cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 8 Documents clear
PENGARUH IMPLEMENTASI PROGRAM PRO-SELF TERHADAP KECEMASAN DAN DEPRESI PASIEN KEMOTERAPI Mawardani, Jihanni Mustika; ., Haryani; ., Probosuseno
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.63 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.21

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Kemoterapi menimbulkan efek samping fi siologis dan psikologis. Gejala psikologis yang dapatterjadi berupa kecemasan dan depresi. Masalah psikososial dapat diatasi dengan memfasilitasi peningkatankoping pasien melalui pemberian informasi dan peningkatan sistem dukungan. Program PRO–SELF yangdidesain untuk pasien kanker dewasa meliputi informasi, keterampilan, dan dukungan supaya penderitakanker dapat terlibat mandiri secara efektif dan konsisten dalam mengelola efek samping kemoterapi sehinggakeparahan gejala yang berhubungan dengan penyakitnya atau penanganan penyakitnya dapat diminimalkan.Tujuan: mengetahui pengaruh implementasi Program PRO-SELF terhadap kecemasan dan depresi padapasien kemoterapi. Metode: penelitian quasi eksperimen dengan pre-test-post-test one group design yangmelibatkan 40 responden selama 3 bulan dengan kriteria inklusi semua pasien kemoterapi, berusia kurangdari 65 tahun, nilai skala Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) 0–2. Data dikumpulkan pada bulanJuli–September 2013 di Ruang Penyakit Dalam IRNA 1 RSUP Dr. Sardjito. Kriteria eksklusinya pasien kankeryang memiliki riwayat gangguan psikiatri. Responden diberikan pre-test, kemudian diberikan intervensi olehpeneliti berupa pemberian program PRO-SELF yang terdiri atas pemberian informasi, keterampilan tentangkemoterapi dan pengurangan efek samping kemoterapi, serta pemberian dukungan melalui telepon saatpasien di rumah. Setelah intervensi, responden diberikan post-test dengan jarak waktu 3 minggu dari pretest. Pengukuran kecemasan dan depresi menggunakan kuesioner hospital anxiety depression scale (HADS).Analisis data dilakukan dengan analisis Wilcoxon Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Terdapatperbedaan bermakna tingkat kecemasan pada responden (p=0,001) dari pre-test ke post-test. Tingkat depresitidak bermakna dari pre-test ke post-test (p=0,258). Kesimpulan: Implementasi program PRO-SELF secaraefektif dapat mengurangi kecemasan pasien kemoterapi, tetapi tidak dapat secara efektif mengurangi depresi.Kata Kunci: kemoterapi, kecemasan, depresi, program PRO-SELF.ABSTRACTBackground: Chemotherapy causes physiological and psychological side effects. Psychological symptomsthat can occur are anxiety and depression. Psychosocial problems can be overcame by improved patient copingthrough the provision of information and improved support system. PRO-SELF program that was designedincrease self-care skills for adult patients undergoing cancer therapy includes information, skills, and support socancer patients can be engaged effectively and consistently independent in managing side effect chemotherapy,so the severity of symptoms due to disease or treatment disease can be minimized. Objectives: To identify theeffect of implementation PRO-SELF program to anxiety and depression in chemotherapy patients. Methods:This study used pre-experimental, one-group pre-test-post-test design involving 40 respondents for 3 month,inclusion criteria in this study are all chemotherapy patients, aged less than 65 years, screening patients withEastern Cooperative Oncology Group (ECOG 0–2) scale. Data were collected within July–September 2013 inInternal Injuries IRNA 1 Room RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Exclusion criteria is cancer patients who havehistory of psychiatric disorder. Respondents were given a pre-test, then were given intervention by nursingstudent with provision of information, skills in reducing chemotherapy side effects, and provide support withtelephone when patients are at home. Respondent were given post-test after intervention 3 weeks after pretest. Measurement of anxiety and depression using hospital anxiety depression scale (HADS) questionnairesand analyzed with Wilcoxon test with 95% level of signifi cancy. Results: Decrease respondents anxiety frompre-test to post-test with signifi cancy 0.001, there is signifi cant difference. Depression respondents changedfrom pre-test to post-test with signifi cancy 0.258, that is non-signifi cant difference. Discussion: PRO-SELFprogram effectively reduce anxiety because information, skills, support can reduce anxiety. Conclusions:Implementation of the PRO-SELF program effectively reduce patient anxiety chemotherapy. Yet it can notreduce depression effectively.Keywords: chemotherapy, anxiety, depression, PRO-SELF program.
MAKNA BEBAN DAN SUMBER DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANAK AUTIS: STUDI FENOMENOLOGI ., Dinarti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.436 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.27

Abstract

ABSTRAKAutisme didefi nisikan sebagai suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkutkomunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Anak penyandang autis mempunyai masalahgangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, sensoris, pola bermain, perilaku, dan emosi.Orangtua yang memiliki anak penyandang autis pasti tampak berbeda dari orangtua lainnya.Keberadaan anak autis dengan perilakunya di dalam keluarga menimbulkan stressor tersendiribagi setiap anggota keluarganya. Tujuan penelitian: menguraikan secara mendalam pengalamankeluarga tentang beban dan sumber dukungan keluarga serta makna dalam merawat anak autis.Metode: Desain penelitian metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilanpartisipan dilakukan secara purposive sampling. Sebanyak enam partisipan berpartisipasi padapenelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik wawancara mendalam (indepthinterview) dan menggunakan catatan lapangan ( fi eld note). Hasil wawancara mendalam dan catatanlapangan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil: hasil penelitian penelitian mengidentifi kasitujuh tema, yaitu beban psikologis, beban fi nansial, dukungan sosial, dukungan keluarga, perhatiantanpa pamrih, kecewa terhadap pemberi dukungan, dan takdir. Diskusi: Rekomendasi penelitianadalah perawat dapat meningkatkan kompetensi dalam melakukan pengkajian terhadap kebutuhankeluarga dalam merawat klien dengan autis sehingga semakin tepat dalam memberikan intervensikepada keluarga terutama untuk meningkatkan kemampuan dan meminimalkan beban yangdirasakan keluarga anak dengan autis.Kata Kunci: anak autis, keluarga, beban, sumber dukungan.ABSTRACTAutism is de fi ned as a complex developmental disorder that includes communication, social interactionand imaginative activities. Children with autism have problems in communication, social interaction,sensory processing disorder, play patterns, behaviors and emotions. Parents who have a child withautism will be different from the other parents in every aspect. The existence of a child with autismand his/her behavior are stressor for each member of the family. Objectives: This study is aimedat explain in depth about family’s experience of burden and source of support and their signifi cancefamily in caring for children with autism. Methods: This study employed qualitative method withphenomenological approach. Six participants were taken using purposive sampling. Data werecollected through in-depth interviews and using fi eld notes. The results of in-depth interviews andfi eld notes were analyzed using Colaizzi’s method. Results: The results of the study identifi ed seventhemes, namely psychological burden, fi nancial burden, social support, family support, selfl essattention, disappointment over support giver, and destiny. Discussion: This study recommends thatnurses improve their competence in assessing the needs of family in caring for clients with autism.So that they will provide interventions more precisely to family, particularly to increase competenceand to minimize the burden carried by families of children with autismKeywords: children with autism, family, burden, source of support.
PENGALAMAN ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN HIDROSEFALUS Oktaviani, Mawar; Anggraini, Lina Dewi; Kusumaningsih, Chatarina Indriati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.605 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.22

Abstract

ewline"> ABSTRAKHidrosefalus adalah salah satu penyakit kongenital pada anak yang menyebabkan gangguanpada fase tumbuh kembang. Anak dengan hidrosefalus tentu membuat orangtua merasa khawatirdan memberikan perhatian lebih. Kekhawatiran ini akan memengaruhi orangtua. Pengobatan danperawatan yang panjang menambah beban orangtua yang memiliki anak hidrosefalus. Tujuanpenelitian: mengeksplorasi pengalaman orangtua yang memiliki anak dengan hidrosefalus diSemarang. Metode: metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif, dilakukan mulaitanggal 22 Januari 2016–30 Januari 2016 pada orangtua yang memiliki anak dengan hidrosefalusdi Semarang. Cara pengumpulan data dengan teknik wawancara dan alat pengumpulan data dalampenelitian ini ialah peneliti sendiri yang akan dibantu oleh alat perekam wawancara (tape recorder),fi eld note, alat tulis, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis Colaizzidan diolah dengan program Nvivo versi 10. Jumlah informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang.Metode triagulasi yang digunakan adalah membandingkan hasil wawancara dengan sumber terkait.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan lima tema, yaitu proses berduka, proses perawatan, mekanismekoping orangtua, upaya kesehatan, dan perubahan nilai. Diskusi: Penelitian ini menyarankan untukdapat meminimalkan masalah orangtua yang memiliki anak dengan hidrosefalus.Kata Kunci: hidrosefalus, pengalaman orangtua.ABSTRACTHydrocephalus is one of the congenital diseases in children which causes disorder in their phases ofgrowth and development. A child with hydrocephalus certainly makes parents worried and needs moreattention. Such worry will affect parents. Long treatment and care increase burden of the parentswho have a child with hydrocephalus. Objective: This study is aimed at exploring the experienceof parents who have children with hydrocephalus in Semarang. Methods: This study employed aqualitative method with descriptive phenomenology approach. It was conducted from January 22,2016 until January 30, 2016 on parents who had children with hydrocephalus in Semarang. Date werecollected through interview and using instruments, including tape recorder, fi eld notes, stationeryand interview guidelines. Date were analyzed Colaizzi’s method and processed using NVivo 10.The number of respondens in this study was 8 people. Triangulation method was used to comparethe results of interviews with relevant sources. Results: This study generated 5 themes, namelygrieving process, treatment process, parents’ coping mechanisms, health efforts, and changes invalues. Discussion: It is expected thath this study could minimize problems encountered by parentswho have children with hydrocephalus.Keywords: hydrocephalus, parent’s experience.
CROSS CULTURAL SKALA STIGMA TERKAIT HIV/AIDS PADA MAHASISWA KEPERAWATAN Kustanti, Anita; Wijayanti, Yanri; Rahmat, Ibrahim
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.358 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.23

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Stigma dapat menyebabkan kegagalan atau keterlambatan dalam menangani ataumendiagnosis HIV dan AIDS. Salah satu visi UNAIDS ialah zero stigma. Perawat harus mampumemberikan pelayanan keperawatan bebas stigma dan diskriminasi. Isu nasional yang disarankan olehHPEQ (2012) kepada institusi penyelenggara pendidikan keperawatan 20 persen di antaranya tentangperawatan HIV/AIDS. Namun, terdapat keterbatasan alat ukur kuantitatif untuk mengkaji manifestasistigma terkait HIV/AIDS pada mahasiswa keperawatan. Tujuan: Melakukan pengembangan instrumendengan adaptasi cross cultural dan uji validasi skala stigma sesuai dengan budaya mahasiswa ProgramStudi Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Instrumen ini merupakan adaptasi SHASS yangdikembangkan oleh Diaz dan Neilands (2009). Metode: Deskriptif dengan desain cross sectional,melibatkan 77 responden, dilakukan bulan Juli–September 2015. Uji validitas dengan product moment,uji reliabilitas dengan menggunakan Cronbach’s Alpha. Hasil: 11 domain stigma HIV/AIDS yang terdiriatas 39 pertanyaan menunjukan valid dan reliable dengan nilai r >0,2 dan nilai alpha > 0,7. Diskusi:Pengembangan instrumen dengan adaptasi cross cultural mempunyai beberapa kelebihan; penelitimelakukan adaptasi dan modifi kasi dari instrumen yang sudah pernah dilakukan uji validitas dan reliabilitassebelumnya di negara lain. Keterbatasan penelitian ini hanya melibatkan mahasiswa ilmu keperawatan.Kesimpulan: Skala stigma terkait HIV/AIDS adaptasi dari Spanish HIV Stigma Scale (SHASS) dapatdigunakan sebagai instrumen kuantitatif pada mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan.Kata Kunci: cross cultural, stigma HIV/AIDS, mahasiswa ilmu keperawatan.ABSTRACTBackground: Stigma can lead to failure or delay in handling or diagnosing HIV and AIDS. One visionsof UNAIDS is zero stigma. Nurses have to be able to provide stigma and discrimination-free nursingservices. HPEQ (2012) recommends that institutions of nursing education provide 20% of national issuesconcerning HIV/AIDS care. However, there are limitations on quantitative instruments to assess themanifestation of HIV/AIDS-related stigma in students nursing. Objectives: To develop an instrumentby employing cross-cultural adaptation and validity test for stigma scale in accordance with the cultureof students of Nursing Science Program, Universitas Gadjah Mada. This instrument is an adaptation ofSHASS developed by Diaz and Neilands (2009). Methods: This study employed descriptive method withcross sectional design. It involved 77 respondents and was conducted from July to September 2015. Thevalidity test employed product moment and the reliability test employed Cronbach’s Alpha. Results: 11domains of HIV/AIDS-related stigma, which consisted of 39 questions, indicated that the instrument wasvalid and reliable with an r value of >0.2 and an alpha value of>0.7. Discussion: The development of aninstrument by employing cross-cultural adaptation has several advantages; the researchers adapted toand modifi ed instruments of which their validity and reliability were previously tested in other countries.A limitation of this study is that it only involved students of nursing science. Conclusion: HIV/AIDSrelated stigma scale adapted from the Spanish HIV Stigma Scale (SHASS) can be used as a quantitativeinstrument in students of Nursing Science Program.Keywords: cross-cultural, HIV/AIDS-related stigma, students of nursing science.
STRES KERJA SHIFT MALAM DAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP ., Ahsan; d, Humaera Hafi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.612 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.18

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Tujuan penelitian ini ialah mengetahui adanya hubungan antara stres kerja shiftmalam dan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen,Kabupaten Malang. Metode: Desain penelitian ini ialah penelitian korelasional dengan sampel30 perawat yang bekerja di ruang rawat inap RS Wava Husada tahun 2014, menggunakan teknikpurpose sampling. Hasil data dianalisis dengan uji statistik, yaitu Fisher probability exact test. Hasil:Sebagian besar perawat shift malam berada pada klasifi kasi stres ringan, yaitu 16 perawat atausebanyak 53,3 persen. Sebagian besar berada pada klasifi kasi baik (23 perawat atau sebanyak76,7 persen). Diskusi: Petugas kesehatan disarankan untuk mengetahui efek stres kerja terhadapkinerja perawat sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja perawat. Simpulan: Ada hubunganantara stres kerja shift malam dan kinerja perawat pelaksana.Kata Kunci : kinerja, shift malam, stres kerja.ABSTRACTObjective: This study is aimed at identifying the correlation between stress due to night-shift workand nurse performance in providing nursing care at inpatient wards of Wava Husada Hospital,Kepanjen, Malang Regency. Methods: This study employed correlational design with a sample sizeof 30 nurses working at inpatient wards of Wava Husada Hospital in 2014 and taken using purposesampling. Data were analyzed with using Fisher probability exact test. Results: This study indicatedthat 16 nurses (53.3%) working the night-shift were low level of stress. Most of nurses (23 nurses or76.7%) were in the category of good. Discuss: It is recommended that healthcare workers knowthe effects of work-related stress on nurse performance in order to increase nurse performance.Conclusion: It can be concluded that there is a correlation between stress due to night-shift workand nurse performance.Keywords: performance, night-shift, work-related stress.
HUBUNGAN PERSEPSI LINGKUNGAN PEMBELAJARAN KLINIK DENGAN PERILAKU CARING PADA MAHASISWA PROFESI NERS Layuk, Yenny Tangke; Harjanto, Totok; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.617 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.24

Abstract

ABSTRAKTujuan: Untuk mengetahui hubungan antara persepsi lingkungan pembelajaran klinik dengan perilakucaring pada mahasiswa Profesi Ners. Metode: Subjek penelitian ialah mahasiswa Profesi Ners satuinstitusi pendidikan ners di Yogyakarta pada tahun 2012/2013. Responden penelitian berjumlah 61orang. Alat penelitian yang digunakan ialah kuesioner Clinical Learning Environment and Supervision(CLES) untuk mengetahui lingkungan pembelajaran klinik dan kuesioner Caring Behavior Inventory(CBI) untuk mengetahui perilaku caring. Analisis data menggunakan bivariat korelasi dengan ujikorelasi Pearson. Hasil: Suasana ruang perawatan, gaya kepemimpinan, nilai-nilai keperawatan diruangan, nilai-nilai pembelajaran di ruangan, dan hubungan supervisi paling banyak pada persepsipositif. Subskala gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan persepsi positif paling banyak(98,53 persen). Kecenderungan perilaku caring pada mahasiswa Profesi Ners paling banyak padakategori rendah (41,0 persen). Suasana ruang perawatan (p=0,006) dan nilai-nilai keperawatan diruangan (p=0,004) memiliki hubungan signifi kan dengan perilaku caring pada mahasiswa ProfesiNers. Diskusi: Suasana ruang perawatan yang positif dan semangat tim yang baik di lingkunganklinik yang baik dalam menunjang mahasiswa pada hasil dari pembelajaran klinik. Kedua subskalatersebut memiliki hubungan yang signifi kan pada perilaku caring pada mahasiswa Profesi Ners satuinstitusi pendidikan ners di Yogyakarta. Kesimpulan: Persepsi lingkungan pembelajaran klinik yangberhubungan signifi kan dengan perilaku caring pada mahasiswa Profesi Ners satu institusi pendidikanners di Yogyakarta yaitu subskala suasana ruang perawatan dan nilai-nilai keperawatan di ruangan.Kata Kunci: pembelajaran, klinik, perilaku, caring, profesi.ABSTRACTObjective: To learn about the relationship between the perception of the clinical learning environmentand caring behavior of the nursing internship students of one institution of nursing education inYogyakarta. Material and methods: Subject of the research were nursing internship students of oneinstitution of nursing education in Yogyakarta in 2012/2013. Total of the participants were 61 students.The data was collected using the Learning Environment and Supervision (CLES) instrument to learnabout clinical learning environment and Caring Behavior Inventory (CBI), an instrument to learn caringbehavior. Data was analyzed with using correlation bivariate with Pearson correlation test. Results:The atmosphere of the ward, leadership style, nursing values in the ward, learning values in theward, and the relationship of the supervisor mostly made positive perception. The leadership styleof head nurse of the ward had most positive perception (98,53%). The tendency of caring behaviorof students mostly in low category (41.0%). The atmosphere at the ward (p=0,006) and values ofnursing in the ward (p=0,004) signifi cantly had relation to caring behavior of the nursing internshipstudents of one institution of nursing education in Yogyakarta. Discussion: Positive atmosphere andspirit of the team in the clinical practice fi eld were important to improve outcome of clinical learningfor nursing students. Both sub-scales had signifi cant relation to caring behavior to nursing internshipstudents of one institution of nursing education in Yogyakarta. Conclusion: Perception of clinicallearning environment that signifi cantly related to caring behavior for nursing internship students of oneinstitution of nursing education in Yogyakarta were the atmosphere and the nursing values in the ward.Keywords: learning, clinic, behavior, caring, internship.
PENGEMBANGAN ALAT UKUR BEBAN KERJA MENTAL PERAWAT DALAM INTERAKSI ASUHAN KEPERAWATAN Mediawati, Ati Surya; Nurachmah, Elly; Mansyur, Muchtaruddin; Eryando, Tries
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.627 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.20

Abstract

ABSTRAKKetika melakukan asuhan keperawatan, perawat perlu berinteraksi dengan klien. Interaksi dapatdilaksanakan dengan baik apabila perawatannya mampu beradaptasi dengan beban kerja mentalyang dimanifestasikan ke dalam gejala fi sik, psikologis, dan perilaku yang ditampilkan. Tujuanpenelitian: mengembangkan alat ukur beban kerja mental saat berinteraksi dengan klien dalampemberian asuhan keperawatan. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif analitis. Alatukur dikembangkan dengan menggunakan pendekatan interpretasi terhadap skala interval danskala ordinal yang diisi oleh 596 partisipan yang diproses melalui sebelas case processing data.Penelitian dilaksanakan di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan.Validitas dan reliabilitas variabel persepsi Teruji (p=0,996 sebelum interaksi dan p=0,993 setelahinteraksi), observasi (p=0,844 sebelum interaksi, p=0,711) orientasi (p=0,711), identifi kasi (p=0,769),eksplorasi (p=0,773), resolusi (p=0,820), setelah interaksi (p=0,772), angket klien (p=0,64). Hasil:Hasil pengujian model Con fi rmatory Factor Analysis (CFA) melalui program Lisrel menghasilkanp-value=0,150 (p>0,05) dan RMSEA=0,075 (RMSEA<0,1). Diskusi: Diperlukan dukungan regulasisebagai implikasi dalam penggunaan alat ukur. Simpulan: alat ukur ini vaild dan reliabel sebagaiinformasi diagnostik pengukuran beban kerja mental.Kata Kunci: alat ukur, beban kerja mental, interaksi.ABSTRACTNurses in providing nursing care need to interact with clients. Such interaction can be successfullyperformed if the treatment can adapt to mental workload which is manifested into physical,psychological and behavioral symptoms. Objectives: developing a mental workload instrumentwhen interacting with clients in providing nursing care. Methods: It employed a descriptive analyticmethod. The instrument was developed by employing the approach to the interpretation of scaleinterval and ordinal scale which were fi lled by 596 participants and processed through 11 caseprocessing data. The research was conducted in the provinces of West Java, Central Java, WestSumatra and South Sulawesi. Validity and reliability of the perception variables were tested (p=0.996before the interaction and p=0.993 after the interaction), observation (p=0.844 before the interaction,p=0.711), orientation (p=0.711), identifi cation (p=0.769), exploration (p=0.773), resolution (p=0.820),after the interaction (p=0.772), client questionnaire (p=0.64). Results: The results of Con fi rmatoryFactor Analysis (CFA) usingLisrel software indicated p-value=0.150 (p>0.05) and RMSEA=0.075(RMSEA <0.1). Discussion: Regulatory support is needed as an implication for the use of theinstrument. Conclusion: This instrument is valid and reliable to measure mental workload fordiagnostic information.Keywords: instrument, mental workload, interaction.
STUDI FENOMENOLOGI: RESPONS KECEMASAN KELUARGA SELAMA MENDAMPINGI PASIEN PADA FASE END OF LIFE DI RUMAH SAKIT Avelina, Yuldensia
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.029 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.25

Abstract

ABSTRAKTujuan: Penelitian ini bertujuan menggali makna dari pengalaman respons kecemasan keluargaselama mendampingi pasien pada fase end of life di rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakanmetode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretif. Partisipan dalam penelitian iniberjumlah 6 orang yang diperoleh melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusiyang telah ditetapkan peneliti. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam pada 6anggota keluarga yang selalu mendampingi pasien selama fase end of life di rumah sakit. Prosespengambilan data dilakukan selama 2 minggu. Wawancara mendalam dilakukan selama 30–60menit untuk setiap partisipannya. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan IPA dari Smith.Hasil: Penelitian ini menghasilkan tiga tema, yaitu memiliki pikiran yang tidak menentu tentangkesembuhan pasien, mengalami ketidakstabilan kondisi fi sik, mengalami perasaan hati tidak tenang.Diskusi: Keluarga selama mendampingi pasien pada fase end of life di rumah sakit akan mengalamikecemasan. Kecemasan yang dialami keluarga selama mendampingi pasien pada fase end of lifemerupakan perasaan cemas akan kehilangan orang yang dicintai. Kecemasan tersebut ditunjukkanoleh keluarga melalui respons fisik maupun respons psikologis. Kesimpulan: Respons kecemasanyang diperlihatkan oleh keluarga baik respons fi sik maupun respons psikologis hendaknya menjadiperhatian para petugas kesehatan sehingga keluarga tetap dapat menjalankan perannya denganbaik dalam mendampingi pasien selama berada pada fase end of life di rumah sakit.Kata Kunci: end of life, kecemasan, keluarga, respons.ABSTRACTObjective: This study aims to explore the meaning of experience of family’s anxiety response whenassisting patients in the end-of-life phase in hospital. Methods: The study employed a qualitativemethod with interpretative phenomenological design. There were 6 participants involved in thisstudy obtained through a purposive sampling technique, based on inclusion criteria established byresearcher. Data were collected through in-depth interviews with 6 family members who experiencedanxiety when assisting patients in the end-of-life phase in hospital. They were collected for 2 weeks.In-depth interviews were conducted for 30–60 minutes for each participant. The results were analyzedusing IPA. Results: This study generated 3 themes, namely having an unstable thought aboutpatient’s recovery, undergoing unstable physical condition, having an uneasy feeling. Discussion:When assisting patients in the end-of-life phase in hospital, the family would experience anxiety.Such anxiety was a feeling about the loss of a loved one. It was shown through physical andpsychological response. Conclusion: Anxiety responses shown by families through either physicalor psychological response should be the center of interest for health offi cials so that families can playtheir role well in assisting patients in the end-of-life phase in hospital.Keywords: anxiety, end-of-life phase, family, responses

Page 1 of 1 | Total Record : 8