cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 230 Documents
SERAT NITIK BAYUNAN DALAM KAJIAN FILOLOGIS Ilafi, Afiliasi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29063

Abstract

Tujuan dari penelitian ini menyajikan teks Serat Nitik Bayunan mulai dari kodikologi, transliterasi, suntingan teks dan terjemahan. Data yang diteliti adalah teks Serat Nitik Bayunan. Sumber data untuk penelitian ini merupakan naskah Serat Nitik Bayunan. Naskah ini merupakan naskah tunggal yang diperoleh di Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta dengan kode naskah SMP-RP 58 dan tebal 20 halaman. Metode yang digunakan adalah metode naskah tunggal edisi standar sedangkan terjemahan menggunakan terjemahan bebas. Penelitian ini menghasilkan edisi teks yang sahih menurut kajian filologis. Adapun di dalam penyajiannya menyertakan komentar, aparat kritik dan terjemahan dalam bentuk bahasa Indonesia. Teks Serat Nitik Bayunan menceritakan silsilah dari Gusti Kanjeng Ratu Pambayun yang merupakan putri dari Paku Buwana VII yang mempunyai nama kecil Gusti Sekar Kedhaton. Selain menceritakan silsilah keluarga inti (silsilah asal usul ayah dan ibunya) juga menceritakan tentang pantangan sang Adipati Warga Utama dari Banyumas yang melarang anak dan keturunannya untuk tidak melakukan empat hal, yakni tidak diperbolehkan memakan pindang banyak, tidak dibolehkan memakai bebed rejeng, tidak diperbolehkan duduk di sisi dipan  dan tidak diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan ataupun berpergian di hari Sabtu Pahing. Pada saat naskah Serat Nitik Bayunan dibuat, Gusti Kanjeng Ratu Pambayun berusia 89 tahun lebih 6 bulan 13 hari.  The purpose of this research is to present the text of the Nitik Bayunan Fiber from codicology, transliteration, text editing and translation. The data studied is the text of Bayunan Nitik Fiber. The data source for this research is the Nitik Bayunan Fiber text. This text is a single text obtained at the Radya Library of Surakarta Library with SMP-RP 58 script code and 20 pages thick. The method used is a standard edition single script method while the translation uses free translation. This study produced a valid edition of the text according to philological studies. The presentation includes comments, criticisms and translations in the form of Indonesian. Bayitik Nitik Fiber Text tells the story of Gusti Kanjeng Ratu Pambayun who is the daughter of Paku Buwana VII who has the first name Gusti Sekar Kedhaton. In addition to telling the genealogy of the nuclear family (genealogy of the father and mother) also tells about the taboos of the Duke of the Main Citizens from Banyumas which forbids children and their offspring from doing four things, namely not allowed to eat lots of rice, not allowed to use bebed rejeng, not allowed to sit on the side of the divan and not allowed to do work or travel on Saturdays Pahing. At the time the text of the Bayunan Nitik Fiber was made, Gusti Kanjeng Ratu Pambayun was 89 years old over 6 months 13 days.
KEBERADAAN AJARAN BATHARA KATONG DI KALIWUNGU KENDAL Nur Uyun, Fella Sufa Nimasnuning
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29064

Abstract

Bathara Katong merupakan salah satu leluhur yang menyiarkan agama Islam di Kaliwungu. Penghargaan Kaliwungu sebagai kota santri tidak terlepas dari peran penting Bathara Katong, warna masyarakat Kaliwungu yang religius hingga saat ini merupakan salah satu pengaruh ajaran Bathara Katong. Data penelitian ini berupa ajaran Bathara Katong yaitu tradisi lisan dan tradisi bukan lisan. Sumber data penelitian ini adalah data dari informan yaitu juru kunci makam Sunan Katong di Kaliwungu, juru kunci tempat sembahyang Sunan Ampel (nama lain Sunan Katong) di Kendal kota, tokoh masyarakat Kaliwungu, tokoh masyarakat Kendal, dan masyarakat umum Kaliwungu. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu ajaran Bathara Katong di Kaliwungu ada yang masih rutin dijalankan, dan ada yang sudah jarang dilaksanakan, namun sebagian besar masyarakat Kaliwungu tidak mengetahui bahwa ajaran tersebut merupakan ajaran Bathara Katong. Ajaran Bathara Katong di Kaliwungu penting untuk dilestarikan tidak hanya oleh masyarakat Kaliwungu namun juga oleh tokoh masyarakat, masyarakat Kaliwungu harus berani mengakui bahwa warna masyarakat Kaliwungu hingga saat ini merupakan hasil perjuangan leluhur seperti Bathara Katong. Abstraks Bathara Katong is one of the ancestors who broadcast Islam in Kaliwungu. The Kaliwungu award as a city of santri is inseparable from the important role of Bathara Katong, the color of the religious Kaliwungu community to date is one of the influences of the teachings of Bathara Katong. This research data is in the form of Bathara Katong teachings namely oral traditions and traditions rather than oral. The data sources of this research are data from informants namely the caretaker of the tomb of Sunan Katong in Kaliwungu, the caretaker of the prayer place of Sunan Ampel (another name is Sunan Katong) in Kendal city, Kaliwungu community leaders, Kendal community leaders, and the Kaliwungu general public. The data collection of this study uses observation, interview, and documentation techniques. Then the data obtained were analyzed using qualitative descriptive analysis method. The results of this study are the teachings of Bathara Katong in Kaliwungu which are still routinely carried out, and some are rarely implemented, but most of the Kaliwungu people do not know that the teachings are the teachings of Bathara Katong. The Bathara Katong teaching in Kaliwungu is important to be preserved not only by the Kaliwungu community but also by community leaders, the Kaliwungu community must dare to admit that the colors of the Kaliwungu community up to now are the result of ancestral struggles such as Bathara Katong.
CERITA RAKYAT DI KABUPATEN BANJARNEGARA Nursa?ah, Khotami
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29066

Abstract

Cerita rakyat merupakan kekayaan budaya dan sejarah Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat berisi kisah tentang kejadian atau asal muasal suatu tempat. Cerita rakyat merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Di setiap daerah pasti terdapat cerita  rakyat yang harus dijaga dan dilestarikan, namun saat ini banyak generasi muda yang tidak mengetahui cerita rakyat dari daerahnya. Seperti di Banjarnegara, banyak cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut yang belum diketahui oleh masyarakat khususnya generasi muda, maka perlu dilakukan inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara untuk didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana langkah-langkah inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara, (2) Bagaimana hasil inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah dan hasil inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori folklor Danandjaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif inventarisasi. Penelitian ini menghasilkan simpulan, (1) langkah-langkah inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dilakukan melalui jalur formal dan nonformal. Jalur formal ditempuh dengan survei di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, sedangkan jalur nonformal ditempuh dengan observasi di Kecamatan Banjarmangu, Kecamatan Batur, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Purwareja Klampok dan Kecamatan Sigaluh, dimana terdapat cerita rakyat Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Dumadine Desa Banjarmangu, Mulabukane Batur, Raden Sam Hoong, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, dan Dumadine Desa Sigaluh. Data cerita rakyat yang telah didapatkan kemudian ditranskripkan dalam bentuk tulisan; (2) hasil inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara berupa transkrip wacana cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dalam bentuk tulisan berbahasa Jawa ragam Banyumas yang mencakup cerita Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Raden Sam Hoong, Dumadine Desa Sigaluh, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, Mulabukane Batur, dan Dumadine Desa Banjarmangu. Berdasarkan hasil penelitian, perlu adanya studi lanjut dan penyusunan cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dalam bentuk buku cerita berbahasa Jawa.  Folklore is one of Indonesian cultural heritage and history. It usually tells about a phenomena or the origin of a place. Folklore is a verbal story which has been lived for a longtime in a society?s tradition. There will be folklore to be conserved in most of area, nevertheless so many young generations who don?t know their own folklore. For example in  Banjarnegara, so many folklores develop and grow unnoticed by the people especially the youth, so it is important to do such folklore inventory at  Banjarnegara to be documented in form of written folklore. The problem in this research were: (1) how were the steps in folklore inventory process at  Banjarnegara?, (2) how is the result of the folklores inventory at  Banjarnegara? The aim of this research was to describe the steps and result of folklore inventory at  Banjarnegara. The theory used in this research war folklore theory from Danandjaja. This research used objective approach. Descriptive inventory was applied as the research method. From this research, it could be concluded that (1) the step in folklore inventory was done using formal and informal ways. Survey at Tourism and Culture Department of  Banjarnegara was employed in the formal way, while informal way was done by work on some observation at Banjarmangu, Batur, Punggelan, Purwareja Klampok, and Sigaluh, where there were so many folklores such as Mulabukane Kabupaten  Banjarnegara, Dumadine Desa Banjarmangu, Mulabukane Batur, Raden Sam Hoong, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, and Dumadine Desa Sigaluh. The gained folklore data then being transcribed.; (2) the folklore inventory result at  Banjarnegara   was in form of   transcribed Banjarnegara-styled Javanese folklore which included the story of Mulabukane Kabupaten  Banjarnegara, Raden Sam Hoong, Dumadine Desa Sigaluh, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, Mulabukane Batur, dan Dumadine Desa Banjarmangu. From the research result, there should be an advanced research and folklore composition in a form of Javanese story book at Banjarnegara.
Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Tegal dalam Kumpulan Cerkak Tegalan Warung Poci Karya Dr. Maufur Ningtyas, Siska Aditya; Astuti, Eka Yuli; M.Pd., Widodo
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 2 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i2.29085

Abstract

This study aims to describe the forms of retention of the Javanese language in the Tegal dialect in the cerkak of Tegalan Warung Poci by Dr. Maufur. This research produces forms of retention of Javanese Tegal dialect, namely forms of active language retention and forms of passive language retention by recording it on a data card. Forms of active language retention in the form of the use of words with Tegal dialect that are rarely used in daily life include: basic word forms, forms of affixed words, forms of reduplication, forms of reduplication with implications, and forms of clay saroja. The passive language retention form shows the use of foreign language elements in fragments of Tegal dialect which includes the use of basic words, affixed words, phrases, reduplication, affixed reduplication, and translation of foreign language words (Indonesian and English) into the Tegal dialect that refers to language error or interference. The translation shows that the Tegal dialect is dynamic because it raises elements of the foreign language in the sentence fragment with the aim of creating communicative sentences and giving a different color to the use of the Tegal dialect.Keyword: language maintenance; Tegal dialect; Warung Poci
Penamaan Motif Tenun Troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara (Kajian Etnolinguistik) ., Zuliati; Kurnia, Ermi Dyah
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 2 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i2.29086

Abstract

Troso Weaving is a wealth of ancestral heritage that must always be preserved so as to strengthen the nation's identity. In addition, Troso weaving can be a container for various activities that have a positive impact on society. Troso Weaving is not just an aesthetic handicraft product, but also has a function contained in the names of Troso woven motifs. This research aims to: 1) The description of the shape of the lingual unit in Troso woven motifs in Troso Village, Pecangaan District, Jepara Regency. 2) Description of the lexical and cultural significance of Troso woven motifs in Troso Village, Pecangaan District, Jepara Regency. 3) Description of the language function of the cultivation of Troso woven motifs in Troso Village, Pecangaan District, Jepara Regency. It can be concluded that 1) Based on the shape, the names of Troso woven motifs are in the form of words and phrases. 2) Based on the meaning, the names of Troso woven motifs have a lexical meaning and a cultural meaning. 3) Based on the language function, the names of Troso weaving motifs are as a form of respecting the names of characters, as a form of identity, describing flora, depicting fauna, as a form of religious symbolization, as a symbol of calculation, describing the attitude of mutual cooperation, showing social status, showing technology, describe traditional arts, describe ecologically, and as a source of inspiration.Keywords: form, lexical meaning, cultural meaning, language function, names of woven motifs
WANDANING RINGGIT WACUCAL DALAM KAJIAN FILOLOGIS Dewi, Candi Asri
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 2 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i2.29092

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah sajian berupa deskripsi naskah Wandaning Ringgit Wacucal, transliterasi dan suntingan naskah Wandaning Ringgit Wacucal, serta terjemahan teks Wandaning Ringgit Wacucal. Data dan sumber data penelitian ini adalah naskah Wandaning Ringgit Wacucal yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta. Metode yang digunakan adalah metode naskah tunggal. Terjemahan naskah Wandaning Ringgit Wacucal menggunakan terjemahan bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah Wandaning Ringgit Wacucal merupakan naskah tunggal. Sebelumnya telah dijelaskan naskah Wandaning Ringgit Wacucal merupakan naskah kedua, disebutkan naskah pertama pada katalog Nancy K Florida tersimnpan di Keraton Surakarta. Setelah dilakukan penelusuran naskah yang dimaksudkan tidak ditemukan. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3B Universitas Indonesia juga menyebutkan terdapat naskah dengan keterangan salinan dari dua naskah yang terdapat di Surakarta dengan judul Pratelanipun Wandaning Ringgit Wacucal. Setelah dilakukan penulusuran data dari segi usia yang lebih muda dan kelengkapan yang kurang naskah tersebut tidak digunakan dan tetap menggunakan naskah Wandaning Ringgit Wacucal. Naskah tersebut hanya terdapat di Museum Radya Pustaka Surakarta dengan kode penyimpanan SMP-RP 244, tebal 28 halaman, dituliskan dengan aksara Jawa, menggunakan bahasa Jawa dan ditulis dalam bentuk prosa. Naskah Wandaning Ringgit Wacucal berisi tentang deskripsi bagian-bagian tubuh wayang, mulai dari bentuk wajah, bentuk tubuh, hingga bentuk gelungan. Penelitian ini menghasilkan edisi teks yang sahih menurut kajian filologis.  Aparat kritik disertakan dan teks ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Peneliti menemukan kendala dalam menyajikan naskah Wandaning Ringgit Wacucal di antaranya adalah terdapatnya kata-kata dalam bahasa pewayangan yang sukar untuk diartikan ke bentuk bahasa Indonesia.  The purpose of this study was a presentation in the form of a description of the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript, transliteration and edits of the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript, as well as the translation of the Wandaning Ringgit Wacucal text. Data and data sources of this study are Wandaning Ringgit Wacucal manuscripts which are stored in the Radya Library of Surakarta Museum. The method used is a single script method. Translation of the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript uses free translation. The results showed that the Wandaning Ringgit Wacucal manuscript was a single text. Previously explained the Wandaning Ringgit Wacucal text was the second manuscript, mentioned the first manuscript in the Nancy K Florida catalog hidden in the Surakarta Palace. After searching the manuscript intended is not found. The Master Catalog of Archipelago Manuscripts Volume 3B Universitas Indonesia also mentions that there is a text with a description of copies of two manuscripts in Surakarta with the title Pratelanipun Wandaning Wacucal Ringgit. After searching the data in terms of younger age and lack of completeness, the manuscript was not used and continued to use the Wandaning Ringgit Wacucal text. The manuscript is only available at the Radya Museum Surakarta Library with a SMP-RP 244 storage code, 28 pages thick, written in Javanese script, using Javanese and written in prose. The Wacucal Ringgit Manuscript contains a description of the body parts of the puppet, starting from the face shape, body shape, to the shape of the coil. This study produced a valid edition of the text according to philological studies. Critical apparatus is included and this text is translated in Indonesian. The researcher found an obstacle in presenting the Wandanucan Ringgit manuscript, including the presence of words in puppet language which are difficult to interpret into Indonesian.
CITRA PEREMPUAN DAN BIAS GENDER DALAM NOVEL JUMINEM DODOLAN TEMPE KARYA TULUS SETIYADI Aisyah, Siti Nur; Widodo, Widodo
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.31478

Abstract

Novel Juminem Dodolan Tempe karya Tulus Setiyadi memiliki keunikan tentang perempuan berperan ganda yang menyeimbangkan peran domestik dan publik serta bagaimana ia menghadapi bias gender. Hal ini nampak pada perjuangan Juminem dalam menyeimbangkan peran domestik publik dan sikapnya menghadapi bias gender. Tujuan penelitian ialah menemukan, menganalisis, dan mendeskripsikan citra perempuan idaman dan sikapnya dalam menghadapi persoalan dalam kontruksi sosial bias gender. Penelitian menggunakan pendekatan objektif dengan teori citra perempuan dan bias gender. Data penelitian ini adalah bagian novel yang mengandung citra dan bias gender, sedangkan sumber data penelitian adalah novel Juminem Dodolan Tempe. Pengumpulan data dilakukan secara pembacaan semiotik, heuristik. Analisis data dilakukan secara pembacaan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat citra fisik, citra psikis, dan citra sosial terhadap tokoh perempuan; 2) sikap tokoh menghadapi bias gender dalam novel yang meliputi marginalisasi, stereotip, subordinasi, kekerasan, dan beban kerja. Beberapa citra Juminem ialah cantik, ulet, sabar, tegas, dan ngemong. Beberapa citra Mbok Joyo Pangat ialah perempuan yang mengunggulkan materi, sombong, dan kerja keras. Beberapa citra Minah ialah modern dan suka bepergian. Juminem mampu membela diri ketika ia dituduh jualan ?tempe? oleh suaminya sendiri. Minah mampu mematahkan stereotip bahwa perempuan yang suka bepergian adalah perempuan buruk. Mbok Joyo Pangat memiliki kemampuan seimbang antara bekerja dan merawat anaknya meskipun ia janda.
FAKTA DAN FUNGSI SOSIAL NOVEL TRAH KARYA ATAS S DANUSUBROTO Abani, Marientha Hera
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.32779

Abstract

Novel Trah  karya Atas S. Danusubroto menceritakan kehidupan pelacur. Kebiasaan Danusubroto menceritakan kondisi di lingkungan sekitarnya. novel ini mengangkat permasalahan yang cukup detail. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fungsi Danusubroto menulis novel Trah ditinjau dari konteks sosial pengarang dan fakta sosial. Penelitian menggunakan pendekatan sosiologi sastra, dan metode dialektik. Data yang digunakan berupa kata atau frasa yang mengandung fakta dan fungsi sosial, biografi pengarang, dan fakta sosial di luar teks yang berkaitan dengan latar penulisan novel Trah. Metode pengumpulan data menggunakan teknik baca, catat, dan studi pustaka, sedangkan metode analasis data menggunakan metode  deskriptif analitik. Hasil penelitian novel Trah ditulis sebagai bentuk kritik penulis terhadap pemerintah sebagai imbas dari krisis ekonomi tahun 2008. Novel Trah berisi kritik terhadap pola pikir masyarakat yang cenderung mengandalkan harta warisan orang tuanya. Kritik-kritik tersebut disampaikan dalam bentuk dialog antar tokoh, dan didasarkan dari konteks sosial pengarang serta fakta sosial. Fakta-fakta sosial yang terdapat dalam novel Trah adalah masalah kemiskinan, pengangguran, pelacuran, dan harta warisan.
LEGENDA ASAL USUL NAMA-NAMA DESA DI KECAMATAN KEMANGKON KABUPATEN PURBALINGGA Noviyanti, Dwi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.33139

Abstract

Legenda terjadinya desa-desa di Purbalingga tidak lepas dari berbagai cerita dan mitos yang dipercaya masyarakat pendukungnya. Cerita tersebut hidup dan menjadi salah satu pelengkap akan rasa kepemilikan desa oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan cerita legenda asal-usul nama desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga, dan (2) mendeskripsikan faktor yang melahirkan asal-usul nama desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kualitatif dengan melalui pendekatan folklore, data diperoleh dari sumber data lisan hasil observasi, wawancara mendalam, perekaman dan pendokumentasian yang disajikan dalam bentuk deskripsi. Teknik pemaparan hasil data dilakukan dengan teknik informal. Hasil dari penelitian ini dapat ditemukan (1) deskripsi cerita legenda asal-usul nama desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. (2) faktor yang mempengaruhi legenda asal-usul penamaan desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Faktor-faktor tersebut adalah (a) orang pertama sebagai pelopor, hadirnya seseorang yang datang ke suatu wilayah yang kemudian nama orang tersebut dijadikan sebagai nama desa di wilayah itu; (b) adanya perbedaan cerita, setiap desa memiliki cerita yang berbeda-beda antara desa satu dengan desa yang satunya walaupun dalam satu kecamatan; (c) adanya perlawanan, di Desa Panican ada 3 orang yang melawan harimau saat akan membuka permukiman baru yang kemudian peristiwa tersebut dijadikan nama desa panican (wani karo macan); dan (d) adanya peninggalan, peninggalan yang berada di Desa Kedungbenda yang berupa emas, dari banyaknya harta benda yang berada disana sehingga dijadikan nama desa.
A MITOS CERITA SENDHANG JETAKWANGER DI DESA JETAKWANGER KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN BLORA Suryani, Endang
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 7 No 1 (2019): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v7i1.33383

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna cerita mitos Sendhang Jetakwanger, jenis dan fungsi mitos cerita Sendhang Jetakwanger bagi masyarakat pendukungnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif didukung dengan teori folklor dan mitos. Data penelitian yang digunakan berupa mitos cerita Sendhang Jetakwanger berupa data lisan dan tulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis mitos Sendhang Jetakwanger, yaitu 1) mitos ruang dan waktu kosmos, 2) mitos asal-usul penciptaan, 3) mitos lingkungan. Fungsi mitos cerita Sendhang Jetakwanger, adalah 1) fungsi religius, 2) fungsi sosial budaya, 3) fungsi pendidikan, 4) fungsi ekonomi, fungsi pengembangan wisata daerah.

Page 6 of 23 | Total Record : 230