cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2022)" : 8 Documents clear
Lafaz Al Bai’u Mistlu Al Riba dalam Surah Al Baqarah Ayat 275 Zainuddin, Zainuddin; Zainuddin, Anayya Syadza
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12309

Abstract

This paper discusses the views of the commentators on the lafadz al-bai'u mitslu al-riba in surah al-Baqarah verse 275. Some commentators interpret the word amtsal, as tasybih and majaz, and others interpret it as i'jaz. This paper uses the method of interpretation of tahlili, through the approach of the field of amtsal al-Qur'an, literature research. The main sources are the books of tafsir, with the aim of studying and knowing the lafadz al-bai'u mitslu al-riba according to the mufassirs. So that the economic principles of monotheism, humanity, justice and peace were developed. The conclusion of this article is that Allah deliberately raised the parable of the ignorant, because socio-cultural Arab society and humans in general have a culture that is difficult to abandon the practice of usury until now, even building the image of tasybih maqlūb style that usury and buying and selling are the same in terms of taking more profit.ABSTRAKTulisan ini membicarakan pandangan para mufassir tentang lafadz al-bai’u mitslu al-riba dalam surah al-Baqarah ayat 275. Sebahagian mufassir menafsirkan lafaz amtsal, sebagai tasybih dan majaz, dan lainya memaknai dengan i’jaz. Tulisan ini menggunakan metode penafsiran tahlili, melalui pendekatan bidang amtsal al-Qur’an, penelitian kepustakaan. Sumber utama adalah kitab-kitab tafsir, dengan tujuan untuk mengkaji dan mengetahui lafadz al-bai’u mitslu al-riba menurut para mufassir. Sehingga terbangun prinsip ekonomi ketauhidan, kemanusiaan, keadilan dan kedamaian. Kesimpulan tulisan ini sengaja Allah mengangkat kembali perumpamaan kaum jahiliyah, Sebab secara sosio kultural masyarakat Arab dan manusia pada umumnya memiliki budaya yang sulit meninggalkan praktik riba hingga sekarang, bahkan membangun image gaya tasybih maqlūb bahwa riba dan jual beli itu sama dari segi mengambil nilai lebih keuntungan.
Mengkritisi Teori Naskh dengan Pendekatan Maqashid: Telaah Pemikiran Jasser Auda Latif, Hamdiah
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12393

Abstract

As an important part within the field studies of the Al-Qur'an (‘ulūmul Qur’ān), the theory of annulment (naskh) has been broadly discussed and criticized, either by Ushuliy or Mufassirin, since classical period on possibility of naskh occurrence within Al-Qur’an as well as its types and model as the example. Turning from this point, this article would like to talk about ideas on annulement (naskh) in which is broadly criticized by many contemporary Moslem scholars, i.e. a well known Muslim contemporary scholar from Egypt, Jasser Auda (1966 - now), trough maqashid (purposes of sharia) approach. By using bibliographical studies, this article would like to criticize dig on thoughts proposed and developed by Jasser Auda pertaining to the theory of naskh from the maqasid approach which could help us to get a more comprehensive understanding and discussion dealing with naskh theory in Al-Qur’an.ABSTRAKSebagai bagian penting dalam kajian studi Al-Qur'an ('ulūmul Qur'ān), teori pembatalan (naskh) telah banyak dibahas dan dikritisi secara luas, baik oleh ahli Ushuliy maupun Mufassirin, sejak periode klasik tentang kemungkinan kejadian naskh dalam Al-Qur'an serta jenis dan modelnya sebagai contoh. Berangkat dari poin ini, artikel ini ingin membahas tentang gagasan tentang pembatalan (naskh) yang banyak dikritik oleh para ulama kontemporer, diantaranya oleh seorang sarjana kontemporer Muslim terkenal asal Mesir, Jasser Auda (1966 - sekarang), melalui pendekatan maqashid (tujuan syariah). Dengan menggunakan kajian kepustakaan, artikel ini hendak menggali secara kritis pemikiran-pemikiran yang dikemukakan dan dikembangkan oleh Jasser Auda mengenai teori naskh dari pendekatan maqashid yang dapat membantu kita untuk mendapatkan pemahaman dan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai teori naskh dalam Al-Qur'an. 
Imam Ibnu Qutaibah dan Takwil terhadap Kemusykilan dalam Al-Quran Suhaimi, Suhaimi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12427

Abstract

The study of the Qur'an in its various dimensions has always been actual from classical times to the present. This is marked by the emergence of a number of scholars who are famous for their various works and discuss various aspects related to the content of the holy book, one of which is Ibn Qutaibah who lived in the 3rd century AH with various monumental works such as the book Ta'wil Musykil Al- Quran. In this book, he displays takwil or explanations of various utterances that he considers musykil, so that with the takwil he did, then what was previously considered musykil seen to have become something clearer. The recitation of the pronunciation of the verse he chose not only uses reason alone, but also seen by considering the language factor, so that the recitation does not deviate from the rules of language. His efforts should help us to be more aware of the uniqueness of the language of the Qur'an itself, not even enough to get there, but also he has played an active role in making the people aware of the greatness of the Divine Word which is a guide for all human beings. Although his description musykil covers a lot of themes, but this simple writing only describes a few things, such as related to majaz, isti`arah, al-hazfu, words that have different meanings and related letters ma'ani.ABSTRAKKajian tentang Al-Quran dalam berbagai dimensinya senantiasa aktual sejak zaman klasik hingga kini. Hal ini ditandai dengan munculnya sejumlah ulama yang terkenal dengan berbagai karyanya dan membahas berbagai sisi terkait isi atau kandungan Kitab suci itu, salah satunya adalah Ibnu Qutaibah yang hidup pada abad ke 3 hijriyah dengan berbagai karya monumentalnya antara lain adalah kitab Ta'wil Musykil Al-Quran. Dalam kitab ini, beliau paparkan takwil atau penjelasan terhadap berbagai lafaz yang beliau anggap musykil, sehingga dengan takwil yang beliau lakukan, maka apa yang tadinya dipandang musykil terlihat telah menjadi sesuatu yang lebih jelas. Penakwilan terhadap lafaz ayat yang beliau pilih tidak hanya menggunakan nalar semata, tapi juga terlihat dengan mempertimbangkan faktor bahasa, sehingga takwil yang dilakukan tidak menyimpang dari kaidah bahasa. Upaya yang beliau lakukan kiranya dapat membantu kita untuk lebih menyadari akan keunikan gaya bahasa Al-Quran itu sendiri, bahkan tidak cukup sampai di situ, melainkan juga beliau telah berperan aktif untuk menyadarkan umat akan keagungan Kalam Ilahi yang menjadi petunjuk bagi sekalian manusia itu. Walaupun uraian beliau tentang takwil musykil itu memuat cakupan tema yang cukup banyak, namun tulisan yang sederhana ini hanya memaparkan beberapa hal saja, seperti terkait majaz, isti`arah, al-hazfu, lafaz yang memiliki makna yang berbeda serta terkait huruf ma'ani.   
Hadith dalam Perspektif Muhammad Asad Amir, Ahmad Nabil
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.10981

Abstract

The paper analyse the ideas of hadith (prophetic tradition) as espoused by Muhammad Asad (1990-1992) and its significance in contemporary hadith thought. It studies the essential ideas he developed in his discussion of hadith as reflected in his works such as Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam; Islam at The Crossroads (chapter “Hadith and Sunnah” and “The Spirit of the Sunnah”); This Law of Ours and Other Essays, The Road to Mecca and The Message of the Qur’an. The influence of hadith was also deeply manifested in his “journalistic monologue” Arafat: A Monthly Critique of Muslim Thought, a periodical he founded in 1946 in Kashmir and other works that addresses significance principles and issues of hadith and essays that incorporate rising themes in contemporary ages, such as “Social and Cultural Realities of the Sunnah”. The research was structured based on descriptive, analytical, historical and comparative method. It attempts to analyse the crucial ideas of hadith principles brought forth by Asad and compared these with other critical views set forth of classical Muslim traditionists. The study concluded that Muhammad Asad had significantly contributed to the revival and development of hadith in the modern world with his profound translation and commentary of al-Bukhari’s Sahih – Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam - that extensively survey the significant tradition of hadith and its intellectual and historical manifestation over centuries. He also responded to the traditional arguments by historians and orientalists who were sceptical of the historical authenticity of hadith narrative and tradition.ABSTRAKMakalah ini menyorot fikrah hadith Muhammad Asad (1990-1992) dan kontribusinya dalam pemahaman hadith kontemporer. Ia membincangkan kefahaman asas tentang hadith yang dirumuskan dalam karya-karyanya seperti Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam; Islam at The Crossroads (bab “Hadith and Sunnah” dan “The Spirit of the Sunnah”); This Law of Ours and Other Essays; The Road to Mecca dan The Message of the Qur’an. Pengaruh hadith ini turut ditinjau daripada artikelnya dalam jurnal Arafat dan makalahnya yang lain terkait tema-tema hadith dan sunnah dan pemahaman serta cabarannya di abad moden, seperti tulisannya “Social and Cultural Realities of the Sunnah”. Reka bentuk kajian adalah bersifat deskriptif, analitis, historis dan komparatif. Kajian cuba mengembangkan ide dan fikrah hadith yang dirumuskan Asad dari perspektifnya yang moden dan membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sejarah yang krusial terkait prinsip hadith yang dibawakan oleh pemikir Islam yang lain. Dapatan kajian menyimpulkan bahawa Muhammad Asad telah memberikan sumbangan yang penting dalam pemikiran hadith di abad moden dengan hasil penulisannya yang prolifik dan substantif, termasuk terjemahan dan syarahannya yang ekstensif terhadap Sahih al-Bukhari yang memuatkan komentar-komentar yang baru dan analisis sejarahnya yang mendalam terhadap kitab ini. Ia merumuskan pertentangan-pertentangan hukum dan istinbat-istinbat fuqaha dan muhaddith dalam tradisi syarah hadith yang kritis. Ia turut merespon pertikaian-pertikaian asas yang dibangkitkan oleh golongan orientalis dan intelektual yang skeptis terhadap riwayat-riwayat sejarah dalam tradisi hadith. 
Langkah-Langkah Al-Qur’an dalam Memberdayakan Ekonomi Masyarakat Miskin A. Gani, Burhanuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12539

Abstract

This paper explores the concern of the Qur'an in empowering the economy of the poor, who desperately need attention from all parties. He is a person who has a steady income, but that income is not sufficient for his daily needs, so the main question in this paper is how the Qur'an cares for the economic empowerment of the poor. The method used in this research is a qualitative method which refers to the books in question. The results of the research conclude that the Qur'an contains steps to empower them, so that their standard of living is equal to that of other people. There are three steps regulated by the Qur'an regarding efforts to empower the poor, namely the provision of capital through voluntary giving (infaq), compulsory giving (zakat) and through paying off kafarah from people who have transgressed Allah's laws.ABSTRAKTulisan ini mengetengahkan tentang kepedulian al-Qur’an dalam memberdayakan ekonomi orang-orang miskin, yang sangat membutuhkan perhatian dari semua pihak. Ia adalah orang yang memiliki penghasilan tetap, tetapi penghasilan itu tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari maka yang menjadi pertanyaan pokok dalam tulisan ini adalah bagaimana langkah-langkah kepedulian al-Qur’an dalam memberdayakan ekonomi orang-orang miskin. Adapun metode yang digunakan daam penelitian ini adalah metode kuaitatif yang merujuk kepada buku-buku yang ebrsangkutan. Hasil peneitian menyimpulkan bahwa al-Qur’an telah memuat langkah-langkah untuk dapat memberdayakan mereka, agar taraf hidupnya setara dengan orang-orang lain. Ada tiga langkah yang diatur al-Qur’an tentang upaya pemberdayaan orang miskin, yaitu pemberian modal melalui pemberian sukarela (infaq), pemberian wajib (zakat) dan melalui pelunasan kafarah dari orang-orang yang pernah melangkahi hukum-hukum Allah
Konsep Khalifah dalam Al-Qur’an (Kajian Ayat 30 Surat al-Baqarah dan Ayat 26 Surat Shaad) Rasyad, Rasyad
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12308

Abstract

There are three opinions about the caliph, the first is Adam as., Which is a human symbol who serves as the caliph., Second, the caliph means the next generation or successor generation., Third, the caliph is the head of state or head of government. Adam and David in the Qur'an are called caliphs, the difference is; Adam became the caliph for the whole earth at the beginning of human history by replacing a group of jinn who had done damage and bloodshed. While David was only the caliph in a certain area, and was appointed by God as the successor of the kings, leaders, and prophets of the Children of Israel who had preceded him. Caliphate is a function that human beings carry out based on the mandate they receive from God. The mandate is in essence to manage the earth in the best possible way, to prosper the people of the earth, and to eradicate tyranny.ABSTRAKAda  tiga pendapat tentang khalifah, pertama adalah Adam as.,  yang merupakan simbol manusia yang berfungsi sebagai khalifah., kedua, khalifah berarti generasi penerus atau generasi pengganti., ketiga,  khalifah adalah kepala negara atau kepala pemerintahan. Adam dan Daud dalam al-Qur’an disebut khalifah, perbedaannya adalah; Adam menjadi khalifah untuk seluruh bumi pada awal sejarah kemanusiaan dengan menggantikan  kelompok jin yang telah melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Sedang Daud hanya menjadi khalifah dalam wilayah tertentu saja, dan ditunjuk oleh Tuhan sebagai pengganti dari raja-raja, pemimpin-pemimpin, dan nabi-nabi Bani Israil yang telah mendahuluinya. Khalifah adalah sebuah fungsi yang diemban manusia berdasarkan amanat yang diterimanya dari Allah. Amanat itu pada intinya adalah mengelola bumi dengan sebaik-baiknya, memakmurkan penduduk bumi, serta memberantas kezaliman. 
Filosofi Pembinaan Anak Shalih dalam Konsep Al-Qur’an Miskahuddin, Miskahuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12744

Abstract

All Muslims who believe in themselves crave pious children as the foundation of hope for the good of family life in this world and eternal happiness in the hereafter. Realizing pious children requires excellent thoughts and strategies with a mature educational process for both parents and intelligent guidance and education for the benefit of the good personality of their children to become pious children. The Qur'an has taught humans about educational strategies and procedures that lead to mental and spiritual development to all religiously devout Muslim family members to prepare pious children as a form of a generation that loves God and obeys all religious teachings perfectly. Every parent would want their child to grow up to be a pious child with akhlaqul karimah to obey Allah, His Messenger, and obediently obey his parents.ABSTRAKSemua orang muslim yang mukmin pasti mendambakan anak shalih sebagai tumpuan harapan kebaikan kehidupan keluarga baik di dunia maupun untuk kebahagiaan di akhirat yang kekal abadi. Mewujudkan anak shalih membutuhkan pikiran dan strategi yang prima dengan suatu proses pendidikan yang matang baik bagi kedua orang tua maupun arahan bimbingan dan pendidikan yang cerdas untuk kemaslahatan kebaikan kepribadian anaknya menjadi anak yang shalih. Al-Qur’an telah mengajarkan manusia tentang strategi dan tata cara pendidikan yang menjurus kepada pembinaan mental spiritual kepada seluruh anggota keluarga muslim yang taat beragama dengan baik untuk mempersiapkan anak yang shalih sebagai wujud sebuah generasi yang mencintai Tuhan dan taat kepada seluruh ajaran agama-Nya dengan sempurna. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih memiliki akhlaqul karimah menta’ati Allah, Rasul-Nya dan patuh menta’ati kedua orang tuanya.
Konsep Manasik/Nusuk dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Maudhu’i) Suhemi, Emi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12746

Abstract

This research is entitled Nusuk Concept in Al-Qur’an. This research uses a maudhu'i interpretation approach. The steps taken in this approach are collecting verses with the theme of prickling in the Al-Qur’an, then also collecting hadiths on the theme of pricking. As well as several dictionaries that will be used to find an etymological understanding of stabbed. The purpose of this research is to know the concept of nusuk in the Al-Qur’an. What will be discussed in this study is how the concept of pricking in the Koran. The results of this study are that nusuk is not only interpreted as a pilgrimage ritual, but also contains a broad meaning such as zuhud and taqarrub to Allah.ABSTRAKPenelitian ini berjudul konsep manasik/nusuk dalam al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan hermeneutics (tafsir maudhu’i). Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan ini yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang bertemakan manasik-nusuk di dalam al-Qur’an, kemudian juga mengumpulkan hadist-hadist yang bertemakan manasik/nusuk, dan juga menggunakan beberapa kamus yang dijadikan alat untuk menemukan pemahaman manasik/nusuk secara etimologi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui akan konsep manasik/nusuk di dalam al-Qur’an.  Hasil dari penelitian ini adalah bahwa manasik/nusuk itu tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah haji, tetapi juga mengandung makna yang luas seperti zuhud dan taqarrub kepada Allah serta berqurban.

Page 1 of 1 | Total Record : 8