cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 230 Documents
PERLUASAN DAN PENYEMPITAN MAKNA KATA BAHASA JAWA DALAM CERKAK-CERKAK PANJEBAR SEMANGAT Bashiroh, Akhil
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 4 No 2 (2016): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v4i2.29011

Abstract

Perluasan dan penyempitan makna kata yang terdapat dalam cerkak-cerkak pada majalah Panjebar Semangat  yang diambil secara acak yang dikaji menggunakan teori perubahan akna khususnya meluas dan menyempit. Masalah dalam penelitian ini yaitu:  (1) bagaimana bentuk kata yang mengalai perluasan makna,(2) bagaimana bentuk kata yang mengalami penyempitan makna, (3) dan apa saja faktor yang memengaruhi perubahan makna. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk kata yang mengalami perluasan dan penyempitan makna dalam cerkak-cerkak Panjebar Semangat serta faktor yang mempengaruhinya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan teoretis dan metodologis. Teknik analisis data menggunakan analisis konten. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat kata yang mengalami perluasan makna mengalaim penyempitan makna. Data diambil dari cerkak-cerkak Panjebar semangat terbitan tahun 2015 yang dipilih secara acak. Expansion  and contraction of the meaning of words contained in the magazine cerkak-cerkak Panjebar Semangat drawn at random were studied using the theory of change akna especially extends and retracts. The problem in this research are: (1) how to form words that are seen extension of meaning, (2) to find how tenses narrowing of meaning, (3) and any factors that affect the change of meaning. The purpose of this study was to describe the form of words that undergo expansion and constriction of meaning in cerkak-cerkak Panjebar Semangat and the factors that influence it. The approach used is a theoretical and methodological approaches. Data were analyzed using content analysis. The results of this study there were undergoing expansion and meaning narrowing of meaning. Data taken from cerkak-cerkak Panjebar Semangat  of publications in 2015 were selected randomly.
REKONSTRUKSI CERITA RAKYAT KYAI ARSANTAKA DI KABUPATEN PURBALINGGA Ariyati, Yuli
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 4 No 2 (2016): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v4i2.29012

Abstract

Penelitian ini membahas tentang cerita rakyat Kyai Arsantaka di Kabupaten  Purbalingga yang dikaji dengan menggunakan pendekatan objektif dan analisis struktur model Vladimir Propp. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam cerita rakyat Kyai Arsantaka di Kabupaten Purbalingga mempunyai lima versi cerita. Versi crita yang paling lengkap adalah versi kesatu yang mempunyai 28 fungsi pelaku serta 12 motif pelaku. Hasil rekonstruksi cerita rakyat Kyai Arsantaka ditemukan 28 struktur fungsi pelaku. Motif cerita yang ditemukan adalah motif cerita kepahlawanan. Hasil rekonstruksi cerita rakyat Kyai Arsantaka dapat dijadikan buku pengayaan dengan menggunakan dialek Banyumasan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah. This study discusses the folklore of Kyai Arsantaka in Purbalingga Regency studied using objective approach and structural model analysis of Vladimir Propp. The results of this study indicate that in the folklore Kyai Arsantaka in Purbalingga District has five versions of the story. The most complete version of the crita is the first version that has 28 performer functions and 12 principal motives. The results of the reconstruction of Kyai Arsantaka's folklore found 28 functional structures of actors. Motif of the story found is the motive of the story of heroism. The results of the reconstruction of Kyai Arsantaka's folklore can be used as an enrichment book using Banyumasan dialect and is expected to serve as an alternative teaching material in learning Javanese in school.
BENTUK DAN MAKNA NAMA-NAMA MOTIF BATIK GUMELEM Aji, Anggit Prasasti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29013

Abstract

Pemberian nama motif batik Gumelem muncul dari suatu komunitas pengrajin batik di Gumelem. Pengrajin dalam memberikan nama tidak dilakukan secara asal, namun di dalamnya juga terkandung sebuah makna. Bagi sebagian orang yang awam di luar komunitas batik, terkadang tidak tahu apa makna yang terkandung pada motif serta nama batik Gumelem yang dipakainya. Maka dari itu, nama-nama motif batik Gumelem perlu diketahui bentuk satuan lingual, makna leksikal, makna gramatikal, makna kultural, serta analisis komponen maknanya. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana bentuk satuan lingual yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem, 2) Bagaimana makna dan komponen makna yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem. Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah: 1) Mendeskripsi bentuk satuan lingual yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem, 2) Mendeskripsi makna dan komponen makna yang ada dalam nama-nama motif batik Gumelem. Metode agih menggunakan teknik bagi unsur langsung untuk membagi unsur langsung bentuk nama-nama motif batik Gumelem. Metode padan menggunakan metode padan referensial yaitu metode padan yang alat penentunya berupa referen bahasa. Metode padan digunakan untuk menganalisis maknanya. Penyajian hasil analisis data penelitian ini disajikan secara informal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan bentuknya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk kata dan frasa. Bentuk kata meliputi kata dasar dan kata turunan. Nama-nama motif batik Gumelem berbentuk kata berafiks, kata ulang, dan kata majemuk. Berdasarkan distribusinya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk frasa endosentrik atributif. Berdasarkan kategorinya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk frasa nominal. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan dalam pengembangan ilmu linguistik khususnya dalam elemen bentuk dan makna, 2) Penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan acuan maupun pendukung dalam melakukan penelitian selanjutnya mengenai penelitian strukturalisme, 3) Penelitian mengenai batik Gumelem perlu dikembangkan khususnya sebagai sarana pengenalan lebih luas batik Gumelem serta umumnya sebagai pelestarian budaya bangsa.   Giving the name of the Gumelem batik motif emerged from a community of batik craftsmen in Gumelem. Craftsmen in giving names are not done by origin, but inside it also contains a meaning. For some people who are lay outside the batik community, sometimes they do not know what the meaning of the motif and name of Gumelem batik is. Therefore, the names of the Gumelem batik motifs need to be known as lingual units, lexical meanings, grammatical meanings, cultural meanings, and component analysis of their meanings. The problems studied in this study are: 1) What are the forms of lingual units contained in the names of Gumelem batik motifs, 2) What are the meanings and components of meaning contained in the names of Gumelem batik motifs. The objectives to be achieved in writing this essay are: 1) Describing the form of lingual units contained in the names of Gumelem batik motifs, 2) Describing the meaning and components of meaning contained in the names of Gumelem batik motifs. The Agih method uses techniques for direct elements to divide the direct elements of the names of Gumelem batik motifs. The matching method uses a referential equivalent method, which is a matching method whose determinant is a language referent. The matching method is used to analyze the meaning. Presentation of the results of the analysis of the research data is presented informally. The results of this study indicate that based on the shape, the names of Gumelem batik motifs are in the form of words and phrases. Word forms include basic words and derivative words. The names of Gumelem batik motifs are in the form of words that are affixed, rephrased, and compound words. Based on the distribution, the names of Gumelem batik motifs are in the form of endocentric attributive phrases. Based on the category, the names of Gumelem batik motifs are in the form of nominal phrases. Research results can be utilized in the development of linguistics, especially in terms of form and meaning, 2) This research is expected to be further developed as a reference or supporting material in conducting further research on structuralism research, 3) Research on Gumelem batik needs to be developed specifically as a means of introducing more extensive Gumelem batik and generally as a preservation of national culture.
MAKNA NAMA-NAMA KERIS DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA Sutasoma, Author; Septiana, Arum
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 4 No 2 (2016): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v4i2.29015

Abstract

Keraton Kasunanan Surakarta sangat kaya dengan simbol-simbol kebudayaan, salah satunya adalah keris. Keindahan keris akan semakin terlihat pada seni kehidupan dan filosofinya. Keris mempunyai rahasia yang terdapat didalamnya, yaitu rahasia yang berupa falsafah kehidupan. Penamaan-penamaan keris di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dilihat dari wujud ornamen atau ricikannya. Ricikan keris dibuat berdasarkan pada paugeraning urip yaitu pusaka, wisma, kukila, turangga, dan garwa. Tidak semua masyarakat luas mengetahui makna nama-nama keris tersebut.                 Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) apakah nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta?, (2) makna apa yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna apa saja yang terdapat dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta.                 Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semantik. Pendekatan semantik digunakan untuk mengetahui makna yang terdapat pada nama-nama keris di Keraton Kasunan Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data dari penelitian ini diperoleh dari nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan dan sumber data tertulis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik observasi, teknik dokumen, dan teknik dokumentasi.                 Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta meliputi tiga makna yaitu, (1) makna leksikal, (2) makna kultural, (3) makna filosofi.                 Berdasar temuan tersebut, saran yang diharapkan dari hasil penelitian ini, sebagai salah satu wacana yang berkaitan untuk pengenalan nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Selain itu, nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta memiliki makna filosofi yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada penelitian makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan penelitian awal, sehingga ada peluang untuk melakukan penelitian dengan kajian yang berbeda  The Surakarta Kasunanan Palace is very rich in cultural symbols, one of which is a kris. The beauty of the kris will increasingly be seen in the art of life and its philosophy. Kris has a secret contained in it, namely a secret in the form of a philosophy of life. The names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace can be seen from the form of ornament or ricikannya. Kris Ricikan is made based on urip paugeraning, namely heirloom, homestead, cucila, turangga, and garwa. Not all the public knows the meaning of the names of the kris. The formulation of the problems examined in this study are (1) what are the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace ?, (2) what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace? This study aims to determine what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. The approach used in this study is a semantic approach. The semantic approach is used to find out the meaning contained in the names of the kris in the Kasunan Palace Surakarta. The method used in this research is descriptive method. Data from this study were obtained from the names of kris in the Surakarta Kasunanan Palace, while the data sources in this study were sources of oral data and written data sources. Data collection techniques in this research are observation techniques, document techniques, and documentation techniques. The findings of the research show that the meanings of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace include three meanings namely, (1) lexical meaning, (2) cultural meaning, (3) philosophical meaning. Based on these findings, the expected suggestions from the results of this study, as one of the discourses relating to the introduction of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. In addition, the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace have philosophical meanings contained in the names of the kris at the Surakarta Kasunanan Palace. In the study of the meaning of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace this was an initial study, so there was an opportunity to conduct research with different studies
SISTEM PERKAWINAN MASYARAKAT SAMIN DI DESA SUMBER KECAMATAN KRADENAN KABUPATEN BLORA Rahmawati, Ana Nur
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 4 No 2 (2016): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v4i2.29016

Abstract

Masyarakat Samin merupakan masyarakat yang mempunyai pedoman dan pandangan hidup dalam menjalani kehidupan. Salah satu dari kebudayaan masyarakat Samin adalah perkawinan yang masih kental dengan adat-istiadat dari leluhurnya yaitu ki Samin Surosentiko. Perkawinan tersebut mempunyai tahapan-tahapan yang harus dijalankan oleh masyarakat Samin dan dalam perkawinan tersebut juga terdapat ungkapan-ungkapan tradisional yang diwujudkan dalam setiap proses perkawinan dari awal sampai akhir. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur ungkapan tradisional dalam sistem perkawinan masyarakat Samin dan kedudukan budaya dalam sistem perkawinan masyarakat Samin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan struktur ungkapan tradisional dalam sistem perkawinan masyarakat Samin. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan kedudukan budaya dalam sistem perkawinan masyarakat Samin. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metodologis dan pendekatan teoretis. Pendekatan metodologis yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan pendekatan teoretis yang digunakan yaitu pendekatan sosiokultural. Pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, teknik observasi, dan teknik dokumentasi. Analisis datanya dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Samin dalam menjalankan perkawinan masih tetap berpegang teguh terhadap ajaran dari leluhurnya yaitu Ki Samin Surosentiko. Selain itu, dalam setiap tahapan perkawinan terdapat sebuah ungkapan-ungkapan tradisional. Ungkapan tersebut mempunyai makna terhadap tahapan-tahapan perkawinan yang dilaksanakan oleh masyarakat Samin. Kedudukan budaya dalam sistem perkawinan masyarakat Samin yaitu perkawinan masyarakat Samin mempunyai hubungan dan keterkaitan dengan unsur-unsur dari sebuah kebudayaan yaitu bahasa, religi, dan sistem organisasi kemasyarakatan (sosial). Berdasarkan temuan penelitian ini, saran yang dapat diberikan yaitu perkawinan masyarakat Samin merupakan warisan kebudayaan dari ki Samin Surosentiko yang tetap dipertahankan oleh masyarakat Samin. Oleh karena itu, hendaknya pemerintah setempat lebih memperhatikan kebudayaan masyarakat Samin yang masih dijalankan sampai sekarang dan penelitian ini dapat dijadikan  sebagai pengetahuan untuk masyarakat Blora dan masyarakat umum tentang perkawinan pada masyarakat Samin.  Samin community is a society that has guidelines and a view of life in living life. One of the Samin culture is marriage that is still thick with customs from its ancestors, namely ki Samin Surosentiko. The marriage has stages that must be carried out by the Samin community and in the marriage there are also traditional expressions that are manifested in each marriage process from beginning to end. The problem in this research is how the structure of traditional expressions in the marriage system of the Samin community and the cultural position in the marriage system of the Samin community. The purpose of this study is to describe the structure of traditional expressions in the Samin marriage system. In addition, this study aims to describe the cultural position in the Samin marriage system. The approach used in this study is a methodological approach and a theoretical approach. The methodological approach used is a qualitative descriptive approach, while the theoretical approach used is a sociocultural approach. Data collection used is interview techniques, observation techniques, and documentation techniques. Analysis of the data using qualitative descriptive analysis method. The results of this study indicate that the Samin community in running a marriage still adheres to the teachings of its ancestors, Ki Samin Surosentiko. In addition, at each stage of marriage there are traditional expressions. The expression has meaning to the stages of marriage carried out by the Samin community. The cultural position in the marriage system of the Samin community is that the marriage of the Samin community has a relationship and association with the elements of a culture, namely language, religion, and social (social) organizational systems. Based on the findings of this study, the advice that can be given is that the marriage of the Samin community is a cultural heritage of the Samin Surosentiko which is still maintained by the Samin community. Therefore, the local government should pay more attention to the culture of the Samin community which is still carried out until now and this research can be used as knowledge for the Blora community and the general public about marriage to the Samin community.
TRADISI REBO PUNGKASAN DI DESA LEBAKSIU LOR KECAMATAN LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL Prasetyaningrum, Purwa
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 4 No 2 (2016): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v4i2.29017

Abstract

Tradisi Rabu Pungkasan di Desa Lebaksiu Lor Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal dilaksanakan pada bulan Sapar (bulan Jawa). Bulan Sapar merupakan bulan yang kurang baik menurut masyarakat Lebaksiu Lor karena mereka percaya bahwa Allah SWT menurunkan musibah yang besar bagi umatnya. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk ritual tradisi Rabu Pungkasan bagi masyarakat pendukungnya?, dan (2) Nilai-nilai apa saja yang terdapat pada upacara tradisi Rabu Pungkasan bagi masyarakat pendukungnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan folklor. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sesepuh desa, perangkat desa, dan masyarakat desa. Data diperoleh dari hasil wawancara dengan sesepuh desa dan masyarakat pendukung tradisi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, teknik observasi, dan dokumentasi. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tradisi Rabu Pungkasan ini memiliki bentuk ritual, fungsi, makna simbolis dan nilai-nilai (nilai religi, nilai sosial, nilai moral, nilai kesusilaan, dan nilai budaya) bagi masyarakat pendukungnya. Bentuk ritual Tradisi Rabu Pungkasan terdiri dari lima bentuk, yaitu Tradisi Lek-lekan, Tradisi Sholat Duha, Tradisi Rajahan, Tradisi Slametan, dan Tradisi Ziarah ke Gunung Tanjung. Fungsi sosial, religi, dan budaya, yang terdapat dalam Tradisi Rabu Pungkasan  adalah sebagai upaya perbaikan sosial, sebagai pewarisan norma sosial, sebagai integrasi sosial, sebagai  wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,  sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagai pelestarian budaya,. Nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi Rabu Pungkasan meliputi: nilai religi: mendidik berdoa dan bersyukur, nilai sosial: mendidik berbagi rezeki kepada orang lain dan berbaur memanjatkan doa bersama; nilai moral: mendidik bertanggung jawab dan bersikap adil; nilai kesusilaan atau budi pekerti: mendidik untuk menghormati leluhur dan menghormati orang lain; nilai budaya: mendidik supaya yakin dan patuh terhadap pewarisan adat istiadat. Saran yang dapat disampaikan yaitu: Tradisi Rabu Pungkasan di desa Lebaksiu Lor sebaiknya menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tegal guna menindaklanjuti penelitian mengenai tradisi-tradisi di desa Lebaksiu Lor khususnya Kecamatan Lebaksiu demi perkembangan kesenian dan kebudayaan daerah Tegal. Sebaiknya penelitian ini juga dapat digunakan oleh guru sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah. Selain itu penelitian Tradisi Rabu Pungkasan di desa Lebaksiu Lor Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal sebaiknya dapat dijadikan oleh penelitian lain sebagai bahan acuan dalam pengembangan penelitian folklor.  The Wednesday Pungkasan tradition in Lebaksiu Lor Village, Lebaksiu District, Tegal Regency, was held on the Sapar month (Javanese month). Bulan Sapar is an unfavorable month according to the Lebaksiu Lor community because they believe that Allah SWT decreases a great disaster for their people. The problems studied in this study are (1) What are the forms of the Pungkasan Wednesday traditional ritual for the supporting community ?, and (2) What values ??are contained in the Pungkasan Wednesday traditional ceremony for the supporting community. The method used in this study is descriptive qualitative using the folklore approach. Data sources in this study were village elders, village officials, and village communities. Data obtained from interviews with village elders and the community supporting the tradition. Data collection is done by interview techniques, observation techniques, and documentation. Presentation of the results of data analysis with descriptive analysis. The results showed that the Wednesday Pungkasan Tradition had ritual forms, functions, symbolic meanings and values ??(religious values, social values, moral values, moral values, and cultural values) for the supporting community. The form of the Wednesday Pungkasan Tradition ritual consists of five forms, namely Lek-lekan Tradition, Duha Prayer Tradition, Rajahan Tradition, Slametan Tradition, and Pilgrimage Traditions to Mount Tanjung. Social, religious and cultural functions, which are found in the Pungkasan Wednesday Tradition, are as an effort to improve social, as inheritance of social norms, as social integration, as a form of gratitude to the Almighty God, as an effort to draw closer to God Almighty, and as cultural preservation. The values ??contained in the Pungkasan Wednesday tradition include: religious values: educating praying and giving thanks, social values: educating sharing sustenance to others and mingling praying together; moral value: educate responsibly and be fair; the value of morality or character: educating to respect ancestors and respect others; cultural values: educate so that they are sure and obedient to the inheritance of customs. Suggestions that can be conveyed are: Pungkasan Wednesday Tradition in Lebaksiu Lor village should be of concern to the Tegal Regency Government to follow up research on the traditions in Lebaksiu Lor village, especially Lebaksiu District, for the development of arts and culture in the Tegal region. We recommend that this study can also be used by teachers as teaching materials in learning Javanese Language in schools. In addition, the Wednesday Pungkasan Tradition study in Lebaksiu Lor village, Lebaksiu Subdistrict, Tegal Regency, should be used by other studies as reference material in the development of folklore research.
WUJUD AJARAN DALAM SERAT DARMASONYA Arianti, Diah Ayu
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 1 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i1.29018

Abstract

Serat Darmasonya adalah salah satu karya KPH Suryaningrat pada masa (1906-1937). Untukmemaknai dan mendalami isi teksSerat Darmasonya diperlukan pendekatan atau teori agar memungkinkan pembaca paham dan bisa memetik hikmahnya. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap Serat Darmasonyaagar bisa diketahui wujud ajaran dan nilai-nilai religiusitas yang terkandung di dalamnya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengungkapwujud ajaran religiusitas dan mengetahui nilai-nilai religiusitas yang terdapat dalam teks Serat Darmasonya karya KPH Suryaningrat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis struktural. Sumber data yang digunakan adalah teks Serat DarmasonyakaryaKPH Suryaningrat. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu membaca heuristik dan hermeneutik.Kemudian menganalisis sekaligus mengklasifikasikan wujud ajaran dan nilai-nilai religiusitas dalam teks Serat Darmasonya. Analisis wujud ajaran religiusitas yang ditemukan dalam Serat Darmasonyayaitu(1) ajaran tentang ke-Esaan Allah pada pupuh Dhandhanggula, (2) ajaran mengenai pujian kepada Allah pada pupuh Asmaradana dan Sinom, (3) ajaran tentang bukti kekuasaan Allah pada pupuh Asmaradana dan Sinom, (4) ajaran tentang budi pekerti luhur yang meliputi, ajaran mengenai cara menghindari dari perbuatan tercela terdapat di dalam pupuh Dhandhanggula dan Kinanthi, ajaran mengenai sikap kejujuran yang terdapat di dalam pupuh Dhandhanggula. Analisis nilai religiusitas dalam Serat Darmasonyayang ditemukan (1) nilai religiusitas hubungan manusia dengan Tuhan yang terdapat pada  pupuh Sinom, Dhandhanggula, dan Pangkur (2) hubungan manusia dengan sesama manusia pada pupuh Dhandhanggula, dan Kinanthi, (3) dan hubungan manusia dengan diri sendiri pada pupuh kinanthi. Sedangkan hubungan manusia dengan alam, tidak ditemukan dalam teks Serat Darmasonya. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada pembaca dan peminat sastra agar mampu menjadikan penelitian ini sebagai panduan dalam memahami makna ajaran-ajaran religiusitas dan nilai-nilai religiusitas dalam teks Serat Darmasonya.Pembaca juga disarankan agar dapat menerapkan ajaran-ajaran budi pekerti luhur dan menjadikan hasil penelitian sebagai referensi bagi peneliti lain dalam pengembangan teori strukturalisme pada tembang dan teori tentang religiusitas terhadap penelitian karya sastra Jawa lainnya.  Serat Darmasonya is one of the works of KPH Suryaningrat in the period (1906-1937). To interpret and explore the contents of the text of the Serat Darmasonya approach or theory is needed to enable the reader to understand and be able to reap the lessons. Therefore, a study of the Darmason Fiber is carried out in order to know the form of teaching and the values ??of religiosity contained in it. The aim to be achieved in this research is to reveal the teachings of religiosity and to know the values ??of religiosity found in the text of Serat Darmasonya by KPH Suryaningrat. The approach used in this study is an objective approach. The method used in this study is a structural analysis method. The data source used is the text of DarmasonyakaryaKPH Suryaningrat Fiber. Data collection techniques in this study were reading heuristics and hermeneutics. Then analyzed while classifying the form of teachings and values ??of religiosity in the text of Darmasonya Fiber. The analysis of the form of religiosity teachings found in the Darmasonyaya Fiber is (1) the teachings on the Essence of Allah on Dhandhanggula's poetry, (2) the teachings on praise to Allah on Asuhadana and Sinom's poems, (3) the teachings on the proof of Allah's power on Asmaradana and Sinom, (4) the teachings on noble mind and character which include, the teachings on how to avoid despicable acts are found in pupuh Dhandhanggula and Kinanthi, the teachings on honesty attitudes contained in pupuh Dhandhanggula. The analysis of the religiosity value in Darmasony Fiber is found (1) the religiosity value of human relations with God found in Sinom, Dhandhanggula, and Pangkur (2) the relationship between humans and fellow human beings in Dhandhanggula, and Kinanthi, (3) and human relations with self on kinanthi's poetry. Whereas human relations with nature are not found in the text of the Darmasonya Fiber. Based on the results of the study, it is recommended that readers and literary enthusiasts be able to make this research a guide in understanding the meaning of the teachings of religiosity and values ??of religiosity in the text of Darmasonya Fiber. Readers are also advised to apply the teachings of noble mind and make the results of research as a reference for other researchers in developing the theory of structuralism in songs and theories about religiosity towards other Javanese literary research.
REGISTER PEMASOK UDANG DAN IKAN DI DESA KLUWUT KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES Fauzi, Muhammad Irfan
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 1 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i1.29020

Abstract

Register is one of the variations of the language background by social class, that is the range of occupational groups in every human society. One group of professions who use that language variation is a supplier of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes or commonly called as the supplier. Their language is unique and different from the language used by society at large. The language also serves to hide their conversations from people outside the profession supplier. Therefore, the language register suppliers of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes interesting to be studied and analyzed in terms of linguistic science. Problems in this research: 1) how to use the register form of shrimp and fish suppliers in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes? and 2) whether the social function registers supplier of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes? The purpose of this study was to describe the shape register used supplier of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes and social function registers supplier of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes. The research concluded that suppliers register shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes has two forms of registers, that is 1) the form of registers based on the formation process, and 2) the registers by unit lingual. Based on the formation process in the form of modifications with the addition of ji-at the beginning of words and syllables beheadings on the base and in the form of changes in the form of the reversal of the basic word order of the letters and the addition of the suffix-s even if not all of the vocabulary of an additional suffix-an. The form registers based unit lingual is singular, complex shapes (which had the affixation, reduplication, and composition), and form number. Social function registers supplier of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes include functionality to ask the price, function shipping, transaction functions, chatting and joking function, the function asks contents by size (ses), and the function of asking the origin and species of shrimp. Based on this research, advice can be given are: 1) The use of registers to the general public is expected to be avoided, because the general public ignorance about the registers used by the supplier of shrimp and fish in the Village District Kluwut Bulakamba Brebes. 2) There are many more registers that can be used as an object of study for students who are interested in field of linguistics.
VARIASI BAHASA DALAM KIDUNG PASAMUWAN KRISTEN Wulandari, Meike
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 1 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i1.29021

Abstract

Bahasa Jawa tidak hanya digunakan dalam bahasa lisan tetapi juga tulisan. Salah satunya digunakan dalam Kidung Pasamuwan Kristen. Bahasa dalam Kidung Pasamuwan Kristen bervariasi yaitu terdiri atas ragam bahasa Jawa ngoko, Jawa krama dan Jawa kuna. Kosakata dalam Kidung Pasamuwan Kristen relatif sulit untuk dipahami karena sudah jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dalam penelitian ini akan dikaji mengenai ragam bahasa yang digunakan beserta fungsinya beserta variasi morfologis. Dalam kajian morfologis difokuskan dalam proses afiksasi  kata.   Java language is not only used in spoken language but also writing. One of them used in the Kidung Pasamuwan Kristen. Language in Kidung Pasamuwan Kristen has variation the range consists Jawa ngoko language, Jawa krama and Jawa kuna. Vocabularies in Kidung Pasamuwan Kristen relatively are difficult to be understood because it is rarely used in daily communication.In this research will be assessedon the various languages ??used and their functions and their morphological variation. In morphological studies focused on word affixation process.
TEMBANG PENGIRING DALAM KESENIAN BEGALAN Utami, Palupi Budi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 1 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i1.29022

Abstract

Begalan merupakan kesenian khas dari wilayah eks-Karisidenan Banyumas. Begalan dilaksanakan pada upacara pernikahan sebagai sarana tolak bala. Begalan dilaksanakan apabila pernikahan yang terjadi adalah pernikahan antara anak sulung dengan anak sulung, bungsu dengan bungsu, atau bungsu dengan bungsu. Penyajian kesenian Begalan dilakukan dalam bentuk tarian, dialog, dan tembang. Tembang pengiring dalam kesenian Begalan memiliki lirik-lirik yang bermakna yang memiliki berbagai fungsi. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana struktur fisik, struktur batin, dan fungsi tembang pengiring kesenian Begalan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana struktur fisik, struktur batin, dan fungsi tembang pengiring kesenian Begalan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif. Data dalam penelitian ini berupa teks tembang pengiring kesenian Begalan. Sumber data penelitian ini adalah tembang pengiring kesenian Begalan itu sendiri. Berdasarkan analisis diketahui bahwa struktur fisik tembang pengiring kesenian Begalan terdiri atas unsur bunyi, terbagi menjadi rima awal, rima tengah, dan rima akhir dimana yang dominan adalah rima tengah. Kekhasan tembang terlihat dalam vokal-vokal pengiring tembang. Unsur diksi terdiri atas kata konotasi, denotasi, kata konkret, dan kata arkais. Kata-kata khas Banyumasan menjadikan kekhasan tembang kesenian Begalan. Bahasa figuratif yang dalam tembang yaitu metafora, personifikasi, dan sinekdoke. Imaji dalam tembang kesenian Beglana berupa imaji visual, imaji pendengaran, imaji perabaan, imaji pengecapan, dan imaji gerak. Struktur batin tembang pengiring kesenian Begalan meliputi tema, perasaan penyair, nada, suasana, amanat, dan makna. Tema yang dominan dalam tembang pengiring kesenian Begalan adalah tema mengenai kehidupan manusia. Perasaan dominan yang disampaikan oleh penyair adalah perasaan penuh harap. Nada atau sikap yang dominan dari tembang pengiring kesenian Begalan adalah nada memberi nasehat. Suasana yang banyak tergambar dalam tembang pengiring kesenian Begalan adalah suasana penuh pengharapan. Amanat yang dominan tergambar dalam tembang pengiring kesenian Begalan adalah amanat tentang kehidupan manusia. Makna tembang pengiring kesenian Begalan dominan mengenai makna dalam kehidupan manusia. Melalui struktur batin dapat diketahui fungsi tembang. Fungsi yang terdapat dalam tembang pengiring kesenian Begalan adalah fungsi tembang sebagai nasehat, tembang sebagai tolak bala, dan tembang sebagai kritik dan saran. Berdasar analisis data, diketahui kekhasan tembang pengiring kesenian Begalan yang membuat tembang kesenian Begalan berbeda dari tembang lain. Penelitian analisis struktural-semiotik ini dimungkinkan dianalisis kembali menggunakan teori dan sudut pandang yang berbeda dari apa yang sudah dilakukan oleh peneliti.  Begalan is a special art from the former Karisidenan area of ??Banyumas. Begalan carried out at a wedding ceremony as a means of rejecting reinforcements. Begalan is carried out if the marriage that occurs is a marriage between the eldest child and the eldest child, the youngest with the youngest, or the youngest with the youngest. The presentation of Begalan art is done in the form of dance, dialogue, and song. Companion songs in Begalan art have meaningful lyrics that have various functions. The problem of this research is how the physical structure, inner structure, and function of the accompaniment of Begalan art. The purpose of this study was to find out how the physical structure, inner structure, and function of the accompaniment of Begalan art. The approach used in this study is an objective approach. The data in this study are Begalan art accompaniment text. The data source of this research is the accompaniment of Begalan art itself. Based on the analysis, it is known that the physical structure of Begalan art accompaniment consists of sound elements, divided into initial rhyme, middle rhyme, and final rhyme where the dominant one is the middle rhyme. The peculiarities of songs are seen in the song vocal accompaniment. Diction consists of connotations, denotations, concrete words, and archaic words. Banyumasan's typical words make the peculiarities of Begalan's artistic songs unique. Figurative language in songs, namely metaphor, personification, and synekdoke. The images in Beglana's art are in the form of visual images, auditory images, touching images, taste images, and motion images. The inner structure of the accompaniment of Begalan art includes themes, poets' feelings, tone, atmosphere, message, and meaning. The dominant theme in the accompaniment of Begalan art is the theme of human life. The dominant feeling conveyed by poets is feeling hopeful. The tone or dominant attitude of the accompaniment of Begalan art is the tone of giving advice. The atmosphere that is much depicted in Begalan art accompaniment is an atmosphere of hope. The dominant mandate is reflected in the accompanying song Begalan art is a mandate about human life. The meaning of art accompaniment songs dominant dominant about meaning in human life. Through the inner structure we can know the function of the song. The function contained in the accompanying song Begalan art is the function of song as an advice, song as a referee, and song as a criticism and suggestion. Based on data analysis, it is known the peculiarities of art accompaniment songs Begalan which makes Begalan art songs different from other songs. Structural-semiotic analysis research is possible to be re-analyzed using theory and point of view that is different from what has been done by researchers.

Page 4 of 23 | Total Record : 230