Maarif
Jurnal MAARIF diarahkan untuk menjadi corong bagi pelembagaan pemikiranpemikiran kritis Buya Ahmad Syafii Maarif dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Beberapa isu yang menjadi konsen jurnal ini adalah tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Isu-isu lain yang juga menjadi perhatian jurnal ini adalah soal kemiskinan, kekerasan atas nama agama, terorisme dan berbagai persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang mengemuka dalam kehidupan Indonesia kontemporer.
Articles
273 Documents
Perspektif Sains Pandemi Covid-19: Pendekatan Aspek Virologi Dan Epidemiologi Klinik
Khaedir, Yordan
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.76
Munculnya virus korona SARS-CoV-2 pada bulan Desember 2019 kemudian menyebabkan Covid-19, yakni penyakit yang sifatnya akut menyerang terutama pada organ saluran napas. SARS-CoV-2 merupakan jenis ketiga dari virus korona yang sangat patogen menginfeksi manusia setelah SARS dan MERS dan telah menjadi pandemi di abad 21. Beberapa studi virologi, preklinik, klinik, serta kesehatan komunitas terkait dengan Covid-19 telah mulai dipublikasikan sejak awal pertama terjadinya wabah, yakni awal tahun 2020. Adanya kajian riset tersebut mampu memengaruhi pengambilan keputusan dalam rangka eradikasi Covid-19 dan kebijakan kesehatan masyarakat yang akan ditetapkan. Pengambilan keputusan yang keliru dalam aspek klinik bisa berakibat fatal bagi individu maupun sub kelompok terinfeksi dalam populasi di suatu wilayah. Begitu juga kesalahan pengambilan kebijakan akan berpengaruh pada strategi penanganan wabah. Tinjauan pustaka ini akan lebih menilai pemahaman virologi mengenai karakteristik SARS-CoV-2, cara penularan (transmisi) virus, patogenisitas virus, manajemen kasus klinis dan aspek epidemiologi klinik Covid-19. Pandemi global Covid-19 berujung pada munculnya berbagai masalah terkait penanganan wabah dan kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia. Rekomendasi yang tepat dalam penanganan wabah dan perspektif masa depan Covid-19 juga diperlukan dalam menghadapi pandemi global Covid-19.
Covid-19, Agama, dan Sains
Maliki, Musa
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.77
Tulisan ini memaparkan tentang discourse kelompok beragama yang ignore terhadap Covid-19. Ada anggapan dari mainstream umat beragama bahwa kelompok ini tidak menggunakan akalnya tetapi menggunakan egonya sehingga mempunyai implikasi sosial yakni menularkan virus SARS-CoV-2 ke orang-orang di dekatnya. Singkatnya kelompok ini konservatif dan ‘anti-sains’. Tulisan ini memberi perspektif yang berbeda bahwa kaum beragama yang ignore terhadap Covid-19 menggunakan agama demi melindungi dirinya atau demi kepentingan survival-nya di level eksistensial dari represi discourse modernkapitalisme. Problemnya, discourse kelompok ignorance ini justru melegitimasi (membenarkan) discourse politik sekuler Barat yang telah mengandangkan agama ke ‘agama’ dalam definisi yang dikonstruksikannya. Padahal, dalam Islam, Ilmuwan Muslim terdahulu menjalankan hidup asketismenya justru melalui jalur sains demi mencari kebenaran Allah yang mewujud pada alam semesta (ayat kauniyah). Di sini ada sinergi dan keselerasan antara sains dan spiritualisme, yang ukhrawi dan yang duniawi (secular), transcendental dan immanent. Oleh sebab itu, hal yang penting adalah proses penghayatan keberagamaan selalu harus diawali dengan disiplin ketat dalam mempelajari agama secara bertahan, tidak serampangan dan melompat-lompat atau terus belajar kepada para ahlinya, bukan dengan ‘demokratisasi’ agama.
Agama, Sains, Dan Covid-19: Perspektif Sosial-Agama
Alkaf, M.
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.79
Studi ini mengkaji hubungan agama, sains, dan Covid-19 dalam perspektif sosial-agama. Ada tiga pertanyaan utama dalam studi ini: (a) bagaimana titik perjumpaan dan pertengkaran antara agama dan sains itu berlangsung; (b) bagaimana respons dan perspektif agama terhadap wabah; dan (c) bagaimana kemampuan agama bertahan di tengah ancaman pandemi Covid-19. Studi menemukan bahwa selalu ada titik tengkar dan dialog antara sains dan agama. Lalu, doktrin agama juga memiliki pandangan bahwa wabah itu bisa jadi hukuman atau cobaan dari Tuhan sehingga menjadi anti sains, walau ada organisasi Muhammadiyah yang akrab dengan sains sehingga ikut memengaruhi landasan pemikiran keagamaan yang dibangunnya. Terakhir, agama diyakini dapat bertahan karena modal institusi dan tradisi spritualitas di tengah kuatnya Covid-19.
Sains Melampaui Politik dan Agama
Notonegoro, Abdullah Sidiq
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.80
Wabah Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 menjadi ancaman serius bagi umat manusia di muka bumi. Daya jelajah Covid-19 yang sangat masif menyebar ke banyak negara, menjadikannya sebagai wabah global yang mematikan. Meski sejumlah peneliti dari banyak negara berjuang keras berusaha menemukan antivirus Covid-19, paling tidak hingga artikel ini selesai ditulis, belum terdengar kabar jika vaksin dari Covid-19 ini telah ditemukan. Covid-19 merupakan fenomena alam yang menjadi ranah sains yang obyektif dan independen. Karena itu, pembuktikan adanya virus hanya dapat disandarkan pada temuan ilmiah yang bersifat empiris. Pemangku kebijakan publik harus bisa memberikan ruang terbuka bagi sains untuk diuji secara obyektif. Ironisnya, sisi keagamaan masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini seolah menjadi penyingkap tabir praktik peribadatan tanpa pengetahuan yang tepat. Para dai lebih bersemangat dan gigih untuk mendorong masyarakat memasifkan kegiatan beribadah, tetapi loyo dalam memprovokasi masyarakat untuk menangkap makna esoterisme keberagamaan melalui pengetahuan yang mendalam. Tulisan ini mencoba melakukan pengamatan sederhana seiring adanya kebengalan politik pemerintah---baik pusat maupun daerah---yang merespons setengah hati rekomendasi para dokter yang berada di garda depan pengobatan korban Covid-19 serta para virologi yang sedang berjuang untuk menemukan vaksin agar sebaran Covid-19 tidak semakin merajalela. Di sisi lain, keangkuhan sebagian elite agama yang menolak mentah-mentah ataupun setengah-setengah protokol pencegahan terhadap wabah Covid-19 tersebut.
Respons Muhammadiyah Menghadapi Covid-19
Falahuddin, Falahuddin
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.81
Covid-19 telah menjadi wabah pandemi global. Virus tak kasat mata ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa manusia saja, tetapi juga telah memorakporandakan sektor ekonomi dan sosial secara luas. Untuk meminimalisir dampak Covid-19, semua kalangan dituntut untuk berperan aktif dan nyata dalam mengatasinya, termasuk Muhammadiyah. Dengan seluruh sumber daya yang dimiliki, Muhammadiyah telah berikhtiar secara maksimal untuk berkontribusi dalam penanganan Covid-19. Muhammadiyah telah membentuk semacam gugus tugas bernama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) yang menjadi garda terdepan dalam penanggulangan Covid-19 di tanah air. Selain itu juga, Muhammadiyah mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menjalankan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19, terutama terakit dengan pemberlakukan social/physical distancing.
Keimanan Rasional dan Genius Spiritual: Upaya Mencari Titik Temu Kredo Agama dan Sains
Yaqin, Haqqul
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.82
Sains yang berpusat pada rasio dan agama yang bertumpu pada iman lebih sering tampak berseberangan daripada bergandengan.Kaum sainstis merasa lebih superior dengan berbagai capaian ilmiahnya dan menuduh kaum agamawan sebagai kelompok tradisional yang irasional. Namun begitu, sejatinya dua komunitas tersebut sedang mendaki untuk mencapai kebenaran. Pokok persoalannya terletak pada munculnya determinisme kalangan sainstis akan metode ilmiah yang diyakini sebagai satu-satunya tuntutan yang dapat dipercaya untuk memperoleh kebenaran. Sementara di sisi lain, agama dengan klaim-klaimnya dianggap terlalu otoritatif dan cenderung meniadakan faktafakta riil, atau bahkan mendahului sains dalam melegitimasi suatu realitas. Namun begitu, di tengah perkembangan kehidupan sosial politik dan keagamaan, perbincangan urgensi dialektika dua kubu yang berseteru secara diametral tersebut, kini mulai mendapat momennya. Banyak kejadian-kejadian kontemporer yang mencoba mengambil manfaat dari seteru tersebut.
Rekonstruksi Filsafat Kedokteran Islam: Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi
Alim, Ahmad Muttaqin
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.83
“Perlawanan†cendekiawan Muslim termasuk para ilmuwan kedokteran terhadap sains modern melalui proyek Islamisasi Ilmu juga terejawantah di dalam dunia kedokteran. Para dokter Muslim mulai melirik konsep dan praktik kedokteran Islam, bahkan di beberapa universitas sudah diajarkan sejak dua dekade ini seperti “kedokteran nabiâ€, bekam, obat-obat herbal yang ada dalam hadits-hadits dan kitab-kitab salaf. Tak hanya itu, sumpah dokter Muslim pun dipakai di dalam sumpah dokter bersama sumpah hipokrates. Artikel ini akan memetakan persoalan yang lebih kompleks dan dalam dari sekadar fenomena cocokologi antara hadits dan ilmu kedokteran, bagaimana posisi ilmu kedokteran di dalam hierarkhi pengetahuan menurut para cendekiawan Muslim, bagaimana perkembangan dunia kedokkteran modern dan landasan filsafatnya, serta pekerjaan rumah para cendekiawan dan praktisi ilmu kedokteran bila ingin membangun konstruksi kedokteran Islam yang kokoh.
Virus Korona: Peneguh Nilai-Nilai dalam Ajaran Islam
Rusliana, Iu
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.84
Artikel ini berusaha menggali nilai-nilai dalam ajaran Islam yang perlu diperkuat agar dapat menjadi peneguh sikap keberagamaan untuk melewati ujian pandemi korona. Peneliti menggunakan metode kajian pustaka (literature review) dengan membaca literatur yang relevan dengan riset ini. Dapat disimpulkan bahwa perlu usaha serius untuk menggali dan meneguhkan nilai ajaran Islam pada aspek individual dan sosial. Dari aspek individual antara lain keimanan pada qada dan qadar, bersikap sabar dan bertawakal. Pada aspek sosial antara lain peduli sesama dan taat kepada Ulama serta pemerintah. Musibah yang mendunia ini pun juga membutuhkan iman yang rasional sebagai panduan dalam bersikap dan beragama dalam keseharian.
Otoritas Agama di Era Korona: Dari Fragmentasi Ke Konvergensi?
Arrobi, Mohammad Zaki;
Nadzifah, Amsa
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.85
Artikel ini berupaya menarasikan pandangan, sikap, dan peran otoritas keagamaan Islam dalam merespons situasi pandemi akibat penyebaran virus korona di Indonesia. Fokus artikel ini adalah artikulasi wacana keagamaan dan praksis sosial yang dilakukan oleh ‘ustad selebritis’ dan organisasi massa Islam dalam menghadapi pandemi akibat Covid-19.Tulisan ini mengulas pergeseran wacana di kalangan otoritas keagamaan menyangkut isu Covid-19. Di saat wabah korona belum terdeteksi di Indonesia yakni di bulan Januari-Februari, respons otoritas agama mengalami fragmentasi dan kontestasi. Fragmentasi ini ditunjukkan dengan adanya gap antara sikap pro aktif dan konstruktif mayoritas pemuka dan organisasi agama dengan sikap reaktif dan kontra produktif sebagian kecil pemuka agama lainnya. Lambat laun, seiring dengan kasus Covid-19 yang kian menyebar di tanah air, otoritas agama baru berupa ‘ustad selebritis’ maupun otoritas agama lama seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU mengalami konvergensi wacana dan praksis keagamaan dalam merespons Covid-19. Mereka sama-sama bekerja keras meyakinkan umat Islam bahwa pesan otoritas agama selaras dengan panduan otoritas kesehatan.
Covid–19 Membuka Nalar Kaum Islamis: Studi Kasus Kaum Islamis di Timur Tengah
Eka Purnomo, Mush’ab Muqoddas
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47651/mrf.v15i1.86
Pandemi Covid-19 yang merupakan wabah menular yang seharusnya disikapi dengan kacamata sains, ternyata harus disikapi dengan tidak semestinya, bahkan menggunakan agama sebagai dalih-dalih pembenaran. Tentunya hal ini merupakan suatu bencana kemanusiaan yang kemudian menjadi malapetaka dan menjadi pertanyaan, untuk apa manusia diciptakan oleh Allah SWT. Apakah ibadah untuk kehidupan, ataukah kehidupan untuk ibadah? Pertanyaan ini sangat mendasar bagi kita agar kita semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara introspeksi dan evaluasi diri dengan kesadaran sebagai seorang hamba-Nya yang lemah, bukan dengan keangkuhan atau kedengkian.