cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2017)" : 8 Documents clear
Efektivitas Peer Group Diabetes Self Care Education terhadap Diabetes Self Care Activities Pasien DM Tramirta Trendi Iriani; Haryani -; Khudazi Aulawi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.705 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.77

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Pasien diabetes melitus (DM) perlu mengontrol kadar glukosa darah dengan melakukan perawatan DM yang terdiri dari pengobatan, latihan, diet, dan edukasi. Peer group pada pasien DM dimungkinkan membantu perawatan DM. Tujuan penelitian: mengetahui efektivitas peer group diabetes self management education program (DSMEP) terhadap diabetes self-care activities DM tipe 2. Metode: Pre-eksperimental dengan rancangan one group pre-test-post-test design with control group. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dari November-Maret 2013, dengan kriteria inklusi: DM tipe II dan >18 tahun. Jumlah sampel masing-masing 13 pasien untuk kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkan DSMEP, kelompok kontrol mendapatkan edukasi standar. Pretest diberikan sebelum intervensi, post test diberikan sebulan sesudah intervensi. Instrumen The Summary of Diabetes Self-Care Activities (validitas nilai r 0,361, Cronbach’s Alpha 0,847) digunakan untuk mengukur aktivitas perawatan diri. Analisis data menggunakan t-test berpasangan dan tidak berpasangan. Hasil: Kebanyakan responden perempuan, lama pengobatan 10 tahun. Mayoritas pendidikan perguruan tinggi, suku Jawa, Islam, dan menikah. Terdapat perbedaan aktivitas perawatan diri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi antara kelompok intervensi dan kontrol pada komponen pengobatan pasien DM (p=0,005), tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan pada komponen diet (p=0,077), olahraga (p=0,259), tes gula darah (p=0,058), dan perawatan kaki (p=0,309). Kesimpulan: Peer group diabetes self management education program (DSMEP) dapat meningkatkan kemampuan perawatan diri pasien DM tipe 2.Kata Kunci: diabetes, peer group, self care, activitiesEFFECTIVENESS OF PEER GROUP-BASED DIABETES SELF-CARE EDUCATION ONDIABETES SELF-CARE ACTIVITIES IN DM PATIENTSABSTRACTBackground: Diabetic patients need to control their blood glucose level through DM management consisting of medication, exercise, diet, and education. Peer group in DM patients may help DM treatment. Objective: To identify the effectiveness ofpeer group-based diabetes self-management education program (DSMEP) on diabetes self-care activities of type 2 DM. Methods: This study was pre-experimental with one group pre-test-post-test design with control group design. Samples were taken using purposive sampling from November to March 2013, with inclusion criteria of DM type II and >18 years old. The sample size was 13 patients for each of the intervention and control group. The intervention group received DSMEP, while the control group received standard education. Pretest was given before the intervention and posttest was given a month after the intervention. The Summary Instrument of Diabetes Self-Care Activities (validity value r>0.361, Cronbach’s Alpha=0.847) was used to measure self-care activities. Data were analyzed using paired and unpaired t-test. Results: Most of the respondents were female and received more than 10years of treatment. The majority of the respondents were tertiary educated, Javanese, Islamic, and married. There was a difference in self-care activity before and after intervention between the intervention and control groups in the component of DM patient treatment (p=0.005), but there was no significant difference in the components of dietary (p=0.077), exercise (p=0.259), blood sugar test (p=0.058), and foot care (p=0.309). Conclusion: Peer group-based diabetes self-management education program (DSMEP) can improve self-care ability of type 2 diabetes patients.Keywords: diabetes, peer group, self-care, activities
Pengaruh Madu terhadap Frekuensi Batuk dan Napas Serta Ronkhi pada Balita Pneumonia Diah Ayu Agustin; Nani Nurhaeni; Nur Agustini
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.792 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.82

Abstract

ABSTRAKBalita pneumonia mengalami batuk, napas cepat, dan ronkhi. Madu memiliki efek antimikroba dan antibodi yang dapat menghambat pertumbuhan agen mikroba penyebab pneumonia. Tujuan penelitian: mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap frekuensi batuk, frekuensi napas, dan ronkhi balita pneumonia. Metode: Desain penelitian quasi-experimental: pre-test-post-test, non-equivalent control group. Jumlah sampel 34 balita berdasarkan rumus besar sampel kategorik berpasangan. Kelompok intervensi sejumlah 17 orang, diberikan madu murni 2,5 cc 30 menit sebelum anak tidur malam (± pukul 18.00) selama 3 hari. Kelompok kontrol sejumlah 17 orang diberikan air putih 2,5 cc 30 menit sebelum anak tidur malam (± pukul 18.00) selama 3 hari. Pengukuran hasil penelitian dilakukan pada hari pertama sebelum perlakuan dan hari keempat setelah perlakuan. Instrumen yang digunakan ialah timer, stetoskop, lembar observasi, dan kuesioner. Analisis data bivariat berpasangan menggunakan marginal homogenity, pair t test, dan Mc Nemar. Analisis data bivariat tidak berpasangan menggunakan Kolmogorov Smirnov, Fisher exact, dan independent t test. Hasil: Hasil penelitian menemukan adanya pengaruh yang bermakna pada pemberian madu terhadap frekuensi batuk (p=0,001), frekuensi napas (p=0,0001), dan ronkhi (p=0,012) antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Kesimpulan: Rekomendasi penelitian ialah perlu menerapkan pemberian madu pada balita pneumonia untuk menurunkan batuk, frekuensi napas, dan ronkhi.Kata Kunci: balita pneumonia, frekuensi batuk, frekuensi napas, madu, ronkhi.EFFECT OF HONEY ON FREQUENCY OF COUGH, RESPIRATION AND RHONCHI IN UNDER-FIVE CHILDREN WITH PNEUMONIAABSTRACTUnder-five children with pneumonia experience cough, rapid breathing, and rhonchi. Honey has antimicrobial and antibody effects which can inhibit the growth of pneumonia-causing microbial agents. Objective: To identify the effect of honey on frequency of cough, respiration, and rhonchi in under-five children with pneumonia. Methods: This study employed quasi- experimental research with pretest-posttest, non-equivalent control group. The number of samples of 34 under-five children based on the formula of categorical paired samples. The intervention group numbering 17 people was given 2.5 cc ofpure honey 30 minutes before the child slept at night (± 06:00pm) for 3 days. The control group numbering 17people was given 2.5 cc ofwater 30 minutes before the child slept at night (± 06:00pm) for 3 days. The study results were measured on the first day before treatment and the fourth day after treatment. The instruments used were timer, stethoscope, observation sheet, and questionnaire. Paired bivariate data were analyzed using marginal homogeneity, pair t test, and Mc Nemar. Unpaired bivariate data were analyzed of using Kolmogorov-Smirnov, Fisher’s exact, and independent t-test. Results: The study results found a significant effect of giving honey on frequency of cough (p=0.001), frequency of respiration (p=0.0001), and rhonchi (p=0.012) between the control group and the intervention group. Conclusion: This study recommends to give honey to under-five children with pneumonia to decrease cough, frequency of respiration, and rhonchi.Keywords: under-five children with pneumonia, frequency of cough, frequency of respiration, honey, rhonchi.
AKUPRESUR EFEKTIF MENGATASI DISMENOREA Abel Zulia; Heni Setyowati Esti Rahayu; Rohmayanti -
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.042 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.78

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: untuk membandingkan efektivitas antara aromaterapi lavender dan akupresur dalam mengatasi dismenorea. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan two group pretest dan posttest design. Penelitian dilakukan di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang tanggal 14 Maret sampai 9 Mei 2015. Sampel sebanyak 44 responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 22 orang sebagai kelompok aromaterapi lavender dan 22 orang sebagai kelompok terapi akupresur. Aromaterapi diberikan secara inhalasi selama 10 menit, dilakukan dua kali sehari selama 3 hari. Akupresur dilakukan pada LI 4 dan ST 36 selama 20 menit sebanyak dua kali sehari selama 3 hari. Instrumen untuk mengukur nyeri menggunakan numeric rating scale. Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney. Hasil: Terdapat perbedaan antara aromaterapi lavender dan terapi akupresur dalam mengatasi dismenore dengan perbedaan penurunan intensitas nyeri terapi akupresur 1,95 lebih besar daripada aromaterapi lavender 1,46 dengan nilai p= 0,002. Diskusi: Terapi akupresur dengan pemijatan atau penekanan pada titik LI 4 dan ST 36 akan meningkatkan kadar endorfin sehingga lebih cepat menurunkan rasa nyeri, sedangkan aroma yang dihirup melalui proses pernapasan baru merangsang kinerja otak dan dipengaruhi oleh dalamnya pernapasan. Kesimpulan: Terapi akupresur lebih efektif dalam mengatasi dismenorea daripada aromaterapi lavender.Kata Kunci: dismenorea, aromaterapi lavender, akupresurEFFECTIVENESS OF ACUPRESSURE IN TREATING DYSMENORRHOEA ABSTRACTObjective: To compare the effectiveness of lavender aromatherapy and acupressure in treating dysmenorrhea. Methods: This study is a quasi-experiment with two group pretest and posttest design. The study was conducted at the Faculty of Health Sciences, Muhammadiyah University of Magelang on 14 March 2015 to 9 May 2015. Samples consisting of 44 respondents were divided into two groups, namely 22 in lavender aromatherapy group and 22 in acupressure therapy group. Aromatherapy was given through inhalation for 10 minutes, done twice a day for 3 days. Acupressure was performed on LI 4 and ST 36 for 20 minutes, twice a day for 3 days. Numerical rating scale was usedfor measuring pain. The statistical test usedMann-Whitney test. Results: There was a difference between lavender aromatherapy and acupressure therapy in treating dysmenorrhea with a decrease in the intensity ofpain of acupressure therapy by 1.95, which was greater than lavender aroma by 1.46 with p = 0.002. Discussion: Acupressure therapy with massage or pressure on the points of LI 4 and ST 36 would increase endorphin levels so that it would quickly relieve pain, while the inhaled scent through the breathing process only stimulated brain’sperformance and was affected by the depth of breathing. Conclusion: Acupressure therapy is more effective in treating dysmenorrhea than lavender aromatherapy.Keywords: dysmenorrhea, lavender aromatherapy, acupressure
Hubungan Pengetahuan Ibu dan Pola Pemberian Makanan Terhadap Status Gizi Anak Usia Toddler Fitriana Noor Khayati; Ririn Munawaroh
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.922 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.83

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: untuk menganalisis hubungan pengetahuan ibu tentang gizi balita dan pola pemberian makanan terhadap status gizi anak usia toddler. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun di Desa Kunden, Karanganom, Klaten. Sampel berjumlah 56 orang yang diambil dengan teknik concecutive sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2016. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner pengetahuan ibu tentang status gizi, kuesioner pola pemberian makanan, timbangan berat badan, serta stature meter. Pengukuran status gizi menggunakan indeks BB/TB. Analisis data menggunakan uji koefisien kontingensi untuk mengetahui korelasi. Hasil: Ibu yang memiliki pengetahuan tentang gizi balita cukup baik sejumlah 41,1% dan ibu yang memiliki pengetahuan tentang pola pemberian makanan baik sejumlah 78,6%. Balita di Desa Kunden sebagian besar memiliki status gizi normal, yaitu sejumlah 62,5%. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan pengetahuan ibu (p=0,166) dan pola pemberian makanan (p=0,313) terhadap status gizi balita (a=0,05). Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi anak usia toddler dan pola pemberian makanan terhadap status gizi anak usia toddler.Kata Kunci: pengetahuan ibu, pola pemberian makanan, status gizi, toddlerCORRELATION OF MOTHER’S KNOWLEDGE AND FEEDING PATTERN WITH NUTRITIONAL STATUS IN TODDLERSABSTRACTObjective: to analyze the correlation of mother’s knowledge about toddler’s nutrition and feeding pattern with nutritional status of toddlers. Methods: This research was analytical descriptive with cross sectional approach. The population was mothers who had children aged 1-3 years in Kunden, Karanganom Village, Klaten. Samples consisted of 56 people taken using consecutive sampling technique. The research was conducted in June-July 2016. The instruments used were a questionnaire of mother’s knowledge about nutritional status, feeding pattern questionnaire, body weight scales, and stature meter. The nutritional status was measured using Weight/Height index. Data were analyzed using contingency coefficient test to figure out the correlation. Results: 41.1% of mothers had relatively good knowledge about nutrition of toddler and 78.6% mothers had good knowledge about feeding pattern. 62.5% of toddlers in Kunden Village mostly had normal nutritional status. The results of statistical test showed that there was no correlation of mother’s knowledge (p=0.166) andfeeding pattern (p=0.313) with nutritional status of toddles (a=0.05). Conclusion: There is no correlation of mother’s knowledge about toddlers’ nutrition and feeding pattern with nutritional status of toddlers.Keywords: mother’s knowledge, feeding pattern, nutritional status, toddlers
TINGKAT KESEPIAN DENGAN DEPRESI PADA LANSIA DI DUKUH TRAYEMAN, BANTUL, YOGYAKARTA Eliyana -
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.871 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.79

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui hubungan antara tingkat kesepian dan tingkat depresi pada lansia di Dukuh Trayeman, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Metode: Desain penelitian deskriptf korelasi dengan menggunakan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan responden dilakukan menggunakan non-probability sampling dengan teknik purposive sampling sehingga didapatkan 50 responden dengan usia di atas 60 tahun dan tinggal di komunitas. Pengambilan data dilakukan secara langsung sejak tanggal 2-16Agustus 2016 dengan menggunakan kuesioner University California of Los Angeles Loneliness Scale dan Geriatric Depression Scale. Analisis data menggunakan uji korelasi Kendal Tau. Hasil: Penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat kesepian dan tingkat depresi pada lansia di Dukuh Trayeman, Pleret, Bantul, Yogyakarta dengan p=0,001 di mana nilai korelasi mencapai 0,892. Hal ini bermakna terdapat hubungan yang sangat kuat dengan arah positif di antara kedua variabel. Diskusi: Pada masa lanjut usia akan terjadi banyak kemunduran, baik fisik maupun psikologis. Beberapa kemunduran psikologis yang terjadi seperti kesepian dan depresi yang dapat memicu terjadinya penyakit yang kompleks apabila tidak segera diatasi. Kesimpulan: Tingkat kesepian pada lansia merupakan hal yang sangat berkaitan dengan kejadian depresi pada lansia. Maka dari itu, sedini mungkin tingkat kesepian yang terjadi pada lansia harus segera diatasi karena semakin tinggi tingkat kesepian yang dialami oleh lansia, semakin tinggi juga tingkat depresi yang akan terjadi.Kata Kunci: kesepian, depresi, lansia, komunitas.CORRELATION BETWEEN LONELINESS LEVEL AND DEPRESI IN THE ELDERLY ATTRAYEMAN HAMLET, BANTUL, YOGYAKARTAABSTRACTObjective: This research was conducted to identify the correlation between loneliness level and depression level in the elderly at Trayeman Hamlet, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Methods: This study is descriptive correlational by using cross sectional approach. Samples were taken using non-probability sampling with purposive sampling technique with a sample size of 50 respondents aged above 60 years and living in the community. Data were collected directly from 2 August 2016 until 16 August 2016 using University California of Los Angeles Loneliness Scale and Geriatric Depression Scale. The data were analyzed using Kendal’s Tau correlation test. Results: This study showed that there was a significant correlation between loneliness level and depression level in the elderly at Trayeman Hamlet, Pleret, Bantul, Yogyakarta with p = <0.001 where the correlation value was 0.892. This means there was a very strong correlation with positive direction between the two variables. Discussion: The elderly will experience significant setbacks, either physical and psychological. The psychological setbacks include loneliness and depression which can lead to complex diseases, unless they are addressed immediately. Conclusion: Loneliness level in the elderly is strongly correlated with depression in elderly. Therefore, the loneliness level in the elderly should be addressed as early as possible because the higher the loneliness level experienced by the elderly, the higher the of depression level will occur. Keywords: loneliness, depression, elderly, community.
Pengaruh Relaksasi Religius terhadap Penurunan Tingkat Insomnia pada Lansia Di PSLU Bondowoso Trisna Vitaliati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.347 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.80

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidenfikasi pengaruh relaksasi religius terhadap penurunan tingkat insomia di PSLU Bondowoso. Metode: Metode penelitian yang digunakan ialah quasi experimental dengan pendekatan pre-post test control group design menggunakan instrumen Insomnia Rating Scale, dilakukan pada kelompok intervensi (n=31) dan kelompok kontrol (n=31). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan skor rerata perubahan tingkat insomnia pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Pada hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai p-value=0,021 sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi relaksasi religius berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan tingkat insomnia pada lansia. Diskusi: Relaksasi religius akan membuat seseorang merasa tenang sehingga kemudian menekan kerja saraf simpatis dan mengaktifkan kerja sistem saraf parasimpatis. Perlakuan relaksasi religius cukup efektif untuk memperpendek waktu dari mulai merebahkan tubuh hingga tertidur dan mudah memasuki tidur. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi religius yang dilakukan dapat membuat lebih relaks sehingga kesulitan ketika mengawali tidur dapat diatasi dengan perlakuan ini. Kesimpulan: Teknik relaksasi religius efektif menurunkan tingkat insomnia pada lansia sehingga program ini disarankan dapat diterapkan pada lansia sebagai bagian dari program kesehatan lansia.Kata Kunci: insomnia, lansia, relaksasi religius.EFFECT OF RELIGIUS RELAXATION ON DECREASING INSOMNIA LEVEL IN THE ELDERLY AT PSLU BONDOWOSOABSTRACTObjective: This study aims to identify the effect of religious relaxation on decreasing insomnia level at PSLU Bondowoso. Methods: This study was quasi-experimental with pre-posttest control group design using Insomnia Rating Scale and was conducted on intervention group (n=31) and control group (n=31). Data were analyzed using univariate and bivariate. Results: The results of the study indicated the average score of changes in insomnia levels in intervention group and control group. The results ofMann-Whitney test indicated p-value=0.021 so it could be concluded that religious relaxation therapy significantly affected the decrease in insomnia levels in the elderly. Discussion: Religious relaxation will make a person feel calm, which will then press the work of sympathetic nervous and activate the work of the parasympathetic nervous system. The treatment of religious relaxation is effective to shorten the time from lying down to falling asleep and easily entering into sleep. This proves that religious relaxation can make a person more relaxed so that difficulty when initiating sleep can be overcome by this treatment. Conclusion: Religious relaxation technique is effective in decreasing insomnia levels in the elderly so that this program is recommended to be applied in the elderly as a part of elderly health program.Keywords: insomnia, elderly, religious relaxation
Progressive Muscle Relaxation dan Slow Deep Breathing pada Penderita Hipertensi Niken Setyaningrum; Iman Permana; Falasifah Ani Yuniarti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.579 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.81

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: untuk mengetahui efektivitas teknikprogressive muscle relaxation dan slow deep breathing terhadap peningkatan kualitas tidur dan penurunan tingkat stres. Metode: penelitian ini menggunakan quasi experimental design with comparison group. Pengambilan sampel penelitian menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Gamping 2 Yogyakarta. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 responden dengan pembagian sampel masing-masing 20 responden pada kelompok intervensi, kelompok kontrol 1, dan kelompok kontrol 2. Pengambilan data dilakukan pada bulan April sampai Juni 2015. Instrumen penelitian ini menggunakan PSQI (Pittburgh Sleep Quality Index) untuk mengukur kualitas tidur dengan nilai validitas 0,89 dan reliabilitas sebesar 0,73, sedangkan PSS (Perceived Stress Scale) untuk mengukur tingkat stres dengan nilai validitas 0,85 dan reliabilitas sebesar 0,75. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Anova dilanjutkan uji post-hoc Bonferroni. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi, kelompok kontrol 1, dan kelompok kontrol 2 terhadap peningkatan kualitas tidur (p = 0,025). Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi, kelompok control 1 dan kelompok kontrol 2 terhadap penurunan tingkat stres (p = 0,009). Diskusi: Hipertensi berkaitan dengan kualitas tidur dan tingkat stres karena berhubungan dengan respons saraf simpatis. Jika tidak diidentifikasi dengan baik, hal tersebut dapat memperburuk kondisi penderita hipertensi. Hipertensi dapat dikontrol dengan terapi nonfarmakologi menggunakan teknik relaksasi progressive muscle relaxation dan slow deep breathing. Kesimpulan: teknik progressive muscle relaxation efektif untuk meningkatkan kualitas tidur dan slow deep breathing efektif untuk menurunkan tingkat stres.Kata Kunci: hipertensi, kualitas tidur, tingkat stres, progressive muscle relaxation, slow deep breathingPROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION AND SLOW DEEP BREATHING IN HYPERTENSION PATIENTSABSTRACTObjective: to identify the effectiveness of progressive muscle relaxation and slow deep breathing on improving sleep quality and decreasing stress levels. Methods: This study employed quasi experimental design with comparison group. Samples were taken using purposive sampling. The study was conducted in the working area of Puskesmas (Public Health Center) Gamping 2 Yogyakarta. The sample size was 60 respondents with 20 respondents in each of the intervention group, control group 1, and control group 2. Data were collected from April to June 2015. The research used PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) to measure the quality of sleep with a validity value of 0.89 and a reliability value of 0.73 and PSS (Perceived Stress Scale) to measure stress levels with a validity value of 0.85 and a reliability value of 0.75. Data were analyzed using Anova and followed by using Bonferroni post-hoc test. Results: There were significant differences between intervention group, control group 1, and control group 2 in the sleep quality improvement (p=0.025). There were significant differences between intervention group, control group 1 and control group 2 in the decreased stress levels (p=0,009). Discussion: Hypertension is related to sleep quality and stress levels because it is associated with sympathetic nerve response. Unless they are well identified, they may worsen the condition of patients with hypertension. Hypertension can be controlled with non-pharmacological therapy using progressive muscle relaxation and slow deep breathing relaxation. Conclusion: Progressive muscle relaxation is effective to improve sleep quality and slow deep breathing is effective to reduce stress level.Keywords: hypertension, sleep quality, stress level, progressive muscle relaxation, slow deep breathing
PENGARUH PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI BALITA DAN POLA PEMBERIAN MAKANAN TERHADAP STATUS GIZI BALITA Fitriana Noor Khayati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.39

Abstract

Tujuan penelitian : untuk menganalisa pengaruh pengetahuan ibu tentang gizi balita dan pola pemberian makanan terhadap status gizi balita. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun di Desa Kunden, Karanganom. Sampel berjumlah 56 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2016. Analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil: Ibu yang memiliki pengetahuan tentang gizi balita cukup baik 41,1% dan pola pemberian makanan ibu yang baik 78,6%. Balita di Desa Kunden sebagian besar memiliki status gizi normal yaitu 62,5%. Hasil uji Chi Square menunjukkan tidak ada pengaruh pengetahuan ibu (p=0,113) dan pola pemberian makanan (p=0,503) terhadap status gizi balita (α=0,05). Diskusi: Status gizi balita selain dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan pola pemberian makan, dipengaruhi juga oleh faktor genetik.  Kesimpulan: Tidak ada pengaruh antara pengetahuan ibu tentang gizi balita dan pola pemberian makanan terhadap status gizi balita.Kata Kunci: pengetahuan ibu, pola pemberian makanan, status gizi, balita

Page 1 of 1 | Total Record : 8