cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "No 32 (2007): Juni, 2007" : 8 Documents clear
Kandungan Unsur Hara N, P, dan K Lahan Kelapa Komposit di Daerah Gorontalo dan Banyuwangi Yulianus R Matana; Jeanette Kumaunang
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.032 KB) | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.45-51

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa adalah ketersediaan unsur hara didalam tanah. Untuk dapat mengetahui ketersediaan unsur hara lahan didaerah Gorontalo dan Banyuwangi maka dilakukan pengambilan sampel tanah di dua daerah tersebut. Tujuan dari penelitian adalah untuk memeberikan gambaran tentang ketersediaan unsur hara pada lahan komposiot didaerah Gorontalo dan Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah Gorontalo kadar hara N, P dan K berada dibawah batas kritikal sehingga diperlukan penambahan unsur tersebut lewat tindakan pemupukan. Sedangkan di daerah Banyuwangi unsur N dan K berada dibawah batas kritikal sehingga perlu dilakukan penambahan unsur hara tersebut sedangkan unsur P pada umumnya ( 80%) berada diatas batas kritikal. Namun yang perlu diperhatikan pada kedua daerah tersebut adalah sistem irigasi dan drainase sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
Feromon dan Pemanfaatannya Dalam Pengendalian Hama Kumbang Kelapa Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) Jelfina C Alouw
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.12-21

Abstract

Feromon berperan dalam monitoring populasi hama sebagai bagian penting dalam pengendalian hama secara terpadu serta dapat digunakan dalam pengendalian hama yang berwawasan lingkungan. Penggunaan feromon dalam pengendalian hama Oryctes rhinoceros sudah dilakukan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa feromon agregasi sintetik dapat menangkap kumbang O. rhinoceros betina lebih banyak dibanding kumbang jantan. Ratarata jumlah kumbang yang terperangkap pada lokasi dengan tingkat serangan ringan adalah 5,6 ekor/ha/bulan sedangkan pada lokasi dengan tingkat serangan berat mencapai 27 ekor/ha/bulan.
Stomata dan Klorofil Dalam Hubungannya dengan Produksi Kelapa Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.52-59

Abstract

Stomata (mulut daun) dan klorofil merupakan komponen biologi yang sangat menentukan sintesis awal senyawa organik yang digunakan untuk proses-proses fisiologis  sepanjang daur  hidup tanaman. Stomata dan klorofil berperan langsung dalam proses fotosintesis  menghasilkan senyawa organik sebagai asimilat dari senyawa anorganik  dengan bantuan cahaya matahari. Senyawa organik ini akan digunakan oleh tanaman yang bersangkutan untuk kelangsungan hidupnya, yaitu untuk tumbuh dan berkembang termasuk menghasilkan buah kelapa. Hubungan stomata dengan produksi kelapa tidak berdiri sendiri tetapi bersama-sama dengan organ fotosintetik lainnya, yaitu klorofil dan senyawa an organik  seperti O2. dan CO2  yang terlibat dalam proses fotosintesis.  Besarnya cahaya yang diserap daun menentukan aktifitas fotosintesis, yang pada akhirnya akan menentukan besarnya asimilat (karbohidrat) yang dihasilkan.
Keragaman Fenotipik Kelapa Dalam di Kabupaten Pacitan, Tulung Agung dan Lumajang, Jawa Timur Elsje T Tenda; Jeanette Kumaunang
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.22-28

Abstract

Pertanaman kelapa di Provinsi Jawa Timur cukup luas tersebar di 10 kabupaten. Sebagai salah satu sentra produksi kelapa, Jawa Timur memiliki keragaman genetik kelapa potensial yang cukup besar. Oleh sebab itu pada Bulan Oktober 2003 telah dilakukan identifikasi dan karkaterisasi kelapa potensial asal Jawa Timur di Kabupaten Pacitan, Tulung Agung, dan Lumajang untuk melihat keragaman pada populasi kelapa Dalam. Menggunakan metode observasi berdasarkan Manual on standardized research techniques on coconut breeding COGENT untuk pengamatan karakter batang, daun, bunga, buah dan komponen buah. Hasil observasi menunjukkan bahwa Populasi kelapa Dalam di Kabupaten Pacitan, Tulungangung dan Lumajang, Jawa Timur memiliki keragaman fenotipik rendah (2.25% - 10.06%) untuk karakter vegetatif yaitu karakter batang dan daun, berarti keseragamannya cukup tinggi sehingga seleksi pada karakter ini tidak akan berpeluang untuk perbaikan sifat. Karakter-karakter panjang tangkai tandan, jumlah tangkai bunga, jumlah bunga betina dan berat air memiliki nilai keragaman sedang (21.80% – 44.60%) sehingga seleksi diharapkan memberikan peluang yang besar untuk perbaikan sifat-sifat tersebut.
Budidaya Lontar (Borassus sundaicus Becc) Maliangkay Ronny Bernhard
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.81-91

Abstract

Tanaman lontar telah lama dimanfaatkan petani, walaupun belum dibudidayakan secara khusus. Bagian tanaman lontar yang dimanfaatkan adalah nira, sedangkan pohonnya dimanfaatkan untuk kayu bangunan. Ditinjau dari manfaatnya, lontar termasuk tanaman serbaguna karena seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan atau memiliki nilai ekonomis. Oleh karena itu, tanaman lontar berpeluang untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku dalam pengembangan agroindustri, sehingga dapat menunjang pendapatan asli daerah. Namun demikian, populasi tanaman semakin berkurang karena telah ditebang untuk bahan bangunan dan perluasan pemukiman. Berdasarkan hal tersebut, tanaman lontar perlu dibudidayakan. Teknik budidaya yang  perlu dilakukan adalah pemilihan bahan tanaman, pesemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan metode penyadapan nira.
Patogenisitas Metarhizium anisopliae dari Beberapa Media Air Kelapa Terhadap Oryctes rhinoceros L. Welmenci J Sambiran; Meldy L.A Hosang
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.1-11

Abstract

Cendawan Metarhizium anisopliae (Metch) Sorokin dikenal sebagai salah satu agens hayati yang dapat menekan populasi hama Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera : Scarabaeidae). Teknik pembiakan dengan air kelapa mempunyai prospek yang baik karena lebih murah dan mudah dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari patogenisitas cendawan M. anisopliae yang dibiakkan pada media air kelapa dari beberapa kultivar kelapa terhadap hama                   O. rhinoceros. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober 2005 di Laboratorium Hama Penyakit Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (BALITKA), Manado. Cendawan M. anisopliae diisolasi dari larva O. rhinoceros kemudian dimurnikan dan diperbanyak dalam media air kelapa dan agar murni. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas kultivar kelapa Dalam Bali (DBI), Dalam Tenga (DTA), Dalam Mapanget (DMT), Dalam Palu (DPU), Genjah Kuning Nias (GKN), Genjah Salak (GSK) dan kontrol (agar murni). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan M. anisopliae dapat tumbuh dengan baik pada media air kelapa dan mempunyai patogenisitas yang tinggi terhadap hama O. rhinoceros. Hasil uji patogenisitas terlihat stadia larva lebih rentan terinfeksi M. anisopliae dibandingkan imago O. rhinoceros. Mortalitas larva instar I mencapai 100% pada 10 hsp (hari setelah perlakuan), instar II 11 hsp dan instar III 14 hsp sedangkan mortalitas imago bervariasi antara 61.7-76.7% pada 20 hsp.
Pengaruh Interval Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Imam Faozi; Yulianus R Matana
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.60-67

Abstract

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh interval penyiraman terhadap pertumbuhan bibit kelapa.  Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pembibitan dan tahap pemberian perlakuan pada bibit.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kelapa Dalam Palu (DPU), Kelapa Dalam Tenga (DTA), Kelapa Genjah Tebing Tinggi (GTT) dan Kelapa Genjah Kuning Nias (GKN).  Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan faktorial 6 x 4 x 3 dengan faktor A adalah interval penyiraman, yang terdiri atas (1) penyiraman yang dilakukan dua kali seminggu (kontrol +), (2) tidak dilakukan penyiraman (kontrol -), (3) interval penyiraman satu minggu, (4) interval penyiraman dua minggu, (5) interval penyiraman tiga minggu dan (6) interval penyiraman empat minggu.  Faktor B adalah varietas kelapa, yang terdiri atas Kelapa Dalam Palu (DPU), Kelapa Dalam Tenga (DTA), Kelapa Genjah Tebing Tinggi (GTT) dan Kelapa Genjah Kuning Nias (GKN).  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 24 kombinasi perlakuan dan tiga ulangan.  Pengamatan dilakukan terhadap panjang akar, jumlah akar, volume akar dan pertambahan tinggi bibit.  Hasil Penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara interval penyiraman dan varietas kelapa yang digunakan terhadap panjang akar, volume akar, jumlah akar dan pertambahan tinggi bibit.   Interval penyiraman dua kali seminggu dan seminggu sekali memberikan pertumbuhan vegetatif yang baik yaitu pertambahan tinggi bibit dan Genjah Kuning Nias (GKN) memiliki jumlah akar yang terbanyak.
Identifikasi Blok Penghasil Tinggi dan Potensi Produksi Benih Kelapa Dalam di Provinsi Bali Maskromo, Ismail
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.29-36

Abstract

Kelapa Dalam Bali merupakan salah satu di antara keanekaragaman genetik plasma nutfah kelapa di Indonesia. Populasi kelapa ini menyebar di beberapa kabupaten di Provinsi Bali, dan telah dikembangkan di beberapa daerah lain di Indonesia. Untuk mendapatkan tanaman sebagai sumber benih, maka perlu dilakukan identifikasi dan penetapan blok penghasil tinggi dan pemilihan pohon induk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Blok Penghasil Tinggi, mengetahui jumlah pohon induk terpilih, serta potensi produksi benih Blok Penghasil Tinggi kelapa Dalam Bali di Provinsi Bali. Pengamatan dilakukan terhadap populasi kelapa di lokasi BPT dan calon BPT yang terletak di  Kabupaten Karangasem, Buleleng, dan Jembrana. Pohon sampel yang diamati sebanyak 30 pohon setiap lokasi. Karakter yang diamati meliputi karakter produksi dan komponen buah, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan pohon induk sesuai syarat yang telah ditetapkan. Hasil pengamatan diperoleh bahwa, populasi Kelapa Dalam  Bali pada keempat lokasi BPT di Provinsi Bali memiliki penampilan fenotipe komponen buah dengan nilai koefisien keragaman yang rendah, yaitu < 20%, dan produksi kopra/ha/pertahun 3.25 - 3.65 ton, sehingga memenuhi syarat sebagai BPT. Jumlah pohon terpilih sebanyak 14.927 pohon, sehingga memiliki potensi produksi benih sebesar 1.253.868 butir.  Jumlah ini  cukup untuk  pengembangan  lahan kelapa  Dalam seluas 5700 ha.

Page 1 of 1 | Total Record : 8