Hasil penelitian adalah sajian isi teks Serat Petung mengenai penjelasan tentang hakikat hidup melalui perlambangan bangunan keraton Adiningrat Surakarta, serta memaparkan perihal petung hari dan pasaran yang digunakan dalam seluk-beluk pernikahan, membuat sumur, menanam padi, asal-muasal wuku, membuat pagar, menerapkan pintu, sifat dan karakteristik wanita serta baik dan buruk hari kelahiran. Kata kunci: Filologi, naskah Jawa, Serat Petung, suntingan teks.
Satuan Lingual dalam Pembuatan Batu Bata Merah di Desa Jatilaba Kabupaten Tegal (Kajian Etnolinguistik) Fikri, Bukhori; Kurnia, Ermi Dyah
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 2 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i2.34260

Abstract

The objectives of this study are describing the form of the lingual unit, describing the meaning of the lingual unit, and describing the function of the lingual unit in the red bricks manufacture. Data analysis was performed using structural and ethnolinguistic language analysis techniques for the lingual unit used. Based on the results of the analysis, lingual units in the form of words found in the making of red bricks in Jatilaba Village, Tegal Regency are basic words, derived words, and compound words. In addition to that, there are lingual units in the form of phrases classified according to the distribution, core categories, and lingual units of the elements. The meaning of the lingual unit in the red bricks manufacture in Jatilaba Village, Tegal Regency is analyzed based on its lexical and cultural meanings. The lexical meaning of the lingual unit is divided based on several meanings, namely, based on tools, material, activities, and results of activities. The lingual unit function found is as a communication tool, as a link to the supernatural world, as a form of utilization of natural resources, indicating the origin of the process name of the instrument used, indicating the origin of the process name from the sound produced, indicating the origin of the process name from the results obtained, utilizing technology, describing the technique of making true red bricks, and as hereditary teachings. Keywords: lingual unit, meaning, ethnolinguistics, and function.
Tradisi Nyadran di Desa Ngasem Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara Afriani, Iin; K.A., Sri Prastiti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 8 No 1 (2020): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v8i1.35551

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi dan makna tradisi nyadran yang berada di Desa Ngasem Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara. Tradisi nyadran merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu dan rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan folklor. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) bentuk tradisi nyadran yang terdiri dari bersih-bersih, pengajian,selamatan, nyadran, dan hiburan atau sebuah pertunjukan joged. (2) fungsi tradisi nyadran yaitu fungsi sosial, fungsi religi, fungsi pendidikan, melestarikan kebudayaan atau kearifan lokal dan sebagi hiburan. (3) simbol makna tradisi nyadran yaitu sebagai bentuk penghormatan mengenang kebiasaan leluhur Desa Ngasem dan juga sebagai wujud rasa syukur atas keberkahan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Kata Kunci: Tradisi Nyadran, Bentuk, Fungsi, Makna. ABSTRACT The aim of this study is to describe the form, function and meaning of the nyadran tradition in the Ngasem Village, Batealit District, Jepara Regency. Nyadran tradition is a tradition that has exited since ancient times and routinely carried out once every year. The approach that used in this research was the folklore approach. Data collection techniques was used observation, interview and documentation techniques. Data analysis used descriptive qualitative analysis techniques. The results of this study were (1) the form nyadran tradition consisting of cleaning, recitation, salvation, nyadran, and entertainment or a joged performance. (2) the function nyadran tradition is as namely the social function, the religuis function, the educational function, preserving culture or local wisdom and as entertainment. (3) the symbolof the meaning nyadran tradition is as a form of respect to remember the habits of the ancestors of the Ngasem Village and also as an expression of gratitude for the blessings given by Allah SWT. Keyword: tradition Nyadran, form, function, meaning.
Istilah-Istilah Sesaji Ritual Sedekah Gunung Merapi di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali (Kajian Etnolinguistik) Makrifah, Suci; Fateah, Nur
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 2 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i2.36667

Abstract

This research discusses terms offerings of the alms ritual of Mount Merapi in Lencoh Village, District of Selo, Boyolali Regency. The purposes of this research are (1) to describe kind the terms offerings of the alms ritual of Mount Merapi in Lencoh Village, Boyolali; (2) to explain the lexical and cultural meaning of the terms offerings of the alms ritual of Mount Merapi in Lencoh Village, Boyolali; (3) to explain reflection of local wisdom in terms offerings of te alms ritual of Mount Merapi in Lencoh Village, Boyolali. This research uses an ethnolinguistic approach and a qualitative descriptive approach. Data in this research was collected using etnographic methods with observation and interview techniques. Analysis of the data in this research using distributional method, method of padan and ethnosains to the terms offerings alms ritual of mountain . The results showed that first, the terms of offerings in the alms ritual of Mount Merapi consists of words and phrases. Second, the terms offerings of the almsritual of Mount Merapi classified based on lexical meaning and cultural meaning. Third, local wisdom that found in the terms offerings of the alms ritual of Mount Merapi is cultural wisdom that acquired through life experience and or passed down from generation to generation as a guideline for activities. Keywords: form of terms, alms of mountain, meaning, local wisdom, etnolinguistic