cover
Contact Name
Gusstiawan Raimanu
Contact Email
g.raimanu@unsimar.ac.id
Phone
+6281354205726
Journal Mail Official
jurnalagropet@unsimar.ac.id
Editorial Address
Lt. Dasar Gedung Rektorat, Fak. Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso Jl. P. Timor No. 1. Poso
Location
Kab. poso,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Agropet
ISSN : 16939158     EISSN : 28289250     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Agropet (Agropet) is a journal published by Faculty of Agriculture, Universitas Sintuwu Maroso, Indonesia. It is a scientific journal dedicated to publishing the manuscript of the research in the field of agricultural technology, such as agricultural product technology, agricultural engineering and agricultural industries technology. Agropet also publishing various disciplines of animal science, such as animal feed and nutrition; animal reproduction, genetics, and production; social and economic; and animal products science and technology. Agropet has p-ISSN 1963-9158. Jurnal Agropet publish two times per year on June and December.
Articles 266 Documents
Agroforestri Dan Pengelolaan Kebun Kakao Berkelanjutan Abdul Rahim Saleh
Agropet Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.177

Abstract

Kakao, salah satu tanaman tahunan penting di dunia, hampir secara eksklusif dieksplorasi untuk pembuatan coklat. Habitat asli tanaman kakao yaitu tumbuh di bawah naungan tegakan hutan, karena tanaman kakao merupakan spesies yang toleran naungan, di mana naungan yang tepat mempengaruhi laju fotosintesis relatif tinggi, yang akhirnya mempengaruhi pertumbuhan dan hasil biji. Cahaya yang tinggi memicu serangan hama dan penyakit, sehingga akan menurunkan hasil biji. Produksi kakao yang tinggi pada sistem monokulttur membutuhkan input tinggi dalam hal proteksi dan nutrisi tanaman.  Manajemen agroforesri kakao yang tepat, mempu menciptakan iklim mikro yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kakao berupa mengurangi intensitas penyinaran yang diterima kanopi daun, menurunkan suhu yang mempu menekan laju evapotranspirasi. Pohon naungan dalam sistem agroforestri menjadi inang bagi serangga hama maupun predator serta serngga penyerbuk. Selain itu, pohon naungan menyumbangkan seresah bahan organik tanah. Usaha budidaya kakao dengan sistem agroforestri dapat menjadi alternatif dalam mengolah lahan marjinal yang kurang subur menjadi lahan yang produktif dan berkelanjutan. 
Uji Dan Identifikasi Sifat Fisik Dan Kimia Buah Manggis Di Desa Olumokunde Kecamatan Pamona Timur Yulinda Tanari
Agropet Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.178

Abstract

Sifat fisik dan kimia buah merupakan indikator terhadap kualitas buah manggis. Sifat fisik buah manggis meliputi bobot buah dan bagian-bagiannya, diameter buah serta edibel portion, sedangkan sifat kimia buah meliputi asam padatan terlarut total, asam tertitrasi total dan skoring rasa buah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengidentifikasi sifat fisik dan kimia buah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode uji deskriftif untuk sifat fisik; metode titrasi asam, pengujian brix dan uji skoring rasa buah untuk uji kimia buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manggis di desa Olumokunde adalah buah dengan kualitas super II,  dengan bagian buah yang dapat dimakan sebesar + 25.89%. Padatan terlarut total buah adalah + 15 brix dengan kandungan asam tertitrasi total sebesar 0,76% dengan rasa manis sedikit asam.
Sambung Pucuk Dini Pada 5 Jenis Klon Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan Umur Batang Bawah Yang Berbeda Ridwan Ridwan
Agropet Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.179

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui umur batang bawah yang tepat untuk setiap klon pada sambung pucuk dini tanaman kakao, mengetahui jenis klon yang baik terhadap keberhasilan sambung pucuk dini tanaman kakao dan mendapat umur batang bawah yang lebih baik terhadap sambung pucuk dini tanaman kakao.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu-Ilmu kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako, Palu, dimulai dari bulan Januari sampai April 2015.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan yang disusun secara faktorial.  Perlakuan yang dicoba terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah klon unggul sebagai batang atas (entries) dan faktor kedua adalah umur batang bawah yang berbeda.  Data diolah dengan analisis sidik ragam dan untuk mengetahui adanya perbedaan antar perlakuan, maka dilakukan uji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat umur batang bawah yang tepat untuk setiap klon pada sambung pucuk dini tanaman kakao.  Klon MO1 memberikan tingkat keberhasilan yang lebih baik terhadap semua variabel pengamatan, dimana rata-rata kecepatan tumbuhnya yaitu 10,44 hari setelah penyambungan, persentase sambungan tumbuh yaitu 100%, jumlah tunas yaitu 6,22,  jumlah daun yaitu 11,33 helai dan diameter tunas yaitu 0,40 mm dan batang bawah umur 2 minggu memberikan tingkat keberhasilan yang lebih baik terhadap semua variabel pengamatan, dimana rata-rata kecepatan tumbuhnya yaitu 10,40 hari setelah penyambungan, persentase sambungan tumbuh yaitu 100%, jumlah tunas yaitu 5,20,  jumlah daun yaitu 10,67 helai dan diameter tunas yaitu 0,33 mm. 
Pengaruh Dosis Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai Pada Lahan Kering Ridwan Ridwan; Hanifa Hanifa
Agropet Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Dosis Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai Pada Lahan Kering. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lape, kecamatan Poso pesisir kabupaten Poso, di mulai dari bulan januari sampai apri 2016Penelitian ini disusun dengan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan yang dicobakan terdiri atas 5 perlakuan yaitu K0: tanpa pupuk, K1: dosis 50 kg/ha, K2: dosis 100 kg/ha, K3: dosis 150 kg/ha dan K4: dosis 200 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variable aktivitas pertumbuhan kedelai dan komponen hasil kedelai yang dihasilkan. Data yang telah diperoleh selanjutnya di analisis varian (ANOVA), dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ).Berdasarkan hasil analisis sidik ragam yang berpengaruh tidak nyata pada tanaman kedelai yaitu tinggi tanaman umur 3 MST, 4 MST, 5 MST, 6 MST. Jumlah daun tanaman umur 3 MST, 4 MST, 5 MST, 6 MST. Berat kering akar tanaman umur 8 MST, 9 MST. Berat kering batang tanaman umur 7 MST, 8 MST, 9 MST. Berat kering daun tanaman umur 7 MST, 8 MST, 9 MST. Jumlah polong isi, bobot 100 butir, bobot biji perpetak dan bobot biji per hektar. Selanjutnya yang berpengaruh nyata yaitu berat kering akar 7 MST dan jumlah polong hampa.Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa perlakuan dengan dosis 100 kg/ha menunjukkan hasil terbaik pada pertumbuhan dan hasil kedelai dibandingkan dengan perlakuan lainnya. 
Prevalensi Penyakit Scystosomiasis Pada Ternak Kerbau Di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Yan Alpius Loliwu; Dolvi Ngkiro
Agropet Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.181

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi penyakit Schystosomiasis pada ternak kerbau di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso. Metode penelitian ini menggunakan metode Sensus dimana ukuran populasi sebesar 40 ekor.Pengambilan sampel  dilakukan dengan cara mengambil  feses kerbau yang masih segar dengan menggunakan sarung tangan dan selanjutnya  dimasukan dalam  plastik serta diberi label. Kemudian sampel di bawa ke laboratorium Scystosomiasis Desa Wuasa untuk dilakukan pemeriksaan.  Apabila hasil pemeriksaan secara mikroskopis ditemukan adanya telur-telur cacing Scystosoma japonicum maka  diberi tanda positif (+) dan jika tidak ditemukan  telur-telur cacing tersebut maka diberi tanda negatif (-).Hasil pemeriksaan Laboratorium Scystosomiasis Desa Wuasa Kecamatan Lore Utara, diperoleh data jumlah kasus positif (+) Scystosomiasis pada ternak kerbau di Kecamatan Lore Utara berjumlah 3 ekor yang berasal dari Desa Sedoa, sedangkan sampel feses kerbau dari Desa Wuasa dinyatakan tidak terinfeksi Scystosomiasis (-) atau tidak ditemukan adanya telur-telur cacing Scystosoma japonicum. Bersasarkan hasil analisis data menggunakan rumus Gasperaz (1991), diperoleh  prevalensi penyakit  Scystosomiasis di Kecamatan Lore Utara sebesar 7,5%.Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa prevalensi penyakit Scystosomaisis di Kecamatan Lore Utara sebesar 7,5%. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya kasus penyakit Scystosomaisis antara lain dikarenakan sistim pemeliharaan masih bersifat ekstensif/tradisional, sistim pemberian pakan belum memperhatikan kuaiitas dan kuantitas pakan yang baik, masih rendahnya pengetahuan tentang  manajemen kesehatan  yang baik dan masih banyak  lahan-lahan yang tidak termanfaatkan sehingga terjadi genangan air sebagai media hidup dari keong Oncomelania huspensis dimana keong tersebut merupakan hospes terjaddinya infeksi penyakit Schystosomiasis.
Kandungan Mineral Duckweed (Lemna minor) Sebagai Sumber Hijauan Pakan Alternatif Ternak Pada Intensitas Cahaya Yang Berbeda Uti Nopriani; P.D. M.H Karti; I Prihantoro
Agropet Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.182

Abstract

Duckweed (Lemna minor) adalah tanaman air kecil yang ditemukan tumbuh mengapung diatas air dengan tingkat penyebaran yang sangat luas diseluruh dunia dan potensial sebagai sumber hijauan pakan yang berkualitas tinggi bagi ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan mineral fosfor (P), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan kalium (K). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Data dianalisis dengan metode analisis sidik ragam (ANOVA), jika terdapat perbedaan yang nyata dilakukan uji lanjut DMRT (Steel dan Torrie 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mineral P, Ca dan K pada berbagai level naungan berbeda nyata (P<0,05), sedangkan kandungan mineral Mg pada berbagai level naungan tidak berbeda nyata (P>0,05).
Motivasi Dan Persepsi Petani Padi Terhadap Intensi Penggunaan Pupuk Organik Di Desa Leuwibatu Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor Andri Amaliel Managanta
Agropet Vol 13 No 2 (2016): Volume 13 No 02 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.183

Abstract

Penggunaan pupuk organik dapat diindentifikasi lebih awal melalui intensi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi motivasi, persepsi terhadap intensi penggunaan pupuk organik, menganalisis hubungan motivasi, persepsi terhadap intensi penggunaan pupuk organik. Menganalisis pengaruh norma subjektif, persepsi pengendalian perilaku dan  sikap individu terhadap intensi penggunaan pupuk organik. Penelitian dilaksanakan dikelompok tani Rahayu Mekar Leuwibatu Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Populasi 110 petani dan sampel sebanyak 64 orang petani. Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan model analisis jalur (path analysis) dan pengolahan data menggunakan program Lisrel 9.2 dan smartPLS 3.0. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara motivasi dan persepsi  petani padi terhadap intensi penggunaan pupuk organik. Ini berarti semakin tinggi motivasi dan persepsi petani maka akan semakin tinggi pula intensi penggunaan pupuk organik pada petani. Adanya pengaruh dari sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan persepsi pengendalian perilaku petani padi terhadap intensi penggunaan pupuk organik.
Pengaruh Lama Pembenaman Pupuk Hijau Chromolaena odorata L. Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Jagung Pulut Kamelia Dwi Jayanti; Novianti Novianti
Agropet Vol 13 No 2 (2016): Volume 13 No 02 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.184

Abstract

Penelitian pengaruh lama pembenaman pupuk hijau Chromolaena odorata L. terhadap pertumbuhan dan produksi jagung pulut telah dilaksanakan di Desa Lape pada bulan April hingga Juli 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan, yaitu tanpa pupuk (P0), lama pembenaman 1 minggu sebelum tanam (P1), lama pembenaman 2 minggu sebelum tanam (P2), lama pembenaman 3 minggu sebelum tanam (P3), dan lama pembenaman 4 minggu sebelum tanam (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pembenaman 3 minggu sebelum tanam merupakan perlakuan terbaik dan berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan produksi jagung pulut.
Kombinasi Pemakaian Pupuk Kandang Ayam Dan Npk Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Yulinda Tanari; Milka Giantowe Sepatondu
Agropet Vol 13 No 2 (2016): Volume 13 No 02 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.185

Abstract

Produksi sayuran buncis mengalami penurunan sejak lima tahun terakhir. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi adalah dengan melakukan pemupukan. Kombinasi pupuk kandang dan NPK  dapat menyediakan hara yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman buncis. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima taraf perlakuan (M1: 100% NPK ( 80 g/petak), M2  : 75% NPK (60 g/petak) + 25% pupuk kandang Ayam (1,8 kg/petak), M3: 50% NPK (40 g/petak) + 50% pupuk kandang Ayam (3,6 kg/petak), M4            : 25% NPK (20 g/petak) + 75% pupuk kandang Ayam (5,4 kg/petak), M5           : 100% pupuk kandang Ayam (7,2 kg/petak). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kombinasi pupuk kandang ayam dan NPK yang tepat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman buncis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk kandang ayam dan NPK memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong pertanaman dan produksi. Perlakuan 50% NPK (40 g/petak) + 50% pupuk kandang ayam (3,6 kg/petak) (M3) memberikan pengaruh yang terbaik terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong pertanaman dan produksi.
Potensi Cendawan Entomopatogen Penicillium sp Terhadap Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) Di Lapang Meitry Tambingsila
Agropet Vol 13 No 2 (2016): Volume 13 No 02 Tahun 2016
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.187

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas genus Penicillium sebagai cendawan entomopatogen terhadap mortalitas penggerek buah kakao C.cramerella dan mengetahui perbedaan peranan cendawan entomopatogen genus Penicillium dalam bentuk tepung dan cair dalam mengendalikan penggerek buah kakao C.cramerell di pertanaman kakao. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Alamiah Dasar Universitas Sintuwu Maroso Poso, dan di perkebunan kakao di kecamatan Poso Pesisir yang berlangsung selama 4 bulan.Dalam penelitian ini digunakan desain penelitian Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu P0 (aquades tanpa Penicillium sp., P1(Penicillium sp. pada Media Cair Konsentrasi 106 ), P2 (Penicillium sp. pada Media Beras Konsentrasi 106 ) dan P3 (Insektisida Cloromite 0,05% ) yang diulang sebanyak 4 kali. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa cendawan Penicillium sp pada media beras memberikan hasil terbaik dalam menekan serangan PBK pada buah kakao dengan persentase jumlah buah yang terserang sebesar 12,50% kategori serangan ringan.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 23 No 1 (2026): Vol 23 No 1 Tahun 2026 Vol 22, No 2 (2025): Volume 22 No 2 Tahun 2025 Vol 22 No 2 (2025): Volume 22 No 2 Tahun 2025 Vol 22, No 1 (2025): Volume 22 No 1 Tahun 2025 Vol 22 No 1 (2025): Volume 22 No 1 Tahun 2025 Vol 21, No 2 (2024): Volume 21 No 2 Tahun 2024 Vol 21 No 2 (2024): Volume 21 No 2 Tahun 2024 Vol 21 No 1 (2024): Volume 21 No 1 Tahun 2024 Vol 21, No 1 (2024): Volume 21 No 1 Tahun 2024 Vol 20, No 2 (2023): Volume 20 No 2 Tahun 2023 Vol 20 No 2 (2023): Volume 20 No 2 Tahun 2023 Vol 20, No 1 (2023): Volume 20 No 1 Tahun 2023 Vol 20 No 1 (2023): Volume 20 No 1 Tahun 2023 Vol 19, No 2 (2022): Volume 19 No 2 Tahun 2022 Vol 19 No 2 (2022): Volume 19 No 2 Tahun 2022 Vol 19, No 1 (2022): Volume 19 No 1 Tahun 2022 Vol 19 No 1 (2022): Volume 19 No 1 Tahun 2022 Vol 18 No 2 (2021): Volume 18 No 2 Tahun 2021 Vol 18, No 2 (2021): Volume 18 No 2 Tahun 2021 Vol 17, No 1 (2020): Volume 17 No 1 Tahun 2020 Vol 17 No 1 (2020): Volume 17 No 1 Tahun 2020 Vol 16 No 2 (2019): Volume 16 No 2 Tahun 2019 Vol 16, No 2 (2019): Volume 16 No 2 Tahun 2019 Vol 16, No 1 (2019): Volume 16 No 1 Tahun 2019 Vol 16 No 1 (2019): Volume 16 No 1 Tahun 2019 Vol 15, No 2 (2018): Volume 15 No 2 Tahun 2018 Vol 15 No 2 (2018): Volume 15 No 2 Tahun 2018 Vol 15, No 1 (2018): Volume 15 No 1 Tahun 2018 Vol 15 No 1 (2018): Volume 15 No 1 Tahun 2018 Vol 14 No 2 (2017): Volume 14 No 02 Tahun 2017 Vol 14, No 2 (2017): Volume 14 No 02 Tahun 2017 Vol 14, No 1 (2017): Volume 14 No 01 Tahun 2017 Vol 14 No 1 (2017): Volume 14 No 01 Tahun 2017 Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah AgroPet Vol 13 No 2 (2016): Volume 13 No 02 Tahun 2016 Vol 13, No 2 (2016): Volume 13 No 02 Tahun 2016 Vol 13, No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016 Vol 13 No 1 (2016): Volume 13 No 01 Tahun 2016 Vol 12 No 2 (2015): Volume 12 No 02 Tahun 2015 Vol 12, No 2 (2015): Volume 12 No 02 Tahun 2015 Vol 12, No 1 (2015): Volume 12 No 01 Tahun 2015 Vol 12 No 1 (2015): Volume 12 No 01 Tahun 2015 Vol 11 No 1 (2014) Vol 11, No 1 (2014) Vol 10, No 2 (2013) Vol 10 No 2 (2013) Vol 10 No 1 (2013) Vol 10, No 1 (2013) Vol 9 No 1 (2012) Vol 9, No 1 (2012) More Issue