Journal of Music Science, Technology, and Industry (JOMSTI)
Journal of Music Science, Technology, and Industry is a scientific media disseminating science, technology, aesthetic, and industry of music in relation to its uses in the society. JOMSTI is published with a focus on philosophy, aesthetic, concept, and theory of music; music analysis and genre; music education and learning; specific and/or common, traditional and/or modern, local and/or global music history and entity; music application, practice, show or performance, and technology; production, distribution, and consumption in music industrialization; anthropology, sociology, and psychology of music.
Articles
169 Documents
Gamelan Soepra: Konsep dan Perilaku Musikal untuk Mencapai Tujuan Pendidikan
Agustinus Sani Aryanto
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (535.129 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v1i1.507
Soepra Gamelan is a set of gamelan adapted from Javanese Gamelan and has diatonic note like westen musical instruments. Soepra Gamelan is played with combo band and string section. Soepra Gamelan was created by a Jesuit from Netherlands Henricus Constant Van Deinse SJ in 1957. Soepra Gamelan has become a music subject in Loyola Senior High School Semarang since 2011. This research is to know the essence of Soepra Gamelan as a music learning means and to describe concept, musical behaviour, and the sound of Soepra Gamelan in Loyola Junior High School Semarang. Method in this research is qualitative using observation, interview, and literature study. This research is based on musicology approach. The approach is used to analyze instrumentalitation in Soepra Gamelan. The data is analyzed by using Musical Activity Theory by Alan P Merriam regarding the concept, musical behaviour, and the sound of Soepra Gamelan while Herbert Read theory is used to analyze the function of learning as a musical educational means in Loyola Senior High School Semarang. The result of this research is that Loyola Senior High School Semarang has a special method in introducing gamelan. Musical scale in Soepra Gamelan has an advantages and disadvantages (positive and negative impacts). Students can play many genre of songs in pentatonic and diatonic musical scale easily but, however, the characters of Javanese musical scale are disappeared. Through Soepra Gamelan, the students can recognize western and eastern culture from musical instrument and repertoire songs. Routine concert in performing the gamelan gives a real experience to the students in terms of process, preparation, and performance.
Semangat Perlawanan Musik Indie (Kasus Bali)
I Dewa Gede Kusuma
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (652.363 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v1i1.508
The experience of Serangan Island reclamation is a benchmark for the real failure of reclamation in the Southeast of Bali. The New Order (ORBA) situation during the time of President Soeharto was a separate Serangan Island with the cluster of Bali Island, and then there was a hoarding of coastal areas almost three times the initial area of Serangan Coast. Access to Attack can eventually blend without using a boat or boat. Indigenous peoples pasubayan in southern Bali, eager not to get hit by similar problems experience occurred in Serangan Island. Communities in south Bali are involved in resisting and resisting the reclamation plan through the practice of indie music peacefully, creatively, and without anarchism. This research is conducted by qualitative method in the context of critical culture study. The results show that environmental activists and indie musicians in Bali since 2012 are getting more agitated after the emergence of the issue of the Bay of Benoa reclamation plan. Indie musicians are slowly directing the ideology of their movement to reject the idea of government and developer investors to reclaim the Benoa Bay area of 838 Ha in Tanjung Benoa, Jimbaran, Badung regency, Bali. Indie music has a counter-interest in conveying the social message of the real conditions that occur in society. Indie music movements collaborate with activists and indigenous peoples in conveying resistance messages as an effort to protect Bali's natural environment in the future.
Balinese Pop Music: An Industrialization Era
Ni Wayan Ardini
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (553.159 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v1i1.509
Musik pop Bali muncul pada tahun 1970-an tetapi industrialisasinya mengacu pada perkembangan industrial yang dimulai pada 1990-an. Industrialisasi ini dicirikan oleh aspek ekonomi, teknologi, dan budaya baru dalam musik. Semua aspek terkait satu sama lain. Perekonomian dapat dilihat dari pertumbuhan modal dalam bisnis semacam itu. Teknologi terlihat dalam penggunaan teknologi digital menggantikan yang analog. Budaya baru dalam musik ditampilkan dalam kesadaran yang lebih besar dari orang-orang Bali dalam menikmati lagu-lagu pop Bali. Orang Bali tidak lagi malu menyanyikan lagu-lagu seperti itu. Tinjauan kepustakaan ini menggunakan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industrialisasi musik pop Bali terdiri atas produksi, distribusi, dan konsumsi musik. Produksi diciptakan oleh kekuatan budaya (musisi) dan kekuatan modal (pemilik modal). Distribusi musik pop Bali dalam pemasaran saat ini dilakukan dengan menggunakan dukungan kekuatan media, khususnya media elektronik, yaitu radio (sejak 1990-an dan bahkan lebih awal), khususnya televisi (sejak 2002), dalam hal ini Bali TV. Produksi dan distribusi tersebut memungkinkan konsumsi musik pop Bali besar-besaran dalam masyarakat Bali. Konsumsi berkaitan dengan keberadaan budaya musik baru di masyarakat. Meskipun industrialisasi ini cenderung bersifat kapitalistik, seniman Bali atau musisi dapat mencari nafkah melalui lagu-lagu pop Bali. Ini bukan kapitalisme modern tetapi postmodern, yakni sebagai musik yang bergantung pada keberadaan masyarakat Bali dan budaya mereka.
Music in Indonesia on the Ideological Debates in the Soekarnoian Era
Arhamuddin Ali
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (669.052 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.602
Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan tentang posisi musik pada perdebatan ideologi di Indonesia era Soekarno. Debat ideologi yang maksud yaitu antara konsep Soekarno tentang Nasakom (akronim Nasionalisme, Agama, Komunis atau Nasionalisme, Agama, Komunis) dan ideologi pasar (hiburan). Masing-masing ideologi ini mempengaruhi realitas musik pada waktu itu, baik kreasi maupun presentasinya. Berdasarkan hal tersebut, data tulisan ini berasal dari berbagai sumber daya, seperti observasi, wawancara, dokumen, dan rekaman audio dan video. Data tersebut dianalisis menggunakan konsep seni dan ideologi Davis dan konsep seni dan identitas Navits. Ada tiga kesimpulan yang dibuat, yaitu, pertama, Indonesia di era Soekarno dilakukan untuk mencari identitas dengan menginventarisasi musik lokal di Indonesia dan memperkenalkan ke arena internasional; kedua, Soekarno melepaskan diri dari budaya Nekolim dengan mengkategorikan musik yang baik dan yang buruk untuk Indonesia; dan ketiga, terjadi perdebatan ideologi antara musisi dan pemerintah dalam politik kebudayaan Indonesia era Soekarno. Perdebatan ini telah menempatkan musik sebagai bidang yang tidak netral dan pada kenyataannya sebagai bahasa traumatik yang muncul dari keinginan personal pencipta.
Colin McPhee and Balinese Music: A Short Bibliography
I Wayan Sudirana
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (664.917 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.603
Colin McPhee adalah seorang pianis dan komposer berbakat yang memiliki minat musik yang mendalam dalam mengeksplorasi bahasa musik lainnya. Hanya beberapa komposer di dunia barat yang akan memberi kesempatan untuk melakukan hal yang persis sama seperti yang dilakukan McPhee. Hidupnya benar-benar berubah oleh pengaruh musik Bali. Dia menerbitkan buku-buku tentang musik dan budaya Bali serta aspek kehidupan manusia dalam masyarakat Bali. Bahkan, karya McPhee yang terlibat dan berfokus pada budaya Bali merupakan kontribusi besar bagi orang Bali, dan cara yang baik untuk memperkenalkan budaya Bali kepada dunia. Untuk generasi sekarang dan generasi mendatang musisi Bali, karya-karya musik Mcphee akan berdiri sebagai bagian penting dari warisan budaya untuk Bali dan dunia. Makalah ini adalah biografi singkat Colin McPhee, yang utamanya berfokus pada karyanya sebagai seorang etnomusikolog. Sebagai seorang musisi dan komposer Bali, saya terutama tertarik pada karya-karyanya karena mereka berhubungan dengan budaya Bali. Saya juga akan memperkenalkan beberapa komposisi musik baratnya yang terinspirasi oleh musik gamelan Bali. Saya berharap bahwa dengan penulisan paper ini, saya akan mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih baik tentang apa yang telah dilakukan Colin McPhee untuk musik saya sendiri, serta untuk bidang etnomusikologi pada umumnya.
Analisis Komposisi Musik “Kuasa Tanahâ€
I Putu Adi Septa Suweca Putra
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (990.681 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.604
This paper aims to explore and understand more deeply about the music of “Kuasa Tanah†(or the power of land) composed by a Balinese musician named Dewa Ketut Alit which covertly instills intellectual value in the process of its manifestation. Broadly speaking, each composer certainly has his own method for realizing his work. The difference in methods and forms of the work produced can also provide distinctive characteristics for each composer. This article is more referring to musicality problems that occur in “Kuasa Tanah†The issue of musicality is very important to understand and peel to see music in a textual manner. Through this issue, in the next turn, it can be used as knowledge and scientific foundation in making another new work, and is expected to open a society’s perspective so that music is not only regarded as merely entertainment. Using qualitative method through interview and transcription done, in the analysis is fount that in “Kuasa Tanahâ€, there is a renewal of the packaging system that is reflected in the way the composer works in processing the selected musical elements. The entire work uses several types of local instruments found in Balinese gamelan. Although it uses several instruments from Balinese gamelan, but the music produced is sounded universal. This shows that the gamelan will elegantly coexist above equality and surge as independent music amidst the infinite dynamics of global music. Keywords: musical work, “Kuasa Tanahâ€, newness, local, global.
The Impact of Music in Increasing Intelligence: A "Gendhing Lancaran" Experiment on Spatial-Temporal Ability
Oriana Tio Parahita Nainggolan
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (606.885 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.606
Tujuan penelitian ini adalah menginvestigasi pengaruh tetembangan gamelan Jawa, yaitu gendhing lancaran terhadap peningkatan kemampuan spasial-temporal. Subjek penelitian ini adalah 60 murid sekolah dasar di kelas empat. Dengan menggunakan metode acak, subjek-subjek tersebut dijadikan ke dalam dua kelompok, yaitu 30 dalam kelompok eksperimen dan 30 lainnya dalam kelompok pengawasan. Mereka dikaitkan dengan salah satu dari dua kondisi: mendengar gendhing lancaran (untuk kelompok eksperimen) atau tidak mendengar musik tersebut (untuk kelompok pengawasan). Sebagai tugas spasial-temporal, CFIT (culture fair intelligence test) dicatat sebelum dan sesudah mendengar gendhing lancaran. Kelompok eksperimen secara signifikan bernilai lebih tinggi dibandingkan kelompok pengawasan melalui CFIT. Data ini mendukung penelitian ini di mana elemen-elemen bunyi yang dihasilkan berbagai alat musik dapat memberikan stimulus atau pengaruh pada kemampuan spasial-temporal.
Psychophysiological Responses to “Yogyakarta Nyaman†Music Composition
Ketut Sumerjana
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (668.251 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.608
Manusia selalu berusaha sehat. Ketika sakit, mereka akan mencari serta menemukan pengobatan dan metode yang sesuai untuk kondisi fisiologis dan psikologis. Salah satu pengobatan dan metode yang unik dalam proses pengobatan adalah menggunakan musik untuk memberikan campur tangan terhadap kondisi psychophysiologicalnya. Beberapa studi lain menggunakan frekuensi tinggi modulasi (HFC) dalam merangsang kondisi peserta dan telah mendapatkan hasil yang baik. Tetapi penggunaan benda-benda ini hanya berupa satu suara yang dipilih dari lebar kisaran frekuensi musik dan bahkan tidak diarahkan ke musik. Salah satu jenis musik yang begitu menarik adalah MIDI sebagai musik yang berasal dari sampel suara komposisi yang ternyata memiliki wilayah frekuensi cukup lebar, salah satunya adalah wilayah ultrasonik dalam proyek musikal penulis yang berjudul “Yogyakarta Nyamanâ€. Secara fisik, dalam dunia medis, frekuensi suara ultrasonik digunakan dalam intervensi kondisi fisiologis. Berdasarkan uraian di atas, fokus dari studi ini adalah untuk menggunakan “Yogyakarta Nyaman†untuk mendapatkan tanggapan psikofisiologis para peserta. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan responden 18 yang dibagi menjadi sembilan laki dan sembilan perempuan. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara di mana hasilnya dikonversi ke dalam angka untuk memberikan gambaran numerikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Yogyakarta Nyaman†mampu memberikan campur tangan bagi kondisi fisiologis dan psikologis responden dengan fhitung > ftabel. Nilai fhitung adalah 5.179 lebih besar dari ftabel sekitar 3.86.
Historical Aspects of Ketut Sumerjana’s “Yogyakarta Nyaman†(from Entertainment to Pre-Therapy Media)
I Putu Lukita Wiweka Nugraha Putra
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (854.189 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.609
Dalam komposisi musik, sejarah seringkali terlupakan padahal setiap musik pasti didahului dengan peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya. Terkait hal tersebut, salah satu musik yang cukup menarik perhatian bagi penulis adalah “Yogyakarta Nyaman†(2011) yang merupakan salah satu musik karya musisi sekaligus akademisi Ketut Sumerjana. Ini merupakan sebuah komposisi MIDI yang kemudian fungsinya sebagai media pra-terapi. Berdasarkan hal tersebut, maka fokus penelitian ini adalah mengenai aspek sejarah atau latar belakang musik “Yogyakarta Nyaman†baik dalam proses penciptaannya dan pergeseran fungsinya dari profan (hiburan) menuju pra-terapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif naratif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara terhadap narasumber primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik “Yogyakarta Nyaman†secara aspek sejarah atau latar belakang proses penciptaannya merupakan deskripsi interpretasi mengenai perubahan sosio-kultur Yogyakarta tahun 1990-an menuju 2000-an sedangkan komponen frekuensi subsonik dan ultrasonik yang menjadi latar belakang karya ini mengalami transformasi fungsi menjadi media pra-terapi.
Art, Music, and Identity in the Global Era
Tomas Ondrusek
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (769.585 KB)
|
DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.610
Tulisan ini meneliti keterkaitan antara seni sebagai fenomena budaya dan identitas sebagai fenomena sosial. Berfokus pada perubahan seni dan identitas yang terjadi di era global, tulisan ini dibagi menjadi dua bagian: pengalaman budaya dan pengalaman antarbudaya. Memahami kedua kekuatan ini, kita menyelidiki tantangan yang datang dengan era global. Era global membuat koneksi berkecepatan tinggi terjangkau dengan biaya rendah: Manusia memiliki akses ke informasi, tetapi juga akses ke pergerakan fisik di dunia melalui keterjangkauan transportasi internasional. Globalisasi membawa perubahan luar biasa dalam kehidupan manusia. Ini memberikan kemungkinan pengalaman tangan pertama dari keragaman di dunia dan membuat pengalaman antarbudaya dapat diakses. Warga global adalah warga negara yang bergerak, seseorang yang memiliki pengalaman berbagai negara dan budaya. Tetapi: apakah warga global ini juga di masa depan akan memiliki "budaya global" di sana. Kita berhadapan dengan paradoks besar: di satu sisi kita memiliki era globalisasi yang telah menghasilkan warga global pertama. Di sisi lain kita memiliki seni dan kreativitas, yang tidak mungkin ada tanpa identitas budaya (lokal) dan bahkan tidak disadari oleh kebudayaan di luar kebudayaan dirinya karena sering tampak lucu atau menggelikan. Seni berakar dalam - dan terhubung dengan - budaya lokal atau lingkaran budaya: seperti bunga, kreativitas seni tumbuh di tanah budaya lokal: ia menggunakan tanda, tata bahasa, semantik, emosi, dan asosiasi intelektual yang hanya dipahami oleh anggota yang disosialisasikan di lingkungan budaya bersama.