Articles
1,297 Documents
KETAHANAN LIMA JENIS KAYU ASAL SUKABUMI TERHADAP JAMUR PERUSAK KAYU
Sihati Suprapti;
Djarwanto Djarwanto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2008.26.2.129-137
Lima jenis kayu yaitu huru gacling (uisea odorifera Val.), sampora (Colonajavanica BL), kisampang (Evodia aromatica Bl.), nyatuh (Pouteria duclitan Bachni.) dan randu (Ceiba petandra Gaertn.), diuji ketahanannya terhadap jamur menggunakan standar DI -52176 yang dimodifikasi. Contoh uji kayu diambil dari bagian tepi dan dalam dolok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa huru gading masuk ke dalam kelompok kayu agak-tahan (kelas III), sedangkan kayu sampora, kisampang, nyatuh dan randu masuk ke dalam kelompok kayu tidak-tahan (kelas fV). Kehilangan berat kayu bagian dalam umumnya lebih rendah dibandingkan dengan kayu bagian tepi, namun keduanya masih masuk ke dalam kelompok kayu tidak tahan (kelas fV). Kehilangan berat tertinggi terjadi pada kayu kisampang bagian tepi yang diuji dengan Pycnopoms sa11g11i11e11s HHB-324 (58,6%). Sedangkan kehilangan berat terendah terjadi pada kayu huru gading bagian dalam yang diuji dengan Pbanerocbaetechrysosporium (0,5%). Kemampuan melapukkan kayu tertinggi terjadi pada P. sang11i11e11sHHB-324, diikuti Tjro11rycespalustns.
KECELAKAAN KERJA DALAM KEGIATAN EKSPLOITASI HUTAN DI KALIMANTAN TENGAH
Maman Mansyur Idris;
Soenarno Soenarno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 1 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1988.5.1.31-36
Logging in Central Kalimantan is generally mechanized, utilizing modern machines. Involved in these activities are local labourers, many among which have not benefited any adequate training for their jobs. They are originally farmers or farm labourers, and most of them had very little, if any education. It is therefore, not surprising that they can't operate or handle the machines properly.The logging industry is characterized by hard work requiring, high skill and alertness.Shortcomings in these qualities leads to accidents caused by inumerable factors that are constantly present in the tropical high forests. To develop safety programs research is needed to gather information on work accidents at various logging companies through the years. The aim of this study is to find out about the effects of mechanized logging systems on accident occurrences. The study was conducted in Central Kalimantan, resulting in the following conclusions :1. Accident frequency rate according to ANSI standard for 500 labourers ranges from 95 to 151 accident per million work hours.2. Accident severity rate according to ANSI standard for 500 labourers ranges from 4, 000 to 8, 000 days lost per million work hours
ANATOMI SEBELAS JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI SUKU MIMOSACEAE, MYRISTICACEAE DAN MORACEAE
Y l Mandang
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 1 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1994.12.1.9-20
Gross and anatomical features of eleven lesser known wood species of Mimosaceae. Myristicaceae and Momceae were observed and described for identification pueposes. Fiber dimension were also measured and evaluated for their suitability for pulp manufacturing purposes.Members of Mimosaceae (Adenanthera pavonina and Albizia chinensis) are characterized by homoselular ray, paratracheal pa-renchyma and vestured pit. Further differenttiation is posibie based on other characters.Members of Myristicaceae (Myristica maxima and Horsfieldia sylvestris) are characterized by apotracheal banded parenchyma. vessels mostly in radial multiples and the presence of taniniferous tube in ray tissue.Further differentiation is not possible.No spesific features Were found for Moraups but two groups were recognized : 1) those brown in colour with paratrachealparenchyma and white deposit in some of their vessels (5 species) : 2) those white in colaur, aportracheal banded, parenchyma,withoute white deposit in vessel (2 species). Futher differentiation of each group is possible up to genera level.Ten out of eleven species examined contain fibers with medium quality. The rest one species, (Prainea limpato - Moraceae) contain fibers with poor quality.
KOMUNITAS RAYAP TANAH DI SEPULUH LOKASI DI DKI JAKARTA
Ginuk Sumarni;
Agus lsmanto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 2 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1987.4.2.21-26
Subterranean termites are important insects which attack structural timber. Six species have been found at ten locations of the Jakarta Metropolitan: Microtermes insperatus, M. incertoides, Odontotermes javanicus, Macrotermes gilvus, Schedorhinotermes javanicus, and Coptotermes curvignathus. Various termite species prevail in two of the locations (P. Rebo and P. Minggu). M. insperatus was found to be the largest population in every location. Cempaka Putih was the lowest in similarity and diversity indexes of the termite species. The same termite species was found in Kramat Jati and Kebayoran Baru. No subterranean termites were found in Cilincing, Tanjung Priok, and Kemayoran
SIFAT PENGERJAAN KAYU SENGON
Bakir Ginoga
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 4 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1995.13.4.127-131
The quality of machining properties of sengon (Paraserianthes falcataria Backer). obtained from 5 years, 10 years, and 15 years old plantation forest in West Java, has been Investigated based on air dried wood moisture content. The results revealed that the average planing quality of wood from 5 years old belong to medium (III). while those at 10 years and 15 years old belong to good (II); the average moulding quality varies from medium (III) to good (II) classes, but turning quality found to be very bad (V); sanding quality is medium (III), while boring quality varies from medium (III) to good (II) classes.
SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL
Achmad Supriadi;
Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2006.24.1.21-31
Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel, alat-alat olah raga dan perahu. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia.Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu, yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L.), kendal (Eretia acuminata R.Br.) balobo (Diplodiscus sp.), marasi (Hymenaea sp.) dan rasamala (Altingia excelsa N.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus, dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm, sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi, balobo, kendal dan rasamala.
PENGARUH UMUR POHON TERHADAP SIFAT DASAR DAN KUALITAS PENGERINGAN KAYU WARU GUNUNG (Hibiscus macrophyllus Roxb.)
Efrida Basri;
T A Prayitno;
Gustan Pari
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2012.30.4.243-253
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data sifat kayu waru gunung sebagai indikatorkualitas kayu didasarkan pada umur dan arah aksial serta pengaruhnya terhadap kualitaspengeringannya. Sifat dasar kayu yang diamati yaitu panjang serat, berat jenis (BJ), dan penyusutankayu. Bahan kayu untuk penelitian diambil dari 3 umur, yaitu 8, 12, dan 16 tahun. Contoh uji ditentukanpada arah aksial batang, yakni pangkal, tengah dan bagian ujung. Untuk sifat dasar kayu, dari setiapbagian aksial dibuat contoh uji pada arah radial dari dekat empulur, tengah, dan dekat ke kulit. Ukurandan prosedur untuk uji panjang serat mengacu pada prosedur di Pusat Litbang Keteknikan Kehutanandan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor, BJ dan penyusutan dengan standar ASTM D143-94 yangdimodifikasi, sedangkan pengujian sifat dan kualitas pengeringan mengacu pada metode Terazawayang dimodifikasi.Hasil penelitian menunjukkan panjang serat dan BJ waru gunung dipengaruhi oleh umur padakedua arah aksial maupun radial. Berdasarkan sifat dasar dan kualitas pengeringan dari ketiga umurkayu menunjukkan hanya kayu umur16 tahun bisa memenuhi persyaratan untuk bahan mebel.
PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF DARI AMPAS DAUN TEH
R Sudradjat;
Ani Suryani Suryani
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2002.20.1.1-11
This report deals with an experiment on the manufacture of activated charcoal from the wastes of tea leaf processing. The purpose of the experiment was firstly, to evaluate the influence of H3P04 concentration as a chemical activator on the yield of activated charcoal and its quality, and secondly, to assess the possible use o( the corresponding activated charcoal in purifying fructose syrup as well as alcoholic spirit, and reducing the Fe1 ions in the pond water . The tealeaf wastes were at first immersed in H1P04 solutions at four different concentrations (i.e. 5, 10, 15 and 20 %).for 24 hours. The wastes were removed and airdried. The activated charcoal was produced by pyrolyzing the airdry tealeaf wastes in an electrical heated retort at 850°C, followed by the activation process. The steam was introduced into the retort and passed through the pyrolized tealeaf wastes for 120 minutes.. The result revealed that the best quality ofthe activated charcoal was obtained with H3P04 immersion at 10 % with the yield of activated charcoal 13.78 %; the moisture content 6.92 %; ash content 15.68 %, volatile matter 4.68 % and fixed carbon 72. 71 %. Adsorptive capacity of iodine was 796.82 mglg, benzene 5.58 %, CHC1,4.14 % and adsorptive capacity of CC14,14.19 %.The quality of fructose syrup and alcoholic spirit after both being purified with the activated charcoal apparently improved. This was shown by the increases in clarity from 87.0 % to 92.0 97.2 % (for fructose syrup) and from 243.0 mg/L to 255.6278.4 mg/L (for alcoholic spirit). The quality of the deepweel water or particularly pond water also after being treated with the activated charcoal improved as well with the decrease in Fe3+ ions from 0.079 % to 0.016 0.045 %. The production cost to manufacture activated charcoal from tealeaf wastes was Rp 5,738.82/kg.
PEMANFAATAN ARANG AKTIF CANGKANG BUAH BINTARO (Cerbera manghas) SEBAGAI ADSORBEN PADA PENINGKATAN KUALITAS AIR MINUM
Djeni Hendra;
Armi Wulanawati;
Kamela Gustina;
Heru Satrio Wibisono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2015.33.3.181-191
Biji buah bintaro banyak digunakan sebagai bahan baku alternatif dalam pembutatan biodiesel sehingga akan menghasilkan limbah berupa cangkang buah bintaro. Pada penelitian ini, limbah tersebut akan dijadikan bahan baku alternatif untuk pembuatan arang aktif. Pengaktifan dilakukan dengan 2 faktor yaitu aktivasi kimia (konsentrasi H3PO4) dan laju alir uap air panas (hot steam). Sebagai indikator kualitas arang aktif dilakukan karakterisasi berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 06-3730-1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif yang sesuai SNI adalah arang aktif yang diaktivasi menggunakan H3PO4 15% dengan laju alir uap air panas selama 90 menit dengan kadar air 9.98%, kadar zat terbang 9.16%, kadar abu 12.45%, kadar karbon terikat 78.4%, daya serap iod 784.498 mg/g, daya serap benzena 17.73 %, dan daya serap biru metilena 127.705 mg/g. Mekanisme adsorpsi sesuai isoterm adsorpsi Langmuir dengan linearitas 0.9691. Arang aktif terbaik adalah yang dapat menurunkan kadar Fe sampai 100% dan Mn 86.94%.
Pengeluaran Sisa Kreosot dalam Tiang Listrik Bekas Pakai Menggunakan Perlakuan Uap
Han Roliadi;
Elvin T Choong
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2005.23.3.197-205
Keberadaan sisa-sisa kreosot dalam produk kayu bekas pakai dan tak lagi digunakan, diantaranya tiang listrik bekas, dapat mengakibatkan kesulitan/masalah dalam pemanfaatannya menjadi produk berguna lain seperti: papan blok, papan partikel, papan serat, dan pulp/kertas. Maka sisa kandungan kreosot tersebut harus dihilangkan atau diturunkan menggunakan perlakuan khusus yang efektif. Sebelum perlakuan uap, tiang listrik tersebut perlu dibuat menjadi partikel-partikel berukuran kecil, antara lain serbuk gergaji sehingga memudahkan penguapan kreosot oleh uap.Perlakuan uap terhadap tiang listrik bekas pakai telah dicoba keefektifannya dalam menghilangkan/menurunkan sisa kandungan kreosotnya. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan uap dapat menurunkan kandungan kreosot hingga 1,31 persen, untuk kandungan awal kreosotnya yang berbeda-beda. Tiang listrik dengan kandungan kreosot lebih tinggi membutuhkan waktu perlakuan uap lebih lama. Pada kandungan awal kresot tertentu atau sama, penurunan/pengeluaran kreosot pada batang/tiang listrik bekas yang berumur pakai lebih lama ternyata lebih dari pada tiang listrik berumur lebih muda. Pada berbagai umur, selanjutnya baik pada tiang listrik berumur lebih muda atau pun lebih tua, penurunan/pengeluaran kreosot juga lebih sulit, pada bagian dalam batang/tiang dibandingkan dari bagian yang lebih dekat permukaan batang/tiang.Perlakuan uap merupakan cara yang murah dan efisien menurunkan kandungan kreosot. Penurunan lebih lanjut kreosot yang tersisa dalam batang dapat dilakukan dengan cara lain, seperti dengan pelarut organik yang memerlukan biaya mahal dan penggunaan mikororganisme tertentu yang memerlukan waktu lebih lama.