cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 24 No. 2 (2018)" : 7 Documents clear
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PADA JARINGAN PIPA TRANSMISI CRUDE OIL DI PERUSAHAAN MIGAS Megahapsari Martaningtyas; Herto Dwi Ariesyady
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.1

Abstract

Abstrak: Kegiatan operasi di bidang migas telah banyak dilakukan, baik itu dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta. PT. X merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, pengolahan serta produksi minyak dan gas bumi di Indonesia yang menggunakan sistem perpipaan dalam proses distribusinya. Penggunaan sistem perpipaan sebagai sarana untuk menyalurkan produk minyak dan gas dianggap lebih efektif dan efisien dari segi kapasitas dan jarak yang ditempuh. Proses penyaluran di area utara PT. X menggunakan fasilitas jalur pipa offshore dan onshore sebagai sarana distribusi produksi minyak mentah. Apabila terjadi kegagalan pada jalur pipa maka dapat mengakibatkan dampak kerugian yang besar seperti kebocoran, tumpahan, dan ledakan. Oleh karena tingginya potensi bahaya dan risiko tersebut maka perlu dilakukan penilaian risiko pada sistem perpipaan yang digunakan, termasuk risiko pada jaringan pipa transmisi crude oil. Pada penelitian ini dilakukan analisis risiko dengan pendekatan loss prevention and risk assessment yang dikembangkan oleh Muhlbauer (2004). Hasil penelitian ini menunjukkan faktor risiko yang paling besar memberikan kontribusi terhadap kemungkinan kegagalan jalur pipa transmisi minyak 18 inci dari A platform sampai S terminal adalah faktor kerusakan oleh pihak ketiga. Segmen pipa yang paling berisiko untuk mengalami kegagalan yang menyebabkan kebocoran tertinggi adalah pada segmen pipa offshore. Sedangkan faktor konsekuensi dengan nilai dampak tertinggi adalah pada segmen riser. Analisis risiko ledakan atau kebakaran dengan metode Dow's F & EI pada pipa transmisi memiliki nilai sebesar 113,168 dengan kategori intermediate. Hasil tersebut menyatakan bahwa pihak manajemen perusahaan harus memperhatikan dan mengawasi secara lebih seksama pada jaringan pipa transmisi, sehingga dapat melakukan tindakan mitigasi risiko secara cepat apabila terjadi kegagalan pipa. Kata kunci: crude oil, Dow's F & EI, metode Muhlbauer, pipa transmisi, risk assessment Abstract: Oil and gas operations have been carried out widely, both managed by the government and private parties. PT. X is one of the companies engaged in the exploration, processing and production of oil and gas in Indonesia that used pipeline system in the distribution processes of oil and gas. The use of pipeline systems was considered more effective and efficient in terms of capacity and distance passed by to distribute oil and gas. The operation processes in the northern area of PT. X use offshore and onshore pipeline facilities to distribute crude oil. The event of a failure on the pipeline can cause major loss impacts such as leaks, spills and explosions. The high potential hazards and risks need to be carried out by risk assessment on the pipeline system used, including the risks in the transmission pipeline network of crude oil. In this research, risk analysis with loss prevention and risk assessment approach developed by Muhlbauer (2004), is measured using semi-quantitative pipeline risk on third party index of damage index, corrosion, pipe design, improper operation. The results of this study indicate that the biggest risk factor contributing to the possibility of failure of the 18-inch oil transmission pipeline from A platform to S terminal is the damage factor by third parties. The pipe segment which is most at risk for failure which causes the highest leakage is in the offshore pipeline segment. Whereas the consequence factor with the highest impact value is in the riser segment. Explosion or fire risk analysis with Dow's F & EI method on transmission pipes has a value of 113.168 with an intermediate category. The results stated that the management of the company must pay close attention to and supervise the transmission pipeline network, so that it can carry out risk mitigation actions quickly if a pipe failure occurs. Keywords: crude oil, Dow's F & EI, Muhlbauer method, risk assessment, transmission pipe
ANALISIS POLA VARIABILITAS OZON STRATOSFER DAN BAHAN PERUSAK OZON SERTA PENGARUHNYA TERHADAP INDEKS UV DI WILAYAH INDONESIA TERKAIT PROTOKOL MONTREAL Riris Ayu Wulandari; Kania Dewi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.2

Abstract

Abstrak: Ozon pada lapisan stratosfer berperan sebagai pelindung dari radiasi ultraviolet. Penggunaan bahan perusak ozon (BPO) pada kegiatan manusia membuat berkurangnya konsentrasi ozon stratosfer. Adanya Protokol Montreal dapat mengontrol produksi dan konsumsi BPO. Meskipun demikian, beberapa penelitian menyatakan bahwa konsentrasi ozon stratosfer masih belum meningkat. Konsentrasi BPO yang berada di lapisan stratosfer (berupa BrO dan ClO) perlu diamati secara temporal dan spasial dengan menggunakan data satelit (sensor Microwave Limb Sounders (MLS) satelit Aura) sehingga ruang lingkup pengamatannya dapat lebih lama dan lebih luas. Lebih lanjut, konsentrasi ozon stratosfer yang rendah dapat mengakibatkan tingginya indeks UV (UVI). Penelitian ini difokuskan untuk wilayah Indonesia dari tanggal 1 Januari 2005 hingga 31 Januari 2017, dengan melakukan perhitungan korelasi antara BPO dan ozon stratosfer. Dari pembuatan profil vertikal, didapat bahwa konsentrasi ozon maksimum berada di ketinggian 10 hPa (31 km), konsentrasi BrO maksimum pada 31,6 hPa (24 km), dan konsentrasi ClO maksimum pada 2,1 hPa (42 km). Korelasi antara ozon dan BrO paling kuat (-0,58) berada pada ketinggian 6,8 hPa atau 33,5 km. Sementara itu, korelasi antara ozon dan ClO yang paling kuat (-0,43) berada pada ketinggian 4,6 hPa atau 36 km. Kaitan antara UVI dan ozon stratosfer dengan nilai korelasi negatif terbesar (-0,5987) berada pada ketinggian 1 hPa atau 47,7 km. Sementara itu, pengurangan jumlah ozon total di atmosfer cukup mempengaruhi UVI dengan korelasi negatif sebesar -0,25. Kata kunci: ozon stratosfer, BPO, indeks UV, MLS/Aura Abstract: Ozone in the stratospheric layer acts as a protector of ultraviolet radiation. The use of ozone- depleting substances (ODS) in human activities has reduced the concentration of stratospheric ozone. The existence of the Montreal Protocol can control ODS production and consumption. Nonetheless, several studies suggest that stratospheric ozone concentration has not increased. ODS concentrations in the stratosphere layer (in the form of BrO and ClO) need to be observed temporally and spatially using satellite data (Microwave Limb Sounders (MLS) Aura satellite sensor) so that the scope of observation can be longer and wider. Low stratospheric ozone concentrations can result in a high UV (UVI) index. This study focused on Indonesia from January 1, 2005 to January 31, 2017, by calculating the correlation between ODS and stratospheric ozone. From the vertical profile, it was found that the maximum ozone concentration was at 10 hPa (31 km), maximum BrO concentration at 31.6 hPa (24 km), and maximum ClO concentration at 2.1 hPa (42 km). The strongest correlation between ozone and BrO (-0.58) occur at 6.8 hPa or 33.5 km. Meanwhile, the strongest correlation between ozone and ClO (-0.43) occur at 4.6 hPa or 36 km. The greatest negative correlation between UVI and stratospheric ozone (-0.5987) occurred at 1 hPa or 47.7 km. Meanwhile, the reduction in total ozone in the atmosphere affected increasing of UVI with a negative correlation of -0.25. Keywords: stratospheric ozone, ODS, UV index, MLS/Aura
OPTIMASI PELAYANAN DAN PENINGKATAN PENDAPATAN PDAM MELALUI PENGEMBANGAN KAPASITAS DISTRIBUSI AIR BERSIH PADA WILAYAH BERDAYA BELI TINGGI Muliani Rosmayasari; Rofiq Iqbal
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.3

Abstract

Abstrak: PDAM Kota Pekalongan merupakan perusahaan yang memiliki fungsi ganda yaitu sebai perusahaan yang profit oriented dan juga public service dimana kedua fungsi tersebut harus mampu mencapai keseimbangan karena mempunyai hubungan kausalitas yang erat dalam menjaga eksistensi usaha yang dijalankan. Tambahan suplai air bersih pada tahun 2019 sebesar 150 l/d yang akan diperoleh PDAM dari SPAM Regional Petanglong merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk melakukan meningkatkan skala pelayanan melalui pengembangan jaringan saluran distribusi sekaligus meningkatkan pendapatan PDAM. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah yang berdaya beli tinggi. Dari hasil survey yang dilakukan terhadap 285 responden non pelanggan jenis niaga di 10 kelurahan yang menjadi sasaran pengembangan diketahui 38,25% responden berminat untuk menjadi pelanggan PDAM. Pemilihan wilayah sasaran optimasi yang dilakukan berdasarkan parameter BEP menunjukan Kelurahan Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip dan Bendankergon merupakan wilayah yang memberikan BEP lebih cepat dari 8 tahun. Analisis optimasi menunjukan hasil kapasitas air bersih yang diperlukan untuk optimasi golongan niaga di wilayah berdaya beli tinggi adalah 2,1 l/d dari 150 l/d kapasitas tambahan yang diterima PDAM. Pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah berdaya beli tinggi mampu meningkatkan pendapatan PDAM sebesar Rp 604.610.849/tahun dengan peningkatan profit margin sebesar 1,25% dibandingkan sebelum adanya pengembangan. Analisa ekonomi berdasarkan analisis BCR diperoleh nilai BCR >1, nilai NPV positif dan IRR sebesar 14% dimana berarti proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan. Kata kunci: optimasi, distribusi air bersih, pendapatan, PDAM Kota Pekalongan Abstract: PDAM Pekalongan City is a company that has a dual function, profit oriented and public service, where both functions must be able to achieve balance because it has a close causality relationship in maintaining the existence of the business being run. The additional 150 l/s water supply that will be obtained by PDAM in 2019 from the Regional SPAM Petanglong is an opportunity for companies to increase service scale through the development of distribution channel networks while increasing PDAM revenues. One effort that can be done is by developing clean water distribution capacity in areas with high purchasing power. From the results of a survey conducted on 285 respondents, non-commercial customers in the 10 urban villages that were targeted for development, 38.25% of respondents were interested in becoming PDAM customers. The selection of the optimization target area based on BEP parameters shows Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip and Bendankergon villages are areas that provide BEP faster than 8 years. Optimization analysis shows that the results of clean water capacity needed for optimization of commercial groups in high purchasing power areas are 2.1 l/s from 150 l/s of additional capacity received by the PDAM. Development of clean water distribution capacity in high purchasing power areas can increase PDAM revenue by IDR 604,610,849/ year with an increase in profit margin of 1.25% compared to before the development. Economic analysis based on BCR analysis obtained BCR> 1 value, positive NPV value and IRR of 14% which means the project is declared feasible to be implemented. Keywords: optimization, distribution of clean water, revenue, PDAM Kota Pekalongan
IDENTIFIKASI TINGKAT PENGURANGAN SAMPAH DENGAN ADANYA PROGRAM KAWASAN BEBAS SAMPAH Yuke Djulianti; Siti Ainun
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.4

Abstract

Abstrak: Kawasan Bebas Sampah (KBS) merupakan salah satu program Kota Bandung dalam upaya pengurangan sampah. Salah satu Rukun Warga (RW) di Kelurahan Kebon Pisang Kota Bandung yaitu RW 7 merupakan salah satu wilayah yang sudah termasuk Kawasan Bebas Sampah sejak tahun 2015 dan sudah menerapkan pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, dan recycle) yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengurangan sampah dengan adanya program Kawasan Bebas Sampah di RW 7. Pengukuran timbulan sampah dan komposisi sampah dilakukan berdasarkan SNI 19-3964-1994. Total Timbulan sampah RW 7 Kelurahan Kebon Pisang didapatkan sebesar 758.7 kg/hari atau 5816.7 liter/hari dengan satuan timbulan sampah yaitu 0.45 kg/orang/hari atau 3.45 liter/orang/hari. Berdasarkan hasil pengukuran timbulan sampah yang tereduksi dari upaya-upaya pengurangan sampah yang telah dilakukan, didapatkan hasil dengan adanya program Kawasan Bebas Sampah dalam upaya pengurangan sampah di RW 7 Kelurahan Kebon Pisang ini mencapai tingkat pengurangan sampah sebesar 16.43% terhadap total timbulan sampah RW 7 Kelurahan Kebon Pisang. Kata kunci: Program Kawasan Bebas Sampah, Timbulan Sampah, Tingkat Pengurangan Sampah. Abstract: Kawasan Bebas Sampah (KBS) is one of Bandung City programs as an effort for waste reduction. One of the Rukun Warga (RW) in Kebon Pisang Bandung, RW 7, is one of the Kawasan Bebas Sampaharea since 2015 and has implementing the 3R (reduce, reuse, and recycle) based waste management, independently by the community. The purpose of this research is to identify the level of waste reduction with the existence of the Kawasan Bebas Sampah program in RW 7. Waste quantity and waste composition measurement is carried out based on SNI 19-3964-1994. Waste quantity total of RW 7 Kebon Pisang is obtained at 758.7 kg / day or 5816.7 liters / day with a waste quantity unit of 0.45 kg / person / day or 3.45 liters / person / day. Based on the results of measurements of reduced waste generation from waste reduction efforts that have been made, the results obtained with the Kawasan Bebas Sampah program in efforts to reduce waste in RW 7 of Kebon Pisang District reach a level of waste reduction of 16.43% of the total waste generation of RW 7. Keywords: Kawasan Bebas Sampah Program, Waste Generation, Waste Reduction Level.
PEMANFAATAN HASIL PENGOLAHAN SLUDGE PRODUCED WATER INDUSTRI LNG SEBAGAI FERTILIZER ATAU PEMBENAH TANAH Sena Andhika; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.5

Abstract

Abstrak: Perkembangan industri minyak dan gas berbanding lurus dengan jumlah limbah yang dikeluarkan, mengakibatkan semakin banyaknya industri migas yang bermasalah dengan limbah sludge dalam jumlah besar yang bahaya terhadap. Salah satu solusi adalah pemanfaatan sludge tersebut menjadi produk lain. Limbah LNG memiliki kandungan C organik yang tinggi hal ini memungkinkan jika limbah LNG dapat dimanfaatkan menjadi fertilizer atau pembenah tanah yang sesuai dengan PERMENTAN 70/2011. Dalam penelitian ini metode yang dilakukan untuk proses pemanfaatan yaitu static aerated biopile. Proses tersebut menggunakan aerasi statik dengan tambahan daun kering sebagai bukling agent dengan perbandingan volume efektif 1:3 (Gilang.2014). Hasilnya kompos yang dihasilkan mempunyai kandungan C-organik 36,80% ,C/N 22,64 dan parameter lain yang memenuhi PERMENTAN 70/2011. Pengamatan pada uji efektifitas hasil kompos, menunjukan dosis optimum pada tanaman uji Pakchoy (Brassica rapa L) dan rumput gajah (Pennisetum purpureum Schaum) masing-masing adalah sebesar 30% dan 50%. Kandungan logam berat pada tanaman uji dan media tanam pasca panen masih berada konsentrasi yang normal dan berada di bawah batas yang diperbolehkan. Uji TCLP dan Toksisitas terhadap biosludge hasil olahan menunjukan bahwa materi ini tidak berbahaya dan tidak memberikan dampak negatif yang berarti terhadap lingkungan. Kata kunci: Static aerated biopile, sludge, fertilizer, pembenah tanah, uji efektivitas tanaman. Abstract: The development of the oil and gas industry goes line in line to the amount of the waste produced, resulting in the increasing number of oil and gas industry who have problems with sludge in large amounts which may harm the environment. LNG waste has a high content of organic C, causing the C/N ratio is high too, this might be possible if sludge can be utilized as fertilizer or soil conditioner that suit the standards of PERMENTAN 70/2011. The method used in the manufacturing process product is called static aerated biopile. Static aerated is used in that process by adding dried leaves as bukling agent with an effective volume ratio of 1: 3 (Gilang.2014). The compost produced has a C-organic content of 36.80%, C / N 22.64, and other parameters according PERMENTAN 70/2011. Observations on the effectiveness compost test, shows the optimum dose at Pakchoy test plants (Brassica rapa L) and elephant grass (Pennisetum purpureum Schaum) respectively by 30% and 50%. The content of heavy metals in plants growing media test and post-harvest remained normal concentration and were below the exposure limits. TCLP test and toxicity of the biosludge processed results show that this material is not harmful and does not give a significant negative impact on the environment. Keywords: Static aerated biopile, sludge, fertilizer, soil conditioner, test the effectiveness of plan.
EVALUASI EFLUEN PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK KOMUNAL UNTUK KEMUNGKINAN PEMAKAIAN SEBAGAI AIR DAUR ULANG Fanny Kusumawati; Emenda Sembiring; Marisa Handajani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.6

Abstract

Abstrak: Terdapat tiga tujuan utama pemanfaatan air daur ulang yang dapat dipraktekkan pada tujuh objek studi IPAL komunal, yaitu untuk pertanian, perikanan, dan kebutuhan umum yang meliputi air pencucian kendaraan, penyiraman taman, air flushing toilet, dan suplai air pemadam kebakaran. Evaluasi terhadap performa dan kualitas efluen dari IPAL Cimanggung, Wangisagara, Bogor, Karawang, Cingised, Muara Baru,  dan  Pulo  Gebang  perlu  dilakukan  untuk  mengetahui  kelayakan  sebagai  sumber  air  daur  ulang. Indonesia belum memiliki regulasi yang mengatur praktik air daur ulang, maka perlu disusun baku mutu air daur ulang yang akan digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi IPAL komunal. Proses penyusunan dilakukan dengan analisa konten terhadap standar internasional, baku mutu air daur ulang negara lain, dan NSPM penggunaan air bersih dan pengolahan air limbah yang berlaku di Indonesia sehingga tersusun longlist parameter.  Lalu  pembuatan  kuesioner  untuk  memperoleh  shortlist  parameter,  yang  hasilnya  divalidasi melalui FGD dengan mengundang pakar air daur ulang dari ITB, LIPI, Dinas KLH, Kementerian Pertanian, Diskimrum, dan Kementerian Pekerjaan Umum, hingga menghasilkan draft Acuan Baku Mutu Air Daur Ulang. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kualitas efluen IPAL Cingised dan Pulo Gebang sudah memenuhi acuan baku mutu air daur ulang hasil analisis dan dapat digunakan untuk tujuan pemanfaatan pertanian, perikanan dan kebutuhan umum. IPAL komunal lainnya perlu pengembangan terhadap sistemnya dengan pilihan rekomendasi teknologi yang  diusulkan  dari hasil analisis  menggunakan  metode  Simple Additive Weighting: IPAL Cimanggung (1.Filtrasi), IPAL Wangisagara (1.Filtrasi, 2.Koagulasi flokulasi, 3.Adsorpsi,4.RO), IPAL Bogor (1.Koagulasi flokulasi, 2.Adsorpsi, 3.RO), IPAL Karawang (1.Koagulasi flokulasi, 2. Adsorpsi, 3.RO), IPAL Muara Baru (1.Koagulasi flokulasi, 2.Adsorpsi, 3.RO). Kata kunci: baku mutu, daur ulang, limbah domestik, IPAL komunal, pemilihan teknologi Abstract: There are three main objectives for the use of reclaimed water which can be practiced on seven objects of communal WWTP studies, namely for agriculture, fisheries, and general use which include vehicle washing water, garden watering, toilet water wetting, and firefighting water supply. The performance and quality  evaluation  of  Cimanggung,  Wangisagara,  Bogor,  Karawang,  Cingised,  Muara  Baru,  and  Pulo Gebang WWTP were conducted to determine the feasibility of being a reclaimed water source. Indonesia has no regulations on reclamation water, it is necessary to establish reclamation water quality standards that will be used as a reference in evaluating communal WWTPs. The design process is carried out by analyzing content against international standards, reclamation water quality standards in other countries, and NSPM using clean water and wastewater treatment in Indonesia so that a longlist of parameters is compiled. Then the questionnaire was made to get a shortlist of parameters, the results were then validated through the FGD by inviting wastewater experts from ITB, LIPI, Ministry of Environment, Ministry of Agriculture, Diskimrum, and Ministry of Public Works, to produce Reference of  Reclaimed Water Standard Quality. Evaluation results indicate that the effluent quality of the Cingised WWTP and Pulo Gebang meets the Reference of Reclaimed  Water Standard  Quality and  can  be  used  for agriculture,  fisheries and  general  use.  Other communal WWTPs require the development on its system with technology recommendations from result analysis using the Simple Additive Additive method: IPAL Cimanggung (1. Filtration), IPAL Wangisagara (1. Filtration, 2. Coagulation-flocculation, 3. Adsorption, 4.RO), Bogor IPAL ( 1. Coagulation-flocculation,2. Adsorption, 3.RO), Karawang Karawang (1. Coagulation-flocculation, 2. Adsorption, 3.RO), New WWTP Estuary (1. Coagulation-flocculation, 2. Adsorption, 3. RO). Keywords: communal WWTP, domestic wastewater, quality standard, reclaimed water, technology selection
ANALISIS FAKTOR PENANGANAN DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI JATINANGOR Muhammad Hafizh Khoeroni; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.7

Abstract

Abstrak: Kawasan Jatinangor yang termasuk ke dalam kawasan Cekungan Bandung dan tergolong sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) menuntut pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai sentral kawasan pendidikan tinggi dan perumahan. Empat instansi pendidikan tinggi yang terdapat di kawasan ini yang menyebabkan berdatangannya para pendatang mahasiswa sekurangnya 30 ribu jiwa yang akan berdomisili beberapa tahun di Kecamatan ini. Jika diasumsikan 70% dari total populasi pendatang tersebut bertempat tinggal di Jatinangor yang mana pendatang tersebut memiliki tingkat konsumsi tinggi, ditambah dengan predikat Jatinangor sebagai kecamatan terpadat di kabuxpaten Sumedang maka akan mengakibatkan tingkat produktivitas sampah yang meningkat pesat dan diikuti dengan perubahan karakteristik sampah yang dihasilkan. Akibatnya sampah menjadi surplus dan tidak terkelola dengan baik akibat keterbatasan SDM dan sistem pengelolaan yang sederhana. Pada riset akan diukur tingkat pernanganan sampah oleh masyarakat di Jatinangor di 3 kawasan yaitu Hegarmanah, Cintamulya, dan Jatiroke yang ditinjau melalui 5 variabel (keadaan masyrakat, sarana prasarana, pembiayaan, peran pemerintah, dan kelembagaan. Pada kawasan Hegarmanah mendapatkan skor akhir 0,2/1 dan Cintamulya 0,25/1 yang memberikan predikat "Kurang Baik" pada kedua kawasan tersebut. Sementara kawasan Jatiroke bernilai -0,12/-1 yang memberikan predikat "Buruk" dan perlu penanganan lebih lanjut. Secara rerata Jatinangor memiliki nilai 0,1/1 dan mengindikasikan perlunya perbaiikan penanganan sampah oleh masyarakatnya. Selain itu juga diukur tingkat preferensi masyarakat di Jatinangor yang memberikan skor akhir 0,64/1 yang memberikan predikat baik pada tingkat preferensi masyarakat. Didalam penelitian ini akan diungkapkan faktor apa saja yang melatarbelakangi tingkat preferensi masyarakat tersebut berdasarkan buruknya tingkat penanganan sampah di masyarakat pada 3 kawasan tersebut menggunakan analisis faktor dengan metode PCA (Principal Component Analysis) dan regresi multilinear yang menghasilkan 7 dari 13 faktor kelompok variabel penanganan sampah yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat. Serta melalui analisis klaster preferensi masyarakat yang teridentifikasi 2 klaster (rendah & tingi) dengan dominasi 1 faktor kelemahan dan 2 faktor kekuatan pada kedua klaster. Kata kunci: analisis faktor, Jatinangor, PCA, preferensi masyarakat.Abstract: Jatinangor area which belongs to Bandung Basin area and classified as National Strategic Area (KSN) demands government to make the area as central of college and housing area. Four college institutions in this area resulted in the arrival of the student migrants at least 30 thousand inhabitants who will be domiciled for several years in this district. In addition, If it is assumed that 70% of the total migrant population live in Jatinangor where the migrants have a lifestyle with a high consumption level, and Jatinangor as the densest subdistrict in Sumedang district will result in a level of waste productivity that increases rapidly and followed by changes in the characteristics of waste generated. The research will measure the level of garbage handling by the people in Jatinangor in 3 regions, namely Hegarmanah, Cintamulya, and Jatiroke which are reviewed through 5 variables (community conditions, infrastructure, funding, government roles, and institutions. In the Hegarmanah region the final score is 0.2 / 1 and Cintamulya 0.25 / 1 which give the title of "Poor" in the two regions. While the Jatiroke area is worth -0.12 / -1 which gives the title "Bad" and needs further handling. On average, Jatinangor has a value of 0 1/1 and indicates the need to improve the handling of waste by the community. This research also measured the level of preference of the people in Jatinangor. In this study, what factors will lie behind the level of community preference based on the poor level of waste management in the 3 regions using factor analysis using the PCA (Principal Component Analysis) method and multilinear regression which produces 7 of the 13 variable group factors that handle waste. significant effect on the level of people's preference. And through community preference cluster analysis that identified 2 clusters (low & high) with a predominance of 1 weakness factor and 2 strength factors in both clusters. Keywords: community's preference, factor analysis, Jatinangor, PCA.

Page 1 of 1 | Total Record : 7