cover
Contact Name
Deasy Sylvia Sari
Contact Email
redaksi.padjir@unpad.ac.id
Phone
+6285222251435
Journal Mail Official
redaksi.padjir@unpad.ac.id
Editorial Address
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Jln. Ir Soekarno, KM. 21, Jatinangor Sumedang, 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of International Relations
ISSN : -     EISSN : 26848082     DOI : https://doi.org/10.24198/padjir.v1i1
Core Subject : Humanities, Social,
Politik Global, Ekonomi Politik Global, Organisasi dan Kerjasama Internasional, Tata Kelola Global dan Hukum Internasional, Diplomasi, Kebijakan Luar Negeri, dan Studi Keamanan, Gender dan Feminisme, serta Studi Budaya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2024)" : 6 Documents clear
Analisis Kegagalan Consociational Approach dalam Perjanjian Naivasha Sudan Yulianti, Dina; Dermawan, Windy; Yudistira, Muhammad Alfiandra
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.40789

Abstract

Perang Sipil Sudan yang kedua merupakan konflik antara pemerintah Sudan dan kelompok separatis dari Sudan Selatan yaitu Sudan People’s Liberation Movement/Army (SPLM/A), dan merupakan konflik kekerasan terpanjang dalam sejarah Afrika (1983-2005). Konflik tersebut berakhir secara resmi setelah ditandatanganinya Comprehensive Peace Agreement atau Perjanjian Naivasha tahun 2005. Dalam perjanjian ini ada upaya meresolusi konflik dengan consociational approach yang melakukan prower sharing di antara pihak-pihak yang bertikai. Namun, perjanjian ini tidak berhasil membuat Sudan terbebas dari konflik. Artikel ini akan menyajikan analisis atas kegagalan implementasi consociational approach dalam menciptakan perdamaian positif di Sudan dan Sudan Selatan. Temuan riset ini adalah bahwa power sharing yang dilakukan dalam perjanjian ini hanya melibatkan elit. Selain itu, pembagian sumber daya alam selain minyak yang seharusnya memperhatikan faktor identitas, juga tidak tersentuh dalam perjanjian. Karena itulah perdamaian yang tercapai masih bersifat negatif dan memunculkan konflik kembali.The Second Sudanese Civil War was a conflict between the Sudanese government and a separatist group from South Sudan, namely the Sudan People's Liberation Movement/Army (SPLM/A). It was the most prolonged violent conflict in African history (1983-2005). The conflict officially ended after the signing of the Comprehensive Peace Agreement or Naivasha Agreement in 2005. In this agreement, there was an effort to resolve the conflict with a consociational approach that carried out project sharing between the conflicting parties. However, this agreement did not succeed in making Sudan free from conflict. This article will present an analysis of the failure to implement the consociational approach in creating positive peace in Sudan and South Sudan The findings of this research are that the power-sharing carried out in this agreement only involves elites. Apart from that, the distribution of resources other than oil has yet to be carried out, which should also be divided, taking into account identity factors. That's why the peace achieved is still negative and gives rise to conflict again.
Marjinalisasi Hak Reproduksi Perempuan Uighur di Republik Rakyat Cina (RRC) dalam Kerangka Analisis Sustainable Development Goals (SDGs) Khairunnisa, Najwa Dzakkiyah; Yuanita, Rahel; Putri, Laurentia Inezswari Bintoro; Suhara, Monika Putri; Nuraeni, Nuraeni
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.47925

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif hukum Hak Asasi Manusia serta kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs) mengenai kebijakan sterilisasi paksa yang diterapkan oleh Pemerintah Cina terhadap perempuan Uighur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang fokus mempelajari berbagai relevansinya dengan Sustainable Development Goals (SDGs) serta hukum Hak Asasi Manusia yang berkaitan dengan penerapan sterilisasi paksa Cina terhadap perempuan Uighur. Berdasarkan kajian tersebut, kebijakan sterilisasi paksa yang dilakukan pemerintah Cina telah bertentangan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) pada Goals 3 dan 5 dan telah melanggar Hak Asasi Manusia.This study aims to acknowledge the perspective of human rights law and its relation to the Sustainable Development Goals (SDGs) regarding the forced sterilization policy implemented by the Chinese Government against Uighur women. The research method used is a qualitative method that focuses on studying its various relevance to the Sustainable Development Goals (SDGs) and Human Rights law relating to China's implementation of forced sterilization of Uighur women. Based on this study, the forced sterilization policy carried out by the Chinese government has contradicted the Sustainable Development Goals (SDGs) in Goals 3 and 5 and has violated human rights.
India Sebagai Mediator Global: Multi-Alignment Sebagai Upaya Dalam Mengatasi Resesi Global 2023 Gultom, Yosua Saut Marulitua; Kinanti, Finsy Aurelia Putri; Putri, Syifa Aprilia
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.47976

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis sentralitasIndia melalui kebijakan multi-alignment-nya yang berusaha berhubungan baikdengan negara dari berbagai macam blok dalam forum multilateral untuk mencapai kepentingan nasionalnya demi menghadapi resesi global 2023. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik studi literatur, tulisan ini mencoba melihat upaya India dalam mengimplementasikan kebijakan multi-alignment, khususnya pada forum internasional. Tulisan ini meninjau sikap India sebagai kekuatan baru dalam memediasi permasalahan global. Tulisan ini berpendapat bahwa India merupakan sebuah kekuatan barudalam tata kelola global yang memiliki signifikansi yang kuat. Munculnya India sebagai kekuatan baru dipertegas melalui upaya strategis India dalam berhubungan dengan negara lain. Penulis meninjau keanggotaan India di forum-forum internasional yang menunjukkan preferensi India dalam tatanan global demi kepentingan nasionalnya. Peran aktif India di BRICS, IBSA dan IMF menunjukkan prestige India sebagai kekuatan baru di politik global dalam memposisikan kepentingan India. Adapun penulis menyarankan bahwa sentralitas India dalam forum internasional juga perlu lebih diperkuat, khususnya terhadap tantangan presidensi G20 mendatang yang berhadapan dengan resesi global 2023. Tulisan ini menyimpulkan bahwa kebijakan multi-alignment India efektif untuk mencapai kepentingan nasionalnya. This paper aims to describe and analyze India's centrality through its multi-alignment policy that seeks to relate well with countries from various blocs in multilateral forums to achieve its national interests to face the 2023 global recession. Using a descriptive qualitative method with literature study techniques, this paper tries to see India's efforts in implementing its multi-alignment policy, specially in international forums. This paper examines India's stance as a new power in mediating global problems. We argues that India is a new force in global governance that has strong significance. India's emergence as a new power is emphasized through India's strategic efforts in dealing with other countries. We reviews India's membership in international forums that demonstrate India's preference in the global order for its national interests. India's active role in BRICS, IBSA and IMF shows India's prestige as a new power in global politics in positioning India's interests. We suggests that India's centrality in international forums also needs to be further strengthened, especially against the challenges of the upcoming G20 presidency that faces the 2023 global recession. This paper concludes that India's multi-alignment policy is effective in achieving its national interests.
Gastrodiplomasi Kopi Indonesia melalui Specialty Coffee Association of American Expo 2021 Rohman, Riki Nur Fajar; Sari, Viani Puspita
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.43129

Abstract

Strategi gastrodiplomasi kopi yang dilakukan Indonesia merupakan salah satu bentuk untuk meningkatkan nation branding Indonesia kepada khalayak Asing. Memiliki predikat sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, seharusnya menjadikan Indonesia lebih leluasa dalam menerapkan strategi gastrodiplomasi kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya-upaya strategi gastrodiplomasi yang dilakukan oleh Indonesia melalui Specialty Coffee Association of American (SCAA) Expo 2021. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan konsep gastrodiplomasi yang dikemukakan oleh Rockower sebagai kerangka konseptualnya. Data yang digunakan pada penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa teknik pengumpulan data, seperti wawancara, tinjauan literatur, dan online-based research. Setelah melalui proses analisis dan validitas data, hasil yang didapat dalam penelitian menunjukan bahwa strategi gastrodiplomasi kopi dalam event SCAA Expo 2021 yang dilakukan oleh Indonesia dengan cara memperkenalkan komoditas kopi Indonesia di tingkat internasional, peran aktor dalam praktik gastrodiplomasi kopi Indonesia, penerapan gastrodiplomasi kopi Indonesia melalui event SCAA Expo 2021, dan tindak lanjut para aktor setelah event SCAA Expo 2021.The coffee gastrodiplomacy strategy carried out by Indonesia is one form to improve Indonesia's nation branding to foreign audiences. Having the title as one of the largest coffee producers in the world, it should make Indonesia more flexible in implementing its coffee gastrodiplomacy strategy. This study aims to determine the gastrodiplomacy strategy efforts carried out by Indonesia through the Specialty Coffee Association of American Expo 2021. This study used a qualitative research method using the concept of gastrodiplomacy proposed by Rockower as the conceptual framework. The data used in this study were collected through several data collection techniques, such as interviews, literature review, and online-based research. After going through the process of analysis and data validity, the results obtained in the study show that the coffee gastrodiplomacy strategy in the SCAA Expo 2021 event was carried out by Indonesia by introducing Indonesian coffee commodities at the international level, the role of actors in Indonesian coffee gastrodiplomacy practices, the application of Indonesian coffee gastrodiplomacy through the SCAA Expo 2021 event, and the follow-up of the actors after the SCAA Expo 2021 event.
Diplomasi Olahraga Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) melalui World Bridge Federation (WBF) Maximillian, Renata; Sari, Deasy Silvya
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.44282

Abstract

Bridge merupakan salah satu olahraga otak (mindsport) yang telah diakui secara internasional termasuk di Indonesia. Namun olahraga tersebut baru dikenal sebatas olahraga semata, tanpa kesadaran akan peranan maupun fungsi lainnya, misalnya sebagai sarana diplomasi olahraga. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menelaah olahraga bridge sebagai diplomasi olahraga dengan meninjau hubungan antara Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) dan World Bridge Federation (WBF). Peneliti menggunakan konsep diplomasi olahraga dari Nygård dan Gates (2013) dan metode penelitian kualitatif melalui studi literatur dan wawancara. Penelitian ini menemukan bahwa diplomasi olahraga bridge oleh Gabsi melalui WBF dilangsungkan melalui mekanisme berikut: (i) image-building dengan aktif mengikuti banyak pertandingan internasional, menjadi tuan rumah kegiatan kejuaraan dunia maupun multi-sports event; (ii) building a platform for dialogue dengan tergabung dalam WBF dan APBF serta mempromosikan bridge di negara yang belum mengenal bridge, seperti: Filipina dan Timor Leste; (iii) trust-building dengan menjunjung tinggi sportivitas, serta konsisten membangun dan memelihara hubungan baik antar individu maupun komunitas/organisasi; dan (iv) recognition, integration, dan anti-racism berupa pengakuan akan adanya kesetaraan gender dalam struktur organisasi Gabsi maupun pertandingan.Bridge is a mindsport that has been recognized internationally, including Indonesia. However, this sport is considered as a usual sport, without acknowledgment of other roles, for example as a means of sports diplomacy. The researcher examines bridge as sports diplomacy by reviewing the relationship between the Indonesian Contract Bridge Association (ICBA) and the World Bridge Federation (WBF). Researchers use the sports diplomacy from Nygård and Gates (2013) and qualitative research methods through literature studies and interviews. This study finds that bridge sports diplomacy by ICBA through the WBF is carried out through the following mechanisms: (i) image-building by actively participating in many international competitions, hosting world championships and multi-sports events; (ii) building a platform for dialogue by joining the WBF and APBF while promoting bridges in countries that have not been familiar with bridges, such as: the Philippines and Timor Leste; (iii) trust-building by upholding sportsmanship, as well as consistently building and maintaining good relations between individuals and communities/organizations; and (iv) recognition, integration, and antiracism by acknowledging the existence of gender equality in ICBA's organizational structure and competition.
Diplomasi Budaya Korea Selatan Melalui Grup Idola K-Pop Terhadap Publik Indonesia Pada Tahun 2020-2022 Angesti, Annisa Rahmadhani; Purnama, Chandra
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.49284

Abstract

Korean Wave adalah hal yang paling populer di kalangan orang Indonesia. Pemerintah Korea Selatan juga mendukung untuk mendorong berkembangnya Korean Wave khususnya K-Pop untuk menyebarkan citra positif negaranya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami diplomasi budaya Korea Selatan yang dilakukan oleh grup idola K-Pop. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan konsep diplomasi budaya, khususnya strategi diplomasi budaya oleh Patricia Goff. Hasilnya menunjukkan bahwa implementasi diplomasi budaya Korea Selatan di Indonesia terus berjalan secara konsisten. Ikatan budaya kedua negara yang terjalin sejak tahun 2000 semakin erat dari tahun ke tahun. Hal ini juga didukung oleh kegigihan para diplomat Korea Selatan yang berhasil menumbuhkan rasa saling pengertian dan kepedulian dalam menjalankan diplomasi budaya secara konsisten. Komitmen dan konsistensi para pelaku diplomasi budaya Korea Selatan juga terlihat dari munculnya program-program inovatif, seperti memanfaatkan idola K-Pop untuk mempromosikan budaya negaranya. Inovasi lainnya terlihat saat pandemi COVID-19 melanda, Korea Selatan mampu terus menjalankan diplomasi budayanya dengan memanfaatkan teknologi untuk menjaga dan meningkatkan citra positif negaranya.Korean Wave is the most popular thing among Indonesian. The South Korean government also supports encouraging the development of the Korean Wave, especially K-Pop to spread a positive image of their country in Indonesia. This research aims to understand South Korean cultural diplomacy carried out by K-Pop idol groups. The research method used is a qualitative method with the concept of cultural diplomacy, specifically cultural diplomacy strategies by Patricia Goff. The results show that the implementation of South Korean cultural diplomacy in Indonesia continues consistently. The cultural ties between the two countries that have existed since 2000 are getting closer from year to year. This is also supported by the persistence of South Korean diplomats who have succeeded in fostering a sense of mutual understanding and concern in carrying out cultural diplomacy consistently. The commitment and consistency of South Korean cultural diplomacy actors can also be seen from the emergence of innovative programs, such as using K-Pop idols to promote their country's culture. Another innovation was seen when the COVID-19 pandemic hit, South Korea was able to continue carrying out its cultural diplomacy by utilizing technology to maintain and improve the country's positive image.

Page 1 of 1 | Total Record : 6