cover
Contact Name
Didik Harnowo
Contact Email
bpalawija@gmail.com
Phone
+62341-801468
Journal Mail Official
bpalawija@gmail.com
Editorial Address
Balitkabi. Jalan Raya Kendalpayak No 8, Malang.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Buletin Palawija
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles 223 Documents
GALUR HARAPAN KEDELAI HITAM BERDAYA HASIL TINGGI DAN BERKARAKTER EKSOTIK M. Muchlish Adie; Gatut Wahyu Anggoro Susanto; Arifin Arifin
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.371 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n13.2007.p1-7

Abstract

Meningkatnya permintaan kedelai hitam oleh industri, menimbulkan kembali minat petani untuk menanam kedelai hitam. Pemerintah baru berhasil melepas dua varietas kedelai hitam berdaya hasil tinggi (selain tiga varietas unggul lama, Otau, No 27 dan Merapi) yakni Cikuray (dilepas tahun 1992) dan Mallika (dilepas 2007). Ciri utama varietas tersebut adalah ukuran bijinya berkriteria sedang yaitu sekitar 10 g/100 biji. Perbaikan potensi hasil kedelai hitam serta ukuran biji dan karakter lainnya, diupayakan melalui pembentukan populasi dengan menggunakan kedelai hitam introduksi berukuran biji besar disilangkan dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Seleksi dan uji daya hasil mendapatkan tiga galur kedelai hitam prospektif yakni 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211. Pengujian di 18 sentra produksi membuktikan bahwa galur 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211 berdaya hasil 18% lebih tinggi dibandingkan varietas kedelai hitam Cikuray (2,03 t/ha). Tiga galur kedelai hitam tersebut memiliki karakter unik. Galur 9837/K-D-8-185 memiliki ukuran biji 14,84 g/100 biji, dan akan menjadi kedelai hitam pertama berukuran biji besar sekaligus memiliki kandungan protein tinggi (45,36 %). Galur 9837/W-D-5-211 akan menjadi varietas kedelai hitam dengan kandungan protein tertinggi (45,58 %) dari seluruh varietas kedelai yang ada di Indonesia. Sedangkan keunikan galur W/9837-D-6-220 adalah berkotiledon hijau (green kernel), dan akan menjadi varietas kedelai pertama di Indonesia yang memiliki warna kotiledon hijau. Tiga galur tersebut sudah diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul.
Peluang Heterosis Hasil Persilangan Terkendali pada Bobot Umbi dan Kadar Kalium Ubi Jalar Febria Cahya Indriani; Joko Restuono
Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.243 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v16n2.2018.p65-73

Abstract

Persilangan terkendali pada tanaman ubi jalar berpeluang untuk meningkatkan heterozigositas dibandingkan persilangan terbuka (open pollination). Penelitian bertujuan untuk mempelajari pola heterosis karakter bobot umbi per tanaman dan kadar kalium pada ubi jalar. Penelitian dilaksanakan di Poncokusumo, Malang, dan analisis kadar kalium di Laboratorium Kimia Tanah, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi pada bulan Maret sampai Desember 2015. Bahan penelitian yang digunakan adalah benih F1 hasil persilangan terkendali dari enam kombinasi persilangan. Nilai heterosis diduga dengan membandingkan antara selisih F1 dengan rata-rata kedua tetua, sedangkan heterobeltiosis diduga dengan membandingkan antara F1 dengan tetua terbaik. Hasil penelitian menunjukkan adanya fenomena heterosis pada karakter bobot umbi per tanaman dan kadar kalium pada ubi jalar. Peluang heterosis untuk karakter bobot umbi per tanaman sebesar 16% dan heterobeltiosis 11%, sedangkan peluang heterosis kadar kalium sebesar 47% dan heterobeltiosis 21%. Varietas Beta 2 sangat potensial digunakan sebagai tetua untuk meningkatkan peluang heterosis bobot umbi per tanaman dan kadar kalium pada ubi jalar.
ISOLAT VIRULEN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Lecanicillium lecanii SEBAGAI BIOINSEKTISIDA UNTUK PENGENDALIAN TELUR KEPIK COKLAT Riptortus linearis (F.) PADA KEDELAI Yusmani Prayogo
Buletin Palawija No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.04 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n21.2011.p39-54

Abstract

Lecanicillium lecanii (=Verticillium lecanii) (Zimm.) (Viegas) Zare dan Gams merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang efektif untuk mengendalikan kepik coklat Riptortus linearis pada kedelai. Kelebihan cendawan L. lecanii dapat menginfeksi semua stadia serangga kepik coklat, termasuk stadia telur, nimfa maupun imago. Telur kepik coklat yang terinfeksi cendawan L. lecanii akhirnya tidak dapat menetas karena cendawan tersebut bersifat ovisidal. L. lecanii bersifat kosmopolit, mudah ditemukan di berbagai daerah baik tropis maupun sub tropis sehingga mempunyai virulensi yang sangat beragam. Virulensi cendawan dipengaruhi oleh keragaman intraspesies yang memiliki perbedaan karakter fisiologi. Untuk mendapatkan isolat L. lecanii yang memiliki virulensi tinggi dapat eksplorasi dari berbagai sumber, yaitu dari bangkai serangga (cadaver), menggunakan metode pengumpanan serangga dan isolasi dari dalam tanah. Isolat L. lecanii yang virulen tumbuh lebih cepat, karakter koloni wholly, mampu memproduksi konidia lebih banyak, ukuran konidia lebih besar hingga mencapai 6,5 x 2,5 µm, serta memiliki daya kecambah konidia di atas 95% dalam waktu hanya 12 jam. Suhu untuk pertumbuhan vegetatif L. lecanii lebih luas, yaitu 20–27 oC, sedangkan suhu untuk fase generatif pada suhu 27 oC. Isolat yang virulen memiliki kesamaan karakter fisiologi yang sangat dekat dengan derajat kemiripan 98%. Dengan demikian, empat isolat yang virulen memiliki peluang yang sama untuk digunakan sebagai salah satu bioinsektisida yang prospektif dalam pengelolaan hama terpadu (PHT) untuk hama kepik coklat R. linearis pada stadia telur.
Strategi Pengendalian Penyakit Tanaman Kedelai Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.669 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n7-8.2004.p51-60

Abstract

Serangan penyakit tanaman merupakan salah satu penyebab produktivitas tanaman kedelai masih rendah (sekitar 1,2 t/ha). Tidak kurang 20 patogen jamur, bakteri, mikoplasma dan virus dapat menyerang tanaman kedelai dan menyebabkan kerugian hasil mulai ringan sampai berat. Ekologi tropika yang lembab dan hangat serta tidak adanya musim dingin/musim panas yang tegas, memungkinkan petani bertanam sepanjang tahun dengan pola tanam yang tidak teratur dan terpencar, menyebabkan permasalahan pengendalian penyakit tanaman menjadi lebih kompleks. Identifikasi patogen penyebab penyakit secara benar diikuti pemahaman ekobiologi patogen, tanaman inang, dan vektor (patogen virus) serta pola perkembangan penyakit di lapang sangat diperlukan untuk menyusun strategi dan langkah operasional pengendalian penyakit tanaman kedelai. Berdasar pola perkembangan penyakit di lapang, sebagian besar penyakit tanaman kedelai mengikuti pola perkembangan bunga majemuk (compound interest). Oleh karena itu strategi pengendalian penyakit dilakukan dengan menekan proporsi tanaman sakit pada saat awal (Xo), menekan laju infeksi (r) dan mengurangi waktu (t) terjadinya epidemi. Pengendalian Penyakit Terpadu (PPT) yang mengkombinasikan beberapa komponen pengendalian ke dalam satu sistem melalui pendekatan kelompok tani dalam hamparan yang luas akan lebih mengoptimalkan upaya pengendalian penyakit tanaman di lapang.
PROSPEK UWI SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL DAN BAHAN DIVERSIFIKASI PANGAN Hapsari, Ratri Tri
Buletin Palawija No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.605 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n27.2014.p26-38

Abstract

Uwi (Dioscorea alata) merupakan tanaman pangan lokal yang prospektif dan dapat digunakan sebagai pangan fungsional dan bahan diversifikasi pangan. Uwi mengandung karbohidrat dan protein tinggi namun rendah kadar gula. Berbagai penelitian telah mengungkapkan manfaat uwi bagi kesehatan, seperti dapat digunakan sebagai pengganti nasi untuk penderita diabetes, mengurangi risiko terkena kanker payudara dan penyakit kardiovaskular, serta dapat digunakan sebagai obat terapi pada penderita osteoporosis dan memelihara kesehatan usus. Budidaya tanaman uwi relatif mudah dan tidak memerlukan perawatan khusus, masa dormansi umbi yang panjang dapat dipersingkat hingga 1 bulan, satu umbi berukuran sedang dapat menghasilkan 16– 24 batang bibit. Untuk mempermudah proses pengolahan uwi, sebaiknya dilakukan perbaikan genetik ubi uwi yang memiliki bentuk seragam dan kandungan nutrisi yang baik. Prospek uwi sebagai pangan fungsional dan bahan diversifikasi pangan dapat dilakukan dengan proses pembuatan tepung yang memiliki kapasitas antioksidan yang baik selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan beragam produk olahan modern seperti roti, kue kering (cookies), flakes, muffin, mie atau bihun. Selain itu sosialisasi dan promosi mengenai keunggulan uwi dari segi kesehatan juga diperlukan untuk meningkatkan nilai ekonomi uwi.
Subjek dan Author Indeks Buletin Palawija Volume 15 No 1 Supiyandi, Abi
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.434 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p%p

Abstract

HAMA BOLENG PADA TANAMAN UBIJALAR DAN PENGENDALIANNYA Indiati, Sri Wahyuni; Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.847 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n19.2010.p27-37

Abstract

Di Indonesia, ubijalar merupakan bahan pangan sumber karbohidrat sesudah beras dan jagung. Sayangnya produktivitas ubijalar hingga saat ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 10,78 t/ha. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas ubijalar tersebut adalah serangan hama boleng, Cylas formicarius sedangkan petani belum melakukan pengendalian terhadap hama tersebut secara optimal. Pengendalian terpadu menggunakan dua atau lebih komponen pengendalian sangat diperlukan untuk mengatasi serangan hama boleng tersebut. Pengendalian hama boleng terpadu dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian, yaitu: Sanitasi lahan, cara bercocok tanam meliputi penggunaan bibit sehat (stek pucuk), pembumbunan, pengairan, dan pergiliran tanaman; penggunaan varietas/klon toleran terhadap hama boleng seperti Cangkuang dan Genjahrante; penangkapan serangga jantan dengan menggunakan feromon seks sintetik atau C. formicarius virgin sebanyak 5–10 ekor/100 m2; pemanfaatan agensia biologi, jamur B. bassiana; penyemprotan dengan insektisida organik yaitu serbuk biji mimba dengan takaran 20 kg/ha; secara kimiawi dengan perendaman stek ke dalam insektisida dan penyemprotan pertanaman dengan insektisida permetrin, karbosulfan, dan endosulfan, atau insektisida dalam bentuk butiran yaitu karbofuran 3G masing-masing dengan konsentrasi anjuran.
Identifikasi Ketahanan terhadap Pecah Polong dan Keragaan Karakter Agronomi Genotipe Kedelai Krisnawati, Ayda; Adie, Moch Muchlish; Mejaya, I Made Jana
Buletin Palawija Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.646 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v18n1.2020.p1-10

Abstract

Kehilangan hasil akibat pecah polong merupakan masalah serius pada budi daya kedelai di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi ketahanan genotipe kedelai terhadap pecah polong dan mengkarakterisasi karakter agronomi masing-masing genotipe. Sebanyak 24 genotipe kedelai diuji lapang di Kabupaten Nganjuk dan Mojokerto pada bulan Februari-Mei 2017. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 24 perlakuan dan diulang tiga kali. Pengujian ketahanan terhadap pecah polong menggunakan metode oven. Ragam ketahanan terhadap pecah polong 24 genotipe kedelai terjadi pada suhu 50 °C dan 60 °C. Diperoleh satu genotipe sangat tahan terhadap pecah polong dari penelitian di Nganjuk, yakni G511H/Anj//Anj///Anj////Anjs-4, dua genotipe tahan (varietas Anjasmoro dan Detap 1), dan satu genotipe moderat (G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-8-5). Pada penelitian di Mojokerto, tidak diperoleh genotipe kedelai yang tergolong sangat tahan, namun diperoleh empat genotipe (G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-8-5, G 511 H/Anj//Anj///Anj////Anjs-4, varietas Anjasmoro, dan Detap 1) tahan pecah polong. Pengelompokan ketahanan berdasarkan  rata-rata dari dua lokasi memperoleh satu genotipe tahan pecah polong, yaitu G511H/Anj//Anj///Anj////Anj-4, sama tahan dengan varietas pembanding tahan yaitu varietas Detap 1. Genotipe G511H/Anj//Anj///Anj////Anj-4 berumur genjah (masak pada 79 hst), ukuran biji besar (16,16 g/100 biji), dan hasil biji mencapai 3,08 t/ha. Karakteristik genotipe kedelai yang demikian diperlukan untuk peningkatan produksi kedelai di Indonesia yang beriklim tropis.
PENGARUH KEMASAN DAN HARGA JUAL KERIPIK DAN STIK DARI TEPUNG KOMPOSIT KELADI DAN UBIJALAR TERHADAP PENERIMAAN KONSUMEN Elisabeth, Dian Adi Anggraeni; Aurum, Fawzan Sigma; Rinaldi, Jemmy
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.042 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p1-7

Abstract

Introduksi pengolahan produk snack berbahan baku tepung komposit keladi dan ubijalar telah dilaksanakan di Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali pada tahun 2013 dan 2014 dengan melibatkan KWT “Mekar Sari”. Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa produk keripik dan stik yang dibuat dari tepung keladi dan tepung ubijalar dengan perbandingan 3:2 dan 4:1 dapat diterima secara organoleptik (hedonik) oleh panelis. Analisis biaya produksi untuk produk keripik dan stik per kemasan 30 g adalah Rp 1.537,90 dan Rp 1.398,60; dengan R/C ratio 1,29 dan 1,17. Umur simpan produk sampai sekitar 34 minggu pada suhu ruang untuk produk stik yang disimpan dalam plastik PE 0,40 mm sebagai kemasan dalam dengan kertas karton sebagai kemasan luar. Produk snack dikemas dengan desain khusus dan diberi label nama “Keripik Labi” dan “Stick Labi” kemudian diperkenalkan kepada konsumen untuk mengetahui penerimaan konsumen terhadap produk. Studi melibatkan 32 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner semi-terbuka dan dianalisis secara deskriptif kualitatif sederhana. 84-97% panelis menyatakan bahwa informasi tanggal kadaluwarsa produk tidak jelas. Beberapa informasi lain juga dianggap masih agak jelas. Informasi pada kemasan yang tidak jelas membuat 10-15% konsumen menganggap produk tidak menarik sehingga mempengaruhi minat beli konsumen. Disamping itu, harga produk yang mahal juga berpengaruh pada minat beli konsumen (25-27%). Harga jual sebesar Rp 3.500,00 dianggap tidak sesuai untuk produk snack kemasan 30 g. Harga jual yang pantas/sesuai menurut mayoritas konsumen (89-90%) adalah kurang dari Rp 3.000,00.Hasil penelitian ini memang masih jauh dari yang diharapkan. Namun, hasil studi dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi petani untuk pengembangan produk secara komersial.
PROSPEK SERTA PENCANDRAAN SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF KACANG GUDE (Cajanus cajan L. Millsp.) Krisnawati, Ayda
Buletin Palawija No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.578 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n9.2005.p1-10

Abstract

Kacang gude (Cajanus cajan L. Millsp.) telah menyebar luas di daerah tropis dan produksi terbesar di dunia adalah India. Di Indonesia, sentra pertanaman kacang gude berada di Jawa, Bali, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Kacang gude yang dibudidayakan petani adalah varietas lokal, ditanam secara tumpangsari dengan jagung, ubikayu dan kacang-kacangan lainnya. Tanaman kacang gude toleran terhadap kekeringan, tahan rebah dan polong tidak mudah pecah, serta adaptif berbagai jenis tanah. Biji kacang gude dapat digunakan sebagai bahan konsumsi langsung dan bahan subtitusi tepung biji-bijian lain, sedangkan tanamannya dapat digunakan sebagai pupuk hijau, campuran makanan ternak dan kayu bakar. Karakter hasil biji, jumlah polong, dan kadar protein mempunyai heritabilitas rendah, sedangkan umur berbunga, tinggi tanaman, dan ukuran biji berheritabilitas tinggi. Pencandraan sifat kualitatif dan kuantitatif kacang gude berguna sebagai pedoman dalam pemberdayaan genetik pada program pemuliaan, atau dimanfaatkan langsunguntuk kepentingan komersial. Hingga saat ini, deskriptor kacang gude belum ada, sehingga perlu disusun untuk digunakan sebagai acuan untuk tanaman bersangkutan. Pendeskripsian penting berkaitan dengan perlindungan varietas. Varietas yang dapat diberikan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) harus mampu memperlihatkan sifat baru, unik, seragam, dan stabil (BUSS).

Page 10 of 23 | Total Record : 223


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2022): Buletin Palawija Vol 20 No 1, 2022 Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue